Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
    28972 research outputs found

    KANDUNGAN ZAT BESI DAN DAYA TERIMA COOKIES DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF STUNTING PADA BALITA

    No full text
    Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yang dapat disebabkan oleh kekurangan zat gizi, salah satunya yaitu kekurangan zat besi. Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan modifikasi selingan dari bahan pangan lokal yaitu cookies daun kelor (Moringa Oleifera). Daun kelor memiliki kandungan zat besi yang tinggi sehingga mampu menjadi alternatif selingan pada balita yang tinggi zat besi. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh subtitusi tepung daun kelor (Moringa Oleifera) terhadap zat besi dan daya terima cookies. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental. Terdapat empat taraf perlakuan (P) substitusi yaitu P0 (0%), P1 (2,5%), P2 (5%), dan P3 (7,5%). Uji kadar zat besi menggunakan metode spektrofotometri dengan satuan mg dan daya terima menggunakan uji hedonik dengan 30 panelis agak terlatih. Uji normalitas dengan uji Shapiro Wilk. Hasil uji zat besi dianalisis menggunakan uji Anova One Way dengan uji lanjut berupa uji Duncan untuk mengetahui perbedaan nyata setiap perlakuan. Hasil daya terima dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dengan uji lanjut Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan nyata setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan subtitusi tepung daun kelor (Moringa Oleifera) berpengaruh terhadap kadar zat besi dan daya terima yaitu pada indikator warna, aroma, rasa dan keseluruhan, namun tidak berpengaruh pada tekstur cookies. Kadar zat besi tertinggi pada P3 (7,5%) yaitu sebesar 6.18 mg

    HUBUNGAN RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE II DI PUSKESMAS BAHU

    No full text
    Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolisme kronis dengan gejala tingginya kadar gula darah pada tubuh. Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021, terdapat sekitar 537 juta kasus diabetes di seluruh dunia pada kelompok usia 20-79 tahun. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mengungkapkan bahwa jumlah total kasus diabetes melitus mencapai 877,531. Sementara itu, Provinsi Sulawesi Utara, jumlah penderita diabetes melitus tahun 2023 mencapai 9,721 orang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Manado pada tahun 2022, angka kejadian diabetes melitus mencapai 12,991 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat penyakit keluarga dan kebiasaan makan dengan Diabetes Melitus Tipe II pada pasien di Puskesmas Bahu Kota Manado. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan rancangan penelitian kasus kontrol. Penelitian dilakukan pada bulan November 2024 - Januari 2025 dengan sampel 104 responden. Analisis statistik dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi square dengan nilai p<0,05 dianggap signifikansi statistik.  Hasil analisis chi-square antara riwayat penyakit keluarga dengan Diabetes Melitus Tipe II adalah <0,001 dengan nilai OR=14,929; CI 95% = 5,653 - 9,423, dan untuk kebiasaan makan dengan Diabetes Melitus Tipe II didapatkan nilai p <0,001 dengan nilai OR=60,429; CI 95% = 17,871 - 204,328. Kesimpulan didapatkan hubungan signifikan antara riwayat penyakit keluarga dan kebiasaan makan dengan Diabetes Melitus Tipe II, dengan risiko 14,929 kali lebih besar pada orang dengan riwayat penyakit keluarga, dan risiko 60,429 kali lebih besar pada orang dengan kebiasaan makan buruk

    DETEKSI KEAMANAN PANGAN KANDUNGAN FORMALIN DENGAN SIMPLE METHODE

    No full text
    Keamanan pangan merupakan salah satu aspek penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Keamanan pangan sering dikaitkan dengan kesehatan terutama tentang keracunan makanan. Salah satu penyebab keracunan makanan adalah adanya kandungan bahan tambahan pangan seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil dalam makanan. Bahan pengawet berbahaya yang sering digunakan yaitu formalin, dan umumnya digunakan untuk mengawetkan bahan pangan hasil perikanan. Formalin efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroba pada makanan, namun formalin dilarang penggunaannya pada makanan padahal formalin adalah pengawet berbahaya karena dapat menyebabakan karsinogenik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan formalin dalam ikan asin dengan menggunakan simple methode (menggunakan test kit uji formalin dan kunyit untuk mereduksi kadar formalin dalam ikan asin. Penelitian ini menggunakan desain penelitian berupa Pre-eksperimental dimana ikan asin akan direndam dengan larutan kunyit berdasarkan variasi waktu tertentu dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada penurunan kadar formalin pada sampel. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan hasil bahwa perendaman 15 menit dan 30 menit tidak memiliki perbedaan bermakna dengan nilai sig. 1,000 dan 0,083 sementara perendaman 45 menit dan 60 menit memiliki perbedaan bermakna dengan nilai sig. 0,043 dan 0,008 sehingga lama perendaman mempengaruhi penurunan kadar formalin pada ikan asin

    HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PREDISPOSING DENGAN PERILAKU AMAN PEKERJA UNIT PRODUKSI PT X GRESIK

    No full text
    Keselamatan kerja merupakan serangkaian usaha yang ditujukan untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan kerja dan insiden, serta memastikan pekerja untuk tetap dapat bekerja secara aman dan selamat di lingkungan kerja. Salah satu upaya keselamatan kerja yang dapat dilakukan untuk mencegah kecelakaan kerja dan tercapainya zero accident yaitu dengan mengidentifikasi dan meningkatkan perilaku aman pada pekerja karena sebagaian besar yakni 88% kecelakaan yang terjadi di tempat kerja disebabkan oleh faktor perilaku pekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara faktor predisposing yang terdiri dari masa kerja, pendidikan, pengetahuan, dan sikap dengan perilaku aman pada pekerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan desain cross-sectional study. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling yaitu sebanyak 36 responden pada salah satu unit produksi di perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi spearman untuk menguji hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor predisposing yang terdiri dari masa kerja (p=0,005 r=0,456), pendidikan (p=0,005 r=0,462), pengetahuan (p=0,000 r=0,800), dan sikap (p=0,000 r=0,713) dengan perilaku aman pada pekerja unit produksi. Disarankan bagi pihak perusahaan untuk melakukan safety patrol dan safety briefing yang dijadwalkan secara rutin dengan tujuan untuk memantau para pekerja sekaligus pengecekan terhadap kelayakan APD dan kondisi tempat kerja. Selain itu, juga melakukan pelatihan K3 dengan materi aplikatif baru, yang juga melibatkan dan melatih pekerja untuk ikut serta dalam melaporkan temuan ketidaksesuaian di lapangan

    PERAN KADER DALAM MEMPROMOSIKAN PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL

    No full text
    Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan masyarakat. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Artikel ini merupakan review ilmiah yang bertujuan untuk mengevaluasi peran kader kesehatan dalam pelaksanaan P4K di tingkat masyarakat. Data dikumpulkan dari berbagai artikel penelitian yang relevan, dengan metode seleksi berdasarkan kriteria validitas, relevansi, dan kejelasan data. Hasil review menunjukkan bahwa kader memiliki peran signifikan dalam edukasi ibu hamil, pendampingan selama masa kehamilan, serta koordinasi rujukan saat terjadi komplikasi. Pelatihan dan pendampingan kader terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka. Penerapan metode “Satu Ibu Satu Kader (SISKA)” serta penggunaan media seperti Buku KIA juga memperkuat efektivitas intervensi. Keberhasilan peran kader dipengaruhi oleh pelatihan rutin, dukungan tenaga kesehatan, keterlibatan keluarga, serta insentif dan supervisi yang memadai. Kesimpulannya, pemberdayaan kader secara sistematis dan berkelanjutan merupakan strategi penting untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui implementasi P4K yang efektif

    GAMBARAN KETERSEDIAAN VAKSIN ANTI RABIES (VAR) SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN RABIES BERBASIS ONE HEALTH DI KABUPATEN KUPANG

    No full text
    Rabies merupakan penyakit zoonosis yang bersifat fatal, disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus (famili Rhabdoviridae), yang menyerang sistem saraf pusat mamalia, termasuk manusia, dan mengakibatkan sekitar 55.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kabupaten Kupang yang merupakan salah satu wilayah endemis rabies di Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatatkan empat kasus kematian akibat rabies selama tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) berdasarkan enam aspek manajemen farmasi, yakni perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, penggunaan, dan pelaporan, dengan pendekatan one health. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap 13 informan dari instansi terkait. Data hasil wawancara ditranskrip dan disajikan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan dilakukan secara mandiri oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan. VAR diperoleh Puskesmas dan Puskeswan berdasarkan formulir permintaan dan disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 2–8°C, serta diberikan kepada korban gigitan Hewan Penular Rabies (HPR). Penggunaan vaksin dibedakan antara hewan dan manusia, dengan pengawasan dokter dan dokter hewan. Pelaporan dilakukan secara manual dan digital melalui aplikasi SMILE (manusia), serta WVS dan iSIKHNAS (hewan). Kesimpulannya, pelaksanaan ketersediaan VAR pada enam aspek, baik untuk manusia maupun hewan, telah berjalan dengan cukup optimal, akan tetapi masih terdapat beberapa kendala seperti; distribusi ke daerah terpencil yang memengaruhi kualitas vaksin, keterbatasan akses internet yang menghambat pelaporan melalui WVS dan iSIKHNAS, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rabies, serta sulitnya pengendalian populasi anjing liar meskipun telah diterbitkan surat edaran pemerintah

    ASSOCIATION BETWEEN LOWER PLATELET-TO-LYMPHOCYTE RATIO AND MORTALITY RISK IN MODERATE-TO-SEVERE TRAUMATIC BRAIN INJURY : A RETROSPECTIVE COHORT STUDY

    No full text
    Penelitian ini menyelidiki hubungan antara rasio trombosit terhadap limfosit dan risiko kematian pada pasien dewasa dengan COT sedang hingga berat di rumah sakit tersier di Indonesia. Sistem registrasi rumah sakit dikaji secara retrospektif untuk mengumpulkan rekam medis dari 77 pasien dewasa yang menjalani rawat inap dari 1 Juni 2024 hingga 31 Desember 2024 dan didiagnosis dengan COT sedang hingga berat. Rasio neutrofil terhadap limfosit (NLR) serta rasio trombosit terhadap limfosit (PLR) dibandingkan antara kelompok pasien yang bertahan hidup (n=59) dan yang tidak bertahan hidup (n=18). Kemampuan prediktif NLR dan PLR dianalisis menggunakan area di bawah kurva karakteristik operasi penerima (AUC). Analisis tabel kontingensi dilakukan untuk menentukan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV), nilai prediksi negatif (NPV), akurasi, serta rasio odds (OR) dari NLR dan PLR dalam kaitannya dengan tingkat kematian. Variasi kelangsungan hidup di antara subkelompok PLR dievaluasi melalui analisis kelangsungan hidup Kaplan-Meier. PLR pada pasien yang meninggal secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang bertahan hidup (nilai p = 0,026). Kurva ROC menunjukkan bahwa PLR merupakan prediktor terkuat dibandingkan dengan kedua rasio lainnya (area di bawah kurva ROC = 0,674, sensitivitas = 0,874, spesifisitas = 0,56, sesuai dengan nilai batas = 120,09). Ketika kelompok pasien dibagi berdasarkan kuartil PLR, analisis Kaplan-Meier menunjukkan kelangsungan hidup yang jauh lebih buruk pada kelompok dengan kuartil PLR terendah (< 120,09) dibandingkan dengan kelompok kuartil lainnya. Nilai PLR yang lebih rendah dikaitkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi pada pasien dewasa dengan COT sedang hingga berat, menunjukkan potensi penggunaan PLR dalam stratifikasi risiko yang memerlukan validasi lebih lanjut

    MANAJEMEN ANESTESI PADA PASIEN DENGAN ARTERIOVENOUS MALFORMATION SPINE

    No full text
    Manajemen anestesi pada pasien dengan arteriovenous malformation (AVM) spinal yang menjalani operasi laminektomi memerlukan pendekatan multidisipliner dan pemantauan ketat untuk menghindari komplikasi neurologis dan hemodinamik. AVM spinal merupakan kelainan vaskular kompleks yang meningkatkan risiko perdarahan intraoperatif, hipotensi spinal, dan iskemia medula spinalis. Oleh karena itu, strategi anestesi harus difokuskan pada stabilitas hemodinamik, penghindaran perubahan tekanan intratekal yang mendadak. Penggunaan teknik anestesi umum yang seimbang, pemilihan agen anestesi yang minimal mengganggu pemantauan neurofisiologis, serta kolaborasi erat dengan tim bedah dan neurofisiologi menjadi kunci keberhasilan manajemen anestesi pada prosedur ini. Kami memaparkan kasus manajemen anestesi yang sukses pada pasien laki-laki usia 31 tahun dengan diagnosa Paraparese dan Tumor Intramedullary ec Suspek Intramedullary Spinal AVM dengan rencana tindakan laminektomi + Reseksi AVM + Stabilisasi Fusi dengan anestesi umum

    DETERMINAN KEJADIAN PENYAKIT HIPERTENSI DI UPTD PUSKESMAS ALAK KOTA KUPANG (STUDI PADA LANSIA DI WILAYAH PESISIR PANTAI KELURAHAN NAMOSAIN DAN KELURAHAN NUNHILA)

    No full text
    Lansia memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi, yang dipengaruhi oleh penurunan kemampuan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola makan, aktivitas fisik, stres, dan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah pesisir Kelurahan Namosain dan Kelurahan Nunhila. Metode penelitian yang digunakan adalah desain analitik observasional dengan pendekatan case-control. Populasi kasus terdiri dari 93 lansia, sedangkan populasi kontrol berjumlah 394 lansia. Sampel penelitian sebanyak 78 lansia, yang terdiri dari 39 sampel kasus dan 39 sampel kontrol, teknik sampling yang digunakan yaitu teknik simple random sampling. Data dianalisis dengan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia adalah pola makan (p-value = 0,006; OR = 4,169), stres (p-value = 0,038; OR = 0,377), dan kualitas tidur (p-value = 0,022; OR = 0,188). Sementara itu, aktivitas fisik (p-value = 0,112) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Diharapkan bagi pihak Puskesmas agar terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pemberian informasi dengan melakukan penyuluhan, melakukan deteksi dini dan menjaring masyarakat yang memiliki riwayat keluarga sehingga kasus hipertensi dapat diketahui dan ditangani lebih awal

    PROSEDUR PEMERIKSAAN URETROCYSTOGRAFI BIPOLAR PADA KASUS RETENSI URINE DI RSUD DR. SOESELO SLAWI

    No full text
    Retensi urine merupakan komplikasi dari penyakit urologi yang mempengaruhi kandung kemih dan uretra. Urethrocystografi Bipolar merupakan teknik pemasukan kontras media melalui saluran urethra dan kandung kemih secara cystotomi. Pada pemeriksaan uretrocystografi bipolar media kontras dimasukkan satu kali melalui uretra dan satu kali melalui cystitis. Di RSUD dr. Soeselo media kontras dimasukkan dua kali melalui uretra dan satu kali melalui cystitis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prosedur pemeriksaan uretrocystografi bipolar dan alasan media kontras dimasukkan sebanyak dua kali melalui penis. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2024-Maret 2025. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan reduksi, kategorisasi, koding terbuka lalu ditarik kesimpulan. Prosedur pemeriksaan Uretrocystografi bipolar dengan kasus Retensi Urine di RSUD dr. Soeselo Slawi tidak ada persiapan khusus, alat dan bahan yang digunakan pesawat CR, kaset, spuit 50 cc, spuit 20 cc, abocath, kom, gel, handscoon, APD radiasi, aquabides dan media kontras. Pemeriksaan menggunakan proyeksi AP Plan, AP Post Kontras dan RPO. Perbandingan media kontras digunakan untuk pemeriksaan cystografi 3:1 sedangkan pemeriksaan uretrografi 1:1. Tujuan dilakukannya penyuntikan media kontras sebanyak dua kali untuk dijadikan perbandingan dan memastikan bahwa kontras tidak menembus kandung kemih. Pemeriksaan tidak memerlukan persiapan khusus. Pemeriksaan dimulai dengan pengambilan foto polos pelvis proyeksi AP, dilanjutkan dengan AP post kontras dan RPO.  Alasan pemasukan media kontras dua kali adalah memastikan kelainan di area saluran uretra dan media kontras tidak menembus daerah kandung kemih. Selain itu dijadikan perbandingan hasil patologi anatomi antara pemasukan kontras pertama dengan pemasukan kontras kedua

    27,272

    full texts

    28,972

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇