Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    Evaluasi Keretanan Bangunan Berdasarkan Metode Floor Spectral Ratio Dengan Perekaman Mikrotremor

    No full text
    Abstrak   Yogyakarta merupakan daerah yang terletak di dekat pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga berpotensi tinggi terhadap aktivitas tektonik yang dapat memicu gelombang seismik di permukaan tanah. Gelombang ini dapat membahayakan kestabilan bangunan yang ada di atasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan struktur bangunan terhadap gempa bumi melalui analisis data mikrotremor yang merekam getaran alami bangunan. Studi dilakukan pada gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia, dengan 46 titik perekaman di dalam bangunan dan 2 titik referensi di tanah. Data mikrotremor diolah menggunakan perangkat lunak Geopsy untuk memperoleh nilai frekuensi dominan dan amplitudo. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) digunakan untuk menganalisis bangunan, sedangkan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk analisis tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bagian bangunan memiliki frekuensi natural yang mendekati frekuensi tanah, meningkatkan potensi resonansi. Nilai indeks resonansi tergolong sedang hingga tinggi, sementara indeks kerentanan secara umum menunjukkan bahwa gedung berada pada tingkat risiko kerusakan yang rendah terhadap getaran gempa.   Kata kunci: Mikrotremor, FSR, HVSR, Frekuensi, Indeks Resonansi, Indeks Kerentanan     Abstract   Yogyakarta is located near the convergence of the Eurasian and Indo-Australian plates, making it highly vulnerable to tectonic activity that can generate seismic waves on the ground surface. These waves pose a threat to the stability of buildings. This study aims to assess the vulnerability level of building structures to earthquakes by analyzing microtremor data that records the building\u27s natural vibrations. The research was conducted on the Faculty of Civil Engineering and Planning building at Universitas Islam Indonesia, using 46 recording points inside the building and 2 reference points on the ground. Microtremor data were processed using Geopsy software to obtain dominant frequency and amplitude values. The Floor Spectral Ratio (FSR) method was used for building analysis, while the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method was applied for ground analysis. The results show that several parts of the building have natural frequencies close to the ground frequency, increasing the potential for resonance. The resonance index values range from moderate to high, while the overall vulnerability index indicates a low risk of structural damage due to seismic vibrations.   Keywords: Microtremor, FSR, HVSR, Frequency, Resonance Index, Vulnerability IndexYogyakarta adalah daerah yang terletak berdekatan dengan lempeng Eurasia dan Hindia australia, hal ini menjadi salah satu ancaman jika sewaktu - waktu terjadi pergeseran lempeng tektonik sehingga menyebabkan terjadi perambatan gelombang seismik pada permukaan tanah. Perambatan gelombang pada permukaan tanah dapat menjadi ancaman terjadinya kerusakan pada bangunan. Oleh karena itu, dilakukah penelitian untuk mengetahui tingkat kerentanan bangunan berdasarkan perekaman data mikrotremor yang berasal dari getaran alami bangunan. Penelitian dilakukan pada gedung FTSP Universitas Islam Indonesia. Titik perekaman tersebar sebanyak 46 titik didalam gedung dan 2 titik perwakilan ditanah. Pengolahan data mikrotremor menggunakan sofware geopsy untuk mendapatkan nilai frekuensi bangunan, frekuensi tanah dan amplitudo. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis data mikrotremor pada bangunan, sedangkan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis data mikrotremor pada tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bagian bangunan memiliki kerentanan yang signifikan terhadap gempa bumi. Frekuensi natural bangunan dibeberapa lantai mendekati frekuensi natural tanah, yang artinya meningkatkan risiko resonansi dan potensi kerusakan struktur. Nilai indeks resonansi pada beberapa titik pengukuran berada dalam klasifikasi sedang hingga tinggi, hal ini menunjukkan bahwa bagian - bagian tersebut lebih rentan mengalami kerusakan saat terjadi gempa bumi. Sedangkan nilai indeks kerentanan mengindikasikan bahwa gedung memiliki risiko kecil terhadap kerusakan akibat getaran gempa bumi

    Studi Perbandingan Kinerja Seismik Bangunan Struktur Baja dengan Menggunakan Pushover dan Time History

    Full text link
    Abstrak Suatu bangunan pasti selalu dihadapkan dengan risiko keruntuhan dan kerusakan struktur salah satunya oleh peristiwa gempa. Sejauh ini analisis pushover dan analisis time history merupakan dua pendekatan yang sering dilakukan dalam mengevaluasi kinerja struktur suatu bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi suatu bangunan warehouse material konstruksi baja di Cikarang melalui dua pendekatan analisis nonlinear sebagai perbandingan hasil kinerja struktur. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan data analisis yang digunakan adalah data teknis, geometri dan data parameter gempa. Dari hasil analisis pushover dan time history, didapatkan tingkat kinerja struktur yang sama yaitu termasuk kategori Immediate Occupancy (IO) baik untuk displacement arah X dan arah Y. Target displacement yang didapat dari pushover X sebesar 0,092 m dan pushover Y 0,069 m. Sedangkan displacement maksimum yang didapat dari hasil time history arah X berdasarkan rekaman gempa El Centro adalah sebesar 0,016 m dan rekaman gempa Pulau Sikuai pada arah Y 0,0047 m. Kata Kunci: Gempa, Struktur Baja, Analisis Pushover, Analisis Riwayat Waktu, Kinerja Struktur  Abstract A building must always be faced with the risk of collapse and structural damage, one of which is by earthquake events, so far pushover analysis and time history analysis are two approaches that are often carried out in evaluating the structural performance of a building, this study aims to evaluate a steel construction material warehouse building in Cikarang through two nonlinear analysis approaches as a comparison of structural performance results. This research method is quantitative with the analysis data used are technical data, geometry and earthquake parameter data. From the results of pushover and time history analysis, the same level of structural performance is obtained, namely including the Immediate Occupancy (IO) category for both X-direction and Y-direction displacement. The target displacement obtained from the X pushover is 0.092 m and the Y pushover is 0.069 m. While the maximum displacement obtained from the results of the X pushover is 0.092 m and 0.069 m. While the maximum displacement obtained from the X direction time history results based on the El Centro earthquake recording is 0.016 m and the Sikuai Island earthquake recording in the Y direction is 0.0047 m. Keywords: Earthquake, Steel Structure, Pushover Analysis, Time History Analysis, Structure Performanc

    Studi Perbandingan Estimasi Tahun Konstruksi Jembatan di Indonesia Dengan Metode Remote Sensing

    Full text link
    Abstrak Jembatan adalah infrastruktur penghubung dua bagian daerah terputus karena adanya rintangan. Berdasarkan bentangnya, jembatan diklasifikasikan menjadi jembatan pendek dengan panjang L‰¤ 30 m, jembatan sedang dengan panjang 30 < L < 100 m, dan jembatan panjang dengan panjang L ‰¥ 100 m. Tahun 2019 Bina Teknik Jalan dan Jembatan telah mendata 18.648 jembatan di Indonesia yang sebagian besar belum diketahui tahun konstruksinya. Tahun konstruksi jembatan dibutuhkan sebagai proses identifikasi usia jembatan berkaitan dengan usia pakai, rencana sistem operasi dan manajemen pemeliharaan jembatan. Penelitian ini melakukan studi perbandingan tahun konstruksi data Bintek JalJem dengan estimasi tahun konstruksi jembatan menggunakan metodologi data satelit remote sensing NDVI dan NDWI. Hasil pembahasan mendapatkan estimasi tahun konstruksi jembatan dengan remote sensing kasus jembatan panjang, persentase sebaran NDWI mencapai 63,7%, NDVI mencapai 63,05%. Untuk kasus jembatan sedang, persentase sebaran NDWI mencapai 58,61%, NDVI mencapai 52,96%. Untuk kasus jembatan pendek, persentase sebaran NDWI mencapai 55,78%, NDVI mencapai 43,7%. Simpulan penelitian mengianjurkan menggunakan metode NDWI untuk mendapatkan hasil perkiraan tahun konstruksi lebih tepat tanpa kunjungan fisik ke lokasi. Untuk mendapatkan ketepatan estimasi tahun konstruksi disarankan menggunakan index lain yang memiliki keakuratan dengan lingkup tinjauan, dengan harapan dapat mengidentifikasi jenis material obyek tinjauan. Hal ini bertujuan membuat prediksi (forecasting) sistem operasi dan manajemen pemeliharaan konstruksi tinjauan. Kata kunci: estimasi tahun konstruksi, jembatan, remote sensing, NDWI, NDVI   Abstract A bridge is infrastructure that connect two parts of an area that separated by an obstacle. Based on its span, a bridge is classified into short bridges with a length of L‰¤ 30 m, medium bridges with a length of 30 < L < 100 m, and long bridges with a length of L ‰¥ 100 m. In 2019, Road and Bridge Engineering Development recorded 18,648 bridges in Indonesia, most of which the year of construction is unknown. The year of bridge construction is needed for identifying the age of the bridge in relation to its service life, operation system plan, and bridge maintenance management. This study conducts a comparison of the construction year data from Road and Bridge Engineering Development with estimated construction years using satellite remote sensing methodologies, specifically NDVI and NDWI. The results show that the estimated construction year for long-bridge cases using remote sensing, with an NDWI distribution percentage of 63.7% and an NDVI of 63.05%. For medium-bridge cases, the NDWI distribution percentage reaches 58.61%, while NDVI reaches 52.96%. For short-bridge cases, the NDWI distribution percentage is 55.78%, and the NDVI is 43.7%. The study concludes by recommending the use of the NDWI method to obtain more accurate estimates of the construction year without the need for physical visits to the to obtain accurate construction year estimates, it is also recommended to use other indices that are accurate with the scope of the review. It is hoped that this index can identify the type of material of the object being reviewed. This aims to make forecasting of the operation system and maintenance management for the surveyed construction. Keywords: estimated year of construction, bridge, remote sensing, NDWI, NDV

    Assessing Signalized Intersections During Rush Hours Through Geometric Planning and Road Widening Intersection

    Full text link
    Abstract   As consumers and businesses rely on the efficiency, safety, and reliability of transportation networks, the quality of urban life is at risk due to increasing traffic congestion. The current study aims to evaluate the capacity of an intersection by recalculating the existing condition and making changes with geometric improvements, namely symmetrizing the intersection arms and traffic separation islands and widening the intersection arms. Factors that affect traffic congestion at intersections in the Banda Aceh area, such as driver behavior, traffic light capacity, peak-hour drivers, and intersection design. This study compares on-site data with the performance of signalized intersections using various traffic methodologies. With a population of 261,000 in Banda Aceh, Simpang Surabaya is known as a busy route in urban life. Two techniques are used for the analysis: applying the Indonesian Highway Capacity Manual (MJKI) to the road widening and geometric re-planning. The results show that the intersection capacity is close to saturation, with a saturation value of 1.336 which exceeds 0.85 due to asymmetric traffic islands, high volumes, and long cycle times. Geometric changes and wider intersection roads reduce this value to 0.83. The results indicate that Simpang Surabaya (the intersection of Surabaya) needs to be widened immediately and properly. Further research is recommended to evaluate other intersections in the city of Aceh with quite busy traffic density to carry out calculations and handling by using different of MJKI accordingly.   Keywords: Traffic volume; signalized intersection, capacity; degree of saturation; traffic delay   Abstrak   Ketika konsumen dan perusahaan bergantung pada efisiensi, keamanan, dan keandalan jaringan transportasi, kualitas kehidupan perkotaan berada dalam risiko akibat meningkatnya kemacetan lalu lintas. Penelitian saat ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas persimpangan dengan menghitung ulang kondisi eksisting dan melakukan perubahan dengan perbaikan geometrik yaitu mensimetriskan lengan-lengan simpang dan pulau pemisah arus lalu lintas dan pelebaran lengan simpang. Faktor -faktor yang mempengaruhi kemacetan lalu lintas di persimpangan jalan di daerah Banda Aceh, seperti perilaku pengemudi, kapasitas lampu lalu lintas, pengemudi pada jam sibuk, dan desain persimpangan. Studi ini membandingkan data di lokasi dengan kinerja persimpangan yang dilengkapi sinyal menggunakan berbagai metodologi lalu lintas. Dengan 261.000 penduduk, Simpang Surabaya di Banda Aceh dikenal sebagai jalur sibuk dalam kehidupan perkotaan. Dua teknik digunakan untuk analisis: menerapkan manual kapasitas jalan raya Indonesia (MJKI) pada pelebaran jalan dan perencanaan geometrik ulang. Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas persimpangan mendekati jenuh, dengan nilai jenuh sebesar 1,336 yang melebihi 0,85 akibat pulau lalu lintas yang asimetris, volume tinggi, dan waktu siklus yang panjang. Perubahan geometris dan jalan persimpangan yang lebih lebar mengurangi nilai ini menjadi 0,83. Hasilnya menunjukkan bahwa Simpang Surabaya perlu segera diperlebar dengan baik. Penelitian selanjutnya dianjurkan mengevaluasi simpang dengan kepadatan yang cukup sibuk di daerah Aceh lainnya untuk dilakukan kalkulasi dan penanganan secepatnya.   Kata kunci: Volume lalulintas, simpang bersinyal, kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan lalu   linta

    Analisis Oceanografi Untuk Penanganan Abrasi Pantai Bengkulu

    Full text link
    Abstrak   Permasalahan abrasi pantai di beberapa wilayah yang ada di Indonesia menjadi salah satu fenomena alam yang secara alami terjadi, fenomena abrasi pantai yang terjadi di sepanjang wilayah pesisir Bengkulu, khususnya pada ruas jalan negara (Bintunan - Lais). Metode yang digunakan meliputi survei in situ dan wawancara dengan masyarakat setempat untuk mengumpulkan data mengenai kejadian abrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus laut dominan bergerak ke arah Selatan Tenggara dengan kecepatan rata-rata 0,81 m/s, yang berkontribusi pada proses transportasi sedimen. Tinggi gelombang yang terukur mencapai 2,3 m pada saat pasang, yang mempercepat proses abrasi. Selain itu, analisis sedimentasi menunjukkan bahwa jenis partikel dominan adalah pasir halus, dengan laju sedimentasi berkisar antara 25,16-34,25 mg/cm³/det. Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan pantai yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak abrasi dan melindungi infrastruktur yang ada.   Kata kunci: Abrasi, Oceanografi, Pesisir Bengkulu     Abstract   The problem of coastal abrasion in several regions in Indonesia is one of the natural phenomena that naturally occurs, the phenomenon of coastal abrasion that occurs along the coastal areas of Bengkulu, especially on the state road (Bintunan - Lais). The methods used include in situ surveys and interviews with local communities to collect data on abrasion events. The results showed that the dominant ocean currents moved towards South-Southeast with an average speed of 0,81 m/s, which contributed to the sediment transportation process. The measured wave height reaches 2,3 m at high tide, which accelerates the abrasion process. In addition, sedimentation analysis showed that the dominant particle type was fine sand, with sedimentation rates ranging from 25,16-34,25 mg/cm³/det. This research emphasizes the importance of sustainable beach management to reduce the impact of abrasion and protect existing infrastructure.   Keywords: Abrasion, Oceanography, Coastal BengkuluPermasalahan abrasi pantai dibeberapa wilayah yang ada di Indonesia menjadi salah satu fenomena alam yang secara alami terjadi, fenomena abrasi pantai yang terjadi di sepanjang wilayah pesisir Bengkulu, khususnya pada ruas jalan negara (Bintunan - Lais). Metode yang digunakan meliputi survei in situ dan wawancara dengan masyarakat setempat untuk mengumpulkan data mengenai kejadian abrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus laut dominan bergerak ke arah Selatan Tenggara dengan kecepatan rata-rata 0,81 m/s, yang berkontribusi pada proses transportasi sedimen. Tinggi gelombang yang terukur mencapai 2,3 m pada saat pasang, yang mempercepat proses abrasi. Selain itu, analisis sedimentasi menunjukkan bahwa jenis partikel dominan adalah pasir halus, dengan laju sedimentasi berkisar antara 25,16-34,25 mg/cm³/det. Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan pantai yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak abrasi dan melindungi infrastruktur yang ada. 

    Pengaruh Styrofoam sebagai Pengganti Sebagian Agregat Kasar terhadap Sifat Mekanik Self-compacting Concrete (SCC)

    Full text link
    Abstrak   Styrofoam merupakan salah satu solusi untuk mengurangi beban mati pada struktur. Styrofoam dalam beton dapat berperan sebagai pengisi udara yang menciptakan void, sehingga styrofoam dapat menghasilkan beton yang lebih ringan. Penelitian ini dilakukan dengan mengganti sebagian agregat kasar dengan 10%, 20%, dan 30% butiran styrofoam pada SCC (Self-compacting Concrete). Hasil uji menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar styrofoam, maka akan semakin rendah berat volume, kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, dan akan semakin tinggi daya serap air beton tersebut. Hasil optimum yang diperoleh berdasarkan pengujian kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur ada pada beton dengan kadar styrofoam 10%, dengan hasil pengujian berturut-turut yaitu, 20,6227 MPa, 2,348 MPa, dan 4,3148 MPa, sedangkan untuk Penyerapan air tertinggi terjadi pada BS3 (styrofoam 30%), yang menghasilkan 12,4450% peningkatan daya serap.    Kata kunci: Styrofoam, berat volume, sifat mekanik, self compacting concrete (SCC)   Abstract   Styrofoam is one of the solutions to reduce dead loads on structures. Styrofoam in concrete can act as an air filler that creates voids, so styrofoam can produce lighter concrete. This research was carried out by replacing part of the coarse aggregate with 10%, 20%, and 30% styrofoam granules in SCC (Self-compacting Concrete). The test results show that the higher the styrofoam content, the lower the volume weight, compressive strength, tensile strength, bending strength, and the higher the water absorption of the concrete. The optimum results obtained based on the testing of compressive strength, tensile strength, and flexural strength were on concrete with a styrofoam content of 10%, with consecutive test results of 20.6227 MPa, 2.348 MPa, and 4.3148 MPa, while for the highest water absorption occurred in BS3 (30% styrofoam), which resulted in a 12.4450% increase in absorbency.    Kata kunci: Styrofoam, weight volume, mechanical properties, self-compacting concrete (SCC)Styrofoam merupakan salah satu solusi untuk mengurangi beban mati pada struktur. Styrofoam dalam beton dapat berperan sebagai pengisi udara yang menciptakan void, sehingga styrofoam dapat menghasilkan beton yang lebih ringan. Penelitian ini dilakukan dengan mengganti sebagian agregat kasar dengan 10%, 20%, dan 30% butiran styrofoam pada SCC (Self compacting Concrete). Hasil uji menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar styrofoam, maka akan semakin rendah berat volume, kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, dan akan semakin tinggi daya serap air beton tersebut. Hasil optimum yang diperoleh berdasarkan pengujian kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur ada pada beton dengan kadar styrofoam 10%, dengan hasil pengujian berturut-turut yaitu, 20,6227 MPa, 2,348 MPa, dan 4,3148 MPa, sedangkan untuk Penyerapan air tertinggi terjadi pada BS3 (styrofoam 30%), yang menghasilkan 12,4450% peningkatan daya serap

    Efektivitas Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Melalui Program Dana Desa Kabupaten Pidie Jaya

    Full text link
    Abstrak Pembangunan infrastruktur perdesaan yang efektif merupakan prasarana desa yang diharapkan oleh masyarakat desa untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya, maka pembangunan infrastruktur yang efektif dan berkualitas melalui program dana desa menjadi ujung tombak dalam pembangunan desa. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi dengan cara menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Pidie Jaya dengan menganalisis data dari tahun 2019-2023. Hasil dari analisis adalah efektivitas pembangunan infrastruktur perdesaan melalui program dana desa ditinjau dari aspek waktu sebesar 75,63% dengan kategori Cukup Efektif, dan ditijau dari aspek biaya yaitu 98,82% dengan kategori Efektif, sedangkan tinggi kualitas infrastruktur pada pembangunannya ditinjau dari aspek kualitas mutu beton dengan hasil berkualitas Baik, ditinjau dari aspek arsitektur/estetika dengan hasil berkualitas Baik, dan tinjau dari aspek dimensi proyek dengan hasil juga berkualitas Baik sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur perdesaan melalui program dana desa di Kabupaten Pidie Jaya sudah Efektif dan berkualitas Baik. Kata kunci: Efektivitas, Kualitas, Pembangunan infarstruktur, Dana desa. Abstract Effective rural infrastructure development is a village infrastructure that is expected by rural communities to be able to improve their standard of living. Therefore, effective and quality infrastructure development through the village fund program is the spearhead in village development. This study uses a combination method by combining quantitative and qualitative methods. This study is located in Pidie Jaya Regency by analyzing data from 2019-2023. The results of the analysis in this study are the effectiveness of rural infrastructure development through the village fund program in terms of time aspect of 75.63% with the category of Quite Effective, and in terms of cost aspect of 98.82% with the category Effective. While the high quality of infrastructure in its development is reviewed from the aspect of concrete quality with good quality results, reviewed from the aspect of architecture/aesthetics with good quality results, and reviewed from the aspect of project dimensions with results also of Good quality so it can be concluded that rural infrastructure development through the village fund program in Pidie Jaya Regency is Effective and of Good quality Keywords: Effectiveness, Quality, Infrastructure development, Village funds

    Merancang Pemodelan Gerusan Lokal pada Pilar Jembatan Menggunakan Metode HEC-18 Berbasis Python

    Full text link
    Abstrak   Gerusan lokal mengancam kestabilan pilar jembatan saat banjir, sementara perhitungan manual metode HEC-18 lambat dan rentan kesalahan, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi dan arus sungai deras. Penelitian bertujuan mengembangkan model perhitungan gerusan berbasis metode HEC-18 untuk mendukung analisis yang lebih cepat dan akurat. Metode ini diterapkan dalam pengembangan aplikasi berbasis Python yang dilengkapi dengan visualisasi 2D dan potongan, sehingga mempermudah analisis dampak gerusan terhadap jembatan secara lebih intuitif.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ini tidak hanya mempercepat proses perhitungan dibandingkan metode manual, tetapi juga secara signifikan mengurangi potensi kesalahan manusia serta memberikan solusi yang lebih efektif dan akurat dalam menjaga keberlanjutan jembatan. Kesimpulnya adalah penelitian ini berhasil mengembangkan model perhitungan gerusan berbasis metode HEC-18 dalam bentuk aplikasi untuk mendukung analisis yang lebih cepat dan akurat.   Kata kunci: simulasi numerik, pemodelan hidraulika, keamanan jembatan, analisis aliran sungai, analisis fondasi jembatan.     Abstract   Local scour threatens the stability of bridge piers during floods, while manual calculation using the HEC-18 method is slow and prone to errors, especially in areas with high rainfall and strong river currents. This research aims to develop a scour calculation model based on the HEC-18 method to support faster and more accurate analysis. This method is implemented in a Python-based application equipped with 2D and cross-sectional visualizations, making it easier to analyze the impact of scour on bridges more intuitively. The results show that this application not only accelerates the calculation process compared to the manual method but also significantly reduces the potential for human error and provides a more effective and accurate solution in maintaining bridge sustainability. The conclusion is that this research successfully develops a scour calculation model based on the HEC-18 method in the form of an application to support faster and more accurate analysis.   Keywords: numerical simulation, hydraulic modeling, bridge safety, river flow analysis, bridge foundation analysis.Gerusan lokal mengancam kestabilan pilar jembatan saat banjir, sementara perhitungan manual metode HEC-18 lambat dan rentan kesalahan, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi dan arus sungai deras. Penelitian bertujuan mengembangkan model perhitungan gerusan berbasis metode HEC-18 untuk mendukung analisis yang lebih cepat dan akurat. Metode ini diterapkan dalam pengembangan aplikasi berbasis Python yang dilengkapi dengan visualisasi 2D dan potongan, sehingga mempermudah analisis dampak gerusan terhadap jembatan secara lebih intuitif.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ini tidak hanya mempercepat proses perhitungan dibandingkan metode manual, tetapi juga secara signifikan mengurangi potensi kesalahan manusia serta memberikan solusi yang lebih efektif dan akurat dalam menjaga keberlanjutan jembatan. Kesimpulnya adalah penelitian ini berhasil mengembangkan model perhitungan gerusan berbasis metode HEC-18 dalam bentuk aplikasi untuk mendukung analisis yang lebih cepat dan akurat

    Pemanfaatan Arang Tempurung Kelapa Sebagai Substitusi Sebagian Aspal Pada Lapisan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC)

    Full text link
    Abstrak   Tempurung kelapa merupakan limbah padat yang mudah ditemukan tetapi belum termanfaatkan dengan baik. Limbah tempurung kelapa hasil pembakaran susah untuk terurai sehingga akan mencemari lingkungan. Tempurung kelapa memiliki senyawa karbon yang mempunyai kemiripan dengan dengan karbon aspal yang aktif ketika dipanaskan dengan persentase kemiripan sebesar 91% dengan. Karbon adalah senyawa utama penyusun aspal berfungsi sebagai pengikat antar partikel yang beragam. Pemanfaatan senyawa karbon tempurung kelapa diharapkan dapat mengurangi limbah padat dan meningkatkan mutu serta kualitas aspal pada lapisan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variasi Arang Tempurung Kelapa (ATK) yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi parameter marshall pada lapisan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC). Metode penelitian adalah metode eksperimental dengan metode deduktif. Hasil penelitian variasi ATK sebesar 5%, 10% dan 15% dengan benda uji setiap variasi sebanyak 3 sampel dan total benda uji variasi Arang Tempurung Kelapa (ATK) adalah 9 benda uji diperoleh hasil pengujian parameter marshall dengan seluruh variasi benda uji dapat dimanfaatkan pada campuran perkerasan jalan dan telah memenuhi seluruh Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2.   Kata kunci: Arang Tempurung Kelapa, Laston AC-BC, Parameter Marshall, Substitusi Sebagian Aspal.   Abstract   Coconut shell is a solid waste that is easy to find but has not been utilized properly. Coconut shell waste from burning is difficult to decompose so it will pollute the environment. Coconut shell has a carbon compound that is similar to asphalt carbon which is active when heated with a similarity percentage of 91% with. Carbon is the main compound that makes up asphalt and functions as a binder between various particles. The utilization of coconut shell carbon compounds is expected to reduce solid waste and improve the quality of asphalt in the Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) layer. The purpose of this study was to determine the variation of Coconut Shell Charcoal (ATK) that can be utilized to meet the Marshall parameters in the Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) layer. The research method is an experimental method with a deductive method. The results of the ATK variation research of 5%, 10% and 15% with 3 samples of each variation test object and the total test object of the Coconut Shell Charcoal (ATK) variation is 9 test objects. The results of the Marshall parameter test with all variations of test objects can be used in road pavement mixtures and have met all of the 2018 General Bina Marga Specifications Revision 2.   Keywords: Coconut Shell Charcoal, Laston AC-BC, Marshall Parameters, Partial Asphalt Substitutio

    Self Compacting Concrete dengan Serat Limbah Scrap Baja dan Abu Sekam Padi

    No full text
    Abstrak   Beton merupakan material getas yang mempunyai kuat tekan tinggi, namun memiliki kuat tarik rendah.  Kelemahan ini dapat diantisipasi dengan penggunaan serat sebagai micro reinforcement pada beton. Penelitian ini menguji karakteristik beton Self Compacting Concrtete (SCC) dengan campuran 5% Abu Sekam Padi (ASP) yang diberikan tambahan berbagai dosis serat limbah Scrap Baja, yaitu 0%, 0,25 %, 0,50 %, 0,75% , dan 1% dari berat beton. Pengujian Kuat Tekan, Kuat Tarik Belah, Tegangan-Regangan, dan Modulus Elastisitas dilakukan dengan menggunakan benda uji silinder beton diameter 15 cm, tinggi 30 cm. Sedangkan, Kuat Lentur beton diuji dengan benda uji balok berukuran 10 cm x 10 cm x 100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ASP sebesar 5% dan limbah serat baja sampai dengan 0,75% dapat meningkatkan Kuat Tekan, Kuat Lentur, Kuat Tarik, Modulus Elastisitas, dan Regangan maksimum pada beton.   Kata kunci: Serat Limbah Scrap Baja, Abu Sekam Padi, Kuat Tekan, Kuat Lentur, Modulus Elastisitas   Abstract   Concrete is a brittle material with high compressive strength but low tensile strength. This weakness can be addressed by adding fibers as micro-reinforcement within the concrete mixing. This research investigates the characteristics of Self-Compacting Concrete (SCC) with a 5% Rice Husk Ash (RHA) mixture, supplemented by varying dosages of waste steel scrap fibers: 0%, 0.25%, 0.50%, 0.75%, and 1% of the concrete weight. Compressive Strength, Split Tensile Strength, Stress-strain behavior, and Modulus of Elasticity were tested using cylindrical concrete specimens with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm. Additionally, the Flexural Strength of the concrete was evaluated using beam specimens 10 cm x 10 cm x 100 cm. The results indicate that the addition of 5% RHA and steel fiber waste up to 0.75% can significantly enhance the compressive strength, flexural strength, tensile strength, modulus of elasticity, and maximum strain of the concrete.   Keywords: Fiber of streel scrap waste, Rice Husk Ash, Compressive Strength, Flexural Strength, Modulus of ElasticityBeton merupakan material getas yang mempunyai kuat tekan tinggi, namun memiliki kuat tarik rendah.  Kelemahan ini dapat diantisipasi dengan penggunaan serat sebagai micro reinforcement pada beton. Penelitian ini menguji karakteristik beton Self Compacting Concrtete (SCC) dengan campuran 5% Abu Sekam Padi (ASP) yang diberikan tambahan berbagai dosis serat limbah Scrap Baja, yaitu 0%, 0,25 %, 0,50 %, 0,75% , dan 1% dari berat beton. Pengujian Kuat Tekan, Kuat Tarik Belah, Tegangan-Regangan, dan Modulus Elastisitas dilakukan dengan menggunakan benda uji silinder beton diameter 15 cm, tinggi 30 cm. Sedangkan, Kuat Lentur beton diuji dengan benda uji balok berukuran 10 cm x 10 cm x 100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ASP sebesar 5% dan limbah serat baja sampai dengan 0,75% dapat meningkatkan Kuat Tekan, Kuat Lentur, Kuat Tarik, Modulus Elastisitas, dan Regangan maksimum pada beton

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇