E-Journal Center for Plant Conservation Botanic Gardens-LIPI (Indonesian Institute of Sciences / Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Not a member yet
573 research outputs found
Sort by
INISIASI KALUS SECARA IN VITRO DARI DAUN Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.
Javanese ginseng (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) is a herbaceous plant with secondary metabolites in leaves that could be used as medicine. The sterilization and addition of growth regulators of Javanese ginseng in tissue culture have yet to be extensively studied. This study aimed to determine the appropriate sterilization method and to optimize the growth regulators of Naphthalene Acetic Acid (NAA) and Benzylaminopurine (BAP) for callus initiation of Javanese ginseng. The research was conducted at Cibodas Botanic Gardens Tissue Culture Laboratory – BRIN from August to November 2021. The experiments were non-factorial in a Completely Randomized Design with nine combinations of NAA and BAP treatments and three replications. Leaf explants with a diameter of 7 mm were planted in Murashige and Skoog medium, which contained the combination of growth regulators concentrations of NAA (0.5, 1, and 1.5 ppm) and BAP (0.5, 1, and 1.5 ppm). The results showed that the explants produced callus within 11-14 days after initiation and had a compact texture in all treatments. Four callus colours resulted from this treatment, i.e., light olive brown, olive-gray, gray-brown, and olive. The best combination was obtained in the N2B2 treatment (1 ppm NAA + 1 ppm BAP) that gave optimal growth at the callus length parameter of 3.13 cm and the callus wet weight parameter of 2.27 g.Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) merupakan terna yang daunnya memiliki kandungan metabolit sekunder dan dapat digunakan sebagai obat. Beberapa penelitian kultur jaringan terkait sterilisasi dan penambahan zat pengatur tumbuh pada ginseng Jawa masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui metode sterilisasi yang tepat serta melakukan optimalisasi zat pengatur tumbuh Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Benzylaminopurine (BAP) untuk menginisiasi kalus ginseng Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kebun Raya Cibodas – BRIN pada bulan Agustus sampai November 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan sembilan kombinasi perlakuan penambahan NAA dan BAP yang diulang sebanyak tiga kali. Eksplan daun berdiameter 7 mm ditanam pada botol kultur berisi media Murashige and Skoog yang mengandung kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh NAA (0,5; 1; dan 1,5 ppm) dan BAP (0,5; 1; dan 1,5 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanaman mampu menghasilkan kalus. Waktu kemunculan kalus antara 11-14 hari setelah inisiasi dan memiliki tekstur kompak pada semua perlakuan. Selain itu, empat warna kalus yang dihasilkan dari perlakuan ini, yaitu light olive brown, olive gray, gray brown, dan olive. Kombinasi konsentrasi terbaik diperoleh pada perlakuan N2B2 (1 ppm NAA + 1 ppm BAP). Perlakuan tersebut memberikan pertumbuhan optimal pada parameter panjang kalus sebesar 3,13 cm dan berat basah kalus sebesar 2,27 g
ETNOBOTANI SUKU MIAN SEA-SEA DI PULAU PELING, KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN, SULAWESI TENGAH
The ethnic of Mian Sea-Sea is living in Peling Island, Banggai Kepulauan Regency, Central Sulawesi. They have been bequeathing their history and cultures through oral tradition from generation to generation. Therefore, information about this ethnicity on utilizing the plants has not been widely recorded. This study aimed to explore and document the traditional knowledge and local wisdom in utilizing and managing plant resources; to disclose and analyze the traditional knowledge and local wisdom in utilizing and managing the environmental units; to explore the problems and challenges in the management of biological and environmental resources; to provide the solutions and opportunities to develop their plant resources and environment. This research was conducted in two villages, i.e., Osan Village, South Bulagi District, and Buko Village, South Buko District. Data were collected by interviews, observations, and identifying herbarium specimens. Data is presented using diagrams and tables, then were analyzed descriptively and calculation using the Index of Cultural Significance (ICS). The results showed that Mian Sea-Sea has six categories of environmental units, i.e., lipu (village), basalean (yard), asi (field), balembean (sacred place), laing (secondary forest), and babono (jungle). Moreover, the Mian Sea-Sea has recognized 142 species of plants utilized in ten categories. The highest utilization of plant species is used as additional food, 62 species. The highest ICS value is presented by Waliya' (Xanthosoma sagittifolium).
Suku Mian Sea-Sea berada di Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Mereka meneruskan sejarah dan budaya, hanya dalam bentuk lisan dari generasi ke generasi, sehingga informasi mengenai kehidupan suku ini, khususnya pada pemanfaatan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari belum banyak diketahui secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mendokumentasikan pengetahuan dan kearifan tradisional masyarakat Suku Mian Sea-Sea dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya tumbuhan; (2) mengungkapkan dan menganalisis pengetahuan dan kearifan tradisional masyarakat Suku Mian Sea-Sea dalam memanfaatkan dan mengelola berbagai satuan lingkungan; (3) menggali permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya hayati dan lingkungan yang dilakukan masyarakat; dan (4) memberikan solusi dari permasalahan dan peluang pengembangan sumber daya tumbuhan dan lingkungannya. Lokasi penelitian di dua desa yaitu Desa Osan, Kecamatan Bulagi Selatan dan Desa Buko, Kecamatan Buko Selatan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan identifikasi spesimen herbarium. Data disajikan dalam bentuk diagram dan tabel, selanjutnya, dianalisis secara deskriptif dan perhitungan nilai Index of Cultural Significance. Hasil penelitian menunjukkan Suku Mian Sea-Sea mengenal enam kategori satuan lingkungan, yaitu lipu, basalean, asi, balembean, laing, dan babono. Suku Mian Sea-Sea mengenal 142 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan kedalam sepuluh kategori. Pemanfaatan jenis tumbuhan tertinggi digunakan sebagai bahan pangan tambahan yaitu 62 jenis. Nilai ICS tertinggi dijumpai pada Waliya' (Xanthosoma sagittifolium).
PERBANDINGAN KARAKTER ANATOMI DAUN PADA EMPAT KULTIVAR NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lam.) KOLEKSI TAMAN BUAH MEKARSARI, BOGOR
The Mekarsari Fruit Garden developed several jackfruit cultivars, such as Telanjang, Mini, Bubur, and Dulang. These cultivars are categorized according to their fruit characteristics. Many kinds of jackfruit cultivars available, but the study of leaf anatomy from different jackfruit cultivars has not been conducted. This research aimed to investigate the anatomical characters of several jackfruit cultivar’s leaves obtained from Mekarsari Fruit Garden. Samples were taken from three trees for each cultivar with three repetitions. Paradermal and transversal sections were made from the fourth leaves of each branch. The paradermal section showed that the epidermal cell had an irregular shape with straight to strongly sinuous anticlinal cell walls. Stomata were hypostomatous with anomocytic type. There were two types of trichomes: non-glandular and glandular trichomes. There were no leaf anatomical differences in all observed jackfruit cultivars. This is due to overlapping range values of the anatomical character among the four cultivars. However, leaf anatomy can be used to distinguish jackfruit cultivars from nangkadak hybrid cv. Bola.Taman Buah Mekarsari mengembangkan beberapa kultivar nangka, antara lain kultivar Telanjang, Mini, Bubur, dan Dulang. Keempat kultivar tersebut dibedakan berdasarkan keunikan buahnya. Keragaman kultivar nangka sangat banyak, namun studi mengenai anatomi daun kultivar nangka yang berbeda belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi daun beberapa kultivar nangka koleksi Taman Buah Mekarsari, Bogor. Sampel diambil dari tiga pohon untuk tiap kultivar dengan tiga ulangan cabang untuk tiap pohon. Sediaan sayatan paradermal dan transversal dibuat dari daun keempat dari ujung cabang. Hasil pengamatan sayatan paradermal daun menunjukkan sel epidermis berbentuk tidak beraturan dengan dinding sel antiklinal rata hingga berlekuk. Stomata hanya terdapat pada sisi abaksial daun dengan tipe anomositik. Pada kultivar nangka dijumpai dua jenis trikoma, yaitu trikoma kelenjar dan trikoma non kelenjar. Tidak terdapat perbedaan karakter anatomi daun pada semua daun kultivar nangka yang diamati. Hal ini dikarenakan rentang nilai karakter anatomi yang diamati saling tumpang tindih pada keempat kultivar tersebut. Namun demikian, karakter anatomi daun dapat digunakan untuk membedakan kultivar nangka dengan hibrida nangkadak cv. Bola
RESPONS PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Rubus rosifolius Sm. DAN Rubus fraxinifolius Poir. TERHADAP KOMBINASI DOSIS DAN WAKTU PEMBERIAN PUPUK
Cibodas Botanic Gardens has 13 species of Rubus or wild raspberry collections from Indonesian mountain forests. R. rosifolius and R. fraxinifolius are Indonesian native species with high potential to be developed as fruit crops. Currently, an effort to domesticate and cultivate Rubus spp. is still ongoing. This research aimed to study the effect of the combination of doses and fertilizer application time on R. rosifolius and R. fraxinifolius growth and development. The research was conducted in Cibodas Botanic Garden. Four combinations of treatments, i.e., K1 (4.74 g/pot of NPK fertilizer with one-time application), K2 (9.48 g/pot of fertilizer with two times application), K3 (14.22 g/pot of fertilizer with three times application), K4 (18.96 g/pot of fertilizer with four times application) were used in this experiment. The results show that doses and time applications of fertilizers were not significantly affecting R. rosifolius and R. fraxinifolius growth. Moreover, the factor of Rubus species has a more significant effect on R. rosifolius and R. fraxinifolius growth. The combinations of R. rosifolius + K3 and R. fraxinifolius + K4 produced the highest value in the number of fruits per plant, fruit size, and fruit weight.Kebun Raya Cibodas memiliki 13 jenis koleksi Rubus atau raspberry liar yang berasal dari hutan pegunungan Indonesia. R. rosifolius dan R. fraxinifolius merupakan dua jenis Rubus asli Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah. Saat ini, upaya mendomestikasi dan membudidayakan jenis-jenis Rubus terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk terhadap pertumbuhan dan perkembangan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Cibodas menggunakan empat kombinasi perlakukan yaitu K1 (pupuk NPK 4,74 g/pot dengan 1 kali waktu pemberian), K2 (pupuk NPK 9,48 g/pot dengan 2 kali waktu pemberian), K3 (pupuk NPK 14,22 g/pot dengan 3 kali waktu pemberian), K4 (pupuk NPK 18,96 g/pot dengan 4 kali waktu pemberian) dan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan waktu pemberian pupuk tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius, sedangkan faktor jenis Rubus lebih berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Kombinasi R. rosifolius + K3 dan R. fraxinifolius + K4 menghasilkan nilai rata-rata jumlah buah per tanaman, ukuran, dan bobot buah tertinggi
KESEHATAN AREAL HUTAN PASCA KEBAKARAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, KUNINGAN, JAWA BARAT
The condition of forests in Indonesia needs more attention because they are constantly disturbed, one of which is fires. Gunung Ciremai National Park (TNGC) is a forest area that often experiences fires, so efforts to control forest fires are needed to minimize the adverse effects of forest fires. One of the activities to control forest fires is post-fire handling by monitoring the post-fire area. The aims of this study were (1) to analyze the health condition of burned forest areas in TNGC in various cluster plots and (2) to analyze the differences in the health conditions of areas with different burning frequencies and the differences in the health conditions of burned and unburned areas. Observation of forest health conditions in TNGC is carried out by measuring the impact of fires on vegetation using the Forest Health Monitoring method using three indicators: productivity, biodiversity, and canopy conditions. The number of plot clusters built is four in burned areas and one in unburned areas. The results of this study indicate that the impact of forest fires is lower in areas burned once than in areas burned more than five times. Overall, the unburned areas showed better health conditions than the burnt areas. It is necessary to restore the ecosystem by planting native species that have high adaptability to fire and are suitable for land conditions in the Pajaten Block. It is necessary to plant species that can be used as green belts in the Gibug Block.Kondisi hutan di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih karena terus menerus mendapat gangguan, salah satunya adalah kebakaran. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan kawasan hutan yang sering mengalami kebakaran sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian kebakaran hutan guna meminimalisir dampak buruk dari kebakaran hutan. Salah satu kegiatan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan adalah penanganan pasca kebakaran dengan melakukan monitoring pada areal pasca kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis kondisi kesehatan areal hutan bekas terbakar di TNGC pada berbagai klaster plot dan (2) menganalisis perbedaan kondisi kesehatan areal dengan frekuensi terbakar yang berbeda serta perbedaan kondisi kesehatan areal yang terbakar dan tidak terbakar. Pengamatan kondisi kesehatan hutan di TNGC dilakukan dengan pengukuran dampak kebakaran terhadap vegetasi menggunakan metode Forest Health Monitoring dengan menggunakan tiga indikator, yaitu produktivitas, biodiversitas, dan kondisi tajuk. Jumlah klaster plot yang dibangun yaitu empat klaster plot pada areal terbakar dan satu klaster plot di areal tidak terbakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan lebih rendah pada areal 1 kali terbakar dibandingkan pada areal lebih dari 5 kali terbakar. Secara keseluruhan, areal tidak terbakar menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan areal bekas terbakar. Upaya pemulihan ekosistem perlu dilakukan dengan menanam jenis asli yang cocok dengan kondisi lahan di Blok Pajaten dan memiliki daya adaptasi terhadap api dan perlu dilakukan penanaman jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai sekat bakar hijau di Blok Gibug
KAJIAN KESESUAIAN HABITAT DAN IDENTIFIKASI SERANGAN HAMA PENYAKIT PADA Pelagodoxa henryana Becc.: STUDI KASUS DI KEBUN RAYA BOGOR
Pelagodoxa henryana Becc. (Arecaceae) is a native palm species to Marquesas Island (French Polynesia). According to IUCN Red List, the species has a Critically Endangered (CR) status. The growth of the six existing specimens at Bogor Botanic Gardens (BBG) experiences problems caused by environmental conditions. This study aimed to analyze habitat suitability and identify the pests and diseases of P. henryana at BBG. The environmental data was obtained from the Registration Division BBG and direct observations. Soil analysis used nine samples from the plant grow locations at BBG. Pest and disease data was obtained by direct observation. All data was analyzed descriptively. The results showed that BBG had similar environmental conditions to the natural habitat of P. henryana, except for the shade, so it is necessary to provide shade to the collections of P. henryana. Based on soil analysis, fertility status and soil texture at BBG were not suitable for P. henryana, so fertilizer application with a ratio of N:P:K:Mg = 2:1:3:1, mulching at the base of the stem, and lime application are required. Some pests and diseases were found on this palm, with the leaf and nipah beetles being the most significant ones. Both beetles can be controlled by applying sulfur at a dose of 1 tablespoon per liter of water on the shoots with symptoms and injecting pesticides with 75% active ingredient acephate (AMCOTHENE 75 SP) at a dose of 20 ml/tree. Regular maintenance should be done by carefully cutting the plant's dead leaves and brownish parts.Pelagodoxa henryana Becc. (Arecaceae) berasal dari Pulau Marquesas (Polinesia Perancis). Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi jenis ini adalah kritis (Critically Endangered-CR). Pertumbuhan enam spesimen koleksi ini di Kebun Raya Bogor (KRB) mengalami kendala karena faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian habitat dan identifikasi hama penyakit yang menyerang P. henryana di KRB. Data lingkungan tumbuh diperoleh dari Unit Registrasi KRB dan observasi langsung. Data tanah diperoleh dari hasil analisis sembilan sampel tanah dari lokasi tumbuh palem ini di KRB. Data hama penyakit dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di KRB menyerupai habitat alami palem ini, kecuali faktor naungan saja, sehingga perlu pemberian naungan agar paparan sinar matahari pada P. henryana dapat terjadi secara bertahap. Berdasarkan hasil analisis tanah, status kesuburan dan tekstur tanah di KRB kurang cocok untuk P. henryana, sehingga diperlukan pemberian pupuk dengan rasio N:P:K:Mg = 2:1:3:1, pemberian mulsa pada pangkal batang, dan pemberian kapur pertanian. Ada beberapa hama dan penyakit yang ditemukan pada palem ini, namun demikian kumbang janur dan kumbang nipah merupakan hama yang memberikan serangan yang paling signifikan. Kedua kumbang tersebut dapat dikendalikan dengan pemberian belerang dengan dosis satu sendok makan per liter air pada pucuk koleksi dengan gejala dan menginjeksikan pestisida dengan bahan aktif asefat 75% (AMCOTHENE 75 SP) dengan dosis 20 ml/pohon. Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan memotong bagian-bagian tumbuhan yang sudah mati dan berwarna kecokelatan dengan hati-hati
PERTUMBUHAN KULTUR KALUS YANG DIINDUKSI DARI EKSPLAN HIPOKOTIL LAKUM (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) DENGAN PENAMBAHAN NAA (Naphthalene Acetic Acid) DAN BAP (6-Benzyl Amino Purin)
Tumbuhan lakum (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Kandungan metabolit sekunder tersebut mampu mengobati berbagai jenis penyakit antara lain sebagai antidiabetes, antibakteri, antiprotozoa, antitumor, dan antikanker. Perbanyakan dan produksi metabolit sekunder pada tumbuhan dapat dilakukan secara in vitro melalui kultur kalus dan dipengaruhi oleh konsentrasi zat pengatur tumbu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan NAA dan BAP terhadap pertumbuhan kalus dari eksplan hipokotil lakum (C. trifolia) dan mengetahui konsentrasi penambahan NAA (Naphthalene Acetic Acid) dan BAP (6-Benzyl Amino Purin) yang dapat menghasilkan pertumbuhan kalus yang terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu penambahan NAA (0; 0,45; 0,9; dan 1,4 µg/l) dan BAP (0; 0,23; dan 0,56 µg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NAA tunggal dan kombinasi NAA dan BAP memberikan pengaruh nyata terhadap waktu muncul kalus. Waktu muncul kalus tercepat pada perlakuan kombinasi 0,45 µg/l NAA+0, 23 µg/l BAP yaitu 13 hari setelah tanam. Pemberian NAA tunggal dan BAP tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap berat basah dan berat kering kalus, dengan rerata berat basah kalus tertinggi pada konsentrasi BAP 0,56 µg/l yaitu 4,431 g dan berat kering kalus tertinggi konsentrasi BAP 0,56 µg/l yaitu 0,192 g.Lakum plant (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) contains secondary metabolites with potential medicinal ingredients. It can treat various diseases, such as antidiabetic, antibacterial, antiprotozoal, antitumor, and anti-cancer. Propagation and production of secondary metabolites in plants can be carried out in vitro through callus culture and are influenced by the concentration of growth regulators. This study aimed to determine the effect of NAA (Naphthalene Acetic Acid) and BAP (6-Benzyl Amino Purin) on callus growth of hypocotyl lakum (C. trifolia) explants and to determine the concentration of addition of NAA and BAP that could produce the best callus growth. Completely randomized design (CRD) factorial with two factors adding NAA (0, 0.45, 0.9, and 1.4 µg/l) and BAP (0, 0.23, and 0.56 µg/l). The results showed that adding a single NAA and a combination of NAA and BAP significantly affected callus emergence. The fastest callus emergence was found in a combination of 0.45 µg/l NAA + 0.23 µg/l BAP, 13 days after planting. Both NAA and BAP alone significantly affect the weight of dry and wet callus. The administration of a single NAA and a single BAP had a significant effect on the wet weight and dry weight of callus, with the highest average wet callus weight at a concentration of BAP 0.56 µg/l, which was 4.431 g, and the highest dry weight callus concentration of BAP 0.56 µg/l was 0.192 g
KERAGAMAN MORFOLOGI HIBRID Begonia sageaensis Wiriad. x Begonia galeolepis Ardi & D.C. Thomas HASIL IRADIASI SINAR GAMMA
Hybridization and gamma ray irradiation have been used in several ornamental plant species to increase genetic variability. This study aimed to determine the effect of gamma ray irradiation on seed germination and determine the effect of hybridization and gamma ray irradiation on the morphological variability of Begonia from a hybrid of B. sageaensis Ardi x B. galeolepis D.C.Thomas. Gamma ray irradiation doses applied were 0, 15, 30, and 45 Gy. Observation of seed germination was carried out on the trait's first day of germination and the number of germinated seeds. Morphological observations were applied to vegetative characters and included eight quantitative dan 33 qualitative variables. Results showed that the dose of gamma rays used did not significantly affect the seed germination and the survival rate of seeds. Hybridization and gamma ray irradiation formed a new diversity grouped into nine: Begonia HM 1–HM 9. The analysis of variance showed that the dose of gamma ray irradiation had no significant effect on all observed quantitative vegetative characters. Results of the analysis of variance showed that the Begonia hybrid had a significant effect on plant height, stem diameter, plant width, leaf length, leaf width, petiole length, petiole diameter, and the number of leaves. Qualitative changes due to gamma ray irradiation include changes in variegated leaf colour. New variability was estimated both in hybridization and gamma ray irradiation.
Hibridisasi dan iradiasi sinar gamma telah banyak digunakan untuk meningkatkan keragaman genetik pada beberapa tanaman hias. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma pada perkecambahan biji dan pengaruh hibridisasi dan iradiasi sinar gamma terhadap keragaman morfologi tanaman Begonia hibrid dari biji hasil silangan B. sageaensis Wiriad x B. galeolepis Ardi & D.C. Thomas. Dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan adalah 0, 15, 30, dan 45 Gy. Pengamatan perkecambahan biji dilakukan untuk mengetahui perkecambahan biji pada hari pertama berkecambah dan jumlah biji yang berkecambah. Pengamatan morfologi dilakukan pada karakter vegetatif yang meliputi delapan peubah kuantitatif dan 33 peubah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis sinar gamma yang digunakan tidak berpengaruh nyata pada hari pertama berkecambah dan persentase jumlah biji yang berkecambah. Perlakuan iradiasi sinar gamma dan persilangan membentuk keragaman baru yang dikelompokkan menjadi sembilan grup yaitu Begonia HM 1–HM 9. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma tidak berpengaruh nyata pada semua karakter kuantitatif vegetatif yang diamati. Selanjutnya hasil analisis ragam menunjukkan bahwa Begonia hibrid berpengaruh nyata pada karakter kuantitatif yaitu tinggi tanaman, diameter batang, lebar tajuk, panjang daun, lebar daun, panjang tangkai daun, diameter tangkai daun, dan jumlah daun. Perubahan kualitatif akibat iradiasi sinar gamma antara lain daun menjadi variegata. Keragaman baru diduga terbentuk dari perpaduan iradiasi sinar gamma dan persilangan
Technical Guideline Sorghum Cultivation on Imperata Grassland or Marginal Lands
Foreword
All praise and gratitude be upon the One True Almighty God, who has given our health and blessing, so that we have finished writing the booklet of “Technical Guideline for Sorghum Cultivation on Imperata Grassland or Marginal Lands”. The authors also thank all who have supported in publishing this booklet, especially the leaders of the Indonesian Institute of Sciences (LIPI)/National Research and Innovation Agency (BRIN), Japan International Cooperation Agency (JICA), and also to all colleagues including researchers and technicians, who have been working in the fields, and all many others, who could not be mentioned in this foreword.
The book is one of the activity achievements of the Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) Project, a collaboration between Kyoto University and Indonesian Institute of Sciences (LIPI)/National Research and Innovation Agency (BRIN), that has been conducted from 2016 to 2022, with the topic “The Project for Producing Biomass Energy and Material through Revegetation of Alangalang (Imperata cylindrica) Fields (2016-2022)”. Through this SATREPS Project, technology will be developed to convert the grassland/Alangalang/marginal fields into more productive lands, and to generate and utilize the biomass for renewable energy production and environmentally friendly material.
Sorghum plant is selected to be cultivated, since it could grow on dry and unfertile lands. The plant could be utilized for many purposes, i.e., food, livestock feed, energy sources, and industrial raw materials. The plant also could be cultivated using an intercropping system with other plants, which have economic potential, are rare/endangered, and could adapt to local land and climate condition.
Finally, the authors hope this technical guideline booklet will be useful for a wide range of readers. The authors also welcome any suggestions and comments to improve the quality of this book. Thank you
HUBUNGAN KARAKTERISTIK STOMATA DAN PRODUKTIVITAS UMBI PADA AKSESI LOKAL TERPILIH Dioscorea alata L.
The stomata have a relationship with plant physiological activities, such as photosynthesis, respiration, and transpiration, that affect plant productivity. Water yam (Dioscorea alata L.) is one of the underutilized tuber plants that contain essential nutrients but get less attention from the public. The insufficiency of adequate information related to overflowing production factors is one cause of the lack of interest in the cultivation of this species. This study aimed to identify stomata characteristics, tuber productivity, and the relationship between stomatal characteristics and tuber productivity. The research was conducted in Pasuruan Regency, using 57 and 86 accessions selected based on high excess productivity. The analysis used the T-test, Mann-Whitney test, and correlation test. The results showed that the stomatal number, density, tuber weight, width, and diameter of 86 accession were higher than 57 accessions but smaller in terms of stomatal size and tuber length. Stomata number and density were positively correlated with tuber weight. On the other hand, the stomatal size and tuber weight showed a negative correlation. The tuber weight of 86 accession was higher than 57 accessions, even though not significantly different statistically. Both of these accessions have the potential to be cultivated by focusing on their environmental conditions for the optimum tubers yield can be achieved, as well as supporting the national food diversification based on the local food community.
Stomata diketahui memiliki hubungan dengan aktivitas fisiologis tanaman seperti fotosintesis, respirasi, dan transpirasi yang berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Uwi (Dioscorea alata L.) merupakan salah satu tanaman umbi-umbian kurang termanfaatkan dengan nutrisi penting dan potensi hasil tinggi, namun kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Minimnya informasi terkait faktor yang berperan dalam mendukung produksi yang melimpah, menjadi salah satu penyebab kurangnya minat budidaya jenis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik stomata, produktivitas umbi, serta hubungan antara karakteristik stomata dan produktivitas umbi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pasuruan, menggunakan aksesi 57 dan 86 yang dipilih berdasarkan keunggulan produktivitas tinggi (bobot umbi). Analisis menggunakan uji T, Mann-Whitney, dan uji korelasi Spearman. Hasil studi menunjukkan aksesi 86 lebih tinggi dibandingkan aksesi 57 dalam hal jumlah stomata, kerapatan stomata, bobot umbi, lebar umbi, dan diameter umbi, meskipun pada ukuran keliling stomata dan panjang umbi aksesi 57 lebih tinggi. Jumlah dan kerapatan stomata memiliki korelasi positif dengan bobot umbi, sedangkan ukuran keliling stomata dengan bobot umbi menunjukkan korelasi negatif. Data bobot umbi aksesi 86 lebih besar nilainya dibandingkan aksesi 57, namun tidak berbeda nyata secara signifikan. Kedua aksesi ini berpotensi untuk dibudidayakan dengan memperhatikan kondisi lingkungan tanam agar produktivitas umbi uwi dapat dihasilkan secara optimal dan mendukung upaya diversifikasi pangan nasional berbasis komoditas lokal.