Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
262 research outputs found
Sort by
MUSLIM WOMEN AND VEILING: What Does It Signify?
Abstrak: Perempuan Muslim dan Penggunaan Cadar: Apa Maknanya?. Perdebatan mengenai perempuan Muslim dan tindakan mereka mengenakan hijab atau menutup wajah bukanlah fenomena baru. Makalah ini akan mengeksplorasi perspektif memakai hijab melalui analisis semiotik serta fenomena perempuan dan menutup wajah pada umumnya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan data dikumpulkan melalui pengamatan dan kajian pustaka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kerudung melambangkan berbagai perspektif di tempat yang berbeda, budaya dan tradisi. Sebagaimana hijab sering diasosiasikan sebagai bagian agama Islam, hijab juga merupakan simbol yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hijab menjadi lambang identitas, religiusitas, kesopanan dan hak pilihan. Hijab juga mengungkapkan sikap mereka dalam masalah politik dan menunjukkan struktur sosial. Meskipun cadar bisa menggambarkan keterjangkauan perempuan dalam mengambil pakaian yang mereka pilih untuk hijab, beberapa simbol perlu ditinjau kembali karena mungkin ada beberapa perubahan dalam pemotretannya.Abstract: The debate upon women and their act of wearing hijab or veiling is not new phenomenon. This paper will explore the perspectives of wearing hijab through semiotic analysis as well as the phenomenon of women and veiling in general. This study employs qualitative approach, and the data were collected through observation and literature review. The findings indicate that veil symbolizes various perspectives in different places, cultures and traditions. As the veil often indexes as the religion of Islam, it is also a symbol which is affected by various factors. It becomes a symbol of identity, religiosity, modesty, and agency. The veil also reveals their stance in political matters and show the social structures. Even though the veil could portray the women’s affordability in taking up the clothing they choose to veil, some symbolizations need to be revisited since there might be some changes in its depictions. Keywords: women, veiling, hijab, symbol, Musli
IDENTITY NEGOTIATION OF CHRISTIAN AND MUSLIM STUDENTS IN INTERACTION BETWEEN RELIGIONS IN LANGSA
Abstract: This article describes how negotiation between the Christian and Muslim students in public place at Langsa. The objectives of the study are twofold, namely: the reason of Christian students deciding Langsa as the place of study despite different social condition from their own place and the pattern of negotiation conducted by the Christian students. Negotiation identity theory and national choice theory are used to know the reason of Christian students pointing Langsa as the place of study. using qualitative method with the phenomenal approach, it is found that the tolerance and harmony interaction between Christian and Muslims student in public place at Langsa. The pattern of negotiation used in public place at Langsa is: functional biculturalism that respect the different identity. this pattern is more effective to gain the culture shock and get the interaction easily the Christian and Muslim students in public place at Langsa.Abstrak: Negosiasi Identitas Mahasiswa Kristen dengan Muslim dalam Interaksi antar Agama di Kota Langsa. Tulisan ini menjelaskan pengalaman mahasiswa Kristiani bernegosiasi dengan mahasiswa Muslim dalam ruang publik di Langsa. Mendasarkan pada ruang sosial yang berbeda dengan kondisi mahasiswa Kristiani, pembahasan dimaksudkan untuk mengungkap alasan mahasiswa Kristiani memilih kuliah di Langsa yang berbeda kondisi sosial dengan daerah asalnya. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologis, didapatkan sebuah gambaran interaksi yang toleran antara mahasiswa Muslim dan Kristiani dalam ruang publik di Langsa. Adapun bentuk pola negosiasi yang dilakukan dalam ruang publik yaitu bikultarisme fungsional dengan menghargai identitas yang berbeda dengan aktor. Pola ini dianggap lebih efektif untuk menyelesaikan keterkejutan terhadap budaya baru dan memudahkan berinteraksi mahasiswa Kristiani dan Muslim dalam ruang publik di Langsa.Keywords: negotiation, identity, interaction, Muslim, Christian, public plac
DISKURSUS PENAFSIRAN AYAT AL-HURÛF AL-MUQATHTHA‘AH: Studi Analisis Tekstual dan Kontekstual
Abstrak: Al-Hurûf al-muqaththa‘ah di dalam al-Qur’an dipandang oleh sebagian umat Islam tekstualis hanya sebagai simbol yang sakral tanpa makna, sehingga tidak menunjukkan sisi kemanfatannya sebagai pedoman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna ayat al-hurûf al-muqaththa‘ah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 1., dengan menggunakan metode kajian literatur yang meliputi tafsir, sastra bahasa Arab dan sejarah. Analisis data menggunakan pendekatan gramatikal bahasa Arab secara tekstual dan historis secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hurûf al-muqaththa‘ah menjadi potret bagi sumber dan proses turunnya al-Qur’an secara autentik yang menunjukkan kelemahan sastra Arab saat berhadapan dengan wahyu. Keistimewaan al-hurûf al-muqaththa‘ah terletak pada nilai sastra dan kedalaman makna yang seyogianya dapat berperan aktif sebagai perekat ayat-ayat al-Qur’an lainnya secara holistik.Abstract: The Interpretation Discourse of Verses of al-Hurûf al-Muqaththa‘ah: Textual and Contextual Analysis. This article aims to reveal the meaning of the verse al-hurûf al-muqaththa‘ah in the Q.S. al-Baqarah/2: 1 by employing a historical and literature review method with textual and historical context grammatical approaches data analysis. The results of the study show that it portray the source and process of authentic Qur’an revelation. The mysterious eloquence of al-hurûf al-muqaththa‘ah lies in the literary value and the depth of meaning even though it consists only of a series of letters. The effort of the commentator to uncover the meaning of the verses of al-hurûf al-muqaththa‘ah should be able to play an active role as the uniting factor for other Qur’anic verses holistically. Therefore, a set of methods or approaches is required that is adequate to uncover the meaning that is in accordance with the thematic contexts of the verse.Kata Kunci: al-hurûf al-muqaththa‘âh, pendekatan tekstual, pendekatan kontekstual, penafsiran, al-Qur’a
Pemikiran Fikih Muhammad Asywadie Syukur
Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji pemikiran fikih Asywadie Syukur sebagai seorang ulama, akademisi dan sekaligus politisi. Pemikirannya meliputi tidak hanya terkait persoalan klasik tetapi juga persoalan kontemporer dan bahkan yang masih menjadi polemik di masyarakat, yang dihasilkan dari proses metodologis baik metode qaulî maupun metode manhajî. Dari proses inilah membuat Asywadie Syukur tidak terikat hanya pada satu mazhab tetapi terbuka pula pada mazhab yang lain. Namun karena referensi yang digunakan lebih dominan ke mazhab Syâfi‘î, kecenderungan fikih pun identik ke mazhab Syâfi‘î dengan tipologi tradisionalisme sekaligus neo-tradisionalisme bermazhab. Di sisi lain, Asywadie Syukur juga bermanhaj pada teori-teori kemaslahatan sehingga jika dikembalikan pada teori besar tipologi, disamping masuk dalam tipologi tradisionalisme ia juga masuk dalam tipologi modernisme.Abstract: Islamic Legal Thought of Muhammad Asywadie Syukur. This article seeks to examine Islamic legal thought of Asywadie Syukur as a scholar, academician and politician. His works covers not only in the field of the classical perspective, but also related to contemporary issues. But whatever they are, its naturally produced through the methodological process using either a qaulî or manhajî method. Based on this process, Asywadie Syukur is not confined to one particular school of legal thought. However, due to the fact that the references used are predominantly that of Syâfi’î, the tendency of his thought is identical with the principles of the latter with a typology of traditionalism with neo-traditionalism as a consequences of madhhab follower. Consequently, Asywadie Syukur follows the theories of public interest so that if is referred to grand theory of typology, in addition to traditionalism typology he also engaged in modernism typology.Kata Kunci: fikih, Asywadie Syukur, qaulî, manhajî, ushul fikih
STRENGTHENING LINGUISTIC AND EMOTIONAL INTELLIGENCE OF MADRASAH TEACHERS IN DEVELOPING THE QUESTION AND ANSWER METHODS
Abstrak: Memperkuat Kecerdasan Linguistik dan Emosional Guru Madrasah dalam Mengembangkan Metode Tanya Jawab. Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan metode tanya jawab dengan memperkuat kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional guru Madrasah Tsanawiyah. Jenis penelitian adalah korelasi yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Negeri di seluruh Kota Pekanbaru. Analisis data menggunakan statistik inferensi dengan regresi linier. Penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional secara simultan berkontribusi kuat untuk mengembangkan kemampuan guru menggunakan metode tanya jawab dalam proses pembelajaran. Penguasaan kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional dapat mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran. Kecerdasan emosional berkontribusi lebih tinggi daripada kecerdasan linguistik dalam mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah dalam menggunakan metode tanya jawab selama pembelajaran.Abstract: This research explores the development of a question and answer method by strengthening linguistic and emotional intelligence of Madrasah Tsanawiyah teachers. The type of research is the correlation carried out in the State Madrasah Tsanawiyah throughout Pekanbaru City where the subjects of this study are teachers in various fields of Islamic studies. Linguistic intelligence is predicted to be able to develop the success of teachers using the question and answer method, as well as emotional intelligence. The emotional intelligence contributes higher than linguistic intelligence in developing the success of Madrasah Tsanawiyah teachers in using question and answer methods during learning.Keywords: linguistic, emotional intelligence, madrasah, Pekanbar
KONSTRUKSI INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU
Abstrak: Kajian ini berupaya menyingkap bagaimana konstruksi integrasi ilmu di Universitas Islam Riau (UIR). Dengan pendekatan metode grounded teory, kajian ini berupaya untuk menguatkan teori tentang integrasi ilmu dengan objek kajiannya di UIR. Data dalam kajian ini diambil dari studi lapangan dan observasi mendalam. Hasil kajian ini mengungkap bahwa konstruksi integrasi ilmu pengetahuan di UIR sejak berdirinya tahun 1962 merupakan cita-cita para pendirinya yang menghendaki kampus ini berasaskan Islam. Secara eksplisit, tema integrasi ilmu pengetahuan dapat dilihat dari rumusan tujuan UIR, yang turunannya telah melahirkan berbagai kebijakan seperti kurikulum pendidikan Islam, Lembaga Dakwah Islam Kampus, pembinaan ke-Islaman dosen dan pengawai, green campus, pembinaan baca tulis al-Qur’an untuk mahasiswa, kajian Islam rutin melalui pemberdayaan masjid, organisasi Islami mahasiswa di setiap fakultas, dan penanaman karakter kampus dengan konsep Cerdas, Empati, Religius, Ikhlas, dan Amanah (CERIA).Abstract: The Construction of Science Integration in Islamic University of Riau. This study seeks to strengthen the theory of the integration of science with the object of study at Universita Islam Riau. The data was collected from field studies and in-depth observations. This study found that the construction of science integration at UIR since its establishment in 1962 was the ideals of its founders, so it was decided to be based on Islam. Explicitly the theme of science integration can be seen from the formulation of UIR objectives, that has given birth to various policies such as Islamic education curriculum, Campus Islamic Propagation Board, Islamic guidance for lecturers and employees, green campus, fostering reading and writing of the Koran for students, routine Islamic study circles, mosque empowerment, and internalization of campus character with the concepts of Smart, Empathy, Religiousity, Sincere, and Amanah (CERIA).Kata Kunci: Islam, science, integration, Islamic University of Ria
KEARIFAN LOKAL DALIHAN NA TOLU, NINIK MAMAK DAN KERAPATAN ADAT NAGARI DALAM MENJAGA KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DI SUMATERA BARAT DAN SUMATERA UTARA
Abstrak: Studi ini menganalisis peran kearifan lokal dalihan na tolu, ninik mamak dan Kerapatan Adat Nagari dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Pasaman Barat dan Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana data diperoleh melalui wawancara, pengamatan dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan bahwa kearifan lokal dalihan na tolu di Kabupaten Madina berperan penting dari segi agama, budaya dan sosial dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, karena menerapkan nilai budaya religius, menjaga kekerabatan, humajuon, hasangapon, uhum, pengayom kepada masyarakat dan mengelola konflik. Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat, peranan ninik mamak dan Kerapatan Adat Nagari belum optimal di dalam melaksanakan fungsinya karena minimnya dialog dan kerjasama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama.Abstract: Local Wisdom Dalihan Na Tolu, Ninik Mamak and Kerapatan Adat Nagari in Maintaining Inter-religious Harmony in West and North Sumatera. This study aims to analyze the role of local wisdoms in maintaining inter-religious harmony in West Pasaman and Mandailing Natal Regency. This research is a qualitative study in which data is obtained through interviews, observations and document studies. Data analysis techniques employ the Miles and Huberman models. This study proposed that the local wisdoms of dalihan na tolu in Madina Regency, play an important role of religion, social and culture in maintaining inter-religous harmony, since it apply seven religious values of humajuon, hasangapon, uhum, and managing the conflict. Meanwhile, in the West Pasaman the role of the ninik mamak and the Kerapatan Adat Nagari still need to be optimized in safeguarding religious harmony which might arise from the lack of dialogue and cooperation with Religious Harmony Forum (FKUB).Kata Kunci: Mandailing, Minangkabau, kearifan lokal, dialog, agama-agam
MAQÂSHID SYARÎ'AH APPROACH ON THE EMPOWERMENT OF HUMAN RESOURCES IN MULYODADI VILLAGE BANTUL YOGYAKARTA
Abstract: The process of community economic development by involving the community directly from planning, implementation to evaluation is a model of empowerment that raises human dignity on the real essence. The villagers is not only an object of development, but every individual is required to be involved in the whole process of empowerment. This article tries to analyze the inhibiting factors as well as solutions of empowerment program of Human Resources in Mulyodadi village. By using qualitative method and taking data through interview, observation, and documentation (triangulation). Finally this article found two factors inhibiting the empowerment of human resources that is internal and external aspects. However, these two factors can be solved with some solutions and approaches made by the government and the community.Abstrak: Pendekatan maqâshid syarî‘ah terhadap Penguatan Sumberdaya Manusia di Desa Mulyodadi Bantul Yogyakarta. Proses pembangunan ekonomi masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi merupakan model pemberdayaan yang memanusiakan manusia pada hakekat sebenarnya. Masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan atau program yang bersifat top-down, melainkan setiap individu dituntut terlibat dalam seluruh proses pemberdayaan. Artikel ini mencoba menganalisis faktor penghambat sekaligus solusi program pemberdayan Sumber Daya Manusia di desa Mulyodadi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pengambilan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (triangulasi). Artikel ini menemukan bahwa terdapat dua faktor penghambat pemberdayaan SDM yaitu aspek internal dan eksternal. Akan tetapi kedua faktor tersebut mampu diselesaikan dengan beberapa solusi dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun masyarakat.Keywords: maqâshid syarî‘ah, human resources, Bantul, economic developmen
EVALUASI PEMBELAJARAN DI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH AL WASHLIYAH DI KABUPATEN BATU BARA
Abstrak: Di antara organisasi Islam yang turut berkontribusi bagi pengembangan madrasah di Indonesia adalah Al Jam’iyatul Washliyah. Dalam konteks ini, Al Washliyah mengembangkan madrasah diniyah dan jumlah lembaga yang dikelola relatif banyak secara kuantitas. Artikel ini merupakan hasil studi lapangan dengan tujuan untuk mengevaluasi pembelajaran di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah, disingkat MDTA, yang terdapat di Kabupaten Batu Bara. Data yang diperoleh melalui kegiatan wawancara, studi dokumen dan observasi akan dianalisis dengan model analisis Miles dan Huberman. Studi ini menemukan bahwa kualifikasi sebagian pendidik masih belum memenuhi standar nasional, pendidik masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional, kurikulum tidak mengalami perubahan sejak lama dan tidak mengakomodir kurikulum pemerintah, sedangkan pemerintah dan masyarakat relatif kurang mendukung keberadaan madrasah. Abstract: Evaluation of Learning in Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al Washliyah in Batu Bara District. Among the Islamic organizations that participated in the development of madrasas in Indonesia were Al Jam’iyatul Washliyah. In this context, Al Washliyah developed madrasah diniyah (Primary School) and the number of institutions managed was relatively enormous. This article is the result of a field study with learning objectives in the Diniyah Takmiliyah Awaliyah Madrasah, abbreviated as MDTA, located in Batu Bara District. Data is obtained through interviews, document studies and observation. Such data is then analyzed by the analysis models of Miles and Huberman. The study found that the qualifications of the teacher still did not meet national standards. To put it differently, educators still used conventional learning methods, the curriculum did not change for a long time and did not accommodate government curricula, while the government and society were relatively less supportive of madrasah schools.Kata Kunci: evaluasi, pembelajaran, Madrasah Diniyah, Al Washliyah, CIP
PEREMPUAN MENGGUGAT: Telaah Perceraian Wanita Muslimah Berkarir di Kota Medan
Abstrak: Baiknya pondasi sebuah rumah tangga secara tidak langsung berpengaruh terhadap jatuh bangunnya sebuah negara, dan sebaliknya rusaknya pondasi sebuah keluarga berpengaruh terhadap merosot dan berkembangnya sebuah negara. Beberapa tahun belakangan ini jumlah permintaan gugat cerai istri terhadap suami mengalami peningkatan terutama dari isteri yang berkarir. Penelitian ini melihat permasalahan yang dibangun dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk melihat dan memahami faktor perceraian wanita muslimah berkarir di kota Medan berdasarkan fenomena, fakta dan data yang peneliti temui di lapangan. Berdasarkan temuan penelitian didapat bahwa untuk menegakkan konsep ideal sebuah keluarga sangat sulit untuk dilakukan pada masa sekarang. Kondisi perkawinan sekarang sangat berbeda dengan masa dahulu dalam pemaknaan relasi suami isteri. Dahulu pernikahan memiliki posisi sangat sakral, pernikahan dianggap sebagai ibadah, sehingga orang takut untuk bercerai, karena cerai dianggap aib dan dosa.Abstract: Women Prosecute: A Study of Divorce in Careered-Muslim Women in Medan City. The good foundation of a household indirectly affects the rise and fall of a country, and vice versa, the damage to a family’s foundation affects the decline and development of a country. In the last decade, the number of divorce petition against husbands has increased, especially from careered-wives. This paper attempts to study the problems using a phenomenological qualitative approach to thoroughly comprehend the factors of divorce of careered-Muslim women in Medan city based on the phenomena, facts and data that researchers encountered in the field. This study finds that to enforce the ideal concept of a family is not an easy task to do at present. The current condition and perception of marital tie within the society is very different from the past. At the early stage of development of human history, marriage were regarded as inherent in religious observance, and thus, people were reluctant to divorce since it was a disgrace and sin.Kata Kunci: gender, feminisme, cerai, wanita karir, Muslima