Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Analisis Karakteristik Tanah Gambut Berserat dan Dampaknya Terhadap Infrastruktur
Abstrak Indonesia merupakan salah satu negara dengan sebaran lahan gambut yang luas. Gambut dikenal sebagai tanah yang bermasalah dalam pekerjaan konstruksi karena memiliki daya dukung yang rendah sehingga tidak dapat menopang pondasi infrastruktur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik tanah gambut di Kalimantan, sehingga penanganan yang tepat dapat ditentukan untuk mengatasi permasalahannya. Studi kasus pada penelitian ini adalah tanah gambut di Bereng Bengkel, Palangkaraya. Karakteristik tanah gambut diidentifikasi melalui serangkaian pengujian tanah berdasarkan Peat Testing Manual 1979. Selain itu, dilakukan juga pengujian Scanning Electron Microscopy untuk melihat morfologi tanah gambut, serta pengujian Fourier Transform Infra-Red untuk mengidentifikasi jenis senyawa yang terdapat di dalamnya. Hasil pengujian tanah di laboratorium menunjukkan bahwa tanah gambut memiliki sifat yang buruk secara geoteknik. Dari hasil pengujian SEM, diketahui adanya makropori dan mikropori pada tanah gambut yang sebagian besar ditempati oleh air. Kemudian, berdasarkan hasil pengujian FTIR, diketahui bahwa tanah gambut memiliki senyawa yang bersifat hidrofilik. Kata kunci: tanah gambut, serat gambut, infrastruktur Abstract Indonesia is one of the countries with a wide distribution of peatlands. Peat is known as a problematic soil in construction work because it has a low bearing capacity that cannot support infrastructure foundations. The objective of this research is to analyze the characteristics of peat soils in Kalimantan, so that appropriate treatments can be determined to overcome the problem. A case study of this research is the peat soil in Bereng Bengkel, Palangkaraya. The characteristics of the peat soil were identified through a series of soil tests based on the Peat Testing Manual 1979. In addition, Scanning Electron Microscopy testing was carried out to look at the morphology of the peat soil, as well as Fourier Transform Infra-Red testing to identify the types of compounds contained therein. The results of soil testing in the laboratory showed that the peat soil had poor geotechnical properties. SEM testing revealed macropores and micropores in the peat soil, most of which were occupied by water. FTIR testing showed that peat soil has hydrophilic compounds. Keywords: peat soil, peat fiber, infrastructur
Evaluasi Tatakelola Pembangunan Jembatan Wae Racang Di Kabupaten Manggarai Provinsi NTT
The Wae Racang Bridge is a node for Road Sections: Golowoi-Meda, Beo Kina-Pau-Wae Racang and Muwur-Bapa-Wae Racang. The bridge was built on the Wae Racang River which is the boundary between West Cibal District and North Rahong, which was built in 2014 and hasnt been used at all by infrastructure users until April 2023. This study aims to find out the causes of the unutilized bridge based on public perceptions and to evaluate the management of regional infrastructure. The research was carried out in several stages, including review of related journal articles, observation of research locations, observations of the PUPR Office as the organizer of the work, surveys of community perceptions, simple statistical data processing to find out the dominant response, discussion, and conclusions. Of the 43 respondents, the dominant response stated that the budget planning wasnt based on a feasibility study on economic feasibility studies, resulting in the Wae Racang Bridge being built not bringing economic benefits to the community, so that the development budget became redundant which describes the performance and management of local regional administrations in the matter of transportation infrastructure development still needs to be improved because it doesnt consider sustainability aspects at all. bridge construction
Pemanfaatan Plastik Low Density Polyethylene (LDPE) dan Arang Tempurung Kelapa Sebagai Substitusi Sebagian Aspal Pada Lapisan AC-WC
Abstrak Sampah plastik saat ini sudah menjadi suatu permasalahan yang sangat umum di lingkungan hidup, upaya pengurangan dan pencegahan telah banyak dilakukan, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan pertumbuhan dan penggunaan yang terus meningkat khususnya plastik yang tidak terkelola dengan baik. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi limbah plastik adalah dengan memanfaatkan viscoelastisity plastik dan dikombinasikan dengan karbon arang tempurung kelapa serta material tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan pengganti sebagian aspal pada lapisan AC-WC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya variasi campuran plastik LDPE dan arang tempurung kelapa yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi parameter marshall pada lapisan AC-WC. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental yang bersifat deduktif. Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan kadar variasi plastik LDPE 5%, 10%, 15% dikombinasikan dengan arang tempurung kelapa 5%, 10% dan 15% hasil yang diperoleh dari pengujian marshall untuk variasi 10%, VIM dan VFA tidak memenuhi, variasi 20% VIM dan VFA tidak memenuhi dan variasi 30% hanya flow yang tidak memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh Bina Marga Tahun 2018 Revisi II, sehingga dapat disimpulkan bahwa plastik LDPE dan arang tempurung kelapa tidak dapat dimanfaatkan sebagai substitusi sebagian aspal pada variasi 10%, 20% dan 30%, hal tersebut disebabkan karena seluruh variasi campuran tidak memenuhi parameter marshall. Kata kunci: Arang Tempurung Kelapa, Plastik LDPE, Parameter Marshall, Substitusi Sebagian Aspal Abstract Plastic waste has now become a very common problem in the environment, Many reduction and prevention efforts have been carried out, but the results obtained are not in line with the growth and increasing use, especially plastics that are not managed properly. One of the efforts that must be made to reduce plastic waste is to utilize the viscoelasticity of the plastic and combined with coconut shell charcoal carbon and the material will be used as a substitute for part of the asphalt in the AC-WC layer. The purpose of this study was to determine the magnitude of variations in the mixture of LDPE plastic and coconut shell charcoal that can be used to meet marshall parameters in the AC-WC layer. The method used in this study is an experimental method that is deductive. The results of studies that have been carried out with LDPE plastic variation levels of 5%, 10%, 15% combined with coconut shell charcoal 5%, 10% and 15% results obtained from marshall testing for 10% variation, VIM and VFA are not eligible, 20% variation in VIM and VFA are not qualified and 30% variation only flow does not meet the specifications required by Bina Marga 2018 Revision II, so it can be concluded that LDPE plastic and coconut shell charcoal cannot be used as a partial substitution of asphalt at variations of 10%, 20% and 30%, this is because the entire variation of the mixture does not meet the parameters of marshalls. Keywords: Coconut Shell Charcoal, LDPE Plastic, Marshall Parameters, Partial Substitutio
Evaluasi Siklus Hidup Bangunan Ramah Lingkungan Dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kontribusi bangunan ramah lingkungan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable development goals/SDGs) melalui analisis siklus hidupnya. Dengan latar belakang pentingnya bangunan ramah lingkungan dalam mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi sumber daya, penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematik literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis makalah terkait bangunan ramah lingkungan, penilaian siklus hidup proyek, dan aspek keberlanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan ramah lingkungan mampu mengurangi emisi karbon, mengoptimalkan penggunaan energi, dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, implementasi bangunan ramah lingkungan dapat berperan penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui integrasi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Kata kunci: Bangunan ramah lingkungan, penilaian siklus hidup, dampak lingkungan, dampak ekonomi, pembangunan berkelanjutan Abstract This study aims to evaluate the contribution of environmentally friendly buildings to achieving Sustainable Development Goals (SDGs) through life cycle analysis. Given the crucial role of environmentally friendly buildings in reducing environmental impact and enhancing resource efficiency, this research employs a systematic literature review method to gather and analyze papers related to environmentally friendly buildings, project life cycle assessment, and sustainability aspects. The analysis results indicate that environmentally friendly buildings can reduce carbon emissions, optimize energy use, and provide long-term economic benefits. Thus, the implementation of environmentally friendly buildings can play a significant role in achieving sustainable development goals through the integration of environmental, economic, and social aspects. Keywords: Green building, life cycle assessment, environmental impact, economic impact, sustainable developmen
Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Air di Kabupaten Tulang Bawang Barat
Abstrak Kabupaten Tulang Bawang Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki luas 127.619 Ha dengan memiliki 9 Kecamatan di mana kebutuhan air di setiap tahunnya semakin meningkat. Penelitian ini menganalisis ketersediaan dan kebutuhan air domestic dan non domestic Kabupaten Tulang Bawang Barat untuk 20 tahun mendatang dimulai dari tahun 2024 hingga tahun proyeksi 2044. Metode penelitian menggunakan Analisa ketersediaan air, kebutuhan air, dan daya dukung air. Hasil Analisa yang dilakukan mendapatkan ketersediaan air bersih di Kabupaten Tulang Bawang Barat sebesar 4.217.642.254.194 L/tahun dengan total kebutuhan air domestik dan non domestik sebesar 18.134.612.550 L/tahun dengan daya dukung air sebesar 4.199.507.641.647 L/tahun dengan status surplus, proyeksi daya dukung air untuk 20 tahun mendatang didapatkan kebutuhan air setiap tahun meningkat disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang mengalami pertumbuhan tiap tahunnya dan pembangunan di berbagai bidang dengan total sampai tahun 2044 sebesar 498.563.452.800 L/tahun dengan status surplus, oleh karena itu Kabupaten Tulang Bawang Barat perlu melakukan reboisasi dan penghijauan pada area pemukiman, membangun waduk di area yang berpotensial mengalami kekeringan dan memelihara rehabilitasi konservasi tanah dan air. Kata kunci: Ketersediaan air, kebutuhan air, daya dukung air, neraca air, Kabupaten Tulang Bawang Barat Abstract West Tulang Bawang Regency is one of the regencies in Lampung Province which has an area of 127,619 Ha with 9 sub-districts where the need for water increases every year. This study analyzes the availability and demand for domestic and non-domestic water in West Tulang Bawang Regency for the next 20 years starting from 2024 to the projection year 2044. The research method uses analysis of water availability, water demand, and water carrying capacity. The results of the analysis obtained the availability of clean water in West Tulang Bawang Regency amounting to 4,217,642,254,194 L/year with a total domestic and non-domestic water demand of 18,134,612,550 L/year with a water carrying capacity of 4,199,507,641. 647 L/year with surplus status, the projection of water carrying capacity for the next 20 years obtained water demand increases every year due to population growth which experiences growth every year and development in various fields with a total until 2044 of 498,563,452,800 L/year with surplus status. Therefore, West Tulang Bawang Regency needs to reforest and reforest in residential areas, build reservoirs in areas that have the potential to experience drought and maintain soil and water conservation rehabilitation. Key words: Water availability, water demand, water carrying capacity, water balance, West Tulang Bawang Distric
Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelaikan Fungsi Bangunan Gedung Terhadap Sertifikat Laik Fungsi Menggunakan Diagram Fishbone
Abstrak Keamanan bangunan menjadi aspek krusial demi menghindari kejadian kegagalan konstruksi. Pemerintah memberikan persyaratan administratif dan kelaikan teknis sesuai fungsi bangunan, salah satu persyaratan yang ditetapkan adalah Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Pemerintah Jember akan menerapkan kewajiban pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung pelayanan publik. Namun, banyak pemilik atau pengelola bangunan masih banyak yang belum mengetahui pentingnya SLF. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan pengelola bangunan gedung pelayanan publik dalam menyambut penerapan SLF di Kota Jember. Metode diagram fishbone digunakan untuk mengidentifikasi faktor utama yang berpengaruh pada efektifitas dan berpengaruh pada kelaikan fungsi bangunan. Langkah-langkah penelitian meliputi studi literatur, pengumpulan data, analisis menggunakan pemodelan diagram fishbone, dan penyusunan rekomendasi peningkatan persyaratan kelaikan fungsi bangunan. Adapun hasil analisis menggunakan diagram fishbone dan brainstorming didapatkan hasil 21 variabel dominan dalam pengajuan persyaratan kelaikan fungsi bangunan dan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan persyaratan kelaikan fungsi bangunan. Kata kunci: Sertifikat Laik Fungsi, Fishbone, Brainstorming, Pelayanan Publik, Green Building Abstract Building safety becomes an important factor to avoid undesirable events. To address this, the government provides administrative and technical feasibility requirements according to the function of the building, which is the Certificate of Feasibility (SLF). Jember government will implement the obligation of inspecting the feasibility of public service buildings. Many building owners or managers still unaware of the importance of SLF. The fishbone diagram method is used to identify the main factors influencing the effectiveness and feasibility of building functions. Based on this, this research aims to determine the readiness level of public service building managers in welcoming the implementation of SLF in Jember City. The research include literature study, data collection, analysis using fishbone diagram modeling, and recommendations for improving building feasibility requirements. The analysis results there are 21 dominant variables in submitting building feasibility requirements and several efforts that can be made to improve the building feasibility requirements. Keywords: Certificate of Occupancy, Fishbone, Brainstorming, Public Service, Green Buildin
Identifikasi Karakteristik Arsitektur Regionalisme pada Fasad Gedung Kantor DPRK Lhokseumawe
Abstrak Berkembanganya arsitektur modern dengan international style berdampak pada krisisnya identitas bangunan di suatu daerah, khususnya di Aceh. Sehingga kehadiran arsitektur regionalisme sebagai upaya pengembalian identitas daerah sangat diperlukan yang diperketat melalui peraturan daerah agar membangun gedung yang berciri khas adat/budaya setempat, salah satunya yaitu Peraturan Gubernur Aceh Nomor 13 Tahun 2023. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan karakteristik arsitektur regionalisme pada fasad gedung kantor DPRK Lhokseumawe yang diduga memiliki unsur ciri khas kedaerahan serta sebagai salah satu kantor yang memiliki peran penting di pemerintahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk menjabarkan, mengidentifikasi dan menganalisis penerapan karakteristik arsitektur regionalisme melalui observasi dan wawancara kepada perancang gedung kantor DPRK Lhokseumawe. Temuan dari penelitian ini yaitu diketahui bahwa terdapat beberapa elemen fasad yang menerapkan arsitektur regionalisme sebagai upaya pelestarian budaya Aceh, seperti atap, kolom, dinding, bukaan, entrance, warna dan ornamen. Kata kunci: Arsitektur Regionalisme, Aceh, Gedung Kantor DPRK Lhokseumawe Abstract The development of modern architecture with international styles has an impact on the crisis of building identity in a region, especially in Aceh. So the presence of regionalism in architecture as an effort to restore regional identity is needed, which is tightened through regional regulations in order to build buildings characterized by local customs and culture, one of which is Aceh Governor Regulation Number 13 of 2023. Therefore, the purpose of this research is to find out how the application of regionalism architecture characteristics on the facade of the DPRK Lhokseumawe office building, which is thought to have elements of regional characteristics and is one of the offices that has an important role in government, The method used in this research is descriptive-qualitative to describe, identify, and analyze the application of regionalism\u27s architectural characteristics through observation and interview with the designer of the DPRK Lhokseumawe office building. The findings of this research are that there are several facade elements that apply regionalism architecture in an effort to preserve Acehnese culture, such as roof, column, wall, opening, entrance, color, and ornamental Keywords: Regionalism Architecture, Aceh, DPRK Lhokseumawe Office Buildin
Analisis Keterlambatan Proyek Terhadap Cost Overruns Berbasis Project Risk Management Pada Proyek Pembangunan Infrastruktur Pabrik NPK Chemical PT Pupuk Iskandar Muda
Abstrak Proyek Pembangunan Pabrik NPK Chemical di PT PIM mengalami keterlambatan significant sehingga terjadi cost overrun. Penelitian ini untuk mengetahui banyaknya faktor risiko paling dominan dengan pendekatan Project Risk Management. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada personil di proyek Pabrik NPK Chemical PT PIM. Data kuesioner diolah menggunakan programming SPSS. Setelah itu, dilakukan analisis penilaian risiko untuk memperoleh risiko keterlambatan yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko kategori œhigh risk sebanyak 31 risiko atau berkontribusi sebesar 84,67%. Adapun 5 faktor risiko dominan penyebab keterlambatan proyek yaitu: Pengiriman material tidak sesuai sequential di lapangan; Mismanagement project Kontraktor; Keterlambatan karena pekerjaan subkontraktor; Mobilisasi sumberdaya yang lambat; serta Koordinasi dan komunikasi yang tidak baik antar bagian dalam organisasi kerja Kontraktor sehingga tidak dapat mengelola interface pekerjaan. Kata kunci: Keterlambatan Proyek, Cost Overrun, Project Risk Management Abstract The NPK Chemical Plant Construction Project at PT PIM experienced significant delays resulting in cost overrun. This study is to determine the number of most dominant risk factors with the Project Risk Management approach. The research method used quantitative descriptive methods by distributing questionnaires to personnel at PT PIM\u27s NPK Chemical Plant project. Questionnaire data is processed using SPSS programming. After that, a risk assessment analysis is carried out to obtain the dominant risk of delay. The results showed that the risk factors in the "high risk" category were 31 risks or contributed 84.67%. The 5 dominant risk factors that cause project delays are: Material delivery is not in accordance with sequential in the field; Mismanagement of the Contractor\u27s project; Delays due to the work of subcontractors; Slow resource mobilization; and Poor coordination and communication between parts of the Contractor\u27s work organization so that they cannot manage the work interface. Keywords: Project Delay, Cost Overrun, Project Risk Managemen
Pemanfaatan Styrofoam Sebagai Pengganti Foam Agent Pada Beton Ringan Hebel
Abstrak Styrofoam dapat digunakan sebagai pengganti foam agent selain mudah didapatkan juga tidak memerlukan alat khusus dalam pembuatan beton ringan hebel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya sifat mekanis yang diperoleh dari beton ringan hebel berat volume 1000 kg/m3 menggunakan styrofoam sebagai pengganti foam agent. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Terdapat empat variasi dalam penelitian ini yaitu beton ringan hebel menggunakan foam agent, foam agent dengan tambahan sikament LN, styrofoam, styrofoam dengan tambahan sikament LN. Pengujian sifat mekanis dilakukan setelah proses curing, dengan nilai sifat mekanis yang dihasilkan variasi beton ringan hebel styrofoam lebih tinggi dibandingkan variasi beton ringan hebel foam agent, begitu juga untuk variasi dengan bahan tambah sikament LN. Variasi menggunakan styrofoam dengan tambahan sikament LN mempunyai nilai kuat tekan rata-rata tertinggi sebesar 4,19 MPa, dan termasuk bata beton mutu III berdasarkan standar kuat tekan bata beton untuk pasangan dinding SNI 03-0349-1989. Kata kunci: Beton Ringan Hebel, Styrofoam, Foam Agent, Kuat Tekan, Kuat Tarik belah, Kuat Lentur Abstract Styrofoam can be used as a substitute for foam agents besides being easy to obtain and does not require special tools in making lightweight concrete bricks. This study aims to determine the magnitude of mechanical properties obtained from lightweight concrete bricks with a volume of 1000 kg/m3 using Styrofoam as a substitute for foam agents. This study used experimental methods conducted in the laboratory. There are four variations in this study, namely lightweight concrete bricks using foam agents, foam agents with additional sikament LN, Styrofoam, Styrofoam with additional sikament LN. Mechanical properties testing was carried out after curing, with the value of the mechanical properties produced by the Styrofoam lightweight concrete brick variation higher than the foam agent lightweight concrete brick variation, as well as for variations with sikament LN added materials. Variations using Styrofoam with the addition of sikament LN have the highest average compressive strength value of 4.19 MPa, and include quality III concrete bricks based on concrete brick compressive strength standards for wall masonry SNI 03-0349-1989. Kata kunci: Hebel Light Concrete, Styrofoam, Foam Agent, Compressive Strength, Split Tensile Strength, Flexural Strengt
Penerapan Metode Pembongkaran (Demolishing) Pada Bangunan Gedung dan Daur Ulang Limbah Bongkaran: A Systematic Literature Review
Abstrak Pekerjaan pembongkaran bangunan merupakan proses yang esensial dalam industri konstruksi untuk menghancurkan atau meruntuhkan struktur bangunan setelah masa manfaatnya berakhir. Proses ini melibatkan penggunaan peralatan khusus dan mematuhi prosedur hukum serta mendapatkan persetujuan pemerintah setempat. Penelitian ini menggunakan metode bibliometerik dengan menggunakan bantuan aplikasi Publish or Perish (Pop) dan VOSviewer. Dari hasil seleksi yang dilakukan dengan PoP dilakukan seleksi artikel-artikel yang relevan dan sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Untuk mengetahui hubungan masing-masing kata kunci dalam artikel, maka diolah dengan menggunakan aplikasi VOSviewer dengan dilanjutkan seleksi lebih cermat dan teliti sehingga pembahasan tidak terlalu melebar. Artikel-artikel yang sudah dikumpulkan dijadikan bahan penitian schematic literature review ini. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk menjelaskan penererapan pekerjaan pembongkaran dengan beberapa metode yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Selain pembahasan tentang pentingnya pekerjaan pembongkaran (demolishing) juga jelaskan terkait daur ulang dari limbah bongkaran konstruksi dan perkembangan-perkembangan yang telah dilakukan dalam pengolahan limbah hasil konstruksi dan bongkaran konstruksi. Kata kunci: pembongkaran, metode bongkaran, limbah bongkaran, daur ulang, Abstract Building demolition work is an essential process in the construction industry to destroy or demolish building structures after their useful life has ended. This process involves using special equipment and complying with legal procedures and obtaining local government approval. This research uses a bibliometric method using the Publish or Perish (PoP) and VOSviewer applications. From the results of the selection carried out with PoP, articles were selected that were relevant and in accordance with the research carried out. To find out the relationship between each keyword in the article, it is processed using the VOSviewer application, followed by more careful and thorough selection so that the discussion does not expand too much. The articles that have been collected are used as material for this schematic literature review. The aim of this research is to explain the application of demolition work using several methods, each of which has its advantages and disadvantages. Apart from discussing the importance of demolition work, it also explains the recycling of construction demolition waste and the developments that have been made in processing construction waste and construction demolition waste. Keywords: demolishing, demolishing methods, demolishing waste, recyclin