Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Analisis Plastis Jembatan Box Girder Dengan Penampang Single Box
Abstrak Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perilaku plastis penampang single box girder dengan model bilinier dan strain hardening. Hal-hal yang dipelajari adalah hubungan momen-kelengkungan, momen plastis, panjang daerah inelastis dan faktor bentuk (shape factor). Jembatan yang dianalisis mempunyai panjang bentang 40 meter dan lebar 10 meter. Perencanaan penampang jembatan dilakukan dengan menggunakan bantuan program SAP 2000 versi 15, dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan dalam RSNI T-03-2005. Beban yang diperhitungkan adalah beban mati dan beban hidup saja dan didasarkan pada RSNI T-02-2005. Analisis dengan model bilinier, momen plastis (Mp) didapatkan sebesar 160 kNm. Untuk analisis dengan model strain hardening, momen plastis (Mps) sebesar 214 kNm. Kenaikan momen plastis akibat diperhitungkan strain hardening penampang single box, yaitu sebesar 25,3%. Kenaikan daerah inelastis akibat diperhitungkan strain hardening menjadi sekitar 4 kali daerah inelastis bila strain hardening tidak diperhitungkan. Akhirnya, dalam tulisan ini diperbandingkan hubungan momen-kelengkungan penampang single box baik menggunakan model bilinier maupun menggunakan model dengan strain hardening. Kata kunci: Single box, perilaku plastis, strain hardening, momen plastis, hubungan momen-kelengkungan Abstract The purpose of this study was to analyze the plastic behavior of a single box girder cross section with a linear and strain hardening model. The things learned are the relationship of moment-curvature, plastic moment, length of inelastic region and form factor (shape factor). The bridge analyzed has a span length of 40 meters and a width of 10 meters. Bridge cross section planning is done using the help of the SAP 2000 program version 15, following the procedures set out in RSNI T-03-2005. Expenses calculated are dead load and live load only and are based on RSNI T-02-2005. Analysis with a linear model, the plastic moment (Mp) obtained for 160 kNm. For analysis with the strain hardening model, the plastic moment (Mps) is 214 kNm. The increase in plastic moment due to calculated single-section cross-section hardening strains is equal to 25.3%. The increase in inelastic area due to hardening strain is calculated to be around 4 times the inelastic area if the hardening strain is not taken into account. Finally, in this paper the single-box cross-section cross-section relationship is compared, both using a linear model or using a strain hardening model. Keywords: Single box, plastic behavior, strain hardening, plastic moment, relationship of moment-curvatur
PENGARUH JUMLAH TUMBUKAN PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE (AC-WC) TAMBAHAN LATEKS TERHADAP SIFAT MARSHALL
Salah satu fungsi dari lapisan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) adalah sebagai lapisan penutup (kedap air) untuk mencegah masuknya air kedalam campuran aspal, yang dapat merusak struktur aspal. Resapan air yang berasal dari limpasan air hujan maupun luapan air selokan dapat masuk kedalam aspal, bila lapisan permukaannya tidak sangat kedap. Oleh karenanya perlu campuran AC-WC yang kedap air, yang dapat diperoleh dengan berbagai modifikasi. Salah satu modifikasi tersebut adalah tambahan lateks dalam campuran AC-WC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari jumlah tumbukan dengan tambahan bahan lateks terhadap campuran AC-WC dilihat dari sifat Marshall. Penelitian ini dilakukan dengan membuat rancangan benda uji standar di laboratorium, dilanjutkan dengan pencarian nilai Kadar Aspal Optimum (KAO). Nilai KAO ditambahkan lateks 2% dengan jumlah tumbukan 2x75, 2x100, 2x125 dan 2x150. Hasil dari jumlah tumbukan untuk benda uji tersebut dilakukan uji Marshall untuk mengetahui sifat Marshal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan jumlah tumbukan 2x75, 2x100, 2x125 dan 2x150 menghasilkan stabiltas berurutan sebesar 2027 kg, 1751 kg, 1672 kg dan 1760 kg. Nilai flow yang dihasilkan beurutan sebesar 3,3 mm, 1,9 mm, 1,6 mm dan 1,3 mm. Hasil penelitian tersebut menujukkan bahwa dengan jumlah tumbukan lebih dari 2x75 semua benda uji campuran AC-WC dengan tambahan lateks 2% dari KAO tidak memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010.
ANALISIS PENGARUH KINERJA LALU-LINTAS TERHADAP PEMASANGAN TRAFFIC LIGHT PADA SIMPANG TIGA (STUDI KASUS SIMPANG KKA)
Persimpangan merupakan jalinan jalan yang memiliki posisi penting dalam mengatur arus lalu lintas, tidak praktis dan tidak optimalnya pengaturan simpang akan menimbulkan permasalahan seperti kesemrautan dan kecelakaan. Persimpangan Simpang Tiga KKA telah dilakukan perubahan pengaturan dari simpang tidak bersinyal menjadi simpang bersinyal. Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh kinerja lalu-lintas terhadap pemasangan traffic light dengan menganalisa kapasitas, derajat kenuhan, tundaan serta tingkat pelayanan simpang, metode yang digunakan Metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Langkah pelaksanaan penelitian yaitu survey langsung di lapangan dengan pengambilan data volume lalu-lintas, ukuran geometrik dan waktu sinyal. Hasil diperoleh untuk erajat kejenuhan pada pendekat A (Medan-Banda Aceh) sebesar 0,74, pendekat B (Sp. KKA-Keluar) 0,32 dan pendekat C (Banda Aceh-Medan) 0,72 yaitu tergolong dalam kondisi stabil, artinya kapasitas simpang masih sanggup menampung arus maksimum yang melewati persimpangan tersebut, untuk nilai tundaan rata-rata seluruh simpang diperoleh hasil 7,60 det/smp sesuai dengan tabel tundaan simpang rata-rata (LOS) maka tingkat pelayanan yang diperoleh adalah B (Baik). Dengan begitu pengaturan lampu lalu-lintas pada persimpang tersebut masih belum layak dan dapat dipertahankan tanpa menggunakan traffic light.Kata Kunci: Simpang Bersinyal, Kapasitas, Derajat Kejenuha
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI MUTU PADA PROYEK KONSTRUKSI DI ACEH UTARA
Abstrak Kegagalan konstruksi merupakan kegagalan yang dapat disebabkan karena kegagalan pada proses pengadaan barang atau jasa, atau kegagalan dapat juga terjadi saat proses pelaksanaan konstruksi. Dalam pelaksanaannya, proyek konstruksi yang tidak menggunakan aspek pengendalian dapat menyebabkan kegagalan konstruksi (failure constructions). Oleh sebab itu menetapkan sebuah standar manajemen mutu proyek (project quality management) dalam suatu proyek konstruksi adalah hal yang sangat dibutuhkan. Populasi yang diambil dalam penelitian ini hanya sebanyak 80 perusahaan, dengan menggunakan persamaan slovin didapat responden sebanyak 45 perusahaan. Data yang dibunakan adalah data primer dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner kepada kontraktor pelaksana proyek kontruksi dengan sebanyak 45 perusahaan secara tertutup. Data primer di analisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian penelitian faktor -faktor risiko yang sangat berpengaruh di tetapkan pada salah satu faktor risiko yang mempunyai mean tertinggi. Dalam analisis memperlihatkan bahwa dari 6 faktor - faktor risiko yang diteliti, yang memiliki mean tertinggi terdapat pada faktor risiko perencanaan yaitu sebesar 4,33. Hasil uji t faktor sumber daya manusia, faktor material, faktor peralatan faktor manajemen berpengaruh signifikan terhadap mutu proyek sedangkan faktor keuangan dan faktor perencanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja mutu proyek. Berdasarkan analisis uji F pengaruh variabel secara simultan faktor - faktor risiko berpengaruh signifikansi terhadap mutu proyek konstruksi di Aceh Utara. Kata Kunci: faktor-faktor risiko, mutu proyek Abstract Construction failure is a failure that can be caused due to failure in the process of procuring goods or services, or failure can also occur during the construction process. In its implementation, construction projects that do not use control aspects can cause construction failures (failure constructions). Therefore, establishing a project quality management standard in a construction project is very much needed. The population taken in this study is only 80 companies, using the Slovin equation obtained respondents as many as 45 companies. The data used are primary data carried out by distributing questionnaires to contractors implementing construction projects with as many as 45 companies in private. Primary data were analyzed using multiple linear regression. The results of the research research the very influential risk factors are determined on one of the risk factors that has the highest mean. The analysis shows that of the 6 risk factors studied, the one with the highest mean is the planning risk factor, which is 4.33. The results of the t test of human resource factors, material factors, equipment factors, management factors have a significant effect on project quality, while financial factors and planning factors have no significant effect on project quality. Based on the analysis of the F test, the simultaneous influence of the risk factors has a significant effect on the quality of construction projects in North Aceh. Keywords: risk factors, project quality
POTENSI KERUSAKAN BANGUNAN BERTINGKAT SEDANG DENGAN SKENARIO GEMPA ‰¥ 5 SR SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA DI YOGYAKARTA
Abstrak Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai tingkat aktivitas kegempaan tinggi. Sejarah mencatat bahwa Yogyakarta berulang kali mengalami kejadian gempa merusak. Salah satu upaya pemerintah guna meminimalisir risiko gempa yaitu dengan menerbitkan dan memperbaharui peta gempa setiap periode tertentu. Studi terbaru menunjukkan bahwa nilai akselerasi gempa di beberapa daerah mengalami peningkatan dibandingkan dengan percepatan gempa terbaru tahun 2017. Peningkatan nilai akselerasi gempa tersebut menimbulkan kekhawatiran terutama terhadap kondisi bangunan eksisting, oleh karena itu perlu dilakukan prediksi akurat tentang bagaimana potensi kerusakan bangunan eksisting terhadap gempa besar kemungkinan terjadi sebagai upaya mitigasi bencana. Studi ini menggunakan data gempa dengan magnitude ‰¥ 5 Mw dari rentang waktu tahun 1900 sampai 2020 dengan radius 500 km terhadap objek penelitian. Probabilistic seismic hazard analysis digunakan untuk mendapatkan respon spektrum gempa probabilitas 2% dalam 50 tahun. Pushover analysis dilakukan dengan memodelkan bangunan eksisting untuk mendapatkan kurva kapasitas. Performance point didapatkan dari pertemuan antara kurva kapasitas dengan response spektrum. Kurva kapasitas juga digunakan untuk menentukan median spectral displacement yang berfungsi dalam pembuatan fragility curve. Plotting antara performance point dengan fragility curve menghasilkan potensi kerusakan bangunan. Apabila gempa besar terjadi pada arah sumbu x potensi bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali sebesar 0,465%, rusak ringan 4,959%, sedang 45,940%, berat 37,880% dan hampir runtuh 10,756%. Sedangkan apabila gempa besar terjadi pada arah sumbu y potensi tidak terjadi kerusakan sama sekali yaitu 0,465%, rusak ringan 4,959%, sedang 45,940%, berat 37,880% dan hampir runtuh 10,756%. Potensi kerusakan bangunan akibat gempa besar didominasi oleh kerusakan sedang. Kata kunci: Gempa, Probabilistic seismic hazard analysis, Pushover analysis, Fragility curve, Potensi kerusakan bangunan Abstract Yogyakarta is one of the provinces in Indonesia which has a high level of seismicty. Yogyakarta has experienced destructive earthquakes repeatedly. One of the government\u27s efforts to minimize the risk of earthquakes is by publishing and updating earthquake maps provisionally. Recent studies have shown that the earthquake acceleration in several areas has increased compared to the acceleration of the latest map. This increase raises concerns, especially regarding to the existing buildings. As disaster mitigation effort, it is necessary to make accurate predictions about how potential damage of existing buildings is likely to occur. This study used earthquakes data with magnitude of ‰¥ 5 Mw from 1900 to 2020 with a radius of 500 km toward the building. Probabilistic seismic hazard analysis was used to obtain response spectrum of 2% probability in 50 years. Pushover analysis was performed by modeling the existing building to obtain capacity curve. Performance point was obtained from the meeting between capacity curve and response spectrum. Capacity curve was also used to determine the median spectral displacement to build fragility curve. The plotting results between performance point and fragility curve is building\u27s damage potential. if a big earthquake occurs in the x-axis direction, the potential of no damage is 0.465%, slight 4.959%, moderate 45.940%, extensive 37.880% and nearly colapse 10.756%. Meanwhile, if a big earthquake occurs in the y-axis direction, Potential of no damage is 0.465%, slight 4.959%, moderate 45.940%, extensive 37.880% and 10.756% almost collapse. The building\u27s damage potential is dominated by moderate. Keywords: Earthquakes, Probabilistic seismic hazard analysis, Pushover analysis, Fragility curve, Building\u27s damage potentia
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN JALAN DI KECAMATAN SEULIMEUM KABUPATEN ACEH BESAR DENGAN MENGUNAKAN ANALISIS MULTI KRITERIA
Abstrak Kecamatan Seulimeum merupakan kecamatan yang mempunyai tingkat kerusakan jalan yang paling berat diantara kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Besar. Jalan kabupaten di Kecamatan Seulimeum terdapat sebanyak 23 ruas dengan kondisi rusak berat sepanjang 69,50 km (50,44%) dari 137,80 km. Mengingat Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mempunyai keterbatasan anggaran pada sektor jalan, maka penanganan jalan di Kecamatan Seulimeum perlu dicarikan prioritas penanganan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kriteria yang dominan perlu dipertimbangkan dalam penanganan jalan dan menganalisis urutan prioritas penanganan jalan di Kecamatan Seulimeum. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif melalui kuesioner. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan yang didasarkan pada pihak pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan (stakeholders) bidang jalan. Responden ditetapkan sebanyak 5 stakeholders yaitu Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Besar, Kepala Bidang Program Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Aceh Besar, Anggota Komisi IV Bidang Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Camat Seulimeum, dan akademisi. Kriteria penanganan jalan yang ditinjau adalah kondisi jalan, tata guna lahan, aksesibilitas, kependudukan, fasilitas sosial, fasilitas pemerintahan, dan sarana perekonomian. Teknik analisis data digunakan Analisis Multi Kriteria (AMK). Hasil penelitian meunjukkan bahwa kriteria yang dominan perlu dipertimbangkan dalam penanganan jalan adalah kriteria kondisi jalan dengan nilai bobot kriteria rata-rata sebesar 0,323. Prioritas penanganan jalan adalah alternatif Jalan Seulimeum-Lamteuba sebagai prioritas 1 dengan kinerja alternatif sebesar 4,095, alternatif Jalan Entee Gajah-Lhieb sebagai prioritas 2 dengan kinerja alternatif sebesar 3,715, dan alternatif Jalan Lamteuba-Lamteuba Droe sebagai prioritas 3 dengan kinerja alternatif sebesar 3,619. Kata kunci: Prioritas, penanganan, jalan, kriteria, alternatif, Kecamatan Seulimeum Abstract Seulimeum sub-district is a sub-district that has the heaviest level of road damage among other sub-districts in Aceh Besar District. There are 23 regency roads in Seulimeum District with severely damaged conditions along 69.50 km (50.44%) of 137.80 km. Considering that the Aceh Besar District Government has a limited budget in the road sector, the handling of roads in Seulimeum District needs to be looked for priority handling. This study aims to analyze the dominant criteria that need to be considered in road handling and to analyze the priority order of road handling in Seulimeum District. This study uses a quantitative method approach through a questionnaire. The sampling technique used was purposive sampling, namely sampling with considerations based on the stakeholders and road sector stakeholders. The number of respondents was assigned as many as 5 stakeholders, namely the Head of Bina Marga Division of the Public Works and Spatial Planning (PUPR) of Aceh Besar District, Head of the Regional Development Program Division of the Regional Development Planning Agency (Bappeda) Aceh Besar District, Members of Commission IV for the Development Sector of the District People\u27s Representative Council (DPRK) Aceh Besar, Head of Seulimeum sub-district, and academics. The road handling criteria reviewed are road conditions, land use, accessibility, population, social facilities, government facilities and economic facilities. The data analysis technique used Multi Criteria Analysis (MCA). The results showed that the dominant criterion that needs to be considered in road handling is the criteria for road conditions with an average criterion weight value of 0.323. The road handling priority is the Seulimeum - Lamteuba road alternative as priority 1 with an alternative performance of 4.095, the Entee Gajah - Lhieb road alternative as priority 2 with an alternative performance of 3.715, and the alternative Jalan Lamteuba - Lamteuba Droe as priority 3 with an alternative performance of 3.619. Keywords: Priority, handling, roads, criteria, alternatives, Seulimeum Distric
ANALISIS TINGKAT PELAYANAN JALAN (Studi Kasus Jalan Medan-Banda Aceh km 254+800 s.d km 256+700)
Jalan raya Medan-Banda Aceh adalah jalan raya lintas sumatera yang berupa jalan dua lajur dua arah tak terbagi (2/2 UD) yang menghubungkan antar kota baik dalam provinsi dan diluar provinsi. Peningkatan volume lalu lintas harus di imbangi dengan peningkatan tingkat pelayanan jalan. Hasil volume lalu lintas harian rata-rata yang didapatkan selama 3 hari, untuk hari minggu 1240 smp/jam hari senin 1048 smp/jam dan hari jumat 1168 smp/jam. Volume puncak selama 3 hari terjadi pada sore hari pada pukul 17.00-18.00 WIB. Sebagian besar jenis kendaraan yang mendominasi pada Jalan Medan-Banda Aceh km 254+800 s.d 256+700 adalah kendaraan ringan (LV) dan sepeda motor (MC) yaitu volume totalnya 14206 smp/hari dan 13068,3 smp/hari sedangkan volume total kendaraan berat (HV) adalah 3844,4 smp/hari. Kecepatan rata- rata kendaraan setempat pada sore hari lebih lambat dari pagi hari karena volume lalu lintas puncak terjadi pada sore hari. Total kecepatan rata-rata hari minggu dan senin yaitu 44,19 km/jam dan 42,19 km/jam lebih besar dari kecepatan arus bebas menurut MKJI yaitu 40,49 km/jam yang berarti dalam segi ini masih dalam kategori aman. Kapasitas jalan sebesar 2802,38 smp/jam. Derajat kejenuhan yang diperoleh yaitu 0,36 < 0,75 masih berada dalam level aman (MKJI 1997) serta menunjukkan juga bahwa tingkat pelayanan jalan (Level of Service/LOS) yang diperoleh dalam kategori kelas B yaitu arus lalu lintas masih stabil tapi kecepatan mulai terbatas.Kata Kunci: volume lalu lintas, kecepatan rata-rata, derajat kejenuha
PERILAKU LENTUR BALOK BETON BERTULANG KOMPOSIT BETON NORMAL-BETON NON PASIR TAMPANG T
Inovasi dan teknologi konstruksi beton sekarang ini sedang mengembangkan penggunaan beton non-pasir sebagai bahan bangunan di mana pembuatannya mudah, cepat dan dapat diaplikasikan pada struktur rumah sederhana. Untuk itu perlu penelitian perilaku dan karakteristik balok komposit antara beton normal dan beton non-pasir dalam memikul beban yang bekerja pada suatu struktur dengan blok tekan beton diusahakan di daerah sayap. Spesimen berupa 3 benda uji yang terdiri dari 1 buah balok T beton normal, 1 buah balok komposit T, dan 1 buah balok T beton non-pasir dan diuji dengan gaya vertikal yang sama besar pada sepertiga bentang. Beton normal dirancang fc=20 MPa dan beton non pasir dirancang dengan perbandingan volume semen kerikil 1:2. Data pengujian yang diambil berupa nilai beban, regangan dan lendutan dianalisis sehingga diperoleh kapasitas momen, kekakuan, daktilitas. Melalui pola retak akibat beban statis diperoleh jenis keruntuhannya. Selain itu juga dilakukan penelitian pendukung yaitu pengujian kuat lekat antara baja tulangan dan pengujian gaya geser friksi pada balok T komposit. Hasil pengujian lentur pada balok T BK-1 dan BNP- 1 dibandingkan terhadap beton BN-1 diperoleh penurunan kapasitas sebesar 1,35 % dan 8,53 %. Analisis daktilitas balok BK-1 dan BNP-1 bila dibandingkan terhadap balok BN-1 diperoleh penurunan daktilitas sebesar 4,98 % dan 12,68 %. Penurunan nilai kekakuan lentur balok BK-1 dan BNP- 1 mencapai 1,46 % dan 6,49 % terhadap balok BN-1. Pola retak balok BN-1, BNP-1 dan BK-1 adalah keruntuhan lentur dimana terjadi retak dimulai dari tengah bentang sampai sepertiga panjang balok dan semakin melebar menuju sumbu netral penampang. Hasil pengujian kuat lekat beton non-pasir dengan tulangan diameter 12 mm diperoleh sebesar 8,1848 MPa. Hasil pengujian geser friksi menunjukkan kuat geser sebesar 2,111MPa .Kata kunci : Komposit, Kapasitas Momen, Daktilitas, Kekakua
TINJAUAN MUTU AGGREGAT LAPISAN PONDASI BAWAH PADA PERKERASAN JALAN BATAS KOTA LHOKSEUMAWE - PANTON LABU
Jalan raya adalah suatu lintasan yang bertujuan untuk memindahkan manusia dan barang dari tempat asal ketujuan. Pembangunan sebuah jalan haruslah dapat menciptakan keadaan yang aman bagi pengendara dan pejalan kaki yang memakai jalan tersebut Agregat merupakan salah satu komponen utama dari struktur perkerasan jalan dan sangat berperan dalam menentukan mutu (kekuatan/ketahanan) dari jalan tersebut. Agregat terdiri darii kumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir baik yang berasal dari alam maupun buatan yang berbentuk mineral padat berupa ukuran besar maupun kecil. Dari hasil pengamatan banyak pembangunan sebuah jalan saat ini telah terjadi kerusakan tetapi masih dalam umur rencana. Penelitian ini bertujuan ingin melihat mutu agregat yang digunakan pada jalan tersebut dan kemudian membandingkan hasil pemeriksaan yang dilakukan dilaboratorium dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh kontraktor (pelaksana). Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Bina Marga. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan di laboratorium dan oleh kontraktor pelaksana untuk pengujian sifat fisis agregat keduanya telah memenuhi persyaratan sesuai yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga. Adapun yang membedakan hanya pada variasi persen lolos saringan saja. Dari hasil pengujian keseluruhannya dapat dikatakan bahwa mutu agregat hasil pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium Universitas Malikussaleh lebih baik bila dibandingkan dengan mutu agregat hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh kontraktor pelaksanaKata kunci :Agregat, , Mutu Agregat, LP
PERILAKU PELAT FERROFOAM CONCRETE DENGAN DAN TANPA POZOLAN AKIBAT BEBAN IMPACT
Abstrak Konstruksi non struktural rentan rusak akibat beban impact. Salah satu upaya menanganinya dengan menggunakan ferosemen yang mampu memberikan daya tahan kejut dengan baik. Matriks ferosemen dapat berinovasi menggunakan beton ringan yang telah banyak digunakan, salah satunya memakai busa yang dinamakan menjadi ferrofoam concrete. Tujuan penelitian ini mengamati kapasitas beban impact terhadap ferrofoam concrete dengan pasir pozolan dan tanpa pasir pozolan sehingga dapat digunakan pada konstruksi dengan tingkat ketahanan kejut yang besar. Sebanyak 4 benda uji pelat memiliki dimensi penampang 400 mm dengan ketebalan 40 mm digunakan dan 4 lapis wiremesh ditetapkan. Perbedaan SG 1200 kg/m³, 1400 kg/m³ dan 1600 kg/m³ menjadi pertimbangan dengan FAS 0.4 dan penambahan 10% pasir pozolan ditentukan. Pengujian beban impact diaplikasikan terhadap pelat dengan menjatuhkan bola besi sebesar 3 kg dari ketinggian 1 m di tengah pelat. Penentuan kerusakan dampak ditunjukkan dengan penyerapan energi disebabkan retak awal hingga retak keruntuhan dan defleksi selama peristiwa tumbukan. Hasil menunjukkan bahwa kinerja mortar ringan pada SG 1.4 Pozolan lebih baik dari SG 1.6 Pozolan, SG 1.2 Pozolan dan SG 1.4 Non Pozolan dalam menyerap energi akibat beban impact. Kata kunci: ferrofoam concrete, impact test, pozolan, drop-weight test Abstract Non-structural constructions are prone to damage due to impact loads. One of the efforts to overcome this problem is by using ferrocement which is able to provide good shock resistance. The ferrocement matrix can innovate using lightweight concrete which has been widely used, one of which uses foam which is known as ferrofoam concrete. The purpose of this study was to observe the impact load capacity on ferrofoam concrete with Pozolan sand and without Pozolan sand so that it can be used in constructions with a high level of shock resistance. A total of 4 plate specimens having a cross-sectional dimension of 400 mm with a thickness of 40 mm were used and 4 layers of wiremesh were assigned. The difference of SG 1200 kg / m³, 1400 kg / m³ and 1600 kg / m³ was taken into consideration with FAS 0.4 and the addition of 10% pozolan sand was determined. The impact load test is applied to the plate by dropping an iron ball of 3 kg from a height of 1 m in the center of the plate. Determination of impact damage is indicated by the energy absorption due to initial crack to crack collapse and deflection during the impact event. The results show that the performance of ferrofoam with pozolan at SG 1.4 is better than SG 1.6, SG 1.2 and SG 1.4 without pozolan in absorbing energy due to impact loads. Keywords: ferrofoam concrete, impact test, pozolan, drop-weight tes