Beranda Jurnal Online Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES E-Journal)
Not a member yet
2705 research outputs found
Sort by
Analisis Fenomenologi Perawatan Paliatif Secara Holistik, Psikologi Spiritual Menghadapi Ajal Dengan Penyakit Kanker Prostat Pada Lanjut Uisa
Latar Belakang : Prevalensi kependudukan dunia United Nasional Population Fund Asian (UNFPA) dalam selama lima puluh tahun terakhir, lanjut usia di Indonesia meningkat dari 4,5 persen pada tahun 2019 menjadi sekitar 10,7 persen pada tahun 2020. Penyakit dan kelemahan fisik yang mengancam nyawa, mengalami kekhawatiran yang akan terjadi pada lansia pria, yaitu kanker atau tumor ini menyerang pada usia diatas 50 tahun. Beberapa alternative untuk memberikan ketenangan dari penyakit yang dialami, maka peneliti perawat disini berperan memberikan dan membantu klien untuk beradapti psikologis spiritual supaya menerima keadaannya.Tujuan : penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana persepsi psikologi spiritual, mental kanker prostat pada lanjut usia di Panti Werdha Kabupaten BanyumasMetode : Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Colaizzi pada pasien perawatan paliatif dengan melalui terapi holistic pada penyakit kanker prostat pada lanjut usia, Sampel dalam penelitian ini sejumlah 3 klien dilakukan wawancara dengan format pengkajian, diarahkan kepada topic dalam penelitian berkaitan psikologis spiritual, mental dengan sakit yang sedang dirasakan (kanker prostat). Setelah dilakukan treatmen terapi holistic selama 2 kali dengan terapi morotal dan dzikir dan mengagungkan manunggal gusti lansia katolik.Hasil : penelitian setelah dilakukan terapi holistic dengan morotal dan dzikir menunjukan adanya perubahan pada klien menerima keadaaan yang dirasakan, tidak menampakan cemas, menunjukan apresiasi yang positif, mengungkapkan perasaan nyaman dan tenang menghadapi penyakit kanker prostat.Kesimpulan : Spiritual, dukungan keluarga dan pengalaman pribadi mempegaruhi persepsi lansia tentang kematianKata Kunci : Perawatan Paliatif, Terapi Holistik, Kanker Prostat, Lansi
Edukasi Melalui Video Meningkatkan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang ASI Eksklusif
Latar Belakang: ASI eksklusif merupakan salah satu program yang sedang gencar digalakkan oleh bidang kesehatan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada anak. Di Puskesmas Kedaung Wetan cakupan bayi usia 0 – 6 bulan yang memperoleh ASI eksklusif yaitu 22,1%, angka ini masih di bawah indikator capaian target yaitu 50%. Salah satu penyebabnya yaitu kurangnya pengetahuan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media edukasi video terhadap pengetahuan ibu hamil tentang ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan Kota Tangerang.Metode: Penelitian pre-experimental dengan rancangan one-group pretest-posttest without control group. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022. Subjek pada penelitian ini yaitu ibu hamil sebanyak 40 orang menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil dari 40 responden didapatkan bahwa 29 orang (72,5%) berumur 26 – 35 tahun, 39 orang (97,5%) sebagai ibu rumah tangga, 24 orang (60%) berpendidikan terakhir SD. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, didapatkan bahwa nilai p-value yaitu 0.0001 atau p 0.05 yaitu terdapat pengaruh pemberian media edukasi video terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan.Kesimpulan: Edukasi menggunakan video tentang ASI eksklusif efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan Kota Tangeran
Profil SGOT, SGPT, dan Kreatinin Pada Pasien MDR TB di RS KRMT Wongsonegoro Semarang
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by infection with the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis apabila is not treated immediately or the treatment is not complete can result in complications leading to death. Multidrugs resistant tuberculosis (MDR-TB) is one of the complications where the germ Mycobacterium tuberculosis can no longer bekilled with several Anti-Tuberculosis Drugs (OAT). The prevalence of MDR-TB cases in Semarang City has increased from 35 cases in 2017 to 79 cases in 2018. MDR-TB therapy takes a longer time, which is about 18-24 months. Prolonged exposure to drugs can affect body functions, especially the kidneys and liver organs which play a role in the process of removing toxins and metabolic waste. This study aims to determine the health profile of the kidney and liver organs of MDR TB sufferers through the SGOT SGPT and Creatinine parameters and describe them based on age and age range. This research is adescriptive quantitative research with a cross-sectional approach. Sampling using total samples of 18 patients. The results showed that 33% (n= 6) of patients had increased levels of SGOT and SGPT, while examination of creatinine levels showed that 33% of patients had kidney problems. Men have upnormal SGOT and SGPT levels of 40% ( n=4) compared to women, which is 25% (n=2), while upnormal creatinine levels in men are 40% (n=4) while in women it is 50% (n = 8). Patients over the age of 46 years have the most levels of SGOT SGPT and upnormal creatinine, which is 61% (n=4). The results showed that age and gender had an effect on increasing SGOT SGPT and Creatinine levels in MDR-TB patients.Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis apabila tidak segera ditangani atau pengobatan yang tidak lengkap dapat mengakibatkan komplikasi yang berujung pada kematian. Multidrugs resistant tuberculosis (MDR-TB) merupakan salah satu komplikasi dimana kuman Mycobacterium tuberculosis tidak dapat lagi dibunuh dengan beberapa Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Prevalensi kasus TB-MDR di Kota Semarang mengalami peningkatan dari 35 kasus pada tahun 2017 menjadi 79 kasus pada tahun 2018. Terapi MDR-TB membutuhkan waktu yang lebih lama, yaitu sekitar 18-24 bulan. Paparan obat yang terlalu lama dapat memengaruhi fungsi tubuh, terutama ginjal dan organ hati yang berperan dalam proses pembuangan racun dan sisa metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kesehatan ginjal dan organ hati penderita TB MDR melalui parameter SGPT dan Kreatinin SGOT serta mendeskripsikannya berdasarkan usia dan rentang usia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif adeskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampel sebanyak 18 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33% (n = 6) pasien mengalami peningkatan kadar SGOT dan SGPT, sedangkan pemeriksaan kadar kreatinin menunjukkan bahwa 33% pasien mengalami masalah ginjal. Pria memiliki kadar SGOT dan SGPT upnormal sebesar 40% (n = 4) dibandingkan dengan wanita, yaitu 25% (n = 2), sedangkan kadar kreatinin upnormal pada pria adalah 40% (n = 4) sedangkan pada wanita adalah 50% (n = 8). Pasien di atas usia 46 tahun memiliki kadar SGOT SGPT dan kreatinin upnormal terbanyak, yaitu 61% (n = 4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia dan jenis kelamin berpengaruh terhadap peningkatan kadar SGT dan Kreatinin pada pasien TB-MDR
Derajat Aglutinasi pada Pemeriksaan Golongan Darah Metode Tabung Berdasarkan Masa Simpan Test Sel A dan Test Sel B Hari Ke-0, Ke-2, Ke-4, Ke-6 dan Ke-8
Blood group examination is an examination that aims to determine the type of blood group. Cell test is a blood group examination reagent used to detect antibodies in the serum being examined. The long shelf life of cell tests that can only last for two days is considered less effective for agencies with a high level of blood services. The purpose of this study was to describe the degree of agglutination in blood group examination with cell test A and B stored on the 0th, 2nd, 4th, 6th, and 8th days. This study is a descriptive study with a Quasi Experimental research design. Test cell A and test cell B were made from red blood cell specimens of 3 blood type A and 3 blood type B respectively. Test cells are stored in a refrigerator with a temperature of 2-6° C. Test cells were then examined on the 0th, 2nd, 4th, and 6th day of storage. Calculation of samples and repetitions using the Federer formula with the number of treatments in this study is 5 treatments. Based on the calculation, one sample of test cell A and test cell B was obtained with five repetitions of each examination. The results showed that on the 0th, 2nd, 4th, and 6th day of cell test storage, the results of blood type examination were obtained, namely the degree of agglutination 4+ with erythrocytes in the cell test clumping into one bond, cells forming large agglutination with clear supernatant. On the 8th day of storage, the result of agglutination degree is 3+ with erythrocytes in test cells not clumping perfectly, there are erythrocyte granules and cloudy supernatant. Based on the results of the study, it is concluded that test cell A and test cell B can be used optimally until day 6 storage.Pemeriksaan golongan darah adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk menentukan jenis golongan darah. Test sel adalah reagen pemeriksaan golongan darah yang digunakan untuk mendeteksi antibodi dalam serum yang diperiksa. Lama masa simpan test sel yang hanya dapat bertahan selama dua hari dinilai kurang efektif bagi instansi dengan tingkat pelayanan darah yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan derajat aglutinasi pada pemeriksaan golongan darah dengan test sel A dan B yang disimpan pada hari ke-0, ke-2, ke-4, ke-6, dan ke-8. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian Quasi Eksperimental. Test sel A dan test sel B dibuat dari spesimen sel darah merah masing-masing 3 golongan darah A dan 3 golongan darah B. Test sel disimpan dalam refrigerator dengan suhu 2-6°C. Test sel kemudian dilakukan pemeriksaan pada penyimpanan di hari ke-0, ke-2, ke-4, dan ke-6. Perhitungan sampel dan pengulangan menggunakan rumus Federer dengan jumlah perlakuan dalam penelitian ini adalah 5 perlakuan. Berdasarkan perhitungan, didapatkan satu sampel test sel A dan test sel B dengan lima kali pengulangan tiap pemeriksaan. Hasil penelitian menunjukkan pada penyimpanan test sel hari ke-0, ke-2, ke-4, dan ke-6 didapatkan hasil pemeriksaan golongan darah yaitu derajat aglutinasi 4+ dengan eritrosit dalam test sel menggumpal menjadi satu ikatan, sel membentuk aglutinasi yang besar dengan supernatan jernih. Pada penyimpanan hari ke-8 didapatkan hasil derajat aglutinasi 3+ dengan eritrosit dalam test sel tidak menggumpal sempurna, terdapat butiran-butiran eritrosit serta supernatan yang keruh. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan test sel A dan test sel B dapat digunakan secara optimal hingga penyimpanan hari ke-6
Uji Kualitas Telur Cacing STH Menggunakan Pewarna Alami Perasan Daun Jati (Tectona grandis) dengan Konsentrasi 40%, 60%, 80%, 100% sebagai Pewarna Alternatif Metode Sedimentasi
Helminthiasis is a parasitic infection in the form of worm larvae or eggs that develop in the human body. Diagnosing helminthiasis with fecal examination uses 2% eosin dye to clarify and emphasize the shape of worm eggs. Eosin 2% is a class-3 IARC carcinogenic reagent, so a natural reagent that does not damage the environment is needed. Reagents from natural materials that can be utilized are teak leaves containing anthocyanin compounds that can clarify and emphasize the shape of worm eggs. The purpose of this study was to determine the quality of sth (soil transmitted helminth) worm eggs using natural dye teak leaf juice (tectona grandis) with a concentration of 40%, 60%, 80%, 100% as an alternative dye sedimentation method. The design of this study is quantitative with experimental design with posttest with control group design with Kruskal-Walis test. The results of this study obtained the concentration with the highest average value, namely 40% concentration of 8.7. The higher the concentration, the less clear the morphology of the egg because of the influence of dirt / residue from the juice. The results of the Kruskal-Walis test sig value 0.054, it can be concluded that there is no difference between teak leaf juice with a concentration of 40%, 60%, 80%, and 100% with 2% eosin dye as a control. Based on the mean rank value of the Kruskal-Walis test, it can be seen that the best teak leaf juice concentration is 40% concentration with a value of 34.50. This research can be used as a reference for the utilization of teak leaves as a natural dye to replace 2% eosin for STH worm eggs.Kecacingan adalah infeksi parasit berupa larva atau telur cacing yang berkembang pada tubuh manusia. Penegakan diagnosa kecacingan dengan pemeriksaan feses menggunakan pewarna eosin 2% untuk memperjelas serta mempertegas bentuk telur cacing. Eosin 2% termasuk reagen karsinogenik IARC kelas-3, sehingga diperlukan reagen alami yang tidak merusak lingkungan. Reagen dari bahan alam yang dapat dimanfaatkan adalah daun jati mengandung senyawa antosianin yang dapat memperjelas serta mempertegas bentuk telur cacing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas telur cacing sth (soil transmitted helminth) menggunakan pewarna alami perasan daun jati (tectona grandis) dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%, 100% sebagai pewarna alternatif metode sedimentasi. Desain dari penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan eksprimental dengan posttest with control group design dengan uji Kruskal-Walis. Hasi penelitian ini didapatkan konsentrasi dengan nilai rata-rata paling tinggi yaitu konsentrasi 40% sebesar 8.7. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin kurang jelas morfologi telur karena adanya pengaruh kotoran/sisa dari perasan. Hasil dari uji Kruskal-Walis nilai sig 0.054, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan antara perasan daun jati dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%, dan 100% dengan pewarna eosin 2% sebagai kontrol. Berdasarkan nilai mean rank uji Kruskal-Walis dapat dilihat bahwa konsentrasi perasan daun jati terbaik adalah konsentrasi 40% dengan nilai 34.50. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk pemanfaatan daun jati sebagai pewarna alami pengganti eosin 2% untuk telur cacing STH
Effectiveness Of Puzzle Game As Distraction Method To Reduce Anxiety Of Hopitalized Children Aged 3-6 Years Old (Case Study At Gondo Suwarno Hospital Semarang)
Hospitalization is often interpreted as a punishment for children, then the child will feel embarrassed, afraid, anxious, thus causing the child to act aggressively, angry, rebellious, often ask questions, not want to eat, not cooperate until he loses control and limited activities which makes treatment difficult. hospitals could be hampered. This study is to provide nursing care for children by applying puzzle play therapy to reduce anxiety in preschool aged children (3-6 years) with hospitalization at RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran. The design of this scientific work uses a case study approach based on inclusion and exclusion criteria. Observation of anxiety levels using the Preschool Anxiety Scale Revised (PASR) questionnaire. The results was focused on the nursing problem raised was to reduce anxiety in pre-school children (3-6 years) with hospitalization. The intervention is based on SIKI and SLKI with EBNP intervention in the form of providing puzzle playing therapy. This puzzle playing therapy lasts for 3 days with a duration of 10-15 minutes in one meeting. Giving EBNP shows a decrease in anxiety so that nursing problems can be resolved. There were 3 respondents aged 3-6 years, female and male, hospitalized. 3 clients experience moderate anxiety, appear fussy, quiet, avoid eye contact, appear tense. After the puzzle therapy intervention was carried out, the three clients experienced mild anxiety, appeared calm, and felt less tense. It can be concluded that puzzle game was effective to reduce anxiety of the hospitalized children from moderate to mild anxiety.Keyword: anxiety, preschool children, puzzle game, hospitalizatio
Hubungan Karakteristik Demografi Terhadap Pengetahuan SIBAT Di Bantaran Sungai Bengawan Solo
ABSTRACTBackground: Climate change in Indonesia is strongly influenced by 3 basic climate patterns: monsoon, equatorial and local climate systems which cause dramatic differences in rainfall patterns, tending to give rise to a high potential for various types of hydrometeorological disasters, such as floods, flash floods, droughts, weather extreme, extreme waves. The community-based early warning system for flood disaster preparedness (SIBAT) is one of the means for preventing flood disasters.The aim of this research is to describeThe relationship between the characteristics of sibat cadres and knowledge about community-based early warning system strategies for flood disaster preparedness (sibat) on the banks of the Bengawan Solo River, Blora Regency. Research methods This is a quantitative approachcross sectional with a total sample of 110 SIBAT cadres selected using the Slovin method. Data was collected using a questionnaire sheet, then analyzed usingChi Square. The research results show that from3 The independent variable is significantly related to the dependent variable, the age variable with pvalue 0.013, gender variable with pvalue 0.071, education level variable with pvalue 0.013. which means that each variable has a strong relationship with the dependent variable, namely with knowledge about the Community-based Disaster Information System on the banks of the Bengawan Solo River.Keywords: SIBAT cadres, disaster preparedness, flood
Efektivitas Peer Group terhadap Konsumsi Tablet Fe pada Remaja Putri
The problem encountered was the attitude of not wanting to take Fe tablets with the reason that it was uncomfortable because of the bad smell and taste like iron. The factor of routine consumption of Fe tablets can be encouraged by applying the Peer Group Education method. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the Peer Group on increasing the consumption of Fe tablets in adolescent girls. Peer groups is a form of education that emphasizes behavior change and this method interaction occurs within the group. This type of research is a Quasi Experiment with a Non Equivalent Control Group Design. The population in this study were all female students of class VIII at SMP Negeri 4 Samarinda, totaling 190 students. Sampling using the Simple Random Sampling technique with the Mann Whittney U-Test test. 85.7% of respondents were in the effective category, and 100% of the respondents were in the routine category. So that there is the effectiveness of the Peer Group on increasing consumption of Fe tablets (p value = 0.00) with a value of = 0.05. Group education by peers (peer education) is a process of communication, information, and education (IEC) carried out by and for peers through the formation of peer groups. It also functions as a forum for sharing among group members so that teenagers exchange ideas and remind each other about consuming Fe tablets
THE EFFECT OF VIDEO COUNSELING ON PERSONAL HYGIENE KNOWLEDGE IN ADOLESCENT GIRLS
Personal hygiene is important for the health of adolescent girls. Video counseling is effective in improving hygiene knowledge, especially due to its easy access and good visualization. The research method used an experimental design with one group of adolescent girls aged 13-18 years from junior high school. Hygiene knowledge was measured before and after video counseling. The research results showed a significant increase in hygiene knowledge after the video intervention. This indicates the effectiveness of video counseling in raising awareness among adolescent girls about personal hygiene. In conclusion, video counseling is effective in enhancing hygiene knowledge among adolescent girls. Recommendations for health counseling include using engaging and effective video media
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM DETEKSI DINI KEGAWATDARURATAN IBU HAMIL DAN JANIN DI WILAYAH BINAAN KELURAHAN KURIPAN KERTOHARJO
Latar Belakang : Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepadamasyarakat setempat agar mengetahui deteksi dini pada kegawatdaruratan ibuhamil dan janin. Pada era milenial didukung dengan menggunakan aplikasi yangbisa menunjang deteksi dini yaitu aplikasi mother. Masyarakat setempat diedukasiuntuk menurunkan tingkat mortalitas dan bisa meningkatkan berbagai cara untukmembuat berbagai menu untuk mengurangi tingginya KEK dan anemia pada ibuhamil. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan pengabdian kepadamasyarakat dalam deteksi dini pada kegawatdaruratan ibu hamil dan janin padawilayah binaan Kelurahan Kuripan KertoharjoTujuan: metode pemberdayaan meliputi pelatihan dan pendampingan yangbertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang deteksi dinikegawatdaruratan ibu hamil dan janin melalui pembuatan menu yang bergizi.Metode: Dilakukan pre test sebelum dilakukan pelatihan dan pendampingankemudian post test di akhir. Penambahan deteksi dini menggunakan aplikasimother serta meningkatkan edukasi variasi menu pada ibu hamil sebagai menuyang menarik dan bergizi.Hasil Kegiatan: Hasil akhir kegiatan pengabdian ini dapat dilihat padapengetahuan sasaran kegiatan dalam deteksi dini pada kegawatdaruratan ibuhamil dan janin. Meningkatkan variasi menu sebagai makanan yang menarik sertabergizi.Kesimpulan: Kegiatan pemberdayaan meningkatkan pengetahuan tentangvariasi menu sebagai makanan yang menarik serta bergizi untuk deteksi dinikegawatadaruratan ibu hamil dan janin.Kata Kunci : Deteksi dini, Kegawatdaruratan Ibu hamil, Kegawatdaruratan Jani