Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
ANALISIS PEMAHAMAN IBU HAMIL MENGENAI GIZI SEIMBANG DALAM MASA KEHAMILAN DI TPMB
Secara global pemenuhan gizi seimbang pada masa kehamilan merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan ibu dan janin. Masalah gizi pada ibu hamil masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Probolinggo. Tempat Praktik Mandiri Bidan Robiatul Munawaroh Kota Probolinggo menemukan fenomena pemahaman ibu hamil yang belum optimal mengenai prinsip gizi seimbang. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan gangguan pertumbuhan janin, sehingga diperlukan upaya edukasi yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman ibu hamil mengenai gizi seimbang dalam masa kehamilan di TPMB Ketapang Kademangan Kota Probolinggo Jawa Timur. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan pre–post tanpa kontrol. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di TPMB, dengan jumlah sampel 10 responden menggunakan teknik total sampling. Variabel penelitian adalah tingkat pemahaman ibu hamil. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum edukasi hanya 20% responden memiliki pemahaman baik, meningkat menjadi 70% setelah edukasi. Sebelumnya 50% berada pada kategori cukup dan menurun menjadi 20%, sedangkan pemahaman kurang menurun dari 30% menjadi 10%. Kesimpulan penelitian ini adalah edukasi dan diskusi yang diberikan terbukti meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai gizi seimbang selama kehamilan, sehingga intervensi edukasi perlu dilakukan secara berkesinambungan untuk mendukung perubahan perilaku nutrisi yang lebih baik
PENGARUH PENUNDAAN PEMISAHAN SERUM SELAMA 3 JAM PADA SUHU RUANG TERHADAP KADAR ALBUMIN
Tahap pra-analitik merupakan fase krusial dalam proses pemeriksaan laboratorium klinik, karena lebih dari 60% kesalahan laboratorium berasal dari tahapan ini. Keterlambatan pemisahan serum dari sel darah merupakan salah satu masalah yang sering ditemui di laboratorium kesehatan, terutama pada kondisi beban kerja tinggi atau keterbatasan fasilitas. Sel darah yang tetap bercampur dengan serum dapat menyebabkan perubahan biokimia akibat aktivitas metabolik yang berlanjut, termasuk pada parameter albumin yang berperan sebagai indikator fungsi hati dan status nutrisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penundaan pemisahan serum selama tiga jam pada suhu ruang terhadap kadar albumin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan pre-test post-test yang dilaksanakan di laboratorium klinik pada bulan Mei 2025. Sampel terdiri dari 38 sampel darah vena yang diperoleh dari responden menggunakan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan kadar albumin dilakukan menggunakan metode Bromcresol Green (BCG) pada alat fotometer Microlab 300. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Penundaan pemisahan serum selama tiga jam pada suhu ruang terbukti memengaruhi kadar albumin secara signifikan, sehingga dapat menyebabkan ketidakakuratan hasil pemeriksaan laboratorium. Penundaan pemisahan serum terbukti memengaruhi stabilitas albumin secara bermakna, oleh sebab itu proses sentrifugasi dianjurkan dilakukan segera untuk menjaga integritas sampel dan keakuratan hasil uji laboratorium
PENGARUH EDUKASI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA REMAJA DI JAKARTA
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kurangnya pengetahuan mengenai pencegahan ISK serta praktik kebersihan diri yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan ISK pada remaja di Jakarta. Desain penelitian menggunakan pre-experimental one group pretest-posttest dengan total responden 32 siswa/i dari salah satu SMA Negeri di Jakarta. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri atas 15 pernyataan mencakup aspek pengetahuan umum (insidensi, faktor risiko, dampak, dan perilaku berisiko) serta upaya pencegahan ISK. Pengambilan data dilakukan sebelum dan sesudah pemberian edukasi kesehatan, yang disampaikan melalui PowerPoint dan modul pelatihan. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan, yang sebelumnya 12,56, menjadi 13,40 setelah pemberian edukasi. Berdasarkan distribusi perubahan nilai, 65,6% di antaranya mengalami peningkatan skor pengetahuan, sedangkan 12,5% mengalami penurunan, dan 21,9% tidak mengalami perubahan nilai. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pencegahan ISK. Pemberian edukasi kesehatan dapat membantu remaja memahami pentingnya menjaga kebersihan diri dan menerapkan perilaku hidup bersih untuk mencegah terjadinya ISK. Oleh karena itu, kegiatan edukasi kesehatan sebaiknya terus dilakukan secara berkelanjutan agar dapat memperkuat kesadaran remaja akan pentingnya pencegahan ISK sejak dini
PREVALENSI RISIKO GANGGUAT OTOT DAN TULANG RANGKA AKIBAT KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PERKANTORAN DI RS. X
Pekerja bagian perkantoran merupakan kelompok yang berisiko mengalami gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja (Gotrak) karena aktivitas kerja yang bersifat statis, penggunaan komputer dalam waktu lama, dan postur kerja yang tidak ergonomis. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan, produktivitas, dan kesehatan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional yang bertujuan mengetahui prevalensi keluhan Gotrak pada pekerja bagian perkantoran di RS. X. Sebanyak 50 responden diikutsertakan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk menilai adanya keluhan pada sembilan bagian tubuh, dan dianalisis secara deskriptif dengan distribusi frekuensi dan persentase Sebanyak 70% responden mengalami keluhan Gotrak, sedangkan 30% tidak mengalami keluhan. Keluhan terbanyak dilaporkan pada leher (48%), punggung bawah (48%), dan punggung atas (38%). Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas duduk dalam jangka panjang dan penggunaan komputer tanpa pengaturan ergonomi yang tepat menjadi faktor risiko utama keluhan muskuloskeletal pada pekerja perkantoran. Simpulan: Prevalensi keluhan Gotrak pada pekerja bagian perkantoran di RS. X tergolong tinggi. Faktor ergonomi seperti postur kerja, durasi duduk, dan pengaturan workstation perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan. Penerapan pelatihan ergonomi, penataan workstation, dan istirahat mikro (microbreaks) disarankan untuk mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal dan meningkatkan kesehatan kerja di lingkungan perkantoran rumah sakit
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
Gagal ginjal kronis (GGK) menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan mengganggu keseimbangan metabolisme. Hemodialisis adalah pengobatan utama, dengan keberhasilan bergantung pada kepatuhan pasien, yang dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien gagal ginjal kronis dalam menjalani hemodialisis di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan cross-sectional, menggunakan 98 sampel yang diambil secara consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepatuhan dan dukungan keluarga, kemudian dianalisis dengan uji chi-square.Sebanyak 62,24% responden memiliki dukungan keluarga yang baik, sementara 37,76% memiliki dukungan keluarga yang kurang. Kepatuhan terhadap terapi hemodialisis adalah 82,65% di antara responden dengan dukungan yang baik dan 17,35% di antara responden dengan dukungan yang kurang. Analisis statistik dengan uji chi-square menunjukkan bahwa pasien dengan dukungan keluarga yang baik memiliki peluang 5,376 kali lebih besar untuk patuh dibandingkan dengan pasien yang memiliki dukungan keluarga yang kurang (p=0,002129, OR=5,376). Terdapat hubungan antara dukungan keluarga terhadap kepatuhan pasien menjalani hemodialisi
NARRATIVE LITERATURE REVIEW: POTENSI DIET DASH SEBAGAI PENDEKATAN NUTRISI PREVENTIF TERHADAP PREEKLAMPSIA
Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan gangguan fungsi pembuluh darah yang dapat mengancam kesehatan ibu dan janin. Pola makan, termasuk diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), diduga berperan penting dalam mengurangi risiko kondisi ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan diet DASH dengan pencegahan preeklampsia berdasarkan hasil penelitian terbaru. Desain yang digunakan adalah Narrative Literature Review dengan populasi berupa ibu hamil dan sampel berupa artikel penelitian berbasis data yang relevan. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling menggunakan kriteria inklusi artikel berbahasa Inggris atau Indonesia, terbit tahun 2020-2025, memiliki akses penuh, dan menggunakan desain studi berdasar data lapangan. Variabel yang dikaji meliputi kualitas diet DASH dan kejadian preeklampsia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar ekstraksi literatur, sedangkan analisis dilakukan secara naratif-deskriptif. Literatur yang di review menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diet DASH berkaitan dengan tekanan darah yang lebih stabil, penurunan stres oksidatif, perbaikan fungsi endotel, serta penurunan indikator risiko hipertensi kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengikuti diet DASH memiliki profil metabolik yang lebih baik dan risiko preeklampsia yang lebih rendah dibandingkan yang tidak mengikuti pola makan tersebut. Diet DASH berpotensi menjadi strategi nutrisi yang mudah diterapkan dan memberikan manfaat nyata dalam mengurangi faktor risiko preeklampsia, sehingga relevan untuk direkomendasikan sebagai bagian dari edukasi gizi bagi ibu hamil
STUDI LITERATUR FAKTOR RISIKO DAN PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS DI MASYARAKAT
Penularan HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan penting yang dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur dengan pendekatan deskriptif-analitis menggunakan delapan artikel yang dipilih berdasarkan kriteria relevansi, akses terbuka, dan tahun publikasi 2020–2025. Hasil telaah menunjukkan bahwa faktor risiko utama penularan HIV meliputi hubungan seksual tanpa kondom, orientasi seksual tertentu, rendahnya tingkat pendidikan, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta riwayat infeksi menular seksual. Selain itu, remaja dan laki-laki usia produktif menjadi kelompok paling rentan akibat kurangnya pengetahuan dan sikap pencegahan yang buruk. Upaya pencegahan yang terbukti efektif dalam literatur mencakup edukasi kesehatan, peningkatan pengetahuan reproduksi, promosi perilaku seksual aman, konseling risiko, serta peningkatan dukungan keluarga dan akses layanan kesehatan. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pencegahan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan multidimensi yang menggabungkan pendidikan, perubahan perilaku, dan pelayanan kesehatan preventif untuk memutus rantai penularan di masyarakat
THE ASSOCIATION BETWEEN CREATININE SERUM LEVELS AND HEMOGLOBIN VALUES IN PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE AT RSUD BULELENG
Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah kondisi kerusakan ginjal secara progresif yang kerap disertai anemia, sehingga pemeriksaan kadar kreatinin dan hemoglobin menjadi penting dalam evaluasi klinis. Tujuan penelitian ini, yaitu menganalisis hubungan antara kadar kreatinin dengan nilai hemoglobin pada pasien PGK di RSUD Kabupaten Buleleng tahun 2024. Desain dari penelitian ini, yaitu analitik korelasional melalui pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri atas 44 pasien PGK rawat jalan yang diseleksi melalui teknik purposive sampling. Sumber data menggunakan rekam medis elektronik berupa usia, jenis kelamin, kadar kreatinin serum, serta nilai hemoglobin. Penelitian ini menunjukkan rata-rata kadar kreatinin pasien PGK di RSUD Kabupaten Buleleng pada tahun 2024 adalah sebesar 4,2 mg/dL dan rata-rata nilai hemoglobin sebesar 10,72 g/dL dengan variasi yang relatif luas. Mayoritas pasien memiliki kadar kreatinin di atas normal dan sebagian besar pasien menunjukkan nilai hemoglobin rendah. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan variabel kreatinin tidak terdistribusi normal (p < 0,001). Oleh karena itu, analisis dilanjutkan dengan uji korelasi Rank-Spearman. Hasil uji korelasi memperlihatkan adanya hubungan negatif yang bermakna antara kadar kreatinin dengan nilai hemoglobin (r = –0,557; p < 0,001). Peningkatan kreatinin serum berkaitan dengan penurunan nilai hemoglobin pada pasien PGK sehingga pemeriksaan fungsi ginjal harus dimonitoring secara berkala untuk meminimalisir risiko komplikasi, termasuk anemia
KORELASI LDL DAN MIKROALBUMINURIA PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
Mikroalbuminuria merupakan penanda dini kerusakan ginjal diabetik pada pasien Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dan berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. Dislipidemia, terutama peningkatan kadar low density lipoprotein (LDL), diduga berperan dalam kerusakan glomerulus, namun bukti hubungan langsung LDL dengan mikroalbuminuria di layanan primer Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menilai korelasi antara kadar LDL dan mikroalbumin urin pada pasien DM tipe 2 peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Kedaton. Desain penelitian menggunakan analitik observasional potong lintang pada 87 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data LDL (mg/dL) dan mikroalbumin urin (mg/L) diperoleh dari rekam medis dan pemeriksaan laboratorium. Uji normalitas Kolmogorov–Smirnov menunjukkan distribusi normal pada LDL dan tidak normal pada mikroalbumin, sehingga analisis korelasi menggunakan uji Spearman. Hasil menunjukkan korelasi positif sangat lemah antara LDL dan mikroalbumin urin (r = 0,152; p = 0,160), sehingga tidak terdapat hubungan bermakna secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa kadar LDL total bukan prediktor utama mikroalbuminuria pada pasien DM tipe 2 di layanan primer. Faktor risiko lain, seperti kontrol glikemik, tekanan darah, dan durasi penyakit, tetap perlu menjadi fokus utama dalam pencegahan dan deteksi dini penyakit ginjal diabetik. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan multifaktor untuk menurunkan risiko komplikasi ginjal pada pasien DM tipe 2 di setting primer
EFEKTIVITAS PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN DALAM MENURUNKAN RISIKO DIARE PADA ANAK USIA SEKOLAH KELAS IV-VI DI SD NEGERI 3 BANJAR JAWA
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak usia sekolah dan berkaitan erat dengan praktik kebersihan diri, khususnya kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas praktik CTPS dalam menurunkan risiko diare pada siswa kelas IV–VI di SD Negeri 3 Banjar Jawa. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 54 siswa yang dipilih melalui metode stratified random sampling. Data terkait perilaku CTPS diperoleh melalui kuesioner, sedangkan kejadian diare dicatat berdasarkan laporan dalam tiga bulan terakhir. Analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara praktik CTPS dan risiko diare (χ² = 22,691; p = 0,001). Siswa yang memiliki kebiasaan CTPS baik tercatat lebih jarang mengalami diare, sebaliknya perilaku CTPS yang kurang baik mengakibatkan peningkatan kasus diare. Data tersebut mengindikasikan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun berperan penting dalam mengurangi risiko diare pada anak. Sehingga, penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai serta edukasi berkelanjutan dari pihak sekolah dan orang tua sangat diperlukan untuk memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa