Jurnal IKIP PGRI Jember
Not a member yet
625 research outputs found
Sort by
TINGKAT SELF EFFICACY BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN KELAS PADA PESERTA DIDIK PEMINATAN ILMU-ILMU SOSIAL SMA NEGERI 5 JEMBER
Paradigma pembelajaran saat ini mengarah pada teori konstruktivis yang mengharuskan peserta didik untuk memiliki kepercayaan diri memadai. Self efficacy menjadi salah satu karakteristik pembelajaran yang ideal dalam pelajaran. Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa self efficacy memiliki hubungan positif dengan hasil belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat self efficacy berdasarkan jenis kelamin dan kelas pada peserta didik peminatan ilmu-ilmu sosial SMA Negeri 5 Jember. Sampel melibatkan 103 peserta didik kelas X, kelas XI, dan kelas XII peminatan IPS di SMA Negeri 5 Jember. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah two-way Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) dengan bantuan program SPSS 23 for windows. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat self efficacy yang signifikan berdasarkan jenis kelamin dengan nilai signifikansi 0,000. Peserta didik perempuan mendapat skor self efficacy yang lebih tinggi daripada peserta didik laki-laki. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat self efficacy berdasarkan kelas dengan nilai signifikansi 0,000. Peserta didik di kelas yang lebih rendah mendapatkan skor self efficacy yang lebih tinggi daripada peserta didik di kelas yang lebih tinggi. Pendidik diharapkan mampu melakukan rencana pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan perbedaan tingkat self efficacy peserta didik
Kearifan Lokal Budaya Minang “dima bumi dipijak, disitu langit dijunjung” dalam Konteks Etnopedagogi: Kasus Perantau Minang di Kota Surabaya
Artikel ini berbasis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2018) pada para perantau Minangkabau di kota Surabaya. Tujuan penelitian adalah untuk memhami bagaimana penerapan nilai-nilai Kearifan Lokal Budaya Minang “dima bumi dipijak, disitu langit dijunjuang” dalam Konteks Etnopedagogi oleh Perantau Minang di Kota Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat paling tidak lima nilai-nilai budaya Minangkabau yang sangat penting untuk dimasukkan sebagai bagian dari materi etnopedagogi. Kelima nilai budaya tersebut adalah: 1) Saling menghormati (toleransi), saling menghargai, tenggang rasa, dan inklusif (“Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang”); 2) Hidup mandiri, (“Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun; Marantau Bujang dahulu, Di rumah baguno balun”); 3) Pantang menyerah (“Baraja ka na manang, mancontoh ka nan sudah” dan “Takuruang nak dilua, taimpik nak diateh”); 4) Nilai-nilai agama (“Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”), dan 5) Mempertahankan bahasa lokal. Sebagai konsekuensi dari hidup merantau, peran dan fungsi mamak tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya sehingga pihak orangtua (ayah/bapak) yang mengambil alih
Upaya Peningkatan Pemahaman Mahasiswa Semester I Program Studi Pendidikan Khusus tentang Hambatan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus melalui Simulation Based Learning
Pembelajaran secara umum dilakukan melalui metode ceramah dengan variasi pemberian video pembelajaran dan foto-foto pendukung. Namun hal tersebut belum cukup memberikan konsep yang nyata bagi mahasiswa semester I Program Studi Pendidikan Khusus tentang kondisi yang dirasakan/dialami anak berkebutuhan khusus, hambatan belajar, masalah emosi, perilaku, dan sosial yang dialami. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sejumlah 63,2% (48 dari 76 mahasiswa) sudah mengetahui tentang anak berkebutuhan khusus. Namun dari jumlah tersebut, diketahui bahwa sejumlah 77,1% (37 dari 48 mahasiswa) belum pernah berinteraksi langsung dengan anak berkebutuhan khusus. Pengetahuan terhadap anak berkebutuhan khusus masih sebatas dari informasi orang tua/saudara yang bekerja di bidang pendidikan khusus tetapi belum pernah bertemu langsung dengan anak berkebutuhan khusus dan/atau melalui membaca buku. Sedangkan, sejumlah 22,9% (11 mahasiswa) sudah pernah berinteraksi langsung dengan anak berkebutuhan khusus. Pengalaman tersebut diperoleh karena memiliki tetangga/saudara yang berkebutuhan khusus. Selain itu, ada juga yang karena pernah ke SLB bersama orang tua yang merupakan guru SLB. Tujuan simulation based learning pada mata kuliah Orthopedagogik Umum adalah untuk memberikan pengalaman tentang hambatan yang dihadapi, emosi, dan perilaku masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus. Sehingga mahasiswa dapat memiliki pengalaman dan menemukan solusi/ide-ide dalam menerapkan pendekatan belajar atau media pembelajaran yang dapat meminimalisir dampak ketunaan. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara/testimoni mahasiswa, dan studi dokumentasi terkait pemahamanan profil anak berkebutuhan khusus setelah mengikuti perkuliahan dengan simulation based learning. Selanjutnya, diperoleh hasil penelitian bahwa sejumlah 97,4% (74 dari 76 mahasiswa) dapat memahami konsep dasar dan kebutuhan belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui tahapan simulation based learning, mahasiswa juga menemukan bahwa meskipun anak memliki jenis kebutuhan khusus yang sama, tetapi karakteristik, kebutuhan belajar, dan program pengembangan potensi anak berbeda. Sedangkan 2,6% (2 mahasiswa) masih belum memahami dengan utuh terkait konsep anak berkebutuhan khusus. Meskipun sudah berpartisipasi selama proses simulasi, kedua mahasiswa tersebut masih kesulitan dalam memahami anak berkebutuhan khusus. Disertai dengan semakin rendahnya rasa percaya diri sebagai dampak dari ketidakyakinan akan kemampuan untuk dapat mendidik anak berkebutuhan khusus
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG SUMBER ENERGI PANAS DENGAN METODE DEMONSTRASI MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SDLB NEGERI PANGGUNGSARI TRENGGALEK
Upaya peningkatan hasil belajar siswa tidak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi. Hal ini diperlukan guru yang kreatif dan dapat membantu pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA tentang sumber energi panas dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga pada siswa tunagrahita kelas III SDLB negeri Panggungsari Trenggalek. Subjek penelitian adalah siswa tunagrahita Kelas III SDLB Negeri Panggungsari Semester 2 Tahun Pelajaran 2016/2017 yang siswanya berjumlah 6 anak.Berdasarkan langkah-langkah yang diterapkan dalam 2 siklus pada penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa hsil belajar IPA tentantang sumber energi siswa Tunagrahita kelas III SDLB Negeri Panggungsari Trenggalek mengalami peningkatan setelah diterapkan metode demonstrasi menggunakan alat peraga. Pada siklus I prestasi belajar siswa rata-rata : 68,3 dengan ketuntasan belajar 50 % dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 81,7 dengan ketuntasan belajar 100 %
TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MENGGUNAKAN TEST OF PIAGET’S LOGICAL OPERATION (TLO)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahap perkembangan kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika menggunakan Test of Piaget’s Logical Operations (TLO). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode tes dan wawancara. Fokus penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Ponorogo yang berjumlah 25 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang berada pada tahap konkrit awal adalah 20%, yang berada pada tahap konkrit akhir 44%, yang berada pada tahap formal awal 36%. Berdasarkan rata-rata hasil Test of Piaget’s Logical Operations (TLO) siswa berada pada tahap operasi konkrit akhir, dimana siswa mampu berpikir logi
OPTIMALISASI LAHAN SEMPIT UNTUK BUDIDAYA IKAN LELE SISTEM BIOFLOCK
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah meningkatnya keterampilan dan kemampuan petani lele dalam mengoptimalkan pembenihan ikan lele dengan sistem bioflock. Target yang ingin dicapai adalah meningkatnya produktivitas ikan lele di Kelurahan Merjosari Kota Malang sehingga meningkatkan pendapatan petani lele. Tahapan yang dilakukan adalah diskusi dan sharing dengan masyarakat dan kelompok peternak lele pada tanggal 2 Juli 2017 di rumah salah satu peternak. Hasil diskusi dengan masyarakat dan kelompok peternak lele, seluruhnya sepakat bahwa budidaya ikan merupakan salah satu peluang usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendapatan. Hal ini didukung dengan prospek pasar yang bagus, yaitu daerah kuliner area kampus yang menyebabkan kebutuhan ikan sangat tinggi dan juga banyaknya pasar yang terus dibangun dan dikembangkan di Kota Malang. Pelatihan Budidaya lele sistem bioflock dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2015 di Kelurahan Merjosari Kota Malang. Materi pelatihan meliputi: Proses budidaya ikan lele. Mulai dari pengenalan budidaya ikan lele, kualitas air, pemahaman pakan, pemberian pakan, pemahaman penyakit dan pengobatan, induk dan bibit. Pelatihan pembuatan kolam bioflock dimaksudkan agar mitra mampu membuat kolam dengan menggunakan bahan plastik berdiameter 2 meter sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas. Tahapan berikutnya adalah penyebaran benih, penaburan benih ikan lele dan pendampingan pelaksanaan budidaya lele. Hasil yang dicapai pada saat ini masih membutuhkan tahapan berikutnya yang masih panjang
PENINGKATAN PENDAPATAN KARYAWAN PTPN XII DI KEBUN SUMBER TENGAH MELALUI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PEMANFAATAN BIJI KARET
Kecamatan Silo merupakan salah satu sentra perkebunan karet di Kabupaten Jember. Perkebunan karet tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Silo. Salah satunya adalah perkebunan karet milik PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) yaitu kebun Sumber Tengah. Biji karet selama ini hampir tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali dan hanya dimanfaatkan sebagai benih generatif saja. Biji karet memiliki kandungan minyak nabati dan asam lemak tak jenuh yang tinggi sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan makanan yang sehat. Salah satu alternatif produk olahan yang dapat dibuat dari biji karet adalah tempe. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan praktek. Ibu-ibu PKK kebun berperan sebagai peserta pelatihan. Hasil kegiatan beberapa anggota PKK yang telah memanfaatkan peluang bisnis tempe biji karet. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan ini berhasil memberikan penambahan pendapatan bagi karyawan kebun Sumber Tengah melalui pemberdayaan perempuan. Ketua PKK dan manajer perkebunan menyambut antusias terkait pelaksanaan kegiatan ini. Ketua PKK berharap agar dilakukan kegiatan secara berkesinambungan dan disarankan untuk mengembangkan produk lain yang berbahan dasar biji karet, sehingga bisa diadakan pelatihan kembali
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI 5 PANJI
Kegiatan pelatihan pembuatan media pembelajaran Matematika berbasis IT yaitu Macromedia Flash di SMP Negeri 5 Panji diikuti oleh 8 guru dan 1 kepala sekolah . Berdasarkan hasi pelatihan menunjukkan adanya perbedaan kemampuan memahami dari setiap guru masih belom mampu atau kesulitan mengoperasikan computer dengan baik dan guru masih kakuh, sehingga guru lebih menggunakan media ceramah. Variasi pemahaman didinjau dari aspek dan cara guru memahami dan mampu mempraktekkan membuat media pembelajaran matematika berbasis Macromedia Flash. Guru memerlukan waktu 1 sampai 2 jam membuat media pembelajaran matematika berbasis Macromedia Flash. Dari 8 orang guru di SMP Negeri 5 Panji terutama guru di bidang matematika yang paling menekuni dan menyelesaikan pelatihan pembuatan Media pembelajaran justru dari guru mata pelajaran lainnya kebanyakan guru laki-laki berjumlah 2 orang yang mampu membuat media pembelajarn matematika berbasis Makromedia Flash dari pembuatan profil, menggerakkan bangun, sampai selesai, sehingga hasil yang diperoleh sangat memuaskan
PENGGUNAAN BIOPESTISIDA DAN PUPUK KOMPOS UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAKAO DI DESA BUANGIN KECAMATAN SABBANG KABUPATEN LUWU UTARA
Pemahaman tentang pengelolaan dan perawatan kakao oleh petani di Desa Buangin Kecamatan Sabbang masih sangat terbatas. Penurunan produktivitas kakao, hama penyakit, dan biaya produksi yang tinggi menjadi masalah bagi petani kakao. Berdasarkan masalah tersebut, sehingga tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan serta kemandirian dalam memanfaatkan limbah kakao untuk dijadikan sebagai pupuk kompos dan biopestisida. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan, pembuatan pupuk kompos dan biopestisida serta konsultasi dan pendampingan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan produksi kakao sebesar 10% untuk satu kali panen. Peningkatan produksi kakao disertai dengan penurunan hama penyakit. Selain itu, biaya produksi mengalami penurunan sebesar 20% untuk satu kali pemupukan dan penyemprotan. Pendampingan yang dilakukan dalam pembuatan pupuk kompos dan biopestisida secara berkala membuat petani menjadi lebih mandiri serta memahami tentang cara pembuatan dan pengaplikasian dari pupuk kompos dan biopestisida
PANCASILA SEBAGAI LANDASAN KARAKTER PEMIMPIN MENUJU PERUBAHAN IDEAL
The success of the government or group based on its the leader. There are four basic characteristics of the leader, 1) the regularity of the leader’s action is measured by hierarchy value. The value becomes a guidance for each action; 2) Coherence that gives a bravery, makes someone be unwavering on principle, not easily affected on the new situation, or afraid to face the risk. Coherence is the basic to create trust for one to each other. Without coherence, someone’s the credibility will be cranky; 3) Autonomy, someone internalizes the rule from the outside to personal value. This can be seen on personal action or decisions without intervention from the others; 4) Persistence and loyalty. Persistence is a reflection of someone to achieve a good thing. Loyalty is the basic of respect for the chosen commitment. In addition, the empowerment of a leader to face era development needs a strong basic on him/her, while Pancasila is the right answer to overcome the problems that occur. Pancasila is used as a foundation of Leader’s character and can be a good reason to do and act to solve the problems that exist in Indonesia