Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
MODIFIKASI PENGOLAHAN PRODUK BERBASIS NENAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU SENSORI DAN UMUR SIMPAN PRODUK
Desa Siwarak Kecamatan Karangreja Purbalingga merupakan daerah penghasil nenas yang potensial dengan luas tanam mencapai 350 ha. KWT Nur Umi dan KWT Berkah Sekar Abadi telah mengolah nenas menjadi produk dodol dan manisan, namun mutu dan kapasitas produksinya masih rendah. Modifikasi pengolahan dodol dengan menggunakan krem santan diharapkan akan dapat memperbaiki mutu sensori dan memperpanjang umur simpannya. Selain itu introduksi peralatan seperti mesin pemarut buah dan kompor dengan tingkat perapian yang lebih baik diharapkan mampu mengatasi permasalahan di UKM mitra. Juga masih perlu diperkenalkan produk olahan nenas yang lain untuk meningkatkan variasi jenis produk. Tujuan dan target khusus yang ingin dicapai adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kelompok mitra dalam mengolah dan memproduksi olahan nenas dengan mutu yang baik, meningkatkan kapasitas produksi, kemasan dan labeling yang tepat yang dapat mempertahankan mutu produk guna meningkatkan penjualan dan daya saing produk. Kelompok sasaran kegiatan adalah KWT Nur Umidan KWT Berkah Sekar Abadi. Metode yang digunakan: 1) penyuluhan; 2) praktik pembuatan produk olahan nenas seperti selai, lempok, dodol dan manisan modifikasi, saus/sambal nenas; 3) pendampingan dalam produksi olahan nenas skala usaha mikro selama 3 bulan. Pada akhir kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan peserta berdasarkan hasil pre test dan post test mencapai 50% menjadi 98%. Penggunaan alat/mesin pemarut buah secara nyata meningkatkan kapasitas produksi menjadi 3 kali lipat, yaitu dari 4-5 kg meningkat menjadi 12-15 kg per hari. Selain itu penggunaan mesin pemarut juga meningkatkan mutu sensorik produk yaitu tekstur menjadi lebih kenyal dan halus. Terjadi peningkatan jenis produk dari 2 jenis (dodol dan manisan) menjadi 5 jenis (dodol, manisan, lempok, selai, sambal/saus nenas), dan peningkatan jumlah pelaku usaha olahan nenas dari 1(satu) unit menjadi 2 (dua) unit usaha
IbM APLIKASI TEKNOLOGI MIKROEMULSI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SEDIAAN KRIM
Olive oil cream in cosmetics is very useful for skin nutrition because it is a complex mixture consisting of fatty acids, especially oleic acid, linoleic and a little linolenic, omega-3 and omega-6 which are also found in fatty fish such as salmon. Polyphenol antioxidant compounds are also present in olive oil and are useful in preventing the aging process. Omega-9 or Oleic Acid is widely found in oil. Omega-9 has the power of body protection that can reduce LDL, increase HDL is greater than Omega-3 and Omega-6. The stability of the cream will be damaged if disturbed mixing system is mainly due to changes in temperature and changes in composition. Cream preparations made in microemulsions have several advantages over the usual emulsions, among others, their transparent, thermodynamically stable appearance, enhancing hydrophobic solubility, and having better penetration of the skin due to their smaller globule size. Microemulsions generally contain water, oils, surfactants, and cosurfactants. The objectives of this activity are: 1) improving the quality and quantity of olive oil cream products through microemulsion technology for partner I and marketability through online sales strategy for partner II; 2) helping to create a creamy and comfortable product for the consumer; 3) produce a quality olive oil cream products in accordance with the requirements of Indonesia Pharmacopoeia and Cosmetics Codek Indonesia. The special target is the availability of microemulsion based quality olive cream products in accordance with Indonesian Pharmacopoeia and Kodek Kosmetik Indonesia. The result of the activity that has been done is
Training of microemulsion manufacture and olive oil cream manufacture successfully implemented by partner I and partner II; 2) Partners I and II have produced the standard formula of the oil cream and the standard method of making the method of microemulsion of oil in water (M / A); 3) Partners I and II have succeeded in applying microemulsion technology to olive oil creams by producing cream products that meet the physical quality test of cream preparations; 4) Partners I and II have acquired stand mixer tools and have been used to make olive oil creamsOlive oil cream in cosmetics is very useful for skin nutrition because it is a complex mixture consisting of fatty acids, especially oleic acid, linoleic and a little linolenic, omega-3 and omega-6 which are also found in fatty fish such as salmon. Polyphenol antioxidant compounds are also present in olive oil and are useful in preventing the aging process. Omega-9 or Oleic Acid is widely found in oil. Omega-9 has the power of body protection that can reduce LDL, increase HDL is greater than Omega-3 and Omega-6. The stability of the cream will be damaged if disturbed mixing system is mainly due to changes in temperature and changes in composition. Cream preparations made in microemulsions have several advantages over the usual emulsions, among others, their transparent, thermodynamically stable appearance, enhancing hydrophobic solubility, and having better penetration of the skin due to their smaller globule size. Microemulsions generally contain water, oils, surfactants, and cosurfactants. The objectives of this activity are: 1) improving the quality and quantity of olive oil cream products through microemulsion technology for partner I and marketability through online sales strategy for partner II; 2) helping to create a creamy and comfortable product for the consumer; 3) produce a quality olive oil cream products in accordance with the requirements of Indonesia Pharmacopoeia and Cosmetics Codek Indonesia. The special target is the availability of microemulsion based quality olive cream products in accordance with Indonesian Pharmacopoeia and Kodek Kosmetik Indonesia. The result of the activity that has been done is
Training of microemulsion manufacture and olive oil cream manufacture successfully implemented by partner I and partner II; 2) Partners I and II have produced the standard formula of the oil cream and the standard method of making the method of microemulsion of oil in water (M / A); 3) Partners I and II have succeeded in applying microemulsion technology to olive oil creams by producing cream products that meet the physical quality test of cream preparations; 4) Partners I and II have acquired stand mixer tools and have been used to make olive oil cream
Efektifitas Senam Vitalisasi Otak terhadap Fungsi Kognitif Lansia dengan Demensia Tahap Awal
Penuaan merupakan proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif akan mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup seseorang serta peran sertanya di masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatkan fungsi kognitif adalah dengan melakukan senam vitalisasi otak.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan vitalisasi otak terhadap fungsi kognitif pada lansia dengan demensia tahap awal.Metode penelitian menggunakan Quasi eksperimental dengan pendekatan pre and post test design with control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia di Panti Wreda Aisyiyah dan Dharma Bakti Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yaitu 11 lansia untuk kelompok perlakuan dan 11 lansia untuk kelompok kontrol. Status demensia ditandai dengan Clock Drawing Test dan alat ukur untuk menentukan perubahan fungsi kognitif menggunakan Pemeriksaan Status Mental Mini. Kelompok perlakuan diberi latihan vitalisasi otak 3 kali seminggu dalam waktu 6 minggu.
Dari hasil uji Paired T-Test didapatkan hasil kelompok perlakuan menunjukkan nilai p = 0,03 yang menunjukkan pengaruh signifikan latihan vitalisasi otak terhadap perbaikan fungsi kognitif. Sedangkan hasil uji Independent Samples T-test didapatkan nilai p = 0,06, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan senam vitalisasi otak terhadap fungsi kognitif antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa latihan vitalisasi otak efektif untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia tahap awal
Evaluasi Orally Disintegrating Tablet (Odt) Famotidin Variasi Superdisintegrant Starch 1500 Dan Crospovidone
Famotidin digunakan sebagai obat tukak duodenum dan tukak lambung, sehingga cocok dibuat sediaan Orally Disintegrating Tablet (ODT). ODT memiliki karakteristik yang cepat terdisintegrasi di dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah famotidin dapat dibuat sediaan ODT, pengaruh superdisintegrant starch 1500 dan crospovidone terhadap mutu fisik sediaan, dan konsentrasi superdisintegrant starch 1500 dan crospovidone sehingga diperoleh ODT famotidin dengan waktu hancur yang cepat.
Penelitian ini memformulasikan ODT famotidin dengan superdisintegrant starch 1500 7%, kombinasi superdisintegrant starch 1500 dan crospovidone 3%:4%, dan menggunakan superdisintegrant crospovidone 7%. Pembuatan ODT famotidin menggunakan metode kempa langsung. Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui mutu fisik ODT famotidin adalah keseragaman bobot, ukuran, kekerasan, kerapuhan, waktu pembasahan, waktu hancur, keragaman kandungan, uji tanggap rasa, uji waktu hancur in vivo kemudian hasil dianalis menggunakan uji statistik SPSS Statistics versi 23.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa famotidin dapat dibuat sediaan ODT, superdisintegrant starch 1500 dan crospovidone berpengaruh terhadap mutu fisik sediaan dan kombinasi superdisintegrant starch 1500 dan crospovidone 3%:4% menghasilkan waktu hancur cepat yaitu 34,30 detik.
Kata kunci : Orally Disintegrating Tablet, Famotidine, Starch 1500 dan Crospovidon
Uji Mekanisme Kerja Antibakteri Senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on ANALOG Kurkumin terhadap Beberapa Bakteri
Senyawa monokarbonil analog kurkumin yang sudah berhasil disintesis yaitu senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on, mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, anti inflamasi dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kerja senyawa analog kurkumin 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on terhadap bakteri Klebsiella pneumonia ATCC 10031, Shigella dysenteriae ATCC 9361, Pseudomonas aeruginosaATCC 27853 dan Bacillus subtilis ATCC 6633 yang teraktif.
Senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on merupakan hasil sintesis yang dinyatakan murni dan memiliki hasil elusidasi struktur yang sesuai. Senyawa hasil sintesis diuji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi dengan pelarut DMSO serta kontrol positif amoksilin dilanjutkan dengan metode dilusi. Senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3- on dibuat dengan konsentrasi 1500 ppm. Suspensi bakteri disetarakan dengan Mc Farlan 0,5. Hasil aktivitas dengan metode dilusi ditentukan hasil KBM (Konsentrasi Bunuh Minimal) untuk dilakukan kajian mekanisme kerja dengan melihat kebocoran membran dan rusaknya dinding sel bakteri.
Hasil menunjukkan senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on memiliki aktivitas terhadap bakteri K. pneumonia ATCC 10031, S. dysenteriae ATCC 9361, P. aeruginosa ATCC 27853 dan B.subtilis ATCC 6633 dengan diameter daya hambat rata-rata berturutan adalah 16mm; 18,6mm; 21,2mm dan 19mm. Senyawa1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on merupakan senyawa teraktif terhadap bakteri P. aeruginosa ATCC 27853. Uji aktivitas antibakteri dilanjutkan dengan metode dilusi untuk mendapatkan nilai KBM (Konsentrasi Bunuh Minimal). Hasil KBM senyawa 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on adalah 187,5 ppm. Uji mekanisme kerja dilakukan dengan pengujian kebocoran membran dan kerusakan dinding sel yang dilihat dengan AAS. Hasil menunjukkan adanya kerusakan dinding sel bakteri karena terjadinya peningkatan konsentrasi Mg2+ pada perlakuan
Analisis Beban Kerja Mental Satpol PP Pariwisata Karanganyar
Karanganyar, Jawa Tengah merupakan kabupaten yang memiliki banyak destinasi wisata. Misalnya Grojokan Sewu, Candi Sukuh, Candi Cetho, Grojokan Jumog, Bukit Sekipan, dan lain sebagainya. Untuk memberi kenyamanan kepada para pengunjung, Bupati Karanganyar pada bulan Juni 2017 menetapkan 12 orang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) unit Pariwisata. Satpol PP memiliki tugas dan tanggung jawab memberikan rasa aman, nyaman, dan ketentraman kepada setiap wisatawan yang berkunjung. Profesi sebagai Satpol PP tidak hanya menggunakan tenaga fisik, tetapi juga mental. Untuk mengetahui beban kerja mental Satpol PP unit pariwisata Karanganyar, perlu dilakukan analisis. Analisis beban kerja mental dilakukan dengan menggunakan metode NASA-TLX. Metode NASA-TLX merupakan metode pengukuran beban kerja mental dengan mempertimbangkan enam dimensi untuk menilai beban mental. Enam dimensi tersebut antara lain tuntutan mental, tuntutan fisik, tuntutan waktu, kinerja, tingkat frustasi, serta tingkat usaha. Metode Nasa TLX memberikan skor beban kerja mental yang diukur melalui pembobotan dari masing-masing dimensi. Dari pembobotan dapat diketahui aspek paling dominan yang menyebabkan adanya beban mental pekerja. Hasil pengukuran melalui metode NASA TLX diperoleh rata – rata beban kerja mental sebesar 74, 39. Skor ini menunjukkan bahwa beban mental Satpol PP unit pariwisata tergolong berat. Adapun aspek yang paling dominan yang menyebabkan beban kerja mental tinggi yaitu dimensi tuntutan waktu. Oleh karena itu diperlukan perbaikan yaitu dengan menambah anggota Satpol PP unit pariwiata sebanyak 2 orang. Jika ditambah anggota, maka diperoleh rata – rata skor NASA TLX, yaitu sebesar 53,14. Dengan demikian kategori beban kerja mental termasuk sedang sehingga tidak membahayakan.
Kata kunci: beban kerja mental, satpol PP, NASA-TLXKaranganyar, Jawa Tengah merupakan kabupaten yang memiliki banyak destinasi wisata. Misalnya Grojokan Sewu, Candi Sukuh, Candi Cetho, Grojokan Jumog, Bukit Sekipan, dan lain sebagainya. Untuk memberi kenyamanan kepada para pengunjung, Bupati Karanganyar pada bulan Juni 2017 menetapkan 12 orang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) unit Pariwisata. Satpol PP memiliki tugas dan tanggung jawab memberikan rasa aman, nyaman, dan ketentraman kepada setiap wisatawan yang berkunjung. Profesi sebagai Satpol PP tidak hanya menggunakan tenaga fisik, tetapi juga mental. Untuk mengetahui beban kerja mental Satpol PP unit pariwisata Karanganyar, perlu dilakukan analisis. Analisis beban kerja mental dilakukan dengan menggunakan metode NASA-TLX. Metode NASA-TLX merupakan metode pengukuran beban kerja mental dengan mempertimbangkan enam dimensi untuk menilai beban mental. Enam dimensi tersebut antara lain tuntutan mental, tuntutan fisik, tuntutan waktu, kinerja, tingkat frustasi, serta tingkat usaha. Metode Nasa TLX memberikan skor beban kerja mental yang diukur melalui pembobotan dari masing-masing dimensi. Dari pembobotan dapat diketahui aspek paling dominan yang menyebabkan adanya beban mental pekerja. Hasil pengukuran melalui metode NASA TLX diperoleh rata – rata beban kerja mental sebesar 74, 39. Skor ini menunjukkan bahwa beban mental Satpol PP unit pariwisata tergolong berat. Adapun aspek yang paling dominan yang menyebabkan beban kerja mental tinggi yaitu dimensi tuntutan waktu. Oleh karena itu diperlukan perbaikan yaitu dengan menambah anggota Satpol PP unit pariwiata sebanyak 2 orang. Jika ditambah anggota, maka diperoleh rata – rata skor NASA TLX, yaitu sebesar 53,14. Dengan demikian kategori beban kerja mental termasuk sedang sehingga tidak membahayakan.
Kata kunci: beban kerja mental, satpol PP, NASA-TL
Kajian Paparan Panas Lingkungan Kerja Operator Sterilizer Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit
Temperatur yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan, mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yang bersumber dari sinar matahari yang memanasi atap ruangan yang kemudian menimbulkan radiasi ke dalam ruangan produksi. Lingkungan kerja yang panas ini terjadi pada salah satu proses pengolahan kelapa sawit yakni sterilizer. Pada bagian sterilizer timbul panas akibat perebusan tandan buah segar dengan memakai media panas yakni uap yang berasal dari steam dan panas yang dihasilkan dari radiasi sinar matahari melalui atap pabrik menambah beban panas ruangan kerja. Akibat proses pengantaran panas tersebut suhu ruangan di area sterilizer dapat mencapai antara 34,3 OC s/d 36,6 OC sehingga pekerja mengalami cidera dan terjadi heat stress. Apabila kondisi ini terus berlangsung maka akan mengakibatkan resiko pada pekerja akibat heat stress. Untuk itu perlu dilakukan kajian paparan panas pada area sterilizer agar pekerja berada pada kondisi yang aman dan sehat dalam melakukan pekerjaannya di area tersebut. Berdasarkan hasil kajian diperoleh nilai Heat Stress Index (HSI) sebesar 98% yang artinya bahwa operator yang bekerja pada bagian sterilizer berisiko tinggi terhadap penyakit yang diakibatkan heat stress. Melalui kajian paparan panas ini diharapkan lingkungan kerja yang terpapar panas berada pada nilai indeks suhu bola basah pada kondisi yang aman sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51/KEP-MEN/1999.
Kata kunci: heat stress, indeks suhu bola basah, keseimbangan panas, paparan panasTemperatur yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan, mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yang bersumber dari sinar matahari yang memanasi atap ruangan yang kemudian menimbulkan radiasi ke dalam ruangan produksi. Lingkungan kerja yang panas ini terjadi pada salah satu proses pengolahan kelapa sawit yakni sterilizer. Pada bagian sterilizer timbul panas akibat perebusan tandan buah segar dengan memakai media panas yakni uap yang berasal dari steam dan panas yang dihasilkan dari radiasi sinar matahari melalui atap pabrik menambah beban panas ruangan kerja. Akibat proses pengantaran panas tersebut suhu ruangan di area sterilizer dapat mencapai antara 34,3 OC s/d 36,6 OC sehingga pekerja mengalami cidera dan terjadi heat stress. Apabila kondisi ini terus berlangsung maka akan mengakibatkan resiko pada pekerja akibat heat stress. Untuk itu perlu dilakukan kajian paparan panas pada area sterilizer agar pekerja berada pada kondisi yang aman dan sehat dalam melakukan pekerjaannya di area tersebut. Berdasarkan hasil kajian diperoleh nilai Heat Stress Index (HSI) sebesar 98% yang artinya bahwa operator yang bekerja pada bagian sterilizer berisiko tinggi terhadap penyakit yang diakibatkan heat stress. Melalui kajian paparan panas ini diharapkan lingkungan kerja yang terpapar panas berada pada nilai indeks suhu bola basah pada kondisi yang aman sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51/KEP-MEN/1999.
Kata kunci: heat stress, indeks suhu bola basah, keseimbangan panas, paparan pana
STUDI KUANTITATIF DESKRIPTIF PERSEPSI KARYAWAN ATAS KESEHATAN ORGANISASI PADA PT. X di SURABAYA
Kesehatan organisasi dipandang sebagai keadaan organisasi yang tidak hanya bertahan dalam lingkungannya tetapi dapat berkembang dan dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kesehatan organisasi memiliki sepuluh aspek yaitu goal focus, communication adequacy, power equalization, resource utilization, cohesiveness, morale, innovativenss, autonomy, adaptation, problem solving adequacy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara kuantitatif deskriptif tentang kesehatan organisasi PT X di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif. Subjek penelitian (N=29) adalah seluruh karyawan tetap organisasi PT X di Surabaya yang disebut sebagai Total Population Study dengan menggunakan metode skala likert kesehatan organisasi yang dibuat oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan kesehatan organisasi PT X cukup tinggi dengan perolehan persentase 51,72%. Pada sepuluh aspek kesehatan organisasi yang terpenuhi adalah aspek goal focus dan problem solving adequacy, selain itu yang belum terpenuhi communication adequacy, power equalization, resource utilization, cohesiveness, morale, innovativenss, autonomy, dan adaptation. Pada aspek kesehatan organisasi yang belum terpenuhi PT X perlu menetapkan Visi, Misi, Value, Struktur, Job Description, serta memberikan karyawan pelatihan keterampilan komunikasi, sehingga mampu memenuhi sepuluh aspek kesehatan organisasi
REGULASI EMOSI MENGHADAPI KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI MAYOR
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran regulasi emosi dalam menghadapi kecemasan pada pasien yang akan melakukan operasi mayor (pre operasi mayor).
Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini melibatkan tiga orang partisipan, terdiri dari satu orang pria dan dua orang wanita. Hasil dari penelitian ini menunjukan setiap partisipan memiliki strategi dan cara meregulasi emosi masing-masing dalam menghadapi kecemasan. Kedua partisipan wanita dengan strategi expressive suppression, sedangkan partisipan pria dengan cognitive reappraisal
Desain Kansei Monitoring System Pasien Rawat Inap
Kualitas rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan terhadap pasien. Salah satu permasalahan yang dikeluhkan pasien mengenai pelayanan rumah sakit adalah kurang responsifnya perawat dalam memonitor pasien rawat inap. Keluarga pasien harus aktif memonitor pasien dan selanjutnya menghubungi perawat ketika terjadi permasalahan. Kondisi ini salah satunya disebabkan masih kurangnya peralatan yang dapat digunakan oleh perawat untuk melakukan monitoring pasien dari jarak jauh. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan desain sistem monitoring pasien rawat inap. Proses desain dilakukan dengan metode Kansei Engineering. Langkah awal penelitian adalah identifikasi kata kansei dengan responden pasien, perawat dan dokter. Berdasarkan hasil survei diperoleh dua kata kansei yang valid dan reliabel yaitu aman dan mudah digunakan. Kedua kata kansei dipetakan menjadi desain parameter, sehingga diperoleh desain perangkat sistem yang terdiri dari modul sensor suhu, pulse sensor, infrared sensor, signal conditioning modul, point router access dan komputer. Tahap selanjutnya adalah pembuatan prototype dan pengujian prototype. Hasil pengujian prototype menunjukkan bahwa perangkat sistem monitoring yang didesain dapat memenuhi kebutuhan pengguna.
Kata kunci: kansei, kualitas layanan, sistem monitoring pasienKualitas rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan terhadap pasien. Salah satu permasalahan yang dikeluhkan pasien mengenai pelayanan rumah sakit adalah kurang responsifnya perawat dalam memonitor pasien rawat inap. Keluarga pasien harus aktif memonitor pasien dan selanjutnya menghubungi perawat ketika terjadi permasalahan. Kondisi ini salah satunya disebabkan masih kurangnya peralatan yang dapat digunakan oleh perawat untuk melakukan monitoring pasien dari jarak jauh. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan desain sistem monitoring pasien rawat inap. Proses desain dilakukan dengan metode Kansei Engineering. Langkah awal penelitian adalah identifikasi kata kansei dengan responden pasien, perawat dan dokter. Berdasarkan hasil survei diperoleh dua kata kansei yang valid dan reliabel yaitu aman dan mudah digunakan. Kedua kata kansei dipetakan menjadi desain parameter, sehingga diperoleh desain perangkat sistem yang terdiri dari modul sensor suhu, pulse sensor, infrared sensor, signal conditioning modul, point router access dan komputer. Tahap selanjutnya adalah pembuatan prototype dan pengujian prototype. Hasil pengujian prototype menunjukkan bahwa perangkat sistem monitoring yang didesain dapat memenuhi kebutuhan pengguna.
Kata kunci: kansei, kualitas layanan, sistem monitoring pasie