Window of Health (WOH) : Jurnal Kesehatan
Not a member yet
332 research outputs found
Sort by
Aktivitas Fisik dan Hubungannya dengan Kejadian Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan masalah yang serius dan menjadi salah satu penyakit penyebab kematian yang cukup besar di Indonesia. Selain itu banyak penelitian yang menyebutkan bahwa prevalensi akan terus meningkat pada tahun 2030. Tingginya prevalensi ini perlu dicegah mulai dari sekarang. Salah satu cara pencegahan penambahan angka kejadian diabetes ini adalah dengan mengetahui hubungan aktivitas fisik apa saja seseorang untuk mengalami diabetes. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kejadian diabetes melitus. Metode penelitian ini menggunakan rancangan deskriptip analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi dan didapatkan sampel 30 responden. Data diolah dan dilakukan perhitungan menggunakan program data komputerisasi. Hasil penelitian didapatkan data univariat usia terbanyak adalah diatas 40 tahun (100%), berjenis kelamin perempuan (56.7%), berpendidikan SD (46.7%) dan pensiunan (53.3%) dari hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan aktivitas fisik terhadap kejadian diabetes melitus (P value = 0.009 dengan OR=11.000). Saran dalam penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan mampu memberikan penyuluhan dan konseling kepada keluarga dan penderita DM supaya mempunyai kesadaran untuk selalu melakukan aktivitas fisik dengan teratur, serta melakukan perubahan gaya hidup ke arah yang lebih baik
Hubungan Penggunaan Kondom Dengan Perilaku Berisiko Tertular HIV/AIDS Pada Anak Buah Kapal
Profesi Anak buah kapal merupakan kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Perjalanan kerjanya panjangsehingga mereka jarang melihat keluarga, terutama istri dan anak-anak mereka. Karena itu kebutuhan biologisbelum terpenuhi. Biasanya pekerja pelayaran memenuhi kebutuhan biologis mereka dengan mempekerjakanwanita seksual. Ini berdampak pada penularan penyakit seksual atau AIDS. Perkiraan jumlah HIV / AIDS menurut usia lebih besar 15 tahun di Indonesia pada tahun 2017 adalah 628.492 orang dengan jumlah infeksi baru sebanyak 46.357 orang dan kematian sebanyak 40.468 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan penggunaan kondom dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS pada anak buah kapal. Penelitian ini menggunakan dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan SoekarnoHatta Makassar, dengan jumlah sampel sebanyak 285 responden. Hasil penelitian ditemukan ada hubungan penggunaan kondom denagn perilaku berisiko tertular HIV/AIDS pada anak buah kapal. Untuk ABK dalam melakukan hubungan seksual harus menggunakan kondom sebagai salah satu brntuk dalam pencegahan risiko tertular HIV/AIDS
Kejadian Dismenorhoe Pada Mahasiswi Dengan Anemia
Bagi anak-anak dan remaja putri banyak ditemukan masalah kesehatan khususnya anemia. Pada wanita dengan anemia defisiensi zat besi jumlah darah haidnya juga lebih banyak. Kebanyakan wanita tidak merasakan gejala –gejala pada waktu haid, tetapi sebagian merasa berat di panggul atau merasa nyeri (dismenorea). Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa angka kejadian dismenorea masih cukup tinggi, mereka yang mengalami dismenorea yang sangat berat setelah minum obat harus beristirahat serta dianjurkan untuk membatasi bahkan meninggalkan sekolah atau pekerjaan selama 1-3 hari dalam satu bulan yang tentunya akan dapat merugikan wanita dalam beraktifitas, khususnya pada remaja putri yang sedang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kejadian dismenorea pada mahasiswi dengan anemia. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Jenis penelitian ini menggunakan desain survai analitik dengan pendekatan yang digunakan cross sectional. Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara anemia dengan kejadian dismenorea pada mahasiswa Kebidanan UMI dimana hasil uji chi square sebesar 9,737 artinya responden yang mengalami anemia mempunyai risiko 9,7 kali mengalami dismenorea dibandingkan responden yang tidak anemia dengan p-value 0,0001 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa anemia dapat menyebabkan terjadinya dismenorea pada remaja putri, sehingga perlunya peningkatan pengetahuan tentang gizi bagi remaja putri untuk mencegah terjadinya anemia
Analisis Bahan Kimia Obat Natrium Diklofenak Pada Sediaan Jamu Pegal Linu Yang Beredar Di Makassar
Jamu pegal linu merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak diminati oleh masyarakat, karena dapat menghilangkan nyeri otot dan tulang, memperlancar peredaran darah, memperkuat daya tahan tubuh, serta menghilangkan sakit di seluruh badan. Salah satu bahan kimia obat yang sering ditambahkan dalam jamu pegal linu adalah natrium diklofenak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan bahan kimia obat natrium diklofenak pada sediaan jamu pegal linu. Jamu pegal linu yang digunakan pada penelitian ini, yaitu tujuh macam merek jamu pegal linu yang beredar di Kota Makassar, dengan metode pengambilan sampel secara random sampling. Analisis kualitatif bahan kimia obat natrium diklofenak dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT), menggunakan fase diam silika gel dan fase gerak etil asetat: asam asetat glasial: toluen (60:40:1). Hasil analisis menunjukkan sampel A, C, dan G positif mengandung natrium diklofenak dengan nilai Rf sama dengan standar natrium diklofenak, yaitu Rf= 0,69. Analisis kuantitatif secara spektrofometri UV-Vis pada panjang gelombang 280 nm dengan variasi konsentrasi 4, 6, 8, 10, 12, 14, dan 16 ppm, diperoleh kadar natrium diklofenak untuk sampel jamu A adalah 154 mg/g, sampel C 28,302 mg/g, dan sampel G=; 6,908 mg/g. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap produk jamu yang beredar di Kota Makassar
Intervensi Edukasi terhadap Perubahan Perilaku Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja SMAN 11 Sinjai Selatan
Kesehatan reproduksi remaja dari 60 siswa diperoleh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi masih kurang baik oleh karena itu diperlukan intervensi edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi edukasi terhadap perubahan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi remaja, menganalisis pengaruh intervensi edukasi terhadap perubahan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi remaja di SMAN 11 Sinjai Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Eksperimental Design dengan menggunakan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian ini dilakukan SMAN 11 Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai dan dilakukan pada bulan Maret 2018, instrument penelitian berupa materi edukasi kesehatan reproduksi, kuesioner, dan lembar informed consent. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 342 siswa dengan besar sampel minimal yang dibutuhkan adalah 55 orang. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada pengaruh pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan intervensi edukasi dengan nilai p value= 0,000, ada pengaruh sikap remaja tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan intervensi edukasi p value= 0,000, ada pengaruh tindakan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan intervensi edukasi p value= 0,000 dan ada pengaruh perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum dan sesudah diberikan intervensi edukasi p value= 0,000. Sehingga Intervensi edukasi kesehatan reproduksi remaja memberikan pengaruh yang signifikan pada perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMAN 11 Sinjai Selatan. Oleh karena itu, dukungan emosional dari pihak-pihak terkait diharapkan bisa membentuk sikap positif. Pendidikan kesehatan diharapkan menjadi agenda bulanan yang rutin dilaksanakan ke sekolah-sekolah
Pengaruh Health Education Terhadap Perilaku Personal Higiene Pada Murid Sekolah Dasar Yang Mengalami Kecacingan Di SD Inpres Pampang I Kota Makassar
Masalah kesehatan yang masih dianggap sepele dan kurang mendapatkan perhatian ialah masalah kecacingan. Prevalensi kecacingan di Indonesia mencapai 28,12 %. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang meliputi pengetahuan akan kebersihan perorangan. Tujuan penelitian ini adalah Untuk menilai pengaruh health education terhadap perilaku Personal Hygiene Pada Murid Sekolah Dasar yang Mengalami Kecacingan di SD Inpres Pampang I Kota Makassar. Desain penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan Pra eksperimen dengan rancangan one group pre and post test design dengan tekhnik sampling yaitu total sampling, jumlah sampel sebanyak 146 sampel, hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Pengolahan data menggunakan uji statistik uji T dengan tingkat signifikan α = 0, 005. Hasil penelitian yang didapatkan ada perubahan pengetahuan personal hygiene yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan health education dengan nilai signifikan ρ = 0.001, tidak ada perubahan sikap personal hygiene yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan health education dengan nilai ρ = 1, 818, namun tetap ada peningkatan sikap positif yaitu sebelum intervensi sikap positif sebesar 18,8% meningkat menjadi 71,3% setelah intervensi dan ada perubahan personal hygiene yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan health education dengan nilai ρ = 0.001. Ada perubahan perilaku personal hygiene dari sebelum dan sesudah diberikan health education sebesar 71,25 % menjadi perilaku yang lebih baik. Penelitian ini menjadi referesi dan bahan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan khususnya ilmu keperawatan anak dan epidemiologi keperawatan
Relaksasi Otot Progresif Menurunkan Tingkat Depresi pada Lansia
Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman pancaindra, menurunnya daya tahan tubuh merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan peran diri, kedudukan social serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu atau quasi eksperimental dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua kelompok yaitu kelompok intervensi atau perlakuan yang diberikan intervensi berupa latihan relaksasi otot progresif dan kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi berupa latihan relaksasi otot progresif.Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di PSTW Gau Mabaji Gowa yang berjumlah 95 orang. Sampel yang digunakan adalah lansia yang mengalami depresi yaitu 20 orang dengan teknik pengambilan proportional random sampling. Kelompok intervensi berjumlah 10 orang lansia dan kelompok kontrol berjumlah 10 orang lansia. Semua responden mengikuti penelitian hingga akhir penelitian Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat depresi pada lansia kelompok intervensi setelah diberikan latihan relaksasi otot progresif sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi memiliki tingkat depresi yang tetap. Berdasarkan analisis Independent T-Test diperoleh nilai p-value 0,000 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan tingkat depresi responden pada kedua kelompok pada post test. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi otot progresif yang dilakukan oleh lansia yang mengalami depresi dapat membantu mengurangi tingkat depresi.Terdapat pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan depresi pada lansia. Diharapkan relaksasi otot progresif dapat menjadi terapi non farmakologi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan depresi karena dapat dilakukan sendiri oleh lansia setiap waktu, tidak memerlukan biaya yang banyak, dan tidak memerlukan waktu yang lam
Efektifitas Ekstrak Daun dan Getah Tanaman Jarak Cina (Jatropha Multifida L.) Sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Secara In Vitro
Tanaman jarak cina (Jatropha multifida L.) mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, saponin dan asam fenolik yang berbeda dari setiap bagian tanamannya dan kandungan zat-zat tersebutlah yang membuat Jatropha multifida L. mempunyai fungsi sebagai antibakteri sehingga ekstrak daun dan getah jarak cina (Jatropha multifida L.) diduga mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun dan getah tanaman jarak cina (Jatropha multifida L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Penelitian menggunakan desain penelitian true experimental post test. menggunakan metode disc diffusion dengan konsentrasi 25; 50; 75; dan 100% v/v daun dan getah jarak cina. Kontrol positif digunakan kertas cakram antibiotik Clindamycin 5μg. Data dianalisissecara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan zona hambat yang berbeda-beda antar perlakuan. Pada ekstrak daun jarak cina memperlihatkan rata-rata diameter yang berbeda, pada konsentrasi 25%, 50%,75% dengan zona hambat yang terbentuk masing-masing adalah 0 mm, 9,32 mm, dan 17,48 mm serta zona hambat tertinggi pada konsentrasi 100% dengan rata-rata diameter 22,24 mm. Pada getah jarak cina memperlihatkan rata-rata diameter yang berbeda, pada konsentrasi 25%, 50%,75% dengan zona hambat yang terbentuk masing-masing adalah 16,08 mm, 18,15 mm, dan 18,63 mm serta zona hambat tertinggi pada konsentrasi 100% dengan rata-rata diameter 21,91 mm. Kontrol positif Clindamycin memperlihatkan zona hambat rata-rata 23,31 mm. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh ekstrak daun dan getah tanaman jarak cina (Jatropha multifida L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, dan konsentrasi terbaik adalah konsentrasi 100% serta hampir mendekati zona hambat dari antibiotik Clindamycin sebagai kontrol positif
Hubungan Antara Lama Menstruasi Dengan Kadar Hemoglobin Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2016
Hemoglobin merupakan komponen penting dalam darah. Jika darah kekurangan hemoglobin atau jumlah hemoglobin dalam darah kurang dari jumlah normalnya, maka tubuh akan mengalami anemia.Tujuan daripenelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara lama menstruasi dengan kadar hemoglobin pada mahasiswi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif, pendekatan cross-sectional, menggunakan teknik Total Sampling. Sampel berjumlah 99 orang di Fakultas Kedokteran UMI. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan mengukur hemoglobin responden. Analisa data menggunakan uji spearman. Jumlah sampel sebanyak 99 mahasiswi, terdapat 49 mahasiswi (49,5%) yang mengalami lama menstruasi normal dengan kadar hemoglobin yang normal (≥12), terdapat 38 mahasiswi (38,4%) yang mengalami lama menstruasi normal dengan kadar hemoglobin rendah (<12), terdapat 3 mahasiswi (3,0%) yang mengalami hipermenorea atau lama menstruasi tidak normal dengan kadar hemoglobin normal (≥12), dan terdapat 9 mahasiswi (9,1%) yang mengalami menstruasi tidak normal (hipermenorea) dengan kadar hemoglobin rendah (<12), serta tidak ada mahasiswi yang mengalami hipomenorea. Berdasarkan hasil analisis uji hubungan diperoleh nilai p = 0,042 (lebih kecil dari nilai α = 0,05). Kesimpulan yang dapat diambil adalah terdapat adanya hubungan yang bermakna antara antara lama menstruasi dengan kadar hemoglobin pada mahasiswi Fakultas Kedokteran UMI angkatan 201
Analisis Faktor Risiko Lingkungan Fisik terhadap Kejadian Pneumonia pada Balita Di Kelurahan Bujel Kediri
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru pada alveoli yang disebabkan berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur, dan bakteri. Lingkungan fisik rumah seperti suhu, kelembaban, pencahayaan, kepadatan hunian, dan jenis dinding dapat menjadi penyebaran mikroorganisme penyebab pneumonia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan rumah terhadap kejadian pneumonia pada anak Balita di Kelurahan Bujel Kediri. Penelitian ini dilakukan dengan design kasus kontrol dengan jumlah responden 30 untuk kelompok kasus dan 30 untuk kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pengukuran. Analisis data menggunakan uji Odds Ratio. Hasil penelitian menunjukkan jika tidak ada hubungan yang signifikan antara suhu, kelembaban, pencahayaan, kepadatan hunian kamar, dan jenis dinding kamar terhadap kejadian pneumonia. Hal ini diketahui dari pada suhu p value = 0,353 (p> 0,05) dengan OR= 0,224, kelembaban p value= 1,000 (p> 0,05) dengan OR= 1,000, pencahayaan p value= 0,669 (p>0,05) dengan OR= 0,606, kepadatan hunian kamar p value= 0,542 (p> 0,05) dengan OR= 0,688, dan jenis dinding kamar p value= 1,000 (p> 0,05) dengan OR=.1,000