OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Studi Pemanfaatan Lahan Sebagai Upaya Konservasi pada Bantaran Sungai Calendu Kab. Bantaeng
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menanggulangi erosi di DAS Calendu (2) Mengurangi pengendapan sedimentasi (3) Menunjang langkah konservasi lahan, memperlambat laju erosi dan mengurangi sedimentasi selama kegiatan konservasi lahan berjalan. Penelitian ini dilaksanakan di daerah tangkapan hujan DAS Calendu. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survei lapangan dengan mewawancarai petani sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan secara acak yang mewakili lokasi penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan Fuzzy Multi Attribute Decision Making. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) dan software ArcView. Software tersebut digunakan untuk keperluan digitasi dan analisis peta secara komputasi dan overlay peta untuk menetapkan unit lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki tingkat kesadaran dan kemampuan yang rendah dalam penerapan teknologi konservasi tanah. Konsep kebijakan yang ditemukan pada penelitian ini untuk meminimalkan laju erosi pada DAS adalah penerapan mulsa alami dan agroforestry. Rencana tindak yang dapat mendukung adalah peningkatan keahlian petani, menjamin adanya ketersediaan bahan untuk konservasi, peningkatan kemampuan teknologi, kesesuaian budaya
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM ASKORBAT TERHADAP SIFAT FUNGSIONAL PATI UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas L.): (The Effect of Ascorbic Acid Addition on Functional Characteristic of Purple Sweet Potato (Ipomea batatas L.) Starch)
Purple sweet potato starch is known for its anthocyanin content and has a high carbohydrate content, especially starch. Starch extraction in purple sweet potato can cause browning due to the presence of PPO enzymes which results in decreased anthocyanin content in the resulting starch. Ascorbic acid can be used as an anti-browning agent. The analysis results obtained are the drying of purple sweet potato starch can be done for 4 hours because at that time the water content has been constant for a long time of further drying. The anthocyanin content of purple sweet potato starch decreases with increasing concentration of the addition of ascorbic acid, but the addition of ascorbic acid causes an increase in antioxidants of purple sweet potato starch because ascorbic acid is one type of antioxidantPati ubi jalar ungu dikenal dengan kandungan antosianin serta memiliki kandungan karbohidrat terutama pati yang tinggi. Ekstraksi pati pada ubi jalar ungu dapat menyebabkan terjadinya browningkarena adanya enzim PPO yang mengakibatkan menurunnya kandungan antosianin dalam pati yang dihasilkan. Asam askorbat dapat digunakan sebagai salah satu agen anti browning. Hasil analisa yang diperoleh yaitu pengeringan pati ubi jalar ungu dapat dilakukan selama 4 jam karena pada lama waktu tersebut kadar air telah konstan untuk lama pengeringan selanjutnya. Kandungan antosianin pati ubi jalar ungu menurun dengan bertambahnya konsentrasi penambahan asam askorbat, namun penambahan asam askorbat menyebabkan peningkatan antioksidan pati ubi jalar ungu karena asam askorbat merupakan salah satu jenis antioksida
POTENSI EKSTRAK BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA) SEBAGAI PEWARNA ALAMI LOKAL PADA BERBAGAI INDUSTRI PANGAN: (The Potential of Extract Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea L.) as a Local Natural Dye for Various Food Industry)
Butterfly pea flower is a plant containing anthocyanin pigment which has the potential to be developed as a local natural dye in various food industry. Local natural dyes in various industries besides enhancing color quality attributes can also provide antioxidant, anticancer, and anti-inflammatory effects. Butterfly pea flower extract has good stability in acidic conditions. The purpose of this study was to identify the potential of butterfly pea flower extract as a local natural dye for the food industry, this study focused on variations in pH 2-10 and storage temperatures. The results showed that at pH 4-5 anthocyanin Butterfly pea flower had concentrated blue-purple color and very good stability and were able to survive for 2 months did not appear to decrease at room temperature. Butterfly pea flower extract at pH 6-7 has a color that fades after being stored for several days, but can last up to 6 months at refrigerator temperature storage. Butterfly pea flower extract can be used as a local natural dye in the manufacture of ice cream, syrup, coockies, bread and various other types of food products.Bunga Telang merupakan tanaman yang mengandung pigmen antosianin yang memiliki potensi dikembangkan sebagai pewarna alami lokal pada berbagai industri pangan. Pewarna alami lokal pada berbagai industri selain meningkatkan atribut mutu warna juga dapat memberikan efek antioksidan, antikanker, maupun anti inflamasi. Ekstrak bunga telang memiliki sifat stabilitas yang baik pada kondisi asam. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi ekstrak bunga telang sebagai pewarna alami lokal untuk industri pangan, penenlitian ini difokuskan terhadap variasi pH 2-7 dan suhu penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 4-5 antosianin bunga telang memiliki warna biru-ungu pekat dan stabilitasnya yang sangat baik serta mampu bertahan selama 2 bulan tidak terlihat penurunan pada suhu ruang. Ekstrak bunga telang pada pH 6-7 memiliki warna yang menjadi pudar setelah disimpan beberapa hari, namun mampu bertahan lama hingga 6 bulan pada penyimpanan suhu refrigerator. Ekstrak bunga telang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami lokal pada pembuatan es krim, sirup, coockies, roti dan berbagai jenis produk pangan lainnya
PENGARUH PRETREATMENT JERAMI PADI PADA PRODUKSI ENZIM TERMOSTABIL MENGGUNAKAN ISOLAT BAKTERI TERMOFILIK: (The Effect of Rice Straw Pretreatment on Thermostable Enzyme Production Using Thermophilic Bacteria Isolate)
Rice straw is one of the lignocellulosic substrate that has not been used optimally and mostly just become an agricultural waste if not handled properly. Cellulose and hemicellulose content in lignocellulose structures of rice straw has great potential for thermostable enzymes production from thermophilic bacteria. The purpose of this study were to determine the effect of pretreatment in rice straw substrate on the total number of bacteria and its enzyme activity. The method used in this study include straw flour production, bacteria isolation and multi-level batch selection system, themostable enzyme production, total bacteria and enzyme activity measurement. The results obtained were combination of alkaline delignification and pressurized steam heating treatment resulting higher microbial growth pattern than the pressure steam heating only. Observation of pH showed pH decreasing in each treatment. The enzyme activity obtained showed fluctuating results due to the presence of diauxie phenomenon.Jerami padi merupakan salah satu substrat lignoselulosa yang belum dimanfaatkan secara optimal dan kebanyakan hanya menjadi limbah pertanian apabila tidak ditangani dengan baik. Kandungan selulosa dan hemiselulosa dalam struktur lignoselulosa jerami padi memiliki potensi yang besar untuk produksi enzim termostabil dari bakteri termofilik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pretreatment substrat jerami padi terhadap pola pertumbuhan bakteri selulolitik-hemiselulolitik dan aktivitas enzim yang dihasilkan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pembuatan tepung jerami, isolasi dan seleksi sistem batch bertingkat, produksi enzim termostabil, pengukuran total bakteri serta pengukuran aktivitas enzim. Hasil yang diperoleh yaitu perlakuan kombinasi delignifikasi basa dan pemanasan uap bertekanan menghasilkan pola pertumbuhan mikroba yang lebih tinggi daripada perlakuan pemanasan uap bertekanan saja. Pengamatan pH menunjukan penurunan pH setiap perlakuan. Aktivitas enzim yang diperoleh menunjukan hasil yang fluktuatif akibat adanya fenomena diauksik
POTENSI REMPAH-REMPAH TRADISIONAL SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN ALAMI UNTUK BAHAN BAKU PANGAN FUNGSIONAL): (The Potential of Traditional Spices as a Source of Natural Antioxidants for Functional Food Raw Materials)
Along with the development of an increasingly advanced era, people increasingly consume fast food or junk food. This is what causes the emergence of degenerative diseases based on lifestyle. So that comes the functional food concept. Functional food is food or drink that has physiological functions on the body. For example, consuming antioxidants to counteract free radicals that occur in the body. This source of natural antioxidants can come from various types of plants such as fruits, vegetables, spices, tea, or enzymes and proteins. As we have seen, Indonesia is a country rich in spices. This spice can be used as a source of natural antioxidants that have many benefits for the body. The types of spices in Indonesia are ginger, turmeric, cinnamon, secang, and andaliman. Ginger contains antioxidant compounds, namely methyl ester, 9-octadeconic and nortraselogenin. The study of turmeric and acid powder extracts had a comparison of 55% turmeric extract and 45% acid leaf extract resulting in a value of 4.844%. Cinnamon can be an antioxidant source because it contains many compounds such as eugenol, safrole, cinnamaldehyde, tannin, and calcium oxalate. The active components contained in the cage are flavonoids. Andaliman fruit has the potential as an antioxidant and a-glucosidase inhibitor.Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, masyarakat semakin sering mengkonsumsi makanan cepat saji atau junk food. Hal inilah yang menyebabkan munculnya penyakit degeneratif berdasarkan pola hidup. Sehingga muncullah konspe pangan fungsional. Pangan fungsional adalah makanan atau minuman yang memiliki fungsi fisiologis terhadap tubuh. Misalnya mengkonsumsi antioksidan untuk dapat menangkal radikal bebas yang terjadi pada tubuh. Sumber antioksidan alami ini dapat berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah, teh, ataupun enzim dan protein Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah. Rempah-rempah ini dapat digunakan sebagai sumber antioksidan alami yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Jenis-jenis rempah yang ada di Indonesia yaitu jahe, kunyit, kayu manis, secang, dan andaliman. Jahe mengandung senyawa antioksidan yaitu metil ester, 9-oktadekonik dan nortraselogenin. Penelitian ekstrak bubuk kunyit dan asam tersebut memiliki perbandingan ekstrak kunyit 55% dan ekstrak daun asam 45% sehingga menghasilkan nilai 4,844%. Kayu manis dapat menjadi sumber antioksidan karena mengandung banyak senyawa seperti eugenol, safrole, sinamaldehid, tannin, dan kalsium oksalat. Komponen aktif yang terkandung di dalam secang yaitu flavonoid. Buah andaliman memiliki potensi sebagai antioksidan dan inhibitor a-glukosidase
Pengaruh Lintasan Combine Harvester Terhadap Pemadatan Tanah Saat Beroperasi
Combine harvester sebagai alat panen sudah digunakan sampai saat ini, namun penggunaan alat ini hanya difokuskan kepada kinerja produktivitasnya. Sementara dampak penggunaan alat combine harvester yang dapat menimbulkan kerusakan tanah seperti pemadatan tanah kurang diperhatikan. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian terhadap pengujian combine harvester untuk mengetahui pengaruh lintasan combine harvester terhadap pemadatan tanah saat beroperasi. Metode yang digunakan adalah dengan mengambil sampel tanah sebelum dan sesudah lintasan pada saat pemanenan untuk menganalisis nilai kadar air, bulk density, partikel density dan porositas guna melihat pengaruh lintasan combine harvester terhadap pemadatan tanah pada saat beroperasi. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa dari ketiga sampel perlakuan lintasan combine harvester pada saat beroperasi mengakibatkan nilai kadar air dan nilai porositas menurun sehingga nilai bulk density setiap sampel bertambah akibat dari tekanan combine harvester
Pemutuan Belimbing Manis (averrhoa carambola l.) Menggunakan Pengolahan Citra Digital Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan
Penanganan pasca panen belimbing perlu dilakukan agar kualitas buah tetap terjaga, salah satu contohnya adalah melakukan pemutuan sebelum proses penjualan. Pemutuan buah belimbing di Indonesia umumnya masih dilakukan dengan cara manual yang memiliki keterbatasan dari segi waktu, tenaga dan penilaian (subjektif). Pengolahan citra (image processing) dan jaringan syaraf tiruan (JST) dapat dijadikan sebagai salah satu metode penanganan pasca panen yang dapat membantu memutukan buah belimbing lebih seragam dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan menghasilkan sebuah program pengolahan citra pemutuan buah belimbing serta mengetahui tingkat keakuratan program tersebut dalam pendugaan mutu. Sampel bahan yang digunakan yaitu belimbing dengan kelas mutu A, B, C dan Reject yang dimutukan secara manual terlebih dahulu. Total sampel 200 buah, terdiri atas 160 buah (40 buah per kelas mutu) untuk training dan 40 buah (10 per kelas mutu) untuk testing. Tahapan penelitian meliputi image aquisition, pengambilan gambar citra, penentuan variabel mutu citra, pembuatan program pengolahan citra, ektraksi citra, analisis statistik dan pembuatan grafik boxplot, penentuan input JST, penentuan variasi arsitektur JST, training semua variasi JST, simulasi data testing dengan propagasi maju, penentuan variasi terbaik, integrasi model JST dengan program pengolahan citra, serta validasi program. Hasil penelitian menunjukkan variasi JST terbaik untuk menyusun program pemutuan belimbing adalah variasi dengan 10 node hidden layer dan 7 input variabel (area, tinggi, perimeter, area cacat, indeks warna R, G dan B). Hasil validasi menunjukkan, program pemutuan belimbing memiliki tingkat akurasi dalam menduga mutu sebesar 85 %
Penilaian Kinerja Sistem Irigasi Utama Daerah Irigasi Bantimurung Kabupaten Maros
Bangunan irigasi mengalami penurunan fungsi akibat bertambahnya umur bangunan atau pengaruh ulah manusia. Sesuai dengan amanat Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No. 12/PRT/M/2015 bahwa evaluasi kinerja sistem irigasi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kinerja sistem irigasi, agar kebutuhan air tanaman dapat tercapai dengan optimal. Sistem irigasi dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu: prasarana fisik, produktifitas tanam, sarana penunjang, organisasi personalia, dokumentasi, dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan penilaian tentang kinerja sistem irigasi Utama Bantimurung Kabupaten Maros yang berguna untuk menyusun program tindak lanjut seperti perbaikan, rehabilitasi, dan pemeliharan jaringan irigasi. Metode penelitian dilakukan dengan cara obeservasi langsung ke lapangan dengan melakukan penelusuran jaringan irigasi DI Bantimurung, wawancara dan analisis data sekunder. Penelusuran jaringan irigasi ini dilakukan untuk mendapatkan data kondisi prasarana fisik. Metode wawancara dan analisis data sekunder digunakan untuk mendapatkan data produktivitas tanam, sarana penunjang, organisasi personalia, dokumentasi dan P3A. Hasil yang diperoleh menunjukkan kinerja sistem irigasi utama daerah irigasi Bantimurung ialah Kurang dan Perlu Perhatian (55,41%). Perhitungan penilaian kinerja sistem irigasi Bantimurung meliputi 6 aspek indikator yaitu kondisi prasarana fisik, produktivitas tanam, sarana penunjang, organisasi personalia, dokumentasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
Prediksi Laju Erosi dengan Menggunakan Metode RUSLE dan Penginderaan Jauh pada Sub DAS Bangkala
Sungai merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai penampung air hujan, pusat dari ekosistem, mencegah terjadinya banjir dan sebagai sumber air irigasi. Daerah aliran sungai ini dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah. Erosi adalah suatu proses alam yang terjadi secara alami, tetapi pada umumnya dipercepat oleh berbagai aktivitas-aktivitas manusia. Efek yang ditimbulkan dari erosi tanah adalah kerugian terhadap hilangnya lapisan subur permukaan tanah untuk kegiatan pertanian, terjadinya penggerusan lapisan tanah, lepasnya partikel tanah yang menyebabkan terjadinya sedimentasi ke arah muara sesuai arah aliran sungai. Pendugaan erosi dapat dilakukan dengan menggunakan metode RUSLE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi laju erosi di Sub DAS Bangkala dengan menggunakan metode RUSLE dan penginderaan jauh. Erosi dengan kelas sangat ringan memiliki persentase yang lebih besar yaitu 36,50% dengan luas wilayah 391,12 ha dibandingkan dengan tingkat erosi lainnya. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa laju erosi rata-rata yang terjadi pada sub DAS Bangkala yaitu 56,05 ton/ha/tahun dimana faktor yang paling berpengaruh terhadap besarnya erosi pada penelitian ini adalah faktor kemiringan lereng dan faktor penutupan lahan
Pola Perubahan Dimensi Biji Kopi Arabika (Coffea arabica) Selama Proses Pengeringan
Kopi arabika (Coffea arabica) merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Biji kopi yang dihasilkan berwarna hijau hingga merah gelap. Kopi ini berasal dari Etiopia dan sekarang telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia. Secara umum, kopi ini dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1.700 m dpl, suhu tumbuh optimalnya adalah 16-200C. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan dimensi biji kopi selama proses pengeringan akibat adanya perubahan kadar air untuk dijadikan sebagai bahan informasi bagi petani kopi dan industri pengolahan biji kopi serta desain mesin pascapanen kopi. Penelitian ini menggunakan biji kopi yang diperoleh dari desa Kalimbua, kecamatan Baroko, kabupaten Enrekang. Parameter yang diamati adalah perubahan panjang, lebar dan tebal yang digunakan untuk menghitung diameter geometri, berat biji kopi dan kadar air. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan alat pengering tray dryer dengan variasi suhu (500C dan 600C) dan kecepatan udara 1,0 m/s. Pengukuran dimensi dan berat dilakukan pada 0 jam sampai dengan 12 jam. Penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan dimensi (panjang, lebar dan tebal) biji kopi arabika sejalan dengan bertambahnya waktu pengeringan dan penurunan kadar air bahan. Pola penurunan dimensi ini seiring dengan lama pengeringan dan perubahan kadar air mengikuti pola logarithmic dengan nilai R2 lebih besar dari 0,90. Pola penurunan diameter geometri pada saat kadar air basis kering menurun mengikuti pola logarithmic