Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
Analisis Layout Melalui Metode Activity Relationship Chart (ARC) dan Activity Relationship Diagram (ARD) (Studi Kasus: Tandi's Bakery)
This study aims to assess the effectiveness of the existing facility layout at Tandi’s Bakery and to propose a more efficient arrangement using a systematic approach based on the Activity Relationship Chart (ARC), Activity Relationship Worksheet (ARW), Activity Relationship Diagram (ARD), and Total Closeness Rating (TCR). The analysis reveals that the current layout is suboptimal, characterized by inappropriate placement of connecting doors, insufficient proximity between interdependent facilities, and a toilet location that is not aligned with the office area. These issues hinder workflow, increase material handling distances, and reduce overall operational efficiency. By evaluating the interrelationships among activities and determining priority levels of facility proximity, this study proposes an improved layout that includes relocating the toilet, reorganizing connecting doors, and restructuring production spaces according to process linkages. The proposed layout is expected to enhance workflow continuity, improve hygiene conditions, and support greater productivity within Tandi’s Bakery
Studi Laboratorium Pengaruh Penambahan Bubuk Tulang Sotong sebagai Bridging Agent pada Lumpur Pemboran
During drilling operations, when the reservoir zone is penetrated, the rock formation generally has high porosity and permeability, which can cause lost circulation. To overcome this problem, a bridging agent in the form of calcium carbonate (CaCO₃) is used because it is acid soluble and can temporarily seal the formation pores. Cuttlebone is known to contain a high amount of CaCO₃, so it has potential as an alternative bridging agent. This study aims to evaluate the effectiveness of CaCO₃ derived from cuttlebone as a bridging agent in drilling fluid. The evaluation was carried out through filtration tests and observation of mud cake characteristics. The test results show a low filtrate volume of 4.8–6 mL within 30 minutes and created thin and compact mud cake with an average thickness of 0.398-0,794 mm. These results indicate that CaCO₃ from cuttlebone is effective in sealing formation pores and preventing lost circulation in the productive zone
Modifikasi Edema Reduction Leg Elevator Stainless Steel Terhadap Tekanan Hidrostatik Intravaskuler di Perbatasan Indonesia-Malaysia
Lamanya penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor penyulit edema. Edema pada kaki ditemukan pada klien usia lebih dari 50 tahun disebabkan oleh venous insufficiency. Venous insufficiency mempengaruhi lebih dari 30% dari populasi dan 1% terjadi pada gagal jantung. Kasus venous insufficiency banyak terdapat pada diabetes mellitus yang mengalami komplikasi LKD dengan manifestasi klinis yang tampak adalah terjadinya edema. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Edema Reduction Leg Elevator Stailess Steel terhadap tekanan Hidrostatik di perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode Penelitian ini adalah Quasy eksperiment pre and post test without control group design dengan jumlah sampel sebanyak 21 pasien yang berasal dari wilayah kerja puskesmas Entikong Perbatasan Indonesia- Malaysia. Kriteria pasien yang akan diambil adalah pasien dengan edema semua derajat, pasien dengan Luka kaki diabetic. Pasien akan dilakukan perawatan sesuai dengan prosedur ditambah dengan Edema Reduction Leg Elevator Stainless Steel selama 15 menit. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Pengukuran dilakukan pre dan post setelah dilakukan intervensi. Alat ukur yang digunakan adalah busur jangka, lembar observasi. Analisis yang akan digunakan adalah dengan uji T
Time is Life: A Case Report on Early Cardiopulmonary Resuscitation in a Witnessed Cardiac Arrest
Introduction: Cardiac arrest can occur unexpectedly in a hospital setting, even in individuals who were not patients. A cardiac arrest happened at the hospital, subsequently addressed with rapid and effective intervention due to sufficient resources. Main Symptoms: A patient caregiver in the ward experienced cardiac arrest, prompting the nurse to promptly activate the code blue system. He had previously reported back pain to his wife, who was a patient in the ward at the time. Therapeutic intervention: The Code Blue team from emergency department (ED) and intensive care unit (ICU) immediately arrived to administer high-quality cardiac pulmonary resuscitation. Timely intervention and defibrillation were critical in preserving the patient’s life. The electrocardiogram obtained post-return of spontaneous circulation (ROSC) exhibited ST-segmen depression accross multiple leads. The patient was promptly transported to the ED for stabilization and scheduled for primary percutaneous coronary intervention. Conclusion: Prompt and effective cardiopulmonary resuscitation enhance patient survival rates. Subsequently, thorough and effective treatment is essential to minimize the risk of patient morbidity.
Keywords: cardiopulmonary resuscitation, cardiac arrest, return of spontaneous circulatio
Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Terhadap Kesiapan Menarche Pada Remaja Putri Awal di SMP 53 Palembang
Menarche atau menstruasi pertama merupakan tahap penting dalam perkembangan remaja putri. Kesiapan menarche sangat dipengaruhi oleh pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Pengetahuan yang kurang dapat menimbulkan kecemasan dan kesalahpahaman, sehingga perlu diteliti hubungan antara pengetahuan dan kesiapan menarche pada remaja putri awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan Kesehatan reproduksi terhadap kesiapan menarche pada remaja putri awal di SMP 53 Palembang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri awal di SMP 53 Palembang dengan sampel sebanyak 45 siswi yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan Kesehatan reproduksi yang "cukup" (42.2%) dan "baik" (37.8%). Sementara itu, tingkat kesiapan menarche mayoritas berada pada kategori "cukup siap" (42.2%) dan "siap" (31.1%). Berdasarkan uji bivariat, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan Kesehatan reproduksi dengan kesiapan menarche pada remaja putri awal (p-value < 0.05). Mayoritas remaja dengan pengetahuan baik juga menunjukkan kesiapan menarche yang baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan Kesehatan reproduksi dengan kesiapan menarche pada remaja putri awal di SMP 53 Palembang. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki, semakin tinggi tingkat kesiapan remaja dalam menghadapi menarche
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Teh Dengan Kadar Hemoglobin Pada Penderita Anemia di Puskesmas Dukuh Kupang Surabaya
Anemia merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi tinggi, terutama pada remaja dan wanita usia subur. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kadar hemoglobin adalah kebiasaan konsumsi teh, karena kandungan tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi teh dengan kadar hemoglobin pada penderita anemia di Puskesmas Dukuh Kupang Surabaya. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 30 responden berusia 17–50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kebiasaan konsumsi teh, asupan zat besi, serta gejala anemia, sementara kadar hemoglobin diukur menggunakan hemoglobin meter. Hasil analisis Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi teh dengan kadar hemoglobin (p=0,936). Namun, ditemukan hubungan signifikan antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin (p=0,044) dan antara jenis anemia dengan gejala klinis (p=0,009). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor utama yang memengaruhi kadar hemoglobin pada responden adalah asupan zat besi, sedangkan kebiasaan konsumsi teh tidak terbukti berpengaruh signifikan
Pengaruh Riwayat Edukasi Kesehatan Terhadap Sikap, Pengetahuan, dan Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Jawa Barat
Imunisasi dasar efektif mencegah penyakit menular pada anak, namun cakupannya di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Bekasi, masih rendah. Rendahnya pengetahuan, sikap orang tua, dan akses layanan menjadi faktor penghambat. Edukasi kesehatan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kelengkapan imunisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh riwayat edukasi kesehatan terhadap sikap, pengetahuan, dan kelengkapan imunisasi anak usia 0–18 bulan, serta mendeskripsikan distribusi tiap variabel pada orang tua balita pada Posyandu di wilayah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan metode kohort untuk mengkaji pengaruh edukasi kesehatan terhadap sikap, pengetahuan, dan kelengkapan imunisasi. Sampel diambil secara purposive dari orang tua dengan anak balita di atas 18 bulan yang terdaftar di Posyandu Melati 9 Cikarang Barat dan Posyandu Lavender, Babelan, Kabupaten Bekasi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat edukasi kesehatan tentang imunisasi dasar berpengaruh signifikan terhadap sikap (p = 0,000), pengetahuan (p = 0,000), dan kelengkapan imunisasi wajib anak usia 0–18 bulan (p = 0,000) pada orang tua balita di Posyandu Melati 9 Cikarang Barat dan Posyandu Lavender, Babelan, Kabupaten Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat edukasi kesehatan berpengaruh signifikan terhadap sikap, pengetahuan, dan kelengkapan imunisasi wajib anak usia 0–18 bulan. Edukasi efektif dalam membentuk sikap positif, meningkatkan pengetahuan, dan mendorong kepatuhan orang tua melengkapi imunisasi, sehingga penting dijadikan strategi promotif sejak masa hamil untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar pada bayi dan balita
Pengaruh Pemberian Imunisasi Mr (Measles And Rubella Vaccine) Terhadap Kejadian Campak di Kota Tangerang Selatan Tahun 2024
Campak dan rubella adalah penyakit infeksi akibat virus yang ditularkan melalui percikan droplet di udara. Kedua penyakit ini masih sering ditemukan dan sangat mudah menular. Secara global, Indonesia menempati peringkat ketujuh dalam jumlah kasus campak terbanyak. Sementara itu, untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi kedua setelah India dalam jumlah kasus rubella. Upaya pencegahan terhadap campak dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi.. Tujuan menganalisis dampak imunisasi MR terhadap kasus campak di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2024. Metode penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Data yang digunakan diperoleh dari laporan bulanan 35 Puskesmas yang berada di wilayah Kota Tangerang Selatan. Hasil penelitian hasil uji korelasi rank spearman rho menunjukkan nilai signifikansi 0,031 dengan α= 0,05. Dengan nilai p-value < α disimpulkan ada pengaruh antara pemberian imunisasi MR dengan kejadian campak di Kota tangerang Selatan tahun 2024. Kesimpulan dan saran terdapat pengaruh yang signifikan pemberian vaksin MR dengan kejadian campak/suspect di kota tangerang Selatan. Dianjurkan bagi ibu yang memiliki anak usia 9–12 bulan untuk memberikan imunisasi MR guna menunjang tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit
Efektivitas Kompres Hangat dan Kompres Dingin pada Payudara Terhadap Nyeri Bendungan Asi Ibu Postpartum di Pmb Bidan Sinta Kab. Banyuasin
Pada data yang telah dikumpulkan di PMB Bidan Sinta Kab. Banyuasin terdapat 45 ibu postpartum yang mengalami bendungan ASI pada tahun 2024. Masalah yang sering kali terjadi pada ibu nifas saat pemberian ASI eksklusif terletak pada payudara. Salah satunya pembengkakan payudara yaitu bendungan ASI. Tujuan Penulisaan Mengetahui efektivitas kompres hangat dan kompres dingin pada payudara terhadap nyeri bendungan ASI ibu postpartum di PMB Bidan Sinta Kab. Banyuasin. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest. Sampel terdiri dari 30 responden, dengan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian kompres hangat & dingin pada payudara yang nyeri. Data dikumpulkan menggunakan ceklist dan dianalisis dengan uji wilcoxon. Efektivitas nyeri payudara akibat bendungan ASI sebelum dilakukan teknik kompres hangat dan kompres dingin memiliki rata-rata sebesar 3.07, sesudah dilakukan kompres hangat dan kompres dingin rata-rata sebesar 1.17. Hasil uji wilcoxon dengan nilai p value = 0.000. Terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan kompres hangat & dingin pada nyeri payudara akibat bendungan ASI, dengan hasil bahwa komprs hangat & dingin efektif mengurangi nyeri payudara pada ibu postpartum
Analisis Work Motivation dan Work Engagement Terhadap Organizational Commitment di Rumah Sakit
Turnover atau pengunduran diri selalu terjadi di rumah sakit, turnover akan mengakibatkan rumah sakit menjadi tidak efektif karena kehilangan karyawan yang berpengalaman dan perlu melatih kembali karyawan baru dan juga mempengaruhi kemajuan kerja produktivitas, serta membawa reputasi negatif bagi organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh work motivation dan work engagement terhadap organizational commitment perawat pada RS Grestelina Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan 190 sampel di RS Grestelina Makassar. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Bivariat yakni analisis Chi-Square. Hasil penelitian mennjukkan bahwa terdapat pengaruh work motivation terhdap organizational commitment di RS Grestelina Makassar dengan nilai (p=0.001), ada pengaruh work engagement terhadap organizational commitment perawat di RS Grestelina Makassar (p=0.002) dan terdapat pengaruh work otivation terhadap work engagement di RS Grestelina Makassar dengan nilai (p=0.001).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masih terdapat work motivation dan organizational commitment yang rendah bagi perawat di RS Grestelina Makassar namun memiliki work engagement yang cukup baik. Disarankan kepada pihak Rumah Sakit untuk meningkatkan motivasi dan komitmen melalui motivasi seperti memberikan reward kepada perawat yang memiliki kinerja yang baik, melakukan diskusi dalam penyelesaian masalah, meningkatkan rasa keterikatan dengan organisasi dengan mempercayakan dan melibatkan karyawan dalam hal pengambilan keputusandan dan menciptakan lingkungan kerja yang baik agar dapat meningkatkan loyalitas perawat di rumah sakit