Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
262 research outputs found
Sort by
PUSAT-PUSAT PERKEMBANGAN TAREKAT NAQSYABANDIYAH DI TAPANULI BAGIAN SELATAN
Abstrak: Tulisan ini menelusuri perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Tapanuli Bagian Selatan melalui beberapa pusat tarekat Naqsyabandiyah dengan menggunakan prinsip sejarah lokal. Tarekat ini di kawasan tersebut datang dari dua sumber, yaitu dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan Babussalam, Langkat, Sumatera Utara. Pengaruh dari Minangkabau terutama melalui Syaikh Ibrahim Kumpulan, sedangkan dari Babussalam, Langkat melalui Syaikh Abdul Wahab Rokan. Namun demikian, sebagian Syaikh Naqsyabandiyah asal Tapanuli Bagian Selatan, setelah belajar pada Syaikh setempat, pergi dan belajar di Haramain. Sebagian mereka belajar langsung pada Syaikh Sulaiman Zuhdi atau Syaikh Ali Ridha di Jabal Abu Qubaisy. Di antara pusat-pusat perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Bagian Selatan adalah Hutapungkut, Aek Libung, Sayurmatinggi, Nabundong, Sipirok, Pudun, Aek Tuhul, Ujung Padang, dan Batu Gajah. Kebanyakan organisasi tarekat ini telah bertahan selama beberapa generasi, namun sebagiannya tidak bertahan karena faktor-faktor tertentu.Abstract: The Centres of Tarekat Naqshabandiyah in South Tapanuli Region. Using the principles of local history, this article traces the developments of Thariqat Naqshabandiyah in Southern Tapanuli through its many centers of activities. This thariqat reached the region by ways of Minangkabau West Sumatra and Babussalam Langkat North Sumatra with Syaikh Ibrahim Kumpulan and Syaikh Abdul Wahab Rokan being the central figures. However, some of the region’s Naqshabandiyah syaikhs, after learnign under local masters, continue their learning to Haramayn, Hijaz. Mostly, they learn under the celebrated Syaikh Sulayman Zuhdi or Syaikh Ali Ridha at Jabal Abu Qubaysh. The most important Naqshabandiyah center of the region are to be found in Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal; Aek Libung, Sayurmatinggi, Nabundong, Sipirok, Tapanuli Selatan; Pudun, Aek Tuhul, Ujung Padang, Padang- sidimpuan; and Batu Gajah, Barumun, Padang Lawas. Most of these centers have survived for generations; some, however, have not survived for different reasons.Kata Kunci: tarekat Naqsyabandiyah, pusat tarekat, Tapanuli Selata
PENGARUH TAFSÎR AL-MANÂR TERHADAP TAFSIR AL-AZHAR
Abstrak: Tafsir al-Azhar adalah sebuah masterpiece dan merupakan manifestasi corak pemikiran serta aspirasi HAMKA sebagai seorang ulama dan sastrawan terkemuka. Karya ini sarat dengan berbagai pesan pembaharuan dan ide-ide kritis yang menggugah pembaca supaya bangkit memperbaiki kondisi umat Islam baik dalam aspek keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi maupun politik. Dalam kajian ini penulis berusaha melihat pengaruh Muhammad ‘Abduh terhadap HAMKA dalam perumusan tafsirnya. Penelitian ini merupakan kajian perpustakaan terhadap Tafsir al-Azhar serta karya-karya tafsir Muhammad ‘Abduh, disamping rujukan-rujukan penting lainnya. Hasil kajian antara lain menemukan bahwa Tafsir al-Azhar mempunyai hubungan yang sangat erat dengan gerakan pembaharuan tafsir yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad ‘Abduh. Banyak gagasan pembaharuan ‘Abduh yang diadopsi HAMKA. Penulisan Tafsir al-Azhar sendiri mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan ketokohan serta jasa yang telah ditinggalkan oleh ‘Abduh.Abstract: The Influence of Tafsir al-Manâr on Tafsir al-Azhar. Tafsir al- Manâr is a masterpiece that has become a manifestation characterizes HAMKA’s thought and aspiration as a celebrated Muslim scholar and a man of letters. It contains various critical ideas and message of renewals that stimulate the reader to stand still and improve the aspects of religious, education, social, economic and politics of the Muslim community. This study is an attempt to see clearly to what extent the relationship between the commentary of al-Azhar with that of Muhammad ‘Abduh’s. This study is a library research on al-Azhar as well as Muhammad ‘Abduh’s al-Manâr. The most important outcome of the study is that the interpretation applied in al-Azhar has a very close relationship with that of reform movement exegesis led by Muhammad ‘Abduh. Many an idea of ‘Abduh’s reforms are adopted by HAMKA. The writing of the al-Azhar itself has a significant connection with the scholarship profile and academic services that have been inherited by ‘Abduh.Kata Kunci: Tafsîr al-Manâr, Tafsir al-Azhar, HAMKA, Muhammad ‘Abdu
GERAKAN ISLAMIS DI SUMATERA BARAT PASCA ORDE BARU
Abstrak:Gerakan Islamisme Radikalisme dalam Islam terlahir tidak hanya karena faktor pemahaman keagamaan yang literal terhadap ayat-ayat al-Qur’an atau faktor derivasi politik, sosial dan ekonomi saja, akan tetapi juga karena faktor bacaan yang kurang tepat terhadap sejarah Islam yang dikombinasikan dengan idealisasi berlebihan terhadap Islam pada masa tertentu. Tulisan ini mengungkap bagaimana faktor sejarah gerakan lokal berkontribusi pada memunculkan radikalisme. Kajian ini menggunakan pendekatan historis dengan memahami kronologis dan proses munculnya radikalisme Islam pasca Orde Baru di Sumatera Barat. Penulis berargumen bahwa kemunculan radikalisme Islam semakin terbuka, terlebih ketika dihadapkan pada keinginan pengulangan periode sejarah kejayaan Islam secara eksklusif, tanpa disertai kajian yang komprehensif tentang Islam dan masyarakat Muslim. Penulis juga menemukan bahwa gerakan radikalisme Islam di Sumatera Barat memiliki ketersambungan historis dengan gerakan Paderi abad ke-19. Abstract: Islamist Movement in the Post-New Order Era West Sumatra. Islamist movement or radicalism emerges not only due to the literal understanding of verses of the Qur’an nor is it political, social and economic factors but it rather due to inappropriate reading of Islamic history combined with an excessive idealization of Islam in a given time. This writing tries to unveil how historical factor of local movement had contributed to the emergence of radicalism. This study uses a historical approach, by understanding the chronology and the process of the emergence of Islamic radicalism in the post-New Order West Sumatra. The writer argues that the emergence of Islamic radicalism is open even wider when it generated with the desire to repeat the period of Islamic glory without a comprehensive assessment of Islam and Muslim society. He also argues that Islamic radicalism movement in West Sumatra has a close historical bond with that of the 19th century Paderi.Kata Kunci: Islamisme, pergerakan Islam, radikal, Sumatera Bara
HISTORIOGRAFI ISLAM INDONESIA: Perspektif Sejarawan Informal
Abstrak: Artikel ini membahas seputar perdebatan paradigma sejarawan informal di Indonesia dengan corak historiografi yang dihasilkannya. Pendekatan yang dilakukan menggunakan metode historis dengan mereview karya sejarah dalam bentuk tinjauan deskriptif–eksploratif terhadap sejarawan informal yang diwakili oleh Joesoef Sou’yb, HAMKA, dan Ali Hasjmy yang telah menghasilkan karya sejarah umat Islam Nusantara. Penulis menemukan bahwa secara teoritis terdapat tiga kategori sejarawan. Pertama, sejarawan akademik atau profesional yang berasal dari lembaga pendidikan sejarah, dibekali dengan metodologi dan teori-teori ilmiah. Kedua, sejarawan dari disiplin ilmu selain sejarah namun meminati bidang ilmu ini. Ketiga sejarawan dari masyarakat, yaitu sejarawan amatir, seseorang yang tidak bergelar sarjana tetapi lebih produktif menuliskan peristiwa sejarah dibandingkan sejarawan profesional yang karyanya kemudian dikenal dengan historiografi Islam awal di Indonesia.Abstract: Historiography of Indonesian Islam: An Informal Historian Perspective. This article discusses the debate of informal historian paradigm in Indonesia on historiographical genre produced. This study employs historical method by reviewing historical works with descriptive and explorative approach on informal historians represented by Joesoef Sou’yb, HAMKA, Ali Hasjmy, all of whom have produced historical works of Islamic society in the Indonesian archipelago. The author finds that theoretically, there are three categories of historian, namely, first, academic or professional historians who equipped themselves with history education, scientific theory and methology; second, historians who come from disciples other than history background, but have interest in this field; third, community historians, namely those who do not acquire any academic qualification but nonetheless they are more productive in writing historical events compared to the professional ones, such works of which then to be well known as early Islamic historiography in Indonesia.Kata Kunci: sejarawan informal, historiografi, Islam Indonesi
STRATEGI PEMBANGUNAN ISLAM DI ACEH PASCA TSUNAMI MENUJU TERWUJUDNYA MASYARAKAT RELIGIUS
Abstrak: Sejak Indonesia merdeka hingga masa Reformasi, Aceh senantiasa mengalami pasang surut. Sepanjang sejarah tersebut, konflik, baik secara vertikal masyarakat dengan Pemerintah RI, maupun secara horizontal sesama masyarakatnya, selalu saja terjadi. Terjadinya bencana tsunami 2004 menambah penderitaan rakyat Aceh, namun sekaligus memberi hikmah tentang pentingnya membangun Aceh kembali dalam bingkai wawasan keislaman dan keindonesiaan. Pasca tsunami, pembangunan kembali Aceh menjadi topik yang banyak dibicarakan. Dalam konteks itu, penulis memaparkan strategi rekonstruksi Aceh yang bertumpu pada pertama, membuat buku panduan pengamalan Syariat Islam untuk mayarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, membuat perencanaan pembangunan dengan menggunakan prinsip-prinsip pembangunan Islam. Ketiga, mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.Abstract: Islamic Development Strategy in Post-Tsunami Aceh towards Establishing Religious Society. Since Indonesian independence to the reformation era the development in Aceh has undergone changable rise and fall. In such history long-lasting conflict, be it vertically between the people and the government of the Republic of Indonesia or horizontally amongst the society had repeatedly happened. The tsunami of 2004 put the burden of Acehnese people even heavier, but at the same time it throw light into the importance of reconstructing Aceh in the framework of Islamic and Indonesian ways of life. In the post tsunami, the reconstruction of Aceh has become the most discussed topic. In this context, this essay extensively discusses the strategy of reconstruction in Aceh which mainly focus on: First, writing the blueprint of the Islamic teaching experience that should become as a guideline for peoples’ daily lives. Second, planning development program based on the Islamic development principles. Third, establishing an accountable and good governance.Kata Kunci: pembangunan Islam, Aceh, masyarakat religiu
PENDIDIKAN POLITIK KEBANGSAAN DAN POLITIK ISLAM DALAM KURIKULUM MADRASAH ALIYAH MASA ORDE BARU
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tarik menarik negara dan agama dalam kurikulum Madrasah Aliyah masa Orde Baru. Analisis dilakukan terhadap pokok bahasan dari empat mata pelajaran yang tampak nyata mengandung muatan politik kebangsaan dan dua mata pelajaran yang sarat dengan muatan politik keislaman, serta perkembangan masing-masing pokok bahasan dalam empat bentuk kurikulum Madrasah Aliyah sepanjang masa Orde Baru. Penelitian kualitatif strukturalisme ini berusaha menemukan tentang pola-pola yang terbentuk dari hubungan atau tarik menarik ini. Dari kajian ini penulis menyimpulkan bahwa Madrasah Aliyah pada masa Orde Baru mengajarkan muatan politik nasionalisme lebih banyak daripada materi pendidikan politik Islam.Abstract: Political Education of Nationalism and Islamic Politics in the Curriculum of Madrasah Aliyah in the New Order Era. This research aims at analizing relations between state and religion in the curriculum of Madrasah Aliyah in the New Order Era. The study focuses on components from four subjects that include contents of nation politics and two subject instructions that include matters of Islam politics. In this qualitative structuralism study, the author concludes on the patterns formed by such interaction. The author also maintains that Madrasah Aliyah in the New Order Era provided more on the politics of nationalism rather than those of subjects of education of Islamic politics.Kata Kunci: kurikulum, kebangsaan, Islam, politi
PSIKOTERAPI DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING ISLAMI
Abstrak: Psikoterapi merupakan proses penyembuhan kejiwaan konseli/ klien melalui beberapa terapi tertentu. Dalam tulisan ini penulis mengkaji bagaimana landasan dasar psikoterapi dalam Islam. Penulis memperlihatkan bahwa Islam memiliki dasar- dasar yang kukuh dalam proses psikopterapi. Proses penyembuhan atau perawatan dilaksanakan melalui intervensi psikis dengan metode dan teknik yang didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dalam perspektif bimbingan konseling Islami, perawatan (treatment) yang disarankan/dianjurkan oleh konselor (terapis) kepada klien dalam mengatasi/mengurangi permasalahan klien, baik permasalahan yang berkaitan dengan kejiwaan, spiritual, moral (akhlak), dan fisik (jasmaniyah) adalah dengan terapi kejiwaan melalui ibadah-ibadah wajib dalam agama, peningkatan kesabaran, taubat, zikir dan doa.Abstract: Psychotherapy in the Perspective of Islamic Counseling Guidance. Psychotherapy is healing proses of client’s psychic state by certain theraphic means. In this writing, the author studies the main principles of psychotherapy in Islam. The author throuw some lights that Islam laid down firm foundations in psychotherapic process. The treatment procedure is done through psychic intervention the technique and method of which are based on the precepts of the Qur’an and the Prophetic tradition (sunnah). In the perspective of Islamic counseling guidance, recommended treatment by the counselor to the client in solving the latters’ problems in such as those related to psychic, moral, spiritual physical, are through religious compulsory rituals, keeping up patience, repented and ask for God forgiveness as well as parayers.Kata kunci: Psikoterapi, penyembuhan, rawatan, bimbingan konseling Islam
KONTRIBUSI ISLAM TERHADAP MASA DEPAN PERADABAN DI ASIA TENGGARA
Abstrak: Beberapa ahli memperkirakan ada sekitar 1,6 miliar orang Muslim di dunia, di mana 62.1 % dari mereka hidup di kawasan Asia. Hanya 15 % adalah Muslim Arab, sedangkan hampir sepertiga hidup di Asia Tenggara. Islam di Asia Tenggara relatif lebih moderat dibandingkan Islam di Timur Tengah. Sifat moderasi ini merupakan bagian yang tidak terpisah dari perkembangan Islam di Asia Tenggara. Islam sampai ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan dan tidak melalui penaklukan militer seperti yang banyak terjadi di dunia Arab, Asia Selatan dan Timur Tengah. Islam juga diwarnai pada paham animisme, Hindu, dan tradisi Buddha di Indonesia, yang memberikan ciri sinkritisme. Islam baru tersebar di Asia Tenggara pada akhir abad ke-17. Kebangkitan Islam telah mengubah wajah politik Islam di Asia Tenggara. Memang benar bahwa Islam Asia Tenggara termasuk di antara Islam yang sangat minimal corak kearabannya yang diakibatkan oleh proses islamisasi yang pada umumnya berlangsung damai.Abctract: The Contribution of Islam towards Southeast Asian Future Civilization. By some estimates there are approximately 1.6 billion Muslims in the world, of which 62.1% live in Asia. Only 15% of Muslims are Arab, while almost one third live in Southeast Asia. Islam in Southeast Asia is relatively more moderate in character than in much of the Middle East. This moderation stems in part from the way Islam evolved in Southeast Asia. Islam came to Southeast Asia with traders rather than through military conquest as it did in much of South Asia and the Arab Middle East. Islam also was overlaid on animist, Hindu, and Buddhist traditions in Indonesia, which are said to give it a more syncretic aspect. Islam spread throughout much of Southeast Asia by the end of the seventeenth century. The Islamic revival is changing the face of political Islam in Southeast Asia. It is true that Southeast Asian Islam is among the least Arabicized forms of Islam, largely as a result of a process of Islamization that was generally peaceful.Kata Kunci: Islam, Asia Tenggara, peradaba
ANALISIS SWOT DAKWAH DI INDONESIA: Upaya Merumuskan Peta Dakwah
Abstrak: Islam merupakan agama dakwah yang menganjurkan pemeluknya untuk mengajak manusia supaya beriman dan berkarya serta menata kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pada tataran praktis, dakwah sebagai tugas mulia belum dikelola dengan profesional dan terukur. Pada sisi lain, dai belum mampu menjadi agen perubahan sebagaimana cita-cita Islam yaitu rahmat li al-‘Âlamîn. Akibatnya posisi dakwah kurang diminati karena belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan bagi kemajuan umat. Sebab itu, diperlukan pengkajian dan pemetaan secara komprehensif tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dakwah. Penulis berargumen bahwa pemetaan yang komprehensif terhadap hal tersebut dan kemudian diiringi dengan perencanaan dan pelaksanaan dakwah secara professional merupakan keniscayaan, sehingga pada gilirannya dakwah mampu menjadi solusi terhadap problem kehidupan umat di era globalisasi ini.Abstract: A SWOT Analysis of Indonesia’s Proselytization (da‘wah), An Effort to Map Islamic Propagation in Indonesia. Islam is a religion of proselytization (da‘wah), advocating its adherents to invite humankind to have faith and to put it in action and direct their lives in line with Islamic values. At the practical level, proselytization as a noble service has not been managed professionally and unmeasurable. Proselytizers (dai) have not managed to become agents of change as demanded by Islamic social mission. As a result, the position of a proselytizer is not in high demand because it has not managed to guide the Islamic community forward. Thus, a comprehensive research to map current effort of proselytization to find out its strengths, weaknesses, opportunities, and challenges is needed. This paper offer the argument that with a comprehensive map, along with professional planning and implementation, Islamic proselytization will provide solutions towards the variety of Islamic community problems in today’s age of globalization.Kata Kunci: dakwah, analisis SWOT, strategi pengembanga
PERDEBATAN HUKUMAN MATI DI INDONESIA: Suatu Kajian Perbandingan Hukum Islam dengan Hukum Pidana Indonesia
Abstrak: Secara tegas, hukum pidana Islam dan Indonesia mengatur tentang hukuman mati. Tetapi, di Indonesia eksistensi hukuman mati masih menjadi perdebatan. Ada pendapat bahwa hukuman mati bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dan ada juga menilai hukuman mati dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. Untuk mengkaji pertentangan pandangan tersebut, perlu dilakukan analisis secara kritis dengan mengunakan pendekatan yuridis normatif. Disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan hukuman mati, baik hukum pidana Islam maupun Indonesia mem- berlakukan secara hati-hati dan dengan batasan yang telah ditentukan oleh undang- undang. Dengan batasan-batasan inilah diharapakan dapat mengimbangi pandangan antara yang mendukung dan menolak hukuman mati di Indonesia. Hukuman mati dalam hukum pidana Islam untuk melindungi agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan yang merupakan karunia Allah SWT. yang harus dilindungi, di mana pelanggarnya pantas dihukum mati.Abstract: The Debate of Capital Punishment in Indonesia: A Comparative Study between Islamic and Indonesian Criminal Law. Strictly speaking, the Islamic and Indonesian criminal law provide for capital punishment. However, the existence of the death penalty in Indonesia is still debatable. It is assumed that the death penalty is against human rights, but others consider it as to protect the public interest. In order to discuss the contravening views, this paper is an attempt to critically analyzed the issu by using a normative juridical approach. It is concluded in its implementation of capital punishment both the in Islamic and Indonesian criminal law is carefully applied and with the limits prescribed by law. Such restrictions are expected to balance the views between the pro and against capital punishment in Indonesia. The death penalty in Islamic criminal law is to protect religion, life, property, intellect and descendant. The five basic human rights is given by the Almighty God that should be protected, the violator of which is liable for capital punishment.Kata Kunci: hukuman mati, hukum pidana, Isla