UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Not a member yet
850 research outputs found
Sort by
Komunikasi dan Dakwah: Strategi Komunikasi dalam Penguatan Wawasan keislaman Remaja
This article explores how da’wa communication was carried out by Siti Rayana Hasibuan, a grandmother who became ngaji teacher in Matondang village. Through case study research, da’wa communication is described by explaining the communication's elements adjusted with da’wa context. In addition, historical factor and da’wa process journey are important aspects to describe the da’wa communication of Siti Rayana Hasibuan. The prominent finding of the research is in conducting da'wa communication, Siti Rayana Hasibuan uses more precision than rhetoric and others. Accuracy is intertpresented with discipline, patience, sincerity and sincerity.Artikel ini mengekplorasi tentang bagaimana komunikasi dakwah yang dilakukan oleh Siti Rayana Hasibuan seorang nenek yang menjadi guru ngaji di desa Matondang. Melalui penelitian studi kasus, komunikasi dakwah dideskripsikan dengan memaparkan unsur-unsur komunikasi yang disesuaikan dengan konteks dakwah yang dilakukan. Selain itu, factor historis dari perjalanan proses dakwah yang dilakukan juga menjadi penting dalam mendeskripsikan komunikasi dakwah Siti Rayana Hasibuan. Temuan menonjol dari penelitian adalah dalam melakukan komunikasi dakwah, Siti Rayana Hasibuan lebih menggunakan keteladanan dibanding retorika dan lainya. Keteladanan diinterprestasikan dengan kedisiplinan, kesabaran, keiklasan serta ketulusan
TERAPI REALITAS UNTUK MENANGANI TRAUMA (POST TRAUMATIC STRESS DISORDER) PADA KORBAN BULLYING DI BALAI PERLINDUNGAN DAN REHABILITASI SOSIAL WANITA YOGYAKARTA
ABSTRACTBullying (violence) has a very negative impact on victims both physically and psychologically. Not all victims of bullying dare to share the problems they are experiencing with others, even though this is very disturbing to the psychic or emotional level of the client. The minimal level of awareness of the surrounding environment is also the reason for the lack of handling victims of bullying. When not getting the right treatment it will be very detrimental to the victims in the future, especially when victims of bullying are underage children. The impact that will be caused is trauma.In this study we will discuss how reality therapy is used to deal with trauma for victims of bullying in the women's social protection and rehabilitation center (BPRSW). This study will also use several other therapies including religious therapy. Because in practice if you only use one theory or only use one theory, it is not very effective to help deal with the trauma experienced by victims of bullying.The choice of subject here is with the approval of the hall, psychologist, and also confirmation to the LS (victim). The data obtained by researchers is derived from the results of interviews with the parties, psychologists, and also victims. From the results of interviews and also conducting observations in the field directly, reality therapy is believed to be used to deal with trauma to victims of bullying even though it requires several other therapies in its application and also requires a short time and more intensive counseling with victims. Keyword: Bullying, Reality Therapy
ROAD TO HALF A DECADE OF JURNAL MD: MENGHIMPUN ENERGI DAN SEMANGAT BARU
Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan karunia-Nya sehingga Jurnal Manajemen Dakwah (Jurnal MD) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2019 ini dapat diterbitkan. Pada terbitan yang ke sembilan ini merupakan “debut” bagi saya sebagai managing editor Jurnal MD yang baru. Dalam hal ini keberadaan saya bukanlah untuk menggantikan yang lama, melainkan menjadi partner duet yang saling melengkapi. Selain itu beberapa reviewer dan editor baru juga telah bergabung untuk menjadi energi dan semangat baru dalam pengelolaan Jurnal MD yang lebih baik. Jurnal MD edisi kali ini kembali tersusun dari tujuh manuskrip karya para akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu kita perlu sekilas melihat initi bahasan dari tujuh manuskrip tersebut
STUDI KEBIJAKAN KAMPUS INKLUSIF: IMPLEMENTASI PERMENDIKBUD RI NO 46/2014
Di Yogyakarta, data statistik mengindikasikan masih minimnya tingkat partisipasi difabel di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sampai dengan tahun 2004, anak difabel yang bersekolah adalah 63,24% di jenjang pendidikan SD dan SMP. Partisipasi difabel di ranah pendidikan tinggi jauh lebih rendah lagi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya hambatan yang dialami difabel atau pun hambatan yang mungkin mereka alami. Tulisan ini ingin mengkaji bagaimana implementasi dari Permendikbud tersebut di PTN di DIY, yaitu di UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta. Alasan memilih kedua tempat ini karena kedua PTN ini banyak menerima mahasiswa difabel setiap tahun. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kampus UIN Sunan Kalijaga lebih baik dalam hal implementasi pendidikan inklusif yang menyangkut sarana/prasarana, layanan khusus untuk mahasiswa difabel, seleksi mahasiswa baru, dosen dan tenaga kependidikan, evaluasi pembelajaran dan fungsi layanan disabilitas Kata Kunci: Difabel, Pendidikan Inklusif, Studi Kebijaka
PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KEMANDIRIAN PADA EKS PSIKOTIK DI RUMAH PELAYANAN SOSIAL EKS PSIKOTIK HESTINING BUDI KLATEN
Ex Psychotics are people who have experienced mental disorders and are declared cured of mental hospitals, but they do not have proper independence. Therefore, they need an independent guidance service. This research is intended to find out the process of implementing independence guidance services, supporting and inhibiting factors and the form of independence in ex psychotics at the Social Services House of the former Psychotic Hestining Budi Klaten This study uses a descriptive qualitative approach. The subjects of this study were four social workers and three beneficiaries selected using a purposive sampling technique at the Social Services House of the Former Psychotic Hestining Budi Klaten. With data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation. In testing the validity of data using source triangulation. While for data analysis techniques using several stages starting from data collection (data collection), data reduction (data reduction), presenting data (data display), and drawing conclusions (conclusion: drawing / verifying). The results of this study that the implementation of independence guidance services at the Social Services House of Ex-Psychotic Hestining Budi Klaten is carried out through several stages including (1) Planning, namely social workers determine in advance the material to be given to ex psychotics; (2) Implementation, namely the provision of material to ex psychotics starting from Daily Living Activist (DLA) guidance, physical guidance, mental guidance, social guidance, and skills guidance; (3) Evaluation, namely giving an assessment from the results of the implementation of guidance; (4) Follow-up, which is the step to proceed to further guidance. Inhibiting factors in the implementation of independence guidance services such as facilities and infrastructure, Human Resources, ex-psychotic conditions, society, and difficulties in selling ex-psychotic works, while supporting factors start from the existence of good cooperation between social workers and outside parties/institutions, facilities and infrastructure, and family. The success of the independence guidance service process, namely ex psychotics is able to be independent in taking care of themselves, interact socially, carry out worship, and skills. Keyword: Independent guidence service, ex psikoti
Social Policy in the Early Decentralization Era: Formulation and Politicization to the Local Public Health Insurance in Banyuwangi
In the development of a country or a region, the quality of citizen’s health is very important. So that’s why, in order to improve the quality of citizen’s health, there needs a social policy action by the government, especially with the right decision making in its formulation process. In the local context, the Banyuwangi Public Health Services Insurance (JPKMB) Program is the answer to these problems, where the program offers free primary health service without charge for whole community levels. The main finding in this research is that in the decision making of the JPKMB Program, the decision-maker claims that they have done in-depth consideration and analysis using the rational approach model. But the facts on the research suggests that decision-makers tend to use an incremental approach model, where they make decisions quickly because it is affected by various limitations. This is due to health issues being politicized in terms of political campaigning purposes by one of the candidates who was competing in the local general elections of Banyuwangi Regency 2005. Consequently, after the candidate has been elected, the candidates should run the free health service program immediately, no matter what way. Its can be said that the decision making of the JPKMB Program is not going through a mature process.Dalam pembangunan suatu negara ataupun daerah, kualitas kesehatan masyarakat sangatlah penting. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dibutuhkan kebijakan sosial yang baik dari pemerintah, kususnya melalui pembuatan keputusan yang tepat dalam proses formulasinya. Pada tataran lokal, Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Banyuwangi (JPKMB) adalah jawaban dari masalah tersebut, dimana dalam program tersebut disediakan pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh lapisan masyarakat. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa dalam pembuatan keputusan program JPKMB, pembuat keputusan mengklaim telah menggunakan pertimbangan dan analisis mendalam dengan model pendekatan rasional. Tapi pada faktanya peneliti lebih menemukan gejala bahwa pembuat keputusan cenderung menggunakan model inkremental, dimana mereka membuat keputusan dalam proses yang sangat cepat disebabkan berbagai keterbatasan. Dalam hal ini isu kesehatan telah dipolitisasi sebagai alat kampanye politik dari salah satu kandidat yang berkompetisi di Pilkada Banyuwangi 2005. Konsekuensinya setelah kandidat tersebut terpilih, pelayanan kesehatan gratis harus segera dilakukan, tidak peduli bagaimanapun caranya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembuatan keputusan program JPKMB tidaklah melalui proses yang matang
Penyaluran Dari Tunai Ke Non Tunai: Studi Peran Pendamping dalam Mengawal Konversi PKH di Dlingo
Conditional Cash Transfer (CCT) is the country’s poverty reduction policy. In 2017, CCT has changed its cash distribution mechanism to non-cash. The change in the distribution mechanism was alleged as the state’s response to the problems that arose beforehand so that through non-cash it could be really well received by the beneficiaries effectively. This policy change is evenly distributed throughout Indonesia, including in Bantul Regency, Dlingo District. To see the effectiveness of the program from cash to non-cash, this article aims to examine the role of facilitators in the distribution process to beneficiaries. This article is a development of the results of qualitative research. The data collection is through the interview, observation, and documentation methods. Meanwhile, not all participants were interviewed, but only a small part was taken by probability sampling methods. The results of the study in this article show that the role of the facilitator can run effectively with several main activities, including participant sharing, education, and training for beneficiaries, assisting the priority and empowering potential, and organizing learning groups.Program Keluarga Harapan (PKH) adalah kebijakan penanggulangan kemiskinan negeri ini. Di tahun 2017 PKH telah berubah mekanisme penyalurannya dari tunai menjadi non tunai. Perubahan mekanisme penyaluran ini disinyalir sebagai respon negara atas persoalan yang muncul sebelumnya sehingga melalui non tunai dapat betul-betul diterima dengan baik oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) secara efektif. Perubahan kebijakan ini merata di seluruh Indonesia tidak terkecuali di Kabupaten Bantul, Kecamatan Dlingo. Untuk melihat efektivitas program dari tunai ke non tunai, artikel ini hendak mengkaji tentang peran pendamping dalam proses penyaluran kepada KPM. Artikel ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian kualitatif. Adapun pengambilan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tentu pengambilan data tidak semua peserta diwawancarai, namun hanya sebagian kecil diambil dengan metode probability sampling. Hasil kajian pada artikel ini menunjukan bahwa peran pendamping dapat berjalan secara efektif dengan beberapa kegiatan pokok, antara lain: pembagian peserta, pendidikan dan pelatihan bagi KPM, mendampingi yang prioritas dan memberdayakan yang potensial, dan pengorganisasian kelompok belajar
Penataan Kawasan Sungai Winongo Berbasis Partisipasi Masyarakat di Pakuncen Yogyakarta
All major cities have slums located on the river. During this time the arrangement of slums was directly carried out by the government. But the results were often rejected because it isn't under the conditions of the community. This condition was pushed new concepts of the planning residential on the river are based on participation. The fact also made me discuss the process and implication of the arrangement residential Winongo River in Pakuncen Yogyakarta based on participation. This research is using a phenomenology approach. The data collected through the interview and observation process. The process of the arrangement River area is six steps, namely assessment, planning, lobbying, implication, monitoring, and evaluation. This study was founded that the arrangement River based on participation is implicated positively. The implication is seeking the change on environmental, attitude, and awareness of societies to kept habitation more than beautiful. In the other aspect, this activity was a growth cooperation spirit and the people of increase economic. However, the arrangement of the Winongo river area was still found by some adolescent making the location of the riverbank an unproductive gathering place. This event is considered able to disturb society because it is not following social norms. This condition needs counseling for the adolescent who are in puberty.Hampir semua kota besar mempunyai permukiman kumuh yang berada di kawasan bantaran sungai. Selama ini penataan kawasan kumuh langsung dilakukan oleh pemerintah tapi hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi semacam ini mendorong konsep baru dalam penataan kawasan sungai dengan berbasis partisipasi masyarakat. Fakta ini mendorong peneliti untuk mendiskusikan proses dan implikasi penataan kawasan Sungai Winongo di Pakuncen Yogyakarta berbasis partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dan observasi. Proses penataan kawasan ini melalui enam tahap, yakni assassment (identifikasi masalah), perencanaan, lobbying, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Studi ini menemukan bahwa progam penataan kawasan sungai berbasis partisipasi mayarakat berimplikasi positif. Implikasi penataan tersebut terlihat dalam perubahan kondisi fisik (lingkungan), perubahan perilaku masyarakat, dan kesadaran masyarakat untuk menjaga permukiman yang lebih asri. Pada aspek lain, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan peningkatan ekonomi masyarakat. Namun demikian, penataan kawasan sungai Winongo masih ditemukan sebagian remaja menjadikan lokasi bantaran sebagai ajang berkumpul yang tidak produktif. Ajang ini dianggap dapat meresahkan masyarakat karena tidak sesuai dengan normal sosial. Kondisi ini perlu ada pendampingan khusus kepada remaja yang berada pada masa pubertas
KEBERAGAMAN MAD’U SEBAGAI OBJEK KAJIAN MANAJEMEN DAKWAH: ANALISA DALAM MENENTUKAN METODE, STRATEGI, DAN EFEK DAKWAH
Islam merupakan agama dakwah yang pada prinsipnya selalu memberikan kasih sayang, keselamatan, kedamaian dan kenyamanan bagi siapapun. Siapa saja boleh melakukan aktivitas dakwah untuk menyebarluaskan agama Islam, tapi pada konteks sosio-kultural dan sosio-religius yang ada pada masyarakat Indonesia sebagai objek dakwah, da’i dihadapkan pada satu hal yang sangat penting untuk dikaji terkait dengan keberadaan masyarakat atau mad’u yang sangat beragam. Manajemen dakwah pada konteks mad’u yang sangat beragam menjadi perhatian yang sangat serius bagi seorang da’i karena setiap perbedaan-perbedaan cara pandang dipengaruhi oleh situasi budaya yang ada pada masyarakat. Masyarakat sebagai objek dakwah baik secara indivdu maupun kelompok memiliki pandangan yang beragam baik tentang nilai, aturan-aturan dan cara menentukan definisi dari Islam itu sendiri. Memilih pesan-pesan dakwah untuk disampaikan kepada mad’u agar semua perbedaan-perbedaan yang ada pada masyarakat dapat terakomodir sehingga tidak menyudutkan salah satu dari sekian banyak perbedaan itu. Identifikasi keberadaan mad’u sebelum melakukan akatifitas dakwah adalah sebuah keharusan bagi pelaku dakwah itu sendiri agar dapat menentukan pilihan da’i, metode dakwah, strategi dakwah dan pesan dakwah yang sesuai dengan kondisi sosial dan kondisi sosio-religius masyarakat. Mad’u sebagai salah satu unsur dakwah memiliki keistimewaan yang berbeda di antara unsur-unsur yang lain, karena lahirnya aktivitas dakwah tentu dipengaruhi oleh keberadaan mad’u. Maka penting bagi pelaku dakwah untuk mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan masyarakat dalam penyampaian pesan dakwah.Kata Kunci: Manajemen Dakwah, Keberagaman Mad’u, Pesan Dakwa