Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    ANALISIS PENURUNAN BADAN JALAN KM 605+400 RUAS JALAN SUBULUSSALAM-LIPAT KAJANG DIPERKUAT PONDASI CAKAR AYAM MODIFIKASI

    Get PDF
    Abstrak Ruas Jalan Subulussalam-Lipat Kajang merupakan salah satu jalan Nasional Lintas Barat-Selatan Provinsi Aceh menghubungkan Kota Subulussalam dengan Kabupaten Aceh Singkil dan menuju Batas Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan pada badan jalan pada Km 605+400. Penurunan disebabkan oleh aliran air dan rendahnya daya dukung tanah serta berubahnya sifat tanah dasar menjadi lunak atau berkurangnya volume akibat proses penyusutan. Oleh sebab itu, diperlukan kajian penurunan kontruksi badan jalan dan upaya penanggulangannya dengan menggunakan pondasi Cakar Ayam Modifikasi (CAM). Kajian ini bertujuan untuk menganalisis penurunan kontruksi badan jalan dengan mendapatkan angka penurunan dalam batas-batas toleransi. Analisis yang dilakukan untuk mendapatkan penurunan yaitu dengan menggunakan program Plaxis 2D. Ruang lingkup penelitian yang akan dilakukan meliputi menganalisis penurunan sebelum dan setelah dilakukan penanganan menggunakan Pondasi Cakar Ayam Modifikasi (CAM) dengan Lebar 80 cm, Tinggi 120 cm dan jarak antar pondasi 250 cm. Hasil analisis penurunan pada kondisi eksisting dengan menggunakan program Plaxis 2D, diperoleh angka penurunan yaitu lebih besar dari 2,5 cm (batas-batas toleransi) dengan jangka waktu di atas 11,36 tahun dalam kondisi badan jalan tidak aman, sedangkan hasil analisis penurunan setelah dilakukan penanganan dengan Pondasi Cakar Ayam Modifikasi (CAM) menggunakan program Plaxis 2D, diperoleh angka penurunan yaitu lebih kecil dari 2,5 cm dengan jangka waktu dibawah Tv 3,60 tahun dalam kondisi badan jalan aman. Kata kunci: Penurunan, Pondasi CAM, Plaxis 2D  Abstract Roads Subulussalam - Lipat Kajang is one of the national road along the west - south province of Aceh connect Subulussalam City with Aceh Singkil Regency and heading to the North Sumatra Province Border has decreased on the road body at Km 605 + 400. The decline is caused by water flow and low carrying capacity soil as well as changing the nature of subgrade to soft or reduced volume due to the shrinkage process. Therefore, it is necessary to review the reduction in road construction and efforts to overcome it by using the  foundation of CAM. This study aimed to analyze the decrease in construction of the road to get the numbers decrease in the tolerance limits. The analysis is conducted to get the decline using the  Plaxis 2D  program. The scope of the research will include analyzing the decrease before and after handling using Foundation of CAM with Width 80 cm, Height 120 cm and distance between foundations 250 cm. The results of the analysis of the decline in existing conditions by using the Plaxis 2D program, obtained a decrease in numbers that is greater than 2.5 cm (tolerance limits) with a period of over 11,36 years in unsafe road body conditions, while the results of the analysis of the decline after handling with the  foundation of CAM using the Plaxis 2D program, obtained a reduction rate that is smaller than 2.5 cm with a period under TV 3,60 years in safe road body conditions. Keywords: Sattlement, Foundation of CAM, Plaxis 2

    ANALISIS PERKIRAAN KEBUTUHAN DAN TARIF AIR BERSIH UNTUK PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA(PPS) LAMPULO KOTA BANDA ACEH

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini dilakukan Oktober-Desember 2019 di Pelabuhan Perikanan Lampulo, kecamatan Kuta Alam, kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan air bersih, jumlah tarif air bersih dan strategi pelayanan air bersih, dibatasi pada 3 unit kegiatan yaitu unit penangkapan, perkantoran dan pabrik es, menggunakan metode studi kasus dan analisis deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian diketahui perkiraan kebutuhan air bersih pada unit penangkapan perhari/trip secara aktual sebesar 500-1.000 liter/trip untuk jenis kapal One Day Fishing 1-2 hari perjalanan, namun secara teoritis untuk jenis kapal ini membutuhkan 1.125 liter/trip dengan perhitungan konsumsi ABK 50 liter/orang/trip. Kebutuhan air bersih untuk semua jenis kapal dalam rangkaian aktifitas penangkapan ikan sebesar 117.900 liter/trip dalam kurun waktu sebulan aktifitas melaut dilakukan sebanyak 3 kali perjalanan dikarenakan untuk kapal>6 GT menempuh perjalanan 6-10 hari perjalanan. Saat ini untuk unit kegiatan perkantoran dan pabrik es adanya sumur bor yang dapat membantu aktifitas perhari, namun unit perkantoran di lingkungan PPS Lampulo membutuhkan air bersih sebesar 460 liter/hari dengan perhitungan konsumsi penggunaan air sebanyak 30 liter/orang/hari. Untuk unit kegiatan pabrik es membutuhkan air bersih dalam proses pembuatan Es Balok  sebesar 115.500 liter/hari. Dalam penelitian ini dapat diketahui tarif air bersih yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pelaku PPS Lampulo dengan harga Rp. 4.200/m3 namun harga tersebut memiliki kenaikan di tahun terakhir ini sesuai dengan kebijakan Peraturan Walikota Banda Aceh Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penyesuaian Kelompok Pelanggan dan Tarif Air Minum. Dengan adanya Analisis SWOT diperoleh strategi peningkatan pelayanan dan peningkatan sarana serta prasarana di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, sehingga akan menimbulkan mobilisasi nelayan yang melakukan aktivitas bongkar muat. Kata kunci: PPS Lampulo, Pelayanan, Kebutuhan Air Bersih, Tarif Air Bersih, Analisis SWOT.  Abstract This research was conducted in October- December 2019 at the Lampulo Fishery Port, Kuta Alam District, Banda Aceh City, Aceh Province, the aims to determine the level of clean water needs, the amount of clean water rates and clean water service strategies in Lampulo PP, limited to 3 activity units namely the fishing unit, offices and ice factories. This research uses the case study method and quantitative descriptive analysis. From the results of the study can be known estimated clean water needs in the capture unit per day / trip actually requires 500-1,000 liters / trip for the type of One Day Fishing ship 1-2 days trip. However, theoretically for this type of ship requires 1,125 liters / trip with the calculation of ABK consumption of 50 liters / person / trip. Clean water needs for all types of vessels in a series of fishing activities amounted to 117,900 liters / trip within a period of one month to sea activities carried out as many as 3 trips due to ships> 6 GT traveling 6-10 day trips. At present for the Office and Ice Factory activity units there are boreholes that can help with daily activities, however the Office Unit in the Lampulo PPS environment requires clean water of 460 liters / day with the calculation of consumption water usage of 30 liters / person / day. Whereas the Ice Factory activity unit requires clean water in the process of making Beams of Ice at 115,500 liters / day. In this research, it can be known that the Clean Water Tariff is adequate to meet the needs of Lampulo PPS actors at a price of Rp. 4,200 but the price has increased this past year in accordance with the policies of the Banda Aceh Mayor Regulation No. 15 of 2017 concerning Adjustment of Customers Groups and Drinking Water Rates. With the SWOT Analysis, it is obtained a strategy of service improvement and improvement of facilities and infrastructure at Lampulo Ocean Fisheries Port, so as it will lead to mobilization of fishermen who carry out loading and unloading activities. Keywords: Lampulo PPS, Services, Clean Water Needs, Clean Water Rates, SWOT Analysis

    STUDI MENGENAI BIAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN PADA MASA KONSTRUKSI

    Get PDF
    Dampak lingkungan akibat proyek konstruksi selalu menjadi masalah serius bagi kelangsungan berjalannya proyek konstruksi apabila tidak dilakukan pengelolaannya. Pengelolaan lingkungan pada masa konstruki umumnya tidak dituliskan pada spesifikasi pekerjaan, namunperlu untuk dilakukan. biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan lingkunan ini sendiri diambil dari persentase biaya tidak langsung proyek. Saat ini ditengarai pihak kontraktor di Kota Tasikmalaya tidak memiliki standar harga satuan pekerjaan untuk pengelolaan lingkungan pada kegiatan proyek konstruksi. Maka dalam penelitian ini akan diidentifikasi pengelolaan dampak lingkungan apa saja yang ditangani oleh pihak kontraktor, dihitung persentase kisaran biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan setiap dampak lingkungan, serta menganalisis pola interaksi besar-kecilnya kisaran biaya pengelolaan lingkungan untuk setiap dampak lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data penelitian wawancara dan kuisioner. Pengumpulan data disebarkan ke enam proyek gedung di Kotaa Tasikmalaya. Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa pengelolaan lingkungan yang umum dilakukan oleh pihak kontraktor adalah pengelolaan dampak kebisingan, pengelolaan dampak kuantitas & kualitas air, pengelolaan dampak lingkungan kotor, dan pengelolaan dampak akses jalan. Kisaran biaya yang dikeluarkan untuk setiap pengelolaan lingkungan ini bervariasi untuk setiap proyek. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola interaksi dari kisaran biaya pengelolaan lingkungan tergantung pada karakteristik proyek yang berupa lokasi proyek, nilai proyek, serta spesifikasi pekerjaan pada masing-masing proyek

    Geolistrik Konfigurasi Wenner Untuk Pendugaan Air Tanah di Perumahan Grand Puri Bunga Nirwana Jember

    Get PDF
    Abstrak Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Air tanah salah satu alternatif sebagai sumber air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki potensi air tanah di Perumahan Grand Puri Bunga Nirwana, Jember. Penelitian menggunakan metode geolistrik dengan konfigurasi wenner. Panjang lintasan akuisisi data 410 meter. Jarak spasi antar elektroda (a) yang digunakan yaitu 5 m, 10 m dan 15 m. Pengulangan data (n) dilakukan sebanyak 6 kali pada masing-masing jarak spasi antar elektroda. Inversi model menggunakan software Res2Dinv. Hasil inversi berupa citra penampang lapisan bawah tanah. Nilai resistivitas yang diperoleh 0,55-371 „¦m. Potensi air tanah berada di kedalaman 38-51,8 m. Akuisisi data terletak pada koordinat 8º10,2940 S dan 113º447,20 E. Lapisan akuifer tergolong akuifer produktif sedang. Debit akuifer diprediksi kurang dari 5 liter/detik. Kata kunci: geolistrik, wenner, resistivitas, akuifer Abstract Water is a primary human need. Groundwater is an alternative source of fresh water. This research aims to investigate the potential of groundwater at the Grand Puri Bunga Nirwana Housing, Jember. The study used the geoelectric method with a Wenner configuration. The acquisition data length is 410 meters. The distance between the electrodes used 5 m, 10 m and 15 m. Repeating data 6 times at each spacing between electrodes. Inversion of the model using Res2Dinv software. The inversion results in the form of a cross-sectional image of the underground layer. The resistivity value obtained 0.55-371 Ωm. The depthof groundwater potential is 38-51.8 m. Coordinates of data acquisition are 8º10.29\u2740 \u27S and 113º44\u277.20\u27 \u27E. Aquifer layers are classified as medium productive aquifers. The predicted discharge of aquifer is less than 5 liters/second. Keywords: geoelectric, wenner, resistivity, aquife

    REVIEW DESIGN STRUKTUR BETON BERTULANG TERHADAP STRUKTUR BAJA PADA STRUKTUR GEDUNG DIATAS TANAH LUNAK

    Get PDF
    Salah satu permasalahan paling utama dalam pengoptimalisasi desain struktur bangunan adalah pemilihan jenis material struktur dan pemilihan dimensi profil eelemen struktur.Dalam desain struktur, perlu dialkukan analisis untuk meminimalisasi biaya yang dikeluarkan oleh pemilik bangunan.. Umumnya digunakan material beton bertulang sebagai bahan utama, namun pada penelitian ini akan dikaji material baja sebagai bahan utama dan dilakukan perbandingan terhadap kedua material tersebut. Hal ini sangat dibutuhkan dalam perencanaan untuk memperoleh pembiayaan yang paling optimal dan efisien dengan kekuatan struktur yang sama. Metode yang digunakan pada penelitian ini metode elemen hingga dengan bantuan program SAP 2000.  Hasil penelitian yang diperoleh berupa dimensi profil baja dan beton yang telah sesuai dengan batas kekuatan dan stabilitas struktur serta biaya dari masing masing elemen struktur tersebut. Terdapat perbedaan biaya yang cukup signifikan antara struktur beton bertulang dan struktur baja .Hal ini disebabkan karena  berat sendiri material material baja lebih berat dari beton serta harga satuan  struktur baja lebih mahal dari struktur beton. Pada kajian ini harga baja pada elemen kolom terpaut 15.17% lebih mahal dari elemen beton bertulang. Sedangkan pada elemen balok  terdapat selisih  62.16% lebih mahal struktur baja dibandingkan struktur beton

    PENGARUH PENGGUNAAN AIR SUHU EKSTRIM SEBAGAI BAHAN PEMBENTUK BETON YANG DITAMBAHKAN ADMIXTURES TERHADAP KUAT TEKAN BETON

    Get PDF
    Abstrak Perubahan iklim sebagai pemicu pemanasan global merupakan fenomena yang sudah terjadi selama beberapa dasawarsa terakhir. Penggunaan beton sebagai material konstruksi terus meningkat, hampir 60% infrastruktur ketekniksipilan di dunia dibangun menggunakan beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan air bersuhu ekstrim sebagai bahan campuran beton yang ditambahkan admixtures, yaitu accelerator (Sika Cim) dan retarder (Plastiment RTD-01) terhadap kuat tekan beton untuk menghasilkan beton dengan mutu optimal. Air yang digunakan adalah air panas (100ËšC), air dingin (10ËšC), dan air suhu normal (23ËšC). Persentase accelerator dan retarder yang dipakai adalah 0%; 0,25%; 0,50% dan 0,75% dari berat semen dengan faktor air semen (FAS) 0,35; 0,40 dan 0,45. Benda uji silinder standar 15/30 cm berjumlah 135 buah dibuat berdasarkan variasi FAS dan persentase admixtures, masing-masing perlakuan 5 benda uji pada umur pengujian 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan beton dengan campuran air suhu ekstrim yang ditambahkan accelerator dan retarder dapat mempengaruhi kuat tekan beton bila dibandingkan dengan beton tanpa menggunakan admixtures. Kuat tekan beton untuk campuran air dingin mengalami peningkatan tertinggi pada FAS 0,35; 0,40 dan 0,45 pada penambahan accelerator 0,25% sebesar 0,119%; 1,226% dan 2,314% dibandingkan campuran air suhu normal tanpa accelerator; sedangkan untuk campuran air panas mengalami peningkatan kuat tekan tertinggi pada FAS 0,35; 0,40 dan 0,45 dengan penambahan retarder 0,25% sebesar 10,345%; 16,076% dan 23,471% bila dibandingkan dengan campuran air suhu normal tanpa penambahan retarder. Analisis varian menunjukkan bahwa penggunaan air suhu ekstrim dengan penambahan admixture mempunyai pengaruh signifikan terhadap kuat tekan beton pada setiap persentase admixtures dengan nilai optimum dicapai pada persentase 0,25%. Kata kunci: Kuat tekan beton, air suhu ekstrim, admixtures, accelerator, retarder Abstract Climate change as a trigger for global warming is a phenomenon that has been occurring in recent decades. The use of concrete as a construction material has been increasing, almost 60% of the world\u27s civil-engineering infrastructures are made of concrete. The aim of this study is to find out the effect of extreme water temperature as mixing water in concrete which is added by admixtures, i.e., accelerator (SikaCim) and retarder (Plastiment RTD-01) on concrete compressive strength and to obtain its optimum value. Water used was hot water (100°C), cold water (10°C), and normal temperature water (23°C). Accelerator and retarder used were 0%; 0.25%; 0.50% and 0.75% by cement weight with w/c-ratio 0.35; 0.40; and 0.45. The specimens were a standard 15/30 cylinder totaling 135 specimens based on variation of w/c-ratio and percentage of admixtures, each variation has 5 specimens and was tested at 28 days. The results showed that extreme water temperature in concrete using accelerator and retarder affected concrete compressive strength compared to normal concrete without admixtures. The highest increase of compressive strength using both cold water and hot water of w/c-ratio 0.35; 0.40; and 0.45 were at 0.25% of admixtures. They were 0.119%; 1.226% and 2.314% for cold water respectively compared to normal mixing water temperature without accelerator, while for hot water were 10.345%; 16.076% and 23.471% respectively compared to normal mixing water temperature without retarder. Varian analysis showed that extreme temperature of concrete mixed water using admixtures has a significant effect of concrete compressive strength at each percentage admixtures with the optimum value reached at 0.25%. Keywords: concrete compressive strength, extreme water temperature, admixtures, accelerator, retarde

    EVALUASI TINGGI EMBANKMENT JALAN PADA TANAH LUNAK DIPERKUAT GEOTEXTILE DAN FONDASI CERUCUK

    Get PDF
    Abstrak Kalimantan memiliki daratan rendah tanah lunak mencapai kedalaman 25 m. Tanah lunak memiliki kapasitas dukung rendah dan deformasi besar untuk menopang beban-beban. Infrastruktur seperti embankment untuk konstruksi jalan di atas tanah dasar lunak, biasanya direncanakan dengan suatu tinggi rencana, meskipun embankment untuk konstruksi jalan sering runtuh akibat lemahnya kekakukan tanah dasar tersebut. Ada beberapa pedoman teknik telah dipublikasikan bagaimana cara membangun embankment di atas tanah lunak, tetapi pedoman tersebut hanya menunjukkan prosedur kerja konstruksi, di mana ujung pangkal fondasi cerucuk seperti kayu atau bambu adalah diikat dengan cara konvensional. Konstruksi embankment harus memenuhi untuk kriteria stabilitas dan penurunan. Penelitian ini untuk pemenuhan persyaratan stabilitas seperti faktor keamanan embankment dihubungkan dengan kapasitas dukung tanah lunak dengan perkuatan untuk mengevaluasi tinggi embankment disediakan dengan beberapa formula empiris berdasarkan aturan geoteknik. Hasil simulasi perhitungan diperoleh tinggi embankment kritis Hcr sebesar 1,06 m untuk kohesi tanah cu sebesar 11,5 kN/m2 dan Hcr sebesar 1,70~1,73 m untuk kohesi cu sebesar 17,5 kN/m2 dengan fondasi cerucuk berjarak s sebesar 10D. Variasi susunan cerucuk berjarak s of 3,3D memberikan nilai signifikan kapasitas dukung batas dan konstruksi embankment lebih tinggi, hal ini adalah tidak memberikan nilai signifikan oleh indeks plastisitas tanah. Kata kunci: tinggi embankment, tanah lunak, geotextile, fondasi cerucuk  Abstract Kalimantan island has lowlands of soft soil in down depth 25 m. The soft soil has low bearing capacity and large deformation to support loads. Infrastructure such as embankment for road construction on the soft soil, it is usually planned by a height target. However, the embankment for road construction is often collapsed due to weak stiffness of soil subgrade. Therefore, the local government has been used geotextile and installed timber pile for reinforcing the soft soil.  There are several technique guidelines published how to build embankment on soft soil, but that guidelines are only shown the prosedure for working the construction. The soft soil installed timber pile perior to lay geotextile and construct an embankment. Where the top of cerucuk foundation such as timber or bamboo is tied by conventional system. The embankment construction have to satisfy for stability and settlement criteria. In this research, the stability requirement such as factor of safety of embankment is conducted by bearing capacity of soft soil with reinforcement to evaluated a critical height of its embankment, which is provided by several empirical formula based on rule of geotechnics. The simulation results were obtained critical height of embankmentt Hcr of 1,06 m for soil cohesion cu of 11,5 kN/m2 and Hcr of1,70 ~ 1,73 m for cohesion cu of 17,5 kN/m2 with cerucuk foundation on spacing s of 10D. Variation of rearrange of cerucuk spacing s of 3,3D are given significant values of ultimate bearing capacities, and more heighly of embankment construction, it is not given a significant value by plasticity index of soil. Keywords: Embankment height, soft soil, geotextile, cerucuk foundatio

    IMPLEMENTASI MANAJEMEN FASILITAS KONSTRUKSI SEMENTARA PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT EDELWEISS DI KOTA BANDUNG

    Get PDF
    AbstrakKeberadaan fasilitas sementara yang dapat berkontribusi pada keberhasilan proyek konstruksi sering diabaikan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya standar dan pedoman yang mengatur secara khusus tentang fasilitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen fasilitas sementara pada proyek pembangunan rumah sakit (RS) Edelweiss di Bandung, termasuk mengidentifikasi ukuran dan spesifikasi serta memperkirakan biaya total fasilitas sementara. Data penelitian diperoleh melalui wawancara tidak terstruktur, observasi dan pengukuran di lapangan, serta studi dokumentasi. Kombinasi analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan untuk memeriksa secara rinci manajemen fasilitas sementara di proyek ini. Estimasi biaya dilakukan untuk merumuskan biaya fasilitas sementara yang telah dan perlu disediakan oleh kontraktor. Selanjutnya, perbandingan estimasi biaya menggunakan harga penawaran kontraktor dan analisis harga satuan dari standar pemerintah juga dilakukan untuk menentukan perbedaan antara keduanya sebagai referensi penggunaan di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen fasilitas sementara di konstruksi RS Edelweiss masih belum efektif. Penambahan yang signifikan dalam biaya fasilitas sementara hingga 295,23% disebabkan karena perencanaan yang belum memadai, serta perbedaan koefisien material dan pekerja, pemilihan material, besaran upah tenaga kerja, dan harga material yang digunakan dalam perhitungan. Kata kunci: fasilitas sementara, anggaran biaya, spesifikasi, standar ukuran  AbstractThe existence of temporary construction facilities that could contribute to the success of construction projects is often neglected in Indonesia. It is indicated by the absence of standards and guidelines that govern, specifically these facilities. This research aims to analyze the implementation of temporary facility management in the construction of Edelweiss hospital in Bandung. This includes identifying the size and specification and estimating the costs of temporary facilities. Data obtained through unstructured interviews, site observations and measurements, as well as documentation studies. Mixed method analysis was used to examine in detail the conditions related to on-site temporary facility management. Cost estimation was carried out to formulate the costs that have been and need to be provided by the contractor. Furthermore, a comparison of cost estimation using contractor bid prices and unit price analysis from the government standard was also conducted to determine the difference between the two as a reference for future use. The results show that the implementation of temporary facility management in Edelweiss hospital construction was still ineffective. The significant increase in the cost up to 295.23% was due to inadequate planning, and differences in material and worker coefficients, material selection, labor wage rates, and material prices used in the calculation. Keywords: temporary construction facility, cost budget, specification, standard size Sustainability     Department of Civil Engineering     Laurencia

    PENGGUNAKAN OKUPANSI DAN KOMPOSISI KENDARAAN UNTUK MENENTUKAN EKIVALENSI MOBIL PENUMPANG (EMP) PADA LALU LINTAS CAMPURAN DI BUNDARAN EMPAT LENGAN

    Get PDF
    Simpang adalah wilayah bertemunya ruas jalan yang membentuk sedikitnya tiga lengan. Peran simpang terhadap suatu jaringan jalan sangat penting karena simpang berfungsi untuk mendistribusikan arus kendaraan yang bertemu. Komposisi kendaraan yang melalui simpang umumnya bervariasi, masing-masing jenis kendaraan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap lalu lintas. Oleh karena itu dibuatlah suatu faktor konversi dari suatu kendaraan ke kendaraan acuan, dalam hal ini kendaraan ringan (mobil penumpang), yang dinamakan dengan Ekivalensi Mobil Penumpang (EMP). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai EMP berdasarkan kondisi setempat. Penelitian dilakukan di Bundaran Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Lokasi Bundaran Lambaro yang dilintasi jalan nasional penghubung Banda Aceh dan Medan merupakan daerah yang strategis dalam menopang perekonomian, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang analisis EMP di Bundaran Lambaro. Metode perhitungan EMP yang digunakan adalah metode waktu okupansi kendaraan dan komposisi kendaraan. Tujuan menggunakan ke dua metode ini adalah untuk membandingkan nilai hasil dari EMP yang didapatkan dari ke dua metode. Data primer yang diperlukan pada penelitian ini adalah kondisi geometrik simpang, kecepatan setempat yang didapat dengan speed gun, dan waktu okupansi kendaraan dan komposisi kendaraan yang diperoleh melalui ektrak video rekaman drone. Nilai EMP yang diperoleh dari menggunakan metode waktu okupansi dari penelitian ini adalah 0,16 untuk sepeda motor (MC), 0,59 untuk becak motor (RS), 1,07 untuk mobil pick-up, 1,91 untuk kendaraan sedang (MV), dan 3,76 untuk kendaraan berat (HV) sedangkan untuk metode regresi linier adalah 0,20 untuk sepeda motor (MC) dan 2,18 untuk kendaraan berat (HV)

    ANALISIS FAKTOR KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI PALING DOMINAN DI KABUPATEN ACEH UTARA

    Get PDF
    AbstrakKinerja suatu proyek tidak akan berjalan dengan baik jika pengawasan dan pengendalian tidak dijalankan, maka akan mengakibatkan terjadinya keterlambatan dalam proses penyelesaian suatu proyek. Keterlambatan pekerjaan proyek memiliki berbagai macam penyebab baik yang diakibatkan oleh kelalaian yang dilakukan oleh manusia hingga keterlambatan yang terjadi akibat faktor alam. Keterlambatan pelaksanaan akan mengakibatkan berbagai permasalahan baru dalam proses pekerjaan proyek, termaksud dari segi meningkatnya biaya pelaksanaan  proyek. Tujuan pada penelitian ini adalah menganalisis mengenai faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan proyek konstruksi serta mengetahui pengaruhnya terhadap biaya diwilayah Aceh Utara. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui teknik observasi dengan cara menyebarkan kuesioner kepada para pihak kontraktor kontruksiyang terdaftar pada Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Berdasarkan data LPJK pada tahun 2018 jumlah kontraktor yang berdomisili diKabupaten Aceh Utara sebanyak 83 kontraktor yang berkualifikasi K3, M1, M2, B1, dan B2. Maka dikarenakan populasi kurang dari 100, oleh kerna itu adapun sampel/responden yang diambil dalam penelitian ini semua populasi, yaitu sebanyak 83 perusahaan kontraktor yang berdomisili diKabupaten Aceh Utara. Variabel didalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel bebas/variabel X adalah Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek, dan variabel terikat/variabel Y adalah Biaya Proyek. Hasil dari penelitian ini berdasarkan persepsi responden faktor yang paling dominan penyebab terjadinya keterlambatan proyek konstruksi diKabupaten Aceh Utara adalah disebabkan oleh faktor pelaksanaan dan hubungan kerja.Kata Kunci : Keterlambatan, proyek konstruksi, pengaruh biaya AbstractThe performance of a project will not work well if supervision and control are not carried out, then delays will be made in the process of completing a project. Delay in project work has a variety of good causes caused by negligence carried out by humans to delay that occur due to natural factors. Delay in implementation will discuss new problems in the project work process, terms that are intended as part of the agreement on the cost of implementing the project. The purpose of this study was to analyze the factors that caused the delay in the implementation of the project and to study the effects on costs realized in North Aceh. This research method used quantitative and qualitative methods through observation methods by asking questions to the parties that contribute to the Construction Services Development Institute (LPJK). Based on data from LPJK in 2018 the number of contractors domiciled in North Aceh Regency were 83 contractors who qualified K3, M1, M2, B1 and B2. Thus the population is less than 100, by Kerna, while the sample / respondent taken in this study were all populations, namely 83 contracting companies domiciled in North Aceh Regency. The variables in this study consist of 2 variables, namely the independent variable / variable X was the causes of Project Delay, and the required variable / Y variable was the Project Cost. The results of this study based on respondents\u27 perceptions of the most dominant factors causing delays in construction projects in North Aceh Regency were caused by implementation factors and work relations.Keywords: Delay, construction project, cost effect

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇