Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
    892 research outputs found

    Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Penyakit Hipertensi Disertai Gagal Ginjal Kronik (ICD I12.0) Pasien Geriatri Rawat Inap di RSUD A.W. Sjahranie Samarinda pada Tahun 2012 dan 2013 dengan Metode ATC/DDD

    Get PDF
    Hypertension is a trigger factor of chronic kidney disease. This disease requires a special incentive treatment in geriatrics patient.The complexity of therapy forcing the use of polypharmachy teraphy. Evaluation needs to be done with the aim of knowing description the typeof antihypertensive drugs used and the quantity of its use based methods Defined Daily Dose (DDD) and suitability compared with Standar Pelayanan Medis (SPM) and the JNC 7. This study was a descriptive study with retrospective data collection. The sample was medical record data regarding the use of antihypertensive drugs in hypertension with chronic renal failure in geriatric patients (age≥ 60) hospitalization. The data collected includes classes and antihypertensive drug name, strength, frequency, duration of usage, length of stay. Then the data to be processed to determine the quantity of drug use in the ambulatory DDD and Drug Utilization (DU 90 %). The results of this study concluded that antihypertensive drugs included in the DU 90 % segment in 2012 were amlodipine (39.19%), furosemide (24.14%), captopril (14.14%), telmisartan (11.36%), valsartan (2.04%), and in 2013 were amlodipine (35.11%), furosemide (22.88%), captopril (18.80%), telmisartan (7.02%), valsartan (6.51%). Suitability based on SPM in 2012 (78.57%) and in 2013 (63.63%) and by the JNC 7 in 2012 (42.85) and 2013 (36,36%). There was no change in the pattern of use of antihypertensive drugs between 2012 and 2013.Hipertensi merupakan pemicu penyakit gagal ginjal kronik. Komplikasi penyakit ini memerlukan penatalaksanaan terapi yang intensif terlebih pada pasien geriatri. Kompleksnya terapi yang diperlukan memaksa banyaknya penggunaan berbagai kombinasi obat. Oleh karenanya evaluasi perlu dilakukan dengan tujuan mengetahui jenis obat antihipertensi yang digunakan dan kuantitas penggunaannya berdasarkan metode Defined Daily Dose (DDD) serta dibandingkan kesesuaiannya dengan Standar Pelayanan Medis (SPM) dan guidelines JNC 7. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel penelitian adalah data rekam medik mengenai obat antihipertensi yang digunakan pada penyakit hipertensi disertai gagal ginjal kronik pasien geriatri (usia ≥ 60) rawat inap. Data yang dicatat meliputi golongan dan nama obat, kekuatan, frekuensi dan durasi pemakaiannya, lama hari rawat. Data diolah dengan perhitungan rumus DDD and Drug Utilization (DU 90 %). Hasil penelitian ini menyimpulkan obat antihipertensi yang masuk dalam segmen DU 90% tahun 2012 adalah amlodipin (39,19 %), furosemid (24,14 %), captopril (14,14 %), telmisartan (11,36%), valsartan (2,04 %), sedangkan tahun 2013 adalah amlodipin (35,11%), furosemid (22,88%), captopril (18,80%), telmisartan (7,02%), valsartan (6,51%). Kesesuaian berdasarkan SPM tahun 2012 (78,57%) dan 2013 (63,63%) dan berdasarkan JNC 7 tahun 2012 (42,85) dan 2013 (36,36%). Tidak ada perubahan pola penggunaan obat antihipertensi tahun 2012 dan 2013

    Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Air Daun Sukun (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg) terhadap Tikus Diabetes yang Diinduksi Aloksan

    Get PDF
    Sukun leaves is one plant that used for the treatment of diabetic. This study was aimed to determine antihyperglycemic activity of aqueous extract of sukun leaves, determine the extract dose which affect on blood glucose level, and determine the effect increased in dose of antihyperglycemic activity rats by alloxan induction. The method was used alloxan diabetic. Test animal were divided into five groups, consists of five male white rats: group I was diabetic control (CMC 0,5%), group II was comparative control (glibenclamide) at a dose of 0,09 mg/200 g BB rats, and group III, IV, V were given doses of aqueous extract of sukun leaves of 7 mg/200 g BB rats, 14 mg/200 g BB rats, 28 mg/200 g BB rats. Alloxan were induced on day 0 (after fasting 16 hours) intraperitoneally. Blood sugar levels were determined on days 4, 8 and 12 after administration of the test preparation. The results showed that aqueous extract of sukun leaves has antihyperglycemic activity. The aqueous extract sukun leaves affect by lowers blood glucose level with an effective dose of 7 mg/200 g BB. The greater the dose of aqueous extract of sukun leaves (7 mg/200 g BB rats, 14 mg/200 g BB rats, 28 mg/200 g BB rats) nothing with increased antihyperglycemic effect in significantly.Daun sukun merupakan salah satu bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemik ekstrak air daun sukun, dan mengetahui dosis efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah serta mengetahui pengaruh kenaikan dosis terhadap aktivitas antihiperglikemik tikus diabetes yang diinduksi aloksan. Metode yang digunakan adalah diabetes aloksan. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok, masingmasing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih jantan, yaitu: Kelompok I kontrol diabetes (CMC 0,5%), kelompok II kontrol pembanding (glibenklamid) dengan dosis 0,09 mg/200 g BB tikus, dan kelompok III, IV, V diberikan dosis ekstrak air daun sukun berturut-turut 7 mg/200 g BB tikus,14 mg/200 g BB tikus, 28 mg/200 g BB tikus. Semua kelompok diinduksi aloksan pada hari ke-0 (setelah dipuasakan 16 jam) secara intraperitoneal. Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan pada hari ke-4, ke-8 dan ke-12 setelah pemberian sediaan uji. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak air daun sukun memiliki aktivitas antihiperglikemik. Ekstrak air daun sukun dosis 7 mg/200 g BB dapat menurunkan kadar glukosa darah paling efektif dibanding dosis lainnya. Semakin besar dosis ekstrak air daun sukun (7 mg/200 g BB tikus, 14 mg/200 g BB tikus, 28 mg/200 g BB tikus) tidak diikuti oleh kenaikan efek antihiperglikemik secara signifikan

    AKTIVITAS ANTIJAMUR KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper betle L. var Rubrum) PADA KELINCI BETINA YANG DIINFEKSI Candida albicansATCC® 10231

    Get PDF
    Piper betle L. var Rubrumbe one of herbal that have historically been used as an antifungal. Flavonoid, alkaloid, saponin, tannin, and essential oils that consisting in it was expectedhave antifungal activity. Thestudy aimto determine theantifungal activity ofPiper betle l. var Rubrumleaves ethanol extract creamon female rabbit infectedCandida albicans ATCC® 10231. The antifungal experiment of Piper betle L. var Rubrumdone by infecting vagina New Zealand White rabbits with Candida albicans ATCC® 10231. Forty-eight hours after infection, vaginal smeared with 96% ethanol extract of Piper betel leaf concentration of 2.5%, 5%, 10%, and ketoconazole 2% as a positive control. Clinical symptoms that arise in the rabbit vagina during healing were observed and the number of fungal colonies of rabbit vagina calculated. The data obtained were analyzed with Anova methods with significant level of 95%, followed by SNK test. The results showed that 96% ethanol extract cream Piper betel leaf concentration of 2.5%, 5%, and 10% have antifungal effect. Cream with a 10% concentration was the most effective as an antifungal.Tanaman sirih merah (Piper betle L. var Rubrum) merupakan salah satu tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai antijamur. Flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan minyak atsiri yang terkandung di dalamnya diduga mempunyai aktivitas antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur krim ekstrak etanol 96% daun sirih merah terhadap Candida albicans ATCC® 10231 pada kelinci betina. Uji efek antijamur Candida albicans ATCC® 10231 dilakukan dengan menginfeksi vagina kelinci New Zealand White dengan jamur Candida albicans ATCC® 10231.Empat puluh delapan jam setelah infeksi, vagina diolesi krim ekstrak etanol 96% daun sirih merah konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, dan ketokonazol 2% sebagai kontrol positif. Gejala klinis yang timbul pada vagina kelinci selama penyembuhan diamati dan jumlah koloni jamur dari vagina kelinci dihitung. Data yang diperoleh dianalisa dengan metode analisis varian satu jalan dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji SNK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim ekstrak etanol 96% daun sirih merah konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% mempunyai efek antijamur. Krim dengan konsentrasi 10% paling efektif sebagai antijamur

    Hubungan Antara Gangguan Kognitif dan Depresi pada Lanjut Usia dengan Demensia di Posyandu Lansia Wilayah Surakarta

    Get PDF
    Masalah kesehatan akibat pertambahan usia (degeneratif) salah satunya yaitu demensia. Demensia yaitu kumpulan gejala yang disebabkan oleh perubahan pada otak sehingga dapat mempengaruhi pola pikir, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Gangguan kognitif yaitu penurunan kemampuan kognitif yang meliputi aspek memori, atensi, visuospasial, kalkulasi dan bahasa. Depresi yaitu salah satu penyakit mental yang ditandai dengan adanya gangguan mood, gangguan tidur, penurunan energi dan hilangnya ketertarikan terhadap sesuatu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya hubungan antara gangguan kognitif dengan depresi pada lanjut usia demensia di posyandu lansia.Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 33 responden dengan teknik total sampling. Pemilihan sampel yaitu lansia usia 60 tahun – 85 tahun, bisa berkomunikasi dengan baik, tidak mengalami gangguan visual dan pendengaran serta demensia. Pemeriksaan untuk menentukan demensia menggunakan alat ukur Clock Drawing Test. Pengumpulan data menggunakan kuesioner MMSE (Mini Mental State Examination) untuk penilaian gangguan kognitif dan GDS-SF (Geriatric Depression Scale-short form) untuk penilaian depresi. Analisis statistik menggunakan Chi Square dengan degree of confident sebesar 95%. Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan hubungan antara gangguan kognitif dengan depresi pada lanjut usia demensia tidak signifikan (p= 0,247>0,05).Tidak ada hubungan antara gangguan kognitif dengan depresi pada lanjut usia demensia di posyandu lansia

    Analisis Potensi Bahaya dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai Upaya Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium X

    No full text
    Laboratorium X merupakan salah satu tempat yang sering digunakan oleh mahasiswa untuk melakukan beberapa aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan akademik, khususnya di bidang pertambangan. Potensi bahaya terdapat hampir di setiap tempat dimana dilakukan suatu aktivitas, termasuk di laboratorium X. Apabila potensi bahaya tersebut tidak dikendalikan dengan tepat, maka akan dapat menyebabkan resiko yang serius. Oleh karena itu diperlukan identifikasi potensi-potensi bahaya untuk meningkatkan serta mempertahankan keamanan dan keselamatan pada setiap kegiatan di Laboratorium X. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa potensi bahaya yang masih perlu diperhatikan dan kendalikan. Dari enam kegiatan yang biasa dilakukan di Laboratorium X, yakni : Grinding Batuan, Uji Kuat Geser, Gerinda Batuan, Crushing Batuan, Coring Batuan, dan Uji Kuat Tekan. Resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja kemungkinan besar terjadi pada bagian anggota gerak kaki dan tangan serta mengganggu sistem pernapasan. Upaya yang harus dilakukan antara lain dengan menggunakan APD yang sudah ditetapkan untuk setiap kegiatan dan melakukan pengawasan terhadap setiap kegiatan pekerjaan yang dilakukan di Laboratorium X

    Penetapan Kadar Omega-3 Undur-Undur Laut (Emerita emeritus) dalam Bentuk Granul, Bubur, dan Mentah secara Kromatografi Gas

    Get PDF
    Mole crab is the coastal of biological resources are spreading quite extensive and has a high nutrient content, especially omega-3 fatty acids are good for memory. Omega-3 fatty acids consist of linolenic acid, EPA, and DHA. Mole crab is processed into a granule and instant baby puree with a variety of cooking and processing. This study aims to compare the levels of omega-3 content of granule and puree that has been cooked with mole crab raw without cooking. Mole crab that was acquired, cleaned and dried and then processed into mole crab raw, the roasted dried granule, the granule sun dried, instant puree with the addition of a mole crab, and the instant puree without addition of mole crab (placebo). Samples are extracted using soxhlet with solvents chloroform:methanol (2:1). Analysis using gas chromatography with Nitrogen gas as phases of motion. The content of omega-3 was calculated based on the relative percent and analyzed by Shapiro wilk test for normality test. The result of the experiment showed that total content of omega (linolenic acid, EPA, and DHA) extract of mole crab raw was 44,416 g/100 g, extract of granuleroasted was 52,280 g/100 g, extract of granule-sundried was 29,489 g/100 g, extract of mole crabpuree and extract of puree as a placebo was not detected of omega-3.Undur-undur laut adalah sumber daya hayati pesisir yang sebarannya cukup luas dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi terutama asam lemak omega-3 yang baik untuk daya ingat. Asam lemak omega-3 terdiri atas asam linolenat, EPA, dan DHA. Undur-undur laut diolah menjadi granul dan bubur instan bayi dengan berbagai proses pemasakan serta pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar kandungan omega-3 granul dan bubur yang telah dimasak dengan tepung undur-undur laut mentah tanpa pemasakan. Undur-undur laut yang didapat, dibersihkan dan dikeringkan kemudian diolah menjadi tepung undur-undur laut mentah, granul yang dikeringkan dengan cara sangrai, granul yang dikeringkan di bawah sinar matahari, bubur instan bayi dengan penambahan undur-undur laut, serta bubur instan bayi tanpa penambahan undur-undur laut (plasebo). Sampel diekstraksi menggunakan soxhlet dengan pelarut kloroform:metanol (2:1). Analisis dilakukan secara kromatografi gas dengan fase gerak gas Nitrogen. Kadar omega-3 dihitung dengan persamaan persen relatif dan dianalisis uji Shapiro Wilk test untuk uji normalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar omega (asam linolenat, EPA, dan DHA) total ekstrak undur-undur laut mentah sebesar 44,416 g/100 g, ekstrak granul-sangrai sebesar 52,280 g/100 g, ekstrak granul-sinar matahari sebesar 29,489 g/100 g, ekstrak bubur undurundur laut dan bubur plasebo tidak terdeteksi adanya omega-3

    Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Herba Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.) terhadap Reaksi Anafilaksis Kutan Aktif pada Tikus Putih Wistar Jantan yang Diinduksi Ovalbumin

    Get PDF
    Development of medical plants for the allergic reaction is continuing with the extrac of the bitter (Andrographis paniculata Nees) and black seed (Nigella sativa L.) as an example. This reseach’s purpose is studying inhibition of anaphylaxis reactions effect from ethanol extracts of the bitter herbs and black seed for active anaphylaxis reaction inducted by ovalbumin in male Wistar rats. Research used active anaphylaxis reaction method with 5 test groups, i.e. negative control group, positive control group and 3 tread group. The rats were subcutaneously sensitized by ovalbumin two act time with an interval of seven days. Back rats shavered and intravenaosly injected with evans blue in rats tail. Diameter area of pigmentation measured every hour, up to 8 hours. Obtained data then tested statistically using ANOVA. Results showed that the extract of bitter herbs (120 mg/kg BB), black seed (30 mg/kg BB) and combination of both (60 mg/kg BB : 15 mg/kg BB) could inhibit pigmentation in the back rats skin area. Percent inhibition respectively is 12.39 %; 14.51 %; 22.36 %. Nevertheless, the inhibitory effect was still lower compared with cromolyn sodium as an mast cell stabilizer drug. It can be concluded that the combination of bitter herbs ethanol extracts with black seed ethanol extracts more effectively inhibit active cutaneous anaphylaxis reaction of ovalbumin induced in male Wistar rats.Pengembangan tanaman obat sebagai antialergi terus berkembang di antaranya adalah sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan biji jinten hitam (Nigella sativa L.). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek penghambatan reaksi anafilaksis ekstrak etanol herba sambiloto dan bij jinten hitam pada reaksi anafilaksis kutan aktif yang diinduksi ovalbumin pada tikus Wistar jantan. Penelitian menggunakan metode anafilaksis kutan aktif dengan 5 kelompok uji, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan 3 kelompok perlakuan. Subjek uji disensitisasi dengan ovalbumin secara subkutan sebanyak 2 kali dengan selang waktu 7 hari. Tikus dicukur punggungnya dan disuntik evans blue secara intravena pada ekor tikus. Diameter area pigmentasi diukur setiap jam, hingga jam ke 8. Data yang diperoleh diuji secara statistik menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak herba sambiloto (120 mg/kg BB), biji jinten hitam (30 mg/kg BB) dan kombinasi keduanya (60 mg/kg BB : 15 mg/kg BB) dapat menghambat area pigmentasi pada kulit punggung tikus. Persen daya hambat secara berturut-turut adalah 12.39 %; 14.51 %; 22.36 %. Namun, efek tersebut masih lebih rendah dibandingkan natrium kromolin, obat penstabil sel mast. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak etanol herba sambiloto dengan ekstrak etanol biji jinten hitam lebih efektif menghambat reaksi anafilaksis kutan aktif yang diinduksi ovalbumin pada tikus Wistar jantan

    AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIJAMUR KULIT BATANG KRANGEAN(Litsea cubeba Pers.)

    Get PDF
    Litsea cubeba Pers or Krangean is a traditional medicinal plant widely used as an antidiarrheal, skin diseases, as well as antiseptic agent. In addition to essential oils, this herb also contains various components such as tannins, saponins, flavonoids and alkaloids. The purpose of the study was to determine the activities of n-hexane fraction, ethyl acetate, and water from the ethanolic extract of the Krangean stem bark as antibacterial and antifungal properties against E. coli ATCC 25922, S. aureus ATCC 25923 and C. albicans ATCC 1023. Krangean stem bark extraction was conducted by maceration method using 70% ethanol as solvent, followed by fractionation with n-hexane, ethyl acetate, and water as solvent. Antibacterial and antifungal activities were determined by diffusion and dilution method. Diffusion method was used to measure the diameter of the inhibitory area against bacteria colonies with concentrations used were 50%, 25%, as well as 12.5%. Dilution method (dilution tubes), was conducted in serial dilutions of various concentrations, 50%, 25%; 12.5%, 6.25%; 3.12%; 1.56%; 0.78%; 0.39%; and 0.195%. The results showed that n-hexane fraction of the ethanolic extract of the Krangean’ stem bark had the highest activity against E. coli ATCC 25922 and C. albicans ATCC 10231 compared to other fractions, based on the average of diameter inhibition values. The diffusion method showed that nhexane fraction at concentration of 50% had inhibitory activity against E. coli ATCC 25922, and C. albicans ATCC 10231 with the average inhibitory power were 30 ± 0,00 mm and 20,4 ± 0,58 mm, respectively. n-Hexane fraction could kill E. coli ATCC 25922, and C. albicans ATCC 10231 with the Minimum Killing Inhibitory Concentration (MKC) value were 1.56%, and 0.39%, respectively.The presence of essential oils and triterpenoid in n-hexane fraction were detected in the preliminary phytochemical tests.Litsea cubeba Pers atau krangean merupakan tanaman tradisional yang banyak dimanfaatkan sebagai antidiare, obat penyakit kulit, dan antiseptik. Tanaman ini selain mengandung minyak atsiri juga komponen lain seperti tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas fraksi n-heksan, etil asetat, dan air dari ekstrak etanolik kulit batang krangean sebagai antibakteri dan antijamur terhadap E.Coli ATCC 25922; C. albicans ATCC 10231. Penyarian kulit batang krangean dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, dilanjutkan fraksinasi dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Pengujian aktivitas antibakteri dan antijamurmenggunakanmetode difusi dan dilusi. Metode difusiuntuk mengukur diameter daerah hambatan terhadap pertanaman bakteri, dengan konsentrasi sediaan uji 50%, 25%, dan 12,5%.Metode dilusi (pengenceran tabung), berupa seri pengenceran dalam berbagai konsentrasi sediaan uji, yaitu 50%, 25%; 12,5%, 6,25%; 3,12%; 1,56%; 0,78%; 0,39%; dan 0,195%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan dari ekstrak etanolik kulit batang krangean mempunyai aktivitas paling tinggi dibandingkan fraksi lain terhadap E.coli ATCC 25922 dan C.albicans ditunjukkan dengan rata-rata diameter hambat yang paling besar.Uji aktivitas antibakteri terhadap E.coli ATCC 25922 dan C.albicans dengan metode difusi, fraksi n-heksan, pada konsentrasi 50% memiliki daya hambat dengan rata-rata 30 ± 0,00 mm dan 20,4 ± 0,58 mm. Fraksi n-heksan dapat membunuh E.Coli ATCC 25922 dan C. albicans ATCC 10231 dengan Konsentrasi Bunuh Minimum berturut-turut adalah 1,56%; dan 0,39%. Hasil Identifikasi fitokimia menunjukkan fraksi n- Heksan mengandung minyak atsiri dan triterpenoid

    COMPARISON OF ESSENTIAL OILS QUALITY FROM PARTS OF NUTMEG BASED ON MYRISTICINE LEVELS

    Get PDF
    Telah dilakukan isolasi minyak atsiri dari daging buah, fuli dan biji buah pala denganmenggunakan metode distilasi uap. Analisis kadar senyawa miristisin sebagai indikator darikualitas minyak pala dilakukan dengan menggunakan kromatografi gas dan spektrometer massa.Isolasi senyawa miristisin dilakukan dengan metode distilasi fraksinasi pengurangan tekanan.Analisis kemurnian miristisin dari hasil isolasi dilakukan dengan menggunakan kromatografi gas.Analisis struktur miristisin hasil isolasi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer inframerah dan 1H NMR.Hasil isolasi minyak pala dengan metode distilasi uap dari daging buah pala didapatkan0,75% dengan kadar miristisin 10,54%, fuli pala didapatkan 4,77% dengan kadar miristisin 38,45%dan biji pala didapatkan 6,62% dengan kadar miristisin 9,24%. Hasil isolasi senyawa miristisin dariminyak pala dengan metode distilasi fraksinasi pengurangan tekanan didapatkan dengan kadar92,13%.Kualitas minyak atsiri dari bagian fuli pala memiliki kualitas yang lebih baik dengankandungan miristisin sebesar 38,45%.The isolation of essential oils from fruit pulp, mace and nutmeg seed by using steamdistillation method had been carried out. Myristicin levels analysis as an indicator of the nutmegessential oils quality were performed by Gas Chromatography and mass spectrophotometry.Isolation of myristicin from nutmeg essential oil was done by fractional distillation. Myristicinpurity analysis were performed by Gas Chromatography. The elucidations of myristicin wereperformed by FT-IR, and 1H NMR spectrometer.Isolation of the essential oil from nutmeg pulp, mace and nutmeg produced 0.75%, 4.77%and 6.62% contained 10.54%, 38.45% and 9.24% of myristicin, respectively. Isolation of myristicinfrom nutmeg essential oil was done by fractional distillation yielded 7.45% of myristicin.The essential oils quality from mace has better quality than the other part of nutmeg with38,45% myristicin levels

    Pengaruh Pemberian Bubuk Kakao (Theobroma cacao L) Fermentasi Terhadap Profil Lipid Tikus Putih (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Hiperlipidemia

    Get PDF
    Kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang besar di Indonesia. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa kakao (Theobroma cacao L) mengandung senyawa polifenol antara lain katekin, epikatekin, proantosianidin, dan antosianin yang berpotensi sebagai senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bubuk kakao (Theobroma cacao L) fermentasi terhadap profil lipid tikus hiperlipidemia. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari kelompok normal, kontrol positif, 3 kelompok uji bubuk kakao fermentasi masing-masing dengan dosis 0,2, 0,4, dan 0,8 gram /200 gram BB. Tikus diberi diet tinggi lemak selama 8 minggu, dan larutan bubuk kakao diberikan 4 minggu terakhir masa penelitian. Pengukuran uji profil lipid darah dilakukan pada minggu ke-0, 4 dan 8. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian bubuk kakao fermentasi secara oral mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, serta meningkatkan kadar HDL

    768

    full texts

    892

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇