Jurnal Online Universitas Terbuka
Not a member yet
    2167 research outputs found

    PEMBERDAYAAN EKONOMI NELAYAN PENGOLAH IKAN ASAP DI DESA HATIVE KECIL, KOTA AMBON

    Get PDF
    Processing smoked fish is usually in home industrial scale business. Therefore limitations of human resources need to be adjusted in order to optimize them and solve the problems related to developing the industry. This article discusses the availability and problems in developing sustainable smoked fish industry. The research results showed the potential fish industry in the village of Small Hative, smoked fish processing and artificial resourcesincluding shipbuilding and coldstorage . The weaknesses of developing smoked fish industry in the village of Small Hative, due to the limitation of access to capital and management, lack of training in supporting the processing of smoked fish, especially in the application of sanitary and hygiene, lack of expansion or business development. In addition, the weaknesses are due to the unavailability of fisherman organization, lack of networking and business partnerships, and the lack of mentoring and supervision. Developing program to utilize fishermen in the processing of smoked fish should be in participatory process. The program should include developing fishermen organization, developing fishermen knowledge, developing fishermen networking, and developing fishermen supervision Pengolahan ikan asap tergolong dalam usaha skala industri rumah tangga. Karena itu, keterbatasan sumberdaya memerlukan pengaturan yang dapat mengoptimalkan penggunaannya dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam usaha pengolahannya. Artikel ini membahas: potensi dan kondisi serta permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan usaha pengolahan ikan asap, rencana program pemberdayaan nelayan untuk mengembangkan usaha pengolahan ikan asap yang mandiri dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tersedia banyak potensi perikanan di Desa Hative Kecil diantaranya perikanan tangkap, pengolahan ikan asap serta sumberdaya buatan meliputi galangan kapal dan coldstorage. Lemahnya pengembangan usaha perikanan asap nelayan di Desa Hative Kecil, disebabkan masih terbatasnya akses permodalan dan manajemen, tidak adanya pelatihan untuk mendukung pengolahan perikanan asap terutama dalam penerapan sanitasi dan hygiene, tidak adanya perluasan atau perkembangan usaha. Disamping itu, kelemahan tersebut disebabkan karena belum terbentuknya kelembagaan kelompok nelayan, lemahnya jejaring dan kemitraan usaha serta belum intensifnya pendampingan dan pengawasan. Penyusunan program pemberdayaan nelayan pengolah ikan asap dilakukan secara partisipatif dengan mempertimbangkan potensi, masalah dan kebutuhan nelayan. Program tersebut adalah program pengembangan usaha perikanan asap, dengan berbagai kegiatannya yaitu pengembangan pengetahuan SDM nelayan, pembentukan kelembagaan kelompok nelayan, pengembangan jejaring dan kemitraan dan peningkatan pendampingan dan pengawasan.  &nbsp

    PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN SELF MONITORING SISWA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH DALAM BIOLOGI BAGI SISWA KELAS X SMA

    Get PDF
    The purpose of this study was to describe (1) the ability to follow the scientific thinking of students learning with cooperative learning. (2) differences in scientific thinking skills among students who have self-monitoring high and students who have self-monitoring low (3) differences in scientific thinking skills of students who have self-monitoring high following study with cooperative learning learning students (4) differences in scientific thinking skills of students who have low self-monitoring which follows cooperative learning students in the subjects of biology in high school. (5) the effect of the interaction between learning strategy and self-monitoring of the scientific thinking skills. The research location is housed in SMA 22 Jakarta Timur. With descriptive results, the low self-monitoring group, the average student learning outcomes before treatment amounted to 58,55. After scientific thinking and treatment, an increase in the average learning result of 72,91 and 84,18. Likewise, the high self-monitoring group, the average student learning outcomes before treatment was of 58,33. After scientific thinking and treatment, an increase in the average learning result of 71,17 and 81,33. The average value of student learning outcomes before treatment amounted 58,43.Setelah scientific thinking and treatment, the average student learning outcomes increased by 72,0 and 82,70. The average value of student learning outcomes before treatment amounted 58,43.Setelah scientific thinking and treatment, be increased by 72,0 and 82,70. The average value of student learning outcomes low self-monitoring group amounted to 71,88. The average results of students 'self-monitoring group high of 70,28. Sebelum treatment, the average value of the students' self-monitoring group a low of 58,55. The average results of students' self-monitoring group high of 58,33. The difference in value of student learning outcomes between low self-monitoring groups did not differ significantly with high self-monitoring after treatment.   Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) kemampuan berpikir ilmiah  siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif. (2) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah antara siswa yang memiliki self monitoring tinggi dan siswa yang memiliki self monitoringrendah (3) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah siswa yang memiliki self monitoring tinggi yang mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif learning siswa (4) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah siswa yang memiliki self monitoring rendah yang mengikuti pembelajaran kooperatif  siswa dalam mata pelajaran biologi di SMA. (5) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan self monitoring terhadap kemampuan berpikir ilmiah. Lokasi penelitian ini bertempat di SMA 22 Jakarta Timur. Dengan hasil secara deskriptif, pada kelompok self monitoring rendah, rata-rata hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,55. Setelah berpikir ilmiah dan treatment, terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 72,91 dan 84,18. Demikian juga pada kelompok self monitoring tinggi, rata-rata hasil belajar siswa sebelum treatmentadalah sebesar 58,33. Setelah berpikir ilmiah dan treatment, terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 71,17 dan 81,33. Rata-rata nilai hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,43.Setelah berpikir ilmiah dan treatment, rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 72,0 dan 82,70. Rata-rata nilai hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,43.Setelah berpikir ilmiah dan treatment, menjadi  meningkat sebesar 72,0 dan 82,70. Rata-rata nilai hasil belajar siswa kelompok self monitoring rendah adalah sebesar 71,88. Rata-rata hasil belajar siswa kelompok self monitoring tinggi sebesar 70,28.Sebelum treatment, rata-rata nilai hasil belajar siswa kelompok self monitoring rendah sebesar 58,55. Rata-rata hasil belajar siswa kelompok self monitoring tinggi sebesar 58,33. Selisih nilai hasil belajar siswa antara kelompok self monitoring rendah tidak berbeda signifikan dengan self monitoring tinggi setelah treatment

    EFISIENSI PENERIMAAN PENDAPATAN ASET DAERAH (PAD) SUB SEKTOR PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI YOGYAKARTA 2008-2012

    Get PDF
    Yogyakarta is endowed by rich natural and cultural-based tourism attractions. It significantly contributes to the revenue of regional owned-revenue in Yogyakarta. The purpose of this study is to calculate the level of efficiency and to identify the sources of inefficiency of regional owned-revenue from the tourism sub sector of five citiy/municipalities in Yogyakarta. The method used in this study is the Data Envelopment Analisys (DEA). The input variables are the number of tourists, the number of hotels, the number of tourism and travel agencies, the number of restaurants, and as well as the number of availability of supporting tourism facilities. These five input variables are combined by the output variable which is regional-owned revenue of tourism sub sector. The efficiency result shows that two regions, city of Yogyakarta and Sleman, have already reached efficiency. In contrast, the revenue from tourism sub sector of Kulon Progo has not been efficient yet.The source of efficiency is dominated by the number of tourism and travel agencies, while the main source of inefficiency comes from the lack of tourism supporting facilites. Besarnya kekayaan pariwisata yang dimiliki oleh Yogyakarta memberikan nilai pikat dan daya tarik wisatawan asing maupun lokal untuk dikunjungi. Hal tersebut memberi kontribusi pada Pendapatan Aset Daerah di Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah menghitung tingkat efisiensi dan sumber-sumber efisiensi penerimaan Pendapatan Aset Daerah (PAD) sub sektor pariwisata di lima wilayah kota dan kabupaten di Yogyakarta.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Data Envelopment Analisys (DEA). Variabel input adalah jumlah wisatawan, jumlah hotel, jumlah usaha perjalanan wisata, jumlah rumah makan dan restaurant, serta jumlah sarana pendukung yang tersedia. Kelima variabel input dikombinasikan dengan variabel output PAD. Dari 5 Kabupaten/Kota di DIY terdapat 2 daerah yang mencapai nilai efisiensi yaitu Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, sedangkan Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul belum mencapai nilai efisiensi (inefisiensi). Nilai efisiensi tersebut didominasi oleh variabel input jumlah jasa perjalanan wisata sedangkan jumlah sarana pendukung menjadi sumber inefisiensi penerimaan PAD sub sektor pariwisata.&nbsp

    KAJIAN EFEK MULTIPLIER PRODUK UNGGULAN BERBASIS KLUSTER UKM PENGOLAHAN IKAN ASAP

    Get PDF
    The purpose of this research are to analyze scale of production of leading commodities and multiplier effect of cultivation and smoked fish in Wonosari, Bonang Demak. This research applies census method in collecting data from all business unit which identified as leading commodities in Wirosari Village, Bonang, Demak Regency. Regarding survey conducted, there are 18 catfish breeders and 49 smoked fish small business used as respondent. Primary data used in this research are rate of production in basis goods, land area, capital, raw materials, manpower, and income multiplier. To support empirical discussion, tools of analysis used in this research are descriptive statistics and income multiplier. Results of this research are primary commodities in Wonosari Village are smoked fish and fresh cat fish. Total production of smoked fish reaches 6.4 Ton each day for with type of smoked fish such as river cat fish, tongkol, sting-ray, cat fish, and other river fish. Meanwhile total production of catfish breeding reaches 105 Ton in first harvest after 2-3 months. Based on that number, smoked fish business promise higher profit than profits catfish breeding. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat produksi dan efek multiplier produk unggulan budidaya dan pengasapan ikan di Desa Wonosari, Bonang Kabupaten Demak. Penelitian mengunakan metode sensus dengan mencari data dari semua unit usaha yang merupakan produk unggulan di Desa Wirosari, Bonang Kecamatan Demak. Responden yang diperoleh sejumlah 18 pembudidaya ikan dan 49 usaha pengasapan ikan. Data primer yang akan digunakan yaitu data jumlah produksi komoditas unggulan, luas lahan, jumlah modal, bahan baku, tenaga kerja, dan multiplier pendapatan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, dan indeks multiplier pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas unggulan Desa Wonosari Kecamatan Bonang Kabupaten Demak adalah Ikan Asap dan Budidaya Ikan Lele. Total produksi harian ikan asap rata-rata mencapai 6,4 Ton ikan dengan jenis ikan yaitu manyung, tongkol, pari, lele, dan ikan air tawar lainnya. Potensi produksi lele yang dihasilkan Pokdakan Sari Mino yang diperoleh mencapai total 105 ton ikan lele saat panen dalam jangka waktu 2-3 bulan. Berdasarkan multiplier pendapatan, usaha pengasapan ikan lebih memberikan keuntungan dibandingkan dengan budidaya lele

    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK DAN PRESTASI BELAJAR MATERI BANGUN DATAR SEGIEMPAT BAGI SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 2 PATEAN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013

    No full text
    Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar di kelas VII khususnya VII-A SMP Negeri 2 Patean, selama ini guru jarang melakukan variasi pada pembelajaran di kelas dan kurang memberikan tantangan kepada siswa bahkan belum pernah menerapkan Pembelajaran pemecahan masalah dengan pendekatan saintifik. Permasalahan dalam penelitian ini, apakah pembelajaran Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematik dan prestasi belajar siswa pada materi bangun datar segiempat bagi siswa kelas VII-A.Untuk membahas permasalahan di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan tes akhir siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Patean yang berjumlah 25 siswa dengan komposisi 13 siswa putra dan 12 siswa putri. Indikator dalam penelitian ini adalah (1) Kemampuan berpikir kreatif matematik siswa rata-rata minimal pada kategori cukup kreatif, (2) Sekurang-kurangnya lebih dari 75% siswa kemampuan berpikir kreatif matematik siswanya termasuk kategori cukup kreatif, (3) Prestasi belajar siswa rata-rata mencapai batas minimal KKM yaitu 70, (4) Sekurang-kurangnya lebih dari 75% siswa prestasi belajarnya mencapai batas minimal KKM yaitu 70. Pada kondisi awal (pra-siklus) kemampuan berpikir kreatif matematik siswa dengan level sangat kreatif 0 siswa (0%), kreatif 2 siswa (8%), cukup kreatif 6 siswa (24%), kurang kreatif 8 siswa (32%), dan tidak kreatif 9 siswa (36%). Pada siklus I terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa level sangat kreatif 1 siswa (4%), kreatif 7 siswa (28%), cukup kreatif 9 siswa (36%), kurang kreatif 5 siswa (20%), dan tidak kreatif 3 siswa (12%). Pada siklus II lebih meningkat, siswa dengan kemampuan berpikir kreatif matematik level sangat kreatif 2 siswa (8%), level kreatif 9 siswa (36%), cukup kreatif 9 siswa (36%), kurang kreatif 3 siswa (12%), dan tidak kreatif 2 siswa (8%). Pada Siklus II banyak siswa dengan kemampuan berpikir kreatif matematika minimal level cukup kreatif ada 20 siswa (80%). Pada kondisi awal (pra-siklus) nilai tertinggi prestasi belajar siswa 80, nilai terendah 40, rata-rata nilai 60, dan ketuntasan klasikal 32% atau hanya 8 siswa yang mampu mencapai nilai di atas KKM 70. Pada Siklus I, nilai tertinggi prestasi belajar siswa 90, nilai terendah 45, dengan rata-rata nilai 68, dan ketuntasan klasikal 68% atau hanya 17 siswa yang mampu mencapai nilai di atas KKM 70. Sehingga masih ada 8 siswa atau 32% yang nilai prestasi belajarnya di bawah KKM. Pada siklus II meningkat menjadi nilai tertinggi prestasi belajar siswa 95, nilai terendah 50, dengan rata-rata nilai 75, dan ketuntasan klasikal 80% atau 20 siswa telah mampu mencapai nilai di atas KKM 70 namun masih ada 5 siswa atau 20% yang nilai prestasi belajarnya di bawah KKM. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan Pembelajaran Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematik dan prestasi belajar siswa

    PROFESIONALISME FRONT OFFICE DALAM LAYANAN ADMINISTRASI DAN AKADEMIK DI UNIVERSITAS TERBUKA

    Get PDF
    This paper is part of the research result done by the author in 2013 that covered 5 UT’s branch offices (Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka/UPBJJ-UT), namely Jakarta, Bogor, Serang, Palembang and Purwokerto. The purpose of this study was to describe the UT front office clerks’ professionalism in providing services to the students. Analysis was carried out on the factors that influence the UT front office clerks’ professionalism in providing services. This research method was a quantitative method, and the total number of the respondents were 30 UT front office personnels. The data collection was using questionnaire and interview techniques, meanwhile the data analysis was using frequency distribution and regression test. The study concluded that the professionalism of the UT front office clerks that which in the area of creativity, innovation and responsiveness was showing the score level at fairly good (73,18%). On the other hand, the factors that influenced the UT front office clerks’ professionalism were factors such as human resources, service-system, and service-strategy. The magnitude of the effect of these three main factors to the UT front office clerks’professionalism were as high as 89,2%, while the remaining 10,8% was influenced by other causes. Paper ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang dilakukan penulis pada tahun 2013 di 5 Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT), yaitu Jakarta, Bogor, Serang, Palembang dan Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan profesionalisme petugas front office UT dalam memberikan layanan kepada mahasiswa. Analisis dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap profesionalisme petugas front office dalam memberikan layanan kepada mahasiswa. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Jumlah responden yang diambil adalah sebanyak 30 responden petugas front office. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan interviu. Analisis data dengan menggunakan distribusi frekuensi dan uji statistik regresi. Hasil penelitian menyimpulkan profesionalisme petugas front office yang mencakup aspek kreativitas, inovasi dan responsivitas dapat dikatakan sudah mencapai taraf cukup baik (73,18%). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap profesionalisme front office adalah Sumber Daya Manusia, Sistem Layanan, dan Strategi Layanan. Besarnya pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap profesionalisme front office adalah sebesar 89,2%, sedangkan sisanya sebesar 10,8% oleh sebab-sebab lain. &nbsp

    PERTUMBUHAN TANAMAN PAKCOY SETELAH PEMBERIAN PUPUK URIN KELINCI

    Get PDF
    This paper discusses growth respond of Brassica rapa with hydroponic wick system by giving many kinds of dosages of fertilizer from rabbit urine. There were five dosages of rabbit urine which were 3 ml/l, 6 ml/l, 9 ml/l, 12 ml/l, 15 m/ll. Each dosage was applied to four kinds of plants and repeated five times. The total number of trials was 100. The plant height, leaves lenght and widht, leaves quantity, wet weight and consumed weight were measured. The five kinds of dosages did not show significant difference between all variables. Mathematically, the 12 ml/l dosage gave the biggest growth to plant height, leaves quantity, leaves length, leaves width.wet weight, and consumed weight. The smallest size of impact to all variables was for 3 ml/l dosages. Artikel ini membahas respon pertumbuhan dan produksi tanaman pakcoy (Brassica rapa) secara hidroponik sistem wick dengan pemberian berbagai dosis pupuk organik urin kelinci. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan dimulai pada bulan Mei sampai Juli 2014. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) yang terdiri atas lima perlakuan dosis pupuk organik cair urin kelinci, yaitu 3 ml/l, 6 ml/l, 9 ml/l, 12 ml/l, 15 ml/l. Tiap perlakuan terdiri atas empat tanaman dan diulang sebanyak lima kali, sehingga jumlah total ujicoba pada suatu lahan adalahsebanyak 100 tanaman. Pengamatan dilakukan pada peubah tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, jumlah daun, bobot basah dan bobot konsumsi. Berbagai dosis pupuk organik cair urin kelinci tidak memberikan pengaruh yang nyata pada terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, bobot basah dan bobot konsumsi. Perlakuan dosis pupuk organik cair urin kelinci 12 ml/l memberikan hasil tertinggi untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, bobot basah, dan bobot konsumsi. Dosis pupuk organik cair urin kelinci 3 ml/l memberikan hasil yang terendah pada semua peubah

    ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI PETANI TANAMAN SAYURAN (KASUS PETANI SAYURAN DI DESA EGON, KECAMATAN WAIGETTE, KABUPATEN SIKKA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)

    Get PDF
    In order to improve production and quality of vegetables, farmers need adequate information and reliable sources of information to achieve their goals. Meet their information needs on the behavior of vegetable farming;  farmers need to establish a network of communication among farmers. The purpose of this study was: (1) to describe the communication network among vegetable farmers in the village of Egon (2) to analyze the relationship between the characteristics of farmers and communication networks. The unit of analysis is a vegetable farmer. Samples of study are fifty-three farmers sampled using the census. Primary data collection and field observations were conducted during June to July 2012.  Data used in this study consisted of primary and secondary data. Sociometric analysis is used to view network communications occur among vegetable farmers. Communication network structures were analyzed using UCINET VI. Data analysis was performed by using Microsoft excel and followed by Spearman rank correlation analysis by using SPSS for windows.  The results show that: (1) the description of communication network of vegetable farmers are  radial personal network and interlocking personal network , while crop protection communication networks and communication networks of harvest and post harvest is central personal network (2)  there was a relation between farmer’ non formal education, farming experience, cosmopolitan level, land area, and tenure with network communications.Dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas sayuran, petani membutuhkan informasi yang memadai dan sumber informasi yang terpercaya untuk mencapai tujuan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka tentang perilaku usahatani tanaman sayuran, petani membangun jaringan komunikasi antarpetani. Artikel ini membahas (1) gambaran jaringan komunikasi diantara petani sayuran di desa Egon, dan (2) hubungan antara karakteristik petani dengan jaringan komunikasi. Lima puluh tiga petani diambil sebagai sampel dengan menggunakan metode sensus. Pengumpulan data primer dan observasi lapangan dilakukan selama bulan Juni sampai Juli 2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Analisis sosiometri digunakan untuk melihat jaringan komunikasi yang terjadi di antara petani sayuran. Struktur jaringan komunikasi dianalisis dengan menggunakan UCINET VI. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program excel dan SPSS for windows, yaitu analisis korelasi Person dan Rank Spearman. Hasil yang diperoleh: (1) gambaran jaringan komunikasi usahatani petani sayuran yang terbentuk adalah jaringan personal radial dan jaringan personal memusat (2) terdapat hubungan antara pendidikan non formal, pengalaman bertani, tingkat kosmopolitan, luas lahan, status kepemilikan lahan dengan jaringan komunikasi

    KANDUNGAN KLOROFIL, KAROTENOID, DAN VITAMIN C BEBERAPA JENIS SAYURAN DAUN PADA PERTANIAN PERIURBAN DI KOTA SURABAYA

    Get PDF
    Periurban agriculture actually means agriculture that is found surrounding urban boundary. Due to heavy load for various non-agricultural activity and transportation, it necessary to pay attention on the agro-ecological conditions where each crop could grows well. The quality of environment for growing plantsin periurban influences on composition of biochemistry in plants’ tissue. The purpose of this study is to determine the chlorophyll, carotenoid, and ascorbic acid contents in three species of vegetables, those are bayam (Amaranthus tricolor, L.), kangkung (Ipomoea reptans) and sawi (Brassica juncea L.) which were cultivated in three periurban agriculture areas of Surabaya. Total contents of chlorophyll and carotenoid was measured by spectrophotometer. Vitamin C contents was analyzed by DCPIP dye method. The results showed that bayam which was cultivated in Bangkingan-Lakarsantri has the highest content of chlorophyll (3.046 mg/g ) and carotenoid (375.33 Î¼mol/L). The highest content (4.55 μg/g) of vitamin C was found on sawi which was cultivated in Wonorejo. There was no significant difference on chlorophyll content, carotenoid content and vitamin C content between organic vegetables labeled and those are cultivated on Bangkingan-Lakarsantri periurban area.   Kawasan pertanian periurban merupakan daerah pertanian yang dijumpai di sekitar pinggiran perkotaan. Berkaitan dengan tekanan lingkungan yang berat di kawasan periurban, akibat berbagai kegiatan non pertanian dan transportasi, perlu adanya perhatian terhadap kondisi agro klimat yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kualitas lingkungan tempat tumbuh tanaman pada kawasan pertanian periurban berpengaruh terhadap komposisi kandungan biokimia jaringan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar klorofil, karotenoid, dan vitamin C pada sayuran bayam (Amaranthus tricolor, L.), kangkung (Ipomoea reptans) dan sawi (Brassica juncea L.) yang dibudidayakan di tiga kawasan periurban Kota Surabaya. Kadar klorofil dan karotenoid diukur dengan spectrophotometer, sedangkan kandungan vitamin C ditetapkan dengan metode titrasi DCPIP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran bayam yang dibudidayakan di kawasan Bangkingan-Lakarsantri memiliki kadar klorofil (3.046 mg/g) dan karotenoid (375.33 Î¼mol/L) tertinggi. Kandungan vitamin C tertinggi (4.55 Î¼g/g) terdapat pada sayuran sawi yang dibudidayakan di kawasan Wonorejo. Tidak ada perbedaan nyata pada kadar klorofil, karotenoid dan vitamin C antara sayuran organik dengan sayuran yang dibudidayakan di kawasan periurban Bangkingan-Lakarsantri

    PERTUMBUHAN ENAM KULTIVAR SANSEVIERA TRIFASCIATA DENGAN STEK PANGKAL DAUN

    Get PDF
    The aims of this experiment determined the growth and development of the six cultivars of S. trifasciata by leaf cutting and looked the best growth and development.This study used randomized design experimental with three replications used homogeneous experimental units or no other factors affected the response of outside factors studied.Observations were made every 30 days by measuring buds height, number of buds, root length, and number of roots.The results showed the best average of buds height, root length and root number were on S. trifasciata "Hahnii medio picta", andthe highest number of shoots were on "Hahnii cream". Cultivar "Robusta Futura" has the lowest for shoot height, number of shoots, root length and root number.  Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan keenamkultivarS. trifasciata dengan stek pangkal daun dan mengetahui kultivar mana yang paling optimal pertumbuhan dan perkembangannya dengan menggunakan perbanyakan dengan stek pangkal daun. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan dimana menggunakan satuan percobaan homogen atau tidak ada faktor lain yang mempengaruhi respon di luar faktor yang diteliti.Pengamatan dilakukan setiap 30 hari sekali dengan cara mengukur tinggi tunas, jumlah tunas, panjang akar, dan jumlah akar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai rata-rata pertambahan tinggi tunas, panjang akar, dan jumlah akar  S. trifasciata tertinggi terdapat pada kultivar “Hahnii medio pictaâ€, sedangkan jumlah tunas terbanyak terdapat pada kultivar “Hahnii cream†. Kultivar “Futura Robusta†memiliki nilai terendah untuk tinggi tunas, jumlah tunas, panjang akar dan jumlah akar. &nbsp

    1,630

    full texts

    2,167

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Terbuka
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇