UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Not a member yet
850 research outputs found
Sort by
DAKWAH TRANSFORMATIF LEMBAGA PESANTREN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Agama Islam yang cukup tua di Indonesia. Sejak zaman penjajahan, pesantren mempunyai andil besar dalam memajukan negara Indonesia. Pada dasarnya pesantren mengajarkan ilmu agama islam yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin kontemporer, pesantren mengalami pasang surut dalam mengembangkan dan bersaing dengan lembaga pendidikan formal. pesantren dituntut mempunyai metode dalam proses pengajarannya sebagai upaya berdakwah yang transformatif. agar jati diri pesantren dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kehidupan sosial dengan selalu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.Oleh karena itu, pesantren harus mampu memainkan peran dalam masyarakat. Diantaranya ialah memberdayaan ekonomi masyarakat sipil yang tengah dihimpit oleh kapitalisme global, mengembangkan sikap toleran dan terbuka, melarang setiap bentuk kekerasan yang diusung ideologi Islam radikal yang berwatak keras dan eksklusif, serta memperjuangkan terwujudnya identitas gender yang penuh dengan semangat kesetaraan dan berkeadilan
IDEOLOGI MEDIA ISLAM INDONESIA DALAM AGENDA DAKWAH: Antara Jurnalisme Profetik dan Jurnalisme Provokatif
Dalam era globalisasi informasi dan teknologi seperti saat ini, agenda dakwah Islam kontemporer bisa dilakukan melalui banyak cara dan media. Namun dalam realitasnya, penggunaan media sebagai instrumen dakwah ternyata tidak lepas dari ideologi media. Maksudnya, dalam menyajikan berita, informasi dan wacana, media Islam di Indonesia memiliki dan mempunyai pertimbangan-pertimbangan idealisme, argumentasi hingga dalil yang turut berpengaruh pada sajian beritanya. Kajian dalam tulisan ini menggunakan telaah melalui metode induktif dan analisis sintetik. Sumber data diperoleh dari berbagai sumber dan referensi yang terkait dengan topik bahasan, baik dari internet online maupun eksternet offline. Kajian ini menemukan hal penting antara lain ideologi media Islam di Indonesia dalam agenda dakwah yang dilakukan selama ini setidaknya bisa dipahami menjadi dua tipolologi ideologi media Islam, yaitu ideologi jurnalisme profetik dan ideologi jurnalisme provokatif
DAKWAH MELALUI MEDIA ELEKTRONIK: Peran dan Potensi Media Elektronik dalam Dakwah Islam di Kalimantan Barat
Perkembangan media massa pada saaat ini mengalami kemajuan yang pesat. Media massa telah menjadi industri besar di tengah masyarakat Indonesia maupun di daerah. Hadirnya radio sebagai salah satu media masa elektronik dan dikembangkan melalui media digital telah memberi peluang manusia saling bertemu dan berinteraksi di dunia maya. Sehingga siaran radio lebih cepat lagi diterima telinga pendengar sebagai upaya media dalam menyebarluaskan berita dengan cepat, menembus batas-batas wilayah dan waktu. Oleh karena itu, media tersebut harus dimanfaatkan oleh umat islam guna mendakwahkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat.Begitu pula di Propinsi Kalimantan Barat, dimana media elektronik khususnya radio, dalam perkembangan 10 tahun terakhir mencapai 32 stasiun radio. Hendaknya dijadikan sebagai jembatan pertemuan da’i dengan mad’u guna menciptakan dan mendorong keterlibatan aktif dari umat Islam dalam usaha membantu memotivasi umat Islam agar menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Melalui dakwah islam yang dijalani oleh wartawan muslim hendaknya berpegang pada jurnalistik dakwah. Dan ditunjang dengan penyiar radio yang mampu mengarahkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik sebab penyiar merupakan ujung tombak dalam dakwah Islam melalui radio
KECENDERUNGAN INTERNET ADDICTION DISORDER MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI DITINJAU DARI RELIGIOSITAS
Penelitian ini dilatarbelakangi risiko mahasiswa untuk mendapatkan kecenderungan Internet Addicted Disorder. Hal itu dikarenakan status mahasiswa di perguruan tinggi untuk mendapatkan semua informasi. Di sisi lain, mahasiswa mudah terpengaruh oleh internet karena tidak memiliki pengendalian diri yang lemah. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara religiositas dengan kecenderungan Internet Addiction Disorder. Selain itu, sejauh mana perbedaan religiositas dan kecenderungan tersebut ditinjau dari jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Purposive sampling, sedangkan subyek penelitian ialah mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi yaitu mahasiswa laki-laki dan perempuan angkatan 2009-2011.Ada 148 mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini, 70 laki-laki dan 78 perempuan. Hasil Korelasi Pearson dengan menggunakan analisis product moment menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan dan negatif antara religiositas dan kecenderungan Internet Addiction Disorder, dengan nilai (r) = 0,444 korelasi, dan p <0,01, itu adalah 0,000. Hasil analisis regresi dengan (R Square) adalah 0,468 yang menjelaskan religiositas memberi efek terhaadap kecenderungan Internet Addiction Disorder sebanyak 4,68%. Perbandingan hipotesa dengan menggunakan uji t juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara religiositas dan kecenderungan Internet Addiction Disorder dilihat dari jenis kelamin. Perbandingan tingkat riligiositas pada mahasiswa perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dengan skor 70,04 untuk pria dan 71.04 untuk perempuan. Hasil derajat perbandingan kecenderungan Internet Addiction Disorder menunjukkan bahwa laki-laki 63,76 dan 66,09 untuk wanita
EVALUASI DAN PENINJAUAN KURIKULUM BKI BERBASIS KKNI
Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, sebagai bagian dari satuan pendidikan tinggi, tentu mengharapkan para lulusannya mampu dan akan diarahkan pada penguasaan ilmu dan ketrampilan dalam bidang Bimbingan dan Konseling Islam secara professional, dengan memiliki kompetensi sesuai standar serta mampu bersaing secara global. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak cukup hanya melakukan inovasi dan pengembangan institusi, tetapi juga dituntut untuk senantiasa melakukan evaluasi maupun penilaian terhadap seluruh komponen, sistem, maupun sumber daya yang dimilikinya. Hal ini urgen dilakukan guna mencapai kualitas mutu yang diharapkan. Salah satu komponen yang perlu perhatian ekstra adalah kurikulum. Sehingga evaluasi terhadap kurikulum yang digunakan oleh satuan pendidikan seperti Bimbingan dan Konseling Islam mutlak dilakukan.Maka dari itu, artikel ini dapat memberikan gambaran jelas tetang bagaimana seharusnya evaluasi dan peninjauan kurikulum Bimbingan dan Konseling Islam itu dilakukan. Yaitu, berpedoman pada KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), dengan mempertimbangkan kebutuhan user dan stake-holder, serta mengacu pada Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang meliputi Standar nasional Pendidikan, Standar Nasional Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat
TIGA MODEL INTERAKSI DAKWAH RASULULLAH TERHADAP BUDAYA LOKAL
Interaksi antara Islam dengan budaya lokal bangsa Arab yang telah mapan dilaksanakan oleh masyarakat, tidak serta merta menghapus dan melarang pelaksanaannya. Dalam interaksi ini sedikitnya ada tiga model Islam dalam menyikapi tradisi dan budaya masyarakat Arab jahiliyah. Pertama, tahmil yaitu Islam menyempurnakan tradisi dan budaya yang sudah dilaksanakan turun temurun oleh masyarakat bangsa Arab.Kedua, taghyir, yaitu merubah atau merekonstruksi tradisi dan budaya yang sudah dilaksanakan dengan tata cara yang sesuai dengan syariat Islam, namun inti pelaksanaan tradisi tersebut tetap dilaksanakan dan tidak dilarang. Ketiga, tahrim yaitu Islam melarang dan mengharamkan tradisi yang sudah mapanpada masyarakat Arab jahiliyah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tiga model sikap Islam terhadap tradisidan kebudayaan masyarakat Arab jahiliyah, didasarkan pada barometer dari nilai ketauhidan yang yang menjadi poros ajaran Islam
MENGEMBANGKAN PRIBADI YANG TANGGUH MELALUI PENGEMBANGAN KETERAMPILAN RESILIENCE
Menjalani kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani setiap makhluk ciptaan Allah SWT. Perkembangan zaman yang semakin modern menjadikan hidup semakin kompleks dan penuh tantangan, diperlukan pribadi ketangguhan, kepribadian tahan banting agar dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan hidup baik sebagai pribadi maupun kelompok tangguh dalam istilah agama, merupakan pribadi yang senantiasa bersyukur atas segala apapun yang diberikan Allah SWT kepadanya apakah itu nikmat atau ujian. Untuk menjadi pribadi yang tangguh adalah tidak mudah, maka diperlukan latihan agar keterampilan pribadi yang tangguh dapat terasah sehingga apapun keadaannya dapat berprasangka baik kepada Allah SWT. Keterampilan resilience akan terlatih dengan interaksi individu dengan lingkungan, semakin individu berhasil mengatasi krisis yang dihadapi maka akan semakin meningkatkan potensi individu dalam rangka menghadapi tahapan perkembangan berikutnya. Hal itu pula yang akan menjadikan mental dan jiwa seseorang akan selalu hidup dan mempunyai energi positif yang terpancarkan. Selalu optimis dalam menhghadapi segala masalah kehidupan yang menerpa
MELIHAT OBJEKTIFITAS MEDIA MASSA TERHADAP PERNYATAAN PAUS BENEDICTUS XVI
Manusia membutuhkan media yang memberikan informasi atas sebuah realitas. Salah satu media yang banyak digunakan adalah surat kabar atau Koran. Namun dalam proses penyampaian informasi oleh media tidak semua peristiwa diberitakan media, ada proses seleksi mana berita yang layak diberitakan. Faktor-factor yang mempengaruhi proses pengolahan berita adalah ideologi media tersebut. Penulis memilih harian Kompas dan Republika sebagai surat kabat terbesar di Indonesia yang dapat mempengaruhi masyarakat banyak. Republika adalah Koran yang lahir dengan latar belakang Islam (ICMI) dimana misinya mengedepankan Islam. Sementara Kompas, walaupun sudah Independen dan terlepas dari pendirinya, Partai Katolik, namun stereotip Kristin masih melekat. Untuk melihat perbedaan kedua media tersebut dalam mengkonstruksi beritanya, penulis mengambil isu sentiment keagamaan yang dikeluarkan oleh Paus Benedictus XVI terhadap Islam yang terjadi di Universitas Regensburg, Jerman. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan paradigma produksi dan pertukaran makna yang disebut konstruksionis dengan menggunakan metode analisis Framing sebagai pisau analisa. Analisis Framing yang dipilih penulis adalah model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki serta teori Agenda Setting.Penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas dan Republikamempunyai framing yang berbeda. Republika mengkonstruksi berita yang berpeluang untuk memunculkan sisi positif pihak Muslim dengan memanfaatkan fakta yang ada. Sedangkan Kompas lebih pada keberpihakan atas opini Paus dengan membungkus sentimen keagaman Paus kedalam satu pencitraan yang positif sehingga dapat mempegaruhi publik melalui konstruksi berita
AISYIAH DI MUNA: Negosiasi Dakwah dan Politik
Indonesia menjadi satu wilayah jajahan kolonialisme bangsa barat dengan tiga gerakan (3G), yaitu glory, gold, dan gospel. Kedatangan Belanda dengan Gerakan 3G merupakan motif utama dalam upaya penyebaran agama Kristen ke berbagai pelosok Indonesia. Akibatnya muncul perlawanan dari bangsa Indonesia, baik dalam bentuk organisasi maupun individu. Salah satunya adalah Muhamadiyah dengan gerakan sosial, gerakan keagamaan yang dicirikan oleh reformasi dan pembaharuan pemikiran (tajdid). Begitu pula dengan organisasiAisyiah (1917) sebagai organisasi sayap perempuan Muhamadiyah. Dalam perkembangannya, Muhamadiyah dan Aisyiah dipersamakan oleh sifat kepemimpinanya yang tunggal dan tidak berganti (charismatic leader). Akan tetapi mempunyai nilai historisitas dan progresivitas kemajuan yang berbeda. Perbedaan keduanya dapat dilihat dari progresivitas yang dimiliki Aisyiah dan stagnasi yang dipunyai oleh Muhammadiyah sebagai organsisi induk. Oleh karena itu, penulis tertarik mengkaji progresivitas dan persoalan sosial politik yang melatarbelakangi perkembangan Aisyiah di Muna.Aisyiah di Muna menyuguhkan dua fakta, pertama, Aisyiah menyuguhkan potret bahwa kekuasaan tidak harus menindas (coercive). Kedua, Aisyiah sebagai proses negosiasi yang taktis dan substantif lewat dakwah bil hal. Entitas Aisyiah dengan kekuasaan produktifnya merupakan kekuatan sekaligus kerentanan. Kekuatan yang dibangun Aisyiah lewat sistem patronase, negosiasi politik, dan dakwah akan terus berlanjut sehingga melahirkan kekuasaan yang produktif
UPAYA PREVENTIF GURU BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP TERJADINYA BURNOUT
Guru Bimbingan dan Konseling merupakan profesi yang menuntut profesionalisme yang tinggi dalam memberikan bantuan terhadap siswa di sekolah. Tuntutan kerja tersebut, tentu dapat memberikan tekanan psikologis bagi dirinya. Sehingga, profesi ini memiliki resiko besar untuk mengalami burnout. Karena tuntutan pekerjaan tersebut bisa menjadi tekanan yang menelurkan stres kerja,yang berujung pada burnout. Burnout adalah suatu keadaan berupa kelelahan fisik, mental dan emosional yang banyak dijumpai pada mereka yang pekerjaannya melayani banyak orang serta penuh tuntutan emosional. Oleh sebab itu, artikel ini akan memberikan gambaran tentang berbagai hal yang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya burnout pada guru Bimbingan dan Konseling. Pada akhir bahasan akan dieksplorasi dengan berbagai upaya yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya burnout yang dapat mempengaruhi kinerja mereka