Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
Analisis Determinan Efektivitas Supervisi Klinik Terhadap Kepala Ruang di Rumah Sakit:Systematic Review
Latar belakang supervisi klinis oleh kepala ruangan memiliki dampak signifikan terhadap kualitas kinerja perawat pelaksana, sementara keberhasilan supervisi manajer keperawatan bergantung pada keterampilannya dalam melakukan supervisi. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi supervisi klinis kepala ruangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan tinjauan sistematis dengan daftar periksa JBI serta pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic and Meta-Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mendukung pelaksanaan supervisi oleh perawat senior meliputi ketersediaan waktu, kesediaan kepala ruangan untuk mendiskusikan hasil supervisi, dukungan dari perawat, keterampilan supervisi, kesiapan, serta dukungan terhadap peran dan kemampuan kepemimpinan yang memadai. Kesimpulan yang didapat ialah keterampilan supervisi klinik kepala ruangan efektif memerlukan pelatihan yang kontinu. Rekomendasi pelatihan keterampilan supervisi klinik dapat dillakukan secara kontinu terutama kepala ruangan baru untuk menjaga dan meningkatkan keterampilan supervisi kepala ruanagan
Maternal Role Attainment Theory dan Pengaruhnya terhadap Stres Antepartum pada Ibu Hamil dengan Risiko
Peran ibu hamil memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan ibu dan perkembangan janin. Terdapat berbagai teori yang memahami dan menggambarkan proses pencapaian peran ibu, salah satunya adalah Maternal Role Attainment Theory. Teori ini menyoroti proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ibu untukmencegah stres antepartum pada ibu hamil berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Maternal Role Attainment Theory dan pengaruhnya terhadap stres antepartum pada ibu hamil berisiko. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian quasy-eksperimental dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian sebanyak 73 responden ibu hamil yang memiliki risiko kehamilan, dipilih menggunakan teknik purposive sampling.Intervensi dilakukan dengan menggunakan instrumen edukasi Maternal Role Attainment Theory dan Depression, Anxiety and Stress Scale (DASS-21). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanyapenurunan stres antepartum yang signifikan setelah intervensi dengan nilai p = 0,001 (nilai p < 0,05). Terdapat pengaruh edukasi dengan pendekatan Maternal Role Attainment Theory terhadap penurunan stres antepartum pada ibu hamil berisiko
Self Hypnosis Prenatal dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu Hamil: Literatur Review
Pendahuluan: Self-hypnosis prenatal terbukti sebagai metode efektif untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, terutama menjelang persalinan. Tujuan: untuk mengetahui self hypnosis prenatal dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil. Metode: Basis data yang digunakan meliputi PubMed, Science Direct, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah self hypnosis prenatal dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil. Sebanyak 6 artikel diperoleh dari hasil pencarian literatur. Artikel yang ditemukan disaring menggunakan kerangka PICO dan metode CRAAP. Hasil: Berdasarkan hasil pencarian dan analisis artikel terdahulu, ditemukan enam artikel yang bertujuan self hypnosis prenatal dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil. Intervensi-intervensi ini dapat dikategorikan self hypnosis prenatal baik untuk kesehatan ibu hamil terutama menjelang persalinan. Kesimpulan: Self-hypnosis prenatal efektif meningkatkan kesehatan ibu hamil dengan menurunkan kecemasan, mengurangi ketidaknyamanan fisik, dan menstabilkan kondisi fisiologis melalui sugesti positif dan latihan teratur menjelang persalina
Pengaruh Pola Makan Gizi Seimbang Terhadap Kejadian Stunting pada Balita : Literatur Review
Introduction: Stunting is a growth disorder in toddlers caused by chronic malnutrition and recurrent infections. According to WHO data from 2022, Indonesia ranks fifth among countries with the highest number of stunting cases in the world. Social and economic factors, as well as feeding practices, are the main causes of stunting in toddlers. Objective: This literature review aims to examine the influence of balanced dietary patterns on the incidence of stunting in toddlers. Methods: The databases used include Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, and ResearchGate. The keywords used were stunting, toddler, and dietary pattern. A total of seven relevant articles were obtained through literature searching. The selection process involved screening based on the PICO elements and the CRAAP method. Results: Inappropriate feeding practices were significantly associated with the incidence of stunting. Factors such as food type, feeding frequency, and parental involvement in feeding contributed to children's growth status. Additionally, younger maternal age, low socioeconomic status, and failure to meet recommended nutritional intake were also found to increase the risk of stunting. Conclusion: Stunting prevention should focus on healthy eating patterns, appropriate meal schedules, and adequate nutritional intake for toddlers. Parental education and collaboration between the government, community, and health sectors are essential to improve understanding of balanced nutrition and reduce stunting prevalenc
Pengaruh Waktu Door-To-Balloon ≤90 Menit Terhadap Perubahan Ejaksi Fraksi Ventrikel Kiri Pasca Tindakan Primary Pci pada Pasien Stemi
Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian global, termasuk di Indonesia dengan penyakit jantung koroner (PJK) sebagai penyebab utama. ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) merupakan bentuk PJK paling serius yang memerlukan intervensi cepat untuk mencegah kerusakan miokardium permanen. Waktu door-to-balloon (DTB), yang merepresentasikan durasi antara kedatangan pasien hingga dilakukannya balon angioplasti dalam Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI), telah direkomendasikan ≤90 menit oleh pedoman internasional. Namun, pengaruh DTB terhadap perbaikan Ejection Fraction (EF) ventrikel kiri pasca PPCI masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh waktu DTB ≤90 menit terhadap perubahan nilai EF ventrikel kiri pada pasien STEMI melalui pendekatan kohort retrospektif. Data diambil dari pasien STEMI yang menjalani PPCI di Rumah Sakit Jantung Hasna Medika Cirebon antara Januari hingga Juli 2024. DTB dikategorikan menjadi ≤90 menit dan >90 menit, dengan evaluasi EF dilakukan pada 24 jam dan 6 bulan pasca tindakan menggunakan metode Simpson. Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu DTB menit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perbaikan EF berdasarkan uji t tidak berpasangan (p=0.562) dan uji Mann-Whitney (p=0.415). Variabel usia ditemukan lebih berpengaruh signifikan terhadap perubahan EF (p=0.016). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun DTB penting, faktor lain seperti usia dan kondisi klinis awal lebih menentukan pemulihan fungsi ventrikel kiri
Analisis Perbedaan Informasi Anatomi Pemeriksaan MRI Lumbal Sekuen T2 FSE Sagital Penggunaan ARC Dengan Variasi Time Repetition Pada Kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan informasi citra pada pemeriksaan MRI lumbal menggunakan sekuens T2 FSE potongan sagital dengan teknik Autocalibrating Reconstruction for Cartesian Imaging (ARC) berdasarkan variasi nilai Time Repetition (TR) pada kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksperimental dengan sampel sebanyak 10 pasien yang menjalani pemeriksaan MRI lumbal dengan tiga variasi nilai TR, 3000 ms, 3500 ms, dan 4000 ms. Penilaian informasi anatomi dilakukan oleh dua dokter radiologi menggunakan kuesioner, dan data dianalisis menggunakan uji friedman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p < 0,05) antara variasi TR terhadap informasi citra, dengan nilai TR 4000 ms memberikan mean rank tertinggi (2,27), diikuti TR 3500 ms (2,03) dan TR 3000 ms (1,71). Perbedaan signifikan ditemukan terutama pada anatomi medula spinalis dan discus intervertebralis, sementara struktur lain seperti corpus vertebra, cairan cerebrospinal fluid (CSF), ligamentum flafum,dan ligamentum posterior tidak menunjukkan perbedaan berarti. Peningkatan nilai TR terbukti meningkatkan rasio sinyal terhadap noise (SNR), yang berdampak pada peningkatan kualitas informasi anatomi. Dengan demikian, nilai TR 4000 ms direkomendasikan sebagai parameter optimal untuk memperoleh kualitas citra dan informasi anatomi terbaik pada pemeriksaan MRI lumbal sekuen T2 FSE menggunakan teknik ARC
Pengaruh Berkumur Larutan Madu Terhadap Derajat Keasaman Saliva Remaja Berumur 13-15 Tahun
Kesehatan gigi dan mulut merupakan komponen integral dalam menjaga kesehatan umum manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh berkumur dengan larutan madu 15% terhadap perubahan pH saliva pada remaja berumur 13-15 tahun. Metode penelitian ini merupakan studi eksperimen semu (quasi-experimental) dengan desain “one group pretest-posttest” yang dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Distribusi responden terdiri dari 50% laki-laki dan 50% perempuan, dengan mayoritas berusia 14 tahun (64,7%). Sebelum intervensi, mayoritas responden (58,8%) memiliki pH saliva dalam kategori asam. Setelah berkumur dengan larutan madu, terjadi peningkatan signifikan pada kategori netral (76,5%), dengan hanya 8,8% yang tetap dalam kategori asam dan 14,7% masuk kategori basa. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), mengindikasikan adanya perbedaan yang bermakna antara pH saliva sebelum dan sesudah berkumur. Sebanyak 24 responden menunjukkan peningkatan pH (positive ranks), enam responden tidak mengalami perubahan, dan empat responden mengalami penurunan pH (negative ranks). Kesimpulan penelitian ini yaitu berkumur dengan larutan madu 15% secara signifikan dapat meningkatkan pH saliva dari kondisi asam menuju netral atau basa, yang berdampak positif terhadap pencegahan demineralisasi enamel gigi dan karies. Kandungan fruktosa dan mineral alkali dalam madu berperan dalam meningkatkan sekresi saliva dan menetralkan lingkungan asam di rongga mulut. Oleh karena itu, larutan madu dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif alami dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut
Implementasi Sistem Informasi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur
Pengembangan sistem informasi merupakan proses menyesuaikan sistem yang memiliki tujuan merubah sistem yang telah ada sebelumnya baik secara menyeluruh maupun sekedar menambah beberapa item yang telah tersedia. Keterkaitan penggunaan teknologi dengan sistem informasi dapat memberikan kemudahan dalam melakukan aktivitas maupun bekerja. penggunaan teknologi informasi pada layanan akademik dan kemahasiswaan juga digunakan di Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur yang mampu mengembangkan sistem terpadu antar jurusan sehingga menunjang mutu bagi Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Adapun aplikasi sistem informasi yang digunakan adalah SIP (Sitem Informasi Pendidikan). Sebelum menggunakan SIP Poltekkes menggunakan Siakad dalam proses pengimputan nilai dan KRS mahasiswa. Menu siakad sangat terbatas sehingga diperlukan pengembangan sistem informasi yang lebih komplek. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan melibatkan seluruh jurusan yang ada di Poltekkes kemenkes Kalimantan Timur, baik Program Studi D-III maupun D-IV dengan beberapa variabel yang diamati. Secara keseluruhan, implementasi SIP yang dirasakan oleh mahasiswa dan dosen selaku pengguna sistem sudah memuskan dan dilihat dari persentasi penggunaan rata- rata 97% implementasi SIP berjalan lancar dan efektif. Selain itu juga mampu meningkatkan kualitas kerja kampus, mutu pendidikan serta mampu membantu kinerja semua pihak yang bersinggungan langsung dengan kegiatan akademik kampu
Kualitas Air dan Risiko Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita: Studi Cross-Sectional
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyebab utama morbiditas pada balita. Kualitas air rumah tangga, termasuk air berwarna, berasa, dan berbau, berpotensi meningkatkan risiko ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kualitas air dengan gejala ISPA pada balita. Studi observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan pada 1.267 rumah tangga di tiga kecamatan di Kabupaten Muara Enim pada tahun 2024. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara kualitas air dan gejala ISPA. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air rumah tangga berhubungan signifikan dengan gejala ISPA pada balita. Ditemukan hubungan yang signifikan antara kualitas air dengan gejala ISPA. Balita yang tinggal di rumah dengan sumber air berwarna berhubungan signifikan dengan gejala demam (p = 0,009) dan pilek (p = 0,014). Air berasa berhubungan dengan demam (p < 0,001) dan pilek (p = 0,016). Air berbau berhubungan signifikan hanya dengan demam (p = 0,004). Material rumah juga berhubungan signifikan dengan gejala batuk (p = 0,011) dan pilek (p = 0,019). Sebaliknya, ventilasi rumah dan status merokok keluarga tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan gejala ISPA. Kualitas air rumah tangga, terutama air yang berwarna dan berasa, berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko gejala ISPA pada balita. Intervensi peningkatan akses terhadap air bersih perlu diprioritaskan sebagai bagian dari upaya pencegahan ISPA. Penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal dan uji kualitas air berbasis laboratorium direkomendasikan untuk menguatkan hubungan kausal.
Kata kunci: Balita; gejala ISPA; Kualitas air.
Acute Respiratory Infections (ARI) are a leading cause of morbidity in young children. Household water quality, including water that is discolored, tastes unpleasant, or has an odor, may increase the risk of ARI. This study aims to identify the relationship between water quality and ARI symptoms in young children. This study identified a statistically significant association between household water quality and the occurrence of ARI symptoms among children under five. The use of discolored water was significantly associated with increased reports of fever (p = 0.009) and nasal congestion (p = 0.014). Unpleasant-tasting water was also significantly associated with fever (p < 0.001) and nasal congestion (p = 0.016), whereas foul-smelling water demonstrated a significant association with fever only (p = 0.004). Furthermore, housing materials were significantly associated with the presence of cough (p = 0.011) and nasal congestion (p = 0.019). Conversely, no significant associations were observed between ARI symptoms and household ventilation or exposure to tobacco smoke. Household water quality, particularly water that is discolored or has an unusual taste, is significantly associated with an increased risk of acute respiratory infection (ARI) symptoms in children under five. Improving access to safe and clean drinking water should be prioritized as part of ARI prevention efforts. Further research using longitudinal designs and laboratory-based water quality testing is recommended to strengthen the evidence for a causal relationship.
Keywords: ARI;Water Quality;Young Childre
Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di Rsud Waibakul Kabupaten Sumba Tengah pada Tahun 2023
Background: Globally, approximately 2.3 million newborn deaths occur within the first 28 days of life, equivalent to around 6,500 deaths each day. This accounts for about 47% of all under-five child deaths, making it a critical concern in global efforts to reduce child mortality. In Indonesia, the infant mortality rate is recorded at 16.85 per 1,000 live births, placing the country third highest in terms of infant mortality among ASEAN countries. One of the leading causes of this high mortality rate is neonatal asphyxia.
Objective: This study aims to analyze the risk factors associated with neonatal asphyxia in newborns at Waibakul Regional Hospital, Central Sumba Regency, in 2023.
Methods: This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The population included all infants born at Waibakul Regional Hospital between January and December 2023, totaling 220 newborns. The sample was selected using total sampling. Data were analyzed using the chi-square test.
Results: The analysis revealed a significant association between maternal age and neonatal asphyxia (p = 0.016), as well as between fetal distress and neonatal asphyxia (p = 0.001). However, no significant association was found between the mode of delivery and neonatal asphyxia (p = 0.877).
Conclusion: Maternal age and fetal distress are significant risk factors associated with the occurrence of neonatal asphyxia. These findings can serve as a basis for healthcare professionals to enhance early detection and prevention efforts for neonatal asphyxia.
Keywords: Neonatal asphyxia, maternal age, mode of delivery, fetal distress, risk factors.