Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
    262 research outputs found

    TAFSIR TARJUMÂN AL-MUSTAFÎD KARYA ‘ABD AL-RAUF AL-FANSHURI: Diskursus Biografi, Kontestasi Politis-Teologis dan Metodologi Tafsir

    Full text link
    Abstrak: Artikel ini mengkaji tafsir Tarjumân al-Mustafîd karya ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri. Penelitian ini difokuskan pada surah al-Fâtihah dan surah al-Baqarah yang menghabiskan setidaknya lima puluh halaman dari tafsir Tarjumân al-Mustafîd. Pendekatan deskriptif dan kuantitatif dalam penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk menggapai hasil yang tepat sesuai dengan fakta dan realitas yang ada. Tafsir ini ditulis ketika ‘Abd al-Rauf menduduki jabatan mufti di kerajaan Aceh yang waktu itu dipimpin oleh empat orang sultanah secara bergantian. Meskipun begitu, hampir dapat dikatakan nuansa politis itu tidak meresap ke dalam penafsirannya. Sisi keunikan tafsir ‘Abd al-Rauf ini, ia sangat kontiniu dalam menggunakan kata kunci tertentu untuk mengawali sebuah penafsiran, ditambah lagi dengan bahasa dan aksara yang melekat dalam tafsir semakin menambah kekayaan khazanah tafsir Nusantara yang jarang dimiliki oleh tafsir lain.Abstract: ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri’s Tarjumân al-Mustafîd: Biography, Political and Theological Contestation and Tafsir Methodology. This article is an attempt to provide insight to the reader on the interpretation of Tarjumân al-Mustafîd by ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri focusing on the sura al-Fâtihah and sura al-Baqarah which consumes at least fifty pages of the Tarjumân al-Mustafîd tafsir. This commentary was written when ‘Abd al-Rauf assumed the position of mufti in the kingdom of Atjeh, which was then led by four sultanahs in turn, although, it is almost arguable that the political nuance did not seep into his interpretation. The unique aspect of the interpretation of ‘Abd al-Rauf, he constantly uses certain keywords to start an interpretation, coupled with the language and script inherent in the interpretation increasing the wealth of the wealth of interpretation of the Nusantara that is rarely owned by other exegetes.Kata Kunci: Nusantara, Aceh, tafsir, ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri, Tarjumân al-Mustafî

    DISKURSUS DAN KRITIK TERHADAP TEOLOGI PLURALISME AGAMA DI INDONESIA

    Full text link
    Abstrak: Klaim kebenaran mutlak dalam agama sering dianggap sebagai sebab konflik dan kekerasan bernuansa agama. Anggapan ini kemudian melahirkan perlunya penyebaran gagasan pluralisme agama di tengah umat beragama, khususnya umat Islam. Sebagai puncak dari tiga sikap beragama, pluralisme diyakini mampu mem-bawa umat beragama ke kehidupan yang damai dan harmonik karena meyakini adanya kebenaran dalam setiap agama dan keyakinan yang ada. Namun persebaran gagasan ini mengalami kontroversi dan penolakan dari kalangan agamawan sendiri sehingga menjadi tidak efektif dan mengalami titik balik. Tulisan ini mencoba melihat secara kritis gagasan pluralisme agama dan membangun perspektif baru bahwa untuk menjalin harmoni hidup beragama tidak harus meyakini keberadaan kebenaran pada agama dan keyakinan lain. Sikap beragama yang eksklusif juga potensial menjadi dasar hidup harmoni karena sesungguhnya agama (Islam) telah menyiapkan seperangkat doktrinal agar umatnya tetap ramah dan hidup damai bersama umat lain dengan tetap meyakini eksklusivitas kebenaran Islam.Abstract: Discourse and Critique of Religious Pluralism Theology in Indonesia. The claim of absolute truth of religions is usually considered as the cause of social conflict and violence. From this assumption, many scholars think that we need to spread a religious pluralism theology to the religious communities, especially to Muslim society. As the apex of three religious attitudes, they believe that religious pluralism could make peace and harmony interaction among religious communities. Because of pluralism theology contains a faith that every religions inherent in it equal truth. But the dissemination of religious pluralism was oppossed by religious scholars (theologians), and become controversial within society. This article propose to build a new paradigm in religions theology. This research argues that community can live harmoniously with the others, and at the same time, they believe constantly in absolute truth of their religions. I call this as a exclusive-tolerant theology. In addition, the author argues that Islam has potencies to be an exclusive-tolerant religion, since Islam have given theological basis to harmonious life with different religious groups.Kata Kunci: teologi, agama-agama, pluralisme, eksklusivisme, relativism

    KONSTELASI KUASA TUBUH PEREMPUAN DALAM PENGUJIAN UUP NO. 1 TAHUN 1974: Analisa Dekonstruksi Pemikiran Islam Mohammed Arkoun

    Full text link
    Abstrak: Tulisan ini merupakan kajian atas penjelasan Majelis Ulama Indonesia ketika pengajuan uji materi UUP No. 1 tahun 1974 ke Mahkamah Konstitusi untuk merevisi usia minimum perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mendekonstruksi keterangan MUI dalam pengujian UUP No. 1 Tahun 1974. Kajian dalam tulisan ini adalah kajian pustaka dan menggunakan pendekatan epistemologi Islam analisa dekonstruksi Mohammed Arkoun. Hasil kajian menemukan bahwa alasan MUI terkait konsep balig yang merupakan pandangan fikih Imam Syâfi‘i memiliki dua maksud keinginan, yaitu keinginan yang tidak terkatakan oleh institusi MUI adalah laki-laki ingin menjadi yang superior di atas perempuan. Sedangkan keinginan yang terkatakan adalah MUI membawa argumentasi agama dalam hal ini fikih Imam Syâfi‘i untuk menguatkan pandangan dalam penjelasan uji materi di Mahkamah Konstitusi. Abstract: The Constellation of Woman Power in Judicial Review of Marriage Law No. 1 of 1974: Constructional Analysis of Mohammed Arkoun’s Islamic Thought. This paper analyzes about Indonesian Ulama Council explanation in testing a judicial review of UUP No. 1 of 1974 to the Constitutional Court to revise the minimum age of women marriage from 16 years to 18 years. The formulation of the problem in this research is how to deconstruct MUI information in the testing of UUP No. 1 of 1974. The study in this paper is a literature review using the Islamic epistemology approach of deconstruction analysis Mohammed Arkoun. The study finds that the reason for the MUI related to the concept of bâligh which is the view of fiqh of Imam Shâfi‘i has two intentions. First, the unspeakable desire by the institution of the MUI that men want to be superior over women. Second, while the stated wish is that MUI brings religious argument in this case uses Imam Shâfi‘i’s fiqh to strengthen the view in the explanation of material testing in the Constitutional Court.Kata Kunci: perempuan, Arkoun, MUI, hukum, undang-undan

    PESANTREN DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN: Studi Tentang Buku al-Difâ‘ ‘ani al-Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ Karya Kiai Muhammad Said

    Full text link
    Abstrak: Kelompok radikal kerap menyerang ormas Islam yang tidak sependapat dengan mereka, termasuk pesantren. Pemahaman kebangsaan pesantren dengan kaum radikal bertolak belakang. Kaum radikal anti nasionalisme, sedangkan pesantren sangat erat dengan nasionalisme. Dalam hal ini, Pesantren Lirboyo memiliki sebuah kitab yang berjudul al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang konsep, aplikasi, dan urgensi pendidikan kebangsaan pada kitab tersebut. Berdasarkan penelitian, konsep pendidikan kebangsaan adalah media dan sarana untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Aplikasi pendidikan kebangsaan adalah menerapkan kaidah pendidikan kebangsaan, yaitu memperkokoh persatuan, memperkuat keamanan, menegakkan kemaslahatan, dan menanamkan rasa cinta tanah air.Abstract: Pesantren and Education of Nationality: Study Against al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ by Kiai Muhammad Said. Radical group often attacks against Islamic organizations that disagree with them, including pesantren. The understanding of pesantren with radical groups in the concept of nationality is contradictory. Radical group is anti nationalism, while pesantren is very close with nationalism. In this case, Pesantren Lirboyo has a book entitled al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. This paper is the result of a research on the concept, application, and urgency of nationality education in the book of al-Difâ‘. Based on the research, the concept of nationality education is the media to maintain the unity of the Unitary State of the Republic of Indonesia. The application of nationality education is applying the rules of nationality education, namely strengthening unity, strengthening security, upholding benefits, and instilling a sense of loving the homeland.Kata Kunci: radikalisme, negara, politik, pendidikan, pesantre

    IDENTIFIKASI PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN TRANSFER ENERGI ZIKIR: Integrasi Ilmu Kesehatan dan Islam

    Full text link
    Abstrak: Kecenderungan pencarian pengobatan untuk mengatasi gangguan kesehatan dipengaruhi oleh cara pandang individu terhadap penyakit yang diderita. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan transfer energi zikir, dengan desain penelitian cross sectional dan dianalisis dengan metode binary logistic analysis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perilaku pencarian pengobatan transfer energi zikir, mayoritas kategori penyakit sedang (41,9%), responden yang sembuh (71%). Perilaku pencarian pengobatan transfer energi zikir tanpa pengobatan medis sebesar (67,7%). Hasil analisis multivariant variabel percieved suseptibility (kerentanan) nilai p value 0,010<0,05 artinya mempunyai pengaruh secara signifikan (bermakna) terhadap perilaku pencarian pengobatan. Nilai Exp. (B) sebesar 14,799 bahwa responden yang mempunyai persepsi rentan atau berisiko terhadap penyakit mempunyai peluang 14 kali mencari pengobatan dengan transfer energi zikir, dibandingkan variabel lainnya yang secara  statistik memberikan kesembuhan lebih tinggi. Penulis mengimplikasikan hal ini sebagai bukti kesempurnaan agama Islam dalam mengatur kehidupan manusia secara lengkap melalui keteladanan Rasulullah menganjurkan pengobatan berdasarkan petunjuk al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang mukmin.  Abstract: Identification of Behavior of Zikir Energy Transfer Treatment: Integration of Health and Islamic Science. Abstract: The tendency of searching treatment to overcome health problems is influenced by the individual's perspective on the illness being sufferred. This research seeks to identify factors that influence the behavior of the search for zikir energy transfer treatment, with cross sectional research design and analyzed by binary logistic analysis method. The results of this study found that the search behavior of zikir energy transfer treatment, the majority of moderate disease category (41.9%), respondents who recover (71%). Behavior seeking treatment of zikir energy transfer without medical treatment amounted to (67,7%). The result of multivariant analysis of percieved suseptibility variable (p value) 0,010 <0,05 means that it has significant (significant) effect on treatment seeking behavior. Value Exp. (B) of 14.799 that respondents who have a vulnerable or risky perception of the disease have 14 times the chance to seek treatment with the transfer of zikir energy, compared to other variables that statistically resulted in higher number of healing. The author implies that this prooves the perfection of Islam in regulating the complete human life through the the Prophet who advocated treatment based on the guidance of the Qur'an as a healing and grace for the believers.Kata Kunci: pengobatan Islami, energi zikir, kesehatan, integras

    RE-INTERPRETASI PEMIKIRAN UKHUWWAH SAYYID QUTHB

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini memotret kembali karakteristik pemikiran Sayyid Quthb yang diklaim sebagai seorang tokoh fundamentalis, radikal dan ekstrimis. Akan tetapi berdasarkan penelitian dengan mengambil sampel pemikirannya tentang konsep ukhuwah, klaim di atas tidaklah benar seluruhnya. Ketika mengkaji pemikirannya tentang ukhuwwah, Sayyid Quthb adalah seorang tokoh pemikir Islam yang toleran dan cinta perdamaian. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pemikirannya yang dianggap cukup terbuka. Pertama, menurutnya toleransi adalah unsur yang paling penting bagi terwujudnya perdamaian. Kedua, seorang mukmin apabila berpaling mereka melakukannya dengan beradab, penuh wibawa, dan penuh harga diri. Ketiga, kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang karena iktikadnya itulah ia layak disebut manusia. Keempat, masalah akidah, sebagaimana dibawa oleh Islam, adalah masalah kerelaan hati setelah mendapatkan keterangan dan penjelasan, bukan pemaksaan dan tekanan. Kelima, setiap orang mukmin adalah bersaudara apapun kelompok, manhâj, atau alirannya, mereka adalah bersaudara.Abstract: The Reinterpretation of Ukhuwwah Thought of Sayyid Quthb. This research attempts to depict the thoughts of Sayyid Quthb who has always been claimed to be a fundamentalist, radical and extremist. However, based on research by taking samples of his thoughts about the concept of ukhuwah, the above claims are not entirely true. While reviewing his thoughts on ukhuwwah, he is a tolerant Islamic thinker, and a love of peace. This can be seen from some of his thoughts that are considered quite open among them. First, according to him tolerance is the most important element for the realization of peace. Second, a believer when turned away they do it with civilized self-responsibility. Thirdly, freedom of religion is a human right in which creed, one deserves to be called human. Fourth, the problem of faith, as tought in Islam, is a matter of willingness after receiving information and explanation, rather than coercion and pressure. Fifth, every believer is in a bond of brotherhood regardless of their group and mainstreams.Kata Kunci: Sayyid Quthb, fundamentalisme, radikal, ukhuwwa

    ISLAM, PATRON SOSIAL, PSEUDO IDENTITAS MASYARAKAT PERKOTAAN DI KOTA MEDAN

    Full text link
    Abstrak: Kota Medan memiliki masyarakat yang relatif heterogen sehingga sangat diperlukan kesadaran yang tinggi untuk menjaga kondusivitas wilayah ini. Pluralitas bisa dianggap sebagai potensi bukan ancaman terhadap disintegrasi bangsa. Ada dua opsi yang ditawarkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat yaitu dengan melakukan melting pot dan non-melting pot. Keduanya memiliki keunggulan maupun kelemahannya masing-masing. Pola pertama biasanya diterapkan pada kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda sehingga dibutuhkan satu bentuk identitas baru yang mengikat semua elemen masyarakat yang ada di dalamnya. Sistem ini  dilatar belakangi oleh semangat menumbuhkan nasionalisme baru karena warganya berasal dari berbagai bangsa. Pola kedua lebih bersikap akomodatif terhadap nilai-nilai primordialisme warganya. Sistem ini berusaha menciptakan masyarakat memberi kebebasan kepada warganya untuk tetap mempertahankan identitas asal warganya selama tidak mengganggu kepentingan nasional secara umum. Abstract: Islam, Social Patron, Pseudo Identity of Urban People in Medan City. Medan city has a relatively heterogeneous society so it is highly commended to maintain the condition of this region. Plurality can be regarded as a potential not a threat to the disintegration of the nation. There are two options offered in activities related to community empowerment namely; by doing the melting pot and non-melting pot both have their own advantages and disadvantages. The first pattern is usually applied to groups of people who have very different backgrounds so that it takes a new form of identity that binds all elements of society in it. This system is based on the spirit of growing new nasioanalisme because citizens come from various nations. The second pattern is more accommodative to the values of its citizens primordialism. This system seeks to create a society giving freedom to its citizens to retain the identity of their citizens as long as it does not interfere with the national interest in general. Kata Kunci: etnisitas, Islam, melting pot, patron sosial, social identit

    CILUKBA: Popular Learning dan Akhlak Inklusif dalam Majalah Anak Islam

    Full text link
    Abstrak: Tulisan ini merupakan upaya untuk memahami pola pendidikan Islam sehari-hari dalam rubrik majalah Cilukba. Pendidikan Islam yang diajarkan di sekolah selama ini cenderung dengan doktrinasi buku-buku pelajaran. Sementara di luar sekolah, media populer berkembang pesat seperti Cilukba sebagai representasi majalah anak Islam yang inklusif yang dapat menjadi alternatif media pembelajaran keseharian untuk anak-anak. Namun, di sisi lain majalah Cilukba dapat mengkonstruksi doktrin baru bagi anak. Tulisan ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten majalah Cilukba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah Cilukba berisi materi-materi pembelajaran Islam keseharian seperti pembela-jaran adab, akhlak dan keteladanan yang tergambarkan dalam rubrik-rubrik dalam majalah, dengan tampilan desain yang modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa majalah Cilukba mengkonstruksi pendidikan melalui visualisasi idealisme Islam. Pemahaman terhadap isi rubrik Cilukba memberikan edukasi alternatif yang ber-gandengan tangan dengan pendidikan formal Islam di Indonesia.Abstract: Cilukba: Popular Learning and Inclusive Character in Muslim Child Magazine. This paper is an effort to understand the pattern of daily Islamic education Cilukba magazine. Islamic education in Indonesia has continuously taught students in the schools by providing the doctrines of textbooks, whereas popular media significantly increases such as Cilukba that represents Islamic children magazine. On one hand, the existence of Cilukba magazine can be an alternative media for daily learning for children, on the the other hand, however, it might construct a new doctrine for children. This paper uses a qualitative descriptive approach with content analysis techniques Cilukba magazine. The results showed that Cilukba magazine contains daily Islamic learning materials, such as learning adab, morals and exemplary are described in the rubrics in the magazine, with a modern design look. The author argues that Cilukba magazine constructs education through visualizing of Islamic idealism. In addition, Cilukba rubrics provides an alternative education which run hand in hand with formal Islamic education in Indonesia. Kata Kunci: pendidikan, majalah, anak, agama, akhla

    GERAKAN KEAGAMAAN DAN PETA AFILIASI IDEOLOGIS PENDIDIKAN ISLAM DI LOMBOK

    Full text link
    Abstrak: Pendidikan Islam yang sejatinya menjadi wadah keilmuan cenderung lebih merepresentasikan gerakan keagamaan yang menaunginya. Kondisi ini membawa madrasah dan sekolah Islam sebagai instrumen untuk memperkuat eksistensi dan ideologi masing-masing. Kecenderungan ini bersamaan dengan demokratisasi yang dijalankan sejak reformasi 1998, di mana gerakan keagamaan memperoleh ruang dan momentum. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan kecenderungan dinamika pendidikan Islam di Lombok yang direpresentasikan oleh tiga gerakan keagamaan, masing-masing Nahdlatul Wathan, Muhammadiyah dan Salafi. Sesuai fokus kajian, dipandang relevan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis dijadikan sebagai cognitive framework dalam analisis hasil penelitian. Studi ini mem-buktikan bahwa hubungan kelompok keagamaan dengan pendidikan bersifat dialektis. Keragaman gerakan keagamaan menentukan corak ideologis pendidikan Islam. Sebaliknya, pendidikan Islam berkontribusi dalam memperkuat perbedaan dan jarak antar kelompok keagamaan.Abstract: Religious Movement and Ideological Afiliation of Islamic Education in Lombok. Islamic education as scientific means tend to represent more as Islamic movement that supervise them. This problem bring madrasah and Islamic education as the instrument to strengthening their existence and ideology respectively. The fenomena is a long with a democratication which began since reformation era in 1998, wherein Islamic movement gained space and momentum. The aim of this paper is to analyse and map the dynamics of Islamic education in Lombok represented by such three religious movements, as Nahdlatul Wathan, Muhammadiyah and Salafi. This study utilizes qualitative methode with a sociological approach as cognitive framework. This paper argues that the relationship between the Islamic groups with Islamic education is dialectis. The diversity of religious movements determines the ideological pattern of Islamic Education. Conversely, Islamic education contributes to strengthening differences and distance between among denominations.Kata Kunci: Nahdlatul Wathan, Muhammadiyah, Salafi, pendidikan Islam, Lombo

    LANDASAN PENDIDIKAN SPIRITUAL ABÛ AL-QÂSIM AL-QUSYAIRÎ (W. 465/1072)

    Full text link
    Abstrak: Artikel ini membahas landasan pendidikan spiritual al-Qusyairî, yang pemikirannya berpengaruh dalam dunia Islam, bahkan sampai ke Nusantara dengan paham neo-sufisme. Berdasarkan analisis terhadap dua karyanya, al-Risâlah al-Qusyairiyah dan Tafsîr Lathâ’if al-Isyârât, ditemukan setidaknya ada empat landasan pendidikan spiritual yang harus ditempuh oleh sâlik. Pertama, seorang sâlik harus mengenal (ma‘rifat) kepada Allah, sebagaimana konsep-konsep akidah Ahlussunnah Waljamaah. Selain itu, ma‘rifat yang teguh mengejawantah perilaku. Kedua, dalam mendidik jiwa seseorang harus menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat. Ketiga, ibadah yang dilakukan melihat sisi batin atau aspek esoterisnya, sehingga berpengaruh positif dalam tingkah laku. Keempat, seorang sâlik harus senantiasa berzikir dan mengingat Allah dalam lisan dan atau hatinya. Landasan pendidikan spiritual seperti ini akan menjaga seseorang tetap berada dalam ajaran Islam, dan akan menyampaikannya kepada Allah yang akan menurunkan ketenangan batinnya di dunia dan akhirat. Abstract: Foundations of Abû al-Qâsim al-Qusyairî’s Spiritual Education. This article discusses the principles of al-Qusyairî’s spiritual education, whose ideas influenced the Islamic world, even to the Nusantara in a neo-sufism. Based on the analysis of his ouvre al-Risâlah al-Qusyairiyah and Tafsîr Lathâ’if al-Isyârât, it is found that there are at least four spiritual education foundations a sâlik should undergo. First, a sâlik should know (ma‘rifah) to Allah, as the concepts of Ahli Sunnah wal Jama’ah theology. Additionally, ma‘rifah steadfast in the heart should  portray in behavior. Second, in educating the spirit must maintain a balance between syarî`ah and haqîqah. Third, worship is done to be seen the inner or esoteric aspects, and thus have the positive effect on behavior. Fourth, a sâlik must always remember and enchant Allah orally or by heart. The cornerstone of spiritual education such as this would keep someone remains in the teachings of Islam, and will present it to Allah who will resulted in peacelful and spiritual satisfaction in this world and hereafter. Kata Kunci: pendidikan, spiritual, makrifat, syariat, hakikat, zikir, al-Qusyair

    248

    full texts

    262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇