Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS SEDUHAN TEH ROSELA KERING TERHADAP PENINGKATAN KADAR HAEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI KOTA MALANG
Latar belakang: Remaja putri merupakan kelompok rentan terjadi anemia. Maka perlu mendapatkan tambahan zat besi dan vitamin C untuk absorbsi zat besi. Salah satunya adalah bunga rosela (hibiscus sabdarifa) dengan kandungan 9 kali lipat jeruk citrus. Tujuan: Mengetahui efektivitas seduhan teh rosela kering terhadap peningkatan kadar haemoglobin pada remaja putri. Metode: Desain true eksperimental pretest - posttest dengan kelompok kontrol. Populasi 46 orang sesuai kriteri inklusi. Sampel 30 responden (15 responden perlakuan dan 15 responden kontrol). Penelitian dilakukan di Kota Malang (STIKes Maharani dan SMKF Maharani). Teknik sampling menggunakan Simple Random Sampling. Analisa data menggunakan Paired t-test. Hasil: Pada kelompok perlakuan dari 15 orang yang menderita anemia, 12 orang (80%) kadar Hb mengalami kenaikan. Pada kelompok kontrol dari 15 orang, 8 orang (53,3%) mengalami penurunan kadar Hb. Analisis t-test kelompok perlakuan p=0,029 (p<0,05) dan kelompok kontrol p=0,279 (p>0,05), ada perbedaan efektivitas seduhan teh rosela kering terhadap peningkatan kadar haemoglobin pada remaja putri. Simpulan dan Saran: Diharapkan remaja putri dapat mengkonsumsi tablet Fe disertai dengan konsumsi vitamin C untuk meningkatkan absorbsi tablet Fe
STRATEGI MENGATASI TEMPERTANTRUM PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN MELALUI PERMAINAN ULAR TANGGA DI TK WILAYAH TUMPANG KABUPATEN MALANG
Latar belakang: Di Indonesia balita yang mengalami tantrum dalam waktu satu tahun, 23-83% dari anak usia 2 sampai 4 tahun pernah mengalami tempertantrum. Tempertantrum bukanlah suatu penyakit berbahaya, namun jika orangtua membiarkan tantrum berlarut-larut dan tidak pernah memberikan solusi yang benar kepada anak maka perkembangan emosional anak dapat terganggu.. Tujuan: Mengetahui strategi mangatasi tempertantrum pada anak usia 3-5 tahun melalui permainan ular tangga. Metode: Desain penelitian ini menggunakan one group pre-post test. Populasinya adalah orangtua yang mempunyai anak TK, sampelnya adalah orangtua yang mempunyai anak tempertantrum sesuai kriteria inklusi dengan teknik sampling purposive sampling sejumlah 30 responden. Tempat penelitian dilakukan di TK Wilayah Tumpang Kabupaten Malang. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner, observasi, dan dokumentasi untuk melihat pengaruh permainan ular tangga. Hasil: Analisa data menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai P=0,001 (P < 0,05). Simpulan dan saran: Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh mengatasi tempertantrum pada anak usia 3-5 tahun melalui permainan ular tangga. Dan diharapkan orangtua maupun tenaga kesehatan dapat menerapkan strategi mengatasi tempertantrum pada anak melalui permainan ular tangga
Budaya Cuci Tangan Pakai Sabun (CPTS) di Lingkungan Sekolah
Latar Belakang: Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan suatu intervensi kesehatan yang sederhana dan murah dalam mengurangi penularan berbagai macam penyakit, utamanya penyakit berbasis lingkungan seperti: Flu burung, diare, typus, Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA), kecacingan, infeksi saluran pencernaan, Typoid, Hepatitis, dan Polio pada balita. Praktik CTPS juga dapat menurunkan insiden diare. Hal ini membuat Praktik CTPS dipandang efektif untuk pencegahan penularan penyakit menular secara langsung. Praktik CTPS ternyata belum menjadi perilaku yang biasa dilakukan sehari-hari oleh masyarakat pada umumnya dan lingkungan sekolah pada khususnya. Tujuan: Penyuluhan yang dilakukan pada siswa Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda memeiliki tujuan agar siswa dapat memahami dan mengaplikasikan praktik cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar. Metode: Ceramah dan praktik langsung dengan sasaran siswa-siswi MI Miftahul Huda Desa Bakalan Grogol Kediri kelas I dan kelas II. Fokus penyuluhan pada langkah-langkah mencuci tangan menggunakan sabun, fungsi cuci tangan pakai sabun, dan lama bertahannya kuman pada tangan tanpa sabun. Hasil: Berdasarkan hasil penyuluhan menunjukkan bahwa pemahaman siswa kelas I meningkat 61% dari 18% menjadi 79%, sedangkan kelas II pemahaman meningkat hingga 57% dari 42% menjadi 99%. Kesimpulan: Penyuluhan CPTS yang telah dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan siswa MI Miftahul Huda tentang buday cuci tangan dengan sabun
PEMBERDAYAAN ANGGOTA PKK MELALUI PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI
Masyarakat zaman sekarang tidaklah lepas dari budaya konsumtif, segala sesuatu biasa dinilai dengan uang, bahkan di zaman yang kini semakin krisis akan kreativitas dan apreasi masyarakat. Banyak sumber daya alam yang bisa diolah atau didaur ulang oleh masyarakat. Pada umumnya lilin hanya berfungsi sebagai pengganti lampu dan secara fisik tidak menarik. Oleh sebab itu perlu adanya inovasi berupa lilin aromaterapi yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat penerangan, media terapi, dan penyegar ruangan. Tujuan dari dilaksanakan program ini yaitu Ibu-Ibu PKK Desa Sonorejo Kecamatan Grogrol Kabupaten Kediri dapat mengetahui tentang manfaat lilin aromaterapi dan cara pembuatannya sehingga dapat digunakan untuk menambah penghasilan rumah tangga. Metode yang digunakan dalam proses pelatihan pembuatan lilin aromaterapi yang dilaksanakan di Desa Sonorejo Kecamatan Grogrol Kabupaten Kediri selama tanggal 1 – 30 Agustus 2017 yaitu dengan menggunakan tiga metode yaitu: metode ceramah, tanya jawab, dan praktik langsung tentang cara pembuatan lilin aromaterapi. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini yaitu masyarakat mengetahui manfaat dari lilin aromaterapi bagi kesehatan dan cara membuat lilin aromaterapi. Selama proses kegiatan berlangsung mulai dari penyampaian tujuan dan peragaan sampai dengan mempraktikkan sendiri, peserta sangat antusias melaksanakannya. Hal ini dapat dilihat dari banyak pertanyaan yang mereka sampaikan pada saat praktik. Berdasarkan hasil kuisioner tentang manfaat dan pembuatan lilin aromaterapi menunjukkan peningkatan yang signifikat sebesar 100% bila dibandingkan sebelum pelaksanaan pengabdian masyarakat. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa kegiatan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berhasil dilaksakan
Penyuluhan Dapatkan – Gunakan – Simpan – Buang (DAGUSIBU) Obat
Latar Belakang: Permasalahan kesehatan terkait obat di masyarakat Indonesia sepanjang waktu terus bertambah. Permasalahan tersebut mayoritas timbul karena cara pandang masyarakat yang belum memahami penggunaan dan penanganan obat yang baik dan benar. Program DAGUSIBU obat merupakan salah satu solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, RT03/RW03 Desa Kedanyang Gresik belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang DAGUSIBU obat. Tujuan: tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan penegetahuan masyarakat mengenaia cara mendapatkan, menggunakan dan membuang obat dengan baik. Metode: Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan mulai dari cara penggunaan sampai pembuangan obat yang benar, kemudian diskusi interaktif, peragaan serta evaluasi dan monitoring melalui post test maupun pre test. Hasil: Kegiatan sosialisasi berjalan dengan lancar dengan peserta yang kooperatif dan antusias dalam mengikuti program tersebut. Hal ini dapat mendukung terwujudnya program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat yaitu GKSO (gerakan keluarga sadar obat). Di sisi lain, berdasarkan hasil post-test menunjukkan bahwa peserta lebih memahami konsep DAGUSIBU obat dengan benar, sehingga dapat meminimalisir kesalahan dalam penggunaan obat. Kesimpulan: Dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat dapat menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan kepada lingkungan maupun keluarga
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AKTIF TERSTANDAR FLAVONOID DARI DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.)
Latar belakang:Daun belimbing wuluh memiliki potensi besar sebagai obat tradisional, diantaranya sebagai antiradang, antibatuk, antihipertensi, mengobati ulkus lambung dan antiinfeksi. Tujuan:Menguji aktivitas dari fraksi terstandar marker flavonoid (rutin) yang aktif menghambat bakteri Staphyllococcus aureus.Metode: Daun belimbing wuluh diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, fraksinasi ekstrak kental menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan corong pisah. Aktivitas antibakteri diuji dengan sampel fraksi semipolar dengan konsentrasi 10%, 7,5% dan 5%. Uji kualitatif KLT terhadap sampel fraksi dengan pembanding rutin sebagai marker golongan flavonoid untuk mengkonfirmasi keberadaan senyawa golongan flavonoid dalam fraksi. Hasil:Fraksi semi polar menunjukkan aktivitas dalam menghambat pertumbuhan S. aureus dengan zona hambat terbesar 11 mm pada konsentrasi fraksi 10%. Pola kromatogram dari fraksi aktif menunjukkan adanya noda pada Rf yang sama dengan standar rutin Simpulan dan saran:Fraksi semi polar terstandar rutin memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan S. aureus pada konsentrasi 10%, 7,5% dan 5%. Perlu identifikasi dan karakterisasi lebih lanjut senyawa yang muncul dalam pemisahan KL
KARAKTER SPESIFIK DAN PENGARUH PEMBERIAN ORAL EKSTRAK TERPURIFIKASI KELOPAK ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP MAKROSKOPIS ORGAN HEPAR TIKUS WISTAR
Latar belakang: Proses pembuatan obat tradisonal memerlukan karakter spesifik yang dapat menjamin kualitas senyawa bioaktif tanaman sehingga memiliki aktivitas farmakologi. Ekstrak yang berkualitas adalah ekstrak yang memenuhi persyaratan standar parameter yang tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia. Tujuan: Untuk mengetahui karakterisasi spesifik ekstrak terpurifikasi kelopak rosella dan pengaruhnya terhadap organ hepar Tikus Wistar secara makroskopis. Metode: Purifikasi ekstrak, karakterisasi parameter spesifik dan pengamatan organ hepar. Analisis data secara deskriptif. Hasil: Parameter sari larut air dengan kadar 24,9 % dan kadar sari larut dalam etanol kadar 30,6%. Deteksi kandungan flavonoid menunjukkan Rf senyawa bioaktif sama dengan Rf quersetin. Simpulan dan saran: Karakter spesifik ekstrak terpurifikasi kelopak rosella memenuhi persyaratan FHI dan melalui pemberian oral ekstrak tidak mempengaruhi organ hepar tikus Wistar. Memerlukan uji aktivitas farmakologi terhadap kelompok hewan uji
Skrining Aktivitas Klorofilase pada Daun Katuk (Saorpus androgynus)
Latar Belakang: Klorofilase (Chlase) merupakan salah satu enzim yang terlibat dalam degradasi klorofil. Enzim ini berfungsi dalam mendegradasi klorofil menjadi fitol dan klorofilid. Beberapa literatur menunjukkan aktivitas klorofilase yang tinggi ada pada tanaman-tanaman herba. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari kandidat enzim klorofilase dari beberapa tanaman herba di Indonesia, khususnya herbal. Kandidat klorofilase tesebut nantinya dapat digunakan pada Photodynamic Therapy (PDT). PDT sangat efektif dalam membunuh sel kanker dengan mengubah oksigen dilingkungan sel kanker mejadi oksigen radikal sehingga efektif membunuh sel kanker. Metode:Â Skrining aktivitas klorofilase diamati pada daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus), daun Katuk (Saoropus androgynus), dan daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis). Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode skrining awal aktivitas klorofilase dan pengujian menggunakan ekstrak klorofil daun Bayan sebagai substrat, maka dapat disimpulkan daun Katuk memiliki aktivitas klorofilase yang baik. Simpulan dan saran: isolat aseton daun Katu memiliki aktivitas klorofilase dan sebaiknya dapat dilakukan karakterisasi profil protein klorofilase tersebut
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS KURANG ENERGI KRONIS (KEK) IBU HAMIL DI KABUPATEN KEDIRI
Latar belakang: Kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan . Faktor-faktor yang berhubungan dengan status KEK perlu diketahui agar dapat ditentukan intervensi dalam penurunan prevalensi KEK. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan KEK pada ibu hamil di Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di Kabupaten Kediri. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 ibu hamil trimester 3. Variabel terikat berupa status KEK sedangkan variabel bebas berupa karakteristik ibu dan kebiasaan makan. Analisis yang dilakukan berupa uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square. Hasil: Prevalensi KEK dalam penelitian ini adalah sebesar 23.9%. Variabel yang berhubungan dengan status KEK (p<0.05) dalam penelitian ini adalah umur subyek. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan umur ibu hamil dengan status KEK. Perlu adanya perhitungan tingkat kecukupan energi dan zat gizi agar tergambarkan kebiasaan konsumsi ibu hamil yang merupakan faktor langsung penyebab KE
Formulasi dan Evaluasi Sabun Mandi Cair dengan Ekstrak Tomat (Solanum Lycopersicum L.) sebagai Antioksidan
Latar belakang: Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) mengandung banyak zat yang bermanfaat, salah satunya likopen yang berfungsi sebagai antioksidan. Kulit merupakan organ terluar tubuh yang seringkali terpapar pada radikal bebas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan membuat sediaan sabun cair yang mengandung ekstrak buah tomat (Solanum lycopersicum L.) Metode: Ekstraksi buah tomat dengan cara maserasi, pemekatan dengan rotary evaporator dan pengeringan dengan FBD (Fluid Bed Dryer). Optimasi formula dilakukan dengan memvariasikan jumlah carbopol. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan uji DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil: Formulasi terbaik sabun menggunakan carbopol dengan konsentrasi 6%. Uji evaluasi yang dilakukan yaitu organoleptis dengan warna bau dan homogenitas yang baik., pH selama masa penyimpanan, stabilitas busa, serta viskositas menggunakan nilai SNI sebagai rujukan. Simpulan: Berdasarkan uji evaluasi yang telah dilakukan terhadap sabun cair maka dapat disimpulkan bahwa formula dengan konsentrasi carbopol 6% adalah yang terbaik