Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
395 research outputs found
Sort by
Analisa Daya Dukung Tiang Pancang Berdasarkan Hasil Kalendering Pada Proyek Simpang Susun Romokalisari Zona 2 STA 0+900
Abstrak Tiang pancang merupakan salah satu jenis pondasi dalam yang berfungsi untuk menyalurkan beban struktur kelapisan tanah keras. Proyek pembangunan jalan tol Romokalisari ini berlokasi di jalan tol perbatasan kota Surabaya dan Gresik yang merupakan salah satu bentuk dari upaya percepatan dalam pembangunan infrastruktur yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung daya dukung tiang pancang yang diperoleh dari hasil kalendering pada proyek Romokalisari zona 2 STA 0+900 dengan menggunakan formula Hiley, WIKA, Engineering New Record ENR, Navy - McKay ataupun formula Danish. Berdasarkan hasil kalendering didapatkan nilai kapasitas daya dukung tiang pancang rata-rata terbesar yaitu dengan mengunakan formula WIKA yaitu sebesar 159,08 ton. Formula WIKA memberikan nilai daya dukung tiang pancang terbesar dibanding metode lainnya. Untuk nilai kapasitas daa dukung tiang pancang terendah yaitu menggunakan formula Navy MC-Kay yaitu sebesar 90,90 ton. Dari hasil perhitungan daya dukung tiap formula didapatkan nilai Qu rata - rata tiap formula yang masih memenuhi daya dukung ijin dengan hasil Qu Hiley 135,22 ton, Qu WIKA 159,08 ton, Qu ENR 109,01 ton, Qu Navy-MCKay 90,90 ton, dan Qu Danish 128,17 ton. Sehingga daya dukung tiang pancang pada proyek Romokalisari zona 2 STA 0+900 dapat dikatakan aman. Kata kunci: Pondasi, tiang pancang, daya dukung tiang pancang, kalendering Abstract Pile is one type of deep foundation that serves to channel the load of the structure to the hard soil layer. The location of Romokalisari toll road project is on Surabaya - Gresik which is as one of infrastructure development in the East Java Province. The purpose of this study is to calculate the carrying capacity of piles obtained from the results of calendaring in the Romokalisari zone 2 Project STA 0+900 using the Hiley, WIKA, Engineering New Record ENR, Navy - McKay, and the Danish formulas. Based on the results of the calendaring, the WIKAs formula is commonly used for the calculation of the carrying capacity of piles, which is 159,08 tons. The WIKA formula is largest of the carriying capacity. From the result of calculating the carrying capacity of each formula, the average Qu value of each formula that still meets the license carrying capacity with the results of Qu Hiley 135.22 tons, Qu WIKA 159.08 tons, Qu ENR 109.01 tons, Qu Navy-MCKay 90 .90 tons, and Qu Danish 128.17 tons. So that the carrying capacity of the piles in the Romokalisari zone 2 Project STA 0+900 can be said to be safe. Keywords: Fondation, piles, pile carrying capacity, calendarin
Evaluasi Perkerasan Menggunakan Metode Bina Marga 1990 Dengan Metode Pavement Condition Index (PCI) Dalam Penentuan Pekerjaan Preservasi Jalan
Abstrak Status Jalan Pasir Putih Kota Pekanbaru merupakan jalan nasional dengan panjang jalan adalah 18,2 kilometer terletak diantara Simpang Kaharudin Nasution dan Simpang Kayu Ara yang juga sebagai urat nadi perekonomian masyarakat Kota Pekanbaru, karena itu perlu dijaga kondisi kemantapan jalan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kerusakan dan kegiatan preservasi jalan yang tepat untuk diterapkan di ruas jalan Pasir Putih Kota Pekanbaru. Metode Bina Marga (1990) dan Pavement Condition Index (PCI) menjadi salah satu cara untuk mengetahui bagaimana kondisi jalan. Pada penelitian ini, untuk metode Bina Marga (1990) hasilnya 55% panjang ruas jalan memiliki nilai urutan prioritas (UP) 0-3 dengan rekomendasi kegiatan preservasi peningkatan, 22,5% memiliki nilai UP >7 dengan rekomendasi pemeliharaan rutin, dan 22,5% memiliki UP 4-6 dengan rekomendasi pemeliharaan berkala. Kemudian untuk hasil perhitungan berdasarkan metode PCI, sebanyak 67% panjang ruas jalan memiliki nilai PCI 0-55 dengan rekomendasi kegiatan preservasi adalah rekonstruksi, 7% memiliki nilai PCI 55-70 dengan rekomendasi peningkatan struktur, sebanyak 8% memiliki nilai PCI 70-85 dengan rekomendasi pemeliharaan berkala, dan 20% memiliki nilai PCI 80-100 dengan rekomendasi pemeliharaan rutin. Kata kunci: Jalan nasional, bina marga (1990), metode PCI, preservasi jalan Abstract Status of Pasir Putih Road, in Pekanbaru City is a national road with a road length of 18.2 kilometers located between the Kaharudin Nasution intersection and the Kayu Ara intersection which is also the economic lifeblood of the Pekanbaru community, road existing condition necessary to maintain the steady condition of the road. This study aims to determine the type of damage and the right road preservation activities to be applied. Bina Marga method (1990) and the Pavement Condition Index (PCI) are one way to find out how the condition of Jalan Pasir Putih in Pekanbaru City is. In this study, for the Bina Marga method (1990) the results showed that 55% of the length of the road had a priority order value (UP) of 0-3 with recommendations for increased preservation activities, 22.5% had a UP value of >7 with recommendations for routine maintenance, and 22, 5% have a UP of 4-6 with periodic maintenance recommendations. Then for the results of calculations based on the PCI method, 67% of the length of the road has a PCI value of 0-55 with a recommendation for preservation activities is reconstruction, 7% has a PCI value of 55-70 with a recommendation for structural improvement, as many as 8% have a PCI value of 70-85 with a periodic maintenance recommendations, and 20% had a PCI score of 80-100 with routine maintenance recommendations. Keywords: National road, bina marga (1990), PCI method, road preservatio
Identifikasi Sistem Manajemen Mutu Berbasis ISO 9001:2015 Pada Perusahaan Penyedia Jasa Konstruksi Di Kota Bengkulu
Abstrak Standar mutu yang digunakan oleh dunia konstruksi adalah standar ISO 9001:2015. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi arah perkembangan penerapan sistem manajemen mutu, faktor pendorong dan faktor hambatan dalam penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001:2015. Populasi dalam penelitian berjumlah 12 perusahaan sesuai batasan masalah dan sampel penelitian berjumlah 36 orang, yang diambil dari 3 orang responden per perusahaan. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8% perusahaan yang sudah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 dan bersertifikat, 8% perusahaan sudah mengarah pada penerapan, dan 84% perusahaan belum menerapkan sama sekali. Faktor pendorong utama yaitu adanya tuntutan untuk memiliki sertifikat ISO sebagai syarat proses pelelangan proyek konstruksi jalan dan adanya persyaratan dari Kementerian PUPR. Faktor hambatan utama yaitu kurangnya dana untuk implementasi sistem manajemen mutu dan kurangnya sumber daya yang memenuhi standar. Kata kunci: Sistem manajemen mutu, ISO 9001:2015, perusahaan penyedia jasa konstruksi, faktor pendorong, faktor hambatan Abstract The quality standard used by the construction world is the ISO 9001:2015 standard. The objective of this research was to identify the direction of the implementation development of a quality management system, the driving factors, and the inhibiting factors in the implementation of a quality management system based on ISO 9001:2015 in a road construction service provider companies in Bengkulu City. The population in this research consisted of 12 companies according to the problem boundaries and the research sample consisted of 36 people, which were taken from 3 respondents per company. The study was conducted by distributing questionnaires and then analyzed using descriptive statistical analysis namely validity and reliability test. The results showed that there were 8% of companies had implemented the ISO 9001:2015 quality management system and were certified, 8% of companies were already on the way to implementation, and 84% of companies have not implemented it at all. The main driving factor was the demand to have an ISO certification as a condition for the auction process and the requirements from the Ministry of Public Works. The main constraining factors were the lack of funds and the lack of resources that meet the standards. Keywords: Quality management system, ISO 9001:2015, construction service provider, driving factors, inhibiting factor
Pengaruh Variasi Jarak Baut Terhadap Perilaku Geser Balok Beton Bertulang yang diperkuat dengan Panel Mortar Geopolimer
Abstrak Penelitian ini menyajikan perilaku balok beton bertulang yang diperkuat dengan panel mortar geopolimer dan serat Polyvinyl Alcohol (PVA). Benda uji terdiri atas 3 buah balok dengan dimensi 150x300 mm dan panjang 2300 mm. Panel mortar geopolimer dipasang pada bentang geser balok beton bertulang dengan variasi jarak antar baut 200 mm (GM-200) dan 300 mm (GM-300). Hasil penelitian dibandingkan berdasarkan pendekatan beban-lendutan, beban maksimum, perilaku beban regangan tulangan dan beton, dan pola retak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas geser balok meningkat sebesar 34.98% (GM-W-200) dan 28.81% (GM-W-300) dibandingkan dengan balok kontrol (CB). Selain itu, variasi jarak baut juga berpengaruh signifikan terhadap pola kegagalan balok. Balok dengan jarak antar baut 200 mm menunjukan pola kegagalan lentur dan daktail, sementara balok dengan jarak antar baut 300 mm menunjukan pola kegagalan geser yang getas. Kata kunci: beton bertulang, jarak antar baut , mortar geopolimer, perkuatan Abstract This study presents the behavior of reinforced concrete (RC) beams strengthened with geopolymer mortar panels and Polyvinyl Alcohol (PVA) fibers. fibers. The specimens consist of three RC beams with dimensions of 150x300 mm and length of 2300 mm. Geopolymer mortar panels are installed on shear spans of RC beams with variations in the distance between the bolts of 200 mm (GM-W-200) and 300 mm (GM-W-300). The study results were compared with the control beam (CB) without strengthening. The shear behavior of the beams was discussed based on the load-deflection behavior, the maximum load, the reinforcement and concrete stress-strain behavior, and the crack pattern. The results indicated that the shear capacity of the strengthened beams increased by 34.98% (GM-W-200) and 28.81% (GM-W-300) compared to the control beam (CB). In addition, differences in bolt spacing had a significant influenceon beam failure patterns. Beams with a bolt sapcing of 200 mm exhibited ductile bendingfailure, whereas beams with a bolt spacing of 300 mm showed brittle shear failure. Keywords: bolt spacing, mortar geopolymer, reinforced concrete, reinforcemen
Strategi Penerapan Efektivitas Digital Construction Di Masa Rebound
Abstrak Pandemi Covid-19 telah melemahkan berbagai sektor di Indonesia, tidak terkecuali sektor konstruksi. Salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia adalah sektor konstruksi. Adapun tujuan tulisan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami strategi dalam penerapan digital construction dalam pelaksanaan konstruksi di masa rebound yaitu saat di mana masa pandemi sudah berangsur-angsur membaik. Penelitian ini adalah proyek konstruksi di Provinsi Bali melalui LPSE (layanan pengadaan secara elektonik) dari Maret 2020 s.d Agustus 2021, yaitu sebanyak 31 paket. Pendekatan dilakukan melalui penelitian kuantitatif deskriptif dengan menganalisis faktor internal serta eksternal yang mencakup kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman berdasarkan tahapan analisis SWOT. Pada penerapan digital construction, direkomendasikan untuk menggunakan strategi agresif dalam pelaksanaan konstruksi di masa rebound. Strategi ini menggunakan kekuatan yang ada di kontraktor untuk memanfaatkan peluang, yaitu dengan memaksimalkan anggaran keuangan untuk memfasilitasi penggunaan perangkat, memaksimalkan kualitas SDM dalam pemanfaatan teknologi digitalconstruction, menjaga kepercayaan dari owner serta meningkatkan kerja sama dengan partner kerja maupun pemasok. Kata kunci: Digital construction, eksternal, internal, rebound, SWOT. Abstract The Covid-19 pandemic has weakened various sectors in Indonesia, including the construction sector. One sector that contributes to the Indonesian economy is the construction sector. The purpose of this paper is to find out and understand the strategy in implementing digital construction in the implementation of construction in the rebound period, which is a time when the pandemic period has gradually improved. The research was conducted in the Province of Bali, whose data was collected through the LPSE (electronic procurement service) from March 2020 to August 2021, which consisted of 31 packages. The approach is carried out through descriptive quantitative research by analyzing internal and external factors that include strengths, weaknesses, opportunities and threats based on the SWOT analysis stages. In the application of digital construction, it is recommended to use an aggressive strategy in the implementation of construction in the rebound period. This strategy uses the strengths that exist in contractors to take advantage of opportunities, namely by maximizing financial budgets to facilitate the use of software, maximizing the quality of human resources in the use of digital construction technology, maintaining trust from owners and increasing collaboration with work partners and suppliers. Keywords: Digital construction, external, internal, rebound, SWO
Kajian Penentuan Kuat Tekan Beton Berdasarkan Nilai Pantul Palu dengan Memvariasikan Pola Titik Pantul
Abstrak Indikasi kekuatan tekan beton dapat ditentukan dengan Destructive Test (DT) dan Non-Destruktive Test (NDT). Core Drill (CD) termasuk DT dapat menyebabkan perlemahan kekuatan elemen struktur namun hasilnya dapat menginformasikan mutu beton yang representatif. Hammer Test (HT) relatif mudah dilaksanakan namun hasilnya sering dipertanyakan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan formulasi kuat tekan dalam fungsi nilai pantul palu dengan eksperimen menggunakan pelat beton ukuran 30x75x15 cm dengan komposisi berat 1PCC:2,697Ps:2,201 Kr, w/c sebesar 0,5. HT pola segiempat dan radial dilakukan setelah beton mengeras. Spesimen silinder 80x150 mm diambil dengan CD pada umur 14, 21, 28 dan 35 hari selanjutnya diuji tekan. Penelitian ini menyimpulkan untuk HT α sebesar 90o pola segiempat, kuat tekan dengan formulasi , Rn rerata nilai pantul pusat dan empat pada sudut bujur sangkar dengan sisi minimum 3,6 cm, serta dalam pola radial dengan formulasi , Rn rerata nilai pantul pada pusat pengujian dan 4 lainnya keliling merata dalam radius minimum 2,5cm dari pusat. Kata kunci: Kuat tekan beton, hammer test, core drill, destructive test, non- destructive test Abstract Indication of concrete compressive strength can be determined by Destructive Test (DT) and Non-Destructive Test (NDT). Core Drill (CD) including DT can cause a weakening of the strength of structural elements, but the results can inform representative concrete quality. The Hammer Test (HT) is relatively easy to perform, but the results are often questionable. This study aims to obtain the formulation of compressive strength in terms of hammer reflection value, by experimenting with a concrete plate measuring 30x75x15 cm with a weight composition of 1PCC:2.697Ps:2.201Kr, w/c as 0.5. HT rectangular and radial patterns are carried out after the concrete hardens. Cylindrical specimens of 80x150 mm were taken with a CD at the age of 14, 21, 28 and 35 days and then compressed. This study concludes that for HT α as-90o quadrilateral pattern, compressive strength with the formulation , Rn mean central and four reflected values at the corners of a square with a minimum side of 3.6cm, as well as in a pattern radial with the formulation , Rn is the average reflectance value at the center of the test and the other 4 circumferences evenly within a minimum radius of 2.5cm from the center. Keywords: Concrete compressive strength, Hammer Test, Core drill, Destructive Test, Non-Destructive Test.Abstrak Indikasi kekuatan tekan beton dapat ditempuh dengan Destructive Test (DT) dan Non Desrtructive Test (NDT). Core drill termasuk DT dilakukan dengan mengebor elemen struktur sehingga menyebabkan perlemahan kekuatan elemen struktur, namun pengujian ini dapat menginformasikan mutu beton yang representatif. Hammer test termasuk NDT yang dapat dilakukan sendiri, tidak memerlukan waktu lama karena alatnya praktis dan tidak memerlukan tingkat keahlian tinggi, namun hasil pengujian dianggap kurang akurat karena hanya menginformasikan kuat tekan beton pada permukaan saja. Penelitain ini bertujuan untuk menentukan korelasi kuat tekan beton berdarsarkan core drill dan hammer test. Penelitan dilakukan metode eksperimen menggunakan pelat beton ukuran 30x75x15cm dengan komposisi dalam perbandingan berat 1PCC : 2,697Ps : 2,201Kr, w/c=0,5 dan pola titik pantul segiempat dan radial disiapkan setelah beton mengeras. Hammer test (α=-90o) dan core drill dilakukan pada umur 14, 21, 28 dan 35 hari. Penelitian ini menyimpulkan kuat tekan beton yang ditentukan dengan Hammer Test cukup dengan mengambil 5 titik, 1 titik pada pusat pengujian dan 4 titik disekelilingnya berjarak 25-30 mm. Kuat tekan pola radial-diagonal ditentukan dengan formulasi fcm=8E-05Rn3,9926 dan untuk posisi salib sumbu fcm=6E-05Rn4,0805, dengan fcm = kuat tekan kubus beton dan Rn = rerata 5 nilai pantul palu dalam arah (α) =-90
Analisis Tinggi Muka Air Kanal Bandara Kota Tarakan Akibat Pengaruh Pasang Surut Menggunakan HEC-RAS 6.0
Abstrak Banjir akibat air pasang atau banjir rob merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di wilayah pesisir yang menggenangi bagian daratan di wilayah pesisir yang memiliki ketinggian (elevasi) lebih rendah dari muka air laut pasang tinggi. Kejadian banjir akibat pasang ini sudah memasuki area pemukiman penduduk di beberapa titik lokasi di Tarakan termasuk di sekitar kanal bandara Kota Tarakan. Berdasarkan pengamatan lapangan terdapat pemukiman warga di sisi kiri aliran kanal bandara Kota Tarakan, sehingga genangan mengganggu aktivitas warga. Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinggi muka air pada penampang kanal bandara Kota Tarakan akibat pasang surut dan banjir rancangan periode ulang 5 dan 10 tahunan. Metode yang digunakan untuk menganalisis tinggi muka air kanal bandara Kota Tarakan yakni menggunakan software HEC-RAS. Berdasarkan hasil analisis tinggi muka air menggunakan HEC-RAS diperoleh tinggi muka air penampang kanal bandara Kota Tarakan akibat banjir 5 tahunan dan 10 tahunan yang terjadi bersamaan dengan pasang tertinggi (HHWL) diperoleh tinggi muka air pada penampang sta 0+100 - 1+000 sebesar 3,8 m dan penampang 1+100 - 1+500 sebesar 3,81 m. Dari hasil penelitian ini maka disarankan pemerintah membangun pengendalian banjir dengan membuat tanggul dengan elevasi +4,5 m dari datum muka air terendah (LLWL). Kata kunci: Banjir rancangan, HEC-RAS, pasang surut, tinggi muka air, Abstract Floods caused by high tides or tidal floods are one of the disasters that often occur in coastal areas that inundate the mainland areas in coastal areas that have lower elevations than the high tide sea level. The occurrence of tidal floods has entered residential areas at several locations in Tarakan, including around the Tarakan City airport canal. Based on field observations, there are residential areas on the left side of the Tarakan City airport canal, so the inundation disturbs the activities of the residents. Based on this problem, this study aims to determine the water level in the section of the Tarakan City airport canal due to tidal floods and floods with a 5-year and 10-year return period. The method used to analyze the water level of the Tarakan City airport canal is by using the HEC-RAS software. Based on the analysis results of the water level using HEC-RAS, the water level in the Tarakan City airport canal section due to a 5-year and 10-year flood that occurs simultaneously with the highest tide (HHWL) was obtained the water level at the sta 0+100 - 1+000 section is 3,8 m and the section of 1+100 - 1+500 is 3,81 m. From the results of this study, it is recommended that the government build flood control by constructing embankments with an elevation of +4,5 m from the lowest water level datum (LLWL). Keywords: Flood design, HEC-RAS, tides, water level
Aplikasi Metode Vertical Electrical Sounding untuk Pendugaan Kedalaman dan Ketebalan Lapisan Akuifer di Kota Langsa
Abstrak Penyediaan sumber baku air bersih masih menjadi sebuah masalah utama yang dihadapi oleh pihak Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Keumuneng Kota Langsa. Oleh sebab itu dilakukan sebuah studi sebagai acuan alternatif dalam penyediaan sumber baku air bersih di Kota Langsa berupa air tanah (groundwater). Studi dilakukan dengan menggunakan metode Vertical Electrical Sounding (VES) untuk menentukan potensi air tanah yang ditandai dengan keberadaan lapisan akuifer. Metode ini dilakukan dengan menginjeksi arus ke bawah permukaan bumi sehingga parameter fisis berupa nilai resistivitas dapat diketahui, untuk pendugaan awal lapisan akuifer guna pengidentifikasian potensi sumber baku air bersih berupa air tanah. Pengukuran data lapangan dilakukan di beberapa titik yang tersebar di wilayah Kota Langsa. Dari hasil pengukuran lapangan, diketahui bahwa Kota Langsa memiliki potensi keberadaan air tanah yang ditandai dengan adanya lapisan akuifer diduga berada pada kedalaman 43 - 105 m di bawah permukaan dengan rentang nilai resistivitas sebesar 31 - 45 „¦m. Kata kunci: groundwater, akuifer, vertical electrical sounding, resistivitas Abstract The provision of a raw source of clean water is still a significant problem faced by the Local Water Company in Langsa City therefore, a study was carried out as an alternative in order to provide raw source of clean water in Langsa City by exploring the existence of groundwater. The study was conducted using the Vertical Electrical Sounding (VES) method to determine the groundwater potential which is indicated by the presence of aquifer layers. The method is applied by injecting the electrical currents beneath the surface to calculate the physical parameters (resistivity) as the initial stage to estimate the aquifer layers in order to identify potential sources of groundwater. Field data measurements were carried out at several points across the Langsa City area. Based on the result, it was found that presence of groundwater exists in the study area, indicated by the presence of aquifer layer at depth of 43 - 105 m beneath the surface with resistivity value of 31 - 45 Ωm. Keywords: groundwater, aquifer, vertical electrical sounding, resistivit
Kajian Dewatering Sebagai Metode Darurat Pengairan Saluran Sekunder di Gumbasa, Sulawesi Tengah
Abstrak Sebagai negara agraris, masyarakat Indonesia banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Dalam pertanian, irigasi sangatlah penting untuk memastikan hasil tani sekaligus mengembangkan sektor pertanian. Untuk itu, Daerah Irigasi Gumbasa, Palu, Sulawesi Tengah dilakukan rehabilitasi di saluran primer. Namun saat proses rehabilitasi berjalan, saluran sekunder ke bawahnya tetap memerlukan aliran air irigasi agar tidak mengganggu pertanian yang dialirinya. Oleh karenai itu direncanakan untuk digunakan metode dewatering sebagai metode pengairan darurat. Metode dewatering jamak dilakukan pada pekerjaan konstruksi. Namun, karena metode tersebut belum pernah digunakan pada keperluan irigasi, maka perlu untuk dikaji secara mendalam. Dalam kajian ini akan dihitung jumlah sumuran yang diperlukan dan seberapa lama untuk memenuhi debit yang dibutuhkan dalam sehari. Hasil dari kajian tersebut adalah metode dewatering tidak sesuai untuk kegunaan darurat pengairan saluran irigasi karena jumlah sumuran yang diperlukan mencapai ribuan, sehingga perlu dilakukan kajian metode lain untuk memenuhi debit saluran sekunder tersebut. Kata kunci: Dewatering, Irigasi, Saluran Sekunder, Rehabilitasi, Pertanian Abstract As citizens in an agricultural country, most Indonesians depend on the agricultural sector for their livelihood. Irrigation is crucial to ensure farming yields while developing the agricultural sector. For this reason, the Gumbasa Irrigation Area, Palu, Central Sulawesi, is rehabilitating the primary channel. However, during the rehabilitation process, the secondary channels still need irrigation water flow so as not to interfere with the agriculture it flows through. Therefore, it was planned to use the dewatering method as an emergency irrigation method. The dewatering method is commonly used in construction works. However, since the method has never been used for irrigation purposes, it needs to be studied. The study will calculate the number of wells required and how long it takes to fulfil the required discharge in a day. The result of the study is that the dewatering method is not suitable for irrigation purposes because the number of pits required is in the thousands, so it is necessary to study other methods to fulfil the secondary channel discharge. Keywords: Dewatering, Irrigation, Secondary Channel, Rehabilitation, Agricultur
Pengaruh Penambahan Tulangan Vertikal Pada Perkuatan Balok Beton Bertulang Dengan Menggunakan Metode Deep Embedment
Abstrak Kapasitas beban struktur beton bertulang eksisting seringkali tidak mencukupi untuk memenuhi standar saat ini. Hal ini dikarenakan peningkatan kebutuhan beban dan degradasi material beton serta korosi tulangan akibat kondisi lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan pengaruh penambahan tulangan vertikal pada perkuatan beton bertuang dengan menggunakan metode deep embedment (DE). Dalam penelitian ini dipersiapkan tiga buah benda uji balok beton bertulang, yaitu Balok-CS, Balok-D8, dan Balok-D12. Ketiga benda uji mempunyai ukuran penampang 150 mm x 200 mm dan panjang bentang 1400 mm. Ada dua ukuran tulangan yang digunakan sebagai tulangan perkuatan DE, yaitu tulangan diameter 8 mm dan 12 mm. Pengujian Balok-CS dibebani sampai runtuh, sementara Balok-D8 dan Balok-D12 dibebani 2 kali. Pembebanan pertama dilakukan sampai balok tersebut mengalami retak pertama dan pembebanan ke dua dilakukan sampai runtuh setelah balok tersebut diperkuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan dengan metode DE yang dilakukan dalam penelitian ini dapat meningkatkan kapasitas beban ultimit sampai dengan 43% dibandingkan dengan benda uji kontrol. Sementara itu kekakuan pada balok yang diperkuat dengan metode DE juga meningkat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekakuan balok yang diperkuat pada fase linear meningkat sampai dengan 70% sementara kekakuan balok pada kondisi ultimit meningkat sampai dengan 91% dibandingkan dengan kekakuan benda uji kontrol. Kata kunci: perkuatan, beton bertulang, metode DE, beban ultimit, kekakuan Abstract Current standards for load capacity are often not met by existing reinforced concrete (RC) structures due to increased loads and corrosion-related degradation of concrete and steel reinforcement bars. This study has developed a technique for repairing RC beams through the use of deep embedment (DE) bars. Three beams, each with a cross-section of 150 ´ 200 mm and a total length of 1400 mm, were constructed with plain bars of 8 and 12 mm diameter as DE bars. Two loading schemes were employed during testing: loading the beam up to failure and precracking to simulate the damage in RC structures. Results showed that the contribution of DE bars to the load capacity was significant. The load capacity of the strengthened beam was 43% higher than that of the control beam. The stiffness of the DE-reinforced beam also increased, with an up to 70% increase in the linear phase and an up to 91% increase in the ultimate condition. The use of embedded DE bars is an effective method for repairing and strengthening RC beams that do not meet load capacity standards. These findings have practical implications for the structural engineering industry, offering a viable solution for deteriorating RC structures. Keywords: strengthening, reinforced concrete, DE method, ultimate load, stiffnes