Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    Analisis Perubahan Hidrograf Aliran Akibat Konversi Tutupan Lahan DAS Keureuto

    Full text link
    Abstrak Perubahan tata guna lahan akibat peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan bertambahnya area pemukiman. Meningkatnya kebutuhan manusia terhadap tempat tinggal dan aktivitas lainnya menyebakan terjadinya beberapa permasalahan lingkungan semakin kompleks. Apabila keadaan ini berlangsung secara terus menerus maka menyebabkan menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap dan menampung air hujan terutama di kawasan DAS Krueng Keureuto. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar perubahan tata guna lahan terhadap perubahan hydrograph aliran pada Sub DAS Krueng Keureuto. Data yang digunakan adalah data DEMNAS dan data citra satelit landsat 8 tahun 2015 dan 2021. Berdasarkan peta tata guna lahan tahun 2015 dan 2021, terjadi penambahan luas area ladang sebesar 4,75%, pemukiman 6,34%, perkebunan 11,83%, semak belukar 5,75%, dan sungai 0,21%. Adapun area yang mengalami penurunan luas yaitu hutan sebesar 27,67% dan sawah 1,21%. Hal ini berdampak pada laju limpasan permukaan dan besarnya debit aliran sungai yang terpantau pada outlet DAS Krueng Keureuto. Kata kunci: tata guna lahan, daerah aliran sungai, keureuto   Abstract Increasing human needs for housing and other activities have resulted in several complex environmental problems, such as a decrease in the soil capacity to absorb and hold rainwater, especially in the Krueng Keureuto watershed area. The aim of this research is to determine how much land use changes have affected changes in the flow hydrograph in the Krueng Keureuto Sub-watershed. The data used is DEMNAS data and Landsat 8 satellite image data for 2015 and 2021. Based on the 2015 and 2021 land use maps, there has been an increase in the area of fields (4.75%), residential (6.34%), plantations (11.83%), bushes (5.75%), and rivers (0.21%). Meanwhile, the area that experienced a decrease was forest (27.67%) and rice fields (1.21%). This has an impact on the rate of surface runoff and the magnitude of river flow discharge monitored at the outlet of the Krueng Keureuto watershed. Keywords: land use change, watershed, keureut

    Pengaruh Cracked Soil terhadap Stabilitas Lereng Desa Bojongkondang-Kabupaten Sumedang dengan Menggunakan Software Geostudio

    Full text link
    Abstrak Tanggal 9 Januari 2021, terlah terjadi bencana alam tanah longsor terjadi di Dusun BojongKondang, Desa Cihanjuang, Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang. Keberadaanya masyarakat di zona merah sangat berbahaya. Ditambah dengan kondisi lereng yang relative curam sehingga perlu dilakukan studi terhadap stabiltas lereng untuk mengetahui faktor keamanan (SF) dari lereng tersebut. Pemukiman disekitar lokasi bencana alam tanah longsor dapat dikatakan aman jika nilai factor keamanan (safety factor) lerengnya >1,5. Dilakukan analisis terhadap pemodelan keretakan tanah untuk mendapatkan faktor keamanan terkritis di mana tanah dimodelkan sebagai tanah pasir (behaving like sand). Hal ini dapat diselesaikan dengan mengaplikasikan The Concept of Cracked Soil. Penelitian mengenai keretakan tanah baru dilakukan 10 tahun terakhir. Selanjutnya dilakukan penelitian dengan melakukan kajian lapangan untuk menemukan posisi retakan di lereng, dan pada tahun 2020 dilakukan pemodelan analisis numeric untuk stabilitas lereng dalam kondisi retak. Kata kunci: Stabilitas Lereng, Tanah Longsor, Behaving Like Sand   Abstract On January 9 2021, a landslide occurred in BojongKondang Hamlet, Cihanjuang Village, Cimanggung District, Sumedang Regency. The existence of people in the red zone is very dangerous. coupled with the relatively steep slope conditions. Based on these conditions, it is necessary to carry out a slope stability analysis study to find out what the safety figure (SF) of the slope is. Settlements close to landslide disaster locations can be said to be safe if the slope safety factor is >1.5. In the analysis, modeling of soil cracks was also carried out to obtain the value of the critical safety factor by modeling the soil as behaving like sand. This problem can be solved by applying The Concept of Cracked Soil. Research related to crack soil has only been carried out in the last 10 years. The next research was a field study to find the position of cracks on the slope, and finally in 2020 numerical analysis modeling was carried out regarding slope stability in cracked conditions. Keywords: Landslides, Slope Stability, Behaving Like San

    Pengaruh Perubahan Temperatur Terhadap Struktur Jembatan Baja

    Full text link
    Abstrak Kemajuan dalam teknologi rekayasa struktur telah membawa inovasi signifikan dalam pembangunan infrastruktur, termasuk pengembangan jembatan segmental baja. Studi ini bertujuan untuk menyelidiki dampak perubahan temperatur dan jenis perletakan terhadap perilaku struktur jembatan segmental baja, dengan fokus pada tiga kondisi perletakan yang berbeda: sendi-rol (SSC), sendi-sendi (FEC), dan penggunaan Lead Rubber Bearing (LRB). Pemodelan dilakukan menggunakan metode elemen hingga dalam perangkat lunak MidasCivil. Analisis finite element diarahkan untuk memahami deformasi dan distribusi tegangan dalam struktur jembatan di bawah beban mati dan variasi temperatur. Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan temperatur menyebabkan deformasi yang signifikan pada struktur jembatan, dengan pola perilaku yang berbeda tergantung pada jenis perletakan. Perletakan Sendi-Rol dan penggunaan LRB cenderung menunjukkan respons deformasi yang serupa, sementara perletakan Sendi-Sendi menunjukkan perilaku yang berbeda. Selain itu, distribusi tegangan juga bervariasi tergantung pada kondisi perletakan, dengan Sendi-Sendi menghasilkan tegangan yang lebih tinggi pada beberapa titik tertentu. Kata kunci: Temperatur, Perletakan, Jembatan Segmental Baja, Finite Element,  Abstract                  Advancements in structural engineering have led to significant innovations in infrastructure development, notably segmental steel bridges. This study investigates the effects of temperature changes and different bearing conditions: simply supported condition (SSC), fixed end condition (FEC), and the implementation of Lead Rubber Bearing (LRB) on segmental steel bridge behavior. Utilizing finite element analysis use MidasCivil, the research examines deformation and stress distribution under dead loads and varying temperatures. Findings indicate temperature fluctuations induce significant deformations, with distinct responses based on bearing conditions. SSC and LRB show similar deformation patterns, while FEC behaves differently. Stress distribution varies accordingly, with FEC resulting in higher stresses at certain points. These insights enhance understanding of temperature and bearing effects on segmental steel bridges, informing maintenance strategies for durability. Validating computational models with field observations is recommended to ensure accurate simulations. Keywords: Temperature, Boundary Condition, Segmental Steel Bridge, Finite Element

    Analisis Limpasan Sungai Way Kuripan Kota Bandar Lampung Akibat Pengaruh Curah Hujan Menggunakan HEC-RAS 5.0.7

    Full text link
    Abstrak Banjir akibat limpasan sungai didaerah padat penduduk dan industri menjadi masalah berulang jika antisipasi hanya dilakukan secara minor pada saat terjadinya bencana. Berdasarkan pengamatan lapangan, beralihnya wilayah resapan menjadi perumahan dan industri menjadi titik awal terjadinya limpasan akibat kejenuhan tanah dan koefisien limpasan terganggu. Paradigma mengalirkan air dari sub saluran menuju badan saluran besar adalah masalah yang menjadi tabiat dan dijalankan hingga kini. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa limpasan yang terjadi di Sungai Way Kuripan dengan rancangan periode ulang 25 tahunan dengan menggunakan software HEC-RAS 5.0.7. Fungsi sungai sebagai penyalur air harus diiringi sebagai wilayah resapan air dengan menjadikan sungai sebagai penampung, peresap, pengalir, dan pemelihara air. Mewujudkan sistem tampung, resap, alir, dan pelihara dilakuakan dengan reboisasi daerah hulu-hilir sungai dan daerah tampungan air (Embung). Kata kunci: Limpasan, HEC-RAS, Sungai, Embung,, Abstract Flooding caused by river runoff in densely populated and industrial areas becomes a recurring problem if only minor anticipation is carried out when a disaster occurs. Based on observations, the conversion of catchment areas to housing and industry is the starting point for runoff due to soil saturation and disturbed runoff coefficients. The paradigm of channeling water from sub-channels to large channels is a problem that has become a habit and is implemented to this day. Based on these problems, this research aims to analyze the runoff that occurs in the Way Kuripan River with a return period design of 25 years using HEC-RAS 5.0.7 software. The function of the river as a water distributor must be accompanied by a water catchment area, making the river a reservoir, absorber, diverter, and maintainer of water. Creating a reservoir, absorption, diverter, and maintenance water is carried out by reforesting the upstream and downstream areas of rivers and water storage areas (retention basins). Keywords: Runoff, HEC-RAS, River,Retention basin

    Low Impact Development-Based Drainage Design in Residential Areas: A Case Study of Mastrip Housing

    Full text link
    Abstrak Drainase konvensional menghadapi tantangan yang diperparah oleh peningkatan limpasan permukaan. Rain barrel adalah salah satu teknik Low Impact Development (LID) yang menyediakan penampung sementara yang berpotensi mengurangi limpasan. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki penerapan rain barrel untuk meningkatkan ketahanan terhadap banjir di Mastrip Housing. Menggunakan Storm Water Management Model (SWMM), limpasan hujan dimodelkan dalam kondisi sebelum dan sesudah implementasi di 71 subcatchment untuk menilai dampak infrastruktur LID. Hasilnya mengungkapkan bahwa rain barrel dapat mengurangi puncak limpasan sebesar 11% hingga 51%, dengan rata-rata pengurangan sebesar 12%. Efektivitasnya bervariasi, dipengaruhi oleh kepadatan rain barrel, cakupan area, dan penggunaan lahan. Ada tren yan menunjukkan subcatchment dengan area kecil dan unit rain barrel lebih banyak menunjukkan pengurangan peak runoff yang lebih besar, menekankan pentingnya pertimbangan rasio. Meskipun demikian, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan rain barrel tidak selalu berhasil dalam semua situasi. Sementara mereka mungkin efektif dalam meminimalkan limpasan di beberapa lokasi, efektivitasnya bervariasi di tempat lain bahkan di area perumahan yang sama. Oleh karena itu, metode infiltrasi LID dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan efektivitas pengurangan. Penelitian ini memberikan wawasan bagi pengembang properti menuju perumahan ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dengan penerapan rain barrel dan LID. Kata kunci: Low-Impact Development (LID), Strategi, Stormwater Management Model, Rain Barrel, Peak Runoff Abstract The conventional drainage face challenges exacerbated by increased surface runoff. Rain barrels are one of the Low Impact Development (LID) techniques that provide temporary storage which potentially can reduce runoff. Therefore, this study investigates the application of rain barrels to enhance flood resilience in Mastrip Housing. Using the Storm Water Management Model (SWMM), rainfall runoff was modeled under pre- and post-implementation conditions in 71 sub-catchments to assess LID infrastructure impact. Results reveal rain barrels can reduce peak runoff by 11% to 51%, averaging a 12% reduction. The effectiveness varies, influenced by rain barrel density, area coverage, and land use. There is trend revealed, exhibiting sub-catchments with small area and more rain barrel unit showing bigger peak runoff reductions, emphasizing the necessity of ratio consideration. Nonetheless, this study finds that the usage of rain barrels is not equally successful in all situations. While they may effectively minimize runoff in some locations, their efficacy varies elsewhere even in the same housing area. Therefore, infiltration LID methods can be considered to improve the effectiveness of reduction. This study provides insights for property developers towards environmentally friendly housing and sustainable development with rain barrel and LID implementation. Keywords: Low-Impact Development (LID), Strategy, Stormwater Management, Rain Barrel, Peak Runof

    Evaluasi Kelayakan Material Gunung Terhadap Sifat Fisik dan Mekanis Pada Perkerasan Lentur Jalan Raya di Kabupaten Manggarai Timur

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan material gunung quary Bondo sebagai timbunan pilihan, agregat kelas A dan agregat kelas B perkerasan lentur jalan raya. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa jenis tanahnya memiliki batas cair 22%, indeks plastisitas 5%, lolos saringan Nomor 200 5,32% sampai 5,54%, Cu rata-rata 92,68 > 4, Cc rata-rata 5,17 > 3; Berdasarkan USCS dikategorikan sebagai GP-GM atau ML (low plasticity silt), kelompok A-1-a (0) menurut AASHTO. Nilai aktif sebesar 0,90 < 1,25 termasuk tanah normal. Berat isi kering maksimum 1,56 gr/cm3 pada kadar air optimum 22,9%, nilai CBR rendaman 96 jam sebesar 24% dan abrasi sebesar 22,49%, sehingga layak sebagai material timbunan pilihan perkerasan lentur jalan raya, tetapi tidak layak dipergunakan sebagai material agregat kelas B karena nilai CBR rendaman < 60% dan juga tidak layak dipergunakan sebagai agregat kelas A karena persen lolos saringan 1 ½ ˜ kurang dari 100% dan nilai CBR rendamannya < 90%. Kata kunci: laboratorium, layak, agregat, timbunan pilihan Abstract This research aims to evaluate the suitability of Mount Quary Bondo material as the embankment, class A and B aggregate for flexible pavement. Laboratory test results show this type of soil has LL of 22%, PI 5%, 5.32% to 5.54% passing No. 200 sieve, average Cu 92.68, average Cc 5.17 3; It is categorized as GP-GM or ML (USCS), and A-1-a (0) (AASHTO). The active value is 0.90 < 1.25 including normal soil; max dry density 1.56 gr/cm3 at 22.9% wopt, the soaked CBR of 96 hours is 24%, the abrasion is 22.69%; so it is suitable as the embankment for flexible highway pavement, but is not suitable for use as class B aggregate material because the soaked CBR < 60% and it is also not suitable for use as class A aggregate because percentage passing the 1 ½ (38,1 mm) sieve < 100% and the soaked CBR < 90%. Keywords: feasible, aggregate, selected materia

    Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Mutu Beton Ready Mix

    Full text link
    Abstrak Batching Plant sebagai pengolah beton ready mix untuk pembangunan jalan. Dahulu terjadi penurunan mutu beton laboratorium dan lapangan. Akhirnya melatar belakangi penelitian dengan tujuan menganalisis faktor penyebab penurunan mutu seperti; standarisasi SNI material, waktu tempuh beton ke lapangan, perlakuan sampel, komposisi beton. Langkah yang digunakan ialah pengujian material, uji slump dan suhu campuran di laboratorium dan lapangan, mencatat waktu perjalanan dan tuang beton, pembuatan sampel lapangan dan laboratorium, pembuatan sampel khusus, pengujian kuat tekan beton mutu fc10 MPa dan kuat tarik lentur beton mutu Fs4,5 MPa usia 7 dan 28 hari, menggunakan Statistical Quality Control (SQC). Hasil kuat tekan dan kuat tarik lentur sampel laboratorium dan lapangan tidak konstan bahkan berada dibawah nilai (LCL). Penyebabnya pasir dengan kadar lumpur diatas 5%. Mengatasinya dengan penambahan Admixture, admixture Naptha E-121 0,9% menjadi 1,2%, Naptha RD-31 0,2% sampel balok dan Naptha E-121 0,3% menjadi 0,6%, Naptha RD-31 0,2% silinder. Kata kunci: Beton, Statistical Quality Control, Admixture  Abstract Batching Plant as a readymix concrete processor for road construction. In the past, there was a decline in the quality of laboratory and field concrete. Finally, the background for research with the aim of analyzing the factors causing quality decline such as; SNI standardization of materials, concrete travel time to the field, sample treatment, concrete composition. The steps used are material testing, slump testing and mixture temperature in the laboratory and field, recording travel and pouring times for concrete, making field and laboratory samples, making special samples, testing the compressive strength of FC\u2710 MPa quality concrete and the flexural tensile strength of Fs quality concrete. \u274.5 MPa aged 7 and 28 days, using Statistical Quality Control (SQC). The results of the compressive strength and flexural tensile strength of laboratory and field samples are not constant and are even below the (LCL) value. The cause is sand with a mud content above 5%. Overcome this by adding admixture, admixture Naptha E-121 0.9% to 1.2%, Naptha RD-31 0.2% for beam samples and Naptha E-121 0.3% to 0.6%, Naptha RD-31 0 .2% cylinder. Keywords: Concrete, Statistical Quality Control, Admixtur

    Penerapan HEC-RAS Untuk Analisis Angkutan Sedimen Dasar Terhadap Debit Angkutan Sedimen Pada Saluran Parit Berkat

    Full text link
    Abstrak Saluran Parit Berkat merupakan salah satu saluran di daerah rawa pasang surut Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap yang mengalami perubahan dasar saluran, yakni pendangkalan akibat proses sedimentasi. Pendangkalan yang terjadi di saluran Parit Berkat terutama pada bagian hilir dapat mengganggu aliran ke sungai dan menyebabkan meningkatnya muka air di hulu sehingga air lebih cepat meluap ke permukaan saat musim hujan atau saat terjadi air pasang dan dapat mengakibatkan kekeringan saat musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui debit angkutan sedimen dasar di saluran Parit Berkat. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa penampang saluran dan sampel sedimen dasar. Data sekunder berupa peta catchment area, curah hujan harian stasiun Sungai Kakap PTK-12 dan tinggi muka air pasang surut selama 15 hari. Simulasi aliran dan angkutan sedimen menggunakan program aplikasi HEC-RAS 6.0 dengan metode Meyer-Peter Muller. Hasil penelitian menunjukkan besar angkutan sedimen dasar tertinggi saat kondisi pasang untuk debit periode ulang 10 tahun, yaitu sebesar 1,73 kg/det di titik 1, sedangkan saat kondisi surut, besar angkutan sedimen dasar terendah untuk debit periode ulang 10 tahun adalah sebesar 0,92 kg/det di titik 1. Kata kunci: sedimen dasar, HEC-RAS, Meyer-Peter Muller, saluran, Parit Berkat Abstract Parit Berkat channel is one of the channels in the tidal swamp area of Punggur Besar Village, Sungai Kakap District which has experienced changes in the basis of the channel, namely silting due to the sedimentation process. Siltation that occurs in the Parit Berkat channel, especially in downstream, can disrupt the flow to the river and cause an increase in the water level upstream so that water overflows to the surface faster during the rainy season or high tide and can cause drought during the dry season. This study aimed to determine the amount of bed load transport in the Parit Berkat channel. The data used are primary data and secondary data. Primary data are channel cross-sections and bed load samples. Secondary data are catchment area maps, daily rainfall of Sungai Kakap PTK-12 station, and tidal water levels for 15 days. Flow and sediment transport simulation using the HEC-RAS 6.0 application program with the Meyer-Peter Muller method. The results showed the highest bed load transport during tidal conditions for the 10-year return period, which was 1.73 kg/sec at point 1, while at low tide, the lowest bed load transport for the 10-year return period was 0.92 kg/sec at point 1. Keywords: bed load, HEC-RAS, Meyer-Peter Muller, channel, Parit Berka

    Tinjauan Sifat Mekanis Reactive Powder Concrete melalui Perlakuan Uap dengan Abu Sekam Padi sebagai Alternatif Material Pozzolan

    Full text link
    Abstrak Reactive Powder Concrete (RPC) merupakan jenis dari beton mutu ultra tinggi dengan karakteristik kuat tekan, dan kuat lentur yang sangat tinggi. Komponen penyusun RPC semen dengan kandungan yang tinggi, bahan yang sangat halus berupa silika dalam jumlah tinggi, dan tanpa agregat kasar. Pada penelitian ini dilakukan tinjauan sifat mekanis berupa uji kuat tekan dan kuat lentur RPC melalui perlakuan uap dengan abu sekam padi sebagai alternatif material pozzolan. Pengujian kuat tekan dilakukan pada kubus berukuran 70,7 x 70,7 x 70,7 mm umur 7 hari dan 28 hari, dan kuat lentur pada balok berukuran 70,7 x 70,7 x 300 mm umur 28 hari. Variasi abu sekam padi digunakan 15%, 20%, 25%, 30% dan 35% dari berat semen dengan jumlah benda uji sebanyak 3 sampel per variasi. Perawatan uap dimulai setelah satu hari pengecoran selama 72 jam pada suhu 90„ƒ kemudian dilakukan perendaman. Hasil pengujian menunjukan bahwa kuat tekan tertinggi umur 7 hari diperoleh pada variasi abu sekam padi 30% dan merupakan yang paling optimum dengan kuat tekan sebesar 108,37 MPa, selanjutnya pada RPC umur 28 hari kuat tekan tertinggi diperoleh pada variasi ASP 35% sebesar 116,59 MPa. Kemudian kuat lentur RPC tertinggi umur 28 hari diperoleh pada variasi abu sekam padi 30% dan merupakan yang paling optimum dengan kuat lentur sebesar 13,80 MPa. Hal ini menunjukkan bahwa abu sekam padi pada campuran RPC melalui perlakuan uap dapat dijadikan alternatif material pozzolan untuk menghasilkan kuat tekan dan kuat lentur RPC yang tinggi. Kata Kunci: Reactive Powder Concrete, Abu sekam padi, Kuat tekan, Kuat lentur, Perawatan uap  Abstract Reactive Powder Concrete (RPC) is a type of ultra high quality concrete with very high compressive strength and flexural strength characteristics. High-content cement, a very fine material with a high silica content, and no coarse aggregate are the components of RPC. In this study, rice husk ash (RHA) was used as an alternative pozzolanic material, and steam treatment was utilized to study the mechanical properties of RPC through compressive strength and flexural strength tests. Examinations of compressive strength were performed using cubes of 70.7 x 70.7 x 70.7 mm at 7 days and 28 days, while tests of flexural strength were performed using beams size 70.7 x 70.7 x 300 mm at 28 days. With a total of three samples for each variation, rice husk ash was employed at rates of 15%, 20%, 25%, 30%, and 35% by weight of cement. After casting for one day at 90°C for 72 hours, steam treatment started before being submerged in water. The results revealed that the 30% variation of rice husk ash had the highest compressive strength at 7 days, with an optimal compressive strength of 108.37 MPa, followed at 28 days by the 35% variation of RHA, with a maximum compressive strength of 116.59 MPa. Furthermore, the highest flexural strength of RPC at 28 days ages was obtained at 30% variation of rice husk ash and was the optimum with a flexural strength of 13.80 MPa. This study indicates that rice husk ash can be utilized as a substitute pozzolanic material in RPC mixes to develop high compressive and flexural strengths. Keywords: Reactive Powder Concrete, Rice husk ash, Compressive strength, Flexural strength, Steam curing

    Analisis Akar Penyebab Risiko K3 Pelaksanaan Pekerjaan Abutment dan Pemasangan Girder Metode Fault Tree Analysis (FTA) Proyek Tol Solo - NYIA Kulon Progo

    Full text link
    Abstrak Jalan Tol Solo-NYIA Kulon Progo menjadi proyek utama pembangunan Indonesia yang memiliki komponen seperti girder, abutment, dan sebagainya. Menurut data BPJS ketenagakerjaan terhitung sejak 2020 hingga 2022 terjadi peningkatan pada kecelakaan kerja. Sehingga perlu adanya evaluasi penerapan K3 dan faktor risiko terjadi. Metode yang digunakan adalah Fault Tree Analysis untuk mendapatkan akar penyebab dari risiko tersebut. Hasil analisis Fault Tree Analysis (FTA) didapatkan risiko dominan pada pekerjaan Abutment yaitu jalanan berdebu, tertusuk besi beton, dan terjatuh dari ketinggian. Risiko dominan pada pemasangan girder didapatkan hasil PCL girder terguling/terjatuh, Iritasi mata, dan Trailer terperosok. Akar penyebab risiko dari pekerjaan abutment dan pemasangan girder disebabkan dari beberapa faktor yaitu faktor manusia, faktor manajemen, faktor teknis dan faktor lingkungan. Respon risiko diantaranya selalu berhati hati dalam bekerja, melakukan pergantian shift pekerja, menggunakan APD lengkap, melakukan toolbox meeting, mengadakan safety induction dan safety talk, melakukan inspeksi alat, serta operator sebelum memulai pekerjaan, dan menerapkan SOP yang benar. Kata kunci: Kecelakaan kerja, Faul Tree Analysis, Manajemen Risiko,   Abstract Toll roads are the main projects of Indonesia\u27s development that have components such as girders, abutments, etc. According to BPJS data, from 2020 to 2022 there has been an increase in work accidents. So it is necessary to evaluate the application of Occupational Health and Safety (OHS) and risk factors. The method used is Fault Tree Analysis to obtain the root cause of the risk. The results of the Fault Tree Analysis (FTA) analysis found the dominant risk in Abutment work, dusty roads, punctured by concrete iron, and falls from a height. The dominant risk in girder installation is obtained from PCL girder rollover/fall, eye irritation, and trailer mired. The root cause of risk from abutment work and girder installation is caused by several factors, there are human factors, management factors, technical factors and environmental factors. Risk responses include always being careful at work, changing worker shifts, using full PPE, conducting toolbox meetings, holding safety induction and safety talks, inspecting equipment, and operators before work, and implementing the correct operating procedures. Keywords: OHS, Risk management, Fault Tree Analysisi

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇