Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
    28972 research outputs found

    STUDI KASUS TEKNIK PEMERIKSAAN OESOPHAGUS MAAG DUODENUM PADA PASIEN PEDIATRIK DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD BANYUMAS

    Get PDF
    Meteorismus merupakan kondisi medis yang ditandai dengan pembengkakan perut akibat akumulasi gas berlebih di saluran gastrointestinal, di mana pemeriksaan oesophagus maag duodenum (OMD) menjadi salah satu prosedur diagnostik utama untuk menilai kondisi fungsional lambung. Terdapat diskrepansi antara teori Lampignano & Kendrick yang menyarankan penggunaan proyeksi AP, lateral, RAO, dan LPO dengan media kontras barium, dibandingkan praktik di RSUD Banyumas yang hanya menerapkan proyeksi AP dengan media kontras iodium. Penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi prosedur pemeriksaan OMD di RSUD Banyumas serta mendalami alasan klinis di balik pemilihan proyeksi dan jenis media kontras tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan dua radiografer, satu perawat radiologi, dan satu dokter spesialis radiologi selama periode Januari hingga Agustus 2025.Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur OMD pada pasien pediatrik dimulai dengan persiapan puasa selama 6 jam tanpa pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap menggunakan media kontras iodium water-soluble yang diencerkan dengan NaCl (perbandingan 1:2) melalui selang NGT, kemudian diikuti pengambilan gambar proyeksi Anteroposterior (AP) untuk memantau distribusi kontras hingga ileum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan proyeksi AP tunggal telah memadai untuk menegakkan diagnosis meteorismus. Pemilihan media kontras berbahan iodium didasarkan pada pertimbangan keamanan pasien pediatrik guna meminimalkan risiko aspirasi serta memberikan proteksi lebih baik pada kasus yang dicurigai mengalami obstruksi saluran cerna

    PRAKTIK PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA SANTRIWATI PESANTREN MA’HAD ZAADUL MA’AD

    Get PDF
    Menstruasi merupakan proses fisiologis yang dialami setiap remaja putri sebagai tanda kematangan sistem reproduksi. Praktik personal hygiene yang tidak tepat selama menstruasi dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan infeksi saluran reproduksi. Santriwati yang tinggal di pesantren menghadapi tantangan khusus seperti keterbatasan fasilitas sanitasi, kurangnya privasi, dan pengaruh budaya yang dapat memengaruhi praktik kebersihan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan praktik personal hygiene saat menstruasi pada santriwati Pondok Pesantren Ma’had Zaadul Ma’ad. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 60 santriwati berusia 10-16 tahun yang sudah mengalami menstruasi dan tinggal minimal enam bulan di pesantren. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Zhahirah (2022) yang telah divalidasi, meliputi kebiasaan mengganti pembalut, mandi, mencuci tangan, dan membuang pembalut. Analisis dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar santriwati memiliki praktik personal hygiene dalam kategori cukup (75%), baik (18,3%), dan kurang (6,7%). Praktik kebersihan yang lebih baik cenderung ditemukan pada kelompok usia lebih tua. Faktor seperti pendidikan dan pekerjaan orang tua tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap praktik kebersihan. Meskipun sebagian besar responden menjaga kebersihan area genital dengan benar, masih terdapat kekurangan dalam aspek penggunaan alat bantu kebersihan, pembuangan pembalut serta keterbatasan fasilitas sanitasi. Sebagian besar santriwati Pesantren Ma’had Zaadul Ma’ad memiliki praktik personal hygiene yang cukup baik selama menstruasi. Diperlukan upaya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan perbaikan fasilitas WASH untuk mendukung manajemen kebersihan menstruasi yang optimal di lingkungan pesantren

    FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) BAGI PETUGAS LABORATORIUM DI RUMAH SAKIT : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk melindungi pekerja, menjaga keselamatan, menjaga peralatan, tempat kerja, bahan produksi, menjaga lingkungan hidup dan proses produksinya. Rumah sakit merupakan suatu sarana kesehatan yang berfungsi melaksanakan pelayanan kesehatan rujukan, fungsi medik spesialistik dan subspesialistik yang mempunyai fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan. Laboratorium merupakan salah satu jenis pelayanan penunjang diagnostik di Rumah Sakit. Petugas Laboratorium atau Ahli tenaga medis laboratorium (ATLM) memiliki peluang mengalami risiko bahaya K3 yang cukup tinggi. Penyediaan dan penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan potensi bahaya K3. Penelitian ini merupakan kajian literatur dengan menggunakan pendekatan Systematic Literatur Review yang dimulai dengan merumuskan pertanyaan menggunakan framework PICO dan melakukan penelusuran literatur menggunakan metode PRISMA. Dari kajian ini disimpulkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi kepatuhan penggunaan APD petugas laboratorium di RS sesuai dengan teori Lawrence Green yaitu faktor predisposisi (presdisposing factor) meliputi pengetahuan, sikap dan sosio-demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja), faktor pendorong (enabling factor) meliputi ketersediaan APD dan pelatihan penggunaan APD yang menjadi tanggung jawab pihak Rumah Sakit agar lingkungan kerja yang aman dapat tercipta serta faktor penguat (reinforcing factor) meliputi peraturan dan pengawasan yang optimal untuk keberlanjutan kepatuhan demi mewujudkan mutu pelayanan yang berkualitas. Diantara faktor tersebut, tidak ada yang berperan tunggal dalam mewujudkan kepatuhan. Kepatuhan petugas dalam penggunaan APD bukan hanya tanggung jawab individu namun juga memerlukan tanggung jawab sistemik serta kebijakan yang mendukun

    DAMPAK PAJANAN PM2.5 DAN PM10 TERHADAP KESEHATAN PEKERJA DI PLTU BATUBARA: TINJAUAN LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara merupakan salah satu sumber utama emisi partikulat halus (PM2.5) dan partikulat kasar (PM10) yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius, khususnya pada pekerja yang memiliki intensitas pajanan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pajanan PM2.5 dan PM10 terhadap kesehatan pekerja di PLTU batubara dengan meninjau hasil penelitian lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dengan pendekatan naratif, memanfaatkan basis data ilmiah terindeks seperti Scopus, PubMed, dan ScienceDirect. Hasil kajian menunjukkan bahwa paparan PM2.5 dan PM10 secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan sistem pernapasan (asma, bronkitis kronis, penurunan fungsi paru), gangguan kardiovaskular, serta peningkatan risiko mortalitas akibat penyakit paru dan jantung. Selain itu, mekanisme biologis yang mendasari dampak kesehatan tersebut melibatkan peradangan sistemik, stres oksidatif, dan disfungsi endotel. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa pekerja PLTU memiliki kadar biomarker inflamasi yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Simpulan dari tinjauan ini menekankan pentingnya pengendalian emisi, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta penerapan monitoring kualitas udara di lingkungan kerja PLTU batubara untuk melindungi kesehatan pekerja.

    PENINGKATAN KAPASITAS PENGETAHUAN KADER DALAM DETEKSI DINI STUNTING DI KAMPUNG KELUARGA BERKUALITAS

    Get PDF
    Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kubu Raya yang melaporkan angka prevalensi cukup tinggi. Kader Posyandu memiliki peran strategis dalam deteksi dini stunting; namun, masih banyak di antara mereka yang belum memiliki kompetensi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam menilai status gizi anak. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen tanpa kelompok kontrol, dengan pendekatan pre-test dan post-test pada satu kelompok. Penelitian dilaksanakan di Kampung Keluarga Berkualitas, Desa Rasau Jaya Umum, pada bulan Agustus 2024. Sebanyak 30 kader dipilih melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dan lembar observasi, data dianalisis dengan uji T berpasangan untuk mengetahui pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor rata-rata pengetahuan dari 38,33 menjadi 83,00, dan skor keterampilan dari 3,27 menjadi 8,00 setelah intervensi pelatihan. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa perubahan nilai setelah pelatihan berbeda secara signifikan dibandingkan kondisi awal, yang ditunjukkan oleh nilai  (p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kompetensi kader dalam mengukur status gizi serta mendeteksi stunting secara dini. Disarankan agar program pelatihan serupa dilaksanakan secara berkala untuk memperkuat peran kader kesehatan masyarakat dalam mendukung upaya perbaikan gizi anak dan pencegahan stunting

    PENGARUH KOMORBIDITAS DAN STATUS VAKSINASI TERHADAP KEMATIAN PASIEN COVID-19: STUDI KASUS-KONTROL DI RSUD SANJIWANI GIANYAR

    Get PDF
    COVID-19 meningkatkan risiko kematian terutama pada pasien dengan komorbid. Diabetes melitus hipertensi penyakit jantung penyakit paru obstruktif kronik dan tuberkulosis paru memperberat perjalanan penyakit melalui inflamasi kronis dan disfungsi organ. Status vaksinasi memengaruhi luaran klinis pasien COVID-19. Penelitian ini menganalisis hubungan komorbid dan status vaksinasi terhadap kematian pasien COVID-19 di RSUD Sanjiwani Gianyar. Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan 310 pasien meninggal sebagai kasus dan 620 pasien sembuh sebagai kontrol. Peneliti menerapkan total sampling pada kelompok kasus dan purposive sampling pada kelompok kontrol. Peneliti memperoleh data melalui ekstraksi rekam medis elektronik SIMRS. Riwayat komorbid dan status vaksinasi ditetapkan sebagai variabel independen sedangkan status kematian ditetapkan sebagai variabel dependen. Analisis regresi logistik binomial menghasilkan Odds Ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Penyakit jantung menunjukkan risiko kematian tertinggi (OR = 49.59, 95% CI = 11.59–212.24). Tuberkulosis paru meningkatkan risiko kematian (OR = 27.77, 95% CI = 3.38–227.84). Hipertensi meningkatkan risiko kematian (OR = 14.88, 95% CI = 6.65–33.27). Penyakit paru obstruktif kronik meningkatkan risiko kematian (OR = 7.60, 95% CI = 3.68–15.71). Diabetes melitus meningkatkan risiko kematian (OR = 3.97, 95% CI = 2.57–6.12). Stroke meningkatkan risiko kematian (OR = 3.68, 95% CI = 1.69–8.04). Penyakit ginjal kronis meningkatkan risiko kematian (OR = 2.14, 95% CI = 1.21–3.77). Kanker dan HIV-AIDS tidak menunjukkan hubungan bermakna. Kelompok kontrol menunjukkan proporsi vaksinasi lengkap yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kasus. Komorbid kardiometabolik dan gangguan paru menentukan peningkatan risiko kematian pasien COVID-19. Vaksinasi lengkap memberikan efek protektif terhadap mortalitas

    PERANAN SGLT2 INHIBITOR PADA HEART FAILURE

    Get PDF
    Heart failure adalah suatu sindrom kompleks yang terjadi akibat gangguan jantung yang merusak kemampuan ventrikel untuk mengisi dan memompa darah secara efektif serta merupakan penyebab utama kematian atau sangat berperan pada kematian. Sodium-glucose Co-transporter 2 inhibitor (SGLT2i) adalah salah satu golongan antidiabetik yang direkomendasikan untuk pasien dengan masalah jantung ataupun ginjal. Telaah ilmiah berbasis bukti menunjukkan manfaat SGLT2i terhadap penyakit jantung, ginjal, ataupun metabolik lainnya pada pasien tanpa diabetes melitus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan desain narrative review. Hasil penelusuran literatur mendapatkan 8 artikel terpilih yang diterbitkan dalam rentang tahun 2021–2025 dan telah dianalisis terkait kekuatan serta keterbatasannya. Dari 8 artikel yang direview, 2 artikel membahas efek klinis terhadap mortalitas dan hospitalisasi, 3 artikel membahas mekanisme kerja non- glikemik, 1 artikel membahas mekanisme dekongestif, 1 artikel berupa review bukti klinis komprehensif, dan 1 artikel membahas risiko aritmia pada pasien heart failure pengguna SGLT2 inhibitor. Berdasarkan hasil identifikasi dan telaah literatur, dapat disimpulkan bahwa SGLT2 inhibitor berperan penting dalam penatalaksanaan heart failure melalui perbaikan outcome klinis, efek dekongestif, perbaikan metabolisme dan fungsi jantung, serta pengurangan risiko aritmia. Penggunaan SGLT2 inhibitor secara dini terbukti memberikan prognosis yang lebih baik dan mendukung peningkatan kualitas hidup pasien heart failure

    EFEKTIFITAS SISTEM INFORMASI LAYANAN KEPEGAWAIAN MENGGUNAKAN WHATSAPP BROADCAST (Di Dinas Kesehatan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Sampang)

    Get PDF
    Permasalahan utama dalam manajemen sumber daya manusia di instansi publik sering kali berkaitan dengan rendahnya pemahaman pegawai terhadap informasi layanan kepegawaian, khususnya mengenai kenaikan pangkat. Banyak pegawai yang belum memahami secara detail hak, kewajiban, serta prosedur layanan yang tersedia akibat proses sosialisasi yang tidak berjalan secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan fitur WhatsApp Broadcast sebagai media komunikasi dalam meningkatkan pemahaman informasi layanan kepegawaian kenaikan pangkat. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan menerapkan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian terdiri dari 35 orang pegawai yang dipilih menggunakan teknik sampel tertentu. Data dikumpulkan melalui instrumen kuesioner pre-test dan post-testuntuk mengukur tingkat pengetahuan pegawai sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Hasil proyek inovasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan. Sebelum dilakukan intervensi, informasi tidak tersosialisasi dengan baik, namun setelah implementasi WhatsApp Broadcast, mayoritas tingkat pengetahuan pegawai berada pada kategori baik (100%). Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media sosial yang bersifat personal dan langsung seperti WhatsApp mampu memfasilitasi penyebaran informasi secara lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar penggunaan WhatsApp Broadcastdioptimalkan dan diintegrasikan sebagai prosedur tetap dalam sistem informasi layanan kepegawaian guna menjamin pemerataan informasi bagi seluruh pegawai.

    PENGETAHUAN, PERSEPSI, DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA KESIMAN PETILAN, KECAMATAN DENPASAR TIMUR, KOTA DENPASAR

    Get PDF
    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, termasuk di Kota Denpasar. Meskipun berbagai program pencegahan seperti PSN 3M Plus, COMBI, dan fogging telah dilaksanakan selama beberapa dekade, angka kejadian DBD tetap menunjukkan fluktuasi dan tidak mengalami penurunan yang konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, persepsi, dan perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan DBD yang telah dan belum dilakukan pemerintah, khususnya pada masyarakat Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 100 sampel yang diambil di Desa Kesiman Petilan. Dari 100 sampel, didapatkan bahwa rata-rata pengetahuan, persepsi, dan perilaku masyarakat terhadap upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah lebih tinggi dari yang belum dilakukan oleh pemerintah. Diketahui juga adanya perbedaan dari pengetahuan, persepsi, dan perilaku berdasarkan masing-masing karakteristik demografi seperti grup umur, pekerjaan, dan pendidikan terakhir. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang didapatkan yaitu pengetahuan, persepsi, dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan DBD yang belum dilakukan oleh pemerintah lebih rendah jika dibandingkan dengan pencegahan DBD yang telah dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan upaya pencegahan DBD di masyarakat sangat bergantung pada peningkatan pengetahuan yang merata, pembentukan persepsi positif terhadap program kesehatan, serta penguatan perilaku preventif yang konsisten. Upaya edukasi berbasis komunitas dan strategi komunikasi risiko yang lebih efektif diperlukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung program pencegahan DBD di Desa Kesiman Petilan

    KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN OSTEOARTRITIS LUTUT: STUDI CROSS SECTIONAL

    No full text
    Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena hiperglikemia akibat kekurangan hormone insulin. Hiperglikemia memodulasi perkembangan Osteoartritis. Osteoartritis lutut dapat membatasi partisipasi dalam aktivitas sosial dan aktivitas sehari hari. Pada akhirnya, kombinasi nyeri kronis, keterbatasan mobilitas, dan beban penyakit yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas hidup. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kualitas hidup penderita Diabetes Mellitus dengan Osteoartritis lutut. Tujuan khusus adalah menganalisis karakteristik penderita Diabetes Mellitus tipe 2 dengan Osteoartritis lutut berdasarkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pendapatan, penyakit penyerta, manajemen nyeri lutut, strategi pengendalian nyeri lutut, dan aktifitas fisik penderita DM dengan OA lutut. Desain penelitian ini adalah Cross sectional. Populasi penelitian adalah peserta Prolanis yang terdata di UPTD Puskesmas Mangkubumi dengan jumlah sampel berdasarkan rumus lemeshow sebanyak 150 orang. Pengukuran Osteoartritis dilakukan menggunakan instrumen Indeks WOMAC dengan area penilaian nyeri, kekakuan dan gangguan fungsi. Kualitas Hidup diukur menggunakan Osteoarthritis Knee and Hip Quality of Life Questionnaire (OAKHQOL). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara nyeri dengan kualitas hidup penderita DM tipe 2 dengan osteoartritis lutut (p-value= 0,048, r = -0,161). Perlu dilakukan adanya intervensi berbasis aktifitas fisik ringan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita DM

    27,272

    full texts

    28,972

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇