Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Jurnal Online ISI Yogyakarta / Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta
Not a member yet
    4502 research outputs found

    Analisis Stilisasi Bentuk Ragam Hias Motif Sulaman Nareh Kota Pariaman UMKM Indah Mayang

    No full text
    Sulaman Nareh adalah salah satu seni kriya tradisional khas daerah Nareh/Naras, Kota Pariaman yang memiliki kekayaan ragam hias flora dan fauna yang sudah distilisasikan secara turun-temurun. Sulaman ini memiliki keunikan yang khas dengan teknik kapalo samek atau tusuk peniti dan sulam benang emas, penggunaan warna yang mencolok dan motif yang berliuk. Motif yang digunakan memiliki bentuk yang indah berasal dari alam yang telah distilisasikan. Stilisasi adalah teknik menyederhanakan bentuk atau mengurangi detail bentuk tanpa menghilangkan ciri khasnya. Penelitian mengenai stilisasi motif masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini diperlukan untuk mengungkapkan bagaimana bentuk stilisasi bentuk motif sulaman Nareh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk stilisasi motif Sulaman Nareh oleh UMKM Indah Mayang yang merupakan salah satu usaha sulam yang sudah lama di Kota Pariaman. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi langsung, analisis visual terhadap motif, dokumentasi dan wawancara dengan pemilik UMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses stilisasi dilakukan dengan menyederhanakan bentuk namum mempertahankan bentuk asli objek, pengaturan komposisi dan penguatan garis. Motif ragam hias terinspirasi dari kekayaan alam kota pariaman khususnya alam laut dan pantainya. Sulaman Nareh sebagai pelestarian budaya, identitas daerah dan manifestasi kreativitas perempuan Kota Pariaman

    Political Threads on the Fashion Stage: An Analysis of Socio-Political Influence on Indonesian Fashion Trends, 1970-2000

    No full text
    This study examines how fashion trends in Indonesia between 1970 and 2000 served as a direct reflection of their surrounding socio-political dynamics. Fashion is not merely an aesthetic phenomenon but a cultural artifact that actively responds to and reflects shifts in power. Using a convergent mixed-methods approach, this research integrates quantitative analysis (regression and TF-IDF on media archives) with qualitative historical analysis. The findings reveal a clear evolution: in the 1970s, fashion was politicized as an instrument of cultural nationalism by the New Order regime; the 1980s turned it into a showcase for economic development success; the 1990s transformed it into an arena for symbolic resistance amidst crisis; and the post-1998 period triggered an explosion of individual expression in the Reformation era. This study concludes that the evolution of Indonesian fashion is inextricably linked to the nation's political narrative, transitioning from a tool of control to a symbol of liberation

    Dampak Masa Pandemi Covid-19 Pada Eksistensi Festival Film: Studi Kasus Festival Film Pelajar Jogja 2020

    No full text
    The Impact of Covid-19 Pandemic Toward Film Festival; Case Study on Jogja Student Film Festival 2020. The Covid-19 pandemic poses a big challenge for the sustainability of film festivals as a space for the distribution and appreciation of student works in Indonesia. The Jogja Student Film Festival (FFPJ), which has been taking place since 2010, faced an extraordinary situation in 2020 when the organization had to transform from an offline format to an online format. This study aims to describe the adaptation process of FFPJ management throughout the pandemic and identify the driving factors for these changes. A qualitative descriptive approach is used with data collection techniques in the form of documentation, structured observations, and interviews with founders, judges, volunteers, and festival participants. The validity of the data is maintained through source triangulation while the analysis is carried out using the management function theory framework (POAC). The results of the study show that strategic adaptation and the use of digital technology allow the sustainability of the festival without permanent sponsors, while still prioritizing aspects of critical literacy and appreciation space for young filmmakers. FFPJ organizers and communities have shown the ability to maintain the existence and regeneration of the student film community even in crisis conditions.Keywords: Student's Film Festival, Covid-19 Pandemic, Existence

    Penciptaan Busana Kasual (Casual Wear) dengan Inspirasi Arca Totok Kerot

    No full text
    Industri mode yang didominasi oleh busana siap pakai (casual wear) gaya Barat menuntut upaya kreatif untuk melestarikan dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya local. Penelitian penciptaan ini bertujuan mengintegrasikan kekayaan budaya Mataram, khususnya Arca Totok Kerot di Kediri, Jawa Timur, ke dalam desain busana kasual modern. Arca Totok Kerot adalah benda cagar budaya yang dikenal dengan karakternya yang monumental, kaku, dan memiliki ekspresi kemarahan. Penelitian ini menggunakan Metode Penciptaan Karya Seni (Practice-Ied-Reserch), yang melalui tahapan Eksplorasi, Perancanan, dan Perwujudan, untuk mendeskripsiskan proses, hasil, dan desiminasi karya. Konsep desain menerjemahkan bentuk monumental arca menjadi siluet besar dan kuat, didukung penggunaan warna merah sebagai simbol energi. Detail ornamen arca diwujudkan melalui teknik tekstil monumental quilting dan cording untuk menciptakan tekstur tiga dimensi yang kokoh menyrupai relief. Hasil akhir penelitian ini berupa tiga koleksi busana kasual (1 pria dan 2 wanita) gaya art of beat.

    Tradisi Alek Pisang Manih dalam Upacara Perkawinan di Nagari Panyakalan dalam Analisis Teori Fungsionalisme

    No full text
    AbstrakPenelitian ini menganalisis tradisi Alek Pisang Manih dalam upacara perkawinan masyarakat Nagari Panyakalan, yang unik dan disertai sanksi adat serta moral, menggunakan teori Fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk mengungkap fungsi budayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tradisi ini mencakup unsur sistem pengetahuan, bahasa, peralatan, dan organisasi sosial dari adat salingka nagari, serta bagian dari rangkaian adat perkawinan yang dilestarikan hingga kini, mencerminkan nilai budaya dan harapan rumah tangga harmonis. Berdasarkan teori Fungsionalisme Malinowski, tradisi berfungsi menjaga struktur sosial matrilineal, menguatkan kekerabatan dan solidaritas, pisang tando sebagai sarana estetika, serta lembaga adat sebagai penjaga nilai dan tata tertib." Kata kunci: Tradisi Alek Pisang Manih, Fungsi, Struktur Sosial Matrilineal, Solidaritas Sosial. Abstract This research analyzes the Alek Pisang Manih tradition in the wedding ceremony of the Nagari Panyakalan community, which is unique and accompanied by customary and moral sanctions, using Bronislaw Malinowski's Functionalism theory to reveal its cultural functions. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. This tradition encompasses elements of knowledge systems, language, equipment, and social organization from the adat salingka nagari, as well as part of the wedding custom series that is preserved to this day, reflecting cultural values and hopes for a harmonious household. Based on Malinowski's Functionalism theory, the tradition functions to maintain the matrilineal social structure, strengthen kinship and social solidarity, pisang tando as aesthetics medium, and customary institutions as guardians of values and order. Keywords: Alek Pisang Manih Tradition, Function, Matrilineal Social Structure, Social Solidarity

    BÂJÂNG KERTÈ: SENI PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG MASYARAKAT SITUBONDO

    No full text
    This research seeks to examine the bâjâng kertè art form from various aspects, including its history and developmental dynamics, form and function, transmission and regeneration, as well as performance modes and survival strategies. The study employs a qualitative research approach, utilizing ethnographic methods. Data were collected through participatory observation, interviews, and literature review. The data were then interpreted by employing a multidisciplinary perspective, including history and performing arts. The findings reveal that bâjâng kertè is an intangible cultural heritage of significant value to the community of Situbondo. It was created by a skilled Madurese puppeteer named Kertisuwignyo, who later migrated and settled in Situbondo. Bâjâng kertè flourished in Situbondo during the 1970s to the 1990s. It was performed in various contexts such as parlo, rokat panhâbâ, rokat tasè’, rokat bhumi, salamettan, and other events. Its performance structure consists of several parts, including dhing-ghendhingan, tèmangan, tari srimpi, and maen carèta. This art form serves multiple functions within the community, including educational, entertainment, spiritual, and economic purposes. The knowledge and skills related to bâjâng kertè are culturally transmitted by its artists through two pathways: informal learning (cantrik) and group training. Various challenges and problems faced by bâjâng kertè artists have ultimately sparked new innovations. These include the emergence of new performance modes such as topeng rokatan, topeng can-macanan, topeng lawak, and the incorporation of bâjâng kertè content in audiovisual recordings

    Penerapan Hand Painting Bunga Anggrek Bulan Khas Jawa Timur Pada Busana Modest

    No full text
    Hand painting on textiles enhances aesthetic value and uniqueness in garments, especially in modest fashion, which emphasizes elegance and artistic details. The Orchid Moon flower motif from East Java was chosen as the main design element to reinforce cultural identity. The process includes motif exploration, fabric selection, and color application to ensure durability without diminishing motif beauty. The results show that this motif adds an exclusive and elegant impression while enhancing the visual appeal of modest fashion. This technique enriches design exploration and serves as an innovation for the local fashion industry with high artistic value

    Penerapan Motif Tiedye dan Macrame Pada Busana Resort Wear

    No full text
    Industri mode terus berkembang dengan menghadirkan inovasi desain yang unik dan menarik. Salah satu tren yang semakin populer adalah busana resort wear, yang dirancang untuk kenyamanan dan estetika saat berlibur. Penelitian ini mengeksplorasi penerapan motif tie dye dan teknik macrame dalam desain busana resort wear guna menciptakan produk yang inovatif dan bernilai estetika tinggi.Motif tie dye menawarkan pola warna yang unik melalui teknik ikat celup, sedangkan macrame memberikan tekstur dekoratif dengan simpul-simpul khas. Kombinasi kedua teknik ini diharapkan dapat menghasilkan busana yang tidak hanya artistik dan modis, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi dalam pemberdayaan pengrajin lokal, pelestarian teknik tradisional, serta menciptakan peluang pasar baru dalam industri fashion.Penelitian ini menggunakan metode Double Diamond, yang terdiri dari tahapan Discover, Define, Develop, dan Deliver, untuk merancang dan mengembangkan desain busana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan motif tie dye dan macrame dapat memberikan tampilan elegan, berkarakter, serta ramah lingkungan, sesuai dengan kebutuhan pasar resort wear saat ini

    Perancangan Produk Tenun Ikat dengan Memanfaatkan Benang Daur Ulang Sumber Ide Ikan Marlin Khas Batam

    No full text
    Di tengah perkembangan zaman dan industri, muncul tantangan baru berupa limbah tekstil yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi lingkungan. Salah satu inovasi dalam penanganan limbah tekstil yaitu adanya pemanfaatan limbah tekstil menjadi benang daur ulang. Inovasi benang daur ulang membuka peluang strategis dalam menciptakan karya tekstil yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memperkaya ekspresi visual. Salah satu bentuk pemanfaatan dapat diwujudkan melalui penciptaan desain tenun ikat berbahan dasar benang daur ulang yang tidak hanya mengurangi limbah tekstil, tetapi juga mengangkat nilai estetika baru melalui warna alami yang dihasilkan dari karakteristik benang. Selain itu, masih terbatasnya eksplorasi visual motif ikan marlin khas Kota Batam dalam media tenun ikat menjadi peluang strategis untuk menghadirkan tekstil yang inovatif dan berkelanjutan. Perancangan ini bertujuan memanfaatkan benang daur ulang pada tenun ikat dengan visual ikan marlin khas Kota Batam dan diaplikasikan menjadi produk busana outer pria. Proses perancangan akan menggunakan metode penciptaan seni kriya menurut Sp Gustami, yaitu “tiga tahap enam langkah : metode penciptaan seni kriya”. Tahap utama yang dilakukan yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan

    Musik Nusantara sebagai Praktik Budaya dalam Pendidikan Humanitas di Perguruan Tinggi

    No full text
    AbstrakMusik Nusantara merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memuat nilai sosial, identitas budaya, dan pengalaman kolektif masyarakat pendukungnya. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya pada Program Studi Studi Humanitas, Musik Nusantara diposisikan sebagai praktik budaya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual dan reflektif untuk memahami kebudayaan secara lebih nyata. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya dalam pembelajaran Studi Humanitas di perguruan tinggi, serta menganalisis bagaimana mahasiswa terutama yang tidak memiliki latar belakang musik memaknai Musik Nusantara sebagai praktik kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya di Program Studi Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data diperoleh melalui observasi proses pembelajaran, analisis materi perkuliahan, serta refleksi tertulis mahasiswa mengenai pengalaman belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah ini berfungsi sebagai media pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan seni, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal dengan menunjukkan bahwa Musik Nusantara dapat dipahami dan dimaknai secara kritis oleh mahasiswa non-musik sebagai praktik budaya yang hidup, bukan sekadar objek estetis atau keterampilan teknis. Temuan ini memperkaya kajian pendidikan humanitas dengan menempatkan musik sebagai sarana pembentukan kesadaran budaya reflektif, apresiatif terhadap keberagaman, dan pemahaman kontekstual terhadap dinamika masyarakat Indonesia.Kata kunci: Musik Nusantara, Pendidikan Humanitas, Praktik Budaya; Mahasiswa Non-Musik, Studi Kasus. AbstractNusantara Music is an essential part of Indonesian culture that functions not only as entertainment but also as a medium through which social values, cultural identity, and collective experiences are expressed. In the context of higher education, particularly within Humanities study programs, Nusantara Music is positioned as a cultural practice that serves as a contextual and reflective learning medium for understanding culture. This article aims to examine the role of the course Nusantara Music and Its Cultural Studies in Humanities education at the university level and to analyze how students especially those without a musical background—interpret Nusantara Music as a form of cultural practice. This study employs a descriptive qualitative approach using a case study design conducted in the Humanities Study Program at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data were collected through classroom observations, analysis of course materials, and students’ written reflections on their learning experiences. The findings indicate that the course functions as an interdisciplinary learning medium that connects art, culture, history, and social life. This study offers an original contribution by demonstrating that Nusantara Music can be critically understood and meaningfully interpreted by non-music students as a living cultural practice rather than merely as an aesthetic object or technical musical skill. These findings enrich Humanities education discourse by positioning music as a pedagogical tool for fostering reflective cultural awareness, appreciation of diversity, and contextual understanding of Indonesian socio-cultural dynamics.Keywords: Nusantara Music, Humanities Education, Cultural Practice, Non-Music Students, Case Study

    3,093

    full texts

    4,502

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Jurnal Online ISI Yogyakarta / Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇