Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
Not a member yet
    395 research outputs found

    Membangun Kampus Ramah Lingkungan: Peran Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan Universitas Muhammadiyah Bima: Building an Eco-Friendly Campus: The Role of Local Wisdom in Sustainable Construction Muhammadiyah University of Bima

    No full text
    Abstrak   Perubahan iklim dan kebutuhan keberlanjutan lingkungan mendorong penerapan konsep green campus di Universitas Muhammadiyah Bima. Kampus ini memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain hijau yang mendukung pendidikan dan melestarikan budaya lokal. Namun, tantangan seperti biaya awal yang tinggi, resistensi terhadap perubahan, dan kurangnya pemahaman tentang integrasi kearifan lokal dalam desain berkelanjutan masih ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan eco-cultural untuk mengeksplorasi elemen sosial, budaya, dan ekologis masyarakat Bima. Hasilnya menunjukkan desain kampus yang mencakup ruang diskusi Uma Lengge, lapangan seni tradisional, hutan kampus, dan sistem pengolahan air limbah komunal (IPAL). Penggunaan material lokal seperti bambu dan kayu menunjukkan keberlanjutan berbasis sumber daya lokal, sementara fasilitas modern disediakan melalui teknologi pintar dan jalur akses efisien. Desain ini membuktikan bahwa integrasi kearifan lokal dapat menciptakan kampus yang berkelanjutan dan relevan dengan identitas masyarakat setempat.   Kata kunci: Kampus Hijau, Kearifan Lokal, Keberlanjutan     Abstract   Climate change and the need for environmental sustainability have driven the implementation of green campus concepts at Muhammadiyah University of Bima. The campus has great potential to integrate local wisdom into green design that supports education while preserving local culture. However, challenges such as high initial costs, resistance to change, and a lack of understanding about integrating local wisdom into sustainable design remain. This research uses a qualitative approach with ethnographic and eco-cultural methods to explore the social, cultural, and ecological elements of the Bima community. The results show a campus design that includes spaces like the Uma Lengge discussion room, traditional arts performance field, campus forest, and communal wastewater treatment system (IPAL). The use of local materials like bamboo and wood demonstrates sustainability based on local resources, while modern needs are met through smart technology and efficient access pathways. This design proves that integrating local wisdom can create a sustainable campus that aligns with the local community\u27s identity.   Keywords: Green Campus, Lokal Wisdom, Sustainability.Perubahan iklim dan kebutuhan keberlanjutan lingkungan mendorong penerapan konsep green campus di Universitas Muhammadiyah Bima. Kampus ini memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain hijau yang mendukung pendidikan dan melestarikan budaya lokal. Namun, tantangan seperti biaya awal yang tinggi, resistensi terhadap perubahan, dan kurangnya pemahaman tentang integrasi kearifan lokal dalam desain berkelanjutan masih ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan eco-cultural untuk mengeksplorasi elemen sosial, budaya, dan ekologis masyarakat Bima. Hasilnya menunjukkan desain kampus yang mencakup ruang diskusi Uma Lengge, lapangan seni tradisional, hutan kampus, dan sistem pengolahan air limbah komunal (IPAL). Penggunaan material lokal seperti bambu dan kayu menunjukkan keberlanjutan berbasis sumber daya lokal, sementara fasilitas modern disediakan melalui teknologi pintar dan jalur akses efisien. Desain ini membuktikan bahwa integrasi kearifan lokal dapat menciptakan kampus yang berkelanjutan dan relevan dengan identitas masyarakat setempat

    Characteristics of Cohesive Soil Tanjung Jaya area of Bengkulu City and Its Implementation in Geotechnical Design

    No full text
    Abstrak Pembangunan konstruksi di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur. Kota Bengkulu, ibukota Provinsi Bengkulu, juga mengalami pembangunan infrastruktur yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah kohesif di kawasan Tanjung Jaya, Kota Bengkulu, dan penerapannya dalam mendesain fondasi dangkal. Tahap awal penelitian ini meliputi pengambilan sampel, kemudian dilanjutkan dengan pengujian sifat-sifat fisis tanah, seperti kadar air, berat volume, berat jenis, analisa ukuran butiran, dan Atterberg Limits. Dari hasil pengujian tersebut, tanah di lokasi tersebut diklasifikasikan sebagai lanau elastis (MH). Pengujian sifat mekanis dilakukan melalui uji kuat tekan bebas dan konsolidasi. Pemodelan fondasi berdasarkan sifat fisis dan mekanis tanah, dilakukan dengan menggunakan aplikasi berbasis metode elemen hingga pada satu titik sampel, dengan menggunakan nilai terendah dari kuat tekan bebas (qu) dan kuat geser (Su) dari dua titik uji pada kedalaman 0,75 m dan 1 m, serta variasi lebar fondasi untuk pendekatan yang lebih konservatif. Faktor keamanan terkecil yang diperoleh adalah 1,440, dan terbesar adalah 4,654, dengan beban vertikal maksimum mencapai 109,30 kN/m² pada kedalaman 1 m dan lebar fondasi 2 m.Kata kunci: Tanah kohesif, sifat fisis, sifat mekanis, metode elemen hingga, fondasi dangkal  Abstract Construction development in Indonesia continues to increase in line with the growing demand for infrastructure. The City of Bengkulu, the capital of Bengkulu Province, has also seen significant infrastructure development in recent years. This study aims to identify the characteristics of cohesive soil in the Tanjung Jaya area, Bengkulu City, and its application in designing shallow footing. The initial phase of the study includes sample collection, followed by tests of the soil\u27s physical properties, such as moisture content, volume weight, specific gravity, grain size analysis, and Atterberg Limits. The results classify the soil in this location as elastic silt (MH). Mechanical properties testing was assessed through unconfined compressive strength and consolidation tests. Foundation modeling, based on the soil\u27s physical and mechanical properties, was conducted using a finite element method-based application at one sample point, utilizing the lowest values of unconfined compressive strength (qu) and shear strength (Su) from the two test points at depths of 0.75 m and 1 m, as well as Foundation width variations, for a more conservative approach. The most minor safety factor obtained was 1.440, and the largest was 4.654, with the maximum vertical load reaching 109.30 kN/m² at a depth of 1 m and a foundation width of 2 m. Keywords: Cohesive soil, physical properties, mechanical properties, element method, shallow footingConstruction development in Indonesia continues to increase in line with the growing demand for infrastructure. The City of Bengkulu, the capital of Bengkulu Province, has also seen significant infrastructure development in recent years. This study aims to identify the characteristics of cohesive soil in the Tanjung Jaya area, Bengkulu City, and its application in designing shallow footing. The initial phase of the study includes sample collection, followed by tests of the soil\u27s physical properties, such as moisture content, volume weight, specific gravity, grain size analysis, and Atterberg Limits. The results classify the soil in this location as elastic silt (MH). Mechanical properties testing was assessed through unconfined compressive strength and consolidation tests. Foundation modeling, based on the soil\u27s physical and mechanical properties, was conducted using a finite element method-based application at one sample point, utilizing the lowest values of unconfined compressive strength (qu) and shear strength (Su) from the two test points at depths of 0.75 m and 1 m, as well as Foundation width variations, for a more conservative approach. The most minor safety factor obtained was 1.440, and the largest was 4.654, with the maximum vertical load reaching 218.60 kN/m² at a depth of 1 m and a foundation width of 2 m

    Efektifitas Metode SSI Covariance dalam Sistem Pemantauan Kesehatan Struktur (SHMS) Jembatan Box Girder Bentang 40 Meter.

    No full text
    Abstrak   Pemantauan frekuensi alami pada jembatan box girder bentang 40 meter merupakan langkah penting dalam memastikan stabilitas dan keselamatan struktur selama kondisi layanan aktual. Penelitian ini menerapkan metode Stochastic Subspace Identification (SSI) covariance untuk mengidentifikasi karakteristik dinamis struktur berdasarkan respons getaran akibat beban operasional kendaraan yang melintas. Data diolah tanpa eksitasi buatan, sehingga mencerminkan perilaku dinamis jembatan secara realistis. Hasil analisis menunjukkan frekuensi alami yang stabil dan konsisten pada rentang 3,88–3,89 Hz, baik dari masing-masing sensor maupun analisis gabungan. Temuan ini konsisten dengan hasil pemodelan numerik, yang memperkuat validitas metode SSI covariance sebagai pendekatan non invasif dalam pemantauan kesehatan struktur. Pendekatan ini menegaskan frekuensi alami sebagai indikator utama dalam mengevaluasi kondisi struktural jembatan secara akurat dan andal di bawah beban operasional nyata.   Kata kunci: SHMS, OMA, SSI covariance, Frekuensi Alami.   Abstract   Monitoring the natural frequency of a 40-meter span box girder bridge is essential to ensure the structural stability and safety under actual service conditions. This study applies the Stochastic Subspace Identification (SSI) covariance method to identify the dynamic characteristics of the structure based on vibration responses induced by operational vehicle loads. The data were processed without artificial excitation, thereby reflecting the realistic dynamic behavior of the bridge during operation. The analysis results indicate a stable and consistent natural frequency in the range of 3.88–3.89 Hz, observed across individual sensor measurements as well as in combined analysis. These findings are in good agreement with the numerical modeling results, strengthening the validity of the SSI covariance method as a non invasive approach in structural health monitoring. This approach emphasizes the role of natural frequency as a key indicator for accurate and reliable evaluation of bridge structural conditions under real operational loads.   Keywords: SHSM, OMA, SSI covariance, Natural FrequencyPemantauan frekuensi alami pada jembatan box girder dengan bentang 40 meter merupakan hal yang sangat krusial untuk memastikan stabilitas dan keselamatan struktur di bawah beban layanan aktual. Penelitian ini mengadopsi metode Stochastic Subspace Identification (SSI) covariance untuk mengidentifikasi frekuensi alami struktur berdasarkan respons getaran yang dihasilkan oleh beban eksitasi operasional kendaraan yang melintas. Pengolahan data dilakukan tanpa gangguan tambahan, sehingga mencerminkan kondisi sebenarnya selama operasional jembatan. Hasil analisis menunjukkan frekuensi alami yang konsisten dalam rentang 3,88–3,89 Hz, baik pada pengukuran masing-masing sensor maupun analisis gabungan. Temuan ini juga sejalan dengan hasil pemodelan numerik yang dilakukan menggunakan perangkat lunak Midas Civil, yang memperkuat validitas pendekatan SSI covariance. Pendekatan ini menegaskan frekuensi alami sebagai indikator utama dalam pemantauan kesehatan struktur jembatan, memberikan evaluasi kondisi yang akurat dan dapat diandalkan selama beban operasional

    Pengembangan Model ARIMA untuk Prediksi Keberlanjutan Lingkungan dan Konstruksi Pesisir: Studi Kasus Terintegrasi di Pelabuhan Belawan: Pengembangan Model ARIMA untuk Prediksi Keberlanjutan Lingkungan dan Konstruksi Pesisir: Studi Kasus Terintegrasi di Pelabuhan Belawan

    No full text
    Abstrak   Wilayah pesisir Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, memainkan peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di sektor logistik dan ekspor-impor. Namun, intensifikasi aktivitas industri dan pelabuhan telah menimbulkan tekanan signifikan terhadap lingkungan dan daya tahan infrastruktur pesisir. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediktif berbasis ARIMA (AutoRegressive Integrated Moving Average) untuk memproyeksikan keberlanjutan lingkungan dan konstruksi pesisir secara terintegrasi. Data deret waktu tahunan yang mencakup variabel lingkungan (curah hujan, kualitas air) dan teknis konstruksi (usia struktur, frekuensi perawatan, kerusakan) dianalisis untuk mengidentifikasi tren dan pola jangka panjang yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan sistem pelabuhan. Hasil uji Augmented Dickey-Fuller menunjukkan bahwa hampir seluruh variabel bersifat stasioner kecuali usia struktur yang memerlukan diferensiasi. Model AutoRegressive Integrated Moving Average (2,1,2) menunjukkan performa terbaik untuk sebagian besar variabel berdasarkan evaluasi AIC, BIC, RMSE, MAE, dan MAPE, sementara AutoRegressive Integrated Moving Average (3,2,4) optimal untuk usia struktur. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan ARIMA mampu secara efektif menangkap dinamika perubahan lingkungan dan teknis di wilayah pesisir Belawan, serta mendukung pengambilan keputusan adaptif dalam perencanaan pengelolaan pelabuhan berkelanjutan.   Kata kunci: Model ARIMA, Keberlanjutan Lingkungan, Konstruksi Pesisir, Pelabuan Belawan     Abstract   The coastal region of Belawan Port, North Sumatra, plays a strategic role in supporting national economic growth, particularly in the logistics and export-import sectors. However, the intensification of industrial and port activities has imposed significant pressure on the environment and the resilience of coastal infrastructure. This study aims to develop an ARIMA (AutoRegressive Integrated Moving Average)-based predictive model to project the sustainability of environmental conditions and coastal construction in an integrated manner. Annual time series data covering environmental variables (rainfall, water quality) and technical construction aspects (structure age, maintenance frequency, damage) were analyzed to identify long-term trends and patterns potentially affecting the sustainability of the port system. The Augmented Dickey-Fuller test results indicate that nearly all variables are stationary, except for structural age, which required differencing. The AutoRegressive Integrated Moving Average (2,1,2) model demonstrated the best performance for most variables based on evaluations of AIC, BIC, RMSE, MAE, and MAPE, while AutoRegressive Integrated Moving Average (3,2,4) was optimal for structural age. These findings suggest that the ARIMA approach can effectively capture the dynamic environmental and technical changes in the Belawan coastal area and support adaptive decision-making in sustainable port management planning.   Keywords: ARIMA Model, Environmental Sustainability, Coastal Construction, Belawan PortWilayah pesisir Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, memainkan peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di sektor logistik dan ekspor-impor. Namun, intensifikasi aktivitas industri dan pelabuhan telah menimbulkan tekanan signifikan terhadap lingkungan dan daya tahan infrastruktur pesisir. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediktif berbasis ARIMA (AutoRegressive Integrated Moving Average) untuk memproyeksikan keberlanjutan lingkungan dan konstruksi pesisir secara terintegrasi. Data deret waktu tahunan yang mencakup variabel lingkungan (curah hujan, kualitas air) dan teknis konstruksi (usia struktur, frekuensi perawatan, kerusakan) dianalisis untuk mengidentifikasi tren dan pola jangka panjang yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan sistem pelabuhan. Hasil uji ADF menunjukkan bahwa hampir seluruh variabel bersifat stasioner kecuali usia struktur yang memerlukan diferensiasi. Model ARIMA(2,1,2) menunjukkan performa terbaik untuk sebagian besar variabel berdasarkan evaluasi AIC, BIC, RMSE, MAE, dan MAPE, sementara ARIMA(3,2,4) optimal untuk usia struktur. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan ARIMA mampu secara efektif menangkap dinamika perubahan lingkungan dan teknis di wilayah pesisir Belawan, serta mendukung pengambilan keputusan adaptif dalam perencanaan pengelolaan pelabuhan berkelanjutan

    S ANALISIS KERUSAKAN JALAN MENGGUNAKAN METODE PCI DAN AI MS-17 DAN BIAYA PENANGANAN PADA RUAS JALAN LINE PIPA STA 1+000 – 2+500

    No full text
    Abstrak   Jalan merupakan sarana infrastruktur yang berfungsi sebagai ruang sirkulasi untuk mempermudah transportasi darat, lengkap dengan bangunan pelengkap serta perlengkapannya yang menunjang aktivitas lalu lintas. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan dua metode, yaitu Pavement Condition Index (PCI) dan Asphalt Institute MS-17, guna menilai apakah kondisi jalan masih layak atau membutuhkan program pemeliharaan dan perbaikan secara rutin. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan metode PCI, persentase kondisi jalan tertinggi berada pada kategori failed sebesar 43%, diikuti fair 24%, very poor 14%, excellent 9%, poor dan good masing-masing 5%. Sedangkan pada metode Asphalt Institute MS-17, ditemukan bahwa 41% kerusakan memerlukan tambalan, 32% membutuhkan pemeliharaan rutin, dan 27% memerlukan rekonstruksi. Dari kedua metode tersebut dapat disimpulkan bahwa solusi penanganan yang direkomendasikan adalah Rekontruksi atau melalui kegiatan tambalan atau perbaikan lainnya   Kata kunci: kerusakan jalan, PCI, AI MS-17   Abstract   Roads are infrastructure facilities that function as circulation spaces to facilitate land transportation, complete with complementary buildings and equipment that support traffic activities. This evaluation was conducted by comparing two methods, namely the Pavement Condition Index (PCI) and the Asphalt Institute MS-17, to assess whether the road conditions are still suitable or require routine maintenance and repair programs. The results of the analysis show that based on the PCI method, the highest percentage of road conditions is in the failed category of 43%, followed by fair 24%, very poor 14%, excellent 9%, poor and good each 5%. While in the Asphalt Institute MS-17 method, it was found that 41% of damage required patching, 32% required routine maintenance, and 27% required reconstruction. From the two methods, it can be concluded that the recommended handling solution is Reconstruction or through patching or other repair activities   Keywords: Road damage, PCI, AI MS-17Jalan merupakan sarana infrastruktur yang berfungsi sebagai ruang sirkulasi untuk mempermudah transportasi darat, lengkap dengan bangunan pelengkap serta perlengkapannya yang menunjang aktivitas lalu lintas. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan dua metode, yaitu Pavement Condition Index (PCI) dan Asphalt Institute MS-17, guna menilai apakah kondisi jalan masih layak atau membutuhkan program pemeliharaan dan perbaikan secara rutin. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan metode PCI, persentase kondisi jalan tertinggi berada pada kategori failed sebesar 43%, diikuti fair 24%, very poor 14%, excellent 9%, poor dan good masing-masing 5%. Sedangkan pada metode Asphalt Institute MS-17, ditemukan bahwa 41% kerusakan memerlukan tambalan, 32% membutuhkan pemeliharaan rutin, dan 27% memerlukan rekonstruksi. Dari kedua metode tersebut dapat disimpulkan bahwa solusi penanganan yang direkomendasikan adalah Rekontruksi atau melalui kegiatan tambalan atau perbaikan lainny

    Pemanfaatan Limbah Industri Berupa Abu Ketel dan Silica Fume Untuk Peningkatan Kuat Tekan Beton

    Full text link
    Abstrak Pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan abu ketel dan silica fume dalam beton sebagai alternatif berkelanjutan. Variasi percobaan mencakup penambahan dan penggantian sebagian semen dengan abu ketel dan silica fume. Hasil menunjukkan bahwa campuran dengan kandungan abu ketel dan silica fume memiliki slump yang lebih rendah, namun meningkatkan kuat tekan pada umur 28 dan 56 hari. Proporsi optimum sebagai bahan tambah adalah 5% abu ketel dan 5% silica fume dengan peningkatan kuat tekan dari 28 hari ke 56 hari sebesar 9,42 MPa sedangkan sebagai bahan pengganti sebagian semen adalah 85% semen, 5% abu ketel, dan 10% silica fume, mencapai kuat tekan beton kubus sebesar 28,93 MPa pada umur 28 hari dan 30,67 MPa pada umur 56 hari. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi penggunaan limbah kelapa sawit dan sisa industri sebagai bahan tambahan dalam industri konstruksi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.   Kata kunci: Abu Ketel, Silica Fume, Kuat Tekan Beton   Abstract Infrastructure development in Indonesia has experienced significant progress. This research explores the use of palm kettle ash and silica fume in concrete as a sustainable alternative. Experimental variations include adding and replacing some of the cement with palm kettle ash and silica fume. The results showed that the mixture containing palm kettle ash and silica fume had a lower slump, but increased compressive strength at the ages of 28 and 56 days. The optimum proportion as an additive is 5% palm kettle ash and 5% silica fume with an increase in compressive strength from 28 days to 56 days of 9.42 MPa while as a partial replacement material for cement it is 85% cement, 5% palm kettle ash and 10% silica fume, reaching a compressive strength of cube concrete of 28.93 MPa at 28 days and 30.67 MPa at 56 days. This research provides insight into the potential for using palm oil waste and industrial residue as additional materials in the construction industry to support sustainable development.   Keywords: Palm Kernel Ash, Silica Fume, Compressive Strength of ConcretePembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan abu ketel dan silica fume dalam beton sebagai alternatif berkelanjutan. Variasi percobaan mencakup penambahan dan penggantian sebagian semen dengan abu ketel dan silica fume. Hasil menunjukkan bahwa campuran dengan kandungan abu ketel dan silica fume memiliki slump yang lebih rendah, namun meningkatkan kuat tekan pada umur 28 dan 56 hari. Proporsi optimum sebagai bahan tambah adalah 5% abu ketel dan 5% silica fume dengan peningkatan kuat tekan dari 28 hari ke 56 hari sebesar 9,42 MPa sedangkan sebagai bahan pengganti sebagian semen adalah 85% semen, 5% abu ketel, dan 10%  silica fume, mencapai kuat tekan beton kubus sebesar 28,93 MPa pada umur 28 hari dan 30,67 MPa pada umur 56 hari. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi penggunaan limbah kelapa sawit dan sisa industri sebagai bahan tambahan dalam industri konstruksi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan

    Pengaruh Substitusi Bahan Penyusun Beton Menggunakan Abu Ketel dan Limbah Genteng Terhadap Kuat Tekan Beton

    Full text link
    Abstrak Hasil dari pembakaran limbah kelapa sawit menghasilkan abu ketel yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pozzolan. Limbah genteng juga dimanfaatkan sebagai substitusi dari agregat kasar. Pembuatan benda uji kubus 15cm x 15cm x 15cm untuk diuji kuat tekan pada umur 3, 7, 14, dan 28 hari, dengan variasi pada bahan penyusunnya 5% abu ketel terhadap berat semen dan 5%, 10%, 15%, dan 20% limbah genteng terhadap berat agregat kasar. Kuat tekan terbesar pada umur 28 hari untuk beton dengan substitusi hanya limbah genteng terdapat pada variasi 5% (G5) dengan kuat tekan 34,86 MPa. Substitusi 5% abu ketel untuk semen pada G5, kuat tekan beton mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 37,45 MPa. Hasil kuat tekan pada benda uji dengan kadar limbah genteng lain seluruhnya mengalami peningkatan kuat tekan setelah dilakukan substitusi 5% abu ketel pada semen. Sehingga subtitusi 5% abu ketel dapat meningkatkan kuat tekan pada beton dengan substitusi limbah genteng. Kata kunci: Abu ketel, limbah genteng, kuat tekan Abstract The combustion of palm oil waste produces boiler ash, which can be used as pozzolanic material. Tile waste is also used as a substitute for coarse aggregate. A 15cm x 15cm x 15cm cube specimen was produced to test the compressive strength at 3, 7, 14 and 28 days with variations in the constituents 5% boiler ash by weight of cement and 5%, 10%, 15% and 20% tile waste by weight of coarse aggregate. The highest compressive strength at 28 days for concrete with only tile waste substitution found in the 5% variation (G5) with a compressive strength of 34.86 MPa. Substituting 5% boiler ash for cement in G5, the compressive strength increased to 37,45 MPa. The compressive strength of other variations of tile waste increased after 5% substitution of boiler ash in cement. Therefore, 5% boiler ash substitution can increase the compressive strength of concrete with tile waste substitution. Keywords: boiler ash, tile waste, compressive strengt

    Analisis Kelayakan Investasi Antara Bangun Baru dan Bangunan Existing Ombudsman RI di Kawasan Kuningan Jakarta

    Full text link
    Abstrak Studi kelayakan investasi dilakukan dengan metode discounted cash flow (DCF). Hasil perhitungan dengan metode DCF disimulasikan dengan metode monte carlo. Indikator-indikator yang digunakan adalah tingkat okupansi, kenaikan biaya konstruksi, kenaikan biaya sewa dan service charge. Arus kas bangunan existing dan bangunan baru dibuat untuk menghitung nilai NPV dan IRRnya. Perhitungan metode DCF pada bangunan existing dengan nilai MARR sebesar 7,47%, didapatkan nilai NPV positif sebesar Rp.155.274.649.791 dan nilai IRR sebesar 31,5%, waktu pengembalian selama 6 tahun 4 bulan. Perhitungan bangunan baru didapatkan nilai NPV positif sebesar Rp.184.233.384.822 dan nilai IRR sebesar 17,5%, waktu pengembalian selama 8 tahun 8 bulan. Perbandingan perhitungan antara bangunan existing dan bangunan baru didapatkan nilai NPV positif sebesar Rp.28.958.735.031 dan nilai IRR sebesar 18,88%, waktu pengembalian 9 tahun 1 bulan. Hasil perhitungan dengan metode DCF dilakukan simulasi monte carlo, sehingga didapatkan nilai NPV rata-rata positif sebesar Rp.21.854.144.293 dan nilai IRR rata-rata sebesar sebesar 11,4% dengan waktu pengembalian rata-rata 8 tahun 11 bulan. Nilai standar deviasi untuk NPV sebesar Rp.6.457.269.316 dan nilai standar deviasi untuk IRR sebesar 1,34%. Perbandingan NPV positif dan nilai IRR lebih besar dari MARR, sehingga alternatif bangun baru layak dilaksanakan. Mempertahankan bangunan existing perlu dilakukan analisis teknik terkait keandalan bangunan existing. Kata kunci: studi kelayakan, metode DCF, metode monte carlo Abstract An investment feasibility study was conducted using the discounted cash flow (DCF) method. The results of the DCF method were simulated using the Monte Carlo method. The indicators used were occupancy rate, construction cost increases, rental cost increases, and service charge increases. Cash flows for existing and new buildings were created to calculate their NPV and IRR. The DCF method calculation for the existing building, with a MARR of 7.47%, resulted in a positive NPV of Rp.155,274,649,791 and an IRR of 31.5%, with a payback period of 6 years and 4 months. The calculation for the new building resulted in a positive NPV of Rp.184,233,384,822 and an IRR of 17.5%, with a payback period of 8 years and 8 months. The comparison between the existing and new buildings resulted in a positive NPV of Rp.28,958,735,031 and an IRR of 18.88%, with a payback period of 9 years and 1 month. The DCF method results were simulated using the Monte Carlo method, resulting in an average positive NPV of Rp.21,854,144,293 and an average IRR of 11.4% with an average payback period of 8 years and 11 months. The standard deviation for NPV is Rp.6,457,269,316 and for IRR is 1.34%. The positive NPV comparison and IRR value greater than the MARR indicate that the new building alternative is feasible. Maintaining the existing building requires a technical analysis related to its reliability. Keywords: feasibility study, DCF method, monte carlo metho

    Model Prototipe Alih Ragam Hujan Ke Debit Menggunakan Data Satelit TRMM Dan Jaringan Syaraf Tiruan

    Full text link
    Abstrak Ketersediaan dan akurasi data hujan maupun debit menjadi masalah umum di setiap DAS termasuk Sub DAS Lesti. Penelitian ini fokus pada kalibrasi dan validasi data satelit TRMM terhadap pos hujan lapangan. selain itu, bertujuan untuk mengembangkan model prototipe alih ragam hujan ke debit menggunakan JST. Pemodelan ini memanfaatkan data masukan hidrologi, termasuk data satelit TRMM, hari hujan, evaporasi, dan penggunaan lahan, serta data target debit dari Sub DAS Lesti. Hasil kalibrasi dan validasi data satelit TRMM menghasilkan nilai NSE sebesar 0,97 (sangat baik) dan koefisien korelasi (R) sebesar 1,00 (sangat kuat). Selain itu, hasil pemodelan diperoleh kalibrasi terbaik model prototipe yang mengkonversi data hujan menjadi debit menggunakan JST dengan fungsi transfer logsig, menghasilkan nilai koefisien korelasi R = 0,98897 (sangat kuat) dengan skema arsitektur jaringan 8-2-10-1 (terdiri dari delapan lapisan masukan, dua lapisan tersembunyi, sepuluh neuron, satu lapisan keluaran) pada 3000 epochs. Kata kunci: Hujan, Debit, TRMM, Jaringan Syaraf Tiruan  Abstract The availability and accuracy of rain and discharge data is a common problem in every watershed, including the Lesti sub-watershed. This research focuses on the calibration and validation of TRMM satellite data on field rain posts. Apart from that, it aims to develop a prototype model for transferring rainfall variations to discharge using ANN. This modeling utilizes hydrological input data, including TRMM satellite data, rainy days, evaporation, and land use, as well as discharge target data from the Lesti Sub-watershed. The results of calibration and validation of TRMM satellite data produced an NSE value of 0.97 (very good) and a correlation coefficient (R) of 1.00 (very strong). In addition, the modeling results obtained the best calibration of the prototype model which converts rain data into discharge using ANN with the logsig transfer function, producing a correlation coefficient value of R = 0.98897 (very strong) with an 8-2-10-1 network architecture scheme (consisting of eight input layers, two hidden layers, ten neurons, one output layer) at 3000 epochs. Keywords:  Rainfall, Discharge, TRMM, Artificial Neural Networ

    Analisa Revisi Desain pada Kinerja Pelaksanaan Konstruksi: Studi Kasus Gedung Kantor Pajak Pratama Natar

    No full text
    Abstrak   Pada Proyek Pembangunan Gedung Kantor Pelayanan Pajak Pratama – Natar, ditemukan masalah seperti gambar yang tidak dapat dilaksanakan, perubahan rencana kerja, dan perubahan scope pekerjaan. Tujuan penelitian adalah menganalisa faktor utama yang mempengaruhi perubahan desain dalam durasi pelaksanaan. Metode yang digunakan dengan melakukan penyebaran kuesioner sebagai data utama dan wawancara sebagai data pendukung, yang kemudian dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian dari perubahan desain pada proyek konstruksi, yang disebabkan oleh ketidaksesuaian antara rencana dan kondisi lapangan, mungkin berdampak signifikan terhadap durasi proyek. Perubahan ini dipicu oleh penyesuaian kondisi lapangan dan permintaan dari pihak pemilik proyek, seperti penambahan pos jaga serta instalasi air conditioner di area yang tidak direncanakan sebelumnya. Kesenjangan ini menyebabkan keterlambatan proyek, yang seharusnya telah mencapai 97% pada minggu ke-39, namun realisasinya hanya 63%. Faktor-faktor seperti penyesuaian lapangan dan permintaan pemilik proyek, termasuk penambahan fasilitas tak terduga, berkontribusi dominan terhadap keterlambatan dan peningkatan biaya kemudian dari 13 faktor yang dianalisis, faktor dominan yang mempengaruhi perubahan desain yaitu kesalahan estimasi biaya (prioritas 0,098%), ketidaktersediaan standar material (prioritas 0,085%), dan penundaan pekerjaan (prioritas 0,084%). Kesimpulan adalah bahwa perubahan desain dalam proyek konstruksi paling dominan dipengaruhi oleh faktor Kesalahan Estimasi Biaya dan Ketidaksesuaian Desain dengan Kondisi Lapangan, berdasarkan bobot prioritas tertinggi hasil metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kedua faktor ini berasal dari aspek perencanaan, yang terbukti lebih berpengaruh terhadap durasi proyek dibandingkan faktor pelaksanaan.   Kata kunci: manajemen perubahan, durasi pelaksanaan, AHP, faktor perencanaan, faktor konstruksi.   Abstract   The construction of the Pratama Tax Office Building in Natar encountered several issues, including unimplementable drawings, changes in work plans, and alterations in the project scope. This study aims to analyze the dominant factors influencing design changes that affect project duration. The research employed a questionnaire as the primary data collection method and interviews as supporting data, analyzed using the Analytical Hierarchy Process (AHP). The results indicate that design changes, triggered by discrepancies between the planning documents and actual site conditions, significantly impacted the project\u27s timeline. These changes were largely driven by field adjustments and client requests, such as additional guard posts and unexpected air conditioning installations. The gap between plan and execution caused a delay, where the project was expected to reach 97% completion by week 39 but only achieved 63%. From the 13 factors analyzed, the most influential on design changes were cost estimation errors (priority 0.098%), unavailability of standard materials (0.085%), and work delays (0.084%). The study concludes that design changes in construction projects are predominantly influenced by planning-related factors, particularly cost estimation errors and inconsistencies between design and site conditions. These planning factors have a greater impact on project duration than those arising during execution.   Keywords: change management, project duration, AHP, planning factors, Construction factors.Pada Proyek Pembangunan Gedung Kantor Pelayanan Pajak Pratama - Natar, ditemukan masalah seperti gambar yang tidak dapat dilaksanakan, perubahan rencana kerja, dan perubahan scope pekerjaan. Tujuan penelitian adalah menganalisa faktor utama yang mempengaruhi perubahan desain dalam durasi pelaksanaan. Metode yang digunakan dengan melakukan penyebaran kuesioner sebagai data utama dan wawancara sebagai data pendukung, yang kemudian dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian dari perubahan desain pada proyek konstruksi, yang disebabkan oleh ketidaksesuaian antara rencana dan kondisi lapangan, mungkin berdampak signifikan terhadap durasi proyek. Perubahan ini dipicu oleh penyesuaian kondisi lapangan dan permintaan dari pihak pemilik proyek, seperti penambahan pos jaga serta instalasi air conditioner di area yang tidak direncanakan sebelumnya. Kesenjangan ini menyebabkan keterlambatan proyek, yang seharusnya telah mencapai 97% pada minggu ke-39, namun realisasinya hanya 63%. Faktor-faktor seperti penyesuaian lapangan dan permintaan pemilik proyek, termasuk penambahan fasilitas tak terduga, berkontribusi dominan terhadap keterlambatan dan peningkatan biaya kemudian dari 13 faktor yang dianalisis, faktor dominan yang mempengaruhi perubahan desain yaitu kesalahan estimasi biaya (prioritas 0,098%), ketidaktersediaan standar material (prioritas 0,085%), dan penundaan pekerjaan (prioritas 0,084%). Kesimpulan adalah bahwa perencanaan yang komprehensif dan terstruktur menjadi determinan utama dalam meminimalkan risiko perubahan desain, dengan pengelolaan yang cermat terhadap estimasi biaya, ketersediaan standar material, dan perencanaan jadwal kerja yang optimal. Selain itu, efektivitas manajemen konstruksi harus ditingkatkan melalui integrasi yang strategis dengan perencanaan, karena perencanaan memiliki pengaruh yang lebih signifikan dalam memastikan keberhasilan pengendalian durasi dan biaya pelaksanaan proyek secara menyeluruh

    365

    full texts

    395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teras Jurnal (Jurusan Teknik Sipil)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇