Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
OPTIMASI SIMPANG BERSINYAL JALAN MERDEKA KOTA LHOKSEUMAWE
Optimasi simpang bersinyal dimaksudkan untuk mengoptimalkan kinerja suatu jaringan jalan khususnya pada persimpangan bersinyal. Salah satu bentuk optimasi adalah melakukan sinkronisasi simpang bersinyal sehingga diperoleh suatu sistem koordinasi antar simpang bersinyal. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi waktu tunda dan waktu berhenti kendaraan. Setelah melakukan antrian waktu merah pada salah satu persimpangan, kendaraan diharapkan akan memperoleh waktu hijau pada persimpangan berikutnya. Sistem demikian belum diterapkan di Jalan Merdeka Kota Lhokseumawe. Sebagai jalan utama pada pada lintasan tersebut ada tiga persimpangan bersinyal yaitu, Simpang BI (simpang I), Simpang Empat (simpang II) dan Simpang BPD (simpang III). Akibat belum adanya koordinasi antar ketiga persimpangan tersebut, sering kendaraan yang baru lolos dari simpang I harus berhenti dan menunggu fase hijau lagi pada simpang II dan sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi antara simpang II dan simpang III sehingga antrian, waktu tundaan dan waktu berhenti yang panjang terutama pada jam puncak tidak dapat dihindari. Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan studi untuk memperbaiki kinerja simpang tersebut dengan cara melakukan optimasi lampu lalulintas persimpangan. Ada dua metode yang digunakan pada optimasi ini, yaitu Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997) untuk pengolahan data lalulintas, sementara untuk optimasi menggunakan bantuan perangkat lunak Transyt 14 berpedoman pada metode yang dikembangkan oleh TRRL (Transport and Road Research Laboratory) Inggris. Transyt 14 digunakan untuk mengevaluasi kinerja persimpangan pada kondisi eksisting dan sebagai alat bantu proses optimasi untuk koordinasi persimpangan dengan panjang antrian, waktu tunda, jumlah henti sebagai parameter utama. Hasil optimasi dibandingkan kondisi eksisting diperoleh waktu siklus 81 detik, antrian berkurang 14,15%, waktu tunda berkurang 44,60%, jumlah henti turun 36,23% dan tingkat pelayanan dapat ditingkatkan dari D menjadi C.Kata kunci: Optimasi, Simpang Bersinyal, Transyt 1
ANALISIS TRANSPORTASI KOTA LHOKSEUMAWE
Kota Lhokseumawe salah satu kota sedang berkembang di provinsi Aceh,saat ini mengalami kemacetan dan rasa kurang nyaman bagi pengguna jalandi titik tertentu pada ruas jalan dalam kota maupun pinggiran kota, sehinggaperlu dilakukan suatu kajian/analisis terhadap sistem transportasi yangsedang berlangsung saat ini. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui kondisifaktual sistem transportasi yang sedang diterapkan dan langkah solusi apakahyang seharusnya dilakukan oleh pemerintah kota agar nantinya sesuai denganperundang-undangan traspotasi. Metode yang digunakan dalam penelitian inidengan pengamatan langsung di lapangan pada titik-titik tertentu sesuaipedoman serta rujukan yang telah diatur didalam peraturan yang berlaku.Dari hasil penelitian diperoleh beberapa jawaban tentang sistem transportasiyang sedang berlaku yaitu jumlah penduduk yang tidak seimbang denganukuran (kapasitas) jalan, banyaknya hambatan samping yang disebabkan olehpara pedangang kaki lima, banyaknya terjadi kecelakaan lalulintas yangdisebabkan oleh ulah pengemudi yang pakir disembarang tempat, kurangmematuhi peraturan lalulintas dan banyaknya pengemudi dibawah umur,serta masih kurangnya rambu lalulintas pada titik-titik tertentu. Langkah sertasolusi yang perlu dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut adalah denganmenambah jaringan jalan pada beberapa daerah tertentu, memperlebarukuran jalan sesuai kapasitas lalulintas yang dilayani, menambah ramburambulalulintas pada beberapa tempat dan memeperbaiki kembali ramburambulama yang telah rusak dan kurang jelas serta memperjelas garis markajalan pada tempat-tempat tertentu. Untuk meningkatkan kesadaran akanperaturan lalulintas oleh para pengemudi perlu dilakukan sosialisasi melaluimedia cetak, elektronik maupun stiker-stiker.Kata Kunci : Transportasi, jalan dan lalulinta
PENGARUH RASIO AGREGAT BINDER TERHADAP PRILAKU MEKANIK BETON GEOPOLIMER DENGAN CAMPURAN ABU SEKAM PADI DAN ABU AMPAS TEBU
Beton merupakan material yang sangat penting dan banyak digunakan untuk membangun infrastruktur. Kebutuhan akan beton meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan sarana dan prasarana dasar manusia. Oleh karena itu produksi semen sebagai bahan pengikat beton meningkat pula. Dalam proses produksi semen terjadi pelepasan karbon dioksida (CO2) yang sangat banyak ke atmosfer yang dapat merusak lingkungan. Untuk mengatasi efek buruk tersebut maka perlu dicari material lain sebagai bahan pengganti semen. Beton geopolymer merupakan salah satu alternatif untuk mengganti beton yang menggunakan semen yang kurang ramah lingkungan. Beton geopolymer dibuat tanpa menggunakan semen sebagai bahan pengikat, dan sebagai gantinya digunakan binder. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendapatkan nilai optimum kuat tekan dari beton geopolimer dengan berbagai variasi agregat binder menggunakan bahan dasar abu sekam padi dan abu ampas tebu.Pada penelitian ini dilakukan pengujian kuat tekan beton terhadap sejumlah benda uji berbentuk kubus 15x15x15 cm3 dengan variasi agregat: 90%, 80%, 70%, 60% terhadap binder: 10%, 20%, 30%, 40%.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kuat tekan pada variasi 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, dengan kuat tekan masing-masing yaitu 1,265 Mpa, 8,104 Mpa, 13,208 Mpa, 20,024 Mpa. Trend menunjukkan bahwa semakin besar komposisi binder maka semakin besar kuat tekan yang dihasilkan. Terlihat juga bahwa kuat tekan optimum dihasilkan pada variasi 60% agregat dan 40% binder yaitu 20,024 Mpa, dan sesuai dengan kuat tekan rencana 20 Mpa
PRIORITAS PENINGKATAN JALAN DI KABUPATEN PIDIE JAYA BERBASIS ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Abstrak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pidie Jaya, telah mengusulkan peningkatan jalan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia sebanyak 5 ruas untuk ditingkatkan pada tahun 2021 dengan total biaya sebesar Rp. 16.731.593.750. Usulan peningkatan jalan tersebut di tahun 2021 tidak dapat ditingkatkan semua, karena adanya keterbatasan anggaran. Keterbatasan anggaran disebabkan adanya refocusing anggaran untuk penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kriteria yang dominan perlu dipertimbangkan dalam peningkatan jalan di Kabupaten Pidie Jaya dan menganalisis urutan prioritas peningkatan jalan di Kabupaten Pidie Jaya berdasarkan kriteria kerusakan jalan, biaya peningkatan, dan tata guna lahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif melalui kuesioner.Data primer yang digunakan adalah data kuesioner. Pengumpulan data kuesioner dilakukan dengan menjumpai langsung keberadaan responden.Responden dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 5 stakeholders yaitu Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Bidang Perencanaan Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Bidang Perhubungan Jalur Darat Dinas Perhubungan Kabupaten Pidie Jaya, Anggota Komisi D Bidang Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Pidie Jaya, dan Akademisi Universitas Syiah Kuala. Kriteria yang ditinjau adalah kerusakan jalan, biaya peningkatan, dan tata guna lahan. Alternatif yang ditinjau adalah Jalan Blang Dalam - Jurong Teungoh, Jalan Jeulanga Barat - Jeulanga Mata Ie, Jalan Simpang Pertanian - Cot Trieng - Rungkom, Jalan Trienggadeng - Panton Beurasan - Cubo, dan Jalan Meurandeh Alue - Asan Kumbang - Blang Miroe.Teknik analisis data digunakan statistik deskriptif dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang dominan perlu dipertimbangkan dalam peningkatan jalan adalah kriteria biaya peningkatan dengan nilai rata-rata gabungan eigen sebesar 0,49. Prioritas peningkatan jalan berdasarkan kriteria kerusakan jalan, biaya peningkatan, dan tata guna lahan adalah Jalan Meurandeh Alue - Asan Kumbang - Blang Miroe sebagai prioritas 1 dengan bobot sebesar 0,38 dan Jalan Trienggadeng - Panton Beurasan - Cubo sebagai prioritas 2 dengan bobot sebesar 0,25. Kata kunci: prioritas, kerusakan jalan, biaya peningkatan, tata guna lahan Abstract The Public Works Office of Pidie Jaya Regency has proposed 5 sections to increase the road to the Ministry of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia to be upgraded in 2021 with a total cost Rp. 16,731,593,750. All of the proposed road improvements in 2021 cannot be upgraded, due to budget constraints. The budget limitation is due to refocusing the budget for handling Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) in Indonesia. This study aims to analyze the dominant criteria that need to be considered in road improvement in Pidie Jaya Regency and to analyze the order of priority for road improvement in Pidie Jaya Regency based on the criteria for road damage, improvement costs, and land use. This study uses a quantitative method approach through a questionnaire. The primary data used is questionnaire data. The questionnaire data was collected by directly seeing the respondents. Respondents in this study were assigned as many as 5 stakeholders, namely the Head of the Bina Marga Division of the Public Works Office of Pidie Jaya Regency, the Head of the Planning for Facilities and Infrastructure of the Regional Development Planning Agency of Pidie Jaya Regency, the Head of the Land Line Transportation Division of the Pidie Jaya Regency Transportation Service, a Member of the Commission D Development Sector Pidie Jaya Regency People\u27s Representative Council, and Syiah Kuala University Academics. The criteria reviewed are road damage, cost of upgrading, and land use. The alternatives reviewed are Jalan Blang Dalam - Jurong Teungoh, Jalan Jeulanga Barat - Jeulanga Mata Ie, Jalan Simpang Pertanian - Cot Trieng - Rungkom, Jalan Trienggadeng - Panton Beurasan - Cubo, and Jalan Meurandeh Alue - Asan Kumbang - Blang Miroe. The data analysis technique used descriptive statistics and Analytical Hierarchy Process (AHP). The results show that the dominant criterion that needs to be considered in road improvement is the cost of improvement criteria with a combined average eigenvalue of 0.49. Road improvement priorities based on the criteria for road damage, improvement costs, and land use are Meurandeh Alue - Asan Kumbang - Blang Miroe Road as priority 1 with a weight of 0.38 and Jalan Trienggadeng - Panton Beurasan - Cubo as priority 2 with a weight of 0.25. Keywords: Priority, road damage, cost of improvement, land us
ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL (Studi Kasus Di Simpang 3 Kudang, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya)
Persimpangan merupakan bagian jalan terpenting yang menghubungkan jaringan jalan. Persimpangan sering terjadi kemacetan di beberapa daerah seperti adanya tundaan dan antrian yang sangat tinggi hingga sering terjadi kemacetan. Salah satu simpang yang sering terjadi macet yaitu di Simpang 3 Kudang yang berada dikecamatan singaparna. Simpang ini sering terjadi tundaan dan antrian yang panjang akibat adanya hambatan samping yang tinggi serta kurangnya lebar jalan pada jalan utama. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis kinerja pada persimpangan 3 Kudang untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan kinerja simpang. Metode yang digunakan yaitu Metode MKJI 1997. Berdasarkan hasil penelitian selama 1 minggu pada tanggal 05-11 Oktober 2020 didapatkan volume arus lalu lintas jam puncak tertinggi di hari selasa dengan volume 3108 smp/jam, dengan kecepatan kendaraan < 35 km/jam dan kepadatan lalu lintas tinggi. Kinerja simpang yang telah dihitung berdasarkan hasil analisis nilai tundaan yaitu Tundaan di Jln. Raya Timur Singaparna (Jln.Mayor) di arah barat sebesar 12,77 det/smp dengan Tingkat Pelayanan C dan Tundaan di arah timur sebesar 10.59 det/smp dengan Tingkat Pelayanan B. Lalu untuk Tundaan di Jln.K.H.Z. Mustofa (Jln.Minor) di arah selatan sebesar 9.90 det/smp dengan Tingkat Pelayanan B. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa karakteristik lalu lintas di simpang 3 kudang sangat tinggi, tingkat pelayanan di simpang sampai pada tingkat C. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu rekomendasi yang tepat pada kinerja simpang 3 kudang perlu dilakukan pelebaran jalan sebagai prioritas utama serta penambahan rambu lalu lintas dan marka jalan
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA WASTE MATERIALS DALAM PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DI KOTA BANDA ACEH
Abstrak Banyak faktor yang dapat menimbulkan sisa material antara lain faktor desain, pengadaan material, penanganan material, pelaksanaan, residual, dan faktor lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor dan faktor dominan yang menyebabkan timbulnya waste materials dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner. Responden ditujukan pada project manager atau site manager dari perusahaan kontraktor bidang gedung di Provinsi Aceh mulai dari kualifikasi Menengah (M1 dan M2) dan kualifikasi Besar (B1 dan B2). Jumlah populasi kontraktor sebanyak 1.610, sedangkan jumlah sampel yang digunakan dalam analisis faktor Principle Component Analysis (PCA) adalah 5 kali dari 35 indikator yang diamati yaitu sebanyak 175 perusahaan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan yang didasarkan pada perusahaan kontraktor yang telah melaksanakan proyek konstruksi bangunan gedung di Provinsi Aceh mulai dari tahun 2010-2019 dengan sumber dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Analisis data digunakan analisis faktor PCA melalui software Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya waste materials dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Kota Banda Aceh terdapat 6 faktor yaitu faktor desain, pengadaan material, pelaksanaan, spesifikasi dan penanganan material, residual, dan pengontrolan material. Faktor yang dominan menyebabkan timbulnya waste materials dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Kota Banda Aceh adalah faktor desain dengan varians sebesar 36,922%. Kata kunci: Material, waste materials, proyek, konstruksi, gedung, Banda Aceh Abstract Many factors can cause residual material, including design factors, material procurement, material handling, implementation, residuals, and other factors. This study aims to analyze the dominant factors and factors that cause waste materials in the implementation of building construction projects in Banda Aceh City. This study uses a quantitative method approach through distributing questionnaires. Respondents were addressed to the project manager or site manager of a building contractor company in Aceh Province ranging from Medium qualifications (M1 and M2) and Large qualifications (B1 and B2). The total contractor population is 1,610, while the number of samples used in the Principle Component Analysis (PCA) factor analysis is 5 times out of 35 observed indicators, namely 175 companies. The sampling technique used is purposive sampling, which is sampling with consideration based on contracting companies that have implemented building construction projects in Aceh Province starting from 2010-2019 with the source of funds coming from the Regional Budget (APBD. Data analysis used analysis of PCA factors through Statistical Product and Service Solution (SPSS) version 26 software. The results showed that the factors that caused waste materials in the implementation of building construction projects in Banda Aceh City were 6 factors, namely design factors, material procurement, implementation, specification and material handling, residuals, and material control The dominant factor causing the emergence of waste materials in the implementation of building construction projects in Banda Aceh City is the design factor with a variance of 36.922%. Keywords: Materials, waste materials, projects, construction, buildings, Banda Ace
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT PENGARUH PEMASANGAN GROPOZAG (Studi Kasus Pantai Neuhen, Aceh Besar)
Abstract At the present time, a lot of researchs and treatments have been carried out by experts to minimize the bad effects due to erosion and sedimentation, including the application of groin. Beach structure of the groyne generally used on the Indonesia beaches is groin solid model (impermeable) in which no water can pass the groin. The various types, configuration, material, and height of groin have been applied in Aceh. One of the types is porous zig-zag type groin (gropozag). This type had been tested both as physical model in the laboratory and numerical model. However, the performance application in the field had been rarely carried out. This paper aims to determine the effect of the gropozag application on the coastline changes in the Neuheun Beach. The groin was made of cubes arranged in a zigzag pattern. The size of a unit cube was 1m x 1m x1m with several holes on either side. The upper side was open and the bottom side was completely closed without any holes. Several cube units were assembled into a single groyne series and placed perpendicular to the coast. The observation carried out was without gropozag condition year 2017 and after gropozag installation tear 2019. Output of the research showed that the Gropozag application affected the coastline changes in the left and right area of the Gropozag. The erosion carried out in the left side of the gropozag which was affected by the waves from northeast was higher than the right side of the gropozag. Keywords: coastline change, sedimentation, erosion, groin, gropoza
KAJIAN POLA INTERAKSI LAND USE DENGAN VOLUME PENUMPANG BSD LINK KORIDOR SEKTOR 1.3 - GREENWICH PARK
Abstrak Bumi Serpong Damai (BSD) merupakan salah satu kota mandiri di kawasan Jabodetabek. Sinarmas Land sebagai developer kawasan BSD telah memulai untuk membangun Angkutan Massal Cepat yang dioperasikan khusus di kawasan tersebut. Konsep Angkutan Massal yang dipilih berupa Bus Rapid Transit (BRT). Jumlah halte bus BSD Link untuk satu koridor dengan dua arah tidak persis sama, karena rute untuk keberangkatan dan kembalinya berbeda. Hal itu disebabkan karena perbedaan karakteristik dari pola tata guna lahan dari rute BSD Link tersebut. Oleh sebab itu, interaksi antara pola tata guna lahan dengan fluktuasi volume penumpang BSD Link setiap halte perlu diketahui. Upaya ini membutuhkan pengetahuan terkait tata guna lahan sepanjang rute BSD Link dan fluktuasi volume penumpang BSD Link di setiap halte. Survei terkait hal tersebut telah dilakukan pada Koridor Sektor 1.3-Greenwich Park pada jam puncak pagi. Hasil survei menunjukkan bahwa bangkitan perjalanan terbesar berasal dari halte East Bussiness District (50%), tarikan perjalanan terbesar berasal dari halte The Breeze (45%) untuk arah Sektor 1.3 - Greenwich Park. Bangkitan perjalanan terbesar berasal dari halte Naava Park (55%) dan tarikan perjalanan terbesar berasal dari halte Sektor 1.3 (35%) untuk arah Greenwich Park - Sektor 1.3. Kata kunci: Tata guna lahan, bangkitan perjalanan, tarikan perjalanan, BSD Link, Sektor 1.3 - Greenwich Park Abstract Bumi Serpong Damai (BSD) is one of self contained city in Jabodetabek district. Sinarmas as developer of BSD started to develop Mass Rapid Transit which special operated on that. Concept of MRT has been operated in the form of Bus Rapid Transit. Amount of bus shelter for one corridor with two lines not exactly equal, because route for departure and return are different. That was caused by differences characteristic of land use. Thus, interaction between land use with fluctuation of passengers volume need to known. This attempt needs knowledge on land use along the route and fluctuation of passengers volume in each bus shelter. Survey on that knowledge were executed on Corridor Sector 1.3 - Greenwich Park during morning peak hour. The result indicates that peak of trip production generated by East Bussines Distcrict (50%) shelter, peak of trip attraction generated by The Breeze (45%) shelter for Sector 1.3 - Greenwich Park line. Peak of trip production generated by Naava Park (55%) shelter and peak of trip attraction generated by Sektor 1.3 (35%) shelter for Greenwich Park - Sector 1.3 line. Keywords: Land use, trip production, trip attraction, BSD Link, Sector 1.3 - Greenwich Par
PERILAKU STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT KETIDAK BERATURAN VERTIKAL KEKAKUAN TINGKAT LUNAK DENGAN ANALISIS BERBASIS KINERJA
Abstrak Perkembangan disain struktur bangunan tahan gempa menggunakan konsep Performance Based Design atau analisis berbasis kinerja adalah konsep desain struktur bangunan gedung di mana kegagalan dapat didesain terjadi pada level dan pola tertentu sesuai tingkat kerusakan yang diinginkan. Dalam penerapan konsep Performance Based Design digunakan metode perhitungan perpindahan langsung atau Direct Displacement Based Design (DDBD). Pada penelitian ini struktur gedung merupakan konstruksi beton bertulang dengan pola denah yang beraturan di mana keseluruhan tipe struktur A0, B1, B2, dan B3 yang didesain menggunakan sistem ganda pada arah sumbu kuat (x) dan sistem rangka pada arah sumbu lemah (y). Struktur A0 merupakan struktur dasar yang menjadi pembanding terhadap ketidak beraturan vertikal kekakuan tingkat lunak yang didesain pada Struktur B1, B2, dan B3. Evaluasi hasil kinerja dan asesmen menggunakan metode ATC-40 diketahui bahwa, untuk keseluruhan tipe struktur A0, B1, B2, dan B3 pada arah x dan y berada pada level kinerja Immediate Occupancy (IO) dan termasuk dalam kategori daktilitas penuh (full ductility). Hasil perbandingan nilai drift pada arah sumbu (x) pada sistem ganda diketahui bahwa semua tipe struktur nilainya tidak melebihi design drift limit, sedangkan hasil perbandingan nilai drift pada arah sumbu (y) pada sistem rangka diketahui bahwa struktur B1 dan B2 memiliki nilai drift yang melebihi design drift limit. Kata kunci: perilaku, ketidakberaturan vertikal, analisis berbasis kinerja Abstract The development of earthquake-resistant building structural designs using the concept of Performance-based design or performance-based analysis is the design concept of building structures where failure can be designed to occur at a certain level and pattern according to the level of damage. The implementation of the concept of Performance-based design use the method of calculating direct displacement or Direct Displacement Based Design (DDBD). Therefore, the building structure is a reinforced concrete construction with a regular floor plan where all types of structures A0, B1, B2, and B3 are designed using a dual system on the strong axis (x) and the frame system on the weak axis (y). The structure A0 is the basic structure which is a comparison to the vertical irregularity of soft stiffness designed in Structures B1, B2, and B3. Evaluation of performance results and assessment using the ATC-40 method indicate for all types of structures A0, B1, B2, and B3 in the X and Y directions are at the level of performance of Immediate Occupancy (IO) and are included in the full ductility category. The results of the comparison of drift values in the (x) direction of the dual system show that all types of structures do not exceed the design drift limit. Meanwhile, the results of the comparison of drift values in the (y) direction of the frame system show that the structures B1 and B2 have drift values that exceed the design drift limit. Keywords: behavior, vertical irregularity, performance-based analysi
ISUE AKSESIBILITAS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH SEBAGAI KRITERIA PENENTU PRIORITAS PENINGKATAN JALAN DI KABUPATEN PIDIE JAYA
Abstrak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Pidie Jaya pada tahun 2020 mengajukan usulan peningkatan ruas jalan sebanyak 5 ruas kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang akan dilaksanakan pada tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis urutan prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Pidie Jaya berdasarkan criteria aksesibilitas dan pengembangan wilayah. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data primer menggunakan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner dan data sekunder didapatkan melalui instansi Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya. Penetapan responden pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dan ditetapkan sebanyak 5 responden, yaitu KepalaBidang Bina Marga Dinas PU Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Bidang Perencanaan Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Bidang Perhubungan Jalur Darat Dinas Perhubungan Kabupaten Pidie Jaya, Anggota Komisi D Bidang Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie Jaya, dan Akademisi Universitas Syiah Kuala. Kriteria aksesibilitas dan pengembangan wilayah akan menjadi pertimbangan dalam menentukan urutan prioritas 5 (lima) alternativ ruas jalan yang akan ditingkatkan. Untuk menentukan bobot kriteria dan bobot alternative berpasangan digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), selanjutnya persamaan matematika digunakan untuk mendapatkan urutan prioritas peningkatan jalan. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa criteria aksesibilitas lebih dominan. Urutan prioritas peningkatan ruas jalan berdasarkan criteria aksesibilitas dan pengembangan wilayah menunjukkan bahwa alternatif Jalan Simpang Pertanian- Cot Trieng - Rungkom sebagai prioritas pertama, dan alternatif Jalan Trienggadeng - Panton Beurasan-Cubo sebagai prioritas kedua. Kata kunci: prioritas, jalan,kriteria, aksesibilitas, pengembangan wilayah Abstract The Public Works Office (PekerjaanUmum (PU)) of Pidie Jaya Regency in 2020 has submitted a proposal to increase the road section of 5 sections to the Ministry of Public Works and Public Housing (PUPR) through a Special Allocation Fund (DAK), which will be implemented in 2021. The purpose of this study is to analyze the priority order of segment improvement. Roads in Pidie Jaya Regency based on accessibility criteria and regional development. The data used in this study are primary data and secondary data. The primary data method used a quantitative approach to a questionnaire and the data were obtained through the Pidie Jaya district government agencies. Determination of respondents in this study using purposive sampling technique, and determined as many as 5 respondents, namely the Head of Bina Marga Division of the Public Works Agency of Pidie Jaya Regency, Head of the Planning for Facilities and Infrastructure of the Regional Development Planning Agency (Bappeda), Pidie Jaya Regency, Head of the Landline Transportation Department Pidie Jaya District Transportation, Members of Commission D for the Development Sector of the District People\u27s Representative Council (DPRK) Pidie Jaya, and academics at Syiah Kuala University. The criteria for accessibility and regional development will be considered in determining the priority order of 5 (five) alternative roads to be improved. The Analytical Hierarchy Process (AHP) method is used to determine the criteria weights and the paired alternative weights. Mathematical equations are used to obtain the priority order of road improvement. Based on the results of data analysis, it shows that the accessibility criteria are more dominant. The order of priority for road improvement based on accessibility criteria and regional development shows that the alternative for the SimpangPertanian - Cot Trieng - Rungkom Road is the first priority, and the Trienggadeng - Panton Beurasan - Cubo road alternative is the second priority. Keywords: priority,road, criteria, accessibility, regional developmen