Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
    262 research outputs found

    PENGEMBANGAN KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU PAI DI ACEH

    Get PDF
    Abstrak: Pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di wilayah Kota Lhokseumawe dilatarbelakangi oleh kompetensi guru Pendidikan Agama Islam mengalami kemunduran dari beberapa indikator profesionalisme. Artikel ini mengajukan temuan, yang didasarkan pada teknik pengumpulan data kualitatif yang dideskripsikan melalui analisis dekriptif, bahwa pengembangan kompetensi profesionalisme guru di Kota Lhokseumawe belum sepenuhnya mengalami perkembangan. Langkah-langkah pengembangan kompetensi profesionalisme guru adalah melalui belajar mandiri, mengikuti pelatihan individu, diskusi dan rapat dewan guru, melakukan penguatan melalui kegiatan Kerja Kelompok Guru, serta melakukan pusat kegiatan guru pada tingkat kecamatan. Lebih jauh ditemukan bahwa kendala utama pengembangan kompetensi profesionalisme guru adalah pelatihan guru berjalan di tempat, kurangnya alokasi dana peningkatan guru, terjadinya penurunan motivasi, dan kurangnya penguasaan informasi dan teknologi.Abstract: The Development of Professionalism Competence of Islamic Education Teachers in Aceh. The development in Islamic Education Teachers Lhokseumawe City area, against the background by the competence of teachers of Islamic education suffered a setback of several indicators of professionalism. The findings based on qualitative data collection techniques are described through descriptive analysis reveals that the development of professional competencies of teachers in Lhokseumawe city has not shown significant growth. Efforts to develop  professional competence of teachers are done through independent study, individual training, discussions and meetings of the board of teachers, strengthening through teachers’ group work, and organizing centre for teachers’ activities at the district level. However, the whole process of the training for teachers of Islamic education became stagnant, the budget cut for improving the quality of teachers, less motiveted, and lack of mastery of information and technology.Kata Kunci: guru, kompetensi, profesionalisme, pendidikan agama Isla

    PERSPEKTIF AL-QUR’AN TENTANG PENDIDIKAN AKHLAK

    Get PDF
    Abstrak: Akhlak merupakan topik penting dalam pendidikan Islam. Topik ini banyak dibahas oleh para pemikir Muslim. Perbedaan sistem pendidikan Islam dari system pendidikan Barat yang paling penting adalah dalam persoalan iman dan kesalehan, sebagai tujuan yang fundamental. Barat telah gagal menunjukkan kehadiran seperangkat nilai moral, sebagai salah satu tujuan yang harus dicapai. Tulisan ini mencoba menemukan tiga tujuan pendidikan akhlak dalam perspektif al-Qur’an. Analisis ini akan mewujudkan bahwa al-Qur’an itu sebagai petunjuk untuk semua pengetahuan. Dalam pandangan al-Qur’an, ada tiga tujuan pendidikan akhlak, yaitu untuk mewujudkan rasa kasih sayang antar manusia, untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, dan terakhir untuk mencapai rasa syukur kepada Allah. Ketiga tujuan ini hendaknya dapat diimplementasikan dalam semua jenjang pendidikan sekolah, dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sampai ke Universitas.Abstract: Qur’anic Perspective on Moral Education. The issue of akhlâq, plays an important topic in the Islamic education, because it is the dominant aims of Islamic education in the view of Muslim thinkers. The distinguishesthe Islamic system education from the modern Western system is the importence it attaches to faith and piety as one of its fundamental aims. The West fails to indicate how in the absence of a set of moral value (akhlâq), either of those aims can be realized.This article is aimed at exploring some aims of akhlâq education in the view of al-Qur’an. This analysis will embody the al-Qur’an as the guidance of knowledges. In the view of al-Qur’an, they are three aims of akhlak education, namely: to produce the love sense amang the human being, to produce the happy in the live and here after, and the last to produce syukur sense to god Allah. These three aims should be implemented at the school from the Kindergaten through to the University level.Kata Kunci: karakter, pendidikan akhlak, al-Qur’an, tafsi

    SPIRITUALITAS SAINS DALAM ISLAM: MENGUNGKAP TEOLOGI SAINTIFIK ISLAM

    Get PDF
    Abstrak: Artikel ini membahas pemikiran Islam tentang teologi saintifik yang  sering menjadi perdebatan para ilmuwan. Sebagian pakar berpendapat bahwa al-Qur’an memotivasi umatnya untuk mencintai sains. Pakar lain berpandangan bahwa ayat- ayat al-Qur’an memberikan sinyal-sinyal sains. Pada perkembangan terakhir menguat geliat umat Islam tentang perlunya islamisasi sains. Pendekatan dalam artikel ini adalah pendekatan teologi sains yang mengupas visi dan relasi sains dan Islam. Dalam konteks ini, Islam bukan hanya mendorong umatnya untuk mencintai sains, akan tetapi memberikan sinyal sains yang kalau diungkap akan menghasilkan karya sains yang memberikan kontribusi bagi peradaban manusia. Penulis menyimpulkan bahwa eksistensi sains memperoleh dukungan signifikan dalam ajaran Islam hingga menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari sistem teologi Islam.Abstract: The Spirituality of Science in Islam: Revealing Islamic Scientific Theology. This article discusses Islamic scientific theology that often debated by scholars. Some Islamic scholars argue that Islam through al-Qur’an motivates believers to love science and thus their works do not contradict withal-Qur’an. Others argued that al-Qur’an only provides signs of science and encourages people to solve the puzzles of science. Nowadays the need for islamization of science has grown stronger among Islamic thinkers. This article uses a theological approach to explore the relation of science and Islam. As such, al-Qur’an not only encouraged people to love science but also the signals of science that will produce works of science that contribute to human civilization. In short, the existence of theological science gained significant support in the teachings of Islam to be an integral part of the system of Islamic theology.Kata kunci: sains, al-Qur’an, epistemology, islamisasi, teologi saintifi

    PEMISKINAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

    Get PDF
    Abstrak: Penanganan terhadap persoalan korupsi merupakan tugas berat di setiap negara dalam mencapai good governance. Di Indonesia, sejak bergulirnya reformasi, terjadi peningkatan tindak pidana korupsi dan penyebaran pelakunya semakin meluas. Tulisan ini mencoba memberikan solusi tentang sanksi hukum pemiskinan koruptor, baik dari perspektif hukum pidana positif maupun hukum Islam. Menurut penulis, pemiskinan koruptor yang berarti sebuah hukuman untuk membuat tersangka menjadi miskin akibat aset dan harta benda yang dimilikinya sebenarnya mendapat preseden dari putusan-putusan hakim yang menyita harta koruptor. Dalam hukum pidana Islam, pemiskinan koruptor sebenarnya tidak sejalan dengan konsep ‘uqûbah atau penjatuhan sanksi bagi seorang terdakwa. Namun demikian, sebagai sebuah bentuk hukuman takzir berupa denda sejumlah uang yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap seorang terpidana kasus korupsi, tampaknya boleh dilakukan.Abstract: Impoverishment of Corruption Crime in the Perspective of Positive Criminal Law and Islamic Law. Dealing with corruption issue is a tough task of any country in achieving good governance. In Indonesia since reformation era began, there was an increase in the number of corruption crime This paper attempts to provide solution pertaining to sanctions to impoverish corruption crime, both in the perspectives of Islamic positive criminal law and Islamic penal law. According to the author, the impoverishment of corruption crime in the sense of sanction that causes the suspect in the state of poverty due to the fact that their property and asset prescribed in the precedent of the decisions of judges who confiscate criminals. In the Islamic perspective, the impoverishment of the corruption crime as punishment is not in line with a form of punishment named ‘uqûbah or impose sanctions for a defendant. Nevertheless, as a form of punishment in the form of fines as ta’zîr, an amount of money demanded by the public prosecutor against a convicted cases of corruption, perceived to be feaseable to be applied.Kata Kunci: korupsi, koruptor, pemiskinan, jinâyah, hukum pidan

    MENGGAGAS UNIVERSITAS ISLAM IDEAL: Studi Terhadap Pemikiran Syed Ali Ashraf

    Get PDF
    Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang konsep universitas Islam menurut Ashraf. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif di mana pengumpulan datanya dilakukan melalui studi kepustakaan dan datanya kemudian dianalisis dengan cara deskriptif. Idealnya, sebuah universitas Islam harus memiliki konsep yang luas tentang pendidikan Islam yang tidak membatasi dirinya hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman semata, tetapi harus mencakup pengajaran semua subjek karena semuanya berdasarkan pada tauhid. Selanjutnya, sebuah universitas Islam seharusnya tidak hanya memberikan pengajaran dan pelatihan yang hanya mengisi otak para mahasiswanya saja tetapi lebih dari itu harus bertujuan untuk menghasilkan manusia yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan yang benar dan watak yang mulia. Selain itu, para mahasiswanya harus mampu bekerja untuk kesejahteraan umat manusia berdasarkan landasan spiritual. Sebuah universitas Islam idealnya juga harus memberikan prioritas untuk melakukan penelitian sehingga harus memiliki pusat penelitian yang baik untuk memfasilitasi para penelitinya yang berkualitas untuk semua cabang ilmu pengetahuan.Abstract: Initiating an Ideal University: A Study of Syed Ali Ashraf’s Thought. The objective of this research is to study the concept of Islamic university according to Ashraf. This is a qualitative research whose data were collected through library research and using the method of descriptive analysis. An Islamic university should have a broad concept of Islamic education that does not limit itself only to give instruction of traditional Islamic sciences, but it should include all subjects since they are based on tawhid. Furthermore, an Islamic university should provide not only instruction and training to fulfill the mind of its students but more than that it should be aimed at producing enlightened people with sound knowledge and noble character. In addition, its students must be able to work for the welfare of human being on the basis of spirituality. It should also give priority to undertake research, therefore it must provide research center to facilitate qualified researches of all branches of knowledge.Kata Kunci: pendidikan Islam, Universitas Islam, dualism, Syed Ali Ashra

    POSITIFIKASI ASKETISME DALAM ISLAM DENGAN PENDEKATAN PARADIGMA KLASIK DAN MODERN

    Get PDF
    Abstrak: Asketisme identik sebagai moral tertinggi atau pencapaian asketis dalam menghiasi kehidupan agar memaknai eksistensi agama dalam keyakinannya. Asketisme sebanding dengan ketinggian etika atau ketinggian ethos. Asketisme dipersepsikan tidak diarahkan kepada keengganan untuk bekerja adalah gejala dari kurangnya karunia. Asketisme dalam Islam dipersepsikan sebagai zuhud yaitu alienasi diri serta diidentikkan dengan faqîr, jû‘i atau ‘uzlah menjauhkan diri dari kebersamaan. Dengan demikian pengenalan asketisme Islam dengan zuhud masuk dalam kekangan masa lalu, sedangkan asketisme Islam yang kontemporer mesti masuk dalam ironcage modernitas. Asketisme Islam dilatar belakangi oleh ethos dan etik yang bersifat sosiosentris bukan egosentris hanya mendambakan kesempurnaan dan kesalehan diri. Corak asketisme Islam tidak bersifat zuhud stagnan akan tetapi zuhud moderat. Dengan demikian zuhud moderat sama dengan zuhud produktif dan partisipatif.Abstract: Positivication of Asceticism in Islam in Classical and Modern Paradigm Approaches. Asceticism is known as the highest moral or the ascetic achievement in order to interpret the existence of religious life in his conviction. Asceticism is comparable with the height ethical or altitude ethos. Asceticism is perceived not turn to unwillingness to work is symptomatic of lack of grace. Asceticism in Islam is perceived as an ascetic self-alienation and identified with faqîr, jû’i or ‘uzlah. Thus the introduction of asceticism in Islam called zuhud can do ironcage entry in the past, whereas contemporary Islamic asceticism must be included in ironcaging modernity. Islamic asceticism motivated by ethos and ethic which is sociocentric not egocentric only for self-perfection and self-righteousness. The style of Islamic asceticism is not be stagnant zuhud but moderate zuhud. Thus moderate zuhud is identical with productive and participatory zuhud.Kata Kunci: tasawuf, asketisme, Islam, klasik, moder

    INTERPERSONAL METAPHOR OF MOOD APPLIED TO SOME VERSES OF THE HOLY AL-QUR’AN

    Get PDF
    Abstrak: Penerapan Modalitas Metafora Interpersona pada Ayat-Ayat Suci al-Qur’an. Artikel ini merupakan hasil penelitian deskriptif kualitatif yang menguji teori moda metafora interpersonal yang digagas oleh Halliday (1994) apakah relevan diaplikasikan pada ayat-ayat suci al-Qur’an. Metafora interpersona yang dipergunakan dalam survey ini meliputi tiga jenis moda yaitu moda indikatif, moda interogatif dan moda imperatif. Akan tetapi penelitian ini tidak mencakup metafora interpersonal modalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak ayat suci al-Qur’an yang menggunakan transfer moda dalam mengemukakan pesan: sebahagian moda indikatif diekspresikan dalam bentuk interogatif dan imperatif, sebahagian moda imperatif diekspresikan dalam bentuk indikatif dan interogatif, dan beberapa moda interogatif diekspresikan dalam moda indikatif dan imperatif. Hal ini berarti bahwa teori metafora interpersona yang dipelopori Halliday dapat disahkan sebagai teori linguistik yang memenuhi standar.Abstract:This article is the result of a descriptive qualitative research which examine to what extent the theory of Interpersonal Metaphor of mood postulated by Halliday (1994) is relevant to be applied to the verses of the Holy al-Qur’an. The Interpersonal Metaphor applied in this survey covers the three kinds of mood which constitute indicative mood, interrogative mood and imperative mood. This work, however, does not cover the Interpersonal Metaphor of modality. The result shows that some verses of the Holy al-Qur’an use the transference of mood in conveying messages: some indicative moods are expressed in the interrogative and imperative, some imperative moods in the indicative and interrogative, and some interrogative moods in the indicative and imperative. The writer maintains that Halliday’s theory of Interpersonal Metaphor can be justified as an adequate linguistic theory.Keywords: systemic functional linguistics, interpersonal metaphor, al-Qur’an, literatur

    PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK DALAM PENDEKATAN ISLAM DAN PSIKOLOGI

    Get PDF
    Abstrak:Karakter atau akhlak anak yang baik tidak muncul secara tiba-tiba tanpa melalui proses pendidikan. Salah satu cara dalam pendidikan karakter anak adalah menerapkan pendidikan agama pada anak sejak dini. Tulisan ini mengkaji bagaimana pendidikan karakter anak dalam pendekatan Islam dan psikologi. Penulis menyimpulkan bahwa Islam dan Psikologi memiliki pandangan dan tujuan yang sama dalam memaknai pendidikan karakter pada anak. Setiap orangtua dituntut menggunakan teknik dan pendekatan yang tepat dalam mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu mendidik budi pekerti dan jiwa. Salah satu metode yang harus difungsikan adalah agama. Dalam pendidikan agama Islam dan teori Psikologi diajarkan prinsip-prinsip penting, seperti: keimanan, keteladanan, kedisiplinan, nasihat, hukum dan ganjaran yang diberikan orangtua kepada anak sejak dini dalam keluarga sehingga pendidikan agama bermakna melahirkan orang yang beriman, beribadah dan berakhlak. Ketiga domain ini menuju kepada terbentuknya karakter yang baik.Abstract: Child’s Character Building in Islamic and Psychological Approaches. Character or good morals of a child will not be materialized as such without going through the process of education. One way to improve the good character in children is to adapt to religious education from an early age. The author concludes that Islam and psychology perceive similar views and goals in comprehending child’s character building. In carrying outthe process of religious educationfor children in the family, the parentis requiredto use appropri atetechniques and approaches that it may affect personal development ofthe childin accordancewith Islamic educational objective, namely developing the character and psychological aspects. One of the methods that should be applied is the religion. In Islamic religious education and theory of psychology important principles are thought, such as: creed, exemplar, discipline, guidance, law, discipline, reward and punishment, all which will produce true believers, observance and good character. Thethree aspets will consequently lead tothe formation ofgood character, especiallymoral education.Kata Kunci: Psikologi, pendidikan karakter, agama, akhlak, jiw

    KONVERGENSI ISLAM DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT

    Get PDF
    Abstrak:Tulisan ini mencoba mengungkap hubungan antara Islam dan sains dalam perspektif filsafat. Dengan menggunakan pendekatan doktrinal kajian kepustakaan, tulisan ini membahas teori-teori yang digunakan untuk menentukan hakikat kebenaran dalam filsafat, yaitu  teori realisme dan teori idealisme. Menurut penulis, perdebatan terhadap kedua teori tersebut tidak berakhir pada apa yang menjadi dasar penentuan kebenaran pengetahuan, tetapi juga pada perdebatan kepada asal pengetahuan itu sendiri. Hal tersebut melahirkan teori empirisme dan rasionalisme. Dalam hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan, paling tidak terdapat empat kubu, yakni kubu konflik yang menganggap sains dan agama bertentangan; kubu kontras yang memandang bahwa antara agama dan sains berdiri sendiri; kubukontak atau dialog yang mencoba menjembatani antara kedua bidang ini; dan kubu konfirmasi yang berupaya bahwa sains harus diarahkan untuk kepentingan kemanusiaan. Dalam kajian ini, penulis menemukan bahwa konvergensi ilmu pengetahuan dan agama menjadi satu kesatuan yang terintegrasi.Abstract: The Convergence of Islam and Science in the Perspective of Philosophy.This essay attempts to reveal the relationship between Islam and science in the perspective of philosophy. By utilizing doctrinal literature studies approach, this writing discusses theories that determine the essence of truth in the realm of philosophy, namely realism and idealism theories. According to the author, the debate on such theories would not terminate in what became the basis for determining the truth of knowledge, but also to the issue of the origin of the knowledge itself, which gave birth to the theory of empiricism and rationalism. With regard to the relationship between religion and knowledge, there are at least four mainstreams which include first, conflict that regards religion and science in contradiction; second, contrast that considers both as independent; third, contact or dialoguethat tries to bridge the two; and forth, confirmation which  makes an effort to make both for human interest . In this study, the writer found that the convergence of knowledge and religion has turned into one integrated whole.Kata Kunci: ilmu, agama,  filsafat, sains, integrasi ilm

    PALESTINA DAN ISRAEL: Sejarah, Konflik dan Masa Depan

    Get PDF
    Abstrak: Palestina pada mulanya adalah bagian dari Daulah Islamiyah di bawah Turki ‘Utsmani. Tetapi dengan dikuasai wilayah ini oleh Inggris (1917), seterusnya dicaplok sebagian besar (48 %) oleh Yahudi, Palestina yang mayoritas penduduknya Muslim menjadi tidak merdeka. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan perlawanan Muslim-Palestina terhadap Yahudi-Israel. Untuk maksud tersebut dimanfaatkan pendekatan dan analisis historis dengan library research dalam pengumpulan data. Dari studi ini ditemukan bahwa Zionis Israel menguasai Palestina karena mendapat sokongan dari sekutu utamanya yaitu Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Sementara Palestina berjuang sendiri, karena negara-negara Islam sekitarnya sudah pernah ingin membantu pada tahun 1968, tetapi mengalami kekalahan dalam peperangan enam hari. Akibatnya, Mesir, Suriah, Yordania dan Palestina lepas sebagian wilayahnya. Terakhir, Palestina semakin terpuruk, dan jika disahkan RUU Yahudi yang diajukan oleh Benyamin Netanyahu ke Parlemen Israel, Palestina dan Arab Islam akan semakin terdesak.Abstract: Palestine and Israel: History, Conflict and the Future. At the beginning Palestine was a part of Daulah Islamiyah under the Turki Usmani, but because this area was dominated by England in 1917, then about 48 percent of it was annexed by Jews, Palestine with the Muslim majority became not independent. This writing aims at exploring the struggle Muslim-Palestine toward Jews-Israel. For this purpose, the use of historical analysis and library research approaches in collecting data were used. The findings from this research are that Zionist Israel dominated Palestine because of being supported by its main allies: America, English and France while Palestine struggle alone because the surrounding Islamic countries had ever wanted to help in 1968 but they were lost in a six-day war. Therefore, Egypt, Syria and Jordan and Palestine released a part of their area. Lately Palestine becomes worse and if the Jews constitution proposed by Benyamin Netayahu to the Israel Parliament, Palestine and Arab Islam will be strongly insisted.Kata Kunci:Muslim, Palestina, Yahudi, Israe

    248

    full texts

    262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇