Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
LITERATURE REVIEW : HUBUNGAN IMT DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA PENDERITA OBESITAS
Obesitas adalah kondisi berat badan berlebih yang ditandai dengan akumulasi jaringan lemak atau adiposa di dalam tubuh sebagai faktor pemicu penyakit tidak menular (PTM), seperti Diabetes Melitus Tipe 2. Penyimpanan lemak berlebih dalam waktu lama menjadi faktor predisposisi rusaknya sel β pankreas yang berakhir meningkatnya kadar glukosa darah sewaktu (hiperglikemia) akibat terjadinya resistensi insulin. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 menyebutkan kejadian obesitas meningkat dari 13,5% menjadi 14,4%. Penelitian ini menggunakan desain Literature Review deskriptif dengan rancangan PICO. Indeks massa tubuh dan kadar glukosa darah sewaktu merupakan variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini. Pencarian artikel pada basis data Google Scholar, Semantic Scholar, dan Pubmed menggunakan kata kunci Boolean. Kriteria inklusi adalah studi cross-sectional kuantitatif full-text yang dipublikasikan tahun 2020–2025. Dari 1.967 artikel yang didapat dan setelah dilakukan sintesis, ditetapkan 6 artikel yang selaras dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Seluruh artikel disintesis secara naratif dengan menkomparasi uji statistik (Spearman, Chi-Square, dan ANOVA) menunjukkan korelasi positif dan signifikan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan glukosa darah sewaktu pada penderita obesitas, dengan nilai signifikansi (p<0.05) dan koefisien korelasi (r) dari lemah hingga sedang. Analisis berbagai penelitian perihal obesitas dan kadar glukosa darah sangat diperlukan untuk memperkuat bukti keterkaitan antara naiknya IMT dengan peningkatan kadar glukosa darah sewaktu pada penderita obesitas guna meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi risiko diabetes melitus tipe 2
ADAPTASI EMOSI PASIEN TUNA RUNGU DENGAN GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR EPISODE MANIK DI RUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR PALEMBANG
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses adaptasi emosi pasien tuna rungu dengan gangguan afektif bipolar episode manik di RS Ernaldi Bahar Palembang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis laporan kasus klinis pasien berinisial Tn. W, laki-laki berusia 27 tahun, tuna rungu dan tuna wicara sejak lahir, yang datang dengan gejala mania dan perilaku agresif. Data dikumpulkan melalui telaah catatan medis dan wawancara dengan tenaga medis yang menangani. Hasil menunjukkan bahwa keterbatasan komunikasi merupakan faktor utama yang mempersulit pengelolaan emosi, menyebabkan ledakan amarah, perilaku destruktif, dan ancaman kekerasan. Strategi adaptasi emosi pasien meliputi penarikan diri sosial, ekspresi emosi nonverbal, serta ketergantungan terhadap keluarga. Pendekatan terapeutik yang efektif mencakup kombinasi psikofarmaka (Haloperidol, Risperidone), terapi suportif keluarga, dan pembinaan spiritual. Temuan ini menekankan pentingnya layanan kesehatan jiwa yang inklusif bagi penyandang disabilitas pendengaran dengan penyediaan komunikasi alternatif seperti bahasa isyarat dan media visual
LITERATURE REVIEW : KETAHANAN PANGAN DAN GIZI MASYARAKAT DI LAHAN KERING KEPULAUAN
Ketahanan pangan dan gizi di lahan kering kepulauan dipengaruhi oleh faktor multifaset, meliputi agroklimat, isolasi geografis, sosial-ekonomi, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Faktor-faktor ini memengaruhi empat pilar ketahanan pangan: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas, sehingga menyebabkan tingginya prevalensi kerawanan pangan dan masalah gizi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur berbagai jurnal nasional dengan database GARUDA dan Google Scholar sehingga didapatkan sampel sebanyak 15 jurnal yang dapat diambil. Hasil: literature review ini menyatakan ada hubungan signifikan antara karakteristik lahan kering kepulauan (curah hujan rendah, kesuburan tanah marginal, dan akses logistik yang sulit) dengan tingkat ketahanan pangan dan status gizi masyarakat. Tantangan utama yang teridentifikasi adalah produktivitas pertanian yang rendah, tingginya harga pangan, rendahnya diversifikasi konsumsi, dan tingginya prevalensi stunting. Kesimpulan: literature review ini menyatakan bahwa karakteristik agroekologi dan sosial-ekonomi lahan kering kepulauan menjadi determinan utama kerentanan pangan dan gizi masyarakat. Penulis berharap penelitian ini mampu menjadi acuan pengembangan kebijakan terpadu yang memadukan teknologi pertanian adaptif iklim, penguatan sistem pangan lokal, dan perbaikan gizi masyarakat
LIVEDO RETICULARIS PADA PASIEN PARKINSON GERIATRI DENGAN PENGGUNAAN AMANTADINE : LAPORAN KASUS
Livedo reticularis merupakan kelainan vaskular kulit yang ditandai dengan pola jaring berwarna kebiruan akibat perubahan aliran darah pada mikrosirkulasi dermis. Salah satu penyebab sekunder yang paling sering dilaporkan adalah penggunaan amantadin, obat antiparkinson dengan mekanisme antagonis reseptor NMDA. Efek ini penting dikenali, terutama pada populasi geriatri yang rentan terhadap efek samping obat. Tujuan laporan kasus ini untuk melaporkan kasus livedo reticularis pada pasien Parkinson usia lanjut yang menggunakan terapi amantadin, serta meninjau hubungan patofisiologi, karakteristik klinis, dan reversibilitas efek kulit tersebut. Laporan kasus observasional pada seorang wanita berusia 64 tahun dengan diagnosis Parkinson stadium 4 yang telah menggunakan amantadin 100 mg dua kali sehari selama ±4 tahun. Pasien menunjukkan lesi makular retikuler berwarna kebiruan pada kedua tungkai bawah, tanpa keluhan nyeri atau gatal. Tidak ditemukan tanda-tanda vaskulitis atau gangguan sensorik. Lesi diklasifikasikan sebagai livedo reticularis sekunder non-inflamasi yang disebabkan oleh amantadin. Berdasarkan literatur, onset livedo reticularis dapat muncul setelah beberapa minggu hingga beberapa tahun penggunaan, dan umumnya membaik setelah penghentian obat. Livedo reticularis merupakan efek samping kulit yang khas dan relatif sering terjadi akibat terapi amantadin pada pasien Parkinson. Kondisi ini bersifat jinak, reversibel, serta tidak memerlukan penghentian terapi apabila manfaat neurologis lebih besar daripada efek kosmetik yang ditimbulkan. Deteksi dini dan edukasi pasien sangat penting untuk memastikan keamanan penggunaan obat pada populasi geriatri
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP MUTU PELAYANAN RAWAT JALAN DI POLIKLINIK KOSEK I MEDAN
Negara menjamin hak setiap orang untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak, aman, dan bermutu. Untuk mewujudkan hak tersebut, diperlukan peningkatan mutu pelayanan sebagai upaya menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat. Dalam konteks fasilitas kesehatan, kepuasan pasien menjadi indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan dan menggambarkan keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kepuasan pasien dengan mutu pelayanan kesehatan berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangible (penampilan fisik), responsiveness (cepat tanggap), reliability (keandalan), empathy (empati), dan assurance (jaminan), serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien rawat jalan di Poliklinik Kosek I Medan. Penelitian menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 83 responden yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepuasan pasien dan mutu pelayanan pada aspek tangible (p=0,000), responsiveness (p=0,000), empathy (p=0,000), dan assurance (p=0,000). Namun, aspek reliability (p=0,989) tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien adalah aspek assurance, yang mencerminkan rasa aman, kepastian pelayanan, dan kepercayaan pasien terhadap petugas kesehatan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar Poliklinik Kosek I Medan terus meningkatkan mutu pelayanan, terutama pada aspek responsiveness, serta melakukan survei kepuasan pasien secara berkala sebagai evaluasi mutu dan tolok ukur pencapaian target pelayanan kesehatan
PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS TIPE II TIDAK TERKONTROL DISERTAI MILIARIA RUBRA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SALEMBARAN JAYA
Diabetes Melitus (DM) Tipe II merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan komprehensif karena sering disertai komplikasi, termasuk kelainan kulit seperti miliaria rubra. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan pendekatan kedokteran keluarga dalam tata laksana pasien DM Tipe II tidak terkontrol yang disertai miliaria rubra di Puskesmas Salembaran Jaya. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan biopsikososial melalui asesmen pasien, intervensi edukatif, terapi farmakologis, serta evaluasi berkelanjutan selama periode 22 Juli–15 Agustus 2025. Hasil menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah sewaktu (GDS) dari 402 mg/dL menjadi 233 mg/dL setelah dilakukan edukasi diet, aktivitas fisik terstruktur, dan pemberian terapi kombinasi Metformin serta Glimepiride. Keluhan miliaria rubra membaik setelah terapi topikal dan edukasi manajemen keringat. Peningkatan dukungan keluarga juga terlihat dari skor coping yang naik dari 3 menjadi 5, serta fungsi keluarga (APGAR) yang mencapai skor 7, menunjukkan fungsi keluarga yang baik. Hasil ini membuktikan bahwa pendekatan kedokteran keluarga efektif dalam meningkatkan kontrol glikemik, memperbaiki komplikasi kulit, serta memperkuat dukungan keluarga dalam pengelolaan penyakit kronis. Pendekatan holistik dengan kolaborasi pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan di tingkat primer dapat dijadikan model penanganan berkelanjutan bagi pasien DM Tipe II di layanan puskesmas
EVALUASI DAMPAK TELEDENTISTRY TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PASIEN PASCA PANDEMI COVID-19
Teledentistry merupakan sistem komunikasi berupa video dan audio untuk mendapatkan informasi kesehatan gigi dari pasien. Layanan ini mulai berkembang pesat selama pandemi COVID-19. Pada saat ini, setelah pandemi berakhir dan masyarakat kembali beraktivitas normal, teledentistry diharapkan tetap menjadi solusi yang relevan dalam pelayanan kesehatan gigi di era pasca pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah teledentistry dapat menjadi alternatif dari layanan gigi konvensional di masa asetelah pandemi COVID-19 dengan fokus pada tingkat kepuasan pasien terhadap laynan tersebut. Tinjauan pustaka dilakukan dengan menelusuri berbagai basis data seperti Google Scholar, Springer Nature dan PubMed untuk mendapatkan publikasi yang membahas penerapan teledentistry setelah pandemi. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa mayoritas pasien merasa puas dengan layanan teledentistry. Hal ini disebabkan oleh kemudahan akses, komunikasi yang lebih cepat dengan dokter gigi dan berkurangnya kebutuhan untuk kunjungan langsung. Teledentistry terbukti mampu menjaga akses terhadap perawatan gigi selama masa pandemi dan tetap memberikan manfaaat di masa mendatang. Namun demikian, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan pemeriksaan fisik, kendala teknis serta ketimpangan akses di wilayah pedesaan. Teledentistry memiliki potensi untuk mendukung dan melengkapi layanan kesehatan gigi secara konvensional. Tenaga kesehatan gigi juga perlu meningkatkan perluasan jangkauan layanan serta pelatihan untuk meningkatkan manfaat teledentistry agar layanan tetap berkualitas dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat
HUBUNGAN PENGGUNAAN GADGET DENGAN KUALITAS INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK DI SD EBEN HAEZAR MANADO
Perkembangan teknologi saat ini berkembang sangat cepat dan semakin maju. Perkembangan yang pesat ini telah membawa dunia ke dalam era globalisasi yang modern. Di era ini, manusia diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan yang praktis, efektif, dan efisien. Hal ini disebabkan oleh semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi. Penggunaan alat digital tidak hanya eksklusif untuk kelompok pekerja atau pebisnis, tetapi kenyataannya, hampir semua lapisan masyarakat, termasuk remaja, anak-anak dan bahkan bayi, telah memanfaatkan alat digital dalam aktivitas sehari-hari. Penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan oleh anak-anak dapat memberikan efek signifikan terhadap pertumbuhan fisik mereka. Salah satu dampaknya adalah minimnya aktivitas fisik yang seharusnya dilakukan oleh anak. Penggunaan pada usia dini dapat mempengaruhi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada anak. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan penggunaan dengan kualitas interaksi sosial pada anak di SD Eben Heazar Manado. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang bersifat analitis dan korelasional dengan total sampel sebanyak 64 responden, untuk menganalisa data dalam penelitian ini menggunakan Analisis Univariat dan Analisis Bivariat dengan menggunakan uji chi-Square. Hasil Penelitian: Hasil dari penelitian ini responden penggunaan sedang yaitu sebanyak 92% dan rendah sebanyak 7,8%. Selanjutnya hasil dari responden yang tidak mengalami gangguan kualitas interaksi sosial sebanyak 82,8% dan yang mengalami gangguan kualitas interaksi sosial sebanyak 17,2%. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu ada hubungan antara penggunaan dengan kualitas interaksi sosial pada anak
HUBUNGAN KEPATUHAN TRANSFUSI DARAH DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN ANAK THALASEMIA MAYOR DI RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CIBINONG
Thalassemia Major is a chronic disease common in Mediterranean and Southeast Asian countries, with increasing prevalence. Compliance is the main treatment in undergoing routine transfusions in Thalassemia patients. Thalassemia patients are advised to undergo routine blood transfusions, maintain health and endurance so that patients can continue their activities as usual. This study aims to determine blood transfusion compliance and quality of life in Thalassemia Major patients. This type of research is quantitative research with a correlational design and cross-sectional approach. The sampling technique in this study used non-probability sampling with a purposive sampling approach. Data were obtained by distributing questionnaires for blood transfusion compliance and quality of life with the PedsQL questionnaire. The population in this study was 50 patient populations who visited the Thalassemia unit of Sentra Medika Cibinong Hospital. The sample in this study amounted to 45 people. The data were processed and analyzed in stages according to the research objectives using computerization. The results of the study showed that, the results of the Gamma test, obtained a correlation coefficient value of 0.570 p value = 0.006 or <0.05. So it can be concluded that there is a moderate and significant positive correlation between blood transfusion compliance and patient quality of life, so that if patients have a high level of blood transfusion compliance, they will have a good quality of life.
 
HUBUNGAN LAMA MENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN DERAJAT KEPARAHAN OSTEOARTHRITIS LUTUT PADA WANITA MENOPAUSE DI RSUD DR. MOHAMAD SOEWANDHIE
Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang tidak hanya menimbulkan komplikasi vaskular, tetapi juga berkontribusi terhadap gangguan muskuloskeletal, termasuk osteoarthritis (OA) lutut. Kondisi hiperglikemia kronis dapat mempercepat proses degeneratif sendi melalui pembentukkan advanced glycation end products (AGEs) dan reactive oxygen species (ROS). Perubahan biologis ini berpotensi memperberat OA lutut, khsusunya pada wanita menopause yang mengalami penurunan kadar hormon estrogen sehingga memicu peningkatan proses inflamasi serta penurunan elastisitas jaringan sendi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama menderita DMT2 dengan derajat keparahan OA lutut pada wanita menopause di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Surabaya. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional analytic dengan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari 78 wanita menopause dengan DMT2 yang disertai OA lutut, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data diperoleh dari rekam medis dan wawancara langsung, meliputi lama menderita DMT2 serta hasil radiografi polos lutut untuk menentukan derajat keparahan OA berdasarkan klasifikasi Kellgren and Lawrence. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Mayoritas responden berusia ≥ 60 tahun (66,7%) dan telah menderita DMT2 selama ≥ 5 tahun (55,1%). Sebagian besar pasien mengalami OA lutut derajat 3 (50,0%) dan derajat 4 (35,0%). Hasil analisis Chi-Square memperlihatkan nilai p-value sebesar 0,450 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan signifikan antara lama menderita DMT2 dan derajat keparahan OA lutut pada wanita menopause