UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Not a member yet
850 research outputs found
Sort by
INOVASI MATERI DAKWAH DARI IBADAH KE MUAMALAH BAGI ORMAS ISLAM UNTUK MEREALISASIKAN MASYARAKAT INKLUSIF DI KOTA SEMARANG
Dakwah Islam pada dasarnya adalah fardu bagi setiap muslim, di mana aktifitas tersebut memerlukan pemahaman Islam secara komprehensif untuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam aktifitas kehidupan. Nilai-nilai Islam yang bersumber dari ajaran aqidah, syariah dan akhlak dapat diterapkan secara utuh, bukan setengah-setengah yang menyebabkan pada pola kehidupan yang memisahkan antara ajaran agama dengan urusan duniawi. Padahal antara urusan duniawi dan akhirat yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW tidak boleh terpisah. Oleh karena itu, perlu adanya dakwah transformatif bagi para da’i dalam menyampaikan risalah Islam. Dakwah transformatif dapat dilakukan dalam dua metode, yaitu metode refleksi dan aksi.Kota Semarang Propinsi Jawa tengah terdiri dari 16 Kecamatan 186 Kelurahan dengan dengan jumlah penduduk 1.260.985 orang yang mayoritas penduduknya beragama Islam dengan prosentasi 98%. Sebagai kota yang melaksanakan nilai-nilai religiusitas terbukti dengan dinamika kegiatan-kegiatan ta’lim yang diselenggarakan organisasi-organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Salimah, jama’ah tarbiyah, dan lainnya. Oleh karena itu, organisasi masyarakat (ormas) Islam memiliki peran yang strategis untuk mewujudkan kondusifitas keberagamaan di Kota Semarang
RESPON DA’I TERHADAP GERAKAN JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA (JAI) DI TENJOWARINGIN TASIKMALAYA
Penelitian ini mengungkapkan tentang respon da’i (pelaku dakwah) di Tenjowaringin Salawu Tasikmalaya dalam menghadapi gerakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Penelitian dengan metode etnografi ini menggambarkan respon dan strategi da’i dalam menghadapi gerakan JAI di Desa Tenjowaringin dan Kutawaringin (desa pemekaran Tenjowaringin). Para da’i merespon gerakan JAI tersebut dengan dua kegiatan dakwah yaitu dakwah defensif atau bertahan dan dakwah ofensif atau aktif. Dalam melaksanakan dakwah secara aktif para da’i melakukan empat strategi dakwah: 1) dakwah bil-hikmah atau memberi contoh berupa kata-kata maupun perbuatan yang bernilai islami, 2) dakwah bil Mauidhatil Hasanah atau dakwah dengan pemberian nasehat dan sosialisasi, 3) dakwah bil Mujadalah atau dakwah melalui dialog dan perdebatan, dan 4) dakwah bil-hal atau dakwah melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
MAKNA HIDUP BAGI NARAPIDANA
Menjalani kehidupan sebagai seorang narapidana merupakan suatu bentuk kehidupan yang syarat akan penderitaan. Seorang yang mengalami krisis akan makna dalam kehidupannya, narapidana belum bisa menerima keadaan yang dihadapi, masih mengalami Shock mental, merasa tidak berdaya, bersalah, menyalahkan hidup, berpandangan negatif terhadap masa depan, dan tidak mampu menggali arti dalam hidupnya. Ketika harus menjalani pidana di LP, mereka merasa terkekang karena jauh dari cinta kasih orang-orang terdekatnya. Dalam situasi krisis seperti itu, keberadaan agama yakni pelatihan dzikir sangat penting adanya. Pelatihan Dzikir dapat menjadi resource bagi kebermaknaan hidup pada diri narapidana. Setting penelitian ini di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Wirogunan Kelas IIA Yogyakarta. Desainnya penelitiannya kuantitatif melalui eksperimen. Sebanyak 48 narapidana dari 318 orang terpilih sebagai sampel melalui purposive sampling. Kebermaknaan hidup diidentifikasi sebagai variabel terikat, sedangkan pelatihan dzikir sebagai variabel bebas. Metode pengumpulan data menggunakan skala model likert, yaitu skala kebermaknaan hidup disusun berdasarkan konsep kebermaknaan hidup dari Viktor Emile Frankl. Observasi dan wawancara digunakan sebagai pendukung, ditambah dengan angket evaluasi pelatihan dzikir dan lembar catatan harian dzikir. Hasilnya ternyata; (1) pelatihan dzikir belum mampu meningkatkan kebermaknaan hidup warga binaan, hal initerlihat dari nilai t yang hanya mencapa -0,934, dengan taraf signifikansi lebih besar dari 0.05, yakni 0,355. Maka dari itu Ha ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan kebermaknaan hidup antara hasil pre test dan post tes. (2) Tidak ada perbedaan kebermaknaan hidup antara warga binaan laki-laki dan perempuan setelah pelatihan dzikir dibuktikan bahwa nilai rata-rata kebermaknaan hidup warga binaan laki-laki adalah 68,5 sedangkan perempuan adalah 66,833. Diketahui bahwa nilai t dengan asumsi kedua sampel memiliki varian yang sama yakni 0,789, dengan P (sig) = 0,434. Karena P (sig) 0,355 > 0,05, maka Ha ditolak. Meskipun hipotesis penelitian secara kuantitatif tidak terbukti secara signifikan bukan berarti hasil penelitianmenolak teori bahwa dzikir tidak berpengaruh terhadap kebermaknaan hidup. Hal ini diketahui melalui hasil wawancara, observasi dan angket evaluasi pelatihan dzikir serta lembar catatan harian dzikir. Ternyata pelatihan dzikir mampu meningkatkan kebermaknaan hidup narapidana atau warga binaan laki-laki maupun perempuan
LIMA PILAR RUKUN ISLAM SEBAGAI PEMBENTUK KEPRIBADIAN MUSLIM
Tulisan ini bermaksud menjabarkan cara atau metode canggih dalam menggapai kepribadian muslim sejati menggunakan lima pilar Rukun Islam yang terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Bahasan dilakukan dengan cara berfikir mendalam dengan mensinergikan dan memaknai lima pilar Rukun Islam menggunakan cara kerja psikologi dalam membentuk kepribadian muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rukun Islam merupakan salah satu pendekatan yang diciptakan Allah untuk membentuk kepribadian muslim, dengan cara memberikan beberapa latihan dasar supaya terbentuk habit atau pembiasaan yang nantinya melahirkan sifat dan perilaku positif yang menetap. Latihan dasar yang disediakan Allah untuk membentuk sifat dan perilaku positif tersebut, diawali dengan latihan lisan (syahadat), dilanjutkan dengan latihan jiwa raga (shalat), diikuti dengan latihan kepemilikan materi (zakat), disertai dengan latihan pengendalian nafsu dan syahwat (puasa), diakhiri latihan paripurna mencakup keempatnya yakni (haji). Lima pilar Rukun Islam akan benar-benar efektif menghasilkan sosok kepribadian muslim yang prima bagi pengamalnya ketika lima pilar tersebut dilaksanakan dengan menyatukan sisi syari dan hakiki
DIALEKTIKA DAKWAH, POLITIK DAN GERAKAN KEAGAMAAN KONTEMPORER (Telaah Pemikiran Nasir al-Din al-Albani dan Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Salafy Kontemporer)
Tulisan ini menelaah tentang dialektika dakwah, politik dan gerakan keagamaan kontemporer khususnya aliran Salafy yang memiliki penganut di berbagai belahan dunia. Aliran Salafy, ternyata terbukti mendayagunakan pintu dakwah dan politik di dalam melancarkan visi dan misi Salafy guna membangun kekuatan jamaah yang militan.Meski Tokoh utamanya menyatakan tak berpolitik dalam misi dakwahnya, tetapi kajian ini dapat menemukan tali simpul bahwa dakwah dan politik bisa bersinergi. Menggunakan pendekatan historis-kritis, proses perkembangan intelek-tualitas tokoh bernama Nasir al-Din al-Albani yang berdakwah melalui kendaraan kelompok Salafy dapat ditelusuri dinamika dan pengaruh besarnya pada msyarakat muslim. Hasil kajian ini menunjukkan, secara fungsional dakwah dan politik dapat dijadikan suatu dasar gerakan dalam gerakan sosial ke-agamaan. Dapat dikatakan pula bahwa antara dakwah, politik dan gerakan keagamaan tidaklah mesti berjalan sendiri-sendiri, tetapi ketiganya saling memanfaatkan
Komodifikasi Islam (Kesalehan dan Pergulatan Identitas di Ruang Publik)
Dengan memperhatikan jumlah penganut Islam yang besar, yakni populasi muslim yang miliaran jiwa di seluruh dunia maka Islam juga tentu menjadi gejala pasar dan pangsa pasar yang potensial. Sebagai “gejala pasar” Islam juga tidak bisa menghindar dari hukum supply side dan demand side sehingga mengalami proses komodifikasi yang tidak terelakkan pula. Dalam konteks inilah komunitas Islam dengan modernitas dan kapitalisme global tidak mesti selalu meng-hadirkan konfrontasi, tapi dalam banyak hal juga saling bernegoisasi, saling beradaptasi dan mempengaruhi satu sama lain. Tulisan ini menyajikan bagaimana proses saling beradaptasi antara Islam dan modernitas berlangsung sehingga Islam Indonesia dalam kaca mata barat menghadirkan Islam yang dinamis
Nilai Dakwah dalam Kebudayaan Wayang: Pemaknaan atas Cerita Dewa Ruci
Bagi orang Jawa keberadaan Wayang tidak sekedar sebagai penghibur akan tetapi wayang bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan dan dakwah. Wayang mengandung makna yang lebih dalam, karena mengungkapkan gambaran kehidupan alam semesta (wewayange urip). Wayang dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup Jawa dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan kesulitan hidup.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis nilai dakwah yang ada di dalam cerita-cerita wayang, khususnya Cerita Bimo Suci. Sebagai karya sastra simbolik, perjalanan Bimo Suci yang berada di luar teks dapat dijadikan tuntunan, sedangkan nilai moralnya meliputi syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat
GENEALOGI PETILASAN SUNAN KUDUS: Representasi Masjid Wali Sebagai Ruang Dakwah Sunan Kudus di Desa Jepang, Mejobo, Kudus
Dalam usaha memasyarakatkan Islam ke seluruh pelosok Kudus, Sunan Kudus tidak hanya menempakkan sentralitas penyiaran agama di kawasan Kauman tempat berdirinya Masjid al-Aqsha atau Masjid Menara Kudus. Salah satu tempat didirikannya masjid luar dari kawasan Kauman adalah Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, yang masih memiliki keterhubungan sejarah dengan Masjid Menara Kudus, yang pembangunannya bertarikh tahun 956 H (1549 M). Realitas ini tampak dari kesamaan tata ruang yang mengitari Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang. Peletakan kuburan orang-orang berpengaruh di zamannya diletakkan di belakang masjid serupa dengan ditempatkannya makam Sunan Kudus di belakang Masjid Menara Kudus
PENDEKATAN SUSTAINABLE LIVELIHOOD FRAMEWORK DALAM RANGKA MEMBONGKAR DOMINASI TENGKULAK MELALUI KEGIATAN KEAGAMAAN: Study Kasus pada Pendampingan Kuliah Kerja Nyata PAR 2012 di Desa Luworo Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun
Kondisi masyarakat yang terpasung oleh kondisi geografis dan kebijakan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur transportasi menyebabkan distribusi produksi pertanian terhambat. Masyarakat mengandalkan jasa tengkulak dan peng-Ijon dalam menjual produk pertanian. Kesempatan untuk bisa mendapatkan nilai jual hasil pertanian tinggi menjadi sulit. Apa dan bagaimana potensi, kerentanan dan proses dukungan kebijakan di Desa Luworo bisa mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak dan ijon melalui kegiatan berbasis keagamaan?Untuk mengetahui persoalan tersebut kami menggunakan pendekatan SLF dengan empat variable analisis yaitu : analisis potensi dan akses sumber daya, analisa kerentanan dan kapasitas, analisa kebijakan, kelembagaan dan proses, serta melihat sejauh mana pengaruh global/pasar terhadap kerentanan masyarakat. Dari pendekatan Sustainable livelihood framework yang dikombinasi dengan pemberdayaan masyarakat yang berbasis budaya mendapatkan hasil yang sangat positif. Pendekatan keagaman mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan sebaliknya pemberdayaan masyarakat mampu meningkatkan kehidupan beragama masyarakat desa Luworo
Faktor Pemicu Munculnya Radikalisme Islam Atas Nama Dakwah
Berbagai tindak kekerasan seperti demonstrasi, aksi protes dan terorisme, realitanya sebagian dilakukan oleh kelompok muslim yang berafiliasi pada organisasi Islam radikal. Islam ditengarai sebagai agama yang membawa kedamaian dan keselamatan, tetapi mengapa sebagian pemeluknya menjadi radikal dan bersedia melakukan tindakan radikalisme dan terorisme? Apakah hal ini berhubungan dengan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang telah dimanipulasi, yang juga melibatkan faktor sosial dan psikologi? Guna menjawab pertanyaan tersebut dilakukan kajian menggunakan cara berfikir induktif dengan cara memaparkan data yang berasal dari kajian pustaka dan hasil-hasil penelitian kemudian ditarik kesimpulan umum. Data dianalisis dengan menggunakan perspektif agama dan psikologi sosial.Hasil kajian menunjukkan bahwa radikalisme Islam melibatkan tiga faktor sekaligus yakni faktor agama, faktor sosial dan faktor psikologis. Faktor sosial berupa berbagai kasus ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik, merupakan pemicu utama yang dijadikan alat bagi pihak-pihak tertentu untuk membangkitkan kemarahan dan merasa diperlakukan tidak adil. Sementara faktor agama berupa ajaran dakwah, amar makruf nahi mungkar dan jihad, dijadikan legitimasi untuk melakukan tindakan radikalisme atas nama agama. Ajaran agama yang sesungguhnya bersifat netral, telah ditafsir secara ekslusif dengan hanya memilih ayat-ayat yang berkonotasi kekerasan dan mengabaikan ayat-ayat yang bersahabat. Ajaran agama yang telah ditafsir ekslusif untuk melawan ketidakadilan tersebut secara psikologis mampu merubah pandangan apa yang semula dinilai hina (misalnya membunuh dan merusak) menjadi sebuah perjuangan moral