UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Not a member yet
850 research outputs found
Sort by
DETERMINAN PRAKTIK NILAI-NILAI BISNIS ISLAM: IMPLIKASI THE CELESTIAL MANAGEMENT DI USAHA KULINER PREKSU
Aktivitas usaha bisnis tidak hanya berfokus pada pencapaian peningkatan laba atau profit, karena ada hal yang lebih bernilai dari bisnis, itulah nilai etika dan spiritualitas berupa kejujuran, keadilan, berbagi dengan sesama, dan mempertahankannya. Dalam konteks ini munculah teori manajemen bisnis Islam atau Spiritual Management yang berbeda dengan manajemen bisnis konvensional yang sama sekali tidak berkait dan bahkan lepas dari nilai-nilai ketauhidan dan keimanan yaitu The Celestial Management (TCM). Konsep TCM membawa kemajuan yang sangat pesat di Rumah Makan Preksu, yaitu dengan menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah Rumah Makan Preksu melalui implikasi TCM menganggap bisnis bukan sekedar mencari material saja akan tetapi merupakan ibadah atau dimaknai dengan bekerja adalah ibadah. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis uji keabsahan data dilakukan melalui teknik uji kredibilitas triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian membuktikan bahwa Rumah Makan Preksu pada implikasinya telah menerapkan konsep TCM, namun Rumah Makan Preksu perlu memperhatikan indikator Power Sharing dan Regeneratif lebih lanjut karena hasil penelitian pada indikator tersebut Masih belum mencapai taraf sempurna.Kata Kunci: Bisnis Islam, The Celestial Management, Kuliner Preks
TINJAUAN PERATURAN BUPATI NOMOR: 45 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS TERHADAP PERKEMBANGAN PROSTITUSI KABUPATEN BANYUWANGI
AbstractProstitution is a negative thing. For those who undergo these activities are considered scum of society. But in a certain sense, the existence of prostitution is considered a positive thing. Because the presence of prostitution is able to impact on the prevention of rape. In addition, prostitution activities are also tolerated for reasons of economic factors, whether it is the fulfillment of the economic needs of the family, or other people whose work by utilizing the existence of the prostitution practice. In Banyuwangi Regency, there are 14 locations of prostitution localization. Yet, undetected places as the impact of pathological behavior. By the proliferation of activities just precisely open the door of the most vital and deadly diseases, namely HIV / AIDS. Therefore, in order to handle the HAV / AIDS, the Government of Banyuwangi Regency makes a policy in the form of Regent Regulation of Banyuwangi Number: 45 / 2015, About: The Prevention and Control procedure of HIV / AIDS. The existence of the Government policy of Banyuwangi Regency just precisely impact on the progress of HIV / AIDS case that more increased.Keywords: Prostitution, HIV / AIDS, Banyuwangi Regenc
SUCCESFUL AGING DI YOGYAKARTA : BEKERJA SEBAGAI OPTIMALISASI USIA TUA
AbstrakTulisan ini dimaksudkan untuk mendalami tranformasi perkembangan emosi dari para lansia khususnya lansia yang berjenis kelamin wanita. Indonesia memiliki struktur masyarakat tua dimana jumlah lansia semakin bertambah pada tiap tahunnya. Penelitian terus dilakukan untuk upaya menanggulangi persoalan kemiskinan lansia di Indonesia. Desa Wirokerten, lokasi salah satu kelompok wirausaha lansia kreatif mulai mendobrak wacana negatif terhadap ketidakberdayaan lansia melalui bekerja. Kelompok lansia ini menarik untuk dilihat dalam kaitannya dengan aspek-aspek penting yang perlu dilihat dalam memahami persoalan lansia. Pendekatan psikologi perkembangan milik Erricson menjadi acuan berfikir dari tulisan ini, dimana pada usia lansia ini ada banyak aspek dan gejala sosial maupun emosi diri, bagaimana para lansia menyesuaikan diri mereka terhadap lingkungan dan perubahan tubuh mereka. Riset ini dilakukan pada bulan April- September 2014. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Temuan penelitian ini mengungkapkan satu gagasan penting bahwa bekerja bagi sebagian lansia dimaknai sebagai bentuk perlawanan emosi yang ditunjukkan atas berkurangnya kemampuan fisik oleh sebab penuaan.Kata kunci : Lansia, Perkembangan, Lingkungan, Perlawanan Siklu
Kontroversi Tiruan Slogan Donald Trump dalam Pidato Pipres Prabowo: Analisis Framing dalam Tiga Media Online
This study has a problem how three online media, Detik.com, Tribunnews.com and Tempo.co, in framing the reporting of the slogan “Indonesia First, Make Indonesia Great Again” delivered by Prabowo Subianto in his speech on Thursday, October 11, 2018 which considered imitating the President of the United States, Donald Trump. The three online media were selected on the basis of consideration of news sites that were quite intense and enthusiastic in reporting the slogan in the two-week period after the event (11-25 October 2018). The method in this study uses framing analysis proposed by Robert N. Entman. The data were analyzed in four stages, that is define problems, diagnose causes, make moral judgement, and treatment recommendation. The results of this study indicate that Detik.com provides news from both pros and cons; Tribunnews.com places more emphasis on using more refined language, and Tempo.co puts forward the use of wise and contemporary languages.Studi ini memiliki belakang masalah bagaimana tiga media online, Detik.com, Tribunnews.com dan Tempo.co, dalam membingkai pemberitaan slogan “Indonesia First, Make Indonesia Great Again” yang disampaikan oleh Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Kamis 11 Oktober 2018 yang dinilai meniru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketiga media online tersebut dipilih atas dasar pertimbangan situs-situs berita yang cukup intens dan antusias dalam memberitakan slogan tersebut pada periode waktu dua minggu pasca kejadian (11-25 Oktober 2018). Metode pada penelitian ini menggunakan analisis framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman. Data dianalisis dalam empat tahap, yakni pendefinisian masalah, memperkirakan sumber masalah, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Detik.com menyajikan berita dengan sumber baik dari yang pro maupun kontra; Tribunnews.com lebih menekankan pada penggunaan bahasa yang lebih diperhalus, dan Tempo.co lebih mengedepankan penggunaan bahasa-bahasa yang bijak dan kekinian
URGENSI PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PERSPEKTIF HADIST DAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Rendahnya kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan keluarga berakibat kepada banyak hal diantaranya; menghambat kelangsungan perkembangan anak sehingga menjauh dari cita-cita masa depan yang ideal, mis-persepsi sehinga terjadi penyerahan tanggung jawab pendidikan (dari orangtua) kepada pihak guru sekolah, para orangtua semakin berjarak dengan pengetahuan dan informasi terkait kewajiban dan tata cara mendidikan anak. Melihat fenomena tersebut menjadi perlu melakukan sosialisasi-sosialisasi tentang pentingnya kesadaran, pemahaman tanggung jawab pendidikan, serta pengetahuan metode pola asuh berbasis fase perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-literatur, dengan mengumpulkan data-data dan informasi terkait pentingnya pendidikan keluarga, kewajiban pendidikan orangtua, serta metode pendidikan anak. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang urgensitas pendidikan keluarga berkaitan dengan stabilitas perkembangan anak, pemberian pemahaman terkait kebutuhan-kebutuhan anak yang harus dipenuhi oleh orang tua, termasuk di dalamnya kebutuhan pendidikan, keteladanan, keamanan (fisik/psikologis), serta gambaran tentang pendidikan berwawasan fase perkembangan anak sehingga model pendidikan yang diberikan mampu disesuaikan dengan tingkat kemampuan, kebutuhan, dan sesuai fase perkembangan anak.Kata Kunci: Urgensi Pendidikan, Kesadaran orangtua, dan Layanan Pendidikan
Kebijakan Negara dalam Mengakomodir Agama Pribumi Perspektif Sosial-Antropologi
Indonesia as a multicultur state has accommodating and acknowledged the existence of indigenous religions with other names, Penghayat Kepercayaan (belivers of mystical gorup), even its position now equivalent to six religions recognized by the state, but in the context of practical services it needs to be investigated further. Unfortunately, the state has not used the definition of religion social-anthropologically yet, it uses a biased politically definition. The implication is that the state see indigenous religion as not religion. This led to the need for religiousization of it followers which led to the conflicts of mission from six world religions. Because of this, indigenous religions experienced conflict with the state, in the same time it also conflict with six world religions. Their position was finally squashed, therefore the recommendations of this paper looked at the need for Penghayat Kepercayaan to be placed in the Ministry of Religion by forming the BIMAS Penghayat Kepercayaan, at least the country put indigenous religion important and equivalent with six world religions.Indonesia sebagai negara multikultur telah mengakomodir dan mengakui eksistensi agama pribumi dengan nama lain yaitu Penghayat Kepercayaan, dan bahkan kedudukannya setara dengan agama besar, meski dalam konteks pelayanan praktis perlu diteliti lebih jauh. Sayangnya hinga saat ini negara belum menggunakan definisi agama secara sosial-antropologis, tetapi menggunakan definisi yang bias politik kekuasaan. Implikasinya adalah negara memandang agama pribumi bukan agama. Hal ini membawa perlunya agamaisasi pengikut agama pribumi yang menimbulkan konflik misi dari agamaagama besar. Karena itu, agama pribumi mengalami konflik dengan negara, juga dengan agama-agama besar sekaligus. Posisi mereka akhirnya serba terjepit, karena itu rekomendasi tulisan ini memandang perlu Penghayat Kepercayaan diletakkan di Kementerian Agama dengan membentuk BIMAS Penghayat Kepercayaan, setidaknya dengan demikian negara meletakkan agama pribumi penting dan setara dengan agama besar lainnya
Pembangunan Pedesaan ‘Endogen’: Kiprah KKN UIN Sunan Kalijaga di Karangdukuh Klaten
Endogenous Rural Development is an application concept of Endogenous Regional Development in rural scale. This study portrays the progress of UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in supporting endogenous rural development in Karangdukuh Village, Jogonalan District, Klaten Regency. Continuing the progress of UIN Sunan Kalijaga 2017, this article empowers a peasant community named Sentra Peternakan Rakyat (SPR) in Kebon Wulang Reh, in Karangdukuh Village. This study was first elaborated through two FGD processes. The FGD process is the first step to understanding the expectations and mapping of SPR needs. After conducting the Particypatory Rural Appraisal (PRA) survey, the study in this article was carried out in 3 concrete actions, namely the development of ‘Cakruk Pintar’ at the SPR location, Health Promotion and Trial Learning in ‘Cakruk Pintar’. These three main variables are people’s livestock, public health, and community learning habitus. The results of the development of 'endogenous' village development in the community service process have an elaborative and collaborative spirit. The collaboration aspect is the entrance to invite practitioners so that they can generate positive reactions from the social community. Meanwhile, elaborative aspects can give birth to new dissemination from all stakeholders, partners and policy makers. Where this Participatory Action Research (PAR) village development process can succeed if there is academic sustainability, both programs can be continued or stopped.Pembangunan Pedesaan Endogen (Endogenous Rural Development) merupakan konsep penerapan dari Pembangunan Regional Endogenus dalam skala pedesaan. Penelitian ini memotret kiprah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mendukung pembangunan pedesaan endogen di Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten. Melanjutkan kiprah UIN Sunan Kalijaga 2017, artikel ini melakukan pemberdayaan pada sebuah komunitas peternak bernama Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kebon Wulang Reh, di Desa Karangdukuh. Kajian ini terlebih dahulu dielaborasi melalui proses FGD yang dilakukan selama dua kali. Proses FGD merupakan langkah awal untuk memahami harapan dan pemetaan kebutuhan SPR. Setelah melakukan survei Particypatory Rural Appraisal (PRA), kajian pada artikel ini dilakukan dalam 3 tindakan nyata, yaitu pembangunan Cakruk Pintar di lokasi SPR, Promosi Kesehatan dan Uji Coba Pembelajaran di Cakruk Pintar. Tiga variabel utama ini adalah peternakan rakyat, kesehatan masyarakat, dan habitus belajar masyarakat. Hasil pengembangan dari pembangunan desa ‘endogen’ pada proses pengabdian masyarakat memiliki semangat elaboratif dan kolaboratif. Aspek kolaborasi menjadi pintu masuk mengundang para praktisi sehingga dapat memunculkan reaksi positif dari komunitas sosial. sementara itu, aspek elaboratif dapat melahirkan diseminasi baru dari semua stakeholder, mitra dan pengambil kebijakan. Di mana proses pembangunan desa berbasis Partisipatory Action Research (PAR) ini dapat berhasil jika ada keberlanjutan akademis, baik dapat dilanjutkan ataupun dihentikan programnya
Merawat Tradisi Melestarikan Batik Lukis: Pengembangan SDM Melalui Program Capacity Building Remaja di Sanggar Kalpika
This study examines capacity building activities in preserving painting batik carried out by Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta in 2018. The purpose of capacity building that has been studied, hopes to be an example for other communities. Basically, this study is the result of the development of capacity building activities carried out by Sanggar Kalpika to produce field data. In order for the resulting data to be tested for validity, I conducted a study through a qualitative approach. The process is to conduct interviews and observation studies to the actors of capacity building activities. Furthermore, the data studied was carried out by the process of data reduction, data display, and conclusion drawing. That way, this paper will explain about preparation, analysis, planning, implementation, and evaluation. An important indicator in the success of this activity is that cooperation and solidarity with each other are so strong that the work done can go according to plan. Even the support of surrounding communities who are not involved in the members though. On the other hand, I found weaknesses, namely the recruitment of members carried out only specifically for the Tamansari community. That way, the community outside Tamansari will not be able to get involved and know in detail about the activities carried out by the Sanggar Kalpika. This is due to the limited resources of the members and the increasing competition for batik painting. In addition, another prominent aspect is the recruitment of members. The membership recruitment process is not generally opened only for teenagers of Tamansari. This condition has an impact on the preservation of batik painting because of the shrinking interest of teenagers. The reason found by me, many teenagers after attending the training were not interested in participating in the advanced program because they chose to continue their studies in college.[Studi ini mengkaji kegiatan capacity building dalam melestarikan batik lukis yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika Tamansari Yogyakarta pada tahun 2018. Tujuan capacity building yang telah dikaji, harapannya dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain. Pada dasarnya, kajian ini hasil pengembangan kegiatan capacity building yang dilakukan Sanggar Kalpika sehingga menghasilkan data lapangan. Agar data yang dihasilkan dapat diuji validitasnya, penulis melakukan kajian melalui pendekatan kualitatif. Adapun prosesnya dengan melakukan wawancara dan studi observasi kepada para pelaku kegiatan capacity building. Selanjutnya, data yang dikaji dilakukan proses reduksi data, display data, hingga penarikan kesimpulan. Dengan begitu, tulisan ini hendak menjelaskan tentang persiapan, analisis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Indikator penting dalam keberhasilan kegiatan ini adalah kerjasama dan solidaritas satu sama lain yang sangat kuat sehingga usaha yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan dukungan masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam anggota sekalipun. Di sisi lain, penulis menemukan kelemahan, yaitu rekrutmen anggota yang dilakukan hanya khusus masyarakat Tamansari. Dengan begitu, masyarakat luar Tamansari tidak akan dapat terlibat dan mengetahui secara detail tentang kegiatan yang dilakukan oleh Sanggar Kalpika. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya anggota dan semakin meningkatnya persaingan usaha kerajinan batik lukis. Selain itu, aspek lain yang menonjol adalah rekruitmen anggota. Proses rekruitmen anggota tidak secara umum dibuka hanya diperuntukkan bagi remaja Tamansari. Kondisi ini berdampak pada pelestarian batik lukis karena semakin menyusutnya minat remaja. Alasan yang dijumpai penulis, banyak remaja pasca mengikuti pelatihan tidak tertarik mengikuti program lanjutan karena memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Deradikalisasi Masjid Inklusi: Upaya Penghapusan Ideologi Radikal di Yogyakarta
Radicalization has recently strengthened in Indonesia. The real act makes in burning and killing war. The violence war takes the results in casualties and damage. This paper talks the process of deradicalization in the cases of phenomenology radicalization in recent years. One of the activities on the issue is to restore the function of the mosque with various activities at 3 important mosques in Yogyakarta. The UIN Sunan Kalijaga Mosque as a Religious Laboratory in the development of da'wah, the Syuhada Mosque as an Educational and economic institution, and the Jogokaryan Mosque as a pesantren in prospering the environment. These 3 findings indicate the potential character of the inclusion mosque. This gave rise to empowerment activities in religious studies and economic education. the activities in the mosque's efforts to reduce radicalization based on religion.Radikalisasi atas nama agama akhir-akhir ini menguat di Indonesia. Wujud nyata dari hal tersebut adalah aksi teror. Hal ini menggunakan kekerasan yang berakibat korban jiwa dan kerusakan. Tulisan ini hendak mengkaji proses deradikalisasi dalam fenomena pada banyak kasus radikalisasi beberapa tahun ini. Salah satu aktivitas pada isu tersebut mengembalikan fungsi masjid dengan berbagai macam kegiatan pada 3 masjid penting di Yogyakarta. Masjid UIN Sunan Kalijaga sebagai Laboratorium Agama dalam pengembangan dakwah, Masjid Syuhada sebagai Lembaga Pendidikan dan ekonomi, dan Masjid Jogokaryan sebagai pesantren dalam memakmurkan lingkungan tersebut. 3 temuan ini menunjukan potensi karakter masjid inklusi. Hal ini memunculkan kegiatan pemberdayaan dalam kajian keagamaan dan Pendidikan ekonomi. Berbagai macam kegiatan dalam aktivitas masjid tersebut merupakan upaya meredam radikalisasi berbasiskan agama
Pemberdayaan Berbasis Partisipasi Masyarakat Melalui Program Kampung Ramah Anak di Badran Kota Yogyakarta
Social participation is a model of the community empowerment process. This is one of a direct program which is an impact on well-being improvement. This analysis was supported to explains community development basics of participation through Kampung Ramah Anak program in Badran Village of Yogyakarta City. Qualitative methods with collecting data of observation, in-depth interviews, and documentation are using as an interpretation of data. This study is seeking the program management it which isn’t optimality. This criterion has been founded by program continuing with early childhood education programs activity, Posyandu, and Bank Sampah. The activities have anomaly because it still depends to fund of government charity. After that can be analysis, an anomaly has been influencing society awareness lowly to follow the activities by participative. Besides, society has still had potential to grow up participation optimality, i.e. the potentiality is supporting by any group, community, and social institution. Otherwise, the society has had though, carrying attitude, and spirit part of citizenship to empowerment program. For the optimality of Badran society spirit is needs of the government to involving academics and non-government organizations. It is very important to building of development step and accompaniment that as a spirit of simultaneous. Furthermore, the people also creation of program innovation without big budgeting but right on target and useful. Partisipasi masyarakat masih menjadi model pelaksanaan pemberdayaan, terutama program yang berkaitan dengan kesejahteraan anak. Analisis inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji pelaksanaan pemberdayaan berbasis partisipasi masyarakat melalui program “Kampung Ramah Anak” di Badran Rukun Warga 11 Kota Yogyakarta. Metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi digunakan sebagai bahan analisa. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pengelolaan program tersebut berjalan kurang maksimal. Kriteria ini dibuktikan dengan berjalannya program inti seperti kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini, Posyandu, dan Bank Sampah. Namun kegiatan inti tersebut mengalami anomali karena masih begantung pada bantuan dana pemerintah. Setelah dianalisis, anomali disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti kegiatan secara partisipatif. Meskipun demikian, masyarakat masih memiliki potensi untuk lebih optimal dalam berpartisipasi, yaitu didukung oleh banyaknya kelompok, komunitas, dan kelembagaan masyarakat yang ada. Disamping itu, masih terdapat potensi pemikiran, sikap kepedulian, dan semangat sebagian masyarakat terhadap program pemberdayaan. Untuk mengoptimalkan pemberdayaan partisipatif masyarakat Badran, pemerintah perlu melibatkan peran akademisi dan swasta. Hal ini penting sebagai stimulan untuk membangun step pemberdayaan dan pendampingan. Selain itu, masyarakat juga hendaknya menciptakan inovasi program tanpa pendanaan besar atau low budgeting namun tepat sasaran dan bermanfaat