LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
363 research outputs found
Sort by
PENDAMPINGAN KEWIRAUSAHAAN MELALUI PENYADARTAHUAN STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PRODUKSI DAN PENYEMPURNAAN KEMASAN PADA PRODUK OLAHAN MINUMAN JAHE INSTAN PADA KELOMPOK WANITA TANI D’SEKAR
Jahe merupakan jenis rimpang paling banyak dibudidayakan oleh petani hutan rakyat Desa Gempolan, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Pada umumnya, jahe di tanam di bawah tegakan tanaman keras melalui sistem agroforestri. Selama ini hasil panen berupa jahe segar dijual langsung ke pasar. Namun, seringkali harga jual di pasar fluktuatif sehingga petani enggan menjual pada saat tersebut. Apabila kondisi tersebut berkepanjangan, maka jahe yang disimpan akan busuk. Oleh karena itu, Kelompok Wanita Tani (KWT) D’Sekar mengolah jahe menjadi produk minuman jahe instan agar dapat meningkatkan harga jual sekaligus memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga. Akan tetapi, hingga saat ini produk minuman jahe instan yang dibuat oleh KWT D’Sekar masih sangat sederhana dan belum menggunakan Standard Operasional Procedure (SOP) produksi, sehingga dalam mengontrol kualitas produksi tiap batch sulit dilakukan. Selain itu, kemasan yang digunakan masih sangat sederhana dan belum memiliki izin edar Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan meliputi penyuluhan, penawaran perbaikan kemasan produk minuman jahe instan, dan pendampingan dalam pengurusan PIRT. Melalui pengabdian kepada masyarakat, diharapkan akan meningkatkan produksi, daya jual dan pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan anggota KWT D’Sekar.
Kata kunci: kewirausahaaan, SOP produksi, jahe instan, kemasan, kelompok wanita tani
ABSTRACT
Ginger was the most widely cultivated rhizome by private forest farmers in Gempolan Village. Kerjo District, Karanganyar Regency. Ginger was planted under forest stands though agroforesty. The harvested ginger was sold directly to the market. However, the ginger selling price was fluctuates, thus the farmers were reluctant to sell at that time. If this condition was prolonged, the stored ginger will rot. Therefore, the Woman Farmers Group (WFG) D’Sekar processes ginger into instant gingger drink product in order to increase the selling price while providing additional income for their family. However, instant gingger drink product that made by WFG D’Sekar was simple and not use production Standard Operating Procedure (SOP) yet. Therefore, controling the production quality of each batch was difficult. In addition, the packaging used was very simple and not yet have food distribution permit, Home Industry Food Production (HIFP). Though community service, it was expected to be able increase on instant gingger drink production, marketability, and lead into increasing family walfare of WFG D’Sekar members.
Keywords: entrepreneurship, SOP of production, instant ginger, packaging, women farmers grou
TEKNOLOGI BIOPORI: SOLUSI KAWASAN RAWAN GENANGAN DAN EDUWISATA DI DESA WISATA ALAM SUNGAI MESJID KOTA DUMAI
Desa Sungai Mesjid memiliki keindahan alam dan budaya Melayu yang masih terjaga. Pembentukan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Alam Sungai Mesjid membuat potensi Desa sebagai desa ekowisata mulai dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Peningkatan pembangunan di Dumai membuat berkurangnya daerah resapan air serta penanggulangan sampah yang kurang baik turut memberi dampak tergenangnya beberapa daerah di Desa ini. Masyarakat berkeinginan mewujudkan desa yang hijau minim dari sampah dan genangan air jika hujan namun terkendala dengan pengetahuan dan biaya. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat dengan pembuatan biopori sebagai resapan air dan penghasil kompos akan dapat mengurangi genangan air hujan dan mengatasi sampah organik. Metode penerapan kegiatan berupa presentasi, diskusi kelompok, praktek pembuatan lubang biopori, pemberian peralatan serta monitoring keberlanjutan pasca kegiatan. Selama kegiatan pelatihan terlihat adanya motivasi dan kesadaran masyarakat akan manfaat biopori. Pembuatan biopori tetap berlanjut pasca kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dan menjadikan teknologi pembuatan biopori sebagai salah satu paket eduwisata Desa Alam Sungai Masjid, sebagai upaya edukasi kepada masyarakat luas dan daya tarik wisata.
Kata kunci: biopori, desa wisata, eduwisata, genangan, kompos
Abstract
Sungai Mesjid has wonderful scenery and Malay culture that are still preserved. The development of the Alam Sungai Mesjid Tourism Awareness Community (POKDARWIS) made the potential of the village as an ecotourism in order to improve the community’s economy during the Covid-19 pandemic. The increase in recent development in Dumai has reduced water catchment areas and poor waste management, and also impacted the inundation of several areas in this village. The community wants to create a green village where is minimal from garbage and puddles when rain falls, but it is constrained by knowledge and costs. Education and empowerment of society by making biopore as a water catchment and producing compost will be able to reduce rainwater puddles and overcome organic waste. The method of implementing the activity is a presentation, group discussion, practice of making biopore holes, provision of equipment and post-activity monitoring of sustainability. During the training activities, it was seen there were motivation and public awareness of benefits biopore. The development of biopore continues after the activities carried out by the community independently and makes biopore technology as one of the edutourism packages of Alam Sungai Masjid Village, as an educational effort to wider community and tourist attraction.
Keywords: biopore, tourism village, edutourism, puddle, compos
PEMBUATAN ECO-ENZYME: SOLUSI PENANGANAN SAMPAH ORGANIK PADA LEVEL RUMAH TANGGA
Produksi sampah rumah tangga di wilayah kota Tangerang Selatan terus mengalami peningkatan jumlah setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya laju pertumbuhan penduduk, dan sampah organik menempati proporsi terbesar dari total produksi sampah tersebut. Salah satu cara efektif dalam mengatasi permasalahan sampah rumah tangga yakni, dengan memotong alur distribusi sampah yang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui pembuatan eco-enzyme. Eco-enzyme adalah ekstrak cairan yang dihasilkan dari fermentasi sisa-sisa sayuran atau buah-buahan yang dicampur dengan substrat gula merah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di wilayah RT 04, RW 09, Pondok Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan Banten melalui praktik pelatihan pembuatan eco-enzyme. Metode pelaksanaan meliputi 1) pembentukan struktur organisasi kelompok penggerak, 2) pemberian penyuluhan tentang eco-enzyme, 3) pelatihan dan pendampingan pembuatan eco-enzyme, 4) monitoring pembuatan eco-enzyme, dan 5) pendampingan panen eco-enzyme. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang pemanfaatan sisa-sisa bahan sayuran dan buah-buahan yang sudah tidak dikonsumsi di lingkungan rumah tangganya untuk dijadikan eco-enzyme. Cairan ini dapat dimanfaatkan sebagai pembersih serba guna, pupuk, perbaikan kualitas udara, dan pemanfaatan lainnya di kehidupan sehari-hari.
Kata kunci: Eco-enzyme, pemberdayaan masyarakat, pelatihan, sampah organik, sampah rumah tangga
ABSTRACT
The production of household waste in the city area of South Tangerang continues to increase every year in line with the increasing rate of population growth, and organic waste occupies the largest proportion of the total waste production. One effective way to deal with household waste problems is to cut the waste distribution channel to the Final Disposal Site (FDS) through the manufacture of eco-enzymes. Eco-enzyme is a liquid extract produced from the fermentation of vegetable or fruit residue mixed with brown sugar as a substrate. This Community Service Activity aims to empower the community in the area of RT 04, RW 09, Pondok Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan Banten through practical training on making eco-enzymes. The implementation method includes: 1) forming the organizational structure of the driving group; 2) providing counseling about eco-enzymes; 3) training and mentoring for eco-enzyme production, 4) monitoring for eco-enzyme production, and 5) providing eco-enzyme harvesting assistance. The results of the activity show that the community has acquired knowledge and skills regarding the use of vegetable and fruit leftovers that are no longer consumed in their household environment to be used as eco-enzymes. This liquid can be used as a multi-purpose cleaner, fertilizer, air quality improvement agent, and for other purposes in everyday life.
Keywords: eco-enzyme, community empowerment, training, organic waste, household wast
PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS PETANI MILENIAL
Pelatihan peningkatan kapasitas petani milenial dilaksanakan dalam bentuk Pendidikan dan latihan (diklat) yang terangkum dalam kegiatan diklat capacity building bagi petani milenial. Tujuannya adalah untuk (1) menyiapkan petani milenial yang mampu menjadi agen perubahan yang berdaya dan mampu memberdayakan potensi sumberdaya yang ada dimasyarakat; (2) meningkatkan kapasitas petani milenial secara individu dan organisasi dalam mencapai tujuan dan (3) terciptanya kelompok petani milenial yang sehat, tangguh dan mandiri. Diklat CB dilaksanakan melalui bimbingan teknis pada 7 (tujuh) kegiatan bimbingan melalui pendekatan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukan bahwa indikator kesatu dan kedua telah tercapai 100%, sedangkan indicator yang ketiga mencapai 79,06% dari target 80%. Berdasarkan hal tersebut masih perlu dilakukan monitoring serta evaluasi pada rencana tindak lanjut yang masih dilaksanakan oleh peserta diklat sehingga semua indicator dapat tercapai.
Kata kunci: petani, milenial, pelatihan, kapasitas
ABSTRACT
Millennial farmer capacity building training is carried out in the form of education and training which is summarized in capacity building training activities for millennial farmers. The objectives are to (1) prepare millennial farmers who are able to become agents of change who are empowered and able to empower the potential of existing resources in the community; (2) increasing the capacity of millennial farmers individually and in organizations to achieve goals and (3) creating a healthy, resilient and independent group of millennial farmers. CB training is carried out through technical guidance on 7 (seven) guidance activities through a participatory approach. The results of the activity show that the first and second indicators have been achieved 100%, while the third indicator has reached 79.06% of the 80% target. Based on this, it is still necessary to monitor and evaluate the follow-up plan that is still being implemented by the training participants so that all indicators can be achievedup plan that is still being carried out by the training participants so that all indicators can be achieved in accordance with the target, which means that the objectives of the activity are achieved.
Keywords: farmer, millennial, training, capacit
PERBAIKAN KESUBURAN TANAH MELALUI PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN DI SUBAK TELUN AYAH, BALI
Limbah pertanian cenderung dipandang sebagai bahan buangan oleh petani, sehingga sering terbuang percuma dan dibakar. Limbah pertanian yang terbuang pada dasarnya merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dampaknya petani membutuhkan jumlah pupuk yang lebih banyak untuk meningkatkan produksi, disisi lain petani membuang bahan baku pupuk yang bermanfaat bagi kesuburan dan kesehatan tanah. Keterbatasan pengetahuan petani mengenai kandungan hara makro dan mikro limbah pertanian menyebabkan limbah dibuang dan dibakar. Umumnya petani juga tidak mengetahui metode pengomposan limbah pertanian, khususnya limbah jerami padi. Kondisi ini juga terjadi di kawasan Subak Telun Ayah, Tegalalang, Gianyar. Guna mengatasi permasalahan petani, maka dilakukan penyuluhan atau sosialisasi terkait kandungan limbah dan upaya pengolahan melalui pengomposan. Petani diberikan pengetahuan terkait pengomposan limbah pertanian dengan cepat, mudah dan menghasilkan kompos berkualitas dengan memanfaatkan dekomposer alami (seperti kotoran hewan dan tanah subur). Petani juga diberikan pengetahuan terkait manfaat dari kompos dari limbah pertanian bagi kesuburan tanah. Harapannya petani memiliki pengetahuan terkait pengelolaan limbah pertanian dan mampu memanfaatkannya, sehingga kedepannya mampun mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan.
Kata kunci: sosialisasi, limbah pertanian, pengelolaan limbah, kesuburan tanah, Subak
ABSTRACT
Agricultural waste tends to be seen as a waste material by farmers, so it is often wasted and burned. Agricultural waste that is wasted is basically organic material that contains nutrients needed by plants. As a result, farmers need more fertilizer to increase production, on the other hand, farmers throw away fertilizer raw materials that are beneficial for soil fertility and health. The limited knowledge of farmers regarding the macro and micro nutrient content of agricultural waste causes the waste to be disposed of and burned. Generally, farmers also do not know the method of composting agricultural waste, especially rice straw waste. This condition also occurs in the Subak Telun Ayah area, Tegalalang, Gianyar. In order to overcome farmers' problems, counseling or socialization related to waste content and processing efforts through composting is carried out. Farmers are given knowledge related to composting agricultural waste quickly, easily and to produce quality compost by utilizing natural decomposers (such as animal manure and fertile soil). Farmers are also given knowledge regarding the benefits of compost from agricultural waste for soil fertility. The hope is that farmers have knowledge related to agricultural waste management and are able to use it, so that in the future they are able to realize environmentally friendly agriculture
Keywords: socialization, agricultural waste, waste management, soil fertility, Suba
PELATIHAN SERTIFIKASI BALAI BESAR POM DAN HALAL BAGIPOKLAHSAR RUMAH LELE ATHALLAH SERTA SIVITAS AKADEMIK UNIVERSITAS SUMATERA SELATAN
Persyaratan keamanan produk harus dipenuhi oleh pelaku usaha pangan (UMKM) di sepanjang rantai pasok agar masyarakat terjamin kesehatan dan keamanannya saat mengkonsumsi produk. Kehalallan suatu produk menjadi kebutuhan wajib bagi setiap konsumen muslim. Salah satu permasalahan yang membuat daya saing UMKM masih rendah terbatasnya kemampuan para pelaku usaha terdaftar dalam BPOM dan Halal pada kemasan produk. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan Standar Keamanan Produk komersil bersertifikasi BPOM dan Halal. Kegiatan pelatihan dilakukan di Kampus C universitas Sumatera Selatan, Jakabaring, Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan dalam Pendaftaran dalam mengurus izin edar BPOM dan pelatihan persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi Halal pada produk para pelaku UMKM. Kegiatan yang dilaksanakan pada saat pelatihan dihadiri 50 peserta yang terdiri dari Dosen Universitas Sumatera Selatan, anggota pohlaksar rule athallah dan mahasiswa Universitas Sumatera Selatan.
Kata kunci: BPOM, halal, keamanan pangan
ABSTRACT
Product safety requirements must filled by business actors (Micro, Small and Medium Enterprises) along the supply chain so that people are guaranteed health and safety when consuming products. The halalness of a product is a mandatory need for every Muslim consumer. One of the problems that makes the competitiveness of Micro, Small and Medium Enterprises is still low, the limited ability of business actors to be registered in BPOM and Halal on product packaging. This community service activity purposed to improve the Safety Standards of commercial products certified by BPOM and Halal. The training activities were carried out at Campus C of the University of South Sumatra, Jakabaring, Banyuasin, South Sumatra. The activities carried out are training in registration in managing BPOM distribution permits and training on the requirements to obtain Halal certification on the products of Micro, Small and Medium Enterprises actors. The activity carried out during the training was attended by 50 participants consisting of Lecturers at the University of South Sumatra, members of the pohlaksar rule athallah and students University of South Sumatra.
Keywords: BPOM, halal, food safet
PENERAPAN TEKNOLOGI PADA USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM UNTUK MENDUKUNG URBAN FARMING DI KWT JAWA GADUT SAIYO LIMAU MANIS PAUH KOTA PADANG
Adapun masalah pada kelompok Budidaya Jamur Tiram di KWT Jawa Gadut Saiyo Limau Manis Pauh Kota Padang yaitu harus menjaga suhu dan kelembaban, secara langsung dan terus menerus agar jamur tiram di kumbung berkembang dengan baik. Selain itu juga permasalahan dalam pengisian baglog yang butuh waktu dan tenaga ekstra serta mesin kukus yang masih sederhana. Untuk menyelesaikan masalah tersebut maka diperlukan penerapan teknologi pada usaha budidaya jamur tiram untuk mendukung urban farming dalam hal sistem otomatisasi meliputi aspek suhu dan kelembaban; alat press baglog; wadah kukus baglog; serta sistem monitoring kumbung secara jarak jauh. Hasil yang didapatkan yaitu kelembaban secara otomatis dalam rentang kisaran 80% s/d 92% dan suhu rentang 25oC s/d 29oC. Pembuatan baglog lebih ringan dan hasilnya lebih padat serta hanya membutuhkan waktu 1 menit / baglog. Dan wadah kukus baglog lebih praktis berbentuk lemari yang berkapasitas maksimal 144 baglog.
Kata kunci: suhu, kelembaban, baglog, kumbung, monitoring
ABSTRACT
As for the problem in the Cultivation group Oyster Mushrooms in KWT Jawa Gadut Saiyo Limau Manis Pauh, Padang City, that is, they must maintain temperature and humidity, directly and continuously so that the oyster mushrooms in the kumbung develop properly. Apart from that, there are also problems in filling baglog which requires extra time and effort and the steaming machine is still simple. To solve this problem, it is necessary to apply technology to oyster mushroom cultivation to support urban farming in terms of automation systems covering aspects of temperature and humidity; baglog presses; baglog steam container; as well as remote kumbung monitoring system. The results obtained are humidity automatically in the range of 80% to 92% and temperatures in the range of 25oC to 29 oC. Making baglog is lighter and the results are denser and only takes 1 minute/baglog. And the baglog steamer is more practical in the form of a cupboard with a maximum capacity of 144 baglog.
Keywords: temperature, humidity, baglog, kumbung, monitorin
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN DIVERSIFIKASI PRODUK OLAHAN BERBASIS IKAN LELE (STIK IKAN DAN STIK TULANG IKAN)
Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga (IRT) tentang pentingnya diversifikasi olahan ikan lele. Ikan lele merupakan ikan yang mudah diperoleh serta mempunyai nilai ekonomis yang tinggi namun memiliki nilai sosial yang rendah. Masyarakat pada umumnya tidak menyukai ikan lele dikarenakan habitatnya dan kebiasaan ikan lele pemakan segalanya sehingga menimbulkan kesan jorok. Diversifikasi olahan ikan lele ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah ikan lele. Tujuan yang kedua yaitu memberdayakan masyarakat dengan membentuk suatu kelompok usaha bersama olahan ikan lele yaitu stik ikan lele dan stik tulang lele. Upaya pembentukan kelompok usaha bersama ini diharapkan dapat membantu memberikan alternatif penghasilan tambahan pada masyarakat khususnya pada masa pandemi serta memberikan gizi pada setiap keluarga yang murah dan mudah didapat demi meningkatkan daya tahan tubuh. Metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu dengan penyuluhan dan pelatihan diversifikasi produk olahan dengan konsep zerro waste. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan masyarakat tentang diversifikasi olahan ikan lele serta terbentuknya sebuah kelompok usaha bersama dengan produk utama stik ikan dan stik tulang ikan.
Kata kunci: diversifikasi, ekonomi keluarga, gizi, kelompok usah,; ikan lele
ABSTRACT
This activity aimed to transfer knowledge and skills to the community, especially housewives (IRT) about the importance of fish product diversification. Catfish is one of a fish that is easily obtained and has a high economic value, but has a low social value. In general, people do not like catfish due to their habitat and their habit on eating. Diversification of fish products was hoped increasing value added of catfish. Another aimed were to empowering society by formed business unit of product diversification from catfish, that were fish stick and fish bone stick. Business unit was hoping to increased family income, especially during the pandemic to maintain the family economy and provide cheap and easy-to-obtain nutrition to increase imunity. The method was used in this activity was counseling and training on products diversification with the zerro waste concept. The activity resulted the ability to process various products of catfish without waste, including fish sticks and fishbone stick.. This activity also resulted in the formation of a business unit with the main products being fish sticks and fish bone sticks.
Keywords: diversification, family economy, nutrition, business unit, catfis
SOSIALISASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT PISANG UNTUK MENINGKATKAN KONDISI PEKONOMIAN MASYARAKAT NAGARI KAMBANG BARAT
Pelatihan pembuatan bioetanol dari limbah kulit pisang dilakukan untuk membantu masyarakat dalam memanfaatkan limbah rumah tangga. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bahan bakar alternatif. Masyarakat di berbagai tempat mengolah pisang menjadi aneka jenis makanan. Namun kulit pisang mereka buang sebagai limbah. Kegiatan ini merupakan sosialisasi tentang energi terbarukan dan praktek pembuatan energi dari kulit pisang terhadap sejumlah anggota masyarakat Nagari Kambang Barat, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Dari pelatihan ini, masyarakat Nagari Kambang Barat dapat memanfaatkan limbah kulit pisang untuk diolah menjadi bioetanol secara maksimal. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa mereka menganggap kegiatan ini bermanfaat dan menambah pengetahuan serta dapat mengubah pola pikir masyarakat mengenai limbah kulit pisang. Mereka bisa membuat bioetanol dari limbah kulit pisang yang ada di sekitar mereka.
Kata kunci: energi alternatif, bioetanol, limbah kulit pisang, Nagari Kambang Barat
ABSTRACTThe use of waste banana peels into bioethanol is carried out to meet the community's need for fuel as an alternative fuel for the people of Nagari Kambang Barat, West Sumatra. The comminity processed bananas into various types of food, but banana peels are thrown away without further processing. This community service activity aims to help people gain knowledge about alternative energy. This service is in the form of socializing renewable energy and then continuing with the practice of making energy from banana peels to a number of community members. The target to be achieved is that the people of Nagari Kambang Barat can make maximum use of banana peel waste. The results obtained indicate that the community considers this activity useful and increases their knowledge and can change people's mindset about banana peel waste. They could make bioethanol from banana peel waste around their homes.
Keywords: alternative energy, bioethanol, banana peel waste, Nagari Kambang Bara
SOSIALISASI MENGENAI PEMASARAN KUE BOLU DESA PENGLUMBARAN MELALUI E-COMMERCE
E-commerce adalah sebuah lapak online yang menggambarkan proses pembelian dan penjualan melalui jaringan internet. Ditengah persaingan usaha yang semakin ketat, e-commerce adalah salah satu solusi untuk mengembangkan usaha, terutama UMKM. Adapun tujuan dari memberikan sosialisasi memanfaatkan ecommerce sebagai media pemasaran adalah agar UMKM kue bolu yang ada di Banjar Dinas Tigas Kawan Desa Penglumbaran dapat berkembang dan mengalami peningkatan dalam penjualan. Metode yang digunakan adalah metode diskusi dan tanya jawab antar narasumber dengan audience. Hasil program kerja menunjukkan bahwa : 1. Ecommerce yang banyak dipakai oleh penduduk Indonesia adalah Shopee Tokopedia, Gojek, dan Grab. 2. Cara memasarkan suatu produk melalui ecommerce adalah hanya dengan mengunggah foto produk yang dijual. 3. Hal menarik lainnya, e-commerce banyak memberikan penawaran diskon atau memberikan voucher gratis ongkir yang membuat orang lebih tertarik untuk berbelanja melalui online.
Kata kunci: e-commerce, pemasaran
ABSTRACT
E-commerce is an online stall that describes the process of buying and selling through the internet network. In the midst of increasingly fierce business competition, e-commerce is one of the solutions for developing businesses, especially Small and Medium Enterprise (SME). The purpose of providing socialization using e-commerce as a marketing medium is so that the sponge cake Small and Medium Enterprise (SME) in Banjar Dinas Tiga Kawan Penglumbaran Village can develop and experience an increase in sales. The method used is the method of discussion and question and answer between sources and the audience. The results of the work program show that: 1. E-commerce that is widely used by Indonesians is Shopee Tokopedia, Gojek and Grab. 2. The way to market a product through e-commerce is to simply upload a photo of the product being sold. 3. Another interesting thing, e-commerce provides many discount offers or provides free shipping vouchers that make people more interested in shopping online.
Keywords: e-commerce, marketin