OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Utilization of Cocoa Bean Husk Extract (Theobroma cacao L) on The Product Chocolate Cookies
Cocoa bean husk is one of the byproducts of cocoa, which is only utilized as animal feed and low economic value. The economic value of cocoa bean husks can be enhanced by extracting the husk using methanol into a powder and applied to a product into cookies. Cookies are types of biscuit which are made from soft dough, high in fat and relatively crisp. The purpose of this study is to know the amount of powder that is added and its impact on the cookies product. The analysis was done for the sensory test. In the organoleptic test, the color and odor which were preferred by the panelists was treatment A0 (control), whereas the taste and texture were treatment A1 (addition of 5% powder)
Pengaruh Suhu dan Konsentrasi Larutan Gula Terhadap Proses Dehidrasi Osmosis Bengkuang (Pachyrhizus erosus)
Bengkuang merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang memiliki kandungan kadar air yang tinggi. Diketahui bengkuang memiliki kadar air 86-90% yang menyebabkan bengkuang mudah rusak dan ditumbuhi jamur sehingga masa simpannya singkat padahal memiliki potensi industri yang cukup besar. Dehidrasi osmosis merupakan teknik pengurangan kadar air yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan cara perendaman bahan pada larutan berkonsentrasi tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 sampai bulan Oktober 2018 di Laboratorium Pengolahan Pangan dan Analisis Kimia Universitas Hasanuddin. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu dan konsentrasi larutan gula terhadap kadar air akhir, penurunan bobot (WR), jumlah padatan yang masuk (SG), jumlah air yang keluar dari bahan (WL) pada bengkuan selama proses dehidrasi osmosis dan mengetahui suhu dan konsentrasi yang optimal dalam proses dehidrasi bengkuang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara factorial dengan 2 faktor dan masing-masing faktor terdiri atas 3 level yaitu kadar gula 50 Brix, 60 Brix, 70 Brix dan suhu perendaman 30C, 40C, 50C dengan 3 kali ulangan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa perlakuan suhu 50 dan konsentrasi larutan 70 Brix menghasilkan kadar air yang paling rendah yakni 33,8% basis basah dan mempunyai peningkatan nilai Solid Gain paling tinggi dengan nilai 1,0234 g namun suhu perendaman dan konsentrasi larutan tidak memberikan pengaruh pada peningkatan Weight Reduction dan Water Loss
Pengaruh Suhu Dan Konsentrasi Larutan Gula Terhadap Proses Dehidrasi Osmosis Pepaya (Carica papaya L.)
Buah pepaya (Carica papaya L.) tergolong buah yang populer dan digemari oleh hampir seluruh masyarakat di dunia. Pepaya banyak dibudidayakan oleh masyarakat baik sebagai hobi ataupun usaha komersil. Hal ini karena pepaya memiliki banyak kelebihan. Buah pepaya menjadi salah satu komoditi yang sangat mudah rusak, hal tersebut terjadi akibat beberapa faktor, seperti: aktivitas dan pertumbuhan mikroba pada buah pepaya, aktivitas enzim-enzim di dalam buah pepaya, perlakuan suhu, serta beberapa faktor lainnya yang dapat merusak buah pepaya. Dehidrasi osmosis merupakan teknik pengurangan kadar air yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan cara perendaman bahan pada larutan berkonsentrasi tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 hingga bulan Oktober 2018 di Laboratorium Pengolahan Pangan dan Analisis Kimia Universitas Hasanuddin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu dan konsentrasi larutan gula terhadap kadar air akhir, penurunan bobot (WR), jumlah padatan yang masuk (SG) dan jumlah air yang keluar dari bahan (WL) pada pepaya selama proses dehidrasi osmosis dan mengetahui suhu dan konsentrasi yang optimal dalam proses dehidrasi pepaya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor dan masing-masing faktor terdiri atas 3 level yaitu kadar gula 40 Brix, 50 Brix, 60 Brix dan suhu perendaman 40 C, 50 C, 60 C dengan 3 kali ulangan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan suhu 60 dan konsentrasi larutan 60 Brix menghasilkan kadar air yang paling rendah, dan sama halnya seperti peningkatan nilai Solid Gain (SG) paling tinggi juga terjadi pada suhu 60 C dan konsentrasi 60 Brix. Perlakuan suhu perendaman 50 C dan konsentrasi larutan gula 50 Brix menghasilkan Weight Reduction (WR) yang paling tinggi, sedangkan nilai Water Loss (WL) yang paling tinggi juga berada pada kombinasi perlakuan suhu perendaman 50 C dan konsentrasi larutan gula 50 Brix
ANALISIS KANDUNGAN GLIKOGEN PADA HATI, OTOT, DAN OTAK HEWAN: (Analysis Of Glicogen Content On Heart, Muscle, And Animal Brain)
Glycogen is the main type of stored carbohydrate found in animals. Glycogen is formed as excess glucose deposits in the body which are used as energy reserves. The purpose of this analysis is to find out the procedure for glycogen extraction and to determine the glycogen content in some food ingredients. The method used in this lab is iodine extraction and testing. The materials used in this lab are TCA, ethanol, NaCl, iodine, chicken liver, beef liver, beef brain, beef, and chicken meat. The results obtained in this lab, namely chicken liver after adding iodine to brownish orange, beef liver brown, chicken meat brown, beef brown, and brown brains clear brown and highest rendemen levels, namely in the liver of cattle by 55% and the lowest is found in the brains of cattle, which is equal to 0% The yield in cattle is 0%. The conclusions obtained from this analysis are that the procedure for extracting glycogen was carried out using several solvents and samples of chicken liver produced a yield of 32.64%, beef liver by 55%, chicken meat at 9.5%, beef at 29.80%, and cow's brain by 0%.Glikogen adalah jenis utama karbohidrat tersimpan yang ditemukan pada hewan. Glikogen terbentuk sebagai deposit glukosa berlebih di dalam tubuh yang digunakan sebagai cadangan energi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur untuk ekstraksi glikogen dan untuk menentukan kandungan glikogen dalam beberapa bahan makanan. Metode yang digunakan dalam lab ini adalah ekstraksi dan pengujian yodium. Bahan yang digunakan di laboratorium ini adalah TCA, etanol, NaCl, yodium, hati ayam, hati sapi, otak sapi, sapi, dan daging ayam. Hasil yang diperoleh di laboratorium ini, yaitu hati ayam setelah menambahkan yodium ke oranye kecoklatan, hati sapi coklat, daging sapi coklat, daging sapi coklat, dan otak coklat jernih dan kadar rendemen tertinggi, yaitu pada hati sapi sebesar 55% dan terendah ditemukan pada otak sapi, yaitu sama dengan 0% Hasil pada sapi adalah 0%. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa prosedur untuk mengekstraksi glikogen dilakukan dengan menggunakan beberapa pelarut dan sampel hati ayam menghasilkan rendemen sebesar 32,64%, hati sapi sebesar 55%, daging ayam sebesar 9,5%, daging sapi sebesar 9,5%, daging sapi sebesar 29,80%, dan sapi otak sebesar 0%
Rancang Bangun dan Kinerja Irigasi Sprinkler Hand Move Pada Lahan Kering
Irigasi adalah pemberian air pada tanaman untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertumbuhannya. Lahan kering umumnya berproduksi pada musim hujan dan sangat sulit untuk berproduksi pada musim kemarau, hal ini di karenakan lahan tersebut sangat tergantung pada curah hujan sebagai sumber air bagi tanaman. Teknologi irigasi yang efektif pada lahan kering adalah teknologi irigasi yang dapat mengefisienkan atau menghemat air yakni sistem irigasi sprinkler atau curah. Teknologi irigasi sprinkler atau curah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi dan keseragaman irigasi yang diberikan lebih dari 85% dengan sistem yang terpenuhi seperti tekanan, kecepatan angin dan jarak antar sprinkler. Tujuan dari penelitian ini yaitu merancang irigasi sprinkler hand move dan melakukan analisis kinerja sistem irigasi tersebut berdasarkan pengunaan efisiensi sprinkler pada lahan kering. Penelitian ini merancang sebuah alat irigasi sprinkler evaluasi kinerja alat dengan 3 parameter waktu yakni pagi, siang dan sore hari. Hasil nilai koefisien keseragaman (CU) 44,02 – 46,87% maka dapat diartikan bahwa penyiraman menggunakan sprinkler memiliki keseragaman penyiraman yang kurang baik karena lebih rendah dari 85%, dan begitu pula dengan nilai distribusi keseragaman (DU) yang kurang baik yang berkisar antara 10,99 - 15,54% memiliki distribusi keseragaman penyiraman yang kurang baik karena lebih rendah dari 25%. Berdasarkan dari hasil nilai koefisien keseragaman (CU) dan nilai distribution uniformit (DU) maka dapat disimpulkan bahwa perancangan kurang efektif dan kurang baik
PENGARUH KONSENTRASI KENTOS KELAPA TERHADAP DEGRADASI LEMAK DAGING AYAM: (The Effect of Coconut Embrio (Kentos) Concentration on Chicken Fat Degradation)
Cardiovascular diseases such as hypertension, coronary heart disease, heart failure, and stroke cause 17.9 million people die or 31% of all global deaths (World Health Organization, 2017). This disease is generally caused by high consumption of sources of fat. Thigh chicken meat is one of the highest food that contain fat (7%) compared to beef cuts (6.8%) and lamb meat (4.9-5.2%) with high consumption levels (Dinh et al., 2011). The crude lipase enzyme extract can efficiently hydrolyze fat into free fatty acids and glycerol. This study was conducted to look the effect of the concentration of coconut kentos as a source of lipase enzymes on fat hydrolysis of thigh chicken meat. Coconut kentos is prepared and then applied to chicken meat with a concentration of 1-5% and 10-50%. Parameters of observation include changes in pH, total dissolved solids, and free fatty acids. The best results for each parameter were concentration 10% with free fatty acids2.99%, total dissolved solids 4.1%, and pH of 5.3Penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, jantung koroner, gagal jantung, dan stroke menyebabkan 17,9 juta orang meninggal dunia atau 31% dari seluruh kematian global (World Health Organization, 2017). Penyakit ini pada umumnya diakibatkan oleh tingginya konsumsi pangan sumber lemak. Daging ayam bagian paha merupakan salah satu bahan pangan berlemak tinggi (7%) dibandingkan dengan potongan daging sapi (6,8%) dan daging domba (4,9-5,2%) dengan tingkat konsumsi yang tinggi (Dinh et al., 2011). Ekstrak kasar enzim lipase secara efisien dapat menghidrolisis lemak menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh konsentrasi kentos kelapa sebagai sumber enzim lipase pada hidrolisis lemak daging ayam bagian paha. Kentos kelapa dipreparasi lalu diaplikasikan pada daging ayam dengan konsentrasi 1-5% dan 10-50%. Parameter pengamatan meliputi perubahan pH, Total Padatan Terlarut, dan Asam Lemak Bebas. Hasil terbaik untuk tiap parameter ialah perlakukan dengan konsentrasi kentos sebesar 10% dengan asam lemak bebas sebesar 2.99%, total padatan terlarut sebesar 4,1% dan pH sebesar 5.
PERUBAHAN SIFAT FISIKO-KIMIAWI SELAMA PROSES FERMENTASI BIJI KAKAO SEGAR: (Changes in Physical-Chemical Properties During The Fresh Cocoa Fermentation Process)
Cocoa is a plantation commodity that requires fermentation to improve the quality of flavor and aroma. Research on changes in physical and chemical properties during the spontaneous fermentation process of fresh cocoa beans for weight scales of 20, 40 and 60 kg have been carried out. This study aims to obtain information as an indicator of the success rate of the fermentation process of fresh cocoa beans, both on a small and large scale. The fermentation process lasts for 6 days with stirring starting on the second day until the sixth day, with an interval of 24 hours. The study design uses a randomized block design method (RBD) with two factors, namely the weight scale of seeds per box and fermentation time with three replications. The data obtained were analyzed qualitatively and quantitatively. Based on the observed parameter indicators, namely temperature, pH and total acid, there was no significant difference in the profile of the physico-chemical properties during the fermentation process between the three weight scale levels. The physico-chemical condition shows a straight relationship with the quality of fermented cocoa beans, in accordance with the results of the cut test.Kakao merupakan komoditas perkebunan yang membutuhkan proses fermentasi untuk memperbaiki mutu citarasa dan aromanya. Penelitian tentang perubahan profil sifat fisiko-kimia selama proses fermentasi spontan biji kakao segar untuk skala berat 20, 40 dan 60 kg telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi sebagai indikator tingkat keberhasilan proses fermentasi biji kakao segar, baik pada skala kecil maupun besar. Proses fermentasi berlangsung selama 6 hari dengan pengadukan dimulai pada hari kedua hingga hari keenam, dengan selang waktu 24 jam. Rancangan penelitian menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) pola petak terpisah dengan 2 faktor, yaitu skala berat biji per kotak dan waktu fermentasi dengan tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan indikator parameter yang diamati, yaitu suhu, pH dan total asam, tidak terdapat perbedaan nyata profil perubahan sifat fisiko-kimia selama proses fermentasi berlangsung diantara ketiga tingkat skala berat tersebut. Kondisi sifat fisiko-kimia tersebut memperlihatkan hubungan yang lurus dengan mutu biji kakao fermentasinya, sesuai dengan hasil cut testnya
EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI GELATIN KULIT IKAN BARONANG (Siganus canaliculatus) DENGAN METODE ENZIMATIS MENGGUNAKAN ENZIM BROMELIN: (Extraction and Characterization of Gelatin from Baronang’s (Siganus canaliculatus) Skin with Enzimatic Methode Using Bromelin Enzyme)
Basically, gelatin is pure protein food ingredient, obtained from thermal collagen denaturation from animals. Gelatin is used as a stabilizer, gelling agent, binder, thickener, emulsifier, adhesive, whipping agent, and food wrap which is edible coating. Protein levels in fish skin determine the amount of collagen contained in skin tissue, so the baronang fish skin has a considerable opportunity as a source of collagen to be hydrolyzed into gelatin. This study aimed to determine the characteristics of gelatin produced from baronang fish skin by enzymatic extraction and to determine the best treatment of a combination of enzyme concentrations with extraction time. Making gelatine was carried out by hydrolysis using bromelin enzyme at a concentration of 1%, 1.5% and 2% with extraction time of 2 hours, 4 hours and 6 hours. The result, obtained gelatine with water content ranging from 3.13-5.83%, the water content ranged from 0.17-3.56%, ash content 0.35 - 3.65% and protein levels ranged from 91-94, 72%. The chemical characteristics of gelatine from baronang fish skin have a yield of up to 6%, water content <6%, ash content <4% and protein content reaching 94%. The best treatment was obtained at 1% enzyme concentration and extraction for 4 hours with a protein content of 94.72%.Gelatin adalah bahan makanan protein yang pada dasarnya murni, diperoleh dari denaturasi termal kolagen dari hewan. Gelatin dimanfaatkan sebagai bahan penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), pengikat (binder), pengental (thickener), pengemulsi (emulsifier), perekat (adhesive), whipping agent, serta pembungkus makanan yang bersifat edible coating. Kadar protein pada kulit ikan menentukan jumlah kolagen yang terkandung di dalam jaringan kulit, sehingga kulit ikan baronang memiliki peluang yang cukup besar sebagai sumber kolagen untuk dihidrolisis menjadi gelatin. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik gelatin yang dihasilkan dari kulit ikan baronang dengan cara ekstraksi enzimatis dan untuk mengetahui perlakuan terbaik dari kombinasi konsentrasi enzim dengan lama ekstraksi. Pembuatan gelatine dilakukan dengan tahap hidrolisis menggunakan enzim bromelin pada konsesntrasi 1%, 1,5% dan 2% dengan lama ekstraksi 2 jam, 4 jam dan 6 jam. Hasilnya, diperoleh gelatine dengan kadar air berkisar antara 3,13-5,83%, kadar air berkisar antara 0,17-3,56%, kadar abu 0,35 – 3,65% dan kadar protein berkisar antara 91-94,72%. Karakteristik kimia gelatine dari kulit ikan baronang memiliki rendemen hingga 6%, kadar air <6%, kadar abu<4% dan kadar protein mencapai 94%. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi enzim 1% dan ekstrakasi selama 4 jam dengan kadar protein sebesar 94,72%
KAJIAN PENGARUH JENIS PENGERING DAN KONSENTRASI MALTODEKSTRIN TERHADAP PRODUK MINUMAN TEH - SECANG EFFERVESCENT: (Study Effect Dryer and Concentration of Maltodextrin to Drink Tea Products–Sappan Wood Effervescent)
Tea and sappanwood have long been believed to have health benefits for human body. The content of antioxidants were able to scavange free radicals. To combine the attributes of the product in the preparation (instant), sparkle taste, and have health benefits. This effervescent beverage is prepare to combine of bioactive components in tea and sappanwood so it will produce health tea-sappanwood beverage. The purpose of this study was to determine the best concentration of maltodextrin and the right type dryer in making of tea-sappanwood effervescent. The research method was Completely Randomized Design (CRD) with two factors. Factor I was the concentration of the maltodextrin consists of 6 levels (5%, 8%, 11%, 14%, 17%, and 20%). Factor II was a type of dryer consisting of 2 levels (vacuum and freeze dryer). The analysis performed include moisture content, pH, antioxidant activity, and the organoleptic properties against color, flavor, and taste. The results showed that the best concentration was using maltodextrin concentration of 17%-20% It had a moisture content of 1.99%, pH of 6.16, antioxidant activity of 85.73% the results of the organoleptic properties (colour, flavor, and taste) favored by panelists. On the other hand, freeze dryer was the best dryer method. Result analysis of moisture content, pH, and antioxidant activity were 2.24%, 6.28, 82.49% respectively and the organoleptic properties (colour, flavor, and taste) are favored by panelists.Teh dan secang telah lama diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh,kandungan antioksidan mampu menangkal radikal bebas. Untuk memadukan sifat-sifat produk dalam penyiapan (instan), rasa sparkle, dansekaligus memiliki khasiat kesehatan maka dibuat produk minuman berbentuk effervescent. Minuman effervescent ini dibuat dengan menggabungkan antara komponen bioaktif yang terdapat dalam teh dan secang sehingga dihasilkan minuman kesehatan teh-secang effervescent.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi maltodekstrin dan jenis pengering yang tepat dalam pembuatan teh-secang effervescent. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Faktor I adalah konsentrasi maltodekstrin yang terdiri dari 6 taraf (5%, 8%, 11%, 14%, 17%, dan 20%). Faktor II adalah jenis pengering yang terdiri dari 2 taraf (pengering vakum dan pengering beku). Analisis yang dilakukan meliputi kadar air, ph, aktifitas antioksidan, dan uji organoleptik terhadap warna, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik adalah penggunaan konsentrasi maltodekstrin 14% Hasil analisa kadar air : 1.99%, pH : 6.16, aktifitas antioksidan : 85.73% dan hasil uji organoleptik (warna, aroma, dan rasa) disukai oleh panelis. Sedangkan pengering beku merupakan pengering yang terbaik. Hasil analisa kadar air : 2.24%, pH : 6.28, aktifitas antioksidan : 82.49% dan uji organoleptik (warna, aroma, dan rasa) yang disukai oleh paneli
Mempelajari Penerapan Sistem Fuzzy Pada Alat Pemupuk Granula
Peningkatan produksi jagung dapat dilakukan dengan program intensifikasi berupa pemupukan yang efektif dan efisien. Pemupukan yang efektif dan efisien sangat penting bagi hara tanaman untuk peningkatan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja alat pemupuk dengan menggunakan sistem kendali fuzzy logic. Metode yang digunakan perancangan software, uji fungsional, uji kinerja alat dengan beban. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan system kendali fuzzy logic dapat bekerja dengan baik dimana sett point (SP) tercapai, tidak terjadi overshoot dan error steady state, serta setlling time pendek yaitu ± 5 detik. Pada pengujian menggunakan pupuk hasil yang didapatkan sesuai dengan putaran kecepatan motor (RPS) dimana dapat dilihat pada uji RPS=10 (SP=10) yaitu 11.99 g/s, SP=30 yaitu 30.64 g/s ,SP=50 yaitu 50.70 g/s ,SP=60 yaitu 62.12 g/s ,dan SP= 80 yaitu 80.14 g/s. Pada RPS=10 (SP=10) hasil tersebut cocok untuk tanaman jagung pada umur 28 hari setelah tanam dimana kecepatan yang diinginkan sudah bekerja dengan baik, yang ditandai dengan keadaan stabil dengan steady state error tidak melebihi 5% dan semua bahan keluar dari alat dan tidak ada yang tercecer