OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Pendugaan Umur Simpan Buah Melon (Cucumis melo L.) Terolah Minimal menggunakan Metode ASLT (Accelerated Shelf Life Test) Model Arrhenius
Melon (Cucumis melo L.) minimal processing has become an increasingly sought-after product in the fruit-based food industry. Minimally processed products offer advantages in preserving the sensory and nutritional qualities of the fruit while minimizing the use of preservatives and heat treatments that can affect the fruit's characteristics. The objective of this research is to determine the changes in the quality of minimally processed melon using the Accelerated Shelf Life Test (ASLT) method with the Arrhenius model and to determine the shelf life of minimally processed melon using the ASLT method with the Arrhenius model. The research employed the ASLTmethod with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors. Factor 1 involved three types of packaging (A), and factor 2 encompassed two room storage temperatures (S). The treatments in this experimental design included storage temperatures (S) of 30°C and 10°C. The results of the research indicated that the highest weight loss occurred in the sample (treatment at 10°C with wrapping packaging), while the lowest weight loss was observed in the treatment at 10°C with PP packaging. At a temperature of 30°C, melons stored in wrapping packaging for one day exhibited the highest weight loss at 96%, whereas melons stored in PP packaging for 9 days had the lowest weight loss at 54.3%. The highest soluble solids content at a storage temperature of 10°C was found in wrapping packaging, reaching 11.25% Brix, while the lowest total soluble solids content was in HDPE packaging, at 7% Brix, with a storage duration of 9 days. Observations on melons showed that the highest soluble solids content at a storage temperature of 30°C was in wrapping packaging, at 8.4%, after one day of storage, while the lowest value was in PP packaging, at 0.3%, after 9 days of storage. This research serves as a foundation for the development of more efficient storage management strategies, ensuring optimal quality of minimally processed melons during distribution and consumption.Buah melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu jenis yang berasal dari suku labu-labuan atau Cucurbitacca. Melon memiliki kandungan air dan rasanya manis, renyah, dan menyegarkan. Beberapa varietas melon yang umumnya ditanam dan dipasarkan yaitu varietas Sky Rocket Melon, Rock Melon, dan Golden Melon. Melon mengandung 0,6 g protein, 0,4 mg besi, 30 mg vitamin C, 0,4 g serat dan 6,0 g karbohidrat. Melon mempunyai khasiat bagi tubuh yaitu untuk mencegah penyakit sariawan, luka pada tepi mulut, penyakit mata, radang saraf, sebagai anti kanker, menurunkan resiko stroke dan kanker. Metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) Model Arrhenius adalah metode memperkirakan umur simpan produk menggunakan suhu yang dipercepat sehingga dapat mempercepat reaksi yang menyebabkan kerusakan pada produk. Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu 3 jenis kemasan (A), dan faktor 2 yaitu 2 suhu ruang penyimpanan (S). Perlakuan dalam rancangan percobaan ini adalah suhu penyimpanan (S) yaitu suhu 30oC dan suhu 10oC.Susut bobot tertinggi terdapat pada sampel (perlakuan suhu 10˚C dengan pengemasan wrapping), sedangkan susut bobot terendah terdapat pada pada (perlakuan suhu 10˚C dengan pengemasan PP). pada suhu 30˚C menunjukkan bahwa buah melon yang disimpan pada kemasan wrapping dengan masa simpan satu hari memiliki nilai susut bobot tertingggi yaitu 96%, sedangkan buah melon yang disimpan pada kemasan PP dengan masa simpan 9 hari memiliki nilai susut bobot terendah yaitu 54,3%. Total padatan terlarut tertinggi pada penyimpanan suhu 10˚C terdapat pada kemasan wrapping yaitu senilai 11,25% Brix, sedangkan total padatan total terlarut terendah terdapat pada kemasan HDPE senilai 7% Brix dengan lama penyimpanan 9 hari. Hasil pengamatan buah melon bahwa total padatan terlarut tertinggi pada penyimpanan 30˚C terdapat pada kemasan wrapping senilai 8,4% dengan lama penyimpanan satu hari, sedangkan nilai terendah terdapat pada kemasan PP senilai 0,3% dengan lama penyimpanan selama 9 hari
Edukasi Pemanfaatan Nasi Basi Sebagai Pupuk Organik Cair Dan Aplikasinya Untuk Pemupukan Tanaman Di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng
Dapat dipastikan di setiap harinya ada nasi yang tersisa dan tidak dapat untuk dikonsumsi lagi. Nasi basi yang dibuang begitu saja di tempat sampah tanpa ada pengolahan lanjutan hingga lambat laun memberikan efek bau yang kurang sedap pada lingkungan dan dapat menjadi tempat hidup mikroorganisme-mikroorganisme yang tidak diharapkan. Terdapat salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir limbah nasi basi ini adalah yakni dengan mengolah limbah nasi basi tersebut menjadi pupuk organik cair. Tujuan dari pelaksanaan program kerja ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara pengolahan limbah nasi basi menjadi pupuk organik cair yang dapat bermanfaat dalam mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan sekaligus mengurangi limbah nasi basi dan limbah pertanian yang dapat mencemari lingkungan. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan program kerja pengabdian yaitu melakukan identifikasi masalah melalui survei pelaksanaan KKN dan observasi langsung di rumah warga, mencari dan mengumpulkan materi untuk bahan brosur POC yang akan dibuat, mengumpulkan alat dan bahan pembuatan POC dan yang terakhir mengupload brosur edukasi ke media sosial dan melakukan edukasi langsung kepada masyarakat melalui pembagian brosur. Dan juga diadakan pembagian hasil dari POC nasi basi kepada masyarakat. Pelaksanaan program kerja dilakukan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Melalui edukasi pemanfaatan limbah nasi basi menjadi pupuk organik cair dapat meningkatkan kreativitas masyarakat dalam pembuatan pupuk organik cair yang dapat bermanfaat pada pertumbuhan tanaman
Efektifitas Kelompok Wanita Tani (Kwt) Dalam Upaya Pemberdayaan Perempuan Tani (Studi Kasus Desa Pattallassang, Kabupaten Bantaeng)
Pemberdayaan kelompok tani merupakan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kelompok tani tersebut yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat atau anggota kelompok tani tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Kelompok Wanita Tani Pattallassang 2, Desa Pattallassang, Kecamatan Tompobulu dan untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan faktor pembentuk efektivitas kelompok tani di Kelompok Wani Tani Pattallassang 2, Desa Pattallassang, Kecamatan Tompobulu. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni-Agustus. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah metode pengabdian secara tatap muka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa tingkat efektivitas wanita tani Pattallassang 2 berada pada kategori sedang. Faktor penyebab umum yang dapat dilihat adalah karena sedikitnya bahan yang digunakan untuk produksi dan rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam pengolahan pasca panen sehingga tidak mendatangkan hasil yang banyak. Oleh karena itu diperlukan upaya yang lebih maksimal untuk meningkatkan produktivitas pengolahan pasca panen
POTENSI KESUBURAN TANAH TANAMAN KOPI ROBUSTA DAN PETA PENYEBARANNYA MENGGUNAKAN APLIKASI GIS DI KECAMATAN KINDANG
Kindang District is an allotment area for robusta coffee plantations. In terms of climate, Kindang District has the potential to produce high coffee production. However, there was a decrease in coffee production. Therefore, it is necessary to analyze the potential of soil fertility related to biophysical aspects for the development of robusta coffee plants based on land suitability. This study aims to analyze the potential for soil fertility based on land suitability for robusta coffee. This research method uses a descriptive method and determines the land suitability index using the square root approach. Profile observations were made at 11 points spread across the Kindang District. The results of this study indicate that the land in Kindang District belongs to the marginal land suitability class (S3) for robusta coffee with a land suitability index value between 25.51-45.18. The limiting factors found were slope, soil depth and soil pH with an area of 9,660 ha.Kecamatan Kindang merupakan kawasan peruntukan perkebunan kopi robusta. Dari segi iklim, Kecamatan Kindang berpotensi untuk menghasilkan produksi kopi yang tinggi. Namun, terjadi penurunan produksi kopi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis potensi kesuburan tanah yang terkait dengan aspek biofisik untuk pengembangan tanaman kopi robusta berdasarkan kesesuaian lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kesuburan tanah berdasarkan kesesuaian lahan untuk kopi robusta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan penetapan indeks kesesuaian lahan menggunakan pendekatan square root. Pengamatan profil dilakukan di 11 (sebelas) titik yang tersebar di Kecamatan Kindang. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa lahan di Kecamatan Kindang tergolong kelas kesesuaian lahan marginal (S3) untuk kopi robusta dengan nilai indeks kesesuaian lahan antara 25,51-45,18. Faktor pembatas lahan yang ditemukan adalah lereng, kedalaman tanah dan pH tanah dengan luas 9.660 ha
PENENTUAN PERLAKUAN TERBAIK PENGOLAHAN ABON IKAN GABUS DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS)
Snakehead fish has many health benefits. However, the consumption level of snakehead fish is still relatively low. One of the product developments that can be made from it is snakehead fish shredded. As a functional food, apart from the nutritional aspect, the acceptance by society should be considered. This research used the AHP (Analytic Hierarchy Process) method to (1) determine the priority criteria aspects in snakehead fish shredded, and (2) establish the best treatment for making snakehead fish shredded. The highest criterion weight was the taste aspect, followed by the colour aspect, fat content, and texture. The best treatment in making snakehead fish shredded based on the criteria was snakehead fish shredded which was processed using a deep frying and spinner and stir-frying with spices
Keywords: AHP, shredded, snakehead fish.Ikan gabus mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Akan tetapi tingkat konsumsi ikan gabus masih tergolong rendah. Salah pengembangan produk yang dapat dibuat dari ikan gabus adalah abon ikan gabus. Sebagai makanan fungsional, selain aspek gizi, hal yang perlu diperhatikan adalah aspek penerimaan oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode AHP (Analytic Hierarcy Process) untuk (1) mengetahui aspek kriteria prioritas pada abon ikan gabus, (2) menentukan perlakuan terbaik pengolahan abon ikan gabus. Hasil bobot kriteria tertinggi adalah aspek rasa, dilanjutkan aspek warna, kadar lemak dan tekstur. Perlakuan terbaik dalam pengolahan abon ikan gabus berdasarkan kriteria adalah abon ikan gabus yang diolah dengan penggorengan dan spiner serta dilakukan penumisan bumbu.
Kata Kunci: Abon, AHP, ikan gabus.
 
Pendugaan Umur Simpan Jambu Kristal (Psidium guajava L.) Terolah Minimal menggunakan Metode ASLT (Accelerated Shelf Life Test) Model Arrhenius
Shelf life prediction plays a crucial role in ensuring the quality and safety of food products. The increasing popularity of minimally processed crystal guava (Psidium guajava L.) in the food industry highlights the need to understand and optimize its shelf life. Minimally processed products offer advantages by preserving the sensory qualities and nutritional value of fruits while minimizing the use of preservatives and heat treatments that may compromise the inherent characteristics of the fruit. This research aims to assess the quality changes in minimally processed crystal guava using the Accelerated Shelf Life Test (ASLT) with the Arrhenius model and to estimate its shelf life under different storage conditions. The RESEARCH utilized a Completely Randomized Design with two factors: packaging types (PP, HDPE, Wrapping) and storage temperatures (10˚C and 30˚C). The parameter under investigation was water content. The findings revealed that at 10˚C, HDPE packaging exhibited the highest water content on the 9th day compared to Wrapping packaging, registering 23.67. At 30˚C, the highest water content was observed with HDPE packaging, reaching 33.27%, while Wrapping packaging recorded the lowest at 18.6%. These results provide valuable insights into the influence of packaging and storage conditions on the water content of minimally processed crystal guava. The practical implications of this research extend to the food industry, offering guidance for optimizing distribution and inventory management based on the predicted shelf life. Understanding these factors enhances the efficiency of production planning and ensures that the product maintains its quality throughout the desired storage period, meeting consumer expectations for fresh and high-quality produce.Pendugaan umur simpan memainkan peran penting dalam memastikan kualitas dan keamanan produk pangan. Popularitas yang meningkat dari jambu kristal yang diproses secara minimal (Psidium guajava L.) dalam industri makanan menyoroti perlunya memahami dan mengoptimalkan umur simpannya. Produk yang diproses secara minimal menawarkan keunggulan dengan mempertahankan kualitas sensoris dan nilai gizi buah sementara meminimalkan penggunaan bahan pengawet dan perlakuan panas yang dapat mengorbankan karakteristik bawaan buah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perubahan kualitas pada jambu kristal yang diproses secara minimal menggunakan Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius dan untuk memperkirakan umur simpannya di bawah kondisi penyimpanan yang berbeda. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor: jenis kemasan (PP, HDPE, Wrapping) dan suhu penyimpanan (10˚C dan 30˚C). Parameter yang diteliti adalah kadar air. Temuan menunjukkan bahwa pada 10˚C, kemasan HDPE menunjukkan kadar air tertinggi pada hari ke-9 dibandingkan kemasan Wrapping, mencapai 23,67. Pada 30˚C, kadar air tertinggi diamati dengan kemasan HDPE, mencapai 33,27%, sementara kemasan Wrapping mencatat yang terendah pada 18,6%. Hasil ini memberikan wawasan berharga tentang pengaruh kemasan dan kondisi penyimpanan terhadap kadar air jambu kristal yang diproses secara minimal. Implikasi praktis dari penelitian ini melibatkan industri makanan, memberikan panduan untuk mengoptimalkan distribusi dan manajemen inventaris berdasarkan umur simpan yang diprediksi. Memahami faktor-faktor ini meningkatkan efisiensi perencanaan produksi dan memastikan bahwa produk tetap mempertahankan kualitasnya sepanjang periode penyimpanan yang diinginkan, memenuhi harapan konsumen untuk hasil pertanian yang segar dan berkualitas tinggi
Pendugaan Umur Simpan Tomat (Solanum lycopersicum L) Terolah Minimal menggunakan Metode ASLT (Accelerated Shelf Life Test) Model Arrhenius
Minimal processing of tomatoes (Solanum lycopersicum L.) have become increasingly popular due to their ability to preserve nutritional content and organoleptic characteristics. The minimal processing method offers advantages in minimizing natural changes in the product; however, the main challenge lies in maintaining the quality and freshness of the product during storage. This research aims to determine the shelf life of minimally processed tomatoes using the ASLT method with the Arrhenius model and to identify quality changes that occur during storage of minimally processed tomatoes. The Accelerated Shelf Life Test (ASLT) method proves to be an effective approach for predicting the shelf life of a product rapidly. The Arrhenius model, detailing the relationship between temperature and the rate of chemical reactions, is employed to analyze the kinetics of reactions during accelerated storage. The combination of these two methods provides an accurate overview of the product's shelf life. In this research, minimally processed tomatoes were packaged using wrapping plastic, HDPE (High-density polyethylene), and PP (Polypropylene), then stored at temperatures of 10°C and 30°C. The research results indicate that the highest pH value at 10°C with the wrapping packaging treatment was 3.6, and at 30°C, the highest pH value with wrapping packaging was also 3.6. The highest weight loss of tomato fruit at 10°C was observed with the wrapping packaging treatment at 1.25%, and at 30°C, the highest weight loss was 1.55% with wrapping packaging. The highest total soluble solids value was 4.27% with wrapping packaging at 10°C, and at 30°C, the highest total soluble solids in tomato fruit was 4.1% with wrapping packaging. The estimated shelf life of minimally processed tomatoes obtained results for the longest shelf life was wrapping packaging with an estimated shelf life of 15 days at 10°C, while the shortest shelf life was 2 days at 30°C with HDPE packaging. These findings provide insights into the stability of minimally processed tomato products and lay the foundation for the development of optimal storage strategies. The application of ASLT with the Arrhenius model can assist the food processing industry in enhancing efficiency and product quality, particularly in the case of minimally processed tomato products.Pengolahan minimal Tomat (Solanum lycopersicum L.) telah menjadi semakin populer karena kemampuannya untuk menjaga kandungan nutrisi dan karakteristik organoleptik. Metode pengolahan minimal menawarkan keuntungan dalam meminimalkan perubahan alami dalam produk; namun, tantangan utama terletak pada pemeliharaan kualitas dan kesegaran produk selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur simpan tomat yang mengalami pengolahan minimal menggunakan Metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius dan untuk mengidentifikasi perubahan kualitas yang terjadi selama penyimpanan tomat yang mengalami pengolahan minimal. Metode ASLT terbukti menjadi pendekatan yang efektif untuk menduga umur simpan produk dengan cepat. Model Arrhenius, yang merinci hubungan antara suhu dan laju reaksi kimia, digunakan untuk menganalisis kinetika reaksi selama penyimpanan yang dipercepat. Kombinasi kedua metode ini memberikan gambaran yang akurat tentang umur simpan produk. Dalam penelitian ini, tomat yang mengalami pengolahan minimal dikemas menggunakan plastik wrap, HDPE (High-Density Polyethylene), dan PP (Polypropylene), kemudian disimpan pada suhu 10°C dan 30°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pH tertinggi pada suhu 10°C dengan perlakuan kemasan wrapping adalah 3,6, dan pada suhu 30°C, nilai pH tertinggi dengan kemasan wrapping juga 3,6. Kehilangan berat buah tomat tertinggi pada suhu 10°C diamati dengan perlakuan kemasan wrapping sebesar 1,25%, dan pada suhu 30°C, kehilangan berat tertinggi adalah 1,55% dengan kemasan wrapping. Nilai total padatan terlarut tertinggi adalah 4,27% dengan kemasan wrapping pada suhu 10°C, dan pada suhu 30°C, total padatan terlarut tertinggi pada buah tomat adalah 4,1% dengan kemasan wrapping. Umur simpan yang diestimasi dari tomat yang mengalami pengolahan minimal memberikan hasil untuk umur simpan terpanjang adalah kemasan wrapping dengan perkiraan umur simpan 15 hari pada suhu 10°C, sedangkan umur simpan terpendek adalah 2 hari pada suhu 30°C dengan kemasan HDPE. Temuan ini memberikan wawasan tentang stabilitas produk tomat yang mengalami pengolahan minimal dan memberikan dasar untuk pengembangan strategi penyimpanan yang optimal. Penerapan ASLT dengan model Arrhenius dapat membantu industri pengolahan makanan dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produk, khususnya pada produk tomat yang mengalami pengolahan minimal
KARAKTERISTIK PENGERINGAN DAN MUTU HEDONIK GULA KELAPA KRISTAL MENGGUNAKAN PENGERING TIPE RAK BERPUTAR BERENERGI LIMBAH TERMAL DAN BIOMASSA
Drying is one of the critical points in the process of making crystal coconut sugar. The production of crystalline coconut sugar in Banyumas Regency is very potential to be developed, but the drying of crystalline coconut sugar that has been carried out in Banyumas Regency still uses natural drying. The dryer used in this study is a rotating rack type dryer. This study aims to 1) examine changes in the water content of crystal coconut sugar in a rotating rack type dryer, 2) examine changes in the drying rate of crystal coconut sugar in a rotating rack type dryer, and 3) examine the physical and chemical properties of crystal coconut sugar dried using a rotary dryer. rotating rack. The research was conducted at the Integrated Science Laboratory, Nahdlatul Ulama University, Purwokerto. The research was carried out from February to July 2022. The experimental design that was carried out was a Completely Randomized Factorial Design with the influence of temperature and drying time. The research was conducted to find out the best drying time and temperature as well as to observe the moisture content, sucrose content, pH, and organoleptic tests which included color, taste, and texture. The results showed that changes in drying rate had a very significant effect on water content, sucrose content, pH, and organoleptic tests on color and texture, but drying rates had no significant effect on organoleptic tests on taste. The best temperature and time in the drying process using a rotating rack type dryer is the G3K2 treatment, drying using a temperature of 80 oC for 2 hours.Pengeringan merupakan salah satu titik kritis pada proses pembuatan gula kelapa kristal. Produksi gula kelapa kristal di Kabupaten Banyumas sangat potensial untuk dikembangkan, namun pengeringan gula kelapa kristal yang sudah dilakukan di Kabupaten Banyumas masih menggunakan pengeringan secara alami. Pengering yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengering tipe rak berputar. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji perubahan kadar air gula kelapa kristal pada pengering tipe rak berputar, 2) mengkaji perubahan laju pengeringan gula kelapa kristal pada pengering tipe rak berputar, dan 3) mengkaji sifat fisik dan kimia gula kelapa kristal yang dikeringkan menggunakan pengering tipe rak berputar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium IPA Terpadu Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari-Juli 2022. Rancangan percobaan yang dilakukan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan pengaruh suhu dan waktu pengeringan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui penggunaan suhu dan waktu pengeringan terbaik serta pengamatan kadar air, kadar sukrosa, pH, dan uji organoleptik yang meliputi warna, rasa, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan laju pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar sukrosa, pH, dan uji organoleptik pada warna dan tekstur, namun laju pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap uji organoleptik pada rasa. Adapun suhu dan waktu yang terbaik pada proses pengeringan menggunakan pengering tipe rak berputar yaitu pada perlakuan G3K2, pengeringan menggunakan suhu 80 oC selama 2 jam.
Sosialisasi Wabah Pmk (Penyakit Mulut Dan Kuku) Pada Ternak Di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng
Sehubungan dengan merebaknya wabah PMK pada hewan ternak berkuku genap di Indonesia, masyarakat diharuskan mengetahui gejala, cara penyebaran dan penanganannya guna menekan penyebaran. Berdasarkan masalah bahwa sebagian besar masyarakat Campaga belum mengetahui informasi mengenai PMK. Maka terciptalah gagasan sosialisasi wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada hewan ternak di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Tujuan dari program kerja ini adalah untuk memberikan edukasi kepada peternak dan masyarakat mengenai peta sebaran, gejala, cara penularan dan pengendalian wabah PMK pada ternak. Adapun manfaatnya adalah peternak maupun masyarakat yang hadir dapat teredukasi mengenai gejala, cara penyebaran dan penanganan ternak yang terjangkit PMK maupun ternak sehat sehingga dapat menekan penyebaran wabah PMK di Indonesia. Waktu pelaksanaan program kerja yakni hari kamis, 04 agustus 2022 di Kantor Kelurahan Campaga. Proses pelaksanaan sosialisasi dimulai dengan pemaparan materi dan pemutaran video terkait PMK. Khalayak sasaran sosialisasi adalah peternak dan masyakat Campaga dengan metode evaluasi berupa antusias khalayak pada sesi diskusi. Berdasarkan observasi yang diperoleh mulai dari persiapan hingga selesainya sosialisasi dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan lancar serta masyarakat di Kelurahan Campaga yang hadir di kegiatan sosialisasi telah teredukasi mengenai gejala, cara penularan dan pengendalian wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada ternak
Kajian Potensi Kulit Buah Mangga Sebagai Bahan Pangan
Mango peel is a by-product of fruit processing which can pollute the environment. In this study, a proximate analysis was carried out which included water content, carbohydrates, protein, fat, minerals, and several bioactive compounds of mango peel, the study was conducted on the potential for its utilization as a food ingredient. The water content of mango peel is 66% -70%, carbohydrates are more than 70%, protein and fat are around 2 - 3 g/100g respectively, fiber content is around 30 - 38 g/100g, total phenolic compounds are 80 - 90mg/g, and carotenoids 2 - 4 mg/g. One way that can be done to utilize mango peel is to modify it into a powder form by washing and blanching, drying and milling. In the form of flour, various benefits of mango peel can be obtained, especially in the development of functional food.Kulit mangga merupakan limbah/hasil samping pengolahan buah-buahan yang dapat mencemari lingkungan, sehingga harus dikelola. Pada kajian ini dilakukan analisis proksimat kulit mangga yang meliputi kadar air, karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan beberapa senyawa bioaktif kulit mangga, kajian dilanjutkan pada potensi pemanfaatannya sebagai bahan pangan. Kisaran kadar air kulit mangga 66% - 70%, karbohidrat lebih dari 70%, protein dan lemak masing-masing sekitar 2 -3 g/100g, kandungan serat sekitar 30 - 38 g/100g, senyawa fenolik total 80 - 90mg/g, dan karotenoid 2 - 4 mg/g. Cara yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan kulit mangga yaitu mengubahnya menjadi bentuk tepung dengan pencucian dan blansing, pengeringan dan penggilingan. Dalam bentuk tepung, berbagai manfaat kulit mangga dapat diperoleh, utamanya dalam pengembangan pangan fungsional