Window of Health (WOH) : Jurnal Kesehatan
Not a member yet
332 research outputs found
Sort by
Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Stunting Remaja Akhir
Masalah gizi utama remaja di negara berkembang salah satunya adalah gizi kurang slaha satunya tercermin dari stunting (Fatmah, 2010). Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi stunting remaja kelompok umur 16-18 tahun sebesar 31,4% (Balitbangkes, 2013). Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang diakibatkan oleh multifaktor yang kemungkinan besar dapat mengganggu metabolisme. Tujuan penelitian adalah mengetahui prevalensi stunting di remaja akhir, dan menganalisis pengaruh faktor resiko yaitu karakteristik sosial ekonomi, konsumsi susu dan minuman berkarbonasi, serta aktivitas fisik terhadap kejadian stunting remaja akhir. Desain penelitian ini adalah cross-sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Jumlah sampel penelitian adalah 488 orang mahasiswa TPB IPB 2014/2015. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria mahasiswa TPB-IPB usia 17-19 tahun, mengkonsumsi susu secara rutin minimal 1 kali per minggu, sehat (tidak sedang sakit atau memiliki penyakit), dan bersedia untuk dijadikan responden penelitian. Data karakteristik sosial ekonomi, frekuensi konsumsi susu, dan konsumsi minuman berkarbonasi dengan kuesioner. Data antropometri tinggi badan diukur secara langsung. Data-data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi remaja stunting yang didapatkan dari penelitian ini adalah 16,4%, lebih rendah jika dibandingan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 untuk usia remaja 16-18 tahun skala nasional (Balitbangkes, 2013). Faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah pendidikan ayah dengan nilai odds ratio (OR) 1,912; CI 95% (1,119-3,268). Diharapkan faktor resiko stunting remaja akhir dapat mengalami penurunan dengan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting untuk generasi selanjutnya. Diharapkan faktor resiko stunting remaja akhir dapat mengalami penurunan dengan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting untuk generasi selanjutnya
Senam Lansia Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi
Lansia cenderung mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Gangguan kesehatan yang paling banyak dialami oleh lansia adalah kemunduran sistem kardiovaskuler. Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1%pertahun, berkurangnya curah jantung, berkurangnya denyut jantung terhadap respon stress, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat resistensi pembuluh darah perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap perubahan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling. Desain penelitian yang digunakan yaitu pre-eksperimen dengan rancangan one group pre test-post test, dengan jumlah sampel sebanyak 14 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah non probability sampling. Intervensi yang diberikan yaitu senam lansia yang dilakukan selama 3 minggu dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu berdurasi 15-30 menit. Data di uji dengan uji statistik Paired Sample Ttest. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pemberian senam lansia terhadap perubahan tekanan darah sistolik (p value 0,02) dan tekanan darah diastolik (p value 0,000) pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian latihan senam lansia terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi dan diharapkan latihan senam lansia secara rutin dapat menjadi terapi non farmakologi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien lansia
Efektivitas Ekstrak Dahan Kelor Terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti
Tingginya angka kasus DBD di Indonesia sehingga perlu diadakan upaya pengendalian vector. batang kelor digunakan sebagai anti nyamuk alami diangap mampu memetikan jentik. Hal ini disebabkan terdapat senyawa steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, flavanoid, dan tanin di dalam batang dahan kelor. Jenis Penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan metode post test only control group design.Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung jumlah larva Aedes aegypti instar III yang mati disetiap jenis konsentrasi salinitas selama waktu pemaparan. Percobaan dilakukan sebanyak 4 kali, Pengamatan, perhitungan dan pencatatan jumlah larva yang hidup dan mati setiap 24, 32, 40 dan 48 jam setelah perlakuan. Data yang telah dikumpulkan dan dianalisis kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Pada konsentrasi 3% pada estrak kulit dahan kelor pada waktu pengukuran 24 jam pada masing-masing perlakuan 1 (3), perlakuan 2 (3), perlakuan 3 (3), perlakuan 4 (1) dengan presentase rata-rata kematian jentik yaitu 27,5%. Konsentrasi 3% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 45% dalam waktu 48 jam. Konsentrasi 3,5% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 45% dalam waktu 24 jam. Konsentrasi 4% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 67,5% dalam waktu 24 jam. Lama waktu paparan yang efektif yaitu 24 jam yang menyebabkan kematian 67,5 % Aedes aegypti
Perilaku Seks Bebas di Tinjau Dari Faktor yang Mempengaruhi di SMA Negeri 1 Wawonii Kab. Konawe Kepulauan
9Perilaku seks bebas atau seksual pranikah pada usia remaja 15 - 24 tahun di Indonesia cenderung naik lantaran belum optimalnya pendidikan keluarga sejahtera dan rendahnya tingkat pendidikan dan pemahaman para remaja terhadap risiko hubungan seks diluar nikah. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam informasi mengenai perilaku seks bebas. Jenis penelitian yang digunakan yakni metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui indept interview, observasi dan dokumentasi selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran media dan pengetahuan sangatlah berpengaruh penting terhadap perilaku remaja di Kabupaten Konawe Kepulauan khususnya di SMA Negeri 1 Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan yang Ini bisa merubah terjadinya perubahan gaya hidup remaja dalam hal ini gaya berpenampilan, pergaulan sehari-hari, hiburan dan tata krama. dianggap mengikuti perkembangan zaman. Ini menunjukan timbulnya keinginan remaja melakukan perilaku seks bebas disebabkan oleh adanya rangsangan seksual, menonton video, gambar porno, seringnya berduaan sama pasangan sehingga mengarah kerangsangan secara seksual, membayangkan adegan seks, dimana imajinasi yang muncul merupakan hasil akumulasi dari pengalaman remaja tersebut selama berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Adanya rangsangan seksual inilah yang kemudian mendorong remaja tersebut untuk melakukan seks bebas. Penelitian ini diharapkan siswa tidak melakukan perilaku seks bebas agar terhindar dari penyakit yang beresiko seperti penyakit menular seksual dan tetap terjaga kesehatan reproduksinya
Analisis Mikroorganisme Udara terhadap Gangguan Kesehatan dalam Ruangan Administrasi Gedung Menara UMI Makassar
Ruang Administrasi Gedung Menara Universitas Muslim Indonesia merupakan ruangan tertutup dan menggunakan sistem pengaturan udara dengan Air Conditioner (AC) untuk mengurangi panas udara di dalam ruang kerja. Kondisi gedung dan ruang kerja dengan ventilasi tertutup, furnitur dan bahan bangunan yang bervariasi, serta aktifitas perkantoran di ruangan tersebut yang cukup padat serta keberadaan alat-alat perkantoran dalam ruangan dapat memicu timbulnya kontaminan mikrobiologis pada udara dalam ruang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas mikroorganisme udara dalam ruang adsministrasi Gedung Menara Universitas Muslim Indonesia. Dalam hal ini jumlah angka kuman berupa bakteri dan jamur di udara terhadap gangguan kesehatan dalam ruang administrasi Gedung Menara Universitas Muslim Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan penentuan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel objek dalam penelitian ini berjumlah enam ruangan, sedangkan sampel subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 37 responden. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara suhu ruang dengan angka total mikroorganisme udara terhadap gangguan kesehatan, dengan nilai p-value 0.001 (0.001<0.05). Terdapat hubungan antara kelembaban ruang dengan angka total mikroorganisme udara terhadap gangguan kesehatan dengan nilai p-value 0.001 (0.001<0.05), tidak ada hubungan antara pencahayaan ruang dengan angka total mikroorganisme udara terhadap gangguan kesehatan dengan nilai p-value 0.156 (0.156>0.05), ada hubungan antara angka total mikroorganisme udara terhadap gangguan kesehatan dengan nilai p-value 0.001 (0.001<0.05). Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan pemahaman akan gangguan kesehatan yang diakibatkan mikroorganisme di udara pada pihak manajemen dan pegawai
Waktu Penundaan Pengkleman Tali Pusat Berpengaruh Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Bayi Baru Lahir
Penjepitan dan pemotongan tali pusat merupakan prosedur standar yang selalu dilakukan saat bayi dilahirkan. Waktu yang tepat untuk melakukan penjepitan tali pusat sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh waktu penundaan pengkleman tali pusat terhadap kadar hemoglobin pada bayi baru lahir. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Eksperimental dengan rancangan posttest control group design. Lokasi penelitian dilakukan di Bidan Praktik Mandiri Setia wilayah Puskesmas Kamonji Kota Palu pada bulan September-Oktober 2017. Populasi penelitian ini adalah seluruh bayi baru lahir di BPM Setia Kota Palu. Sampel diperoleh sebanyak 40 bayi baru lahir terdiri dari 2 kelompok sampel yaitu 18 bayi kelompok kontrol (waktu klem tali pusat 2 menit) dan 22 bayi kelompok eksperimen (waktu klem tali pusat 3 menit). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pengambilan darah setelah tali pusat diklem dan digunting diambil dari vena umbilikalis sebanyak 2 cc dan dilakukan pemeriksaan di laboratorium dengan menggunakan alat Hematology Autoanalyzer. Analisa data dilakukan uji beda rerata menggunakan Ttest independent. Hasil penelitian nilai rata-rata kadar hemoglobin kelompok 2 menit sebesar 14,5 gr/dl dan kelompok 3 menit sebesar 15,9 gr/dl. Berarti ada perbedaan kadar Hb antara waktu 3 menit lebih tinggi dibandingkan 2 menit. Dari hasil uji T-test independent diperoleh nilai p=0,000, maka nilai p= 0,000< α = 0,05. Disimpulkan waktu penundaan pengkleman tali pusat berpengaruh terhadap kadar hemoglobin pada bayi baru lahir. Saran penelitian ini perlunya petugas kesehatan mengevalusi waktu penundaan pengkleman tali pusat yang digunakan dalam APN agar meningkatkan kadar hemoglobin pada bayi baru lahir
Pengaruh Pemberian Vitamin E Terhadap Perubahan Derajat Dismenorhea Pada Mahasiswa Kebidanan Universitas Muslim Indonesia
Dismenorhea atau nyeri haid yang merupakan gejala paling sering di keluhkan wanita usia reproduktif. Kondisi ini sering dikaitkandengan berbagai gejala lainnya yang terjadi sebelum menstruasi, seperti sakit kepala, mual, muntah,diare, denyut jantung yang abnormal, dan berkeringat. Dismenorhea berkaitan dengan peningkatan kadar prostaglandin menjelang menstruasi. Vitamin E dapat mengurangi nyeri haid, melalui hambatan terhadap biosintesis prostaglandin. Penelitian ini tujuan untuk melihat pengaruh pemberian Vitamin E terhadap perubahan derajat dismenorhea pada mahasiswa Prodi DIII Kebidanan UMI. Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest dengan 29 subjek penelitian. Seluruh subjek penelitian dinilai dengan NRS untuk menilai derajat dismenorhea. Pemberian Vitamin E 400 IU diberikan 3 hari berturut-turut sebelum haid pertama pada siklus kedua. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 29 mahasiswa yang mengalami dismenorhea setelah diberikan vitamin E, terdapat 82,75% responden mengalami penurunan derajat dismenorhea (p=0,000). Pemberian vitamin E sebelum menstruasi dapat menurunkan derajat dismenorhea dan salah satu pengobatan alternatif untuk mencegah terjadinya dismenorhe
Determinan Kejadian Dermatitis Di Puskesmas Rappokalling Kota Makassar
Dermatitis termasuk kelompok penyakit yang sering dianggap enteng, padahal termasuk 10 besar penyakit yang diderita masyarakat Indonesia. Prevalensi di Kota Makassar, tahun 2014 jumlah kasus dermatitis 53.365 kasus, sedang di Puskesmas Rappokalling jumlah kasus dermatitis sebesar 2030 (15,63%) kasus. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui hubungan faktor risiko karakteristik individu, personal hygiene, sanitasi lingkungan, pajanan lingkungan, genetik/hereditas, serta alergi dengan kejadian dermatitis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah case control study, dimana pasien yang berkunjung ke Puskesmas Rappokalling yang menderita dermatitis (kasus) dan pasien yang tidak menderita dermatitis (kontrol) sebagai populasi dan sampel. Jumlah sampel sebanyak 64 orang (kasus) dan 64 orang (kontrol), sehingga jumlah keseluruhan sampel sebanyak 128 orang. Analisis data dilakukan dengan uji odds ratio dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan personal hygiene, sanitasi lingkungan (sarana air bersih), dan alergi dengan kejadian dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling. Disarankan pemerintah khususnya Puskesmas Rappokalling untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga personal hygiene seperti kebersihan handuk, kebersihan badan (mandi 2 kali sehari), kebersihan tangan dan kuku (rajin mencuci tangan dan memotong kuku). Pemerintah hendaknya menyediakan sarana air bersih yang memenuhisyarat bagi masyarakat serta memperhatikan potensi munculnya dermatitis yang terkait dengan alergi
Efektivitas Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Gula PT. X di Kabupaten Kediri Jawa Timur
Industri Gula X dalam mengolah limbah cair hasil kegiatan produksi gula dengan menggunalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Seiring dengan pertambahan tahun kinerja IPAL dapat semakin menurun, sehingga perlu adanya evaluasi terhadap keefektifan kinerja IPAL. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas instalasi pengolahan air limbah di Industri Gula X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi sementara data sekunder dari bagian pengolahan yang berupa hasil uji laboratorium inlet dan outlet IPAL. Parameter hasil analisis uji laboratorium adalah pH, BOD5, COD, TSS, Sulfida, minyak dan lemak. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober tahun 2017. Hasil penelitian ini adalah konsentrasi pH rata-rata 7. IPAL Industri Gula X bekerja efektif dalam menurunkan konsentrasi BOD5, COD, TSS, Sulfida, minyak dan lemak. Urutan penurunan konsentrasi parameter tersebut antara lain, 97,90%; 97,51%; 78,80%; 99,80%; 28,81%. Namun yang paling efektif dalam menurunkan konsentrasi adalah pada parameter Sulfida sebesar 99,80%. Dari hasil evaluasi air limbah pada outlet IPAL menunjukkan bahwa semua parameter sudah memenuhi baku mutu air limbah bagi industri gula berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Timur No. 52 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 201
Korelasi Self efficacy terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Kelurahan Tallo Kota Makassar
BKKBN Provinisi Sulawesi Selatan mengemukakan bahwa pengguna keluarga berencana (KB) mencapai 69,31% pada tahun 2015 atau sebesar 121.892 pasangan. Persentase penggunaan alat kontrasepsi sebanyak 66,7% masih rendah dibandingkan dengan target Dinas Kesehatan Kota Makassar sebesar 100% di tahun 2015 (Dinkes, 2017).Penggunaan alat kontrasepsi yang masih rendah disebabkan oleh beberapa hal, salah satu diantaranya faktor dari dalam diri pasangan usia subur. Keinginan menjadi akseptor keluarga berencana didorong oleh keyakinan diri (Self efficacy) akan kemampuan diri untuk menggerakkan motivasi. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis korelasi Self efficacy terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada pasangan usia subur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yang dilakukan di RW IV, Kelurahan Tallo, Kota Makassar. Populasi adalah pasangan usia subur sebanyak 190 orang. Data diambil dengan cara wawancara Untuk menjawab tujuan penelitian dan hipotesis, analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi.Hasil penelitian menemukan ada pengaruh Self efficacy (p value = 0,000).Disarankan pada petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan mengikut serta sampel orang yang berhasil, dan berusaha mendapatkan kepercayaan yang penuh dari masyarakat