Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
Not a member yet
    805 research outputs found

    Pemasaran Digital Street Food Pecel Lele di Kawasan Perguruan Tinggi Jalan Raya Jatinangor Kabupaten Sumedang

    Full text link
    Online applications are something that currently cannot be separated from people's lives, especially urban communities. The opportunity to utilize online applications is also applied in food sales based on the use of online applications, especially for sellers in the category of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). Activities that utilize online applications are called Electronic Commerce (E-Commerce) where physical contact is not required between sellers and buyers. Online applications are one of the things that can support economic progress, but the use of online applications for sales is still limited depending on the area, areas with poor internet conditions usually rarely use online applications for sales. The purpose of this study was to determine how much the marketing of fishery products (Pecel lele) using online applications along the Jatinangor highway which is an area with a high percentage of students and high potential for internet use. The conclusion of this study shows that most of the pecel lele stalls along Jalan Raya Jatinangor have used online applications for sales and fifty percent of pecel lele stalls stated that turnover from using online applications tends to be higher than conventional sales. The conclusion of this study is that in 12 catfish pecel stalls located along the Jatinangor highway, 75% of all stalls have online applications for sales and 25% do not have online applications for sales. In the turnover obtained, 6 out of 12 catfish pecel stalls get higher turnover profits, 3 out of 12 catfish pecel stalls have decreasing turnover profits, the remaining 3 stalls that do not use online applications do not experience changes in turnover profits, namely sales do not increase or decrease.Aplikasi online merupakan suatu hal yang saat ini tidak lepas dari kehidupan masyarakat terutama masyarakat perkotaan. Peluang penggunaan aplikasi online juga diterapkan dalam penjualan makanan yang berbasis penggunaan aplikasi online terutama penjual dengan kategori Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Aktivitas dengan menggunakan aplikasi online ini disebut dengan Electronic Commerce (E-Commerce) dimana tidak perlu ada kontak fisik antara penjual dan pembeli. Aplikasi online menjadi salah satu hal yang bisa mendukung kemajuan ekonomi, namun penggunaan aplikasi online untuk penjualan masih terbatas tergantung wilayah, wilayah dengan kondisi internet yang buruk biasanya jarang menggunakan aplikasi online untuk penjualan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa banyak pemasaran produk perikanan (Pecel lele) dengan menggunakan aplikasi online di sepanjang jalan raya Jatinangor yang merupakan daerah dengan presentase mahasiswa yang tinggi dan potensi penggunaan internet yang tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan kebanyakan warung pecel lele di sepanjang Jalan Raya Jatinangor sudah menggunakan aplikasi online untuk penjualan dan lima puluh persen warung pecel lele menyatakan omzet dari penggunaan aplikasi online cenderung lebih tinggi dari penjualan secara konvensional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada 12 warung pecel lele yang berada di sepanjang jalan raya jatinangor, terdapat 75% dari seluruh warung memiliki aplikasi online untuk penjualan dan sebanyak 25% tidak memiliki aplikasi online untuk penjualan. Pada omzet yang didapatkan, sebanyak 6 dari 12 warung pecel lele mendapatkan keuntungan omzet lebih tinggi, 3 dari 12 warung pecel lele memiliki keuntungan omzet yang menurun, sisanya 3 warung yang tidak menggunakan aplikasi online tidak memiliki perubahan keuntungan omzet, yaitu penjualan tidak meningkat ataupun menurun

    ANALISIS POTENSI LESTARI UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguinsis) YANG DIDARATKAN DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) PANGANDARAN JAWA BARAT MENGGUNAKAN METODE WALTER HILBORN DAN SCHAEFER

    No full text
    TPI Pangandaran is a fishing base with the highest fish landing productivity in Pangandaran Regency, one of the commodities landed is jerbung shrimp (Fenneropenaeus merguiensis). High demand for jerbung shrimp leads to increased fishing intensity, so an analysis of sustainable potential is needed to maintain the sustainability of jerbung shrimp. Analysis of sustainable potential with the Maximum Sustainable Yeield (MSY) approach is important to maintain the sustainability of shrimp resources. The purpose of this study was to analyze the value of CPUE, FPI, and MSY of jerbung shrimp. The method used to analyze the value of MSY is the surplus production method with the approach of Walter Hilborn and Schaefer. The results showed that the CPUE value fluctuated during 2017-2022, with the highest value of 88.67 kg/trip in 2018 and the lowest value of 23.44 kg/trip in 2022. The standard fishing gear with the highest value of FPI is Trammel net. The MSY value using the Schaefer method is 917,990.50  with a Total Allowable Catch (TAC) of 734,392.4 , while the Walter Hilborn method produces an MSY value of 418,065.50  with a TAC of 334,452.4 ,. The exploitation of jerbung shrimp in TPI Pangandaran is still a safe condition. The R square value with Walter Hilborn method is greater than the Schaefer method, which is 0.90254. The value of R square which is greater or close to 1 indicates that in this study the Walter Hilborn method is more relevant to determine MSY and TAC of jerbung shrimpTPI Pangandaran merupakan fishing base dengan produktivitas pendaratan ikan tertinggi di Kabupaten Pangandaran, salah satu komoditas yang didaratkan salah satunya adalah udang jerbung (Fenneropenaeus merguiensis). Permintaan yang tinggi akan udang jerbung menyebabkan intensitas penangkapan meningkat, sehingga diperlukan analisis potensi lestari untuk menjaga kelestarian dari udang jerbung. Analisis potensi lestari dengan pendekatan Maximum Sustainable Yeield (MSY) penting untuk menjaga kelestarian sumber daya udang. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis nilai CPUE, FPI, dan MSY dari udang jerbung. Metode yang digunakan untuk menganalisis nilai MSY adalah metode surplus produksi dengan pendekatan Walter Hilborn dan Schaefer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPUE mengalami fluktuasi selama tahun 2017–2022, dengan nilai tertinggi sebesar 88,67 kg/trip pada tahun 2018 dan nilai terendah sebesar 23,44 kg/trip pada tahun 2022. Trammel net ditetapkan sebagai alat tangkap standar dengan nilai FPI tertinggi. Nilai MSY menggunakan metode Schaefer yaitu 917.990,50 kg/tahun dengan Total Allowable Catch (TAC) sebesar 734.392,4 kg/tahun, sedangkan metode Walter Hilborn menghasilkan nilai MSY sebesar 418.065,50 kg/tahun dengan TAC sebesar 334.452,4 kg/tahun. Eksploitasi udang jerbung di TPI Pangandaran masih dalam kondisi aman. Nilai R square dengan metode Walter Hilborn lebih besar dibanding dengan metode Schaefer, yaitu 0,90254. Nilai R square yang lebih besar atau mendekati 1 menunjukkan bahwa pada penelitian ini metode Walter Hilborn lebih relevan untuk menentukan MSY dan TAC udang jerbun

    ECONOMIC VALUATION OF THE DIRECT BENEFITS OF CAPTURE FISHERIES AND THE CONTRIBUTION OF MANGROVES FOR FISHERMEN OF BATU ITAM VILLAGE, BELITUNG

    Full text link
    The coastal area of Batu Itam Village possesses significant potential in natural resources and environmental services, along with a high level of biodiversity. This study aims to determine the direct economic benefits of capture fisheries within the mangrove ecosystem and assess the contribution of these direct economic values to household incomes in Batu Itam Village. The research employs a quantitative descriptive methodology and was conducted in June 2024. Respondents were selected using snowball sampling and census methods. The study involved two groups: 27 mangrove fishermen identified through a census approach and 20 general fishermen selected using the Slovin formula. Primary data were collected via respondent interviews, while secondary data were obtained through literature reviews. Mangrove area measurements were conducted spatially using Sentinel-2A satellite data. The findings reveal that the direct economic value of the mangrove ecosystem in Batu Itam Village amounts to IDR 1,376,670,000 per year, with an average of IDR 275,334,000 annually. This value is supported by the mangrove ecosystem's area of 205.13 hectares. Among the resources, fish provide the highest direct economic benefit compared to squid, crabs, shrimp, and shellfish. The contribution of income derived from the mangrove ecosystem constitutes 74% of the total household income for fishermen in Batu Itam VillagePesisir Desa Batu Itam memiliki potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan serta memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di wilayah pesisirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat ekonomi langsung perikanan tangkap di ekosistem mangrove, mengetahui kontribusi nilai ekonomi langsung ekosistem mangrove terhadap pendapatan rumah tangga di Desa Batu Itam. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling dan sensus. Responden dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu nelayan mangrove yang berjumlah 27 responden yang ditentukan dengan metode sensus dan nelayan umum yang berjumlah 20 responden yang ditentukan dengan rumus slovin. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer (wawancara responden) dan data sekunder (studi pustaka). Pengukuran luasan mangrove dalam penelitian ini berbasis spasial dengan menggunakan data satelit sentinel-2A. Hasil yang diperoleh yaitu nilai ekonomi langsung ekosistem mangrove di Desa Batu Itam sebesar Rp. 1.376.670.000/tahun dengan rata-rata Rp. 275.334.000/tahun, hal ini dapat terbentuk karena didukung oleh luas ekosistem mangrove sebesar 205,13 Ha. Nilai manfaat langsung dari ikan memberikan nilai manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan nilai manfaat langsung dari cumi-cumi, kepiting, udang, dan kerang. Kontribusi pendapatan dari ekosistem mangrove terhadap total pendapatan rumah tangga nelayan di Desa Batu Itam sebesar 74%.     &nbsp

    Pengaruh Fortifikasi Tepung Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos) Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Daya Terima Roti Tawar

    Full text link
    Milkfish bone waste is a by product of the fisheries industry that has not been fully utilized, despite its high calcium and protein content, making it a potential ingredient for food fortification. Meanwhile, white bread, a widely consumed food in the community, is known to have low calcium content. This study aims to evaluate the effect of adding milkfish bone flour on the physicochemical characteristics and consumer acceptability of white bread. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with five levels of fortification concentration: 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10%, each with four replications. The parameters analyzed included moisture, protein, ash, and calcium content, as well as texture attributes such as hardness, cohesiveness, springiness, and chewiness, along with hedonic tests for color, taste, texture, and aroma. The results showed that fortification with milkfish bone flour had a significant effect (p<0.05) on most parameters, except for color. Increasing the fortification concentration resulted in higher protein, ash, and calcium levels, while moisture content and certain texture parameters decreased. The best treatment was found at 5% fortification (P2), based on Bayes analysis, with the highest scores across all parameters. The addition of 5% milkfish bone flour was proven to enhance the nutritional content of white bread without reducing consumer acceptance, while also promoting the functional and economic utilization of fishery waste.Limbah tulang ikan bandeng ialah produk sampingan dari industri perikanan yang belum termanfaatkan secara maksimal. Produk tersebut terdapat kandungan kalsium dan protein tinggi sehingga potensial diolah sebagai bahan fortifikasi pangan. Roti tawar sebagai makanan yang populer di masyarakat diketahui rendah akan kandungan kalsium. Penelitian ini bertujuan guna mengkaji pengaruh penambahan tepung tulang ikan bandeng terhadap karakteristik fisikokimia dan tingkat kesukaan konsumen pada roti tawar. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima tingkat konsentrasi fortifikasi, yakni 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%, masing-masing dengan empat kali ulangan. Parameter ujinya meliputi kadar air, protein, abu, dan kalsium, serta atribut tekstur seperti hardness, cohesiveness, springiness, dan chewiness, disertai uji hedonik pada warna, rasa, tekstur, dan aroma. Hasil menunjukkan bahwa fortifikasi tepung tulang ikan bandeng berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap sebagian besar parameter, kecuali warna. Peningkatan konsentrasi fortifikasi menyebabkan naiknya kadar protein, abu, dan kalsium, namun menurunkan kadar air dan beberapa parameter tekstur. Perlakuan terbaik diperoleh pada fortifikasi 5% (P2) berdasarkan analisis Bayes, dengan skor tertinggi pada seluruh parameter. Fortifikasi tepung tulang ikan bandeng sebesar 5% terbukti mampu memperkaya kandungan gizi roti tawar tanpa mengurangi tingkat kesukaan konsumen, serta menjadi upaya pemanfaatan limbah perikanan yang fungsional dan bernilai ekonomi

    COVER, EDITORIAL BOARDS, TABLE OF CONTENT

    No full text
    Fisheries Journal, Volume 14, Number 4, 2025Fisheries Journal, Volume 14, Number 4, 202

    PATRON-CLIENT RELATIONSHIP PATTERN IN FISHERY BUSINESS CATCH IN DUDEPO PORT, BOLAANG UKI DISTRICT SOUTH BOLAANG MONGONDOW REGENCY

    Full text link
    The rapid activity of increasing fishing productivity creates an intense relationship called patron and client between ship owners and ship workers who are often in conditions of uncertainty or unequal relations. The aim of this research is to determine relationship patterns, supporting factors and inhibiting factors in patron-client relationships in fisheries businesses. The research method used is a case study by examining phenomena comprehensively, intensely, in detail and in depth. The data analysis used is qualitative analysis using three stages including; data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that the patron-client relationship at Dudepo Port is a relationship of reciprocity or exchange in both economic and non-economic forms. For example Patron; Apart from providing wages to clients for their services and energy, they also provide living space in the form of housing, political protection and other social assistance. There are three supporting factors for patron-client relationships, namely; kinship, trust, and remuneration. Meanwhile, factors inhibiting patron-client relations are the price of fish, patron superiority, and profit sharing.Pesatnya kegiatan peningkatan produktivitas penangkapan ikan menciptakan intensitas hubungan relasi yang disebut patron dan klien antara pemilik kapal dan buruh kapal yang sering kali berada dalam kondisi tidak menentu atau hubungan yang tidak setara. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola hubungan, faktor pendukung, dan faktor penghambat hubungan patron-klien pada usaha perikanan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan mengkaji fenomena secara komprehensif, intens, rinci, dan mendalam. Analisis data yang dipakai yaitu analisis kualitatif dengan menggunakan tiga tahap diantaranya; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan patron-klien di Pelabuhan Dudepo merupakan hubungan resiprositas atau pertukaran baik dalam bentuk ekonomi ataupun non- ekonomi. Misalnya Patron; selain memberikan upah pada klien atas jasa dan tenaganya ia juga memberikan ruang hidup berupa tempat tinggal, perlindungan politik, dan bantuan sosial lainnya. Faktor pendukung hubungan patron-klien ada tiga yakni; kekeluargaan, kepercayaan, dan imbal jasa. Sementara, faktor penghambat hubungan patron-klien adalah harga ikan, superioritas patron, dan pembagian hasil

    IDENTIFICATION OF FISH SPECIES IN RIVER WATERS BENGALON, SANGATTA AND SURROUNDING AREAS IN KUTAI DISTRICT EAST KALIMANTAN PROVINCE

    Full text link
    The waters of the Bengalon River, Sangatta and surrounding areas are affected by community activities as well as coal mining and oil palm plantations. Fish are one of the aquatic biota affected by these activities. The unavailability of river fish species data is a particular concern in evaluating the condition of river waters. The availability of fish species data is considered important for decision-making considerations that will be applied in an area. As a sustainability effort, monitoring, identification and inventory of river fish in the East Kutai Regency area were carried out. This research was conducted in November 2021-May 2022 in Bengalon River, Sangatta and surrounding areas. Fish identification was carried out at the Hydroceanography Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, Mulawarman University. Fish data were analyzed descriptively. Based on the research data, rivers in East Kutai district are dominated by the Cyprinidae family. A total of 43 fish species were identified, 10 of which were marine fish species, generally fishes that live around estuaries (brackish water), including species that live in the sea. Keywords: Cyprinidae, East Kutai, Fish, RiverSungai Bengalon, Sangatta dan sekitarnya terpengaruh oleh aktivitas masyarakat serta pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Ikan merupakan salah satu biota akuatik yang terdampak kegiatan tersebut. Tidak tersedianya data spesies ikan sungai menjadi perhatian khusus dalam mengevaluasi kondisi perairan sungai. Ketersediaan data spesies ikan dianggap penting untuk pertimbangan pengambilan keputusan yang akan diberlakukan di suatu wilayah. Sebagai upaya keberlanjutan, maka dilakukan monitoring, identifikasi dan inventarisasi ikan sungai di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2021-Mei 2022 di Sungai Bengalon, Sangatta dan sekitarnya. Identifikasi ikan dilakukan di laboratorium Hidrooseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman. Data ikan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan data hasil penelitian, sungai di kabupaten Kutai Timur didominasi oleh famili Cyprinidae. Sebanyak 43 spesies ikan yang teridentifikasi, 10 spesies diantaranya adalah spesies ikan laut, umumnya ikan-ikan yang hidup di sekitar muara (air payau), termasuk spesies yang hidup di laut.   Kata Kunci: Cyprinidae, Ikan, Kutai Timur, Sunga

    IDENTIFICATION OF PORIFERA USING EDNA IN THE CORALS OF TAKAT, SUMENEP, EAST JAVA

    Full text link
    Karang Takat is a body of water in Sumenep, Madura which has beauty and various kinds of flora and fauna, one of which is Porifera. Porifera are organisms that have an important role in coral reef ecosystems. Porifera live attached to coral reefs and stick to hard coral, because hard coral is a hard substrate for Porifera to stick to. Habitats with hard substrates will be places where porifera grow well, because only 10% of porifera can live. This research was conducted to provide an accurate and latest method for detecting the presence and diversity of Porifera. The eDNA metabarcoding method is suitable for identifying flora and fauna diversity, such as Porifera, with identification based on DNA residues left in their habitat. DNA species can be detected from species that release mitochondria, mucus, and excretory waste products into the environment. The results of Porifera DNA research in Karang Takat found 10 families, namely the Clionaide family, Niphatidae family, Tethyidae family, Spirastrellidae family, Desmacellida family, Chalinidae family, Microcionidae family, Astroscleridae family, Geodiidae family, and Halisarcidae family. The result was 11 species of Porifera from the same class. Known species are Spheciospongia semilunaris, Amphimedon sp, Tethya irisae, Spirastrella sp, Desmacella cf, Haliclona toxia, Clathria reinwardti, Stromatospongia vermicola, Haliclona amboinensis, Geodia sp., and Halisarca caerulea.  Karang Takat adalah perairan di Sumenep Madura yang memiliki keindahan dan berbagai macam flora dan fauna, salah satunya adalah Porifera. Porifera merupakan organisme yang memiliki peran penting dalam ekosistem terumbu karang. Porifera hidup menempel pada terumbu karang dan menempel pada hard coral, karena hard coral merupakan susbstrat keras untuk tempat menempel Porifera. Habitat dengan substrat yang keras akan menjadi tempat porifera tumbuh dengan baik, karena hanya 10% porifera yang dapat hidup. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan metode yang akurat dan terbaru dalam mendeteksi keberadaan dan keanekaragaman Porifera. Metode eDNA metabarcoding cocok untuk mengidentifikasi keanekaragaman flora dan fauna, seperti Porifera dengan mengidentifikasi berdasarkan sisa DNA yang ditinggalkan di habitatnya. DNA spesies dapat dideteksi didapatkan dari spesies melepaskan mitokondria, lendir, dan buangan hasil ekskresi ke lingkungan. Hasil penelitian DNA Porifera di Karang Takat menemukan 10 Family yaitu famili Clionaide, famili Niphatidae, famili Tethyidae, famili Spirastrellidae, famili Desmacellida, famili Chalinidae , famili Microcionidae, famili Astroscleridae, famili Geodiidae, dan famili Halisarcidae. Hasil terdapat 11 spesies Porifera dari 1 kelas yang sama. Spesies yang diketahui adalah Spheciospongia semilunaris, Amphimedon sp, Tethya irisae, Spirastrella sp, Desmacella cf, Haliclona toxia, Clathria reinwardti, Stromatospongia vermicola, Haliclona amboinensis, Geodia sp., dan Halisarca caerulea

    MAPPING OF BENTHIC HABITAT IN BAIR ISLAND USING ALLEN CORAL ATLAS DATA

    Full text link
    Benthic habitat mapping in Bair Island, Southeast Maluku Regency, Maluku Province is the first step in the management and conservation of marine ecosystems that need to be improved. This study aims to map and calculate the extent of benthic habitat around Bair Island by utilizing Allen Coral Atlas (ACA) data. The methods used include multispectral satellite image analysis by performing atmospheric correction, water column correction and sun glare removal. Benthic habitats mapped included coral reefs, seagrasses, microalgae, dead corals and other substrates such as rocks and sand. The results showed that coral reefs dominated the coastal area of Bair Island with an area reaching 53,9 ha, seagrasses 8,4 ha and microalgae 9,8 ha and area of rubble 8,8 ha followed by the dominance of rocks 118 ha as well as sand 98,8 ha. The utilization of ACA data proved effective in providing accurate spatial information with high resolution, so that it can support ecosystem-based management on Bair IslandPemetaan habitat bentik di Pulau Bair, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku merupakan langkah awal dalam pengelolaan dan pelestarian ekosistem laut yang perlu untuk ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menghitung luasan habitat bentik di sekitar Pulau Bair dengan memanfaatkan data Allen Coral Atlas (ACA). Metode yang digunakan meliputi analisis citra satelit multispektral dengan melakukan koreksi atmosfer, koreksi kolom air dan penghilangan silau matahari. Habitat bentik yang berhasil dipetakan mencakup terumbu karang, lamun, mikroalga, karang mati dan substrat lainnya seperti batu dan pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terumbu karang mendominasi kawasan pesisir Pulau Bair dengan luasan mencapai 53,9 ha, lamun 8,4 ha dan mikroalga 9,8 ha serta luasan karang mati 8,8 ha diikuti dominasi batu 118 ha juga pasir 98,8 ha. Pemanfaatan data ACA terbukti efektif dalam menyediakan informasi spasial yang akurat dengan resolusi tinggi, sehingga dapat mendukung pengelolaan berbasis ekosistem di Pulau Bai

    712

    full texts

    805

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇