OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Identifikasi Lahan Sawah Di Kecamatan Sinjai Timur Menggunakan Citra Satelit Landsat 8 Tahun 2014
Jenis tanaman pangan yang diusahakan di Kabupaten Sinjai adalah padi, palawija, buah-buahan dan sayuran, dimana jenis tanaman pangan utama yang dikembangkan adalah padi.Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan teknologi yang dapat diandalkan untuk melakukan pengukuran, pemetaan, pemantauan, pembuatan model pengelolaan suatu wilayah geografis secara cepat, akurat, dan efektif, sehingga dapat mengantisipasi cepatnya perubahan yang terjadi suatu wilayah.Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk memetakan dan mengidentifikasi penyebaran lahan sawah dengan menggunakan citra satelit Landsat 8 di Kecamatan Sinjai Timur.hasil klasifikasi citra Tahun 2014 menunjukkan area sawah memiliki luas lahan 2.648,45 ha. Sedangkan area non sawah/selain sawah memiliki luas lahan 4.255,51ha, hal ini berbeda dengan data BPS tahun 2013 yang mencatat luas lahan sawah di akhir tahun 2012 dimana terdapat 2.245,58 ha lahan sawah yang diperincikan perdesa sedangkan untuk luas tanah sawah yang di perinci menurut jenis pengairan yaitu 1.737,58 ha. hasil indentifikasi luas lahan Sinjai Timur tahun 2014. Sawah yang merupakan area penelitian dengan persentase sebesar 38% dari total luas lahan. Jenis lahan selaian sawah atau non sawah memiliki persentase luas lahan 62% dari total luas lahan
Web-Based Computer Assisted Design untuk Dimensi Bangunan Saluran Irigasi
Di era digital saat ini, hampir seluruh kegiatan masyarakat menggunakan internet dalam memenuhi kebutuhannya. Sama halnya dalam bidang pertanian, diperlukan sebuah media yang dapat diakses oleh masyarakat yang dapat memberikan informasi mengenai perencanaan dimensi saluran. Dengan adanya web assisted design ini, diharapkan dapat memudahkan dalam perencanaan dimensi saluran. Website ini dibangun berdasarkan metode Web Development Life Cycle (WDLC) yang meliputi tahapan website planning, analisi kebutuhan, tahapan pengembangan web, dan implementasi. perangkat lunak yang digunakan untuk membangun dan menjalankan web ini yaitu visual studio code, server yang digunakan adalah Apache dan browser berupa Chrome 28.0.1469.0. Bahasa pemograman yang digunakan yaitu javascript dengan bahasa markup HTML. Web assisted design ini terdiri dari 6 menu yaitu home, kalkulator, referensi, konversi, bantuan, dan Tentang. Dengan menginput nilai debit rencana, maka menghasilkan nilai luas penampang saluran dengan nilai koefisien Manning. Dengan nilai koefisien ini maka dapat ditentukan bahan saluran yang digunakan dalam pembangunan saluran. Menu kalkulator menghitung luas penampang saluran baru, keliling basah, dan jari-jari hidrolis. Dimensi saluran yang dihasilkan dapat diaplikasilan pada perencanaan dimensi saluran irigasi yang ekonomis
Pengaruh Waktu Panen Batang Sorgum Manis (Sorghum bicolor (L) Moench) Terhadap Nira Yang Dihasilkan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu panen berdasarkan ruas-ruas batang sorgum manis, terhadap volume juice dan kadar gula (brix) yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 di Pabrik PT. Sinar Indonesia Merdeka (SINDOKA), Jln. Trans Sulawesi, Korondeme Desa Teromu, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur.Dua jenis varietas sorgum yang digunakan yakni NTJ dan ICSR. Peralatan utama yang digunakan adalah refractometer untuk mengukur kadar brix gelas ukur digunakan untuk mengukur volume juice. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penundaan waktu panen akan meningkatkan volume juice per volume ruas pada sorgum Varietas NTJ dan ICSR. Namun volume juice per berat ruas tidak dipengaruhi oleh waktu panen.Volume juice juga dipengaruhi oleh posisi ruas dimana ruas paling atas pada kedua varietas NTJ dan ICSR mempunyai volume juice lebih tinggi dibandingkan volume juice pada ruas bawah dan tengah. Untuk varietas NTJ, volume juice tertinggi diperoleh pada panen sore hari. Sedang untuk ICSR, volume juice per volume ruas tertinggi pada panen pagi hingga siang hari. Nilai rata rata kandungan gula untuk Varietas NTJ tertinggi pada waktu panen siang hari. Sedangkan untuk Varietas ICSR, kandungan gulat tertinggi di peroleh pada waktu panen pagi har
Pengaruh Sifat Fisik Tanah dan Sistem Perakaran Vegetasi Terhadap Imbuhan Air Tanah
Infiltrasi merupakan suatu proses masuknya air kedalam tanah secara vertikal melalui permukaan tanah yang tergantung kepada karakteristik tanah dan perakaran vegetasi. Oleh karena itu, dalam pengujian infiltrasi pada suatu lahan pertanian perlu dilakukan identifikasi karakteristik tanah (tekstur) dan karakteristik perakaran vegetasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akar vegetasi dan tekstur tanah terhadap laju infiltrasi. Untuk menentukan hubungan antara vegetasi terhadap laju infiltrasi dilakukan pengukuran tekstur tanah, kadar air, berat akar vegetasi, dan proses terjadinya laju infiltrasi masing-masing sampel yang dilakukan dalam empat kali pengujian. Berdasarkan data yang diperoleh, besarnya pengaruh vegetasi terhadap laju infiltrasi yang dipengaruhi oleh sifat fisik tanah dapat dilihat pada hasil yang didapatkan. Data untuk tekstur tanah cenderung berpasir untuk masing-masing sampel yaitu 90,3%, 96,2%, 96,0%, dan 84,5%. Hal tersebut berpengaruh teradap laju infiltrasi karena semakin besar pori-pori tanah maka laju infiltrasi ketanah juga semakin cepat. Sedangkan pada berat akar vegetasi masing-masing nilainya adalah 1,5 g (sampel I), 1,8 g (sampel II), 1,7 g (sampel III), dan 1,3 g (sampel IV). Dari data pengukuran akar vegetasi jika dihubungkan dengan laju infiltrasi menunjukkan bahwa semakin berat akar vegetasi maka proses laju infiltrasi akan semakin cepat dan pengisian air tanah akan semakin tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengaruh sifat fisik tanah dan sistem perakaran vegetasi sangat mempengaruhi proses terjadinya laju infiltrasi
Mempelajari Tingkat Kerusakan Gabah yang di Panen Dengan Menggunakan Combine Harvester Tipe Kubota DC 70
Pemanenan merupakan salah satu proses utama dalam budidaya, Pemanenan padi bertujuan untuk mendapatkan gabah dari lapangan pada tingkat kematangan optimal, mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Salah satu teknologi pemanenan yang sering digunakan sekarang ini yaitu comabine harvester, yaitu alat pemanen padi yang dapat memotong bulir tanaman yang berdiri, merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan dilapangan. Namun dalam penggunaanya juga terjadi kerusakaan pada padi. Untuk mengetahui tingkat kerusakan pada penggunaan comabine harvester digunakan metode sampling pada hasil panen. Dengan cara mengambil 1 kg dari setiap karung setelah itu dari 1kg diambil lagi 100 gram. Kemudian memilih gabah yang rusak, patah, yang masih ada malainya, dan yang masih ada kotorannya. Dari hasil penelitian didapatkan persentase gabah utuh, gabah patah, gabah rusak, gabah yang memiliki malai masing-masing sebesar 95%, 0,07%, 0,713%, 3,735% sementara untuk kotoran yang ikut bersama gabah sebesar 0,414%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa comabine harvester memeliki kinerja yang bagus dalam pemanenan dengan persentase gabah utuh yang besar
Pengaruh Pemanasan Ohmic Terhadap Kadar Antosianin Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus)
Warna merupakan salah satu sifat organoleptik yang penting bagi makanan mempengaruhi persepsi konsumen. Zat pewarna alami yang berpotensi untuk diekstrak adalah antosianin dari kulit buah naga. Antosianin adalah pigmen yang sifatnya polar dan larut dengan baik dalam pelarut-pelarut polar. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi antosianin dengan pelarut air. Pemanasan Ohmic merupakan salah satu teknologi alternatif yang dapat digunakan pada proses ekstraksi pada suhu tinggi. Ohmic merupakan proses pemanasan, dimana arus listrik dilewatkan melalui bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pemanasan Ohmic dan konduktivitas listrik bubur (puree) kulit buah naga, dan mengetahui perubahan kadar antosianin dalam kulit buah naga setelah pemanasan ohmic. Proses pemanasan dilakukan pada tiga suhu yaitu 70 °C, 90 °C, 110 °C. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa laju pemanasan dan perubahan konduktifitas listrik relatif konstan sampai mencapai suhu setting point. Kadar antosianin pada kulit buah naga sangat dipengaruhi oleh suhu dan lama pemanasan, dimana semakin tinggi suhu pemanasan dan waktu pemanasan semakin lama maka semakin rendah antosianin dalam produk yang dihasilkan
STUDI PENGAWETAN LARUTAN ENZIM BROMELIN KASAR SECARA FILTRASI DAN PENAMBAHAN NATRIUM BENZOAT: (Study Of Preservation Crude Bromelain Enzyme By Filtration And Addition Of Sodium Benzoate)
(Ananas comosus (L) Merr) is a plant that contains enzyme bromelin in the fruit, leaf and skin but more in the stem. In general, enzymes are produced and marketed in powder form. However, producing enzymes in powder form requires high process technology and very expensive cost. The purpose of this research were to know how to prepare bromelin enzyme in liquid form and it preservation technique, and to know the quality of bromelin enzyme during storage. This research was conducted through 3 stages: 1. Extraction of bromelin from pineapple stem, 2. Physical and Chemical preservation and 3. Observation of enzyme storage. The results of the study showed that preservation of enzyme bromelin physically and chemically still performed enzyme activity on day 32, while enzyme without preservation did not show activity at day 24. Bromelin enzyme with physical preservation was better than chemical preservation
PEMANFAATAN PISANG KEPOK (MUSAPARADISIACA FORMATYPICA) DAN TERUNG BELANDA (SOLANUM BETACEUM CAV.) PADA PEMBUATAN FRUIT LEATHER: (Utilization of Kepok Banana (Musa Paradisiaca Formatypica) and Belanda (Solanum Betaceum Cav.) in Fruit Leather Making)
Kepok banana (Musaparadisiaca formatypica) is one fruit that contains enough digestive fiber for the body. Kepok banana (Musaparadisiaca formatypica) is usually processed by frying or steaming, bananas have a short shelf life and easily damaged. Therefore, to extend the shelf life of bananas, fruit will be processed into fruit leather products. However, because the color of bananas are less attractive, the color addition will make the product preferred by consumers. Terung belanda (Solanum betaceum cav. has a bright color and has enough fiber content so well processed into fruit leather. The objective of this research was to find the best treatment combination between kepok banana (Musaparadisiaca formatypica) and terung belanda (Solanum betaceum cav.) sugar concentration to produce a good physical and chemical properties and favored by consumers. The research was also to find out the effect of sugar concentration addition to physical, chemical and organoleptic fruit leather banana and terung belanda (Solanum betaceum cav.). Treatment applied was A1: kepok banana (Musaparadisiaca formatypica) mashed 50%: terung belanda ((Solanum betaceum cav) mashed 45%: sugar 5%; A2: 45%: 40%: 15%; A3: 40%: 35%: 25%. Fruit leather is then tested organoleptically including color, flavor, taste and texture and was chemically tested including moisture content, total acid, pH, anthocyanin and fiber. The result of the research shows that A1 treatment: 50% banana porridge: terung belanda porridge 45%: 5% sugar produces the best fruit leather product in terms of water content, total acid, pH, anthocyanin, fiber, aroma, taste, and texture
Uji Kinerja dan Analisis Biaya Traktor Roda 4 Model AT 6504 dengan Bajak Piring (Disk Plow) pada Pengolahan Tanah
Traktor merupakan salah satu alat dan mesin budidaya pertanian yang didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah atau untuk menarik trailer dan implemen yang digunakan dalam pertanian. Untuk mengolah suatu tanah perkebunanan yang luas maka digunakan traktor roda 4 dengan menggunakan bajak piring (disk plow). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi kerja dan biaya operasional traktor roda 4 dalam mengolah tanah dengan menggunakan bajak piring (disk plow) pada lahan perkebunan (lahan kering). Pengujian traktor roda 4 dilakukan pada lahan kering menggunakan bajak piring dengan sistem pola pengolahan tepi. Parameter yang diambil dalam penelitian ini adalah lebar kerja (cm), kecepatan maju (km/jam), kapasitas kerja (jam/ha), slip roda, konsumsi bahan bakar dan kedalaman olah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kerja traktor roda 4 menggunakan bajak piring (disk plow) dapat mengolah lahan kering seluas 0,02 ha dengan waktu 0,15 jam dengan kecepatan rata-rata 0,53 m/s atau 0,191 km/jam. Pada pengujian kinerja traktor juga diperoleh Kapasitas Lapang Efektif (KLE) diperoleh 0,138 ha/jam dan Kapasitas lapang Teoritis (KLT) 0,191 km/jam dengan efisiensi kerja adalah 68%. Analisis biaya menyatakan bahwa biaya operasional yang dikeluarkan adalah Rp 31.458.125,-/tahun dan Rp 5.493.450,-/ha untuk biaya tidak tetap
Karakteristik pengeringan dan perubahan warna cabai Katokkon (capsicum annuum L. Var. Sinensis)
Cabai Katokkon merupakan salah satu cabai local yang memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang telah dilakukan menyangkut aspek pasca panen, khususnya pengeringan dari komoditas ini. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada studi tentang laju pengeringan dan perubahan warna cabai Katokkon selama pengeringan. Penelitian ini menggunakan dua perlakuan yaitu suhu pengeringan (40°C, 50°C, 60°C), lama blanching (15 menit, 30 menit, 45 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat laju pengeringan dan kadar air basis basah semakin cepat menyusut. Tiga model pengeringan (model Newton, model Henderson dan Pabis, dan model Page) menghasilkan nilai MR yang cukup dekat dengan nilai MR observasi. Namun demikian, meodel Page menghasilkan nilai prediksi yang terbaik dan menunjukkan nilai R2 yang lebih besar dibandingkan dengan Newton dan Hederson-Pabis. Hal ini menunjukkan bahwa model Page adalah model terbaik untuk merepresentasikan model pengeringan karena memiliki nilai kesesuaian yang besar terhadap karakteristik pengeringan cabai Katokkon. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semakin lama pengeringan maka semakin menurun tingkat kecerahan warna cabai Katokkon dan semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat perubahan warna menjadi lebih gelap