Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    Perencanaan Bangunan Pelindung Pantai Di Desa Pesisir Besuki Kabupaten Situbondo

    Full text link
    Abstrak Desa Pesisir yang terletak di Timur Pelabuhan Besuki Kabupaten Situbondo mengalami tangkis jebol dan rusak sepanjang 450 meter akibat diterjang gelombang laut. Angin kencang dan ombak besar yang menerjang tangkis pada 28 Januari 2021 itu mengakibatkan tangkis hancur di beberapa titik sepanjang garis pantai. Penelitian ini direncanakan 2 alternatif pelindung pantai yaitu revetment dan seawall sebagai perbandingan bangunan pelindung pantai yang cocok di Desa Pesisir Besuki untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Hasil perhitungan dimensi untuk bangunan revetment yaitu elevasi puncak sebesar 5.90 m dan lebar yaitu 2.13 dan dimensi seawall yang didapat yaitu tinggi puncak bangunan yaitu 6.10 m dan lebar 2.55 m. Total Rencana Anggaran Biaya (RAB) perencanaan kedua alternatif bangunan yaitu revetment blok beton 3B sebesar Rp. 59,699,911,000.00 dan seawall sebesar Rp. 59,350,778,000.00 dan dipilih seawall sebagai alternatif solusi bangunan pelindung pantai di Desa Pesisir Besuki Kabupaten Situbondo. Kata kunci: abrasi, revetment, seawall, pantai.   Abstract Pesisir village is located east of Besuki Harbor, Situbondo Regency, experienced a 450-meter being hit by sea waves. Strong winds and big waves that hit the seawall on January 28, 2021 caused the seawall to be destroyed at several points along the coastline. This study plans 2 alternative coastal protection, namely revetment and seawall as a comparison of suitable coastal protection buildings in Village Pesisir Besuki to overcome the problems that occur. The results of the calculation of dimensions for the revetment building are the peak elevation 5.90 m and the width 2.13 m and the dimensions of the seawall obtained are the peak height of the building which is 6.10 m and width is 2.55 m. The Total Budget Plan (RAB) for the planning of the two alternative buildings, namely the 3B concrete block revetment, is Rp. 59,699,911,000.00 and a seawall of Rp. 59,350,778,000.00 and selected seawall as an alternative solution for coastal protection buildings in Village Pesisir Besuki, Situbondo Regency. Keywords: abrasion, revetment, seawall, beach

    Korelasi Kuat Tekan Beton Dan Ketahanan Sulfat Pada Beton Normal Dengan Penambahan Kaolin Sebagai Subtitusi Parsial Semen

    Full text link
    Abstrak Komposisi campuran dalam pembuatan beton dapat divariasikan dengan menambahkan bahan lain yang disebut pozzolan dengan tujuan untuk mengurangi penggunaan semen, memperbaiki sifat beton dan meningkatkan kekuatan beton. Salah satu material pozzolan tersebut yang bisa digunakan adalah kaolin. Pada penelitian ini dilakukan uji kuat tekan beton pada umur 7 dan 28 hari pada beton dengan penambahan kaolin sebagai subtitusi semen sebesar 0%, 5%, 10% dan 15% dan dilakukan uji ketahanan beton terhadap serangan kimia yaitu asam sulfat (H2SO4) dengan konsentrasi 98%. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20 cm dengan dua metode perawatan yaitu perendaman sulfat dan perawatan suhu ruangan. Mutu beton yang direncanakan adalah 30 MPa dengan FAS sebesar 0,5. Hasil pengujian kuat tekan rata-rata beton umur 28 hari dengan metode perawatan suhu ruangan pada beton normal (BN) adalah sebesar 24,77 MPa, pada beton kaolin 5% (BK5) adalah 19,54 MPa, pada beton kaolin 10% (BK10) adalah 16,91 MPa, dan pada beton dengan kaolin 15% (BK15) adalah sebesar 15,46 MPa. Sedangkan hasil kuat tekan beton rata-rata dengan variasi kaolin pada subtitusi semen  sebesar 0% (BN), 5% (BK5), 10% (BK10) dan 15% (BK15) dengan metode perawatan perendaman sulfat adalah sebesar 21,59 MPa, 18,15 MPa, 15,83 MPa, dan 14,53 MPa. Hasil penelitian menunjukkan bawha perendaman sulfat dapat membuat beton mengalami kerusakan, mengalami penurunan berat dan dapat membuat beton mengalami penurunan kuat tekan terbesar hingga 12,86% pada variasi 0%. Kata kunci: Kaolin, asam sulfat, ketahanan sulfat.  Abstract The composition of the mixture in the manufacture of concrete can be varied by adding another material called pozzolan with the aim of reducing cement consumption, improving concrete properties and increasing concrete strength. One of the pozzolanic materials that can be used is kaolin. Because the purpose of this study was to test the strength of concrete at the age of 7 and 28 days with or without kaolin mixture with variations in cement substitution of 0%, 5%, 10% and 15% in a corrosive environment for the compressive strength and durability of concrete against chemical attack, namely sulfuric acid (H2SO4) with a concentration of 98%. The test object used is cylindrical with a diameter of 10 cm and a height of 20 cm with two treatment methods, namely treatment with sulfate immersion and room temperature treatment. The planned concrete quality is 30 MPa with a FAS of 0.5. The results of testing the average compressive strength of concrete aged 28 days with the room temperature treatment method on normal concrete (BN) is 24.77 MPa, on 5% kaolin concrete (BK5) is 19.54 MPa, on 10% kaolin concrete (BK10 ) is 16.91 MPa, and in concrete with 15% kaolin (BK15) it is 15.46 MPa. While the results of the average compressive strength of concrete with variations of kaolin in cement substitution are 0% (BN), 5% (BK5), 10% (BK10) and 15% (BK15) with the sulfate immersion treatment method is 21.59 MPa, 18.15 MPa, 15.83 MPa, and 14.53 MPa. The results showed that sulphate immersion can cause concrete damage, decrease in weight and can make concrete experience the greatest decrease in compressive strength up to 12.86% at 0% variation. Keywords: Kaolin, sulfuric acid, sulfate resistance

    Desain dan Perencanaan Teknis Kolam Retensi Arafuru Kota Palembang

    Full text link
    Abstrak Pembangunan kolam retensi Arafuru belum mampu mengurangi frekuensi terjadinya banjir secara optimal karena Jalan Arafuru masih termasuk dalam lokasi titik banjir yang terdapat pada DAS Buah dengan ketinggian banjir antara 50-100 cm dengan durasi 24 jam. Kolam tambahan yang akan dibangun direncanakan seluas 5950 m2 untuk menampung kelebihan kapasitas kolam retensi eksisting. Optimalisasi kapasitas tampung kolam retensi Arafuru dapat dilakukan dengan mengkoneksikan outlet kolam retensi eksisting dengan inlet kolam retensi baru yang memiliki luasan 5950 m2 dengan kedalaman minimal 3 m untuk memenuhi daerah layanan/catchment area dengan luasan ±96,17 Ha. Pendugaan debit puncak limpasan permukaan dilakukan dengan metode SCS-CN dan didapatkan tinggi elevasi muka air maksimum inflow sebesar 11,4 m3/s terjadi pada menit ke 60, sedangkan elevasi puncak yaitu 2,7 m. Simulasi reduksi debit banjir dilakukan dengan software HEC-HMS, didapatkan bahwa penambahan kolam retensi dapat mengurangi debit inflow puncak dari 11,4 m3/s menjadi 7,1 m3/s atau sebesar 37,72%. Kata Kunci: Kolam retensi, analisa hidrologi, analisa spasial, pengendalian banjir  Abstract The construction of Arafuru retention basin has not been able to optimally reduce the frequency of flooding since Jalan Arafuru district is still included as one of the flood points within Buah Watershed with flood depths between 50-100 cm and duration of 24 hours. The additional basin is designed to be 5950 m2 in accordance with the area of land that has been acquired to accommodate the over capacity of the existing retention basin. The optimization of Arafuru retention basins capacity can be done by connecting outlet from existing basin to the inlet of the new basin. Retention basin of 5950 m2 with a minimum depth of 3 meters is expected to accommodate runoff from ± 96,17 ha catchment area. The estimation of the peak runoff discharge was carried out using the SCS-CN method and the maximum inflow water level elevation was 11,4 m3 / s occurring in the 60th minute, while the peak elevation was 2,7 m. The simulation of flood discharge reduction using HEC-HMS resulted that the addition of a retention basin could reduce the peak inflow from 11,4 m3 / s to 7,1 m3 / s or as much as 37,72%. Keywords: retention basin, hydrological analyses, spatial analyses, flood contro

    Analisis Standar Mutu Batu Bata Merah Tradisional Di Deli Serdang Dengan Indikator SNI 15-2094-2000

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas bata merah di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia dengan standar SNI 15-2094-2000 sebagai acuannya. Jumlah sampel bata merah sebanyak 405 buah dari 15 Kecamatan. Pengujian yang dilakukan berupa pengujian sifat tampak, ukuran dan toleransi, kuat tekan, penyerapan air, dan kandungan garam. Hasil analisis pengujian sifat tampak untuk warna seragam sebanyak 80% sampel, nyaring bila dipukul 66,7%, sudut siku 53%, datar 86,7%, dan tidak retak sebesar 86,7%. Untuk ukuran dan toleransi sebanyak 66,6% sampel tidak memenuhi standar, untuk kuat tekan rata-rata 100% tidak memenuhi standar karena di bawah 5 Mpa. Hasil penyerapan air hanya 1,9% sampel yang memenuhi standar di bawah 20%, dan untuk kadar garam seluruh sampel memenuhi standar SNI 15-2094-2000. Kata kunci: bata merah, deli serdang, kuat tekan, standar SNI 15-2094-2000.  Abstract This study aims to determine the quality of red bricks in Deli Serdang Regency, North Sumatra Province, Indonesia with the SNI 15-2094-2000 standard as a reference. The number of red brick samples is 405 from 15 districts. Tests carried out in the form of testing the appearance, size and tolerances, compressive strength, water absorption, and salt content. The results of the analysis of visible properties for uniform color were 80% of the sample, loud when hit 66.7%, 53% right angle, 86.7% flat, and 86.7% uncracked. For size and tolerance as much as 66.6% of the sample does not meet the standard, for an average compressive strength of 100% it does not meet the standard because it is below 5 MPa. The results of water absorption were only 1.9% of the sample which met the standard below 20%, and for the salt content of all. Keywords: red brick, Deli Serdang, compressive strength, SNI 15-2094-2000 standard

    Perkuatan Seismik Struktur Gedung Berlantai Tujuh Menggunakan Sistem Bresing Baja

    Full text link
    Abstrak Struktur Gedung BSI Cut Mutia Banda Aceh mengalami beberapa retakan pada balok dan kolom akibat gempa sehingga memerlukan suatu perkuatan dengan menganalisis struktur menggunakan metode pushover untuk mengetahui gaya geser dan displacement maksimum yang mampu ditahan oleh struktur pada kondisi eksisting maupun setelah diperkuat menggunakan bresing dan level kinerja serta mekanisme sendi plastis maupun simpangan antar lantai. Untuk pengembangan kurva kerapuhan digunakan metode Incremental Dynamic Analysis (IDA) untuk melihat tingkat probabilitas kerusakan struktur dari 10 rekaman gempa. Data yang diperlukan yaitu gambar perencanaan awal, mutu baja, mutu beton dan dimodelkan menggunakan software SAP2000, dilakukan analisis statis beban mati dan beban hidup serta analisis dinamis. Hasil penelitian menunjukkan profil bresing baja IWF 150x150x10x7 memenuhi keamanan untuk sistem perkuatan. Simpangan antar lantai menggunakan bresing lebih kecil dari pada kondisi eksisting serta evaluasi displacement dan drift ratio dari data riwayat gempa lebih rentan terhadap beban gempa Simeulue 1 dengan nilai PGA 1,281 g. Kata kunci: Perkuatan Seismik, Pushover, Time History, IDA, Kurva Kerapuhan  Abstract The structure of the BSI Cut Mutia Banda Aceh Building has several cracks in the beams and columns due to the earthquake, so it requires strengthening by analyzing the structure using the pushover method to determine the maximum shear and displacement forces that the structure can withstand in the existing conditions and after being strengthened using braces and performance levels as well as the mechanism of plastic hinges and drift between floors. The development of the fragility curve uses the Incremental Dynamic Analysis (IDA) method to show the probability level of structural damage from 10 recorded earthquakes. The data needed are initial planning drawings, steel quality, concrete quality and modeled using SAP2000 software, static analysis of dead and live loads and dynamic analysis is carried out. The results showed that the steel bracing profile IWF 150x150x10x7 met safety for reinforcement systems. The deviation between floors using braces is smaller than the existing conditions and the displacement and drift ratio evaluation from historical earthquake data is more susceptible to the Simeulue 1 earthquake load with a PGA value of 1.281 g. Keywords: Seismic Strengthening, Pushover, Time History, IDA, Fragility Curve.Potensi gempa yang terjadi di Kota Banda Aceh berpotensi merusak struktur gedung pada wilayah tersebut. Salah satunya gedung BSI Cut Mutia Banda Aceh yang telah mengalami beberapa retakan pada balok dan kolom akibat gempa, maka dari itu perlunya dilakukan suatu perkuatan untuk meningkatkan kekakuan pada struktur. Penelitian ini dimulai dengan menganalisis struktur gedung tersebut menggunakan metode pushover untuk mengetahui gaya geser dasar dan displacement maksimum yang mampu ditahan oleh struktur pada kondisi eksisting maupun setelah dilakukan perkuatan menggunakan bresing baja dan level kinerja serta mekanisme sendi plastis maupun simpangan antar lantai yang terjadi. Adapun untuk pengembangan kurva kerapuhan (fragility curve) yang dibentuk dengan metode incremental dynamic analysis (IDA) untuk memperlihatkan seberapa besar tingkat probabilitas kerusakan pada struktur gedung tersebut dengan menggunakan 10 rekaman gempa. Data yang diperlukan yaitu perencanaan awal (As built drawing), mutu baja, mutu beton. Struktur bangunan dimodelkan sebagai space frame dengan bantuan software SAP2000. Dilakukan analisis statis akibat beban mati dan beban hidup serta analisis dinamis akibat beban gempa. Hasil penelitian ini menunjukkan ukuran profil bresing Baja IWF berdimensi 150x150x10x7 yang di tambahkan di beberapa sisi struktur gedung telah memenuhi syarat keamanann untuk sistem perkuatan pada struktur tersebut. Simpangan antar lantai setelah dilakukan perkuatan menggunakan bresing lebih kecil dibandingkan pada kondisi eksisting. Hasil evaluasi displacement dan drift ratio dari data riwayat gempa memperlihatkan bahwa struktur gedung lebih rentan terhadap beban gempa Simeulue 1. Struktur pada kondisi eksisting mengalami perlemahan atau penurunan kekakuan yang diakibatkan oleh penambahan intensitas gempa

    Analisis Stabilitas Lereng Sungai Tamiang Kampung Rantau Pakam

    Full text link
    Abstrak Lereng merupakan permukaan tanah yang memiliki beda tinggi. Ketidakstabilan lereng menyebabkan bencana keruntuhan yang menyebabkan kerugian secara materil maupun korban jiwa. Pada lereng Sungai Aceh Tamiang, Kampung Rantau Pakam, Provinsi Aceh sering terjadi bencana keruntuhan sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap stabilitas lereng. Penelitian bertujuan mengetahui nilai faktor keamanan lereng dan meningkatkan nilai stabilitas lereng sungai dengan perkuatan lereng. Metode analisis menggunakan metode Bishop untuk perhitungan secara manual dan Metode Elemen Hingga menggunakan bantuan software Plaxis 2D. Jenis perkuatan stabilitas lereng menggunakan soil nailing dan dinding MSE. Hasil penelitian menunjukkan nilai faktor keamanan lereng eksisting tidak memenuhi persyaratan minimum kestabilan lereng maka perlu perkuatan lereng. Hasil perhitungan faktor keamanan stabilitas lereng dengan perkuatan soil nailing sebesar 1,335 lebih kecil dari persyaratan sebesar 1,5. Faktor keamanan stabilitas lereng dengan perkuatan dinding MSE sebesar 1,457 lebih besar dari persyaratan sebesar 1,3. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode MSE lebih sesuai digunakan untuk perkuatan lereng. Kata kunci: Dinding MSE, faktor keamanan, metode Bishop, Plaxis 2D, soil nailing  AbstractThe slope is a ground surface that has a height difference. The instability of the slope can cause catastrophic collapse which causes material loss and loss of life. On the slopes of the Aceh Tamiang River, Rantau Pakam Village, Aceh Province, collapse of the slopes often occurs, so it is necessary to conduct research on slope stability. The research aims to determine the value of the slope safety factor and increase the stability value of river slopes by strengthening the slopes. The analytical method uses the Bishop method for manual calculations and the Finite Element Method uses Plaxis 2D software. The type of slope stability strengthening using soil nailing and MSE walls. The results showed that the value of the factor of safety for the existing slope did not meet the minimum requirements for slope stability, so it needed to strengthen the slope. Based on the analysis, the safety factor for slope stability with soil nailing strengthening is 1.335, which is less than the requirement of 1.5. The safety factor for slope stability with the MSE wall strengthening is 1.457, which is greater than the requirement of 1.3 for such method strengthening. The results of the analysis show that the MSE method is more suitable for slope strengthening at the location. Keywords: MSE wall, safety factor, bishop method, Plaxis 2D, soil nailin

    Analisis Beban Emisi Pencemaran Udara Akibat Aktivitas Transportasi Kendaraan Bermotor di Jalan Keude Cunda, Kota Lhokseumawe

    Full text link
    Abstrak Sektor transportasi salah satu penyumbang emisi udara terbesar di Indonesia. Selain berkontribusi terhadap pemanasan global, pencemaran udara juga dapat menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi beban pencemaran udara dari aktivitas transportasi di ruas Jalan Keude Cunda, Kota Lhokseumawe. Penelitian diawali dengan survey lapangan untuk menentukan jumlah kendaraan yang melintas pada jam puncak selama 7 hari sepanjang 400 meter. Kendaraan diklasifikasikan menjadi sepeda motor, mobil pertalite dan mobil solar. Selanjutnya, dilakukan estimasi beban emisi pencemaran dengan metode Tier-1 dan Tier-2. Melalui metode Tier-1, untuk jenis BBM pertalite dan solar diestimasi menghasilkan beban emisi CO2 sebesar 99.178 ton/tahun, CH4 28,8 ton/tahun dan N2O 9,2 ton/tahun. Sedangkan dengan metode Tier-2, beban emisi CO sebesar 13,8 ton/tahun, HC 4 ton/tahun, NOx 0,7 ton/tahun, PM10 0,2 ton/tahun dan SO2 0,04 ton/tahun. Aksi mitigasi dengan program Car Free Day diestimasi dapat menurunkan beban emisi sebesar 6% setiap tahunnya. Kata kunci: Bahan bakar, beban emisi, jumlah kendaraan, pencemaran udara Abstract The transportation sector is one of the largest contributors to air emissions in Indonesia. Besides contributing to global warming, air pollution can also reduce the public health quality. This study aims to estimate the air pollution load from transportation activities on Jalan Keude Cunda, Lhokseumawe City. First, a field survey was conducted to determine the number of vehicles passing during peak hours for 7 days with mileage 400 meters. Vehicles are classified into motorcycles, gasoline cars and diesel cars. Secondly, estimation of pollution emission loads is carried out using the Tier-1 and Tier-2 methods. Lastly, emission load reduction is predicted through a program mitigation, namely the Car Free Day. Through the Tier-1 method, gasoline and diesel fuel are estimated to produce a CO2 emission load of 99,178 tons/year, CH4 28.8 tons/year and N2O 9.2 tons/year. Whereas with the Tier-2 method, the CO emission load is 13.8 tons/year, HC 4 tons/year, NOx 0.7 tons/year, PM10 0.2 tons/year and SO2 0.04 tons/year. The Car Free Day mitigation actions will contribute to reducing the emission load by 6% annually. Keywords: fuel, emission load, vehicle number, air pollutio

    Analisis Korespondensi Faktor Penting dan Fasilitas yang Diperlukan pada Jembatan Penyeberangan Orang

    Full text link
    Abstrak Salah satu fasilitas yang disediakan pemerintah untuk memudahkan pejalan kaki adalah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Fasilitas ini dibuat untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pejalan kaki dalam seberang jalan raya. Banyak hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang keamanan dan kenyamanan tersebut salah satunya peningkatan pada fasilitas yang diberikan di JPO. Penelitian ini dibuat menggunakan metode kuantitatif dengan menyebar kuisioner dan mendapatkan data dari responden. Kemudian melakukan analisis koresional terhadap factor yang perlu diperhatikan dan fasilitas yang ada di JPO. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah fasilitas yang diperlukan dalam JPO diantaranya lampu penerangan dengan jumlah 18%, CCTV dengan jumlah 16%, vending machine dengan jumlah 2%, eskalator/lift dengan jumlah 35%, musik dengan jumlah 2%, dan ramp dengan jumlah 29%. Selain itu, hasil analisis pada faktor yang diperlukan dalam JPO yaitu keamanan dengan jumlah 46%, akses dengan jumlah 18%, penerangan 6%, desain dengan jumlah 24%, kenyamanan dengan jumlah 6%. Maka terdapat beberapa faktor yang dominan dan perlu diperhatikan seperti keamanan, akses, dan desain. Sedangkan fasilitas yang dominan dan perlu dipehatikan dalam JPO adalah ramp, eskalator/lift, dan penerangan. Kata kunci: JPO (Jembatan Penyeberangan Orang), Pejalan kaki, Fasilitas, Faktor kenyamanan.   Abstract One of the facilities provided by the government to make it easier for pedestrians is the Pedestrians Bridge (JPO). This facility is made to increase the safety and convenience of pedestrians in crossing the highway. There are many things that need to be considered to support that, which one is an increase in the facilities provided at the JPO. This research was made using quantitative methods by distributing questionnaires and obtaining data from respondents. Then do a correctional analysis of the factors that need to be considered and the existing facilities at the JPO. The results obtained from this study are the facilities needed in the JPO including lighting with a total of 20%, CCTV with a total of 17.7%, vending machines with a total of 2.2%, escalators/lifts with a total of 35.5%, music with a total of 2.2%, and a ramp of 31%. In addition, the results of the analysis on the factors needed in the JPO are security with a total of 51%, access with a total of 20%, lighting 6.6%, design with a total of 26.6%, convenience with a total of 6.6%. So that several factors are dominant and need to be considered such as security, access, and design. While the dominant facilities that need attention in the JPO are ramps, escalators/lifts, and lighting. Keywords: JPO (Pedestrians Bridge), Pedestrians, Facility, The Convenience Factor

    Analisa Pengaruh Kerapatan Tanaman Terhadap Kinerja Constructed Wetland Pada Pengolahan Limbah Greywater Perumahan

    Full text link
    Abstrak Constructed wetland atau lahan basah buatan adalah salah satu penerapan eko - drainase dengan tujuan memperbaiki kualitas air, kuantitas air, konservasi air, menciptakan keindahan, dan estetika. Kondisi awal limbah greywater perumahan pada lokasi penelitian memiliki kadar limbah yang masih jauh dari baku mutu yaitu, BOD sebesar 93 Mg/L, COD sebesar 990,5 Mg/L, TSS sebesar 93 Mg/L, suhu sebesar 28,9°C dan pH air sebesar 9,6. Penelitian ini menganalisa pengaruh kerapatan tanaman eceng gondok terhadap kinerja lahan basah buatan. Pada kerapatan tanaman 13 tanaman/m2, kadar polutan turun dengan baik, untuk kadar BOD yang awalnya 990 Mg/L turun menjadi 42,17 Mg/L, kemudian kadar COD yang awalnya 794,4 menjadi 114,1 Mg/L, lalu dilihat kandungan TSS yang awalnya 93 Mg/L menjadi 20 Mg/L, dan pH dari 9,6 menjadi 7,6.  Pada kerapatan 21 tanaman/m2, untuk kadar BOD yang awalnya 990 Mg/L turun menjadi 29,73 Mg/L, kemudian kadar COD yang awalnya 794,4 menjadi 98,4 Mg/L. Kandungan TSS yang awalnya 93 Mg/L menjadi 13,6 Mg/L, dan pH dari 9,6 menjadi 7,2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa variasi kerapatan tanaman 13 individu/m2 menghasilkan efisiensi penurunan BOD, TSS, dan COD sebesar 94%, 79% dan 88%. Sedangkan variasi kerapatan tanaman 21 individu/m2 menghasilkan efisiensi penurunan BOD, TSS, dan COD sebesar 96%, 85% dan 90%. Kata Kunci: ekodrainase, lahan basah buatan, eceng gondok, limbah greywater  Abstract Constructed wetland or man-made wetland is one of eco-drainage applications, aiming to improve water quality, water quantity, water conservation, and for aesthetics purposes. The initial condition of greywater in the area of research does not meet the effluent standard, as such 93 Mg/L of BOD, 990,5 Mg/L of COD, 93 Mg/L of TSS, temperature of 28,9°C and pH of 9,6. This research analyze the effect of water hyacinth plant density on constructed wetland performance. At a plant density of 13 plants/m2, BOD levels which were initially 990 Mg/L decreased to 42,17 Mg/L, COD which was originally 794,4 to 114,1 Mg/L, then the TSS content was initially 93 Mg/L to 20 Mg/L, and pH from 9,6 to 7,6. For density 21 plants/m2, The initial BOD of 990 Mg/L dropped to 29,73 Mg/L, then the COD level which was originally 794,4 became 98,4 Mg/L. TSS content which was originally 93 Mg/L to 13,6 Mg/L, and pH from 9,6 to 7,2. Based on the results, plant density of 13 plant/m2 can reduce pollutant parameters up to 94% for BOD, 79% for TSS and 88% of COD while plant density of 21 plant/m2 can reduce pollutant parameters up to 96% for BOD, 85% for TSS and 90% of COD. Keywords: eco-drainage, constructed wetland, water hyacinth, greywate

    Evaluasi Implementasi Sistem Manajamen Keselamatan Konstruksi (SMKK) Pada Pelaksanaan Proyek Konstruksi Di Pekanbaru

    Full text link
    Abstrak Dalam rangka pencegahan kecelakaan kerja pada industri konstruksi, pemerintah telah mengakomodir peraturan No.10 Tahun 2021 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK). Adanya peraturan ini, kontraktor pelaksana konstruksi diharuskan menerapkan SMKK yang telah dirancang dengan standar yang telah diatur di dalam peraturan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluiasi implementasi dan menilai tingkat penerapan SMKK pada proyek konstruksi di Pekanbaru. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan wawancara, selanjutnya dianalisis dengan metode kuantitatif. Kriteria evaluasi terhadap penerapan SMKK diadopsi berdasarkan peraturan No.10 Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMKK bervariasi pada setiap elemen pada masing-masing proyek yang diteliti. Tingkat persentase penerapan SMKK pada proyek Gedung perkuliahan yaitu sebesar 77,91% pada level implementasi baik, proyek pembangunan mesjid sebesar 89,53% pada level memuaskan, dan proyek rumah sakit dengan tingkat penerapan SMKK hanya sebesar 17,44%, pada level implementasi kurang baik. Kata kunci: Evaluasi, Elemen SMKK, K3, Risiko, SMKK  Abstract To prevent work accidents in the construction industry, the government has accommodated regulation No. 10 of 2021 concerning the Construction Safety Management System (CSMS). In the existence of this regulation, construction implementing contractors are required to apply CSMS, which has been designed with the standards regulated in the regulation. The purpose of this study is to evaluate the implementation and assess the level of application of CSMS, in construction projects in Pekanbaru. Data were collected by observation and interview techniques, and then analyzed by quantitative methods. The evaluation criteria for the application of CSMS are adopted based on regulation No. 10 of 2021. The results showed that the application of CSMS varied in each element of each project studied. The percentage rate of CSMS implementation in lecture building projects is 77.91% at the level of good implementation, mosque construction projects are 89.53% at satisfactory levels, and hospital projects with CSMS implementation rates are only 17.44% at the level of poor implementation. Keywords: Evaluation, Element of CSMS, HSO, Risk, CSM

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇