Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Efektivitas Penataan Parkir Mobil Penumpang di Badan Jalan Terhadap Kinerja Ruas Jalan di Jalan HR Soebrantas Depan Pasar Simpang Baru Panam
Abstrak Adanya kegiatan parkir di badan jalan menyebabkan terganggunya kelancaran arus lalu lintas di ruas jalan HR Soebrantas tepatnya di depan Pasar Simpang Baru Panam. Agar diperoleh kinerja ruas jalan efektif pada jalan tersebut, maka perlu dilakukan penataan posisi sudut parkir khususnya untuk kendaraan mobil penumpang. Pada penelitian ini analisis dilakukan pada masing-masing sudut parkir rencana. Saat tanpa adanya parkir di badan jalan, tingkat pelayanan ruas jalan tersebut berada pada kategori A dengan derajat kejenuhan sebesar 0,56. Setelah dilakukan simulasi penataan sudut parkir, didapatkan sudut parkir optimal untuk digunakan di lokasi ini adalah sudut 45°. Penggunaan sudut ini telah memenuhi kriteria minimum jalan kolektor sekunder yaitu berada pada tingkat pelayanan C. Untuk indeks parkir yaitu sebesar 0,71 yang berarti ruang parkir yang tersedia telah mampu memenuhi kebutuhan parkir di lokasi. Selain itu sudut ini mampu menampung lebih banyak kendaraan parkir serta memiliki tingkat kemudahan dan kenyamanan parkir yang lebih tinggi dibanding sudut 90°. Kata kunci: Karakteristik Parkir, Parkir di Badan Jalan, Sudut Parkir, Kinerja Ruas Jalan. Abstract The existence of on-street parking activities causes disruption to the smooth flow of traffic on the HR. Soebrantas road, precisely in front of Pasar Simpang Baru Panam. In order to obtain effective road section performance on the road, it is necessary to arrange the position of the parking angle, especially for passenger car vehicles. This research analyzes each planned parking angle. When there is no parking on the road, the level of service for this road section is in category A with a degree of saturation value of 0.56. After simulating the arrangement of parking angles, the optimal parking angle to be used at this location is 45°. The use of this angle has met the minimum criteria for secondary collector roads which are at level of service C. The parking index is 0.71, which means that the available parking space is able to meet the parking demand at that location. In addition, the use of this angle is able to accommodate more parking vehicles and has a higher level of ease and comfort of parking than the 90° angle. Keywords: Parking Characteristics, On-street Parking, Parking Angle, Road Section Performanc
Pendugaan Hasil Sedimen Terhadap Penggunaan Lahan dengan Metode MUSLE di DAS Way Besai
Abstrak Salah satu dampak dari erosi adalah penurunan produksi pangan secara global. Penyebab erosi yang terjadi di wilayah sungai adalah perubahan tutupan lahan dan iklim. Dengan melakukan penghijauan, meningkatkan vegetasi dan ekologi, dan perencanaan penggunaan lahan diindikasikan dapat mencegah erosi. Sedimentasi akibat erosi di sungai juga dapat mengurangi kapasitas sungai dalam menampung air. Metode MUSLE (Modified Universal Soil Loss Equation) merupakan pengembangan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dalam pendugaan hasil sedimen. Tujuan dari penelitian adalah memperoleh pendugaan hasil sedimen terhadap penggunaan lahan menggunakan metode MUSLE pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai berbasis sistem informasi geografis. Hasil sedimen periode ulang dengan metode MUSLE untuk Y(2 tahun), Y(5 tahun), Y(10 tahun), Y(25 tahun), Y(50 tahun), Y(100 tahun), dan Y(200 tahun) masing-masing diperoleh sebesar 656.8765 ton, 782.4091 ton, 861.3319 ton, 957.7598 ton, 1027.6898 ton, 1096.4283 ton, dan 1164.6822 ton. Sedimentasi kala ulang menunjukkan tren peningkatan sejalan dengan bertambahnya lama periode yang berulang. Kata kunci: Sedimen, Erosi, MUSLE, DAS Way Besai Abstract Erosion leads to a global decrease in food production. Land cover and climate changes are the main causes of erosion in river areas. To reduce erosion, we can implement greening projects, improve vegetation, and plan land use strategically. Sedimentation resulting from river erosion can diminish the water-holding capacity of rivers. MUSLE (Modified Universal Soil Loss Equation) method, which enhances USLE (Universal Soil Loss Equation), is used to predict sediment yield. The objective of research is to estimate sediment yield in relation to land use using MUSLE method within Way Besai Watershed, based on a geographic information system (GIS). Sediment yields for recurrence periods, including Y(2 years), Y(5 years), Y(10 years), Y(25 years), Y(50 years), Y(100 years), and Y(200 years), are calculated as 656.8765 tons, 782.4091 tons, 861.3319 tons, 957.7598 tons, 1027.6898 tons, 1096.4283 tons, and 1164.6822 tons, respectively. Sedimentation rates exhibit an upward trajectory in tandem with increasing recurrence periods. Keywords: Sedimentation, Erosion, MUSLE, Way Besai Watershe
Prediksi Dampak Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Pada Permintaan Perjalanan Udara Antar Provinsi di Pulau Sumatera
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan perjalanan penumpang udara ke kendaraan bermotor akibat pembangunan jalan Tol Trans Sumatera dan kenaikan harga tiket pesawat. Rute Bandar Lampung - Palembang, Pekanbaru - Padang, dan Medan - Aceh dianalisis sebagai rute yang paling representatifmenggambarkan situasi di Pulau Sumatera. Studi ini berfokus pada perjalanan antar kota dengan maksud perjalanan bisnis dan non bisnis. Variabel yang digunakan dalam studi ini yaitu waktu perjalanan, waktu tunggu, biaya perjalanan, tingkat keamanan, dan tingkat kenyamanan. Sebagai alat pengumpulan data digunakan teknik Stated Preference (SP) dan multinomial logit model untuk metodologi analisis. Model yang didapatkan menunjukan biaya perjalanan dan waktu perjalanan merupakan variabel yang paling signifikan. Model ini juga menegaskan bahwa Jalan Tol Trans Sumatera berdampak pada penurunan permintaan perjalanan udara di Pulau Sumatera. Selain itu pelaku perjalanan non bisnis lebih mudah untuk berpindah moda dibandingkan dengan perjalanan bisnis. Penelitian ini menunjukan bahwa penumpang pesawat bersifat inelastik terkait perubahan waktu tempuh dan biaya perjalanan. Kata kunci: Stated Preference, Multinomial Logit Model, Jalan Tol Trans Sumatera, Permintaan Perjalanan Udara Abstract This study aims to analyze the factors that affect the potential transfer from air travel demand to the motorized vehicles due to the Trans Sumatra Toll Road construction and the increase in air ticket prices. Bandar Lampung - Palembang, Pekanbaru - Padang, and Medan - Aceh routes were assigned as the most representative routes for evaluating demand distribution in Sumatra. This study focuses on inter-city travel with business and non-business travel. The variables used in this study are travel time, time for waiting for the mode, travel costs, security level, and comfort level. To collect the data Stade Preference (SP) and multinomial logit model were used for the analysis. The model shows that travel costs and time are the most significant variables. This model also confirms that the Trans Sumatra Toll Road impacts decreasing demand for air travel on Sumatra Island. In addition, non-business travellers are more accessible to change modes than business trips. This research found that air passengers were inelastic related to changes in travel time and travel costs. Keywords: Stated Preference, Multinomial Logit Model, Trans Sumatera Toll Road, Air Deman
Studi Perilaku Tiang Group Pada Lapisan Tanah Terlikuifaksi
Abstrak Likuifaksi merupakan satu fenomena yang terjadi pada lapisan tanah akibat gempa bumi. Pada saat terjadi likuifaksi tanah mengalami peningkatan tekanan air pori yang menyebabkan tanah kehilangan kuat geser sehingga mengalami penurunan tegangan efektif dan secara linier mengakibatkan penurunan kuat geser. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui perubahan perilaku tiang akibat lapisan tanah terlikuifaksi disepanjang tiang. Semua analisa perubahan perilaku tiang dibandingkan dengan kondisi atau kondisi tidak ada lapisan terlikuifaksi, sehingga dapat diketahui perubahan perilaku tiang ketika ada lapisan teriluifaksi. Dari hasil analisa defleksi diketahui bahwa terjadi perubahan defleksi yang besar jika dibandingkan antara lapisan tidak terlikuifaksi dengan lapisan terlikuifaksi, yaitu dari 0,16 mm menjadi 4,32 mm atau meningkat sebesar 4.16 mm. Perubahan momen untuk lapisan tidak terlikuifaksi 23 kN menjadi 219 kN untuk kondisi lapisan terlikuifaksi atau meningkat sebesar 196 kN.m, hal yg sama pada perubahan daya dukung yang mengalami penurunan ketika terjadi likuifaksi, sehingga disimpulkan bahwa ada perubahan perilaku tiang jika terdapat lapisan terlikuifaksi. Kata kunci: likuifaksi, sondir, daya dukung tiang, defleksi Abstract Liquefaction is a phenomenon that occurs in soil layers due to earthquakes. When liquefaction occurs, the water pressure of soil has increased which causes the soil to lose shear strength, resulting in a decrease in effective stress and linearly resulting in a decrease in shear strength. This research was conducted to determine changes of pile behavior due to liquefaction of the soil layer along the pile. All analyses of changes of pile behavior are compared with conditions where there is no liquefaction layer, so that changes of pile behavior can be seen when there is liquefaction layer of soil. The results of the deflection analysis, it is known that there is a large change in deflection when compared between the non-liquefaction layer and the liquefaction layer, namely from 0.16 mm to be 4.32 mm or increases 4.16 mm. The change in moment for the liquefaction layer is 23 kN to be 219 kN for the liquefaction layer condition or increases 196 kN.m, the same thing as the change in bearing capacity which decreases when liquefaction occurs, so it is concluded that there is a change of pile behavior if there is a liquefaction layer. Keywords: liquefaction, CPT, bearing capacity of pile, deflectio
Kajian Putusan Pengadilan yang Membatalkan Putusan Arbitrase BANI pada Sengketa Kontrak Jasa Konstruksi
Abstrak Penyelesaian sengketa kontrak konstruksi melalui arbitrase BANI pada kenyataannya tidak selalu memberikan putusan yang dapat diterima oleh para pihak yang berselisih. Dalam beberapa kasus, putusan BANI bahkan dibatalkan oleh Pengadilan. Penelitian ini mengkaji 35 putusan BANI yang diajukan permohonan pembatalan ke Pengadilan Negeri selama periode 2010 hingga 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 putusan BANI dibatalkan oleh Pengadilan sehubungan dengan penilaian hakim yang menyatakan bahwa Arbiter kurang cermat dalam mendeteksi keberadaan unsur tipuan dalam perkara. Sementara itu kajian mendalam terhadap dua kasus pembatalan putusan BANI oleh Pengadilan menunjukkan bahwa kemampuan Hakim Pengadilan dalam menilai keabsahan dokumen yang menjadi sengketa dalam kontrak konstruksi dan mendeteksi adanya kecurangan lebih cermat dibandingkan Arbiter BANI. Namun demikian, Arbiter BANI relatif lebih baik dibanding Hakim Pengadilan dalam menilai substansi permasalahan kontrak konstruksi dan memahami permasalahan sengketanya. Kata kunci: Arbitrase, BANI, Keadilan, Kelembagaan yang Tangguh, Pembatalan Putusan, Pengadilan Abstract The resolution of construction contract disputes through BANI does not always result in decisions that are acceptable to the conflicting parties. In some cases, BANI decisions have even been overturned by the courts. This study examined 35 BANI decisions that were challenged in District Courts during the period from 2010 to 2022. The research findings indicate that 14 BANI decisions were overturned by the courts due to the judges\u27 assessment, which stated that the Arbitrators were insufficiently diligent in detecting elements of fraud in the case. Furthermore, an in-depth review of two cases in which BANI decisions were overturned by the courts indicated that the ability of the court judges to assess the validity of the documents in construction contract disputes and detect fraud was more accurate than that of the BANI Arbitrators. Nevertheless, the BANI Arbitrators were relatively better than the Court Judges in evaluating the substance of construction contract issues and understanding the dispute issues. Keywords: Arbitration, BANI, Justice, Strong Institutions, Cancellation of Judgment, Court
Analisis Life Cycle Cost dan Kelayakan Investasi pada Bangunan Rumah Tinggal Permanen Tipe 27 m2
Abstrak Analisis life cycle cost bertujuan untuk mengetahui biaya siklus hidup bangunan, mulai dari perencanaan hingga umur ekonomis bangunan yang ditetapkan, dan untuk mengetahui nilai kelayakan investasi bangunan rumah tinggal. Penelitian dilakukan dengan menganalisis life cycle cost pada bangunan rumah tinggal permanent tipe 27 m2 Liliba, Kupang. Diketahui total biaya yang dikeluarkan dari perencanaan hingga umur ekonomis bangunan selama 20 tahun sebesar Rp. 4.086.724.673,08 meliputi biaya awal atau biaya pembangunan sebesar Rp. 1.554.805.606,39 (38%), biaya operasional sebesar Rp. 2.028.045.197,62 (50%), biaya perawatan dan penggantian sebesar Rp. 348.393.308,43 (8%) dan biaya pembongkaran sebesar Rp. 155.480.560,64 (4%) serta hasil analisis kelayakan investasi dengan menggunakan metode NPV (net present value), IRR (internal rate of return), dan BCR (benefit cost ratio) diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 9.281.471.286 (NPV > 0) atau NPV bernilai positif, nilai IRR sebesar 38,93% > MARR 38% dan nilai BCR > 1 sehingga investasi tersebut dianggap layak atau menguntungkan. Kata kunci: Life cycle cost, net present value, internal rate of return, basic cost rate, kelayakan investasi Abstract Life cycle cost analysis is a method to determine life cycle cost of building from preliminary design to economical building life that can be intended by investment feasibility value of residential building. This research is about life cycle cost analysis of a permanent residential building type 27 m2, Liliba, Kupang. Total cost of this building calculated from design phase to economical building life for 20 years is about Rp. 4.086.724.673,08 that involve initial cost about Rp. 1.554.805.606,39 (38%), operational cost about Rp. 2.028.045.197,62 (50%), maintenance cost Rp. 348.393.308,43 (8%) and demolition cost Rp. 155.480.560,64 (4%). Results shows that the investment feasibility analysis using NPV method (net present value) is positive Rp. 9.281.471.286 (NPV > 0) , IRR (internal rate of return) is 38,93% > MARR 38%, and BCR (benefit cost ratio) is > 1. Hence, the investment can be concluded as feasible and profitable. Keywords: Life cycle cost, net present value, internal rate of return, basic cost rate, investment feasibilit
Prioritas Pembangunan Infrastruktur Jalan Menggunakan Analitycal Hierarchy Process di Kabupaten Bireuen
Abstrak Hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan dan Rencana Kerja Satuan Kerja Pelaksana Kegiatan Kabupaten Bireuen tahun anggaran 2023, Terdapat 10 ruas jalan yang diusulkan untuk pembangunan, dengan prioritas pembangunan telah diurutkan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya kriteria apa yang dipertimbangkan dalam menentukan urutan prioritas tersebut. Keterbatasan anggaran pada sektor infrastruktur jalan mengharuskan adanya skala prioritas. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kriteria urutan prioritas dalam pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Bireuen menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Kriteria yang ditinjau meliputi panjang pembangunan, kondisi jalan, rencana anggaran, aksesibilitas, kependudukan, fasilitas sosial, dan sarana perekonomian. Alternatif yang dipertimbangkan adalah 10 ruas jalan di Kabupaten Bireuen. Metode Penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling sebanyak 150 informan dan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang dominan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Bireuen adalah kriteria kondisi jalan. Kata kunci: Prioritas, pembangunan, infrastruktur, jalan, AHP Abstract Results of the Development Planning Deliberation and Work Plan for the Bireuen Regency Activity Implementation Work Unit for the 2023 fiscal year, there are 10 road sections proposed for development, with development priorities having been sorted. The main problem in this research is that it is not yet known what criteria are considered in determining the priority order. Budget limitations in the road infrastructure sector require a priority scale. The research objective is to identify priority order criteria in road infrastructure development in Bireuen Regency using the Analytical Hierarchy Process (AHP). The criteria reviewed include development length, road conditions, budget plans, accessibility, population, social facilities and economic facilities. The alternatives being considered are 10 roads in Bireuen Regency. Quantitative research method using questionnaires as a data collection tool. The sampling technique used was purposive sampling of 150 informants and respondents. The research results show that the dominant criteria that need to be considered in the development of road infrastructure in Bireuen Regency are road condition criteria. Keywords: Priorities, development, infrastructure, roads, AH
Evaluasi Penilaian Kinerja Irigasi dan Angka Kebutuhan Nyata Pengelolaan Irigasi Way Merias Kabupaten Lampung Tengah
Abstrak Kegiatan operasi dan pemeliharaan (O&P) irigasi adalah bagian dari manajemen irigasi yang bertujuan untuk keberlangsungan dan kemandirian sistem irigasi. Di wilayah irigasi ini, belum pernah dilakukan pemulihan atau perbaikan secara berkala, sehingga asset irigasi terus mengalami penurunan fungsi. maka diperlukan studi evaluasi kinerja irigasi dan angka kebutuhan nyata pengelolaan irigasi (AKNPI). Daerah Irigasi Way Merias merupakan Daerah Irigasi yang berada di bawah kewenangan Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Lampung Tengah, daerah irigasi Way Merias memiliki luas fungsional 79.44 Ha dari luas baku dan potensial yang dimanfaatkan secara fungsional. Daerah Irigasi Way Merias, Kabupaten Lampung Tengah, masih di bawah standar di mana pada Permen PUPR No. 12/PRT/M/2015 menjelaskan untuk katergori Nilai Bobot 80-100 kinerja irigasi tersebut sangat baik, sedangkan pada Daerah Irigasi Way Merias nilai kinerja sistem irigasi 55-69 bahwa pada daerah irigasi tersebut kurang dan perlu perhatian, Total biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan daerah irigasi Way Merias adalah sebesar Rp 317.803.367. Kata kunci: Operasi Dan Pemeliharaan, Angka Kebutuhan Nyata Pengelolaan Irigasi. Kinerja Irigasi, Abstract Irrigation operation and maintenance (O&M) activities are part of irrigation management which aims to ensure the sustainability and independence of the irrigation system. In this irrigation area, regular restoration or repairs have never been carried out, so irrigation assets continue to decline in function. Therefore, an evaluation study of irrigation performance and real irrigation management needs (AKNPI) is needed. The Way Merias Irrigation Area is an irrigation area under the authority of the Central Lampung Regency Water Resources Service. The Way Merias irrigation area has a functional area of 79.44 Ha. The Way Merias Irrigation Area, Central Lampung Regency, is still below standard. In PUPR Ministerial Decree No. 12/PRT/M/2015 explains that for the Weight Value category 80-100 the irrigation performance is very good, whereas in the Way Merias Irrigation Area the irrigation system performance value is 55-69, which means that in this irrigation area it is lacking and needs attention. from the standard and potential area utilized functionally. The total costs required to manage the Way Merias irrigation area are IDR 317,803,367. Keywords: Operation and Maintenance, Real Needs Figures for Irrigation Managemen
Penentuan Jenis Penanganan Jalan Perkerasan Lentur Berdasarkan Metode Indeks Kondisi Perkerasan (IKP)
Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menentukan jenis penanganan perkerasan lentur Jalan Lehong-Kp. Peot berdasarkan Metode Indeks Kondisi Permukaan (IKP) sesuai Pd 01-2016-B Kementerian PUPR 2016. Dari penelitian diketahui bahwa kondisi fisik permukaan jalan mengalami kerusakan bervariasi yang tergambarkan pada Nilai Pengurang Terkoreksi (NPT) sehingga jenis penanganannya juga berbeda menurut Indeks Kondisi Perkerasan (IKP). Rinciannya, yaitu STA. 0+000 - STA. 0+250 IKP sebesar 36,6 < 55 dengan jenis penanganan rekonstruksi/daur ulang. STA. 0+250 - STA. 1+750 IKP bervariasi antara 55,7 - 65,2 berada pada rentang IKP yang disyaratkan 55 sampai 70 sehingga penanganannya peningkatan struktural. STA.1+750 - STA. 2+250 IKP 88,2 sampai 88,4 ‰¥ 85 (IKP yang disyaratkan) dengan jenis penanganan pemeliharaan rutin. STA.2+250 - STA. 2+750 IKP 73,4 - 76,3 berada pada rentang IKP 70 - 85 dengan jenis penanganan pemeliharaan berkala, dan STA. 2+750-STA. 3+500 IKP sebesar 61,6 - 65,8 berada pada rentang IKP yang disyaratkan 55 - 70 sehingga penanganannya peningkatan struktural. Kata kunci: Metode IKP, kondisi permukaan, perkerasan lentur, jenis penanganan Abstract The aim of this research is to determine the type of flexible pavement treatment on Jalan Lehong-Kp. Peot based on the IKP value. From research it is known that the type of treatment is also different according to the Pavement Condition Index (IKP). The details, namely STA. 0+000 - STA. 0+250 IKP of 36.6 < 55 with reconstruction/recycling type of treatment. STA. 0+250 - STA. 1+750 IKP varies between 55.7 - 65.2 which is in the required IKP range of 55 to 70 so that the handling is structural improvement. STA.1+750 - STA. 2+250 IKP 88.2 to 88.4 ‰¥ 85 (required IKP) with routine maintenance type. STA.2+250 - STA. 2+750 IKP 73.4 - 76.3 is in the IKP 70 - 85 range with the type of periodic maintenance handling, and STA. 2+750-STA. 3+500 IKP of 61.6 - 65.8 is in the required IKP range of 55 - 70 so that the handling is structural improvement. Keywords: IKP method, surface condition, flexible pavement, type of treatment
Pemanfaatan Abu Batu Hasil Proses Pemecah Batu Sebagai Material Pengganti Lapis Drainase Pada Pondasi Perkerasan Jalan Beton: A Systematic Literature Review
Abstrak Limbah Konstruksi dihasilkan adanya pembangunan infrastruktur yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Pesatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia tentunya hal ini juga akan menghasilkan limbah konstruksi yang jumlahnya banyak dan cepat penambahannya. Sumber limbah konstruksi bisa dalam bentuk padat, cair, gas atau kombinasi dari semua bentuk tersebut. Proyek konstruksi merupakan penghasil limbah padat yang sangat besar. Manajemen pengelolaan dan pemanfaatan limbah konstruksi perlu dilaksanakan secara seksama, Indonesia merupakan negara berkembang yang laju pembangunan infrastrukturnya sangat pesat sekarang ini tetap mendukung pencapaian SDGs Agenda 2030, salah satu SDGs adalah Zero Waste Project dengan melaksanakan prinsip œThe 6 Rs of sustainability. Beberapa penelitian sebelumya terkait pemanfaatan abu batu digunakan sebagai penganti agregat halus campuran pembuat beton. Mengacu penelitiaan sebelumnya terkait pemanfaatan abu batu belum terdapat pemanfaatan abu batu digunakan sebagai material pengganti lapis drainase pada pondasi pekerasan jalan beton, sehingga masih terdapat gap pada penelitian sebelumnya yang akan dilakukan penelitian ini. Kata Kunci: Limbah Konstruksi, Abu Batu, Lapis Drainase, Perkerasan Beton Abstract Construction waste is generated by infrastructure development that has a negative impact on the environment. The rapid development of infrastructure in Indonesia will certainly also produce construction waste in large quantities and increasing rapidly. Sources of construction waste can be in the form of solid, liquid, gas or a combination of all these forms. Construction projects are very large producers of solid waste. Management of construction waste management and utilization needs to be carried out carefully, Indonesia is a developing country with a very rapid rate of infrastructure development currently still supporting the achievement of the SDGs Agenda 2030, one of the SDGs is the Zero Waste Project by implementing the principle of "The 6 Rs of sustainability". Several previous studies related to the utilization of stone ash were used as a substitute for fine aggregate in concrete mixtures. Referring to previous studies related to the utilization of stone ash, there has been no use of stone ash as a substitute material for drainage layers on concrete road pavement foundations, so there is still a gap in previous research that will be carried out in this study. Keyword: Construction waste, Stone Ash, Drainage Layer, Concrete Pavemen