Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUD MARDI WALUYO BLITAR BULAN JULI-DESEMBER TAHUN 2016
Latar belakang: Hipertensi adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah mengalami peningkatan tekanan. Hipertensi masih menjadi salah satu penyakit yang prevalensinya mengalami peningkatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi dan untuk mengetahui obat yang paling banyak digunakan. Metode: Penelitian dengan menggunakan metode retrospektif dilakukan di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar selama periode Juli-Desember tahun 2016. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Hasil: Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian ini yaitu sebanyak 84 pasien. Pasien hipertensi terbanyak adalah pasien perempuan sebanyak 49 pasien dan laki-laki sebanyak 34 pasien. Usia yang paling banyak menderita hipertensi yaitu 58-64 tahun sebanyak 24 pasien (28.57%). Berdasarkan klasifikasi hipertensi yang paling banyak terjadi yaitu hipertensi stadium II sebanyak 30 pasien (35,71%). Terapi obat yang paling banyak digunakan yaitu terapi obat kombinasi sebanyak 81 pasien (96,43%) dan yang menggunakan terapi tunggal sebanyak 3 pasien (3,57%). Simpulan dan saran: Berdasarkan hasil penelitian obat-obat antihipertensi yang digunakan pada pasien hipertensi rawat inap meliputi Captopril, lisinopril, imidapril, diltiazem, amlodipine, nifedipine, candesartan, irbesartan, valsartan, telmisartan, bisoprolol dan propanolol , HCT, indapamide, furosemide, spironolactone, terazosin, clonidin,. Golongan obat antihipertensi candesartan, irbesartan, valsartan, telmisartan
Gambaran Waktu Tunggu Pasien dan Mutu Pelayanan Rawat Jalan di Poli Umum UPTD Puskesmas Pesantren 1 Kota Kediri Tahun 2017
Latar belakang: Waktu tunggu adalah waktu yang digunakan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulai tempat pendaftaran sampai masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Waktu tunggu merupakan hal yang sensitif, dalam arti waktu tunggu berisiko menyebabkan mutu pelayanan kesehatan disebuah puskesmas menurun. Waktu tunggu yang yang tidak efisien dapat megundang ketidak puasan pasien akan sebuah pelayanan kesehatan. Tujuan: Mengetahui gambaran waktu tunggu pasien rawat jalan di Poli Umum UPTD Puskesmas Pesantren 1 dan mutu pelayanan di Puskesmas Pesantren 1 berdasarkan variabel Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy. Metode: Jenis penelitian yang di gunakan adalah metode survei analitik menggunakan pendekatan cross sectional pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam. Hasil: Berdasarkan wawancara dan observasi langsung yang dilakukan di UPTD Puskesmas Pesantren 1 bahwa waktu tunggu pasien rawat jalan di UPTD Puskesmas Pesantren 1 tergolong dalam kategori Sedang ( 30- 60 menit). Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan waktu tunggu pasien rawat jalan dimana rata- rata waktu tunggu pasien rawat jalan di UPTD Puskesmas Pesantren 1 adalah 55,45 menit. Dan dari hasil penyebaran kuesioner di ketahui untuk keseluruhan pelayanan baik yaitu 72%. Simpulan dan saran: Waktu tunggu pasien rawat jalan di UPTD Puskesmas Pesantren 1 tergolong dalam kategori Sedang ( 30- 60 menit) yaitu 55,45 menit dan mutu pelayanan dalam kategori baik yaitu 72%
PERBEDAAN KEKASARAN PERMUKAAN RESIN KOMPOSIT NANO PADA PERENDAMAN TEH HITAM DAN KOPI
Latar belakang: Resin komposit nano adalah bahan restorasi yang memiliki filler berukuran sangat kecil, sehingga dapat memperbaiki sifat fisik, tahan abrasi dan menurunkan kekasaran permukaan. Resin komposit nano bersifat porus dan menyerap cairan seperti kopi dan teh hitam. Kopi dan teh hitam adalah jenis minuman yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan memiliki kandungan asam. Tujuan: Menganalis perbedaan kekasaran permukaan resin komposit nano pada perendaman teh hitam dan kopi. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah experimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test only control group design. Sampel penelitian berupa balok persegi berukuran 5 mm x 5 mm dan ketebalan 2 mm. Kelompok 1 adalah 5 sampel komposit nano direndam dalam seduhan teh hitam. Kelompok 2 adalah 5 sampel komposit nano direndam dalam seduhan kopi dan kelompok 3 adalah 5 sampel komposit nano direndam dalam aquades masing-masing dilakukan selama 24 jam/hari selama 7 hari. Kekasaran permukaan diukur surface roughness tester dan hasilnya dilakukan uji statistik one way anova. Hasil: Uji Anova menunjukkan nilai p=0,00 berarti terdapat perbedaan bermakna, hasil uji LSD terdapat perbedaan bermakna antar kelompok penelitian.Simpulan dan saran: Terdapat perbedaan kekasaran permukaan resin komposit pada perendaman teh hitam dan kopi. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat membandingkan dengan minuman bersod
PERUBAHAN pH SALIVA SETELAH MENGUNYAH APEL ROME BEAUTY DAN MANALAGI
Karies adalah suatu penyakit jaringan keras gigi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya karies gigi yaitu dengan menjaga derajat keasaman (pH) saliva. Mengkonsumi buah terutama buah yang mengandung banyak serat, seperti apel dapat menjaga kesehatan rongga mulut karena dapat menjaga derajat keasaman (pH) saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh setelah mengunyah apel Rome Beauty dan apel Manalagi terhadap pH saliva. Jenis penelitian ini adalah eksperimental klinis.Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 orang yang seluruhnya diinstruksikan untuk mengunyah apel Rome Beauty dan apel Manalagi kemudian diintruksikan untuk meludah pH saliva diukur sebelum dan sesudah perlakuan pada menit ke-15, menit ke-30 dan menit ke-60. Analisa data menggunakan uji Anova dan Manova.Hasil uji Anova, pH Saliva pada kelompok apel Rome Beauty pada menit ke-15, menit ke-30 dan menit ke-60 memiliki nilai signifikan dan pH saliva pada kelompok sampel apel Manalagi pada menit ke-15, menit ke-30 dan menit ke-60 memiliki nilai tidak signifikan. Hasil uji Manova perbandingan pH saliva kelompok apel Rome Beauty dan apel Manalagi pada menit ke-15, menit ke-30 dan menit ke-60 memiliki nilai signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan pengaruh mengunyah apel Rome Beauty dan apel Manalagi terhadap pH saliva
OPTIMALISASI ENERGI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK MELALUI TERAPI INFRARED PADA PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik yang ditandai dengan hambatan aliran udara pada saluran nafas, yang bersifat progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi paru-paru terhadap partikel atau gas beracun dan berbahaya.. Tujuan: Menganalisis pengaruh pemanfaatan gelombang elektromagnetik melalui terapi infrared pada penderita PPOK. Metode: Penelitian studi kasus dilakukan di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun pada seorang pasien penderita PPOK. Variabel independen yaitu terapi infrared sedangkan variabel dependen yaitu efek terapi infrared terhadap proses penyembuhan penyakit paru obstruktif kronik yang diidentifikasi melalui ukuran sangkar thorak dan pengukuran intensitas sesak nafas pasien. Hasil: Pasien dengan kondisi Penyakit Paru Obstruksi Kronik setelah dilakukan terapi sebanyak enam belas kali dalam waktu 8 hari diperoleh hasil, yaitu: (1) Terjadi penurunan derajat sesak napas dan otot pernafasan menjadi rileks, (2) terjadi peningkatan mobilitas sangkar thorak, (3) terjadi peningkatan aktifitas fungsional, dan (4) terjadi pembersihan jalan nafas dan pengurangan batuk berdahak. Simpulan dan Saran: Gelombang elektromagnetik pada terapi infrared dapat memperbaiki ventilasi dan memperbaiki kapasitas fungsional pernapasan
PENGEMBANGAN DAN UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SAWO MANILA (Manilkara zapota) SEBAGAI LOTIO TERHADAP Staphyllococcus aures
Latar belakang: Tanaman sawo manila (Manilkara zapota L) dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif sebagai obat tradisional untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit misalnya jerawat yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak dan lotio ekstrak daun sawo manila memiliki aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus. Metode: Dalam penelitian ini ekstrak daun sawo manila diformulasikan menjadi lotio pada konsnetrasi 90mg, 120 mg, 150 mg dan dibagi dalam 5 perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, lotio ekstrak daun sawo manila 90mg, lotio ekstrak daun sawo manila 120 mg, lotio ekstrak daun sawo manila 150mg. Hasil: Hasil dari penelitian bahwa lotio ekstrak daun sawo manila memiliki aktifitas antibakteri pada Staphylococcus aureus dan terdapat perbedaan aktitifat pada setiap konsnetrasi. Konsentrasi lotio ekstrak daun sawo manila 90 mg telah memberikan aktifitas antibakteri, sedangkan konsentrasi 150 mg memberikan aktifitas yang besar. Adapun pada perlakuan antibitotik pembanding yaitu Tetrasiklin 56 mg memberikan hasil yang lebih besar dibanding konsentrasi 150 mg. Simpulan dan saran: terdapat perbedaan aktitifas pada setiap konsnetrasi lotion ekstrak daun sawo manila
OPTIMASI EKSTRAKSI GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA (Thunnus albacares)
Latar belakang: Gelatin adalah produk alami yang diperoleh melalui hidrolisis kolagen tulang ikan tuna. Kolagen merupakan protein bermolekul besar yang diperoleh dengan cara estraksi dalam suasana asam. Ekstraksi menggunakan pelarut asam menyebabkan putusnya ikatan hidrogen di antara ketiga rantai tropokolagen. Tujuan: Mengetahui konsentrasi pelarut asam yang menghasilkan rendemen tertinggi dan karakteristik gelatin yang dihasilkan. Pelarut asam yang digunakan adalah asam klorida dengan variasi konsentrasi 1, 3, 5, 7, 9 dan 11% (v/v). Metode: Isolasi gelatin diawali dengan perendaman tulang dalam larutan asam untuk melarutkan garam kalsium dan garam lainnya dalam tulang ikan tuna sehingga tulang relatif menjadi lunak. Hasil: Rendemen tertinggi sebanyak 5,03% dihasilkan dari asam klorida dengan konsentrasi 3%. Karakteristik gelatin yang dihasilkan mempunyai kadar air 8,59%, kadar abu 8,02%, kadar lemak 0,27%, kadar protein 80,2% dengan berat molekul gelatin berada pada rentang 45 kDa dan di atas 100 kDa dan kekuatan gel gelatin adalah 167,8450 gram bloom. Simpulan dan saran: Rendemen gelatin tertinggi dihasilkan dari konsentrasi asam klorida 3% dengan kadar air 8,59%, kadar abu 8,02%, kadar lemak 0,27%, kadar protein 80,2%. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap aplikasi gelatin yang dihasilka
FAKTOR DETERMINAN STATUS IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI DI PUSKESMAS KONANG DAN GEGER
Latar belakang: Imunisasi dasar merupakan jenis imunisasi pertama yang harus diberikan pada bayi sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit tertentu. Tujuan: Menganalisis faktor yang berpengaruh sangat signifikan terhadap status imunisasi dasar lengkap pada bayi. Metode: Pendekatan cross-sectional dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Konang dan Geger. Populasi adalah seluruh bayi di Kecamatan Konang dan Geger sebanyak 1831 bayi. Sampel adalah bayi yang terpilih dengan teknik simple random sampling sebanyak 275 bayi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis multivariate ditemukan bahwa variabel sikap ibu (p=0,000) dan dukungan keluarga (p=0,000) memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap status imunisasi dasar lengkap pada bayi. Simpulan dan saran: Terdapat pengaruh yang sangat kuat antara sikap ibu dan dukungan keluarga terhadap status imunisasi dasar lengkap pada bayi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait pengaruh program edukasi kepada masyarakat secara intensif tentang pentingnya pemberian imunisasi dasar pada bayi dalam upaya pencegahan dari penyakit tertentu
INDEKS PREDIKSI RISIKO KEMATIAN JEMAAH HAJI DI PROVINSI JAWA TIMUR
Latar belakang: Ibadah haji merupakan ibadah bagi umat Islam yang selalu diminati, tetapi selalu ada peningkatan jumlah kematian jemaah haji. Jemaah haji Provinsi Jawa Timur yang meninggal di Arab Saudi tahun 2014 sebanyak 50 orang dan meningkat menjadi 122 orang pada tahun 2015. Tujuan: Mengembangkan indeks prediksi risiko kematian jemaah haji di Provinsi Jawa Timur. Metode: Pendekatan case-control menggunakan data sekunder dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jemaah haji yang terdaftar di wilayah Provinsi Jawa Timur Tahun 2015. Sampel penelitian sebanyak 102 jemaah haji, dibagi menjadi 2 kelompok, 54 jemaah haji sebagai kasus dan 54 jemaah haji sebagai kontrol. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil: Merokok, kurang aktivitas fisik, penyakit sirkulasi, penyakit respiratori, penyakit endokrin dan metabolik merupakan indikator yang masuk ke dalam model indeks prediksi kematian jemaah haji. Model indeks prediksi kematian jemaah haji adalah -2,615 + (0,495*merokok) + (0,703*kurang aktivitas fisik) + (3,221*penyakit sirkulasi) + (2,889*penyakit respiratori) + (1,451*penyakit endokrin & metabolik). Simpulan dan saran: Merokok, kurang aktivitas fisik, penyakit sirkulasi, penyakit respiratori, penyakit endokrin dan metabolik dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi kematian jemaah haji. Perlu dilakukan suatu upaya untuk menekan angka kematian jemaah haji dengan memperhatikan indikator perilaku dan penyakit yang dimiliki oleh jemaah haji
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus (F.A.C Weber) Britton & Rose) HASIL MASERASI DAN DIPEKATKAN DENGAN KERING ANGIN
Latar belakang: Buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan tinggi dan stabil. Tujuan: Untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak buah naga merah hasil maserasi yang dipekatkan dengan metode keringangin. Metode: Sampel diinkubasi selama selama 3x24 jam menggunakan pelarut metanol p.a tanpa remaserasi kemudian dipekatkan dengan keringangin selama ±7 jam. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH 0,1 mM. Sampel dikelompokkan dalam 6 konsentrasi yang berbeda masing-masing dengan 3 ulangan. Hasil: Sampel ekstrak memiliki nilai IC50 sebesar 67,45 ppm. Simpulan dan saran: Ekstrak buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan tinggi yaitu kurang dari 200 ppm