Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
PENURUNAN PELAYANAN JALAN AKIBAT DISINTEGRATION, UTILITY CUT DEPRESSION, BLEEDING, DAN POLISHED AGGREGATE PADA PERKERASAN LENTUR
Umur pelayanan jalan sangat ditentukan oleh kondisi permukaan perkerasan didasari pada profil permukaan yang diukur dengan hasil indek permukaannya. Indek permukaan diperkenalkan oleh AASHTO berdasarkan pengamatan kondisi perkerasan berupa retakan, distorsi, cacat permukaan, lubang dan tambalan. Konstruksi jalan yang rata, kuat dan terpelihara akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi transportasi dan perkembangan ekonomi. Tujuan penelitian untuk mengetahui penurunan pelayanan jalan akibat cacat permukaan, penurunan pada bekas penanaman utilitas, kegemukan dan pengausan di jalan dengan menggunakan metode indek kondisi perkerasan. Penelitian berdasarkan kerusakan disintegration, utility cut depression, bleeding dan polished aggregate. Total nilai indek dari kerusakan-kerusakan akan dikurangi 100% yang berati sisa pelayanan jalan. Asumsi tingkat kerusakan setiap jenis kerusakan adalah berat. Menggunakan kurva yang disiapkan PCI dapat diketahui besarnya penurunan indek permukaan. Kerusakan jenis disintegration yang berupa stripping dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturut-turut sebesar 91, 89, dan 85, ravelling dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturut-turut sebesar 91, 89, dan 85, serta potholes dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturutturut sebesar 85, 78, dan 75. Kerusakan jenis utility cut depression dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturut-turut sebesar 84, 83, dan 82. Kerusakan jenis bleeding dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturut-turut sebesar 98, 96, dan 84. Kerusakan jenis polished aggregate dengan luas kerusakan 30%, 60% dan 90% menghasilkan nilai PCI berturut-turut sebesar 99, 98, dan 97.Kata-kata kunci: Pelayanan, Kondisi Permukaan Jala
LIMBAH KACA SEBAGAI PENGANTI SEBAGIAN AGREGAT HALUS UNTUK BETON RAMAH LINGKUNGAN
Abstrak Limbah kaca menyebabkan masalah lingkungan yang kronis karena sangat sulit terurai di dalam tanah. Kaca banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari melalui produk manufaktur seperti kaca lembaran, botol, dan barang pecah belah. Kaca adalah bahan yang berpotensi besar untuk didaur ulang. Penggunaan kaca daur ulang membantu dalam penghematan energi dan perbaikan lingkungan. Meningkatnya kesadaran akan daur ulang kaca mempercepat perubahan penggunaan limbah kaca dengan bentuk berbeda di berbagai bidang. Salah satu kontribusinya yang signifikan adalah pada bidang konstruksi dimana limbah kaca digunakan kembali untuk produksi beton. Sifat-sifat beton yang mengandung limbah kaca sebagai agregat halus diteliti dalam penelitian ini. Limbah kaca digunakan sebagai pengganti sebagian agregat halus pada campuran beton 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Kuat tekan beton umur 3, 7, 14, 21 dan 28 hari dibandingkan dengan beton yang dibuat dengan agregat halus alami (beton normal). Hasil tersebut membuktikan bahwa kekuatan tertinggi diberikan oleh limbah debu kaca setelah 28 hari. Kuat tekan benda uji dengan variasi limbah kaca 20% dan 40% memiliki kuat tekan melebihi dari kuat tekan rencana (24,95Mpa), masing-masing 26,290Mpa dan 25,602 Mpa atau melebihi 5,4% dan 2,6%. Jika dibandingkan dengan kuat tekan rata-rata beton dan beton karakteristik beton normal, semua variasi limbah kaca mengalami penurunan. Di masa depan, penggunaan limbah kaca dalam beton ramah lingkungan akan memberikan dampak yang baik untuk konservasi sumber daya alam. Kata kunci: Kaca, beton, kuat tekan, ramah lingkungan. AbstractGlass waste causes chronic environmental problems because it is very difficult to decompose in the soil. Glass is widely used in everyday life through manufactured products such as flat glass, bottles and glassware. Glass is a material with great potential for recycling. The use of recycled glass helps in saving energy and improving the environment. Increasing awareness of glass recycling is accelerating the change in the use of different forms of glass waste in various fields. One of its significant contributions is in the construction sector where glass waste is reused for concrete production. The properties of concrete containing glass waste as fine aggregate were investigated in this study. Glass waste is used as a partial replacement for fine aggregate in 20%, 40%, 60%, 80% and 100% concrete mixtures. The compressive strength of concrete aged 3, 7, 14, 21 and 28 days was compared with concrete made with natural fine aggregate (normal concrete). These results prove that the highest strength is given by the waste glass dust after 28 days. The compressive strength of the test specimens with variations of glass waste of 20% and 40% had compressive strength exceeding the design compressive strength (24.95MPa), respectively 26.290MPa and 25.602MPa or exceeding 5.4% and 2.6%. When compared with the average compressive strength of normal concrete and compressive strength of normal concrete characteristics, all variations of glass waste have decreased. In the future, the use of glass waste in environmentally friendly concrete will have a good impact on the conservation of natural resources. Keywords: Glass, concrete, compressive strength, environmentally friendly
ANALISIS ALTERNATIF DALAM MERANCANG BALOK TINGGI MENGGUNAKAN STRUT AND TIE MODEL
Abstrak Perencanaan struktur beton biasanya dilakukan dengan berdasarkan asumsi dari Bernoulli dan Navier untuk menganalisis penampang akibat momen lentur. Distribusi regangan dianggap linier dan ini dianggap masih berlaku meskipun penampang telah retak. Balok tinggi merupakan salah satu contoh kasus pada suatu elemen struktur yang dapat mengakibatkan terjadinya distribusi tegangan non linier, sehingga asumsi diatas tidak berlaku. Balok dikatakan balok tinggi apabila rasio bentang terhadap tingginya lebih kecil dari lima. Salah satu alternatif pendekatan untuk mengatasi elemen struktur seperti balok tinggi adalah menggunakan pendekatan Strut and Tie Model, yaitu dengan membagi struktur dalam daerah B (Bernoulli) dan D (Disturb) dan menggambarkan alur gaya (load path) sebagai transfer gaya yang terjadi pada struktur beton bertulang pada kondisi retak akibat pembebanannya. Parameter-parameter dari Strut and Tie Model yaitu batang tekan (strut), batang tarik (tie) dan titik nodal (nodal zone) sebagai daerah pertemuan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menganalisis alternatif perencanaan/desain tulangan struktur balok tinggi beton bertulang diatas dua tumpuan sederhana akibat beban merata yang dikonversi menggunakan beban terpusat 2 titik pembebanan.Metode yang digunakan adalah Strut and Tie Model yang akan menghasilkan luas tulangan longitudinal yang lebih kecil dengan selisih 25%, di mana dengan luas tulangan yang lebih kecil dari segi kekuatan masih memenuhi syarat. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan perencanaan balok tinggi tanpa bearing plate dengan menggunakan metode Strut and Tie Model pun dapat lebih optimum/efisien. Kata kunci: Prinsip Bernoulli, Strut and Tie Model, D - Region, B - Region Abstract Concrete structure planning is usually carried out based on the assumptions of Bernoulli and Navier to analyze the section due to bending moments. The strain distribution is considered linear and it is considered still valid even after the section has cracked. The deep beam is one example of a structural element that can result in a non-linear stress distribution, so the above assumption does not apply. A beam is said to be a deep beam if the span to height ratio is less than five. One alternative approach to dealing with structural elements such as deep beams is to use the Strut and Tie Model approach, namely by dividing the structure into areas B (Bernoulli) and D (Disturb) and describing the load path as a force transfer that occurs in the concrete structure. Reinforced in cracked conditions due to loading. The parameters of the Strut and Tie Model are the strut, tie, and nodal zone as the meeting area. The purpose of this paper is to analyze the alternative planning/design of reinforced concrete beams structure on two simple supports due to evenlydistributed loads that are converted using the two-point load centered load. The method used is the Strut and Tie Model which will produce a smaller area of longitudinal reinforcement with a difference of 25%, where the area of reinforcement is smaller in terms of strength still meets the requirements. This shows that the calculation of deep beam planning without bearing plate using the strut and tie model method can be more optimal/efficient. Keywords: Bernoullis Principle, Strut and Tie Model, D - Region, B - Regio
TEGANGAN DAN REGANGAN DINAMIS PERKERASAN SEMI FLEKSIBEL DENGAN MODIFIKASI REOLOGI ASPAL DAN SUBSTITUSI ZIOLIT PADA SEMEN MORTAR
Abstrak Ketahanan struktur perkerasan akibat timbulnya tegangan dan regangan menyebabkan retak awal saat terjadinya deformasi permanent sehingga kegagalan perkerasan akibat kelelahan umur tidak dihindarkan. Fenomena tersebut dapat dikurangi dengan perkerasan yang memiliki cukup kekakuan, kelenturan. Modifikasi material dilakukan untuk meningkatkan nilai kekakuan dan kelenturan campuran dengan menggunakan jenis campuran,gradasi, dan modifikasi aspal yang tepat sebagai usaha pengembangan campuran perkerasan beraspal. Tujuan dari penelitian ini mempelajari tegangan dan regangan tarik campuran PSF terhadap beban berulang dengan tambahan WTR dan menggunakan ziolit alam sebagai pengganti sebagian semen untuk mortar yang dinjeksi ke dalam rongga aspal porous. Desain campuran aspal berpori dimulai dengan penentuan proporsi aspal optimal dengan agregat bergradasi terbuka sebagaimana ditentukan dalam sepesifikasi (AAPA) 2004. Uji Marshall dilakukan untuk mengetahui spesifikasi yang disyaratkan dan dilanjutkan dengan uji specimen yang telah diinjeksi mortar semen dengan pengujian lentur metode pembebanan empat titik untuk evaluasi tegangan dan regangan tarik. Nilai tegangan dan regangan dinamis dianalisis pada setiap variasi ziolit dalam mortar semen. Substitusi ziolit alam pada semen mortar dapat mempengaruhi tegangan dan regangan dinamis campuran PSF, di mana semakin besar komposisi ziolit dalam semen mortar nilai tegangan dan regangan yang dihasilkan semakin tinggi. Kata kunci: perkerasan semi-fleksibel, ziolit alam, reologi aspal, tegangan dan regangan, beban dinamis Abstract The resistance of the pavement structure due to the consequence of stress and strain causes the initial reset when the occurrence of permanent deformation so that pavement failure due to age is avoided. This phenomenon can be reduced by a pavement that has sufficient stiffness and flexibility. Material modification is carried out to increase the value of the stiffness and flexibility of the mixture by using the right type of mixture, gradation, and asphalt modification as an effort to develop an asphalt pavement mixture. The purpose of this study was to study the stress and tensile strain of the semi-flexible pavement (SFP) mixture against repeated loads with the addition of rubber tire waste (WTR) and to use natural zeolite as a part of cement for mortar injected into the porous asphalt cavity. The design of a porous asphalt mixture begins with the determination of the optimal proportion of asphalt with an open grade aggregate specified in the Asphalt Pavement Association Australia (AAPA) 2004.Marshall test is carried out to see the required specifications and test specimens that have been injected with cement with a four-point loading bending method test for stress evaluation and tensile strain. The values of dynamic stress and strain were analyzed for each variation of ziolite in cement mortar. Substitution of natural ziolite in cement mortar can affect the dynamic stress and strain of the PSF mixture, where the greater the ziolite composition in cement mortar, the higher the resulting stress and strain. Keywords: Pavement semi-flexible, natural zeolite, asphalt rheology, dynamic stress and strain
ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DALAM KONTRAK KERJA KONSTRUKSI
Industri konstruksi adalah industri yang kompleks dan sulit untuk dikendalikan. Kompleks karena berhimpunnya berbagai jenis elemen konstruksi yang menuntut interaksi dari berbagai jenis keahlian dan para pihak yang terlibat di dalamnya. Sulit untuk dikendalikan karena dilaksanakan di alam terbuka yang rentan sekali dipengaruhi oleh cuaca. Halhal tersebut jika tidak disikapi dengan baik sejak dari fase awal pelaksanaan konstruksi melalui penyusunan dokumen kontrak kerja konstruksi dan manajemen pelaksanaan kontrak kerja konstruksi yang baik, dapat berpotensi menimbulkan klaim dari satu pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain. Klaim ini jika tidak segera diselesaikan berpotensi menimbulkan perselisihan (dispute). Meskipun dispute bukanlah sesuatu yang diharapkan dalam proses pelaksanaan konstruksi, namun seringkali harus dihadapi dan diatasi bersama oleh para pihak yang terlibat. Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan dispute adalah: negosiasi, mediasi, arbitrasi dan litigasi. Kata kunci: klaim, dispute, alternatif penyelesaian sengketa (APS
PENGARUH CAMPURAN ABU SABUT KELAPA PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP NILAI CBR TERENDAM (SOAKED) DAN CBR TIDAK TERENDAM (UNSOAKED)
AbstrakLempung adalah terdiri dari butiran-butiran sangat kecil dan menunjukkan sifat plastisitas dan kohesif. Pada penelitian ini digunakan abu sabut kelapa untuk perbaikan tanah lempung didesa Cot Girek Kandang yang berdaya dukung rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai CBR terendam (soaked) dan CBR tak terendam (unsoaked) dengan variasi campuran 5%, 10%, dan 15% abu sabut kelapa. Tanah di desa cot girek kandang termasuk tanah lempung berpasir. Berat volume 1,60gram/cm3 dan kadar air optimum 28%. Pada pengujian CBR terendam tanah asli didapat nilai 5,0% sedangkan setelah dicampur 5% abu sabut kelapa didapat nilai 16,67%, pada 10% campuran di dapat nilai 8,0%,dan pada 15% campuran di dapat 6,33%. Pada pengujian CBR tidak terendam tanah asli didapat nilai 6,0% sedangkan setelah dicampur 5% abu sabut kelapa didapat nilai 23,33%, pada 10% campuran di dapat nilai 14,73%, dan pada 15% campuran di dapat nilai 7,2%. Maka dari itu dapat dipakai campuran 5% abu sabut kelapa karena dapat meningkatkan nilai CBR. Kata kunci : abu sabut kelapa, CBR terendam dan CBR tak terenda
PENELUSURAN BANJIR MENGGUNAKAN METODE LEVEL POOL ROUTING PADA WADUK KOTA LHOKSEUMAWE
Kota Lhokseumawe merupakan suatu dataran rendah di pesisir utara Provinsi Aceh yang dipengaruhi kondisi pasang-surut air laut sehingga harus dijaga kekeringannya dengan membangun tanggul dan sistem drainase. Salah satu sistem yang dibangun untuk menanggulangi kondisi ini adalah dengan membangun tempat penampungan air sementara yang disebut waduk atau reservoir. Untuk mengetahui efektivitas reservoir sebagai bangunan pengendali banjir dilakukan dengan analisis penelusuran banjir menggunakan Metode Level Pool Routing. Metode ini diperlukan untuk mengetahui jumlah debit maksimum yang mampu ditampung reservoir. Dengan jumlah debit yang tertampung tersebut dapat dilakukan komparasi terhadap debit hasil analisis hidrologi menggunakan Metode Rasional. Metode ini diperlukan untuk memperoleh debit limpasan yang mengalir dari kota Lhokseumawe ke reservoir. Berdasarkan hasil analisis menggunakan Metode Level Pool Routing, didapatkan bahwa volume tampungan maksimum sebagai kapasitas reservoir adalah sebesar 1023440,987 m3 dengan jumlah debit maksimum yang ditampung oleh reservoir adalah sebesar 856,49 m3/det. Sedangkan debit limpasan dengan periode ulang 5 tahun yang dihitung menggunakan Metode Rasional adalah sebesar 42,17 m3/det. Dari hasil komparasi kedua metode tersebut dapat disimpulkan bahwa saat kondisi hujan reservoir hanya mampu menampung jumlah debit yang mengalir dari Kota Lhokseumawe selama 6,74 jam saja dengan mengasumsikan semua aliran mengalir dengan lancar.Kata Kunci: Banjir, Level Pool Routing, Reservoai
PENGARUH RENDAMAN ASAM TERHADAP KUAT TEKAN BETON DENGAN PENAMBAHAN FLY ASH
Abstrak Beton memiliki kuat tekan yang tinggi yang merupakan sifat paling utama dan mencerminkan kemampuan beton menahan beban tekan yang diberikan kepadanya, namun lingkungan asam yang mengandung unsure kimia asam akan merusak beton secara perlahan- lahan mulai dari tepi dan sudut beton dengan terjadinya pelepasan butiran-butiran partikel beton sehingga beton menjadi keropos dan mengakibatkan terjadinya penurunan kuat tekan beton. Beton dengan bahan tambah fly ash menjadi tijauan khusus untuk lingkungan asam dikarenakan permeabilitas dan porositasnya yang kecil akan mempersulit serangan asam lebih parah lagi sampai ke inti beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan beton dengan presentase penambahan butiran fly ash dengan kadar 20% terhadap berat seman, serta pengaruh lingkungan asam terhadap kuat tekan beton yang menggunakan bahan tambah fly ash. Hasil penelitian menunjukan beton normal (BN) mengalami penurunan kuat tekan yang bervariasi yaitu pada waktu 1 bulan sebesar 24,79% dan 2 bulan sebesar 30,58% dari beton normal umur 28 hari, sedangkan perlakuan air asam pada beton fly ash (BFA) juga mengalami penurunan kuat tekan pada waktu yang sama yaitu 1 bulan sebesar 2,61% dan 2 bulan sebesar 26,80% dari beton fly ash (BFA) umur 28 hari, di mana rasio penuruan pada beton fly ash lebih baik dibandingkan beton tanpa fly ash. Dengan demikian terlihat bahwa beton fly ash (BFA) lebih tahan terhadap serangan asam sulfat dibandingkan dengan Beton Normal (BN). Kata Kunci: KuatTekan, Asam Sulfat, Fly Ash Abstract Concrete has a high compressive strength which is the most important characteristic and reflects the ability of the concrete to withstand the compressive load given to it, however an acidic environment that contains acidic chemical elements will slowly damage the concrete starting from the edges and corners of the concrete by releasing the particles. concrete so that the concrete becomes porous and results in a decrease in the compressive strength of theconcrete. Concrete with fly ash added material is of particular importance for acidic environments because its small permeability and porosity will make it more difficult for acid attack to reachthe concrete core. This study aims to determine the value of the compressive strength of concrete with the percentage of adding fly ash granules with a content of 20% to the weight of the cement, as well as the effect of the acidic environment on the compressive strength of concrete using fly ash added. The results showed that normal concrete (BN) experienceda varying decrease in compressive strength, namely at 1 month of 24.79% and 2 months of 30.58% of normal concrete aged 28 days, while the treatment of acid water on fly ash concrete (BFA) also experienced a decrease in compressive strength at the same time, namely 1 month of 2.61% and 2 months of 26.80% of fly ash concrete (BFA) 28 days old. Where the reduction ratio in fly ash concrete is better than concrete without fly ash. Thus it can be seen that fly ash concrete (BFA) is more resistant to sulfuric acid attack than Normal Concrete (BN). Keywords: Compressive Strength, Sulfuric Acid, Fly As
EVALUASI KEKUMUHAN PADA KAWASAN PERUMAHAN PASAR LAMBARO KECAMATAN INGIN JAYA KABUPATEN ACEH BESAR
Abstrak Kawasan Pasar Lambaro merupakan satu-satunya kawasan kumuh yang terdapat di Kecamatan Ingin Jaya dengan luas kumuh mencapai 32,14 Ha. Dalam luasan tersebut, sebelah utara Kawasan Pasar Lambaro terdapat salah satu kawasan perumahan yang telah banyak mengalami penurunan kualitas infrastruktur dengan luas perumahan kumuh mencapai 3,9 Ha. Kawasan perumahan tersebut mempunyai ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, kualitas bangunan yang rendah, serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi persyaratan teknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kekumuhan pada kawasan perumahan Pasar Lambaro, mengidentifikasi skala prioritas penanganan kawasan perumahan kumuh di Pasar Lambaro, dan menemukan solusi penanganan kawasan perumahan kumuh di Pasar Lambaro. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis skoring (pembobotan) dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekumuhan pada kawasan perumahan Pasar Lambaro adalah termasuk dalam klasifikasi kumuh ringan dengan total nilai skor sebesar 25. Skala prioritas penanganan kawasan perumahan kumuh di Pasar Lambaro masuk dalam skala prioritas penanganan ke 3. Solusi penanganan kawasan perumahan kumuh di Pasar Lambaro dilakukan melalui pemugaran untuk lahan legal dan pemukiman kembali untuk lahan ilegal yang difokuskan pada aspek bangunan gedung, penyediaan air minum, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Kata kunci: kekumuhan, perumahan, permukiman, penanganan, infrastruktur Abstract The Lambaro Market area is the only slum area located in the District of Ingin Jaya with a slum area of 32.14 hectares. Within this area, to the north of the Lambaro Market Area, there is a housing area that has experienced a lot of deterioration in the quality of its infrastructure, with a slum housing area of up to 3.9 hectares. The residential area has building irregularities, high building density, low quality of buildings, and infrastructures that do not meet technical requirements. This study aims to evaluate the level of slum in the Pasar Lambaro housing area, identify the priority scale of handling slum housing areas in the Lambaro Market, and find solutions for handling slum housing areas in the Lambaro Market. This research uses quantitative methods through observation and interviews. The data analysis technique used a scoring analysis (weighting) and descriptive analysis. The results show that the level of slum in the Pasar Lambaro housing area is classified as a mild slum with a total score of 25. The priority scale for handling slum housing areas in Lambaro Market is included in the 3rd priority scale of handling. Through restoration for legal land and resettlement for illegal land which focuses on aspects of building, drinking water supply, waste water management, solid waste management, and fire protection. Keywords: slums, housing, settlements, handling, infrastructur
STUDI KESEIMBANGAN AIR (WATER BALANCED) DAERAH ALIRAN SUNGAI ASAHAN
Abstrak Pemanasan Global (Global Warming) telah menyebabkan perubahan iklim yang sangat ekstrem didukung dengan adanya perubahan tataguna lahan di dalam cakupan daerah aliran sungai mengakibatkan dampak yang cukup buruk terhadap kondisi keseimbangan air (Water Balanced). Daerah Aliran Sungai Asahan merupakan salah satu DAS yang memiliki peran yang penting sebagai sumber air dalam memenuhi kebutuhan air di Kabupaten Asahan. Kondisi lahan yang berubah menjadi kritis akibat adanya eksploitasi dan perubahan tataguna lahan mengakibatkan ketersediaan air berkurang dalam memenuhi kebutuhan air. Tujuan penelitian yaitu menganalisis keseimbangan air (Water Balanced) antara jumlah ketersediaan air dengan kebutuhan air di sekitar cakupan Daerah Aliran Sungai Asahan. Lingkup kegiatan penelitian yaitu menganalisis ketersediaan air atau debit andalan dengan probabilitas 90% dengan metode FJ Mock, menganalisis kebutuhan air irigasi, domestik, non domestik, dan menganalisis keseimbangan air (Water Balanced) di tiap lokasi titik pengambilan dengan prinsip pengurangan antara jumlah ketersediaan air dengan kebutuhan air di sepanjang cakupan DAS Asahan dari hulu sampai dengan hilir. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya ketersediaan air DAS Asahan paling minimum dengan probabilitas 90% yaitu 34.96 m3/det dapat memenuhi total kebutuhan air DAS Asahan baik itu irigasi, domestik, dan non domestik yaitu 13.00 m3/det. Kata kunci: Keseimbangan air, ketersediaan air, kebutuhan air, DAS Asahan Abstract Global Warming has caused extreme climate change supported by changes in land use within the watershed area resulting in quite bad impact on water balanced conditions. Asahan Watershed is one of the catchment areas which has an important role as the source to supply water requirement in the Asahan District. Land used changes become critical due to exploitation and changes in land use have reduced water availability to fill water requirement. The objective of this research to analysis water balanced between the total water availability and water requirement in the Asahan Watershed. The scopes of this research are analysis water availability or dependable flow using FJ Mock, analysis irrigation water requirement, domestic, nondomestic, and water balanced in each node with the reduction principle between total of water availability and water requirement in the Asahan Watershed from upstream to downstream. Result of this research showed that the lowest water availability Asahan Watershed with probability 90% is 56.43 m3/sec can fill the total of water irrigation, domestic, and non-domestic is 14.80 m3/sec. Keywords: Water balanced, water availability, water requirement, Asahan watershe