Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    KESIAPAN ADOPSI BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) PADA KONSULTAN PERENCANA DI KOTA PALEMBANG

    Get PDF
    Abstrak Salah satu industri yang memfokuskan pada pengembangan infrastruktur adalah industri Architecture Engineering and Construction (AEC). Penggunaan berbagai teknologi dan aplikasi Building Information Modeling (BIM) pada sektor konstruksi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan pelaku AEC khususnya konsultan perencana dalam proses adopsi BIM. Penelitian ini menggunakan survei kuesioner dengan mengumpulkan data dari 96 responden pada perusahaan konsultan di Palembang. Dari hasil analisa didapat bahwa hampir semua responden telah mengetahui istilah BIM dan tingkat kesiapan dalam mengadopsi BIM dengan nilai rata-rata sebesar 3,187 yang berarti bahwa kesiapan konsultan perencana di Kota Palembang dinyatakan cukup siap dalam mengadopsi BIM. Adapun 3 hambatan utama dalam mengadopsi BIM menurut penelitian ini yaitu tingginya biaya investasi awal; terlalu nyaman dengan budaya kerja lama; dan kurangnya pengetahuan mendalam terkait BIM, oleh karena itu penggunaan BIM pada industri konstruksi harus ditingkatkan dengan penguatan regulasi oleh pemerintah. Peranan kesadaran perusahaan dan individu di dalamnya serta ketegasan pemerintah  akan menentukan tingkat perkembangan BIM. Kata kunci: Adopsi, digitalisasi, Building Information Modeling, AEC  Abstract One of the industries focusing on infrastructure development is Architecture Engineering and Construction (AEC) industry. The use of technology and Building Information Modeling (BIM) in construction sector has been widely increased. This research aimed to identify the readiness level of design consultants on BIM adoption. This research used a questionnaire survey to collect data from 96 respondents of consultant firms in Palembang. Based on the analysis, it was found that almost all respondents were already familiar with BIM term and the level of readiness in adopting BIM had a mean average value of 3.187, indicating that the respondents were quite ready in adopting BIM. The three main barriers in adopting werethe high investment cost; being too comfortable with the conventional work culture; and lack of knowledge about BIM. Therefore, the use of BIM in the construction industry must be increased by strengthening regulations conducted by the government. The role of corporate, individual awareness and government involvement will determine the level of BIM development. Keywords: Adoption, digitalization, Building Information Modeling, AEC

    EVALUASI PERANCANGAN ANGGARAN BIAYA DAN WAKTU MENGGUNAKAN METODE BIM

    Get PDF
    Abstrak Universitas Jember yang sedang dalam masa pembangunan yang menyebabkan dibutuhkannya teknologi pendukung untuk proses yang dilakukan agar didapatkan hasil yang efisien sehingga dibutuhkan kinerja manajemen proyek yang memfasilitasi proses desain dan konstruksi yang lebih terintegrasi yaitu Building Information Modeling (BIM). Sebelumnya dikenal beberapa program bantu seperti AutoCAD, SAP, SketchUp 3D, Ms. Project dan program bantu lainnya yang penggunaannya hanya sebatas dalam satu jangkauan. Penggunaan BIM yang mengintegrasi gambar proyek, volume pekerjaan dan estimasi harga dapat mempermudah proses pengerjaan menjadi lebih singkat dan cepat. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan evaluasi antara penggunaan metode BIM dan metode konvensional pada Proyek Pembangunan Gedung Kuliah Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Program bantu BIM yang dipakai adalah Autodesk Revit yang merupakan salah satu perangkat lunak yang membawa semua arsitektur, teknik, dan disiplin konstruksi ke dalam lingkungan pemodelan terpadu. Hasil dari Penelitian ini yaitu menghasilkan selisih biaya total untuk struktur dan arsitektur yaitu Rp242.638.340,10. Biaya yang berasal dari pemodelan Autodesk Revit lebih besar 5,33 % daripada metode konvensional proyek. Dan selisih pada penjadwalan dalam pelaksanaan pada pemodelan Autodesk Revit yaitu 15 hari lebih lama daripada metode konvensional. Kata Kunci: BIM, Autodesk Revit, Rencana Anggaran Biaya, Penjadwalan Proyek Abstract Universitas Jember, during this construction period, requires supporting technology for the process to obtain efficient results so it takes a project management performance that facilitates a more integrated design and construction process, namely Building Information Modeling (BIM). Previously known several auxiliary programs such as AutoCAD, SAP, SketchUp 3D, Ms. Projects and other assistance programs restricted to a single scope. The use of BIM that integrates project designs, workload and price estimates can make the process shorter and faster. Therefore, in this study a comparison was made between the use of the BIM method and the conventional method in the Lecture Building Project for the Faculty of Nursing, Universitas Jember. The BIM assistant program used is Autodesk Revit which is a software that brings all architecture, engineering, and construction disciplines into a unified modeling environment. The results of this study showed a total cost difference in structure and architecture of IDR 242,638,340.10. On the other hand, the Autodesk Revit modeling cost was greater than the conventional method with a percentage of 5.33%. Furthermore, the difference in the Autodesk Revit modeling implementation schedule is 15 days longer than the conventional method. Keywords: BIM, Autodesk Revit, Budget-Estimate Plan, Project Schedulin

    FAKTOR SUKSES (KEY SUCCESS FACTOR) KONTRAKTOR DALAM MENGIKUTI LELANG MENGGUNAKAN SISTEM E-PROCUREMENT DI KOTA LHOKSEUMAWE

    Get PDF
    E-Procurement adalah proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang meliputi pelelangan umum secara elektronik yang diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Kesuksesan kontraktor dalam mengikuti lelang secara e-procurement di kota Lhokseumawe ditentukan oleh faktor mengembangkan potensi dan sumber daya manusia, faktor memahami peraturan dan ketentuan hukum, faktor memanfaatkan penguasaan teknologi secara optimal, faktor memiliki infrastuktur yang memadai dan faktor mengadakan pengembangan sosialisasi. Dari hasil penelitian diperoleh perhitungan Cronbach Alpha 0,74 yang berarti kuesioner bisa digunakan sebagai alat mencapai tujuan penelitian. Dengan menggunakan program SPSS versi 17.0 for window diperoleh sebesar 0,755 ini berarti faktorfaktor tersebut berpengaruh terhadap kesuksesan kontraktor mengikui lelang secara e-procurement adalah sebesar 75,5% dan diperoleh persamaan analisis regresi yaitu: Y = 1,885 + 0,470X1 - 0,204X2 + 0,398X3 - 0,002X4 - 0,019X5 + ei, di mana faktor mengembangkan potensi dan sumber daya manusia (X1) faktor memanfaatkan penguasaan teknologi secara optimal (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kesuksesan kontraktor, sedangkan faktor memahami peraturan dan ketentuan hukum (X2), faktor memiliki infrastuktur yang memadai (X4) dan faktor mengadakan pengembangan sosialisasi (X5) tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap kesuksesan kontraktor mengikui lelang secara e-procurement. Kata Kunci: E-procurement, Faktor Sukses, Signifikan

    STUDI KORELASI FAKTOR AIR SEMEN (WATER CEMENT RATIO) DENGAN KUAT TEKAN BETON STRUKTURAL

    Get PDF
    Pada dasarnya kekuatan beton terhadap tekan cenderung ditentukan oleh material yang digunakan seperti agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir kasar dan pasir halus), serta seme, Pada penelitian ini jumlah benda uji sebanyak 135 benda uji yang terdiri dari bentuk kubus bersisi 15 cm, bentuk kubus bersisi 20 cm dan bentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm ditinjau dari pengaruh faktor air semen (water cement ratio) yang selanjutnya disingkat dengan w/c ratio yang dibuat dengan 9 jenis dari w/c ratio 0,450 sampai dengan w/c ratio 0,650 masing-masing dengan range 0,050 dan diuji dengan mesin tekan dengan berbagai factor umur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan beton sangat ditentukan oleh bentuk benda uji, umur benda uji dan faktor air semen (water cement ratio) di mana diperoleh kesimpulan bahwa makin kecil w/c ratio maka makin besar kuat tekan beton yang dihasilkan.Kata kunci: Faktor Air Semen, Kuat Tekan Beton Struktura

    EVALUASI KINERJA JALAN TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN JALAN DUA JALUR

    Get PDF
    Jalan Banda Aceh-Medan Simpang Jalan Elak-Jembatan Alue Awe saat ini sangat padat arus lalulintas yang melintasi. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah pada lokasi tersebut telah didirikan beberapa gedung/bangunan penting sebagai fasilitas umum seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Rumah Sakit Umum kota Lhokseumawe, Politeknik Negeri dan pertokoan serta tempat-tempat usaha lainnya milik masyarakat. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui apakah jalan tersebut masih mampu melayani lalulintas sehubungan dengan kondisi pada lokasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode MKJI 1997. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa nilai LHR pada hari Rabu 930,71 smp/jam, hari Kamis 865 smp/jam dan hari Minggu 578,02 smp/jam. Nilai derajat kejenuhan rata-rata 0,44 dan tingkat pelayanan termasuk pada katagori C yang bermakna bahwa Sp. Jalan Elak-Jembatan Alue Awe arus lalulintasnya masih stabil dan kecepatan makin terbatas. Hasil pengamatan langsug di lapangan mendekati dengan hasil penelitian yang berarti rencana pembangunan jalan dua jalur dua arah sudak layak untuk dilaksanakan

    PENGARUH BENTUK MERCU BENDUNG TERHADAP TINGGI LONCAT AIR KOLAM OLAK MODEL USBR IV (SIMULASI LABORATORIUM)

    Get PDF
    Kolam olak Model USBR IV adalah salah satu jenis kolam olak yang sering digunakan pada sebuah bendung. Tinggi loncat air dalam kolam olakan direncanakan untuk meredam air akibat terjunan. Perhitungan perencanaan menggunakan rumus-rumus empiris yang telah lazim, dalam hal ini dipakai metodeVen Te Chow, 1989. Untuk membuktikan rumus-rumus tersebut dicoba melakukan simulasi laboratorium dalam beberapa model, debit yang berbeda, kemiringan yang berbeda. simulasi menggunakan flume yaitu  satu set model saluran terbuka dengan dinding tembus pandang yang diletakkan pada struktur rangka kaku, dasar saluran ini dapat diubah kemiringannya. Saluran ini dilengkapi pula dengan tangki pelayanan berikut dengan pompa sirkulasi air, pengukur debit, tube pitot, flow meter, mistar dan Mercu.Setelah dilakukan pengolahan data dan perhitungan maka di peroleh hasil besarnya debit, kemiringan dasar saluran dan perbedaan bentuk mercu mempengaruh tinggi loncat air. Semakin besar debit yang dipakai maka semakin tinggi pula loncat air yang dihasilkannya.Tinggi loncat air pada mercu bulat lebih tinggi dari pada tinggi loncat air pada mercu ambang lebar.Pada perbandingan tinggi loncat air diatas kolam olak pada mercu ambang lebar lebih tinggi dari pada mercu bulat pada debit dan kemiringan yang sama.

    ANALISIS INVESTASI KAWASAN HIJAU PERUMAHAN BERDASARKAN GREENSHIP NEIGHBORHOOD V.1.0 (STUDI KASUS ISTANA KALIWATES REGENCY)

    No full text
    Abstrak Kawasan perumahan merupakan solusi untuk menciptakan pemukiman yang lebih tertata di wilayah kota dan sekitarnya, namun memiliki tantangan berupa penggunaan energi dan air yang besar, pengelolaan kawasan, dan penyediaan fasilitas untuk penghuninya. Kawasan hijau dapat menjadi solusi untuk menjadikan kawasan perumahan berkelanjutan yang ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan energi, dan memberi kemudahan bagi penghuninya. Penilaian yang digunakan pada penelitian ini yaitu penilaian kawasan hijau yang didasarkan pada perangkat penilaian Greenship Neighborhood V.1.0 oleh GBCI. Perencanaan pekerjaan peningkatan kawasan hijau dan penyusunan cash flow dilakukan setelah melakukan penilaian kawasan. Cash flow digunakan untuk melakukan analisis investasi yang menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Break Even Point (BEP), Payback Period (PBP), dan Profit Ability Index (PI). Hasil dari penelitian menunjukkan Net Present Value sebesar Rp12.917.114.905,- Internal Rate of Return sebesar 28,34%, dan Profit Ability Index menunjukkan angka 1,592. Pengembalian modal yang dibutuhkan untuk mencapai Break Even Point adalah sebesar Rp73.184.818.841,-  dengan penjualan minimum 68 unit rumah tipe 43/72, 74 unit rumah tipe 45/72, 19 unit rumah tipe 90/120, dan 5 unit ruko sedangkan Payback Period menunjukkan pengembalian dalam waktu 2 tahun. Kata kunci: kawasan hijau, analisis investasi, perumahan   Abstract A residential area is a solution for creating organized settlements in the city, but have problems of large amounts of energy and water usage, area management, and facilities provided for its inhabitants. Green areas can be a solution to make sustainable residential areas that are environmentally friendly, energy-efficient, and provide convenience for their inhabitants. The assessment used in this study is the Greenship Neighborhood V.1.0 assessment tool by GBCI.  Green area improvement and cash flow are created after conducting the green area assessment. Cash flow is used to conduct investment analysis using methods of the Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Break-Even Point (BEP), Payback Period (PBP), and Profit Ability Index (PI). The results of the study showed that the Net Present Value of Rp12,917,114,905, - the Internal Rate of Return of 28.34%, and the Profit Ability Index showed an index number of 1.592. The return on the capital needed to achieve the Break-Even Point is Rp73,184,818,841, with a minimum sales of 68 housing units of type 43/72, 74 housing units of type 45/72, 19 housing units of type 90/120, and 5 units of shophouses while Payback Period shows returns within 2 years. Keywords: green area, investmen analysis, housin

    PERENCANAAN JARINGAN PERPIPAAN AIR MINUM MENGGUNAKAN APLIKASI WATERCAD V8-I

    Get PDF
    Abstrak Pelayanan kebutuhan air di wilayah IKK Bukit Oregon kurang memadai diduga jaringan pipa menjadi pokok masalahnya sehingga berdasar hal tersebut maka diperlukan evaluasi jaringan perpipaan air minum dan design dibuat dengan menggunakan software Aplikasi Watercad V8-I dan ingin diketahui seberapa besar kebutuhan debit pada proyeksi tahun 2030 termasuk kapasitas pompa dan jenis pipa transmisinya. Hasil pengamatan secara langsung di wilayah studi pada pelayanan terdapat permasalahan yang terjadi pada pipa transmisi, yaitu pipa dari intake (sumber air baku utama) menuju ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang akan di distribusikan ke masyarakat. Permasalahan yang terjadi adalah pipa induk tersebut mengalami kebocoran akibat umur teknis pipa yang sudah tua. Meningkatnya jumlah penduduk sama halnya semakin meningkatnya pemenuhan akan kebutuhan air bersih. Permasalahan tersebut harus ditanggulangi dengan pergantian pipa dengan jenis dan diameter yang tepat serta kapasitas pompa yang sesuai hasil menggunakan software Watercad V8-i. Dari hasil perhitungan analisa pertumbuhan penduduk pada tahun 2030 dengan jumlah pelanggan 96.770 jiwa kebutuhan air mencapai 102,476 liter/detik. Sistem transmisi menggunakan sistem pompa dengan kapasitas terpasang 90 liter/detik. Jenis pipa yang dipakai untuk pipa transmisi menggunakan pipa HDPE dengan diameter 350 mm. Kata kunci: evaluasi, air bersih, perpipaan, pompa, Watercad V8-i   Abstract The service for water needs in the IKK Bukit Oregon area is inadequate, it is suspected that the pipeline network is the main problem, so based on this, it is necessary to evaluate the drinking water piping network and the design is made using the Watercad V8-I application software and wants to know how much the demand for discharge in the 2030 projection includes pump capacity and type of transmission pipe. The results of direct observations in the study area on the service there are problems that occur in the transmission pipe, namely the pipe from the intake (main raw water source) to the Water Treatment Plant (IPA) which will be distributed to the community. The problem that occurs is that the main pipe has a leak due to the technical age of the pipe which is old. The increasing population is the same as the increasing fulfillment of clean water needs. These problems must be overcome by changing the pipe with the right type and diameter and the pump capacity according to the results using the Watercad V8-i software. From the calculation results of population growth analysis in 2030 with the number of customers 96,770 people, water needs reach 102,476 liters/second. The transmission system uses a pump system with an installed capacity of 90 liters/second. The type of pipe used for the transmission pipe uses HDPE pipe with a diameter of 350 mm. Keywords: evaluation, clean water, piping, pump, Watercad V8-i

    PERILAKU DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG

    Get PDF
    Abstrak Efek utama dari deformasi adalah hilangnya freeboard, kerusakan struktur bangunan pelengkap yang terletak di atas bendungan, retakan pada bendungan urugan (paling merugikan pada impervious core), terbentuknya suatu zona yang mengarah pada hidrolik fracturing, dan kegagalan instrumentasi. Bendungan Jatibarang merupakan bendungan urugan batu zonal inti tegak dengan inti clay. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku deformasi pada berbagai tahapan saat konstruksi, selama pengisian awal waduk dan pasca konstruksi (masa layan). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data pembacaan instrumen pengukur deformasi dan evaluasi menggunakan kriteria penerimaan untuk menilai perilaku normal dan tidak normal. Hasil dari penelitian ini adalah selama konstruksi, deformasi vertikal Bendungan Jatibarang pada kedalaman antara 32 m sampai kedalaman 56 m berada di luar batas deformasi normal. Pergerakan deformasi horizontal pada pengisian awal dari Bendungan Jatibarang mempunyai nilai deformasi yang besar karena berada di atas perilaku umum deformasi horizontal pada beberapa bendungan. Pada kurun waktu konstruksi Bendungan Jatibarang 2014 hingga pembacaan terakhir pada tahun 2020 terlihat tidak terjadi perubahan yang signifikan namun pada kedalaman antara 20-30 m terjadi penurunan yang besar dibandingkan dengan lainnya yang mengindikasikan bahwa pada kedalaman tersebut terjadi konsentrasi penurunan internal yang besar Kata kunci: Bendungan Jatibarang, instrumentasi, deformasi, deformasi vertikal, deformasi horizontal  Abstract The main effects of deformation are loss of freeboard, damage to the auxiliary structure located above the dam, cracks in the embankment dam (impervious core), formation of a zone leading to hydraulic fracturing, and instrumentation failure. Jatibarang Dam is an upright core zonal rockfill dam with a clay core. The purpose of this study is to analyze the deformation behavior at various stages during construction, during the initial filling of the reservoir and post construction (post construction). This research was conducted using the reading data of the deformation instrumen and the evaluation using acceptance criteria to assess normal and abnormal behavior. The result of this research is that during construction, the vertical deformation at a depth between 32 m to 56 m is outside the normal deformation limit. The horizontal deformation at the initial filling of the Jatibarang Dam has a large deformation value because it is above the general horizontal deformation behavior of several dams. During the construction period 2014 until 2020 Jatibarang Dam did not appear to be any significant changes, but at a depth between 20-30 meters there was a large decrease compared to others indicating that at depth there was a large concentration of internal decline. Keywords: Jatibarang dam, instrumentation, deformation, vertical deformation, horizontal deformatio

    EVALUASI STANDAR JALUR EVAKUASI KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT (Studi Kasus Gedung BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya)

    Get PDF
    Abstrak Dampak negatif yang ditimbulkan dari bencana dapat berupa kerugian materiil maupun jiwa. Bencana tersebut dapat dicontohkan seperti banjir, gempa bumi ada pula bencana non alam seperti kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi standar jalur evakuasi kebakaran pada kantor BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya, mengetahui apakah jalur evakuasi kebakaran pada kantor BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya telah memenuhi standar. Data yang digunakan berupa data primer dan sekunder, yang diambil dengan cara penyebaran kuisioner, observasi dan pengamatan secara langsung. Pertanyaan melalui kuisioner diolah menggunakan software SPSS-23, sedangkan data hasil observasi dan pengamatan secara langsung, diolah melalui analisa deskripsi sesuai hasil lapangan. Hasil analisa menunjukkan bahwa semua pertanyaan valid memiliki nilai korelasi lebih besar dari nilai product moment/r tabel 0,632. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Hasil evaluasi standar jalur evakuasi kebakaran pada Bangunan Gedung BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya, belum sesuai standar Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan bahwasanya penerapan peraturan sistem jalur evakuasi kebakaran masih pasif pada gedung BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya untuk fungsi bangunan publik serta Kesesuaian fasilitas jalur evakuasi kebakaran yang tersedia pada bangunan gedung BAPPEDA Kabupaten Nagan Raya sangat sulit dilakukan evakuasi jika sewaktu waktu-waktu terjadi kebakaran Kata Kunci: Jalur evakuasi, bangunan gedung, metode kuantitatif, kuisioner   Abstract The negative impact can be in the form of material and life losses. The disaster can be exemplified as floods, earthquakes there are also non-natural disasters such as fire. Disaster is a phenomenon of human life that cannot be known exactly when it happened. This study aims to determine how the standard conditions of fire evacuation routes at the Nagan Raya Regency Bappeda office, find out whether the fire evacuation routes at the Nagan Raya Regency Bappeda office meet the standards. The data used in this study are primary and secondary data, data collection is done by observation and direct observation. While the research method used is a quantitative method. Results of the Standard Identification of Fire Evacuation Paths in Nagan Raya Regency Bappeda Building, according to Minister of Public Works Regulation No.26 / PRT / M / 2008 concerning Rescue Lines that the application of fire evacuation system regulations is still passive in Bappeda Building Nagan Raya Regency for public building functions as well as the suitability of fire evacuation route facilities available in the building of Bappeda Nagan Raya Regency, it is very difficult to evacuate if at any time there is a fire Keywords: Evacuation route, building, quantitative method, questionnair

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇