Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN FENOMENA CHILDFREE DI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG : TINJAUAN LITERATUR
Fenomena childfree, yaitu keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, telah menjadi topik yang semakin relevan dalam dua dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakteristik, faktor penyebab, serta dinamika sosial budaya di balik fenomena childfree di negara maju dan berkembang melalui tinjauan literatur sistematis. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yang melibatkan analisis terhadap berbagai literatur akademik nasional dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di negara maju, keputusan childfree sering dikaitkan dengan tingkat pendidikan tinggi, kesadaran ekologis, dan individualisme. Sementara itu, di negara berkembang, fenomena ini masih menghadapi tekanan sosial yang kuat dari norma tradisional dan religius. Faktor penyebabnya mencakup motivasi individual seperti otonomi pribadi dan kekhawatiran lingkungan di negara maju, serta perubahan nilai sosial di negara berkembang. Kesimpulannya, childfree mencerminkan pergeseran nilai global yang dipengaruhi oleh konteks sosial budaya masing-masing negara. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana masyarakat modern memahami kebebasan memilih dalam konteks reproduksi
STRATEGI OPTIMALISASI PENGELOLAAN DANA KAPITASI PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI PUSKESMAS DALAM KABUPATEN BUNGO
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bertujuan menyediakan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas di Indonesia. Dana kapitasi sebagai komponen utama JKN mendukung operasional Puskesmas, namun pengelolaannya di Kabupaten Bungo masih menghadapi tantangan seperti administrasi yang lemah, perencanaan dan anggaran tidak optimal, serta kurangnya akuntabilitas dan pengawasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif dengan analisis SWOT (matching dan conversion) untuk mengidentifikasi kendala serta merumuskan strategi optimalisasi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen dari Dinas Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan Puskesmas di tiga lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi sistem keuangan, penyusunan SOP yang jelas, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas menjadi strategi utama dalam optimalisasi pengelolaan dana kapitasi. Implementasi strategi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penggunaan dana kapitasi serta kualitas layanan kesehatan di Puskesmas Kabupaten Bungo
KAKI DIABETIK : PENDEKATAN DIAGNOSIS SEBAGAI KOMPLIKASI ANGIOPATI PADA DIABETES MELITUS
Diabetes merupakan penyebab utama berbagai komplikasi serius, termasuk kebutaan akibat retinopati diabetik, gagal ginjal yang memerlukan dialisis, serta amputasi lutut non-traumatis. Salah satu komplikasi yang umum terjadi pada diabetes melitus (DM) adalah angiopati, yang disebabkan oleh kerusakan endotel pembuluh darah dan dapat memengaruhi baik pembuluh darah besar (makroangiopati) maupun kecil (mikroangiopati). Literatur ini bertujuan untuk menganalisis kaki diabetik sebagai komplikasi angiopati pada diabetes melitus melalui pendekatan diagnosis. Metode yang digunakan adalah literature review, dengan mengumpulkan artikel atau jurnal ilmiah dari database PubMed, Portal Garuda, dan Google Scholar yang memenuhi standar SINTA IV dan V, dengan rentang waktu publikasi antara tahun 2020 hingga 2024. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian meliputi “kaki diabetik,” “angiopati,” dan “diabetes mellitus.” Berdasarkan hasil penelusuran literatur, ditemukan 10 artikel penelitian yang melaporkan komplikasi angiopati pada penderita diabetes melitus. Kesimpulan dari tinjauan ini menunjukkan bahwa komplikasi makrovaskuler yang umum pada penderita DM meliputi trombosis otak (pembekuan darah pada sebagian otak), penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung kongestif, dan stroke. Sementara itu, komplikasi mikrovaskuler yang sering terjadi adalah nefropati, retinopati diabetik, neuropati, serta amputasi. Dengan demikian, angiopati sebagai komplikasi DM perlu mendapatkan perhatian dalam penegakan diagnosis kaki diabetik.
EVALUASI KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT
Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC) menjadi prioritas nasional untuk memastikan akses layanan kesehatan berkualitas yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, meskipun telah mencapai cakupan UHC sebesar 100% per Agustus 2024, hanya 74,42% peserta yang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kepesertaan JKN di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam meningkatkan keaktifan peserta JKN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode analisis tematik dengan pendekatan Realist Evaluation berdasarkan Context-Mechanism-Outcome (CMO). Informan penelitian dipilih secara purposive sampling sebanyak 14 informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan peserta JKN yang rendah disebabkan oleh faktor ekonomi, kurangnya pemahaman, akses pembayaran yang terbatas, sulitnya akses transportasi, data kependudukan tidak valid dan kurang aktifnya operator SIK NG desa dalam melakukan penginputan data DTKS untuk PBI JK. Program JKN di Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah berhasil mencapai cakupan kepesertaan yang tinggi, namun tantangan masih ditemukan dalam aspek keaktifan peserta, infrastruktur dan akses pembayaran iuran serta akses layanan Kesehatan. Keberhasilan peningkatan keaktifan kepesertaan JKN di Kabupaten Tanjung Jabung Barat membutuhkan kerja sama lintas sektor yang kuat. Dengan implementasi strategi yang lebih terintegrasi, termasuk perbaikan infrastruktur, peningkatan sosialisasi, optimalisasi pembayaran dan validasi data yang lebih akurat, diharapkan kepesertaan JKN dapat meningkat secara signifikan dan masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan dengan lebih baik sehingga program JKN di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN WAKTU TINGGAL PASIEN DI DEPARTEMEN GAWAT DARURAT : STUDI LITERATURE REVIEW
Keterlambatan waktu tinggal pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan indikator penting dalam menilai kualitas dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Waktu tinggal yang terlalu lama dapat menurunkan kepuasan pasien, meningkatkan risiko klinis, dan menambah beban kerja tenaga kesehatan. Kajian ini mengulas 11 artikel nasional dan internasional dari tahun 2020 hingga 2024 untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan waktu tinggal pasien di IGD berdasarkan klasifikasi input, throughput, dan output. Faktor input meliputi karakteristik pasien seperti usia, jenis kelamin, tingkat kegawatan, serta akses transportasi yang mempengaruhi lama pasien di IGD. Faktor throughput mencakup proses internal rumah sakit seperti triase, pemeriksaan penunjang, dan konsultasi medis yang dapat mempercepat atau memperlambat penanganan pasien. Sementara itu, faktor output didominasi oleh ketersediaan tempat tidur dan sistem pemindahan pasien ke ruang perawatan lanjut. Beberapa studi juga menyoroti pentingnya pelatihan sumber daya manusia dan peran pengetahuan keluarga pasien dalam mempercepat proses pelayanan. Keseluruhan temuan menunjukkan bahwa keterlambatan waktu tinggal di IGD bersifat multidimensi dan memerlukan pendekatan sistemik untuk menguranginya. Oleh karena itu, intervensi berbasis teknologi informasi, optimalisasi alur layanan, serta edukasi masyarakat perlu diintegrasikan dalam strategi manajemen IGD yang berkelanjutan guna meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan rumah sakit
OPTIMIZING NUTRITIONAL INTAKE TO MITIGATE FRAILTY : A NARRATIVE REVIEW ON DIET, MUSCLE LOSS, AND PHYSICAL VULNERABILITY IN OLDER ADULTS
Frailty merupakan sindrom klinis geriatri yang ditandai oleh penurunan cadangan fisiologis dan ketahanan terhadap stresor, yang menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap disabilitas, meningatnya lama rawat inap, dan kematian. Faktor nutrisi memainkan peran krusial dalam patogenesis dan progresivitas sindrom ini. Asupan protein yang tidak adekuat, defisiensi mikronutrien, dan perubahan komposisi tubuh, khususnya kehilangan massa otot rangka dan peningkatan lemak viseral, berkontribusi pada gangguan fungsi otot dan sarcopenia. Proses inflamasi kronis dan stres oksidatif memperparah kerusakan otot, mempercepat penurunan fungsi fisik. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara asupan nutrisi, status gizi, komposisi tubuh, dan kelemahan fisik pada lansia. Pencarian artikel dilakukan secara sistematis pada database PubMed, Scopus, dan Google Scholar untuk publikasi antara Januari 2020 hingga Desember 2024. Temuan menunjukkan bahwa intervensi nutrisi, terutama peningkatan asupan protein dan pola makan antiinflamasi, berpotensi mempertahankan massa otot dan menurunkan risiko frailty. Selain itu, pemantauan dini terhadap status gizi dan komposisi tubuh sangat penting dalam upaya preventif. Heterogenitas metodologis dan variasi definisi menjadi tantangan dalam penerapan klinis. Oleh karena itu, integrasi penilaian gizi, evaluasi fungsional, dan pendekatan interdisipliner diperlukan untuk mengoptimalkan strategi pencegahan dan penatalaksanaan frailty pada populasi lanjut usia
EKSISI TOTAL SEBAGAI TERAPI DEFINITIF FIBROKERATOMA : STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
Acquired Digital Fibrokeratoma (ADFK) merupakan tumor jinak kulit yang jarang, muncul sebagai lesi tunggal kecil pada jari tangan atau kaki. Meskipun sering tidak menimbulkan keluhan, ukuran besar dapat mengganggu fungsi dan memerlukan tindakan bedah. Laporan ini menyajikan satu kasus ADFK pada jari telunjuk kiri pasien usia lanjut, serta tinjauan literatur terkait diagnosis, terapi, dan diagnosis banding. Pasien wanita 56 tahun dengan lesi oval 1×2×1 cm di jari telunjuk kiri menjalani eksisi total. Histopatologi mengonfirmasi ADFK. Pasien sembuh sempurna tanpa kekambuhan satu tahun pasca-operasi. Eksisi menyeluruh menjadi terapi pilihan utama untuk hasil klinis optimal
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN HIPERTENSI PADA REMAJA DI SMA NEGERI 10 KOTA TERNATE
Pendahuluan: Hipertensi adalah salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Salah satu sasaran global dalam penanggulangan penyakit tidak menular adalah mengurangi angka kejadian hipertensi sebanyak 33% antara tahun 2010 hingga 2030. Hipertensi pada anak dan remaja sulit dideteksi karena tanda dan gejalanya seringkali tidak jelas. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa angka hipertensi pada remaja telah meningkat selama dua puluh tahun terakhir, yang berarti bahwa anak-anak dan remaja dengan tekanan darah tinggi berisiko terkena hipertensi esensial. Metode: Penelitian ini dilakukan secara cross sectional di ambil sampel secara cluster pada siswa SMA yang berada di Ternate yang notabene sebagai daerah pesisir dan kepulauan Hasil: Hasil analisis didapatkan 45 terdiagnosis hipertensi dan 169 tidak terdiagnosis hipertensi serta menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara determinan yang dapat dimodifikasi dengan hipertensi yaitu aktivitas (p = 0,000), pegetahuan (p = 0,001),dan tingkat stress (p = 0,005). Simpulan: Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa determinan aktivitas fisik, pengetahuan, dan stress memiliki hubungan erat dengan kejadian hipertensi
INDONESIA KARAKTERISTIK KLINIS INFEKSI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DI RUMAH SAKIT GUNUNG JATI
Angka kejadian infeksi di Indonesia nosokomial mencapai 15,74%, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang berkisar antara 4,8–15,5%. Tingkat mortalitas akibat infeksi Pseudomonas aeruginosa dilaporkan sebesar 15,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinis pasien dengan infeksi Pseudomonas aeruginosa. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan teknik total sampling, sehingga diperoleh sebanyak 153 sampel. Dari 153 pasien yang terinfeksi Pseudomonas aeruginosa, mayoritas berjenis kelamin laki-laki (56,9%) dengan kelompok usia balita (0–5 tahun) sebagai kelompok usia terbanyak (34,0%). Tindakan medis yang paling sering dilakukan adalah operasi pada saluran cerna dan abdomen (4,6%). Penggunaan alat invasif, terutama infus intravena, ditemukan pada 136 pasien (35,7%). Diagnosis klinis primer yang paling sering ditemukan adalah gagal napas (17,0%), sedangkan diagnosis sekunder terbanyak adalah bronkopneumonia (6,5%). Sebagian besar pasien (89,7%) tidak memiliki penyakit penyerta. Angka kematian akibat infeksi Pseudomonas aeruginosa dalam penelitian ini mencapai 58,2%, dengan rerata lama perawatan selama 5 hari. Di RSUD Gunung Jati, dari 153 kasus infeksi yang tercatat, kelompok usia balita dan lansia merupakan kelompok paling rentan, dengan dominasi pasien laki-laki (56,9%). Infeksi ini berkaitan erat dengan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), infeksi saluran kemih (ISK), infeksi luka, serta penggunaan alat medis invasif seperti infus intravena dan ventilator. Sebagian besar pasien juga menjalani tindakan pembedahan, dan beberapa di antaranya memiliki komorbiditas seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, dan penyakit paru kronik
HIGIENE SANITASI DAN KEBERADAAN Escherichia coli PADA JUS BUAH
Jus buah merupakan minuman olahan buah yang bergizi. Namun, jus bisa terkontaminasi Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis higiene sanitasi, mengetahui pengetahuan, sikap, dan tindakan pedagang, serta mengetahui keberadaan Escherichia coli pada pedagang jus buah di Kecamatan Siantar Barat Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional untuk menganalisis higiene sanitasi, mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan pedagang, serta uji laboratorium untuk mengetahui keberadaan Escherichia coli pada sampel jus, air, dan es dari pedagang jus buah di Kecamatan Siantar Barat. Pedagang yang menjadi responden ditentukan dengan metode total sampling yaitu sebanyak 21 orang. Sampel jus, air, dan es diperoleh dari 6 pedagang yang dipilih dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua pedagang jus buah tidak memenuhi persyaratan higiene sanitasi makanan berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Hasil penelitian terkait higiene sanitasi makanan dan minuman menunjukkan 61,9% pedagang memiliki pengetahuan baik, 61,9% pedagang memiliki sikap cukup baik, 61,9% pedagang memiliki tindakan cukup baik. Hasil uji mikrobiologis menunjukkan bahwa 33,3% sampel jus dan 50% sampel es terkontaminasi Escherichia coli, sedangkan seluruh sampel air minum tidak terkontaminasi Escherichia coli. Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari pengetahuan, sikap, dan tindakan pedagang yang secara umum cukup baik, pelaksanaan higiene sanitasi masih tidak memenuhi syarat dan ditemukan E. coli pada sampel. Pedagang disarankan untuk meningkatkan higiene sanitasi selama berjualan dan dan menjaga kebersihan diri dan peralatan selama berjualan.