Beranda Jurnal Online Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES E-Journal)
Not a member yet
2705 research outputs found
Sort by
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN TB PARU DI POLI PARU RSUD KARDINAH KOTA TEGAL
Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Pengobatan TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat dan dosis tepat selama 6-8 bulan supaya semua kuman (temasuk kuman persiter) dapat dibunuh. Pasien menyadari bahwa ketika pasien didiagnosa menderita penyakit TB, maka secara otomatis pasien tersebut harus mengikuti program pengobatanyang relatif lama yaitu minimal 6 bulan. Perasaan takut yang dialami penderita Tuberculosis (TB) yang disebabkan oleh ketidakmampuan mereka menjalankan pengobatan TB dengan baik serta waktu pengobatan yang lama akan menimbulkan kecemasan dalam diri penderita TB. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien TB paru di poli paru RSUD Kardinah Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dan Analisa data dalam penelitian ini, yaitu: univariat dan penyajian data menggunakan distribusi frekuensi. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien TB yang sedang dalam pengobatan yang bersedia menjadi responden, diambil sebanyak 51 sampel dari bulan Juni-Agustus 2024 yang datang dan berobat di poli paru RSUD Kardinah Kota Tegal. Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu tingkat kecemasan pasien TB Paru, instrumen yang digunakan dengan lembar kuesioner modifikasi HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale). Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kecemasan dengan total sebanyak 30 orang (59%) yang terbagi dalam Kecemasan Ringan sebanyak 10 orang (20%), Kecemasan Berat Sekali 9 Orang (18 %), Kecemasan Berat 6 Orang ( 12%) dan Kecemasan Sedang 5 orang (20%). Dan sebanyak 21 orang masuk ke dalam kategori tidak ada kecemasan (41%)
PENERAPAN TERAPI OKUPASI MEMASAK TERHADAP PENURUNAN TANDA DAN GEJALA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI:HALUSINASI PENDENGARAN DENGAN DIAGNOSA SKIZOFRENIA DI RSJD Dr.RM. SOEDJARWADI KLATEN
Halusinasi adalah suatu kondisi di mana seseorang tidak mampu membedakan antara kehidupan nyata dan kehidupan palsu. Dampak akibat pasien dengan gangguan halusinasi mengalami panik, semua tindakan dikendalikan oleh halusinasinya, dapat bunuh diri atau membunuh orang, dan perilaku kekerasan lainnya yang dapat membahayakan dirinya maupun orang disekitarnya. Salah satu cara untuk mengobati pasien halusinasi adalah terapi okupasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan terapi okupasi memasak terhadap penurunan tanda dan gejala pada pasien dengan masalah keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang dilakukan pada dua orang pasien dengan masalah keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran diruang rehabilitasi. Instrument yang digunakan adalah Auditory Hallucinations Rating Scale AHRS. Hasil penerapan terapi okupasi memasak menunjukkan bahwa Ny S dan Ny.N sebelum penerapan dilakukan memilki skor halusinasi 23:16, Pada penerapan yang telah dilakukan terdapat perkembangan pada 2 responden yaitu mengalami penurunan tingkat halusinasi menjadi 15:9. Terdapat perbandingan perkembangan antara tingkat halusinasi sesudah dan sebelum terapi okupasi memasak. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa penerapan terapi okupasi memasak dapat mengatasi masalah keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran
Sarana Air Bersih Jenis Perpipaan (PDAM) di Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu, Kalimantan Timur
Pemanfaatan penggunaan PDAM sebagai sarana penyedia air bersih utama, masif digunakan oleh masyarakat di Kelurahan Air Putih, Kalimantan Timur. Pentingnya pemenuhan persyaratan baik kualitas, kuantitas hingga kontinuitasnya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih guna menunjang derajat kesehatan masyarakat. Oleh sebeb itu, penelitian ini mencoba menggambarkan adanya potensi risiko pencemaran pada sarana air bersih yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif, dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara secara langsung, guna dapat ditarik sebuah kesimpulan dari informasi yang didapatkan. Adapun sampel penelitian adalah 30 KK dengan sistem purposive sampling. Sebanyak 21 KK (70%) termasuk pada kelompok penggunaan sarana air bersih yang tidak berisiko terhadap pencemaran air. Sedangkan 9 KK (30%) termasuk dalam kelompok yang berpotensi memiliki risiko terjadinya pencemaran sarana air bersih. Hal tersebut berdasarkan pada ditemukannya potensi cross-connection pada jaringan perpipaan masyarakat. Perlunya upaya monitoring dan evaluasi berkala yang dilakukan untuk dapat meminimalisir terjadinya kejadian tersebut
Analisis Pemodelan Capaian Sarana Sanitasi Dasar Rumah dengan Kejadian Stunting pada Balita
Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu dari 12 provinsi yang mempunyai prevalensi stunting tertinggi pada balita. 19 kab/kota diantaranya memiliki kategori kuning (20-30%), termasuk Kab. Banyumas sebesar 21,6%. Tujuan penelitian untuk menganalisis pemodelan capaian sarana sanitasi dasar rumah dengan kejadian stunting pada Balita. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional study. Penelitian dilakukan di 33 Puskesmas dari 40 Puskesmas yang ada. Teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dan regresi linear ganda. Capaian sarana sanitasi dasar rumah di Kab. Banyumas tahun 2021 meliputi Sarana Penyediaan Air Bersih/SPAB (Mean=75,4%; Median=81,5%; Min-Max=30,6%-96,0% dan Standard Deviasi (SD) =17,4%), Sarana Pembuangan Tinja/SPT (Mean=76,8%; Median=77,7%; Min-Max=53,5%-94,3% dan SD=11,8%), Sarana Pembuangan Sampah/SPS (Mean=60,1%; Median=63,7%; Min-Max=0%-91,4% dan SD=27,4%), Sarana Pembuangan Limbah Cair/SPLC (Mean=46,7%; Median= 46,0%; Min-Max=0%-92,0% dan SD=27,4%) dan kejadian stunting (Mean=11,2%; Median=11,7%; Min-Max=3,7%-17,2% dan SD=3,6%). Hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear capaian sarana penyediaan air bersih (p-value=0,02) dan sarana pembuangan tinja (p-value=0,04) dengan kejadian stunting pada balita. Persamaan model regresinya adalah stunting=22,879-0,068*SPAB-0,086*SPT, artinya bahwa semakin meningkatnya capaian sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja maka diprediksi akan semakin menurunkan kejadian stunting pada balita di Kab. Banyuma
Gambaran Nilai Index Trombosit pada Pasien Tuberulosis Paru yang Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis
Tuberculosis (TB) is a disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis which mostly attacks the lungs. Based on several studies, it is stated that tuberculosis sufferers who take OAT for healing experience side effects in the form of lowering the platelet index due to reactions from drugs that lyse platelets. This research is a descriptive study with a cross sectional design. Research was conducted on 30 respondents who consumed OAT. The results of this study obtained results of more than 50% on one of the platelet indices, namely the PWD value, which was obtained with low results with a total of 19 patients (63.3%), while for other indices such as platelet counts there were 21 patients (70%) , MPV in 28 patients (93%) and PCT in 23 patients (77%) had normal results. The conclusion of this study is that platelet index examinations in TB patients tend to be low in MPV and PDW, while they show high results in PLT and PCT examinations.Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru. Berdasarkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa penderita tuberculosis yang mengonsumsi OAT untuk kesembuhan mendapatkan efek samping berupa penurusan index pada trombosit diakibatkan reaksi dari obat yang melisiskan trombosit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada 30 responden yang mengkonsumsi OAT. Hasil penelitian ini di dapat hasil lebih dari 50% pada salah satu index trombosit yaitu nilai PWD yang didapatkan hasil yang rendah dengan jumlah sebanyak 19 pasien (63,3%), sedangkan untuk index yang lain seperti jumlah trombosit sebanyak 21 pasien (70%), MPV sebanyak 28 pasien (93%) dan PCT sebanyak 23 pasien (77%) memiliki hasil yang normal. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu pemeriksaan index trombosit pada pasien TBC cenderung rendah pada MPV dan PDW sedangkan menunjukan hasil tinggi pada pemeriksaan PLT dan PCT
Gambaran Pola Makan Remaja dan Status Gizi di SMA Swasta Katolik Budi Murni 2 Medan Tahun 2023
Background: Nutritional status is a condition caused by a balance between the intake of nutrients from food with the needs of nutrients needed for the body's metabolism. Nutritional status in adolescents often experience food intake, causing nutritional imbalances in the body. Adolescents who are malnourished will cause the body's immune system to become weak so that it is susceptible to disease, especially the risk of infectious diseases and non-communicable diseases. Imbalance of food consumed with the needs in adolescents can cause nutritional problems, both undernourished and overnourished. Based on an initial survey of adolescents at Budi Murni 2 Catholic Private High School Medan, it was found that the nutritional status was less than 20%. Objective: This study aims to determine the picture of adolescent diet with nutritional status at Budi Murni 2 Catholic Private High School Medan in 2023. Methods: This study was descriptive with a cross-sectional design. The population is 425 people, with a sample of 70 people, using simple random sampling techniques. Data collection using interview and observation techniques using questionnaires. Results: The results of the study found that the diet of adolescents staple foods with sufficient categories was 62.9%, animal side dishes in the sufficient category by 67.1%, sufficient vegetable side dishes by 68.6%, sufficient vegetables by 51.4%, sufficient fruits by 51.4%, more snacks by 50.0% and sufficient drinks by 62.9% while the nutritional status of the normal category was 58.6%. Conclusion: It is expected that adolescents can regulate a good and regular diet by eating three times a day and consuming staple foods, side dishes, vegetables, fruits and water in a balanced manner
Implementation of the Prolanis Online Health Service Management Information System Application (SIMPELPRO) at the Semarang City Public Health Center , Case Study at Padangsari Public Health Center Semarang City
The government is working to reduce the prevalence of chronic diseases and prevent people with chronic diseases from entering the complication stage. One form of effort in this regard is through the chronic disease management program (Prolanis). So that the participants do not know the types of activities and schedules of Prolanis activities so that participants do not take advantage of them. The purpose of this study was to examine the implementation of the online prolanis service management information system application (SIMPELPRO) at the Semarang City Public Health Center, a case study at the Padangsari Public Health Center. This research method is descriptive, with primary data sources from interviews, documentation studies and literature. System design using the prototype method. Prototypes were made and evaluated, and continued to the implementation stage. The result of this study Has been developed using SIMPELPRO web based application for service management of Prolanis activities. The focus of the application in this research is still on the presentation of the health education materials. The development uses the prototype method with UML as a design tool. The application has received positives feedbacks from Prolanis participants, Although some participants have complainedabout limited access to smartphones and the need for assistance for elderly participants
GAMBARAN PROFIL LIPID (HDL, LDL, KOLESTEROL DAN TRIGLISERID) PADA ORANG DENGAN STATUS GIZI BERLEBIH
Latar Belakang : Status gizi berlebih atau disebut status gizi lebih merupakan istilah yang digunakan untuk kelebihan berat badan dimana berat badan seseorang melebihi berat badan normal yang terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Status gizi berlebih diantaranya overweight dengan indeks masa tubuh (IMT) 25,0-27,0 sedangkan obesitas apabila nilai IMT 27 ke atas. Menurut WHO, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di seluruh dunia, 18 tahun mengalami kelebihan berat badan. Lebih dari 600 juta mengalami obesitas. Diperkirakan prevalensi obesitas di Amerika Serikat tetap lebih tinggi dari golongan orang sehat 2020 14,5% di antara pemuda dan 30,5% di antara orang dewasa. Kolesterol merupakan salah satu komponen lemak atau lipid yang berwarna kekuningan menyerupai lilin. Kolesterol juga dibuat oleh tubuh sendiri (hati) bahkan, sekitar 70% kolesterol dalam darah merupakan hasil sintesis di dalam hati, karena memang diperlukan untuk membentuk otak, membangun sel-sel, serta memproduksi empedu, dan memproduksi hormon-hormon. Tingginya kadar kolesterol di dalam darah merupakan permasalah yang serius, karena merupakan salah satu faktor resiko dari berbagai macam penyakit. Jika kolesterol tidak ditangani maka kolesterol yang tinggi dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang berbahaya.Kadar kolesterol yang tinggi di dalam pembuluh darah dapat menyebabkan gumpalan dalam saluran pembuluh darah.Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan rancangan survei melalui pemeriksaan profil lipid Populasi dalam penelitian ini yaitu 20 orang dengan status gizi lebih yang berusia antara 25 sd 55 tahun.dan tidak merokok.Hasil : Mean kadar HDL yaitu 71.65 mg/dl.Mean kadar LDL yaitu 143.77 mg/dl.Mean kadar trigleserida yaitu 299.52 mg/dl. Mean kadar kolesterol total yaitu 234.58 mg/dl mg/dl.Simpulan : Kadar profil lipid ( LDL,HDL, kolesterol total, trigliserida ) pada orang dengan status gizi lebih mengalami peningkatan
PENGARUH PIJAT ABDOMEN TERHADAP KONSTIPASI PADA LANSIA PENGHUNI PANTI JOMPO
Constipation is a symptom of difficulty defecating which is characterized by hard stool consistency, large size, and decreased frequency of defecation which is common in the elderly. Abdominal massage is an intervention that increases intra-abdominal pressure, which can stimulate defecation in the rectum. The aim of this research is to determine the effect of abdominal massage therapy as a solution to treat constipation in the elderly. Thirty elderly people with constipation and constipation problems were recruited using purposive sampling to undergo abdominal massage. pre-experiment one group pre-post test design was used to measure the level of constipation. The Wilcoxon Test results prove (Wcount = 40.05), meaning that abdominal massage can reduce constipation in the elderlyKeywords: Constipation, Abdominal Massage Therapy, Elderl
IMPROVING BITEWING RADIOGRAPHY: EVALUATING THE EFFECT OF A DENTAL X-RAY POSITIONER ON IMAGE QUALITY IN DENTAL EXAMINATIONS
Bitewing radiography is a valuable tool in detecting and monitoring dental decay and other oral health problems and is typically performed as part of a routine dental examination. It has certain limitations that should be considered. Some of these limitations may cause discomfort or pain to the patient if not positioned correctly. Some patients may find biting down on the film holder difficult or have a strong gag reflex, making the procedure uncomfortable or even impossible. Bitewing radiography can be costly, especially if it needs to be performed regularly, which may limit access to this diagnostic tool for some patients. This study aimed to evaluate the effect of a dental X-ray positioner with a silicone layer on the quality of radiographic images in posterior bitewing dental examinations. Using this positioner was expected to improve the precision of radiographic interpretation and subsequent patient treatment. The study used a multivariate general linear model to analyze the data obtained from radiographic images using the X-ray positioner with the silicone layer and the conventional X-ray positioner. The results showed no significant difference in image quality between the two positioners, indicating that adding the silicone layer did not significantly improve image quality. However, using any X-ray positioner is still beneficial in ensuring accurate radiographic interpretation and subsequent patient treatment