e-Publikasi Ilmiah Unwahas (Universitas Wahid Hasyim)
Not a member yet
    4995 research outputs found

    Isu Covid 19 Dalam Konteks Human Security

    No full text
    Penelitian ini membahas tentang isu covid 19 dalam konteks Human Security. Keberadaan Covid 19 saat ini ini masuk sebagai salah satu issue keamanan dari segi kesehatan didalam kerangka human security issue. Adapun dalam membuat kebijakan penanganan masalah tersebut digunakanlah pendekatan kebijakan human security dengan mempertimbangkan beberapa hal: Evidence Base Approach, merupakan suatu pendekatan berbasis bukti pada agenda nasional dan internasional untuk kebijakan kesehatan dan penelitian kesehatan. Dalam hal ini harus didukung oleh bukti yang sahih mulai dari asal mula seseorang terjangkiti, jumlah orang yang berinteraksi dengan korban, jumlah korban dan lain sebagainya. Collaboration Methode, secara khusus bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan tim ketika mereka terlibat dalam pemecahan masalah secara kolaboratif. Bahwa dalam membuat kebijakan terkait masalah kesehatan yang dalam hal ini Covid 19 diperlukan sinergi diantara stakeholder lintas sektoral. Smart-Speed-Solidarity, Smart adalah bersikap, berpikir dan bertindak secara cerdas dalam tindakan yang kita lakukan. Smart terwujud melalui olah rasa melalui intuisi yang tajam, olah rasio melalui kreativitas dan inovasi yang menghasilkan terobosan (breakthrough), dan olah raga melalui aksi-aksi impresif. Speed kecepatan dalam berpikir (fast thinking), kecepatan dalam memutuskan (fast decision), dan kecepatan dalam masuk ke pasar (fast in getting to market) dengan menyingkirkan belitan-belitan birokrasi yang ada. Simplify the complex things. Sederhanakan sesuatu yang rumit agar kita bisa bergerak cepat dan tepat dalam penyampaian kebijakan kepada masyarakat/warga negara. Solidarity adalah kekompakan dan persatuan menuju Indonesia Incorporated yang melibatkan beragam pihak dan stakeholder. Dalam konteks ini dalah tercapainya tujuan yang diharapkan dari sebuah kebijakan utamanya kebijakan dalam menghadapi Covid 19 ini. Governance-Risk-Compliance, merujuk pada strategi yang terkoordinasi untuk mengelola isu-isu, risiko dan kepatuhan terkait dengan suatu kebijakan. Governance secara sederhana merupakan tata kelola yang etis dan efektif oleh level eksekutif dan manajerialnya. Risk, merupakan kemampuan untuk secara efektif dan efisien mengurangi risiko yang dapat menghambat. Complience, merupakan kepatuhan, kesesuaian dengan persyaratan peraturan untuk operasional, penyimpanan data, dan praktik lainnya dalam kebijakan yang akan diimplementasikan. Saat ini, Covid-19 menjadi ancaman serius bagi populasi umat manusia yang ada di muka bumi karena walaupun ia berdimensi keamanan kesehatan, tetapi berdampak pada dimensi keamanan lainnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam studi-studi keamanan (security studies), Covid-19 dapat dimasukkan sebagai ancaman keamanan non-tradisional, atau lebih spesifiknya ancaman keamanan manusia (human security). Dalam konteks studi keamanan, Covid-19 memerlukan peran serta berbagai aktor nasional dan lintas-negara, negara dan aktor-negara dalam upaya penyelesaiannya. Dalam kategori itu, negara perlu bekerja sama dengan berbagai aktor non-negara (baik sipil maupun militer) untuk memastikan kewaspadaan nasionalnya. Atau bahkan Indonesia juga perlu bekerjasama dengan negara-negara lain, termasuk ASEAN

    GAMBARAN POGRAM KOTAKU ( KOTA TANPA KUMUH ) KOTA SEMARANG TAHUN 2019 ( STUDI EVALUASI KEBIJAKAN )

    No full text
    Kapasitas Pendampingan Desa adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan/ tindakan pemberdayaan masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi Desa. Pendampingan Desa dalam rangka implementasi UU Nomer 6 Tahun 2014 tentang Desa sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Melihat kondisi Desa saat ini yang sangat heterogen sekali baik kuantitas, kualitas atau kapasitasnya dan bahkan potensi SDA dan SDM nya sangat bervariatif, maka peran pendampingan desa dalam rangka implementasi UU Desa ini sangat penting dalam membantu desa melaksanakan amanah UU Desa tersebut. Pendamping Desa bertugas mendampingi Desa dalam penyelenggaraan pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa di Jawa Tengah. Secara kuantitas sebagian besar desa saat ini tidak memiliki perangkat yang lengkap sebagaimana diatur dalam PP 43 /2014 pasal 61-pasal 64. Sementara itu perangkat yang tersedia kapasitasnya masih perlu ditingkatkan. Kedua, kualitas penyususunan dokumen Perencanaan Pembangunan Desa (RPJM Desa, RKP Desadan APB Desa). Berdasarkan PP 43 /2014 pasal 114-115 dan PP 60 /2014 pasal 20 disebutkan penggunaan Dana Desa mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Pendamping Desa melaksanakan tugas mendampingi Desa dalam imlementasi UU Desa di Jawa Tengah yang meliputi antara lain: a. mendampingi Desa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan terhadap pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa; b. mendampingi Desa dalam melaksanakan pengelolaan pelayanan sosial dasar, pengembangan usaha ekonomi Desa, pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tepat guna, pembangunan sarana prasarana Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa; c. melakukan peningkatan kapasitas bagi Pemerintahan Desa, lembaga kemasyarakatan Desa. Implementasi UU Desa tidak hanya ditentukan oleh Pendamping Desa, tetapi juga oleh Pemerintahan Desa yang menguasai teknis dan mekanisme mengelola keuangan yang terlatih, profesional dan penguasaan pendampingan program pemberdayaan masyarakat desa dengan dibantu dan di fasilitasi oleh tenaga pendamping masyarakat. Kata Kunci : Kapasitas Pendamping Desa, Implementasi, Undang-Undang Desa

    PEMANFAATAN ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN COD(CHEMICAL OXYGEN DEMOND), pH, BAU, DAN WARNA PADA LIMBAH CAIR TAHU

    No full text
    Di Indonesia banyak terdapat industri tahu mulai dari industri kecil sampai ke industri besar. Dari kegiatan industri tersebut, timbul limbah yang mengandung zat organik sangat tinggi. Kandungan zat organik dalam limbah cair tahu berpotensi mencemari lingkungan, sehingga perlu adanya pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk melakukan penanganan terhadap limbah yang timbul tersebut. Salah satu upaya awal untuk menangani hal tersebut adalah melakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan eceng gondok untuk menurunkan kandungan COD, meningkatkan/ menormalkan pH, menjernihkan limbah, dan mengurangi bau yang timbul.Penelitian ini dilakukan di pabrik pengolahan tahu Desa Cangkiran Kota Semarang. Penelitian ini memanfaatkan eceng gondok untuk menyerap limbah organik yang menyebabkan limbah cair menjadi COD tinggi, pH rendah, warna keruh dan berbau sangat menyengat. Proses penanaman dilakukan dalam bak beton dengan ukuran panjang 150 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 120 cm. Dalam penelitian ini diamati penurunan kandungan COD, peningkatan pH, perubahan warna, dan perubahan bau yang timbul setiap hari selama 8 hari dengan menggunakan media eceng gondok.Hasil percobaan Terjadi penurunan COD sampai ambang batas yang diperbolehkan yaitu terjadi penurunan dari 768 ppm menjadi 208 ppm dan pada ulangan yang dilakukan dari 672 ppm menjadi 160 ppm dimana sudah di bawah baku mutu bedasakan Perda Jateng No. 10 tahu 2004. Terjadi peningkatan nilai pH. Diawal proses, pH dari limbah cair tahu adalah 4.2 dan naik sampai 7.4 demikian juga setelah diulang mulai 4.6 naik menjadi 7.3. Perubahan warna pada penelitian ini kurang memuaskan karena tidak terjadi perubahan warna tetapi hanya berubah tingkat kejernihan di awal, warna limbah cair tahu adalah kuning keruh bahkan ada busanya dan setelah diolah berwarna kuning jenih. Dalam pengamatan perubahan bau, pada hari ke 4 bau sudah berkurang. Akan beda kalau tidak diolah semakin lama maka akan semakin bauKata kunci : penyerapan, limbah cair tahu, eceng gondo

    Analisis Terhadap Putusan 3181 K/Pdt/2018 : Sengketa Apartemen Ny. Ike Farida dengan PT Elite Prima Hutama

    Get PDF
    This article examines the interpretation of the decision of the Supreme Court of the Republic of Indonesia with number 3181/K/Pdt/2018 which focuses on disputes that occur in the apartment sector and analyzes the extent to which the decision has fulfilled the principles of the provisions regarding disputes in the apartment sector. The case involved a dispute between the manager and the unit owner regarding ownership rights, administrative responsibilities and the provision of facilities to the buyer. In the judgment, the Supreme Court emphasized the need to protect the rights of apartment owners and affirmed the manager's obligation to meet agreed service standards. This article also explores the legal arguments of both plaintiffs and defendants and the impact of the ruling on the apartment industry and consumer protection. Taking into account the legal and social context, this article advises parties who wish to enter into an engagement to be more critical and not easily fooled by developer marketing in order to reduce the possibility of similar disputes in the future

    Optimization of Hot Kinetic Extraction Temperature of Red Ginger-Red Yeast On Percent Yield and Antioxidant Activity

    No full text
    Extraction temperature is a critical parameter that can influence the yield and antioxidant activity of an extract. The primary antioxidant compounds in red ginger are phenols, while in angkak, they are pigments, both of which can be affected by temperature during the extraction process. This study aims to identify the optimal extraction temperature that provides the highest yield percentage and antioxidant activity. The extraction process was conducted using a heat kinetic method with a hotplate magnetic stirrer at a rotation speed of 800 rpm for 120 minutes, utilizing 96% ethanol in a 1:20 ratio. The temperature variations tested were 25℃, 40℃, and 60℃. Observations included organoleptic analysis, followed by qualitative testing (chromatogram profile analysis of the red ginger–angkak extract) and quantitative testing, which measured the yield percentage and IC50 values using the DPPH method. The extraction results at 25℃, 40℃, and 60℃ produced yield percentages of 11.45±5.96%, 12.65±6.27%, and 14.54±3.52%, respectively. The IC50 values were 140.49±5.79 ppm, 113.04±5.66 ppm, and 112.99±9.05 ppm, respectively. Temperature significantly influenced the yield percentage, with higher extraction temperatures resulting in increased yields. However, temperature had no significant effect on IC50 values. Based on the findings, it can be concluded that 60℃ is the optimal extraction temperature, producing the best yield percentage and IC50 value for the red ginger–angkak extract in this study

    THE INFLUENCE OF B-35 DIESEL FUEL TESTING PARAMETERS ON THE EFFICIENCY AND PERFORMANCE OF DIESEL ENGINES

    Get PDF
    The use of biodiesel as a mixture of diesel fuel has become one of the solutions to reduce dependence on fossil fuels and reduce greenhouse gas emissions. The B-35 diesel program, consisting of a mixture of 35% biodiesel with 65% diesel, is an initiative of the Indonesian government to realize more sustainable energy. This study aims to analyze various test parameters of B-35 diesel, including density (ASTM D 1298), viscosity (ASTM D 445), and residual carbon content (ASTM D 4350), and analyze their impact on diesel engine efficiency and performance. The test method is carried out by measuring density using a hydrometer, viscosity using a kinematic viscometer, and carbon residue by heating the sample at a temperature of 500°C. The results showed that the B-35 diesel mixture had a higher density (855,72 kg/m3) and viscosity (3,150 mm2/s) compared to pure diesel, which was 840 kg/m3 and 2,8 mm2/s, making the fuel injection process uniform. The residual carbon content of 0.14%, which is lower than pure diesel, which is 0.18%, helps reduce the potential for the formation of combustion residue buildup in the engine, thereby helping to maintain engine performance. Based on these results, the use of B-35 diesel can be a more environmentally friendly alternative and support the improvement of diesel engine performance. Keywords : biodiesel, diesel, efficiency, emissions, oil.Abstrak Pemanfaatan biodiesel sebagai campuran bahan bakar solar menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Program solar B-35 yang terdiri dari campuran 35% biodiesel dengan 65% solar merupakan inisiatif pemerintah Indonesia untuk mewujudkan energi yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai parameter uji solar B-35, meliputi densitas (ASTM D 1298), viskositas (ASTM D 445), dan kadar karbon residu (ASTM D 4350), serta menganalisis dampaknya terhadap efisiensi dan kinerja mesin diesel. Metode pengujian dilakukan dengan mengukur densitas menggunakan hidrometer, viskositas menggunakan viskometer kinematik, dan residu karbon dengan memanaskan sampel pada suhu 500°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran solar B-35 memiliki densitas (855,72 kg/m3) dan viskositas (3.150 mm2/s) yang lebih tinggi dibandingkan solar murni, yaitu 840 kg/m3 dan 2,8 mm2/s, sehingga proses injeksi bahan bakar menjadi seragam. Kandungan karbon residu sebesar 0,14% yang lebih rendah dibandingkan solar murni yaitu 0,18% membantu mengurangi potensi terbentuknya timbunan sisa pembakaran di dalam mesin, sehingga membantu menjaga kinerja mesin. Berdasarkan hasil tersebut, penggunaan solar B-35 dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan mendukung peningkatan kinerja mesin diesel. Kata kunci : biodiesel, efisiensi, emisi, minyak, solar

    ZAKAT SEBAGI SOLUSI DALAM MENGURANGI KEMISKINAN DALAM ISLAM: ZAKAT AS A SOLUTION TO REDUCING POVERTY IN ISLAM

    No full text
    Setiap kehidupan bermasyarakat seseorang dihadapkan dengan berbagai keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan Kesejahtraan. Kesejahtraan adalah dambaan setiap orang untuk memperolehnya tentu dengan berbagai cara dilakukannya. Dalam islam kesejahtaan secara menyeluruh baik material, spiritual dan moral. Namun dengan keterbatasan tidak semua orang mampu memperoleh kesejahtraan didalam kehidupannya. Keterbatasan merupakan suatu problem yang harus dicari solusinya. Dikarnakan kendisi seseorang tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama kubutuhan pokok. Atau kondisi ini disebut juga dengan Kemiskinan. Islam telah mampu memberikan solusi dalam hal ini yaitu, Zakat sebagai solusi dalam mengurangi kemiskinan dalam rangka untuk menciptakan Kesejahtraan Masyarakat. Zakat merupakan jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang beragama islam dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya. Sehingga dengan Zakat ini jika dikelola dengan baik dan pendistribusiannya dengan tepat maka tentu akan mampu memberikan kesejahtraan pada masyarakat. Artikel ini mencoba untuk menganalisis bagaimana Zakat mampu memberikan kesejahtraan pada masyarakat. Dengan menggunakan metode Kualitatis dengan mengkaji beberapa sumber baik buku yang berkaitan maupun beberapa sumber jurnal. Sehingga menunjukkan bahwa hasil dari penelitian ini, Zakat sangat berpotensi didalam memberikan kesejahtraan pada masyarakat dan akan mampu mengurangi tingkat kemiskinan.     Kata kunci : Zakat, Fiskal, Kesejahtraa

    MAPPING ACTORS IN THE CIRCULAR ECONOMY PRACTICES IN SEMARANG

    No full text
    Abstract This research delves into the implementation of a circular economy in Semarang City, responding to thechallenges of waste management and its environmental impacts. Employing a methodology combiningliterature review and stakeholder interviews, the study analyzes the principles of a circular economy andthe pivotal roles of key actors in its practical application. The theoretical foundation rests upon the conceptsof a circular economy, waste management, and sustainability. The findings indicate progress inimplementation, particularly through the establishment of waste banks and waste management programsinvolving households. The significant roles of the City Government, Mulung Parahita, and the IndonesianNational Army (TNI) are acknowledged, though challenges such as coordination and public awarenessneed to be addressed. The contribution lies in a profound understanding of the circular economy inSemarang City and the identification of key roles and actors. The policy recommendations generated canguide the efforts of the City Government and relevant stakeholders to reinforce circular economy practices,promoting more sustainable resource management at the local level. Keywords: circular economy, waste management, Semarang City, waste bank, sustainability, communityparticipatio

    KINETIC ANALYSIS OF PHOSPHATE ADSORPTION ON ZEOLITE AND ACTIVATED CARBON IN GREYWATER

    No full text
    Phosphate is one of the pollutants that exist in greywater. Phosphate pollutant comes from surfactants used in detergent products which are commonly used in household activities. Water phosphate will increase when detergent waste is not managed properly. The presence of phosphate in waters can result in eutrophication which disrupts aquatic life. Some natural adsorbents such as zeolite and activated carbon can adsorb phosphate in greywater. The effectiveness of an adsorbent in removing phosphate in greywater can be analyzed based on the adsorption capacity and adsorption rate. In this research, it is known that zeolite is more effective as an adsorbent in removing phosphate content in greywater. Zeolite and activated carbon follow the Freundilch adsorption mechanism in the adsorption of phosphate in water. Zeolite can adsorb 41.154% with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 8.10 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0038 m-1. For activated carbon it can adsorb 23.330 % with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 1.99 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0013 m-1. Based on these data, activated carbon has a faster phosphate adsorption rate than zeolite, but has a smaller adsorption capacity value than zeolite. So that the zeolite can absorb more phosphate in greywater, with an adsorption rate of 0.0038 per minute

    Pariwisata Berkelanjutan dan Korservasi: Peran Pengelola Taman Nasional Meru Betiri

    No full text
    Artikel ini mendeskripsikan peran pengelola Balai Taman Nasional Meru Betiri dalam kaitannya pada pengembagan aspek pariwisata berkelanjutan dan pelestarian alam. Secara implisit, Pengelola TNMB telah berupaya mencapai pengembangan pariwisata berkelanjutan sejak kawasan konservasi tersebut didirikan. Melalui penelitian kualitatif deskriptif dengan pengambilan data wawancara, observasi, dan studi pustaka, penelitian ini mengidentifikasi sikap, peran, dan aktivitas pengelola TNMB dalam pengembangan wisata berkelanjutan. Hasil yang diperoleh berupa upaya yang dilakukan oleh pengelola dalam medukung fungsi kawasan dan keberlanjutan melalui aspek pariwisata berkelanjutan Kata kunci : konservasi, Meru Betiri, Taman Nasional, Pariwisata Berkelanjuta

    2,412

    full texts

    4,995

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Publikasi Ilmiah Unwahas (Universitas Wahid Hasyim)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇