Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
    262 research outputs found

    KONTEKSTUALISASI PEMIKIRAN KH. HASYIM ASY’ARI TENTANG PERSATUAN UMAT ISLAM

    Get PDF
    Abstract: Persatuan umat Islam adalah aplikasi ajaran Islam tentang persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islâmîyah). Pluralitas kultural umat Islam telah menjadi resistensi tersendiri bagi implementasi doktrin tersebut dalam masyarakat Muslim. Di Indonesia, keragaman mazhab, organisasi dan aliran politik telah melahirkan disintegrasi umat. Beragam konflik intern umat Islam menjadi bukti disintegrasi tersebut. Tulisan ini mengkaji gagasan KH. Hasyim Asy`ari tentang persatuan umat Islam. Penulis menemukan bahwa gagasan tentang persatuan umat Islam KH. Hasyim Asy`ari didasari oleh tauhid dan anti fanatisme dalam masyarakat Muslim. Kenyataan bahwa disintegrasi menjadi problem dunia Islam kontemporer telah membuat ide KH. Hasyim Asy`ari menjadi urgen, dan dapat menjadi solusi alternatif bagi problem umat tersebut.Abstract: The Contextualization of KH. Hasyim Asyari’s View on the Muslim Unity. The Muslim unity is a logical consequence of religious teachings concerning the Muslim brotherhood (ukhuwah Islamiyâh). The diversity of the Muslim community has become a challenge for its application. In Indonesian, the diversity of mainstream school of thoughts, organizations, and parties have given rise to disintegration of the Muslim society. The internal conflicts that come out from various reasons is an evident of that disintegration. This paper analyzes KH. Hasyim Asyari’s view concerning the Muslim unity. The authors find that the idea of the Muslim unity should be based upon faith and anti-fanatism. It reflects the concordance of faith and could be realized in anti-fanatism attitude in the Muslim society. The idea of KH Hasyim Asy`ari is perceived of utmost important, for it may become an alternative solution for the social problems.Kata Kunci: Persatuan, Ukhuwah,  KH Hasyim Asy‘ari, Nahdhatul Ulam

    القاضي عبد الجبار المعتزلي وآراءه في القياس

    Get PDF
    Abstrak: Pemikiran al-Qâdhî  ‘Abd  al-Jabbâr Tentang Qiyâs. Al-Qâdhî  ‘Abd  al-Jabbâr selama ini lebih terkenal sebagai pemikir ulama Mu`tazilah yang sangat mengagungkan supremasi akal, namun ia memiliki pemikiran di bidang ushul fiqh seperti tertuang dalam karyanya Al Mughnî fî Abwâb al-Tawhîd wa al-‘Adl. Dalam salah satu pembahasannya ia berbicara tentang kehujjahan qiyas sebagai dalil syara`. Tulisan ini berusaha mengelaborasi pandangan al-Qâdhî  tentang kehujjahan qiyas sebagai dalil hukum. Penulis menemukan bahwa `illat dengan sendirinya memiliki konsekuensi  hukum sekalipun tanpa adanya aturan syara’. Pendapat ini berbeda dengan pandangan mayoritas ulama Sunni yang menyatakan bahwa illat tidak memberi implikasi hukum, kecuali ada dalil syara` yang menjelaskannya.  Sebagai contoh, memabukkan dalam minuman keras sebelum ada syariat pengharaman bukanlah `illat pengharaman khamr dan `illat dijatuhkannya hukum hadd kepada peminumnya. Pemikiran al-Qâdhî ini tampaknya diwarnai oleh ajaran Mu`tazilah yang menjadikan akal sebagai penentu baik dan buruk serta alat bagi kewajiban menjalankan yang kebaikan dan meninggalkan keburukan.   Abstract: Al-Qâdhî ‘Abd  al-Jabbâr’s Thought on Qiyâs. Although widely known as a Mu‘tazilite ‘ulamâ who support the supremacy of intellect, al-Qâdhî also well verse in the realm of Islamic legal theory as reflected in his Al Mughnî fî Abwâb al-Tawhîd wa al-‘Adl. In one of his excerpt, he discusses the position of analogy as a base for argument in Islamic law which becomes the focus of this essay. The author maintains that according to al-Qâdhî `illat or cause by itself has a legal effect even though prior to the existence of God’s rules provided for a certain case. Such view is in contrast with those of Sunni majority who argue that Divine revelation is required for ‘illat to be legally effective. For example, intoxication in alcoholic drink prior to its divine prohibition is not a cause for its banning nor is it a motive for punishment of the drunken person. Such al-Qâdhî’s thought seems to be influenced by his affiliation with Mu‘tazilite creed in which intellect is highly admired for it can determine the good from bad thing, and it also function as a means of performing obligation and avoiding the bad things as well. Kata Kunci: Hukum Islam, qiyâs, al-Qâdhî  ‘Abd  al-Jabbâr, ushûl al-fiq

    ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA: Penegakan dan Problem HAM di Indonesia

    Get PDF
    Abstrak: Tulisan ini menjelaskan kompatibilitas Islam dan HAM serta upaya-upaya penegakan dan perlindungan HAM di Indonesia sebagai salah satu negara Muslim. Tulisan ini dengan demikian menolak anggapan sejumlah pengamat tentang ketidaksesuai- an atau pertentangan antara Islam dengan HAM, terutama karena sebagian besar negara-negara Muslim kini belum sepenuhnya melindungi dan menegakkan HAM. Sejak awal Islam telah mengakui perlindungan hak asasi manusia (HAM), yang kemudian dirumuskan oleh para ulama dengan konsepmaqâshid al-syarî‘ah (tujuan syari’ah). Sebagai salah satu negara Muslim, Indonesia di era Reformasi ini telah berkomitmen untuk melakukan perlindungan dan penegakan HAM sejalan dengan penerapan sistem demokrasi secara substantif. Hanya saja, kini masih ada sejumlah masalah atau kendala dalam perlindungan HAM ini, baik yang bersifat substantif, struktural maupun kultural. Pemerintah, DPR sertacivil society dan organisasi-organisasi keagamaan telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi persoalan dan kendala itu.Abstract: Islam and Human Right: Its Application and Problems in Indonesia. This paper explains the compatibility of Islam and human rights as well as efforts to protect human rights in Indonesia as a Muslim country. This paper thus rejects the opinion of a number of observers about the incompatibility or conflict between Islam and human rights just because of the fact that the majority of Muslim countries does not fully protect and enforce human rights. Since the beginning, Islam has recognized the protection of human rights, which were then formulated by the ulama with the concept of maqâsid al-sharî‘ah (objectives of shari’ah). As a Muslim country, Indonesia in the Reform era has committed to the protection and enforcement of human rights in line with the implementation of substantive democracy. Yet there remain a number of problems or obstacles in the protection of human rights caused by several factors, be they substantive, structural or cultural. The government, parliament as well as civil society and religious organizations have conducted efforts to solve the problems and obstacles.Kata Kunci: hak asasi manusia, Islam, tanggung jawab manusia, maqâsid al- sharî‘ah, kebebasa

    PERSENTUHAN AGAMA ISAM DENGAN KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA

    Get PDF
    Abstrak: Islam masuk ke Indonesia tidak dalam kondisi hampa budaya. Telah ada budaya setempat yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Hal ini melahirkan akulturasi budaya antara ajaran Islam dan budaya masyarakat setempat. Di sisi lain, tata cara pelaksanaan ajaran Islam lebih bercorak keindonesiaan (lokal) dan tidak sepenuhnya sama dengan wilayah aslinya di Timur Tengah. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana persentuhan agama Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia, terutama dengan budaya Sunda. Penulis menyimpulkan bahwa hampir seluruh ranah kehidupan orang Sunda mengandung nilai-nilai yang Islami. Ajaran dan hukum dalam masyarakat Sunda pun disosialisasikan melalui seni dan budaya, seperti pada lakon pewayangan (wayang golek), lagu-lagu, pantun, dan banyolan-banyolan. Ajaran Islam melalui media wayang golek meliputi Islam sebagai a way of life, termasuk ajaran dasar tentang ketatanegaraan dan pemerintahan. Ajaran Islam melalui pewayangan seringkali menekankan ketaatan kepada ajaran agama dan negara secara bersamaan dan ber- kesinambungan yang mencerminkan pemahaman atas perintah ketaatan kepada Allah, Rasul dan ûli al-amri sebagaimana diamanatkan dalam al-Qur‘an.Abstract: The Convergence of Islamic Religion with the Indonesian Indigenous Culture. When Islam first entered Indonesian archipelago, this land was not culturally an empty space. There had existed local culture and developed in the Indonesian society, that has led to cultural acculturation between Islamic teachings and indigenous culture. As such, the ways of observing Islamic teachings are of Indonesian character and not necessarily similar to that of its origin in the Middle East. This paper explores how the convergence of Islamic religious teachings and the Indonesian local culture, especially the Sundanese had occurred. The author concludes that almost all aspects of Sundanese social life have been influenced by the Islamic values. The teaching and law in the Sundanese society could also be associated through art and culture, in such as puppet show (wayang golek), songs, poetry and anecdotes. The Islamic teaching through puppet show has often emphasized obedience to both religious teachings and the state simultaneously as reflection of understanding the fulfillment of God’s command, the Messenger and leader (ûli al-amri) found in the Qur’anic tenets.Kata Kunci : agama Islam, kebudayaan asli, akulturas

    EPISTEMOLOGI TAUHID AL-FARUQI

    Get PDF
    Abstrak: Tulisan ini mengkaji konsep epistemologi teologi tauhid yang menjadi bagian konstruksi kajian keislaman dalam pandangan Ismail Raji’ al-Faruqi. Sebagai pemikir Muslim kontemporer, al-Faruqi berpandangan bahwa tauhid merupakan sesuatu yang subtansial meretas entitas jati diri kemanusiaan dalam beragam dimensi. Hal ini melahirkan dinamika pemaknaan tauhid yang selaras dengan ber- bagai dimensi kehidupan. Subtansi tauhid demikian mesti ditemukan dari sudut kerangka keilmuan. Untuk menemukan subtansi tersebut digunakan pendekatan deskriptif historis analisis. Sehingga formulasi epistemologi tauhid al-Faruqi memunculkan inspirasi pemaknaan tauhid dalam pelbagai kehidupan. Penulis menemukan bahwa paradigma keilmuan al-Faruqi dalam konteks penerapan tauhid dapat dilihat dari sudut epistemologi. Kajian ini mencoba merumuskan penalaran epistemologi tersebut. Upaya ini diharapkan memberikan spirit kehidupan manusia yang berbasiskan tauhid dalam segala aspek kehidupannya. Abstract: Al-Faruqi’s Theological Epistemology. This writing discusses the concept of tauhid theological epistimology incorporated as part of al-Faruqi’s construction of Islamic studies. As a contemporary Muslim thinker, al-Faruqi maintains that tauhid is a substantial point in human’s character building in various dimensions. As such, this gives rise to producing the dynamics of tauhid meanings in all aspects of life. This kind of tauhid essence has to be persued at the ontological and epis- temological conceptions. In order to explore such subtance, historical descriptive analysis approach is used so that the formulation of tauhid epistemology of al Faruqi could be known in detail throw light into the tauhid meanings in this life. The writer found that al-Faruqi’s scientific paradigm at the level of applying tauhid could be observed through epistemological perspective. This study tries to formulate such epistemological analysis, hoping that it will enlighten human life based on the principles of Islamic creed or tauhid.Kata Kunci: tauhid, epistemologi, Ismail R. al-Faruqi, antroposentris, teosentri

    PERSEPSI PEREMPUAN TENTANG PERCERAIAN DI KOTA PADANG

    No full text
    Abstrak: Islam mensyariatkan perkawinan dengan tujuan mendapatkan keluarga bahagia. Namun, kenyataannya, sering terjadi perselisihan dalam keluarga yang tidak dapat didamaikan, yang berujung pada perceraian. Penelitian ini bertujuan meng- ungkapkan faktor penyebab meningkatnya perkara gugatan cerai di Pengadilan Agama Padang dan menggali persepsi perempuan di Kota Padang tentang perceraian. Dengan menggunakan metode kualitatif,  data dihimpun dari dokumen Pengadilan Agama Kelas I A Padang dan wawancara dengan perempuan yang mengajukan gugatan cerai, hakim, panitera, pengacara, dan tokoh perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab meningkatnya gugatan cerai adalah membaiknya tingkat pendidikan, kesadaran hukum, peluang berkarier dan perubahan stigma masyarakat terhadap perempuan yangbercerai. Selain itu, perempuan di Kota Padangberpendapat bahwa cerai bukanlahhal yang tabu dan menakutkan, karena juga dilindungi undang- undang sehingga dianggap sebagai solusi ampuh dalam menyelesaikan konflik keluarga.Abstract: Woman Perception on Divorce in Padang Central City. Islam set down marriage rule as a means of acquiring happiness. In reality, however, it marriage conflict may occur, and often cannot be resolved and that it leads to divorce. This study is a qualitative study seeking to reveal the causes of increasing divorce rate in the Religious Court of Padang, and to unveil women’s perceptions concerning divorce in Padang. By using qualitative method, the data is collected from the documents of the Grade I A Religious Court of Padang, and interviews with those women who file legal divorce suit, judges, clerks, lawyers, and women scholars. The findings reveal that the undelying factors of divorce rate increase are due to women’s education improvement, increasinglegal awareness, the availability of career opportunities, changing social stigma against divorced women and weakening understanding of religious values among women. Women in Padang perceive that divorce is no longer a taboo and embarrassing, since grants womens’ rights to file divorce in the court, and thus seen as an alternative solution to.Kata Kunci: perceraian, gugatan cerai,khuluk, perempuan, pengadilan agam

    HUMAN REALITY AND PERFECTION IN THE PHILOSOPHICAL VIEW OF SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA

    Get PDF
    Abstrak: Realitas dan Kesempurnaan Manusia dalam Perspektif Filosofis Sutan Takdir Alisjahbana. Tulisan ini difokuskan pada pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana  tentang filsafat manusia dan relevansinya dengan pemikiran Islam kontemporer. Teori nilai dasar pemikiran filsafat Eduard Sprenger meliputi agama, estetika, politik, sosial, ekonomi dan teori nilai menjadi landasan analisis terhadap studi ini. Penulis menemukan bahwa menurut filsafat Sutan Takdir Alisjahbana, dalam diri manusia terdapat unsur-unsur pokok yang menjadi sumber perilaku badani dan kualitas mental. Pemikiran filsafat Alisjahbana yang demikian tidak bisa dilepaskan dari penilaian budi dan tumbuhnya sikap tanggung jawab yang merupakan tujuan dari filsafat manusia. Selanjutnya, Alisjahbana juga merumuskan bahwa solusi terbaik dalam penyelesaian krisis kemanusiaan dewasa ini adalah dengan mengintegrasikan keseluruhan nilai dasar yang ditopang oleh nilai ketuhanan sejalan dengan rasionalitas ilmu pengetahuan modern.Abstract: This article focuses on Sutan Takdir Alisjahbana’s thoughts on the philosophy of man and its relevance to contemporary Islamic thought. This study used Eduard Sprenger’s theory of six basic values of philosophy, all of which become the grounds in analysing Alisjahbana’s philosophy of man and its relevance to the current Islamic thought. The author maintains that according to Alisjahbana, human behaviours, both mentally and physically, are built upon the main essence existing in human nature. He is not able to free of it unless with the effort of doing goodness. Alisjahbana’s thought is much related to his assessment on human philosophy that emerges from the value system embedded in human nature reflected in the growth of responsibility is used as parameter on his philosophical thought. For Alisjahbana, the best solutions on the current problem of humanities is to balance the values supported by the idea of the divinity value in line with the rationality of today’s modern science.Keywords: Islamic philosophy, Sutan Takdir Alisjahbana, philosophy of ma

    MUSLIM-CHRISTIAN DEBATES IN THEEARLY ‘ABBASID PERIOD: The Cases of Timothy I and Theodore Abu Qurra

    Get PDF
    Abstrak: Perdebatan Muslim-Kristen Pada Awal Era Abbasiyah: Studi Kasus Era Timothy I dan Theodore Abu Qurra. Kekhalifahan Abbasiyah awal meninggalkan warisan penting dalam sejarah dunia, melalui gerakan penerjemahan pemikiran dan literatur Yunani ke dalam bahasa Arab. Era tersebut menjadi saksi berkembangnya diskursus antar-agama maupun debat keagamaan Islam dan Kristen. Artikel ini berupaya mendeskripsikan bagaimana kedua poin sejarah di atas berkorelasi dengan faktor lain seperti politik dan identitas keagamaan. Debat paling awal berlangsung antara khalifah al-Mahdi (755-785 M) dengan Timothy I (728-823 M). Perdebatan keduanya merupakan contoh pertama diskursus keagamaan era ini. Contoh berikutnya perdebatan khalifah al-Ma’mun (813-833 M) dengan Theodore Abu Qurra (755-830M). Dengan mengetahui motif kedua khalifah dalam menyelenggarakan debat keagamaan, jaringan konteks periode tersebut akan dapat dipahami dengan lebih baik.Abstract: The era of the early ‘Abbasid caliphate made an important mark on the history of the world by the event of the Greek translation movement, i.e. the translation of Greek thoughts into the Arabic language. In addition to this development, the era also saw the flourishing of interreligious discourse, in both polemical literatures and religious debates, especially between Christians and Muslims. This article tries to describe how those two historical remarks are correlated under the light of other factors such as politics and religious identity. The earliest debate was happened between caliph al-Mahdi (r. 755-785 CE) and a Nestorian Catholicos, Timothy I (728- 823 CE), as the first sample of religious discourses. The second one is the debate between the caliph al-Ma’mun (r. 813-833CE), who arranged many religious debates in his court, with Theodore Abu Qurra (755 – 830 CE), Bishop of Harran. By knowing the motives of the two caliphs who sponsored those events, readers would catch a better picture of the historical contexts of that time.Keywords: Islamic history, Abbasid period, Muslims-Christian relatio

    TEOLOGI RASIONAL PADA PESANTREN TRADISIONAL: Telaah Konsep Teologi pada Buku Daras Teologi di Pesantren Musthafawiyah

    Get PDF
    Abstrak: Tulisan ini berupaya mengkaji apakah konsep teologi yang terdapat dalam buku daras teologi di pesantren Musthafawiyah bersifat rasional atau tradisional. Metode yang digunakan adalah dengan menelaah secara mendalam konsep-konsep teologi yang terdapat pada buku-buku tersebut dan menimbangnya dengan tolak ukur ilmu logika (mantiq). Temuan yang dihasilkan menunjukkan bahwa konsep teologi yang terdapat pada buku daras tersebut bersifat rasional. Rasionalitas teologi itu diyakini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan dapat diterima oleh masyarakat umumnya, alumni atau santri yang sedang belajar di pesantren ini khususnya, sehingga tetap dapat bertahan hingga saat ini. Rasionalitas itu dapat dilihat pada kajian tentang keberadaan Tuhan, sifat-sifat, dan keadilan-Nya, perbuatan manusia dan defenisi iman yang dalam buku-buku daras tersebut didasarkan pada argumentasi akal, bukan naqal, sama dengan apa yang dilakukan oleh Muktazilah.Abstract: Rational Theology in Traditional Pesantren: An Analysis of Theological Concept of Theology Textbook in Pesantren Musthafawiyah. This essay tries to study whether the theological concepts that are written on thelogy text books at the Islamic boarding school of Musthafawiyah are rational or traditional. The methode used in this essay is an in-dept study on the theological concepts found in such textbooks while analyzing them through logic. This study reveals that theological concepts in those textbooks are is rational in character. The rationality of this theological concept is believed to be factor that lead to well reception by the community, graduates and especially active sudents of this boarding school and thus it can survive challenges till today. This rationality of the text is evident in such discussion as the existence of God, His attributes and justice, as well as on human actions and the articles of faith, all of which are based on logic rather than dogma like those of the Mu’tazilites’.Kata Kunci: teologi, rasional, tradisional, modern, buku daras, Musthafawiya

    NILAI-NILAI PEMBANGUNAN ISLAM DALAM MASYARAKAT GAYO

    Get PDF
    Abstrak: Sistem budaya masyarakat Gayo bernilai spiritual dan berorientasi akhlâq al-karîmah. Nilai-nilai budaya ini membentuk pergaulan hidup bersama berlandaskan syariat Islam. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah dan mengangkat kembali nilai budaya Gayo yang dipandang relevan dengan ajaran Islam. Penulis menemukan bahwa nilai-nilai budaya Gayo;genap mupakat “syuro”(musyawarah), amanat (amanah), Tertib,Alang tulung beret bantu(saling-tolong menolong”,Gemasih (kasih sayang),setie(setia),bersikemelen (berkompetisi) memiliki nilai-nilai spiritual bagi masyarakat Gayo. Sistem-sitem nilai tersebut menurut analisis penulis sejalan dengan ajaran Islam. Sinergisitas antara Islam dan nilai-nilai budaya Gayo pada akhirnya diharapkan mampu mewujudkan pembangunan al-insân al-kâmil dalam masyarakat Gayo. Hal ini tentunya dapat terwujud jika ada upaya nyata untuk mengimplementasikan nilai-nilai budaya tersebut pada tataran praktis.Abstract: The Values of Islamic Development in Gayo Society. The system of Indonesian Gayo culture has spiritual dimension of value and virtuous character (akhlâq al-karîmah) orientation. Such cultural values form the relationship of living together based on the principles of Islamic shariah. This paper is aimed at analyzing and reconstructing Gayo cultural values perceived to be relevant with Islamic teaching. The author finds that the values of Gayo culture that includesmukemel (low hearted and honor),setie (faithful),semayang/gemasih (affection), mandate,genap mupakat (consolidation), alang tulung beret berbantu (helpful), bersikemelen (competitive) have spiritual values for Gayo society. Such value systems according to the author run parallel with the teachings of Islam. The synergy of Islam and the cultural values of Islam is finally hoped to be capable of producing perfect man oral-insân al-kâmil within Gayo society. And for this to be realized, there should be a more serious attempt to implement such cultural values at the practical level.Kata Kunci: Nilai budaya, pembangunan, Gayo, Isla

    248

    full texts

    262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇