Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
Pharmacophore Optimization Of Berberine As HER2 Inhibitor
Previous research has shown that berberine, an alkaloid found in several plants such as akar kuning (Arcangelisia flava) shows the potential for inhibition of Human epidermal receptor-2 (HER2). Pharmacophore modification on the berberine was predicted could increase the affinity of berberine derivatives against HER2. The present study aims to determine the main pharmacophore of berberine with the highest influence towards berberine affinity against HER2.
Molecular docking was performed on several modified pharmacophore of berberine against HER2.
The docking results show that O atom at position number 23 has the most important influence on the berberine affinity towards HER2, where modification of O atom resulting in a decrease of berberine affinity. The highest affinity showed by derivate berberine-6 with the free energy of binding score and dissociation constant -10.80 kcal/mol and 12.17 nM, respectively. In contrast with other berberine derivatives, the berberine-6 derivate does not interact with the amino acid threonine at position 862. It provides a prediction that interaction of that amino acid potentially decrease the berberine activity towards active site of HER2. Further, derivate berberine-6 could be developed into HER2 inhibitor and should be potential to be developed as HER2-positive breast cancer therapy.Penelitian sebelumya menunjukkan bahwa berberin, alkaloid yang terdapat pada beberapa tumbuhan seperti akar kuning (Arcangelisia flava) menunjukkan potensi inhibisi terhadap Human epidermal receptor-2 (HER2). Modifikasi pharmacophore pada struktur kimia berberin diprediksi dapat meningkatkan afinitas derivat berberin terhadap HER2. Tujuan penelitian ini adalah menemukan pharmacophore utama pada berberin yang memiliki pengaruh paling penting terhadap afinitas berberin pada HER2.
Metode yang digunakan adalah molecular docking hasil modifikasi pharmacophore terhadap HER2.
Hasil docking menunjukkan atom O pada posisi nomor 23 memiliki pengaruh penting terhadap afinitas berberin pada HER2, dimana modifikasi atom O menurunkan afinitas berberin. Afinitas tertinggi ditunjukkan oleh derivat berberin-6 dengan energi bebas ikatan dan konstanta disosiasi secara berturut-turut sebesar -10,80 kcal/mol dan 12,17 nM. Berbeda dengan derivat berberin lainnya, derivat berberin-6 tidak berinteraksi dengan asam amino treonin pada posisi 862. Hal tersebut memberikan prediksi bahwa interaksi pada asam amino tersebut berpotensi menurunkan afinitas berberin terhadap sisi aktif HER2. Lebih jauh derivat berberin-6 dapat dikembangkan menjadi inhibitor HER2 dan berpotensi untuk dikembangkan pada terapi kanker payudara HER2-positif
EVALUASI PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT PUBLIK SERTA KETERSEDIAAN OBAT DI TINGKAT PUSKESMAS SE-WILAYAH KERJADINKES KOTA SURAKARTATAHUN 2015
Drug planning is an important aspect of drug management. Planning is aimed at determining the type and amount of drug in accordance with the needs of community helth center. Although the regulatory guideline of public drug management have been made, but still found the incidence of overstock and stockout. With these considerations it’s necessary to evaluate related planning processes and drug availability. The purpose of this study to know the planning process, the problems encountered and the level of drug availability in community health center throughout the whole working area of Surakarta Department of Health.
This research is observational and evaluative study with qualitative approach, supported by quantitative data. Secondary data were obtained from the search document of drug plan for 2015, the usage and demand report of drug. The secondary data is processed to determine the accuracy of planning, the availability and suitability of drug demand. To strengthen information were conducted triangulation and interviews with drug manager related.
The results showing the drug plan has not been efficient seen from an average accuracy of drug planning in treatment primary health centers is 440.5% and 389.98% at non-treatment primary health centers. The problems in planning isn’t optimal use of information management system based on electronically in providing data for drug planning, the procurement with e-purchasing requires time and administration are too long, the plan of medicine isn’t fully realized, the community health center received drug beyond the plan so that the use of drugs less effective, The average availability of drugs in the category of excess which amounted to 31.13 months in treatment health centers and 33.95 months in non-treatment.Perencanaan obat merupakan aspek penting dalam pengelolaan obat. Perencanaan bertujuan menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Meskipun regulasi pedoman peencanaan obat publik sudah dibuat tapi masih ditemui stok obat berlebih dan stok kosong. Dengan pertimbangan tersebut, diperlukan evaluasi proses perencanaan tingkat puskesmas dan pengaruhnya terhadap ketersediaan obat. Penelitian bertujuan mengetahui proses perencanaan, permasalahan yang dihadapi dan ketersediaan obat puskesmas se-wilayah kerja DKK Surakarta.
Penelitian ini bersifat evaluatif dengan pendekatan kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif untuk menggali informasi tentang proses perencanaan kebutuhan obat oleh Puskesmas. Data sekunder diperoleh dari hasil penelusuran dokumen perencanaan obat tahun 2015 dan laporan pemakaian obat. Data sekunder diolah untuk mengetahui ketepatan perencanaan, ketersediaan dan kesesuaian permintaan obat. Untuk memperkuat informasi dilakukan wawancara dan triangulasi kepada pengelola obat terkait
Hasil penelitian menunjukkan perencanaan obat belum efisien, rata-rata ketepatan perencanaan puskesmas perawatan 440,5% dan non perawatan 389,98%. Permasalahan dalam perencanaan yakni belum optimalnya penggunaan sistem informasi manajemen elektronik dalam menyediakan data dasar perencanaan, proses e-purchasing memerlukan waktu dan administrasi yang panjang, perencanaan obat puskesmas tidak terealisasi sepenuhnya, puskesmas menerima obat diluar perencanaan. Rata-rata ketersediaan obat puskesmas perwatan 31,13 bulan dan non-perawatan 33,95 bulan
Uji Aktivitas Antipiretik Dan Kandungan Flavonoid Total Ekstrak Daun Pepaya
Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal (98,6oF/ 37oC). Demam merupakan respon fisiologis tubuh terhadap penyakit yang di perantarai oleh sitokin dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh dan aktivitas kompleks imun. Untuk mengatasi keluhan demam, diberikan obat obat antipiretik. Daun pepaya, dipercaya mempunyai efek antipiretik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antipiretik dan menentukan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun pepaya.
Hewan uji dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol demam, kontrol obat ibuprofen 18 mg/KgBB, ekstrak daun papaya (EDP) dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 400 mg/KgBB. Hewan uji tikus jantan galur Wistar diinduksi demam dengan vaksin DPT-Hb 0.2 mL secara subkutan. Perlakuan diberikan setelah hewan uji mengalami demam, dilihat dari kenaikan suhu rectal. Suhu tubuh hewan uji diamati setiap 30 menit. Uji kandungan flavonoid total dilakukan untuk mengetahui kadar flavonoid total.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun papaya dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 400 mg/KgBB mempunyai aktivitas antipiretik pada tikus jantan galur wistar yang diinduksi vaksin DPT-Hb. Aktifitas antipiretik dari ketiga dosis tidak berbeda secara signifikan dengan kontrol ibuprofen
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Dan Fraksi Daun Manggis (Garcinia Mangostana) Terhadap Staphylococcus aureus
Infectious diseases are still one of the important public health problems to be considered especially in developing countries. Mangosteen leaf (Garcinia mangostana L.) is a well-known plant that is useful as an antioxidant, antibacterial and anticancer. This study aims to determine the chemical content and antibacterial activity of ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate and water of mangosteen leaves (Garcinia mangostana L.) on Staphylococcus aureus by diffusion and dilution
Mangosteen leaves were extracted by maceration using 96% ethanol then continued by fractionation using a liquid-liquid extraction method. Antibacterial activity was then tested using disc diffusion method with a concentration of 12.5%, 25% and 50%. Positive control used was ciprofloxacin 5μg / disk and negative control of 5% Tween 80. Dilution test was carried out on the most active extract by looking at the MIC and MBC. Identification of compound groups can be done using Thin Layer Chromatography method.
The results of antibacterial activity testing showed that the diameter of the largest inhibitory zone in Staphylococcus aureus bacteria was found in the water fraction of mangosteen leaves at 50% concentration with inhibition zone diameter (10 mm). The results of the minimum MIC inhibitory level and the minimum suicide rate of MBC at a concentration of 12.5%. The TLC test results showed that in the extracts and fractions of mangosteen leaves contained flavonoids, saponins and steroidsPenyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk diperhatikan khususnya di negara berkembang. Daun Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan tanaman yang cukup dikenal yang bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia dan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol, fraksi n-heksan, etil asetat dan air daun manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap Staphylococcus aureus secara difusi dan dilusi
Daun manggis diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan etanol 96% kemudian dilanjutkan fraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair. Selanjutnya diuji aktivitas antibakterinya dengan metode difusi cakram dengan konsentrasi 12.5%, 25% dan 50%. Kontrol positif yang digunakan adalah ciprofloksasin 5μg/disk dan kontrol negatif Tween 80 5%. Uji dilusi dilakukan terhadap ekstrak yang paling aktif dengan melihat KHM dan KBM nya. Identifikasi golongan senyawa dapat dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis.
Hasil pengujian aktifitas antibakteri menunjukan diameter zona hambat terbesar pada bakteri Staphylococcus aureus terdapat pada fraksi air daun manggis konsentrasi 50% dengan diameter zona hambat (10 mm). Hasil kadar hambat minimum KHM dan kadar bunuh minimum KBM pada konsentrasi 12.5%. Hasil uji KLT menunjukkan bahwa dalam ekstrak dan fraksi daun manggis mengandung senyawa flavonoid, saponin dan steroid
Kajian Penggunaan Antihipertensi dan Potensi Interaksi Obat Pada Pengobatan Pasien Hipertensi Dengan Komplikasi
ABSTRACT
Hypertension is widely known as cardiovascular disease and is one of the risk factors for chronic renal failure. People with hypertension with kidney disorders occupy the highest incidence rate (35%) compared to hypertension which causes complications in other organs. CRF is a clinical condition characterized by irreversible decline in kidney function. Giving more than one antihypertensive drug can lead to drug interactions (Fitriani, 2007). Research Rahmawati et al. (2006) about a retrospective study of drug interactions in the education hospital of dr. Sardjito Yogyakarta reports that drug interactions that occur in hospitalized patients are 59%. Inpatients found 125 occurrences of drug interactions. The most common antihypertensive drug interactions are a combination of captopril and furosemide. The aim of this study is to describe the antihypertensive treatment in hypertensive patients with CDK along with the therapeutic relevance in terms of the right indication, the right patient, the right dose and the right drug based on JNC VIII. And other studies aim to examine the potential for drug interactions in antihypertensive therapy.
The research method used is a type of descriptive research that is non-experimental, data taken retrospectively. The sample of this study were patients diagnosed with hypertension with complications who received combination antihypertensive therapy that met the inclusion and exclusion criteria.
The results of the first study showed that the most widely used antihypertensive drugs by patients were loop diuretics, namely furosemide (9.23%). The category of drug accuracy according to JNC VIII was obtained for indication therapy (100%), right for the patient (100%), right for the drug (78.5%) for the right dose (98.46%). The results of the second study showed 31 patients (81.58%) had drug interactions and 7 patients (18.42%) did not experience drug interactions. Of the total 31 patients the potential for the most frequent interactions was moderate 120 (53.6%). The drug that is most used and causes interaction is catapres with diazepam causing moderate interactions
Keywords: treatment studies, potential drug interactions, complications with hypertension
Hipertensi secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular dan merupakan salah satu faktor risiko penyebab terjadi gagal ginjal kronik (GGK). Penderita hipertensi dengan gangguan ginjal menempati posisi dengan angka kejadian terbesar (35%) dibandingkan dengan hipertensi yang menyebabkan komplikasi pada organ lain. GGK merupakan suatu keadaan klinik yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel. Pemberian obat antihipertensi lebih dari satu dapat menimbulkan interaksi obat (Fitriani, 2007). Penelitian Rahmawati et al. (2006) tentang kajian retrospektif interaksi obat di RS pendidikan dr. Sardjito Yogyakarta melaporkan bahwa interaksi obat yang terjadi pada pasien rawat inap sebesar 59%. Untuk pasien rawat inap ditemukan 125 kejadian interaksi obat. Interaksi obat antihipertensi yang paling banyak terjadi adalah kombinasi kaptopril dan furosemidTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengobatan antihipertensi pada pasien hipertensi dengan GGK beserta kerasionalan terapi ditinjau dari aspek tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis dan tepat obat berdasarkan JNC VIII. Dan penelitian yang lain bertujuan untuk meneliti potensi interaksi obat pada terapi antihipertensi.
Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang bersifat non-eksperimental, data yang diambil secara retrospektif. Sampel penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosis hipertensi dengan komplikasi yang mendapatkan terapi kombinasi antihipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa obat antihipertensi yang paling banyak digunakan oleh pasien adalah golongan diuretik loop yaitu furosemid (9,23%). Kategori ketepatan obat menurut JNC VIII didapatkan untuk terapi indikasi (100%), tepat pasien (100%), tepat obat (78,5%) tepat dosis (98,46%). Hasil penelitian kedua menunjukan terdapat 31 pasien (81,58%) yang mengalami interaksi obat dan 7 pasien (18,42%) tidak mengalami interaksi obat. Dari total 31 pasien potensi interaksi yang paling banyak terjadi adalah moderate 120 (53,6%). Obat yang paling banyak digunakan dan menimbulkan interaksi adalah catapres dengan diazepam menimbulkan interaksi moderate
Analisis Pengaruh Shift Kerja terhadap Beban Kerja Mental pada Operator Air Traffic Control (ATC) dengan Metode NASA-TLX (Studi Kasus: Bandar Udara Internasional X)
Pelayanan navigasi membutuhkan ketelitian dari seorang operator Air Traffic Control (ATC) untuk melakukan proses scanning pada air situation display dalam mengatur lalu lintas pesawat yang akan take off dan landing di Bandar Udara Internasional X dan pesawat overflying di bawah FL245 di area Balikpapan TMA serta semua penerbangan dari dan yang akan menuju Bandar Udara di Samarinda. Kegiatan ini termasuk ke dalam pekerjaan yang membutuhkan kerja mental. Selain itu, kepadatan lalu lintas udara setiap waktu pastinya berbeda-beda yang mungkin akan mempengaruhi tingkat ketelitian operator dalam melakukan kegiatan pemantauan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan pengukuran beban kerja mental operator ATC. Pengukuran beban kerja mental pada penelitian ini menggunakan NASA –TLX dengan tiga kondisi kerja yang berbeda yaitu shift pagi pada pukul 7.30-13.30 WITA, shift siang pada pukul 13.30-19.30 WITA, dan shift malam pada pukul 19.30-7.30 WITA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja mental operator ATC pada shift pagi masuk ke dalam kategori beban kerja mental tinggi sekali dengan skor 81, shift siang masuk ke dalam kategori beban kerja mental tinggi dengan skor 77, dan shift malam masuk ke dalam kategori beban kerja mental tinggi dengan skor 77. Shift kerja memiliki pengaruh terhadap beban kerja mental operator ATC karena disebabkan oleh kepadatan traffic yang terjadi pada tiga kondisi kerja yang berbeda yaitu shift pagi sebanyak 80 sampai 100 lebih traffic, shift siang sebanyak 20-80 traffic dan shift malam sebanyak 0-20 traffic. Rekomendasi yang dapat diberikan terhadap perolehan beban kerja mental yang cukup tinggi ini adalah melalui pembagian wilayah pada Balikpapan TMA, penambahan Sumber Daya Manusia (SDM), serta penyediaan tempat istirahat yang memadai dan fasilitas di dalamnya
KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI DENGAN ISTRI SEBAGAI PENCARI NAFKAH UTAMA
Kepuasan Pernikahan dianggap sebuah hal yang penting dalam kehidupan. Kepuasan dalam sebuah pernikahan dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang yang dapat mempengaruhi banyak aspek dalam hidupnya. Biasanya dalam pernikahan, sosok pria dituntut untuk dapat memberi nafkah utama bagi keluarganya. Karena berbagai macam alasan, bisa saja wanita yang mengambil peran untuk menjadi pencari nafkah utama dalam keluarganya. Kondisi tidak lazim dalam pernikahan bisa saja mempengaruhi kepuasan dalam pernikahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan 2 orang suami sebagai responden penelitian. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi terhadap responden dimana responden memiliki karakteristik seorang suami yang masih memiliki istri dan pendapatan utama keluarga diperoleh dari penghasilan istri. Hasil penelitian gambaran kepuasan pernikahan mengacu pada 10 aspek yang dikemukakan oleh Fowers dan Olsen (1898;1993) ditambah dari beberapa faktor-faktor lain yang memengarhi kepuasan pernikahan. Penelitian ini memperoleh hasil yang menyatakan bahwa kepuasan pernikahan dari responden 1 dan responen 2 berbeda
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN MODEL LIMA FAKTOR DAN PERILAKU BEROLAHRAGA PADA TIM BASKET DI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
The purpose of the study is to find out the relationship between the act of doing a certain sport activity and five-factor personality model toward Universitas Kristen Satya Wacana Basketball team. This study uses quantitative method and Purposive Sampling method is used to collect the data. Furthermore, the method of analysis used is Multiple Correlation.
To identify the personality variable, the researcher used a translated scale from International Personality Item Pool (IPIP) that was developed by Goldberg (1999). Meanwhile, in order to define the act of doing a sport activity, the scale was made based on the criteria from the theory of Kilpatrick, Herbert, and Bortholomew (2005). This scale was then developed by the researcher and was measured using the Likert scale.
This study involved about 62 participants consisted of 35 female participant and 27 male participants ranged from 19 to 22 years old. The result of the study showed a significance level beyond 0.05 (p > 0.05). The result showed that there were no significant relationships toward the dimension of five-factor personality model
STRATEGI PEMASARAN PENDIDIKAN BERDASARKAN ANALISIS KEPUASAN MAHASISWA PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA DENGAN DIAGRAM KARTESIUS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan mahasiswa dalam kualitas pelayanan pendidikan, antara kinerja dan harapan yang diinginkan oleh mahasiswa sehingga dapat diketahui strategi yang digunakan untuk dapat meningkatkan jumlah student body dengan diagram Kartesius.
Metode yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian adalah penelitian non-eksperimental dan bersifat observasional asosiatif yaitu dengan melakukan observasi dengan menggunakan kuesioner. Data penelitian dikumpulkan dari responden mahasiswa Universitas Setia Budi, dengan menggunakan kuesioner tertutup. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode probability sampling dengan teknik Disproportionate Stratified Random sampling. Analisis data menggunakan diagram Kartesius.
Hasil dari penelitian adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kualitas pelayanan pendidikan yang diterima (perceived service) dengan tingkat kualitas pelayanan pendidikan yang diharapkan (expected service) oleh mahasiswa Perguruan Tinggi, dimana Equal variances not assumed Sig = 0,000 < 0,05. Untuk meningkatkan jumlah student body pada Perguruan Tinggi, strategi pemasaran yang harus diperhatikan dengan prioritas utama adalah pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana, tata kelola, dan suasana akademik
HUBUNGAN POLA ASUH OTORITER (AUTHORITARIAN PARENTING) DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING PADA SMP NEGERI 3 SALATIGA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku bullying pada siswa-siswi SMP Negeri 3 Salatiga. Subjek penelitian berjumlah 97 siswa dengan teknik sampling yang digunakan adalah sampling purposive. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Skala Bullying yang mengacu pada FBS (The Forms of Bullying Scale) oleh Shaw,dkk (2013) dan Skala Pola Asuh Otoriter yang mengacu pada Authoritarian Parenting Scale oleh Robinson,dkk (1995). Uji hipotesis menggunakan uji korelasi pearson’s product moment. Koefisien korelasi yang diperoleh sebesar = 0,184 dengan nilai signifikansi = 0,036 (p < 0,05) yang menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku bullying pada siswa-siswi SMP Negeri 3 Salatiga