Jurnal Online Universitas Terbuka
Not a member yet
    2167 research outputs found

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) BERBANTUAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV PADA MATERI PANAS

    Get PDF
    As one of the teaching method, cooperative learning can be applied in teaching Science in Elementary School. The class is arranged in small groups and the teacher gives the instructions based on the purpose of teaching and learning. Those small groups will do the assignments so that all of students can understand the matter. The Cooperative Learning can be applied in every stages of age. Cooperative Learning also opens the wide opportunity to work together in a group and solve the problem cooperatively, the competence that is expected to support the concept of working together. Recently, there are many teachers in Elementary School applied the reward and punishment as the Competition Method for teaching and giving remarks. In this method, the students are trying to be the best. The teacher also gives reward or punishment to motivate students. This technique is based on the Behaviorism Theory or Stimulus-Response. The main purpose of evaluation in Competition Method is to give the ranks from the top to the bottom. The categories can be divided into average students, the intelligent students and the failure students. The negative side of this method is that the students will spent almost of their twelve years of basic education phase to be the average students, without ever having the feeling of being the intelligent students. Meanwhile, the positive side is that it can improve the students motivation to be active in the classroom. Sebagai sebuah model pengajaran, pembelajaran kooperatif dapat diterapkan pada Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Kelas diatur ke dalam kelompok-kelompok kecil dan guru memberikan petunjuk berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kelompok kecil ini bekerja melalui tugas hingga semua kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas tersebut. Pembelajaran kooperatif dapat diterapkan pada semua tugas dalam berbagai kurikulum untuk segala usia siswa. Pembelajaran kooperatif memberikan cara bagi para siswa mempelajari keterampilan hidup antar pribadi yang penting dan mengembangkan kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif, perilaku yang secara khusus diinginkan oleh sebagian besar organisasi untuk mendukung konsep kerja sama. Dewasa ini yang terjadi di sekolah, banyak guru menggunakan sistem kompetisi dalam pengajaran dan penilaian siswa. Dalam model pembelajaran kompetisi, siswa belajar dalam suasana persaingan. Tidak jarang pula, guru memakai imbalan dan ganjaran sebagai sarana untuk memotivasi siswa dalam memenangkan kompetisi sesama siswa. Teknik imbalan dan ganjaran yang didasari oleh teori behaviorisme atau stimulus-respon ini, banyak mewarnai sistem penilaian hasil belajar. Tujuan utama evaluasi dalam model pembelajaran ini adalah menempatkan siswa dalam urutan mulai dari yang paling baik sampai dengan yang paling jelek. Pola penilaian biasanya, menempatkan sebagian besar siswa dalam kategori rata-rata, beberapa anak dalam kategori berprestasi, dan beberapa lagi sebagai calon tidak lulus. Akibat langsung pola penilaian semacam ini adalah sebagian besar anak harus melewati sedikitnya 12 tahun dalam masa hidup mereka sebagai anak yang rata-rata atau biasa-biasa saja. Siswa tidak pernah merasakan kebanggaan sebagai anak berprestasi. Secara positif, model kompetisi bisa menimbulkan rasa cemas yang bisa memacu siswa untuk meningkatkan kegiatan belajarnya. Sedikit rasa cemas memang mempunyai korelasi positif dengan motivasi belajar. &nbsp

    KEPUASAN KLIEN DAN KEGUNAAN LAPORAN AUDIT EKSTERNAL STAKE HOLDER (PERSPEKTIF KLIEN AUDIT)

    Get PDF
    The purpose of the paper is to test a structural equation model (SEM) of client satisfaction with the audit, and of client perception of the usefulness of the audit to external stakeholders. A questionnaire was mailed to audit clients, i.e. of manufacturing go public companies in the province of Banten; 57 useable questionnaires were returned. Data were processed using the SEM software Partial Least Square (PLS). The data suggest that auditors face difficulties in handling divided loyalties, as audit clients perceive a strong relationship between client satisfaction and usefulness to external stakeholders. The higher auditors competence is perceived to be by the clients, the more satisfied they are with the audit and the more useful they believe the audit is to external stakeholders. The more skeptical the auditor is perceived to be by the clients, the less satisfied they are with the audit and the moreuseful they believe the audit is to external stakeholders. The findings extend previous results, the better the relationship with the auditor is perceived to be by the clients, the more satisfied they are with the audit and the less useful they believe the audit is to external stakeholders. The study addresses an issue most auditing research has not explicitly considered: the distinction between client satisfaction with the audit and client perceptions of the usefulness of the audit to external stakeholders. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menguji model persamaan struktural (SEM) atas kepuasan klien, audit, dan persepsi klien tentang kegunaan audit kepada pemangku kepentingan eksternal. Responden penelititan ini adalah 57 klien audit, yang bekerja di perusahaan manufaktur go public di Provinsi Banten. Data diolah dengan menggunakan softwareSEM Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa auditor menghadapi kesulitan dalam menangani kesetiaan yang terbagi bagi, antara harus berada pada posisi kepuasan klien dan kegunaan kepada para pemangku kepentingan eksternal. Semakin berkompeten auditor, semakin puas klien audit dan lebih bermanfaat untuk stakeholdereksternal. Semakin skeptis auditor yang dianggap oleh klien, semakin kurang puas mereka klien audit dan semakin berguna untuk stakeholdereksternal. Semakin baik hubungan dengan auditor yang dianggap oleh klien, semakin puas klien audit dan kurang berguna bagi stakeholdereksternal. Penelitian ini membahas masalah penelitian audit belum secara eksplisit dipertimbangkan

    PENGARUH POLA PENGASUHAN ORANGTUA DAN PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERHADAP TINGKAT KREATIVITAS ANAK PRASEKOLAH (4-5 TAHUN)

    Get PDF
    Preschoolers are creative people, unfortunately many parents and teachers are less aware or less can appreciate the creativity of children. They would want a child who is always obedient and do the things parents want or do the same things as other children. Services to early childhood education is a fundamental influence on the development of selanjunya child to adult. Hurlock (1991) says that the early years of a child's life is the basis which tends to persist and influence the attitudes and behavior of children throughout his life. At preschool age, children have the nature of imitation or copying of anything he had seen. This study aims to determine the effect characteristic of the individual and family characteristic to the creativity and parenting parents and the learning process at school on the level of creativity of kindergarten age children. The method used in this study was a cross sectional study. Guide TK Ananda Open University with a sample of 30 children. Data obtained through observation, interviews and documentation. From the research results can be seen that the gender and birth order of the child has no correlation with parenting styles applied to the elderly at home. Family characteristics did not correlate with their parenting styles on children, as well as the characteristics of the child with the child's creativity. There is a significant relationship between education fathers with children's creativity in the face of boredom, while also shown a significant relationship between the mother opinion in answering the questions in the children's play activities that can improve creativity. There is a significant correlation between parental care provided to the ability of a child's imagination, familiar surroundings, answering questions posed from child to improve the child's ability to experiment, creating new stimuli children so that children have the ability to overcome boredom.   Anak prasekolah adalah individu yang kreatif, sayangnya banyak orang tua dan guru yang kurang menyadari atau kurang dapat menghargai kreativitas anak. Mereka lebih menginginkan anak yang selalu patuh dan melakukan hal-hal yang diinginkan orang tua atau melakukan hal-hal yang sama seperti anak lain. Layanan pendidikan kepada anak usia dini merupakan dasar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjunya hingga dewasa. Hurlock (1991) mengatakan bahwa tahun-tahun awal kehidupan anak merupakan dasar yang cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya. Pada usia pra sekolah, anak mempunyai sifat imitasi atau meniru terhadap apapun yang telah dilihatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteritik individu dan karakteritik keluarga terhadap kreativitas dan pola asuh orang tua dan proses pembelajaran di sekolah terhadap tingkat kreativitas anak usia TK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional studi. Dilakukan di TK Ananda Universitas Terbuka dengan jumlah sampel 30 anak. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa jenis kelamin dan urutan kelahiran anak tidak memiliki korelasi dengan gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua di rumah. Karakteristik keluarga tidak memiliki korelasi dengan gaya pengasuhan mereka terhadap anak, begitu juga anak dengan karakteristik anak terhadap kreativitas. Terdapat hubungan yang siginifikan antara pendidikan ayah dengan kreativitas anak dalam menghadapi rasa bosan, selain itu juga terlihat hubungan signifikan antara pendapat ibu dengan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan anak dalam kegiatan bermain yang dapat meningkatkan kreativitas. Terdapat hubungan signifikan antara pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap kemampuan imajinasi anak, mengenal lingkungan sekitar, menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari anak sehingga meningkatkan kemampuan anak untuk bereksperimen, menimbulkan rangsangan-rangsangan baru anak sehingga anak memliki kemampuan dalam mengatasi rasa bosan.&nbsp

    PEMANFAATAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF ULAR TANGGA DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK DI KELAS III SD

    Get PDF
    Games as tools in education is one of the media-based simulation designed to stimulate the existing problems, in order to obtain the essence of science that can be used to solve the problem. This research was conducted with the purpose of implementing the thematic-based character education by utilizing the tools of educational games. The results of this study are expected to provide an alternative activity to play in learning process and cultivate children to skillfully handle the problem independently, encouraging teachers to be more creative in educating the children with media interest and in accordance with the children's development. This study used a quasi-experimental design. The data collection technique used was the test and observation guidelines. Implementation of research had been done in class III SD 02 Temulus in Distric of Kudus in central of Java. The research result showed that the activity of students in the learning was 84 which is very active. The result of learning process skills was 81, while learning completeness score was 88. The test results influenced the activity of the students’ learning as big as 0,684.  There was still 0,352 of variance which was influenced by other variables.  The influence of skills in the learning process of students to the students test scores was 0,616. It means, there are other variables which influence the test scores as big as 0,384. Comparative tests between pre-test and post-test (t test) was t = 12,2*,  means that there was difference in learning outcomes before and after treatment.   Alat permainan edukasi adalah salah satu media berbasis simulasi didesain untuk menstimulasikan permasalahan yang ada, sehingga diperoleh esensi ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menerapkan pendidikan karakter berbasis tematik dengan memanfaatkan alat permainan edukatif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif kegiatan bermain sambil belajar dan membudayakan anak untuk terampil mengatasi masalahnya secara mandiri, mendorong guru untuk dapat lebih kreatif membelajarkan anak dengan media yang menarik dan sesuai dengan perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen (eksperimen semu). Sedangkan teknik pengumpulan yang digunakan adalah tes dan pedoman observasi. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas III SD02 TemulusKabupaten Kudus. Dari hasil penelitian diperoleh nilai keaktifan siswa dalam pembelajaran sebesar 84 dengan kriteria sangat aktif. Adapun nilai keterampilan proses dalam pembelajaran sebesar 81 dengan kriteria terampil, sedangkan ketuntasan belajar diperoleh skor 88. Dari hasil uji pengaruh keaktifan terhadap hasil belajar diperoleh skor 0,684 yang artinya masih ada pengaruh dari variabel lain sebesar 0,352. Sedangkan pengaruh keterampilan proses siswa dalam pembelajaran diperoleh skor 0,616 sehingga masih ada pengaruh variabel lain sebesar 0,384. Uji banding sebelum dan sesudah perlakukan (uji t) diperoleh nilai t = 12,2 < 0,05 dapat diartikan bahwa ada perbedaan hasil belajar sebelum dan sesudah perlakuan

    PEMODELAN PEMBIMBINGAN PRAKTIK PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP) PADA MAHASISWA PENDIDIKAN JARAK JAUH MELALUI LESSON STUDY

    Get PDF
    This study aims to generate an effective way of guiding the practice of Professional Capabilities Stabilization (Pemantapan Kemampuan Profesional/PKP) and is used to enhance the ability of S1 PGSD-UT student in the learning improvement. Through lesson study in PKP considered important, because theoretically, provide a way for teachers to improve learning systematically (Podhorsky, C., & Fisher, D., 2007). As the program estuary of S1 PGSD-UT program, this program is the culmination of a course that has been followed earlier by S1 students PGSD. Through PKP, students are expected to have better professional skills in applying the principles of action research (PTK) to find, analyze, and formulate learning problems encountered. The study was conducted with a participatory or emancipatory paradigm approach as set out basic concepts of participatory action reseach (McTaggart, R., 1991, Carr and Kemmis, 1990, Connole, 1993). The study was conducted in 2014 with 34 students S1 PGSD-UT as a sample. The research method using observation, learning journals, interviews, and documentaries. Results showed that the lesson study as a model for professional development of educators through collaborative learning and continuous assessment based on the principles of collegiality and mutual learning to build a learning community. Lesson study selected and implemented the guidance PKP be an effective way to improve the quality of learning and teaching in the classroom. The development of lesson study conducted and based on the "sharing" knowledge based on practice and teacher learning outcomes. Stages lesson study on mentoring PKP include six, namely: (1) forming a group lesson study, (2) determine the focus of the study, (3) plan research lesson, (4) the implementation and observation of learning, (5) to discuss and analyze the results of observation, and (6) of reflection. Guidance PKP with lesson study produced five phases, namely a phase in service training, Generic Classroom Action Research  (CAR practices), studying ICT, report preparation and presentation of reports PKP. Through lesson study under the guidance of PKP increased teacher competence, quality improvement processes and learning outcomes, development of democratic learning paradigm based on constructivism to develop scientific thinking. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu cara yang efektif dalam pembimbingan praktik Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) dan digunakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa S1 PGSD-UT dalam perbaikan pembelajaran. Melalui lesson study dalam PKP dianggap penting, karena secara teoretis, menyediakan suatu cara bagi guru untuk dapat memperbaiki pembelajaran secara sistematis (Podhorsky, C., & Fisher, D., 2007). Sebagai program muara dari program S1 PGSD-UT, program ini merupakan puncak dari mata kuliah yang telah di ikuti sebelumnya oleh mahasiswa S1 PGSD. Melalui PKP, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan profesional yang lebih baik dalam menerapkan prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk menemukan, menganalisis, dan merumuskan masalah pembelajaran yang dihadapi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan paradigma participatory atau emancipatory sebagai konsep dasar yang berangkat dari participatory action reseach (McTaggart, R., 1991, Carr and Kemmis, 1990, Connole, 1993). Penelitian dilakukan pada tahun 2014 dengan 34 mahasiswa S1 PGSD-UT sebagai sampel. Metode penelitian menggunakan teknik observasi, jurnal belajar, wawancara, dan dokumenter. Hasil menunjukkan bahwa lesson study sebagai model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Lesson study dipilih dan diimplementasikan pada bimbingan PKP menjadi cara efektif untuk meningkatkan kualitas belajar dan mengajar di kelas.  Pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing†pengetahuan yang berlandaskan pada praktek dan hasil pembelajaran guru. Tahapan lesson study pada pembimbingan PKP mencakup enam, yaitu: (1) membentuk group lesson study, (2) menentukan fokus kajian, (3) merencanakan research lesson, (4) pelaksanaan dan observasi pembelajaran, (5) mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi, dan (6) refleksi. Bimbingan PKP dengan lesson studydihasilkan 5 fase, yaitu fase in service training, Generik PTK (praktik PKP), belajar ICT, penyusunan laporan PKP dan Presentasi hasil laporan PKP. Melalui lesson study dalam bimbingan PKP terjadi peningkatan kompetensi guru, peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran, pengembangan pembelajaran yang demokratis berbasis paradigma konstruktivisme untuk membangun pola pikir ilmiah.  &nbsp

    BENARKAH ATMOSPHERIC CUES BERDAMPAK PADA HUBUNGAN KUALITAS LAYANANAN PADA LOYALTY INTENTION? STUDI KASUS PERHOTELAN PADA DAERAH TUJUAN WISATA DI PAPUA

    Get PDF
    Entering the ASEAN Economic Community in 2015 sparked a number of tourism industry especially in the hospitality sector to improve its performance with the expectations of consumers intend to be loyal. Therefore need to be attentive hospitality managers to examine the variables that affect the intention to be loyal. Several previous studies have explained that the quality of service and customer value is not the only variable that affects loyalty intention, but some research suggests that atmospheric cues influence on loyalty intention. Some research explains that atmospheric cues did not moderate the relationship of service quality on loyalty intention. This study aimed to examine the effect of service quality and customer value on loyalty intention and to test the moderating variable atmospheric cues. The research results that atmospheric cues significant positive effect on loyalty intention. Atmospheric cues also moderate and weaken the impact of service quality relationships and loyalty intention. After the subgroup analysis. The results also explain that the significant positive effect on customer loyalty intention. Memasuki ASEAN Economic Community 2015 memicu sejumlah industri khususnya pariwisata pada sektor perhotelan untuk meningkatkan performanya dengan harapan konsumen menjadi loyal. Oleh sebab itu perlu menjadi perhatian manajer perhotelan untuk mengkaji variabel yang berpengaruh pada niat menjadi loyal. Beberapa penelitian terdahulu memaparkan bahwa kualitas layanan dan nilai pelanggan bukan satu-satunya variabel yang memengaruhi loyalty intention, namun beberapa penelitian mengemukakan bahwa atmospheric cues berpengaruh pada loyalty intention. Beberapa hasil penelitian menjelaskan bahwa atmospheric cues tidak memoderasi hubungan kualitas layanan pada loyalty intention. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kualitas layanan dan nilai pelanggan pada loyalty intention serta menguji variabel pemoderasi atmospheric cues. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atmospheric cues berpengaruh positif signifikan pada loyalty intention. Atmospheric cues juga memoderasi dan berdampak memperlemah hubungan kualitas layanan dan loyalty intention. Setelah dilakukan subgroup analysis. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa nilai pelanggan berpengaruh positif signifikan pada loyalty intention

    COMMUNITY HEALTH EDUCATION THROUGH NON-FORMAL EDUCATION IN PAKISTAN

    Get PDF
    Pendidikan kesehatan merupakan komponen integral dari pelayanan kesehatan primer. Petugas kesehatan wanita menyediakan berbagai layanan kesehatan kepada masyarakat di Pakistan. Mereka harus menyadari dan dilatih tentang aspek kuratif dan preventif pelayanan kesehatan primer. Ada kebutuhan mendesak untuk mendidik dan mengatur kesehatan pelatihan pendidikan untuk petugas kesehatan wanita. Jadi studi ini dirancang pada "pendidikan kesehatan masyarakat melalui pendidikan non-formal". Populasi dari penelitian ini adalah petugas kesehatan wanita, master trainer dan masyarakat. Tanggal dikumpulkan melalui lima titik skala Likert dan beberapa pertanyaan terbuka untuk petugas kesehatan wanita dan master trainer dan wawancara checklist untuk masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas kesehatan wanita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan dan penyakit umum. Ada cukup pelatihan in-service bagi petugas kesehatan wanita untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk hasil yang lebih baik. Studi direkomendasikan bahwa selain program pelatihan yang ada, sesi kesehatan pelatihan harus diatur melalui videoconference / telekonferensi, kursus pelatihan online, media sosial, TV / program Radio FM, literatur terbaru, program CD yang direkam untuk petugas kesehatan wanita.   Health education is an integral component of primary health care services. Lady health workers provide a broad range of health services to the communities in Pakistan. They should be aware and trained about curative and preventive aspects of primary health care services. There is an urgent need to educate and organize health educational trainings for Lady Health Workers. So this study was designed on “community health education through Non-formal educationâ€. The population of this study was lady health workers, master trainers and community people. Date was collected through five point Likert scale and some open-ended questions for lady health workers and master trainers and interview checklist for community people. Results showed that the lady health workers do not have sufficient knowledge about health and common diseases. There are insufficient in-service trainings for lady health workers to enhance their skill and knowledge for better outcomes. Study recommended that in addition to existing training program, training health sessions should be arranged through videoconferencing/ teleconferencing, online training courses, social media, TV/ FM Radio programs, latest literature, CD recorded programs for lady health workers

    ISOLASI MIKROBA YANG DAPAT MENGHILANGKAN BAU PADA PUPUK ORGANIK AIR LIMBAH CUCIAN BERAS

    Get PDF
    Air limbah cucian beras jika difermentasi selama dua minggu menimbulkan bau. Penelitian yang dilakukan dengan menambah Efektif Microorganisme (EM 4) dapat memperpendek waktu fermentasi dan tidak menimbulkan bau. Efektif Microorganisme 4 adalah produk dari luar, sementara Indonesia mempunyai banyak mikroorganisme lokal yang potensial untuk dikembangkan. Pupuk organik ini telah diteliti pada tanaman anggrek, sayur-sayuran, dan kedelai. Tujuan penelitian untuk mendapatkan mikroorganisme lokal yang dapat menghilangkan bau pada air limbah cucian beras yang akan digunakan sebagai pupuk organik. Isolasi dengan menggunakan media Patato Dextrose Agar (PDA) dan Mann Rogosa Sharpe Agar (MRSA), dengan sumber inokulan air limbah cucian beras, ragi tape, kombucha, dan yoghurt. Hasil isolasi diperoleh 2 jenis Lactobacillus dari air limbah cucian beras dan yogurt. Ada tujuh khamir yang diperoleh, yaitu dari air limbah cucian beras (4 jenis), ragi tape (2 jenis), dan kombucha (1 jenis). Dari hasil penelitian ini dipilih 1 jenis Lactobacillus, dan 4 jenis khamir yang dapat hidup dengan baik di dalam air limbah cucian beras dan tidak menimbulkan bau

    PENGARUH KEPEMILIKAN KELUARGA, KEDEKATAN DIREKSI &Amp; KOMISARIS DENGAN PEMILIK PENGENDALI TERHADAP KOMPENSASI DIREKSI &Amp; KOMISARIS PERUSAHAAN DI PASAR MODAL INDONESIA

    Get PDF
    The purpose of this study was to examine whether family ownership and Directors Commissioner who have close relations with owner has an influence on the compensation of the Board of Directors and Commissioner. This study uses data companies listed in Indonesia Stock Exchange 2004-2006 period, indicating that the higher proportion of families in the company and the lower involvement in the management of the company, the lower the compensation of Directors and Commissioner. This means that if a family is only acting as an owner, but does not have a high involvement in the management of the company, the compensation Board of Directors and commissioner to be more optimal. In other words the family control as the owner of the Commissioner and Directorss compensation is effective. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah apakah kepemilikan keluarga dan direksi komisaris yang memiliki kedekatan dengan pemilik mempunyai pengaruh terhadap kompensasi direksi komisaris. Penelitian ini menggunakan data perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2006. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi proporsi keluarga dalam perusahaan dan semakin rendah keterlibatannya dalam pengelolaan perusahaan, semakin rendah kompensasi direksi komisaris. Artinya apabila keluarga hanya bertindak sebagai pemilik namun tidak memiliki keterlibatan yang tinggi dalam pengelolaan perusahaan, maka kompensasi direksi komisaris menjadi lebih optimal. Atau dengan kata lain kontrol keluarga sebagai pemilik terhadap kompensasi direksi komisaris berjalan dengan efektif

    PENGARUH FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK LOYALITAS MAHASISWA UNIVERSITAS TERBUKA

    Get PDF
    Online tutorials is one form of e-learning are given UT. Since the registration period 2013.1 - 2014.2, the number of courses offered in Tuton increased 11% and participants increased 52%. Although Tuton has been growing rapidly, but the total decline in the number of students from the registration period 2013.1 to 2015.1. A decrease in the number of students can be justified as an indicator of lack of loyalty or retention of students. The main objective of this study was to test the relationships between the antecedents of loyalty, service quality, commitment, satisfaction, and reputation. The study population was coming from four faculties and one graduate program.Non probability method of sampling with judgmental sampling technique used in this study. The minimum required sample size of 200 respondents. Survey data collection is done by inviting respondents by email to fill out a questionnaire online in google site. Then the data were analyzed either descriptively and quantitatively using descriptive analysis and Structural Equation Modeling (SEM). Results of hypothesis testing showed 6 of 7 hypothesis is accepted with significant results. The sixth hypothesis are the influence of the quality of services to satisfaction; the effect on the reputation of the quality of services; the effect of commitment to student satisfaction; the effect of satisfaction to reputation; the effect of satisfaction on loyalty; and the effect of reputation on loyalty. As for the hypothesis is rejected is the effect of the reputation on commitment.   Tutorial online merupakan salah satu bentuk e-learning yang diberikan UT.Sejak masa registrasi 2013.1-2014.2, jumlah mata kuliah yang ditawarkan dalam tuton bertambah sebesar 11% dan peserta tuton meningkat 52%. Walaupun tuton telah berkembang pesat, tetapi secara total terjadi penurunan jumlah mahasiwa dari masa registrasi 2013.1 hingga 2015.1. Penurunan jumlah mahasiswa dapat dijustifikasi sebagai salah satu indikator rendahnya loyalitas atau retensi mahasiswa.Tujuan utama dari penelitian ini adalah menguji relasi-relasi diantara anteseden loyalitas, yaitu kualitas jasa, komitmen, kepuasan, dan reputasi.Populasi penelitian ini adalah peserta tuton masa registrasi 2015.1 yang berasal dari 4 fakultas dan 1 program pascasarjana.Metode nonprobability sampling dengan teknik judgemental sampling digunakan dalam penelitian ini. Adapun ukuran sampel yang diperlukan minimum 200 responden. Pengumpulan data dilakukan  secara survei dengan mengundang responden melalui surel untuk mengisi kuesioner online dalam situs google. Kemudian data dianalisis baik secara deskriptif maupun kuantitatif menggunakan analisis deskriptif dan analisis Structural Equation Modelling (SEM). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan 6 dari 7 hipotesis diterima dengan hasil yang signifikan. Keenam hipotesis tersebut adalah pengaruh kualitas jasa terhadap kepuasan; pengaruh kualitas jasa terhadap reputasi; pengaruh komitmen terhadap kepuasan mahasiswa; pengaruh kepuasan terhadap reputasi; pengaruh kepuasan terhadap loyalitas; dan pengaruh reputasi terhadap loyalitas. Adapun satu hipotesis yang ditolak adalah pengaruh komitmen terhadap reputasi

    1,630

    full texts

    2,167

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Terbuka
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇