eJournal Universitas Nusa Bangsa
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
ANALISIS STOK KARBON HUTAN MANGROVE PADA BERBAGAI TINGKAT KERUSAKAN DI SEGARA ANAKAN CILACAP
Cabrbon Stock Analysis of Mangrove Forest in Every Damaged Level in Segara Anakan Cilacap        Mangrove is a specific vegetation type, found in tropical and subtropical beach area which located in Cilacap  at a sloping beach area near the mouth of a river and the beach protected from the waves. Segara anakan is one of mangroves region which located at 108 º 46'-109 º 03 'E and 07 º 34' - 07 º 47 'South Latitude. Human activities series in Segara anakan mangrove lead the damage of this region, it affects to the ecological and biological or mangrove function as carbon storage place. The aims of this research was to analyze the damage level of mangrove in Segara anakan, Cilacap; to know the spatial distribution of mangrove damage level in Segara anakan; analyze the amount of biomass and carbon stocks at various of damage level in Segara anakan, and to know the number corelation of carbon stocks with damage level in Segara anakan, Cilacap.The research used survey method with purposive random sampling that determine the sampling location based on the damage level. Damage analysis used assessment teristis method (field survey) and than spasial distribution used surfer 9.0 and ArcView GIS 3.2. Biomass analysis and the amount of carbon stock used descriptive methods, damage level correlation and the amount of carbon stock used Pearson correlation analysis (SPSS software vs. 19).The result was Segara anakan mangrove, Cilacap currently was divided into not damage (7 station), damaged (3 station) and heavily damaged (5 station) categories. The amount of biomass and carbon stocks in not damaged area (57,67 tons/ha and 26,50 tons/ha); damaged area (23,40 tons/ha and 10,74 tons/ha, and the heavily damaged area (9,49 tons/ha and 4,37 tons/ha). The destruction of mangrove forest affected the amount of biomass and carbon stocks in Segara anakan, Cilacap.Keywords : mangrove, carbon stock, damage level, Segara Anakan Cilacap ABSTRAK       Hutan mangrove merupakan tipe vegetasi khas, terdapat di daerah pantai tropis dan subtropis yang tumbuh subur di daerah pantai yang landai di dekat muara sungai dan pantai yang terlindung dari hempasan gelombang. Segara Anakan adalah salah satu kawasan hutan mangrove yang terletak pada koordinat 07º34’ - 07º47’ LS dan 108º46’- 109º03’ BT. Serangkaian aktivitas manusia di kawasan hutan mangrove Segara Anakan menyebabkan kawasan ini mengalami kerusakan, hal tersebut berpengaruh terhadap fungsi ekologis dan biologis serta fungsi hutan mangrove sebagai penyimpan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui tingkat kerusakan hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap; mengetahui distribusi spasial potensi stok karbon hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap  dan mengetahui korelasi jumlah stok karbon dengan tingkat kerusakan di Segara Anakan Cilacap.Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan teknik purposive random sampling  yaitu menentukan lokasi sampling berdasarkan  pada tingkat kerusakan. Analisis kerusakan menggunakan metode penilaian teristis (survey lapangan) yang selanjutnya didistribusi spasial menggunakan surfer 9.0 dan Arcview GIS 3.2. Analisis biomassa dan jumlah stok karbon menggunakan metode deskriptif, korelasi tingkat kerusakan, dan jumlah stok karbon menggunakan analisis korelasi Pearson (Software SPSS vs. 19). Hasil yang diperoleh adalah hutan mangrove Segara Anakan Cilacap saat ini terbagi menjadi area dengan kategori tidak rusak (7 stasiun), rusak (3 stasiun) dan rusak berat (5 stasiun). Jumlah biomassa dan stok karbon di area yang tidak mengalami kerusakan (57,67 ton/ha dan 26,50 ton/ha), area yang rusak (23,40 ton/ha dan 10,74 ton/ha, dan area yang rusak berat (9,49 ton/ha dan 4,37 ton/ha). Kerusakan hutan mangrove berpengaruh terhadap jumlah biomassa dan stok karbon di Segara Anakan.Kata Kunci: mangrove, stok karbon, tingkat kerusakan,SegaraAnakan Cilaca
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN KORTIKOSTEROID SINTETIK DEKSAMETASON DAN PREDNISON) DALAM JAMU SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)
Synthetic Compounds Analysis of Group Corticosteroids (Dexamethasone and Prednisone) at medicinal Herbs with High Performance Liquid Chromatography (HPLC)        Additional of chemicals into the traditional medicine is often done to make it an instant potent drug, that can attract customers. The chemicals that often added, one of which is a synthetic corticosteroid groups such as dexamethasone or prednisone. Dexamethasone and prednisone is hard drugs that should be used under a doctor's supervision. The purpose of this study was to analyze the content of the compound of synthetic corticosteroid dexamethasone and prednisone in herbal medicine in Bogor on June of 2011. Samples were taken from the traditional market Ciawi, Bogor. Samples that was taken consisted of herbs stiff, stamina enhancer and appetite enhancer, each sample consist of two brands and was taken twice of sampling. Sampling was conducted in the first week of June and the second sampling conducted during the third week in June where samples were taken from the same brand with a different batch number. Phase analysis included qualitative and quantitative analysis of compounds dexamethasone and prednisone in herbal medicine phase HPLC, using a mixture of deionized water: methanol : acetonitrile with composition 50 : 30 : 20, C18 column and UV-Vis detector at a wavelength of 244 nm. Based on the research, found a compound dexamethasone on ten samples from twelve samples analyzed, respectively by 0.52 mg/g, 0.54mg/g, 1.78 mg/g, 1.79 mg/g, 0 , 59 mg/g, 0.49 mg/g, 0.22 mg/g, 0.22 mg/g, 0.19 mg/g and 0.18 mg/g. The amount of content in different brands of herbal medicine dexamethasone significantly different, whereas the content of dexamethasone on a brand drugs at the time of sampling or a different batch numbers, were not significantly different. In addition to samples A1 and A2 were found dexamethasone, prednisone also found the compound, each 1.56 mg/g and 1.92 mg/g, with prednisone significantly different content.Keywords : Dexamethasone, Prednisone, Corticosteroid, HPLC ABSTRAK          Penambahan bahan kimia ke dalam obat tradisional sering kali dilakukan untuk membuat obat tersebut menjadi manjur secara instan, sehingga dapat menarik minat konsumen. Bahan kimia yang biasa ditambahkan salah satunya adalah golongan kortikosteroid sintetik seperti deksametason atau prednison. Deksametason dan prednison merupakan obat keras yang penggunaannya harus dalam pengawasan dokter. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan senyawa golongan kortikosteroid sintetik deksametason dan prednison dalam jamu yang beredar di kota Bogor pada bulan Juni tahun 2011. Sampel diambil dari pasar tradisional Ciawi, Bogor. Sampel yang diambil terdiri dari jamu pegal linu, penambah stamina dan penambah nafsu makan, masing–masing terdiri dari dua merek dan diambil sebanyak dua kali sampling. Sampling pertama dilakukan pada minggu pertama bulan Juni dan sampling kedua dilakukan pada minggu ketiga bulan Juni dimana sampel diambil dari merek yang sama dengan nomor batch yang berbeda. Tahap analisis meliputi analisis kualitatif maupun kuantitatif senyawa deksametason dan prednison dalam jamu secara KCKT, menggunakan fase gerak campuran dari air deionisasi : metanol : asetonitril dengan komposisi 50 : 30 : 20, kolom C18 dan detektor UV – Vis pada panjang gelombang 244 nm. Berdasarkan penelitian, ditemukan adanya senyawa deksametason pada sepuluh sampel dari dua belas sampel yang dianalisis, masing – masing sebesar 0,52 mg/g, 0,54 mg/g, 1,78 mg/g, 1,79 mg/g, 0,59 mg/g, 0,49 mg/g, 0,22 mg/g, 0,22 mg/g, 0,19 mg/g dan 0,18 mg/g. Besarnya kandungan deksametason dalam berbagai merek jamu berbeda secara nyata, sedangkan kandungan deksametason pada suatu merek obat pada waktu sampling atau nomor batch yang berbeda, tidak berbeda nyata. Pada sampel A1 dan A2 selain ditemukan deksametason, juga ditemukan adanya senyawa prednison, masing – masing 1,56 mg/g dan 1,92mg/g, dengan kandungan prednison yang berbeda nyata.Kata Kunci : Deksametason, Prednison, Kortikosteroid, KCK
AKTIVITAS FUNGISIDA BAHAN PENGAWET KAYU BERBAHAN AKTIF MAJEMUK TERHADAP JAMUR BIRU Diplodia sp
Fungicide Activity of Complex-Active Ingredient of Preservative Wood Against Bluestain of Diplodia sp.        Wood preservatives containing chlorotalonyl 450 g/L and carbendazim 100 g/L (Entiblu 450/100SC) was a pesticide compound serves to prevent fungal attacks Diplodia sp on the media of PDA (Potato Dextrose Agars) and to prevent germination of the spores. Inhibition of the rate and intensity of Diplodia sp fungus attacks on the media in petridish indicated a slowing rate of growth of the mycelium. The results showed that the pesticides containing chlorotalonyl 450 g/L and carbendazim 100 g/L with a concentration of 2 x 1.5 kg/ m³ could prevent the growth of the mycelium of Diplodia sp, inhibition rate reached 100%. For single ingredient chlorotalonyl 75 % (Chlorotalonil 75 WP) a concentration of ½ x 0.375 kg/m³ had been able to prevent the growth of the mycelium up to 100 %, while in carbendazim 50 % (Carbendazim 50 WP) to reached 100 % inhibition at a concentration of 1 x 0.75 kg/m³. Pesticides which was a mixture of active ingredients chlorotalonyl 450 g/L and carbendazim 100 g/L  no antagonism activity.Keywords : fungicide, complex active ingredient, bluestain of Diplodia sp, chlorotalonyl, carbendazim ABSTRAK          Bahan pengawet kayu yang mengandung klorotalonil 450 g/L dan karbendasim 100 g/L (Entiblu 450/100SC) merupakan pestisida majemuk berfungsi untuk mencegah serangan jamur Diplodia sp pada media agar PDA (Potato Dextrose Agar) dan mencegah perkecambahan spora. Penghambatan laju dan intensitas serangan jamur Diplodia sp pada media dalam cawan petri ditunjukkan pelambatan kecepatan pertumbuhan miselium. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada pestisida yang mengandung klorotalonil 450 g/L dan karbendasim 100 g/L dengan konsentrasi 2 x 1,5 kg/m³ dapat mencegah pertumbuhan miselium Diplodia sp , tingkat penghambatan mencapai 100 %. Untuk bahan tunggal klorotalonil 75 % (Chlorotalonil 75WP) pada konsentrasi ½ x 0,375 kg/m³ telah mampu mencegah pertumbuhan miselium sampai 100 %, sedangkan pada karbendasim 50 % (Carbendazim 50 WP) untuk mencapai penghambatan 100 % baru pada konsentrasi 1 x 0,75 kg/m³. Pestisida yang merupakan campuran bahan aktif klorotalonil 450 g/L dan karbendasim 100 g/L tidak ada aktivitas antagonisme.Kata kunci : fungisida, bahan aktif majemuk, jamur biru Diplodia sp, klorotalonil, karbendasi
ISOLASI DAN KARAKTERISASI KITIN DARI LIMBAH UDANG
Isolation and Characterization of Chitin From Shrimp Waste          Chitin is a natural biopolymer that is widespread in nature and the second abundance only to cellulose organic compounds are available in the earth. In general, in nature chitin are not included in the free state, but binds to the protein, mineral and pigment in various animal skeletons group of arthropoda, annelida, mollusk, coelenterata, nematodes, insects, and some classes of fungi and the organic constituent part is very important. Average shrimp shell contains 25-40% protein, 40-50% CaCO3 and 15-20% chitin, but the magnitude of the component content is still dependent on species and habitats. Although chitin is widespread in nature, but the main source that can be utilized as a source of chitin is the use of shrimp waste. This is because the shrimp waste easily obtained in large quantities that can be produced commercially. The purpose of this study was to determine how the isolation of chitin from shrimp waste by chemical processes and their characterization and compare in detail the content of chitin found in the head, body and tail skin of the shrimp. In addition, to determine the effect of insulating phases of chitin to chitin produced. This study is an experimental research by isolation of chitin in the head, body and tail skin of the shrimp. In the early stages of shrimp waste preparation where the head and skin of the body and tail of each shrimp was separated, cleaned, dried, and milled. Chitin isolation process is done by two ways in which the first stage on the way deproteination done first and subsequent demineralization stages. While in the second stage of demineralization way done first, followed deproteination stage. In phase deproteinasi NaOH 1N solution with a ratio of 1: 10 (by weight of shrimp sample: NaOH 1N). This process was carried out at a temperature of 65oC for three hours. While in the process of demineralization using HCl 2N solution and soaked for 2 hours with a comparison between the shells samples with HCl used are 1: 15. After that just do the bleaching process. Each repetition of the way done twice. Research results show that the insulating phase difference of chitin used apparently affect the yield and ash content obtained, where the first way yield of chitin and ash content obtained was higher yield compared to the results obtained of the latter, while the drying process was done would affect water levels obtained. In the solubility test, partially chitin produced solved in LiCl or dimethylacetamide. Overall chitin obtained meet the requirements of the specification of commercial chitin. In addition, from the head, the skin of the body and the tail of shrimp the higest chitin content ever found was on the skin of the bodyKey words : Isolation, Characterization, Chitin, and Shrimp Waste ABSTRAK          Kitin adalah biopolimer alami yang tersebar luas di alam dan merupakan senyawa organik kedua setelah selulosa yang sangat melimpah di bumi. Pada umumnya kitin di alam tidak terdapat dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral dan berbagai macam pigmen pada kerangka hewan golongan Arthropoda, Annelida, Molusca, Coelenterata, Nematoda, beberapa kelas serangga serta jamur dan merupakan bagian konstituen organik yang sangat penting. Rata-rata kulit udang mengandung 25-40% protein, 40-50% CaCO3 dan 15-20% kitin, tetapi besarnya kandungan komponen tersebut juga masih tergantung kepada spesies dan habitat. Walaupun kitin tersebar luas di alam, akan tetapi sumber utama yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitin adalah penggunaan limbah udang. Hal ini dikarenakan limbah udang mudah diperoleh dalam jumlah banyak sehingga dapat diproduksi secara komersial.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara isolasi kitin dari limbah udang dengan proses kimia beserta karakterisasinya dan membandingkan secara terperinci kandungan kitin yang terdapat pada bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh dari tahapan isolasi kitin terhadap kitin yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan isolasi kitin pada bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang. Pada tahap awal dilakukan preparasi limbah udang dimana bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang masing-masing dipisahkan dan dibersihkan, lalu dikeringkan dan digiling. Proses isolasi kitin dilakukan dengan dengan dua cara dimana pada cara pertama tahap deproteinasi dilakukan terlebih dahulu dan berikutnya tahap demineralisasi. Sementara pada cara kedua tahap demineralisasi dilakukan terlebih dahulu, lalu diikuti tahap deproteinasi. Pada tahap deproteinasi menggunakan larutan NaOH 1N dengan perbandingan 1 : 10 (berat sampel kulit udang : NaOH 1N). Proses ini dilakukan pada suhu 65oC selama tiga jam. Sementara pada proses demineralisasi menggunakan larutan HCl 2N dan direndam selama 2 jam dengan perbandingan antara sampel kulit udang dengan HCl yang digunakan adalah 1 : 15. Setelah itu baru dilakukan proses pemutihan. Masing-masing cara dilakukan pengulangan sebanyak dua kali. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tahap isolasi kitin yang digunakan ternyata berpengaruh terhadap rendemen hasil dan kadar abu yang didapatkan, dimana pada cara pertama rendemen hasil kitin dan kadar abu yang didapatkan lebih tinggi dibandingkan dengan rendemen hasil yang didapatkan pada cara kedua, sedangkan proses pengeringan yang dilakukan akan berpengaruh terhadap kadar air yang didapatkan. Pada uji kelarutan, kitin yang dihasilkan larut sebagian dengan LiCl atau dimetilasetamida. Secara keseluruhan kitin yang diperoleh memenuhi persyaratan dari spesifikasi kitin niaga. Selain itu dari bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang kandungan kitin terbanyak terdapat pada kulit bagian badanKata kunci : Isolasi, karakterisasi, kitin, dan limbah udan
KEABSAHAN METODE ANALISIS KADAR PCMX (p-chloro m-xylenol) DALAM SABUN CAIR ANTISEPTIK
Validity of Analysis Method for PCMX (p-chloro m-xylenol) Concentration in Antiseptic Liquid Soap         PCMX (p-chloro m-xylenol) is an active substance functioning to kill bacteria (bactericide), generally added to the formula of soap, detergents, antiseptics, disinfectants and various other products. The purpose of this study was to verify the validity of PCMX concentration analysis method in antiseptic liquid soap using High PerformanceLiquid Chromatograph (HPLC)so that it was trustworthy and could be used as a routine analysis in the Quality Assurance Laboratory of Reckitt Benckiser Indonesia Company. Parameters of analysis method performance were selectivity, linearity, instrument precision, repeatability, intermediete precision, and accuracy. The mobile phase used was a mixture of methanol and 1% v/v glacial acetat acid in de-ionized water with the ratio of 55:45. The HPLC Agilent 1200 UV detector was given the following setting: Spherisorb 5 ODS 1 coloumn (150 x 4,6) mm, flow rate 2,0 ml/min, injection volume 20 µL, detection UV at 280 nm, temperature 40 0C, and run time 20 minutes. The validation result in: selectivity test, analyte (PCMX) devider peak without disturbance from other components in the sample; linearity test: r>0,9996; instrument precision: RSD percentage values for standard solution 0,028 mg/L and 0,036 mg/L were 0,08% and 0,45% respectively; repeatability: RSD percentage value was 0,98%; intermediate precision: the method didn’t give any real difference in different analysis in adifferent execution period; and accuracy: recovery value was 108,98%. Based on the result,it could be concluded that this method of analysis was trustworthy and could be used as a routine analysis at Reckitt Benckiser Indonesia Company.Keywords: Validity of Analysis Method, PCMX (p-chloro m-xylenol), High Performance Liquid Chromatograph ABSTRAK        PCMX (p-chloro m-xylenol) merupakan zat aktif yang berfungsi mematikan bakteri (bakterisida), umumnya ditambahkan ke dalam formula sabun, detergen, antiseptik, desinfektan, dan berbagai produk lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keabsahan metode analisis kadar PCMX dalam sabun cair antiseptik menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) sehingga layak dan dapat dipercaya untuk analisis rutin di laboratorium Quality Assurance PT Reckitt Benckiser Indonesia. Parameter kinerja metode analisis mencakup selektivitas, linieritas, presisi, dan akurasi. Fase gerak yang digunakan adalah campuran antara metanol dan larutan asam asetat glasial 1% v/v dalam de-ionized water dengan perbandingan 55:45. Pengukuran dilakukan menggunakan KCKT Agilent 1200 UV detector dengan pengaturan sebagai berikut: kolom 150 x 4,6 mm Spherisorb 5 ODS 1, kecepatan alir 2,0 mL/min, volume injeksi 20 µL, panjang gelombang 280 nm, temperatur 40 0C, dan waktu analisis 20 menit. Hasil pengujian diperoleh uji selektivitas berupa peak yang mampu memisahkan analit (PCMX) dalam sampel tanpa gangguan dari komponen lain dalam sampel. Uji linieritas menghasilkan r>0,9996. Presisi instrumen menghasilkan % RSD untuk konsentrasi larutan standar 0,028 mg/mL dan 0,036 mg/mL berturut-turut adalah 0,08% dan 0,45%. Keterulangan menghasilkan % RSD sebesar 0,98%. Presisi antara menunjukkan bahwa metode analisis tidak memberikan hasil yang bervariasi (berbeda nyata) jika dilakukan oleh analis yang berbeda pada waktu yang berbeda dan uji akurasi menghasilkan %recovery sebesar 108,98%. Berdasarkan hasil kinerja metode analisis kadar PCMX tersebutdapat disimpulkan bahwa metode analisis ini valid, sehingga layak untuk digunakan di laboratorium Quality Assurance PT Reckitt Benckiser Indonesia.Kata Kunci: Keabsahan Metode, PCMX (p-chloro m-xylenol), Kromatografi Cair Kinerja Tingg
MODEL ISOTERM FREUNDLICH DAN LANGMUIR OLEH ADSORBEN ARANG AKTIF BAMBU ANDONG (G. verticillata (Wild) Munro) DAN BAMBU ATER (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro)
Freundlich and Langmuir Isotherms Model by Active Chorcoal Adsorbent Bamboo Andong  (G. verticillata (Wild) Munro) and Bamboo Ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro)         Diazinon insecticide adsorption by two types of adsorbent, namely activated charcoal bamboo andong (G. verticillata (Wild) Munro) and bamboo ater (G. atter (Hassk) Kurzex Munro) at optimum conditions determined the maximum adsorption capacity of both types of adsorbent. Data analysison the effect of concentration on the adsorption capacity was used Langmuir and Freundlich isotherms equation. It was obtained. That  the curve of adsorption isotherms of the Langmuir isotherm better modeled with linear regression coefficients were relatively more approach 1 is R2 = 0,996 for both types of adsorbents. Langmuir isotherm equation obtained from adsorpsi maximum capacity of activated charcoal bamboo andong (G. verticillata (Wild) Munro) of  4.630 mg/g (1,433.10-5 mol/g) with K = 0,332 (Kmol/L)-1 and Eads at -2,750 kJ/mol, while the activated charcoal bamboo ater (G. atter (Hassk) Kurzex Munro) produce the maximum adsorption capacity of 1,786 mg/g (5,868.10-6 mol/g) with K = 0,202 (Kmol/L)-1 and Eads = -3,898 kJ/mol, so the adsorption of both types of adsorbents indicated experiencing a physical adsorption (physisorption / fisisorpsi).Keyword: G. verticillata (Wild) Munro, G. atter (Hassk) Kurz ex Munro, Adsorption, Diazinon, actived charcoal ABSTRAK         Adsorpsi insektisida diazinon oleh dua jenis adsorben, yaitu arang aktif bambu andong (G. verticillata (Wild) Munro) dan bambu ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro) pada kondisi optimum bertujuan untuk menentukan kapasitas adsorpsi maksimum dari kedua jenis adsorben. Analisis data pengaruh konsentrasi terhadap kapasitas adsorpsi digunakan persamaan isoterm Langmuir dan Freundlich. Berdasarkan data yang diperoleh, kurva isoterm adsorpsi lebih mengikuti model isoterm Langmuir dengan koefisien regresi linier yang relatif lebih mendekati 1 yaitu R2 = 0,996 untuk kedua jenis adsorben. Dari persamaan isoterm Langmuir diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum arang aktif bambu andong (G. verticillata (Wild) Munro) sebesar 4,630 mg/g (1,433.10-5 mol/g) dengan K = 0,332 (Kmol/L)-1 dan Eads sebesar -2,750 kJ/mol, sedangkan arang aktif bambu ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro) menghasilkan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 1,786 mg/g (5,868.10-6 mol/g) dengan K = 0,202 (Kmol/L)-1 dan Eads = -3,898 kJ/mol, sehingga adsorpsi kedua jenis adsorben diindikasikan mengalami adsorpsi secara fisik (physisorption/ fisisorpsi).Kata kunci : G. verticillata (Wild) Munro, G. atter (Hassk) Kurz ex Munro Adsorpsi, Diazinon, Arang akti
OPTIMALISASI KADAR ABU DALAM PEMBUATAN MINYAK JARAK PAGAR TERVULKANISASI
Optimization of Ash Content on the Synthesize of Vulcanized Jarak Pagar (Jatropha curcas) Oil        Developments in the preparation of rubber compound formulations should be followed by a rubber compounder, especially in modifying the formula. Rubber compound composed of rubber as an elastomer and its chemical. Each ingredient has a specific function and influence to the properties of rubber articles. The research studied the formulation of vulcanized oil of Jatropha curcas to obtain the best quality in terms of ash content. The experiment begins with the characterization of Jatropha curcas oil and testing of ash content of each component in the formulation of vulcanized Jatropha curcas oil. The results was used as the basis for formulation of vulcanized Jatropha curcas oil components. Vulcanized Jatropha curcas oil was synthesized at the laboratory scale (100 g oil / batch) at 140OC temperature, agitation speed of 100 rpm, and the variation of dose Na2CO3 and ZnO (0.25; 0.50, and 0.75 pho). Vulcanized Jatropha curcas oil obtained were analyzed for visualization of physical and chemical properties. The experimental results showed that the lowest of ash content of vulcanized Jatropha curcas oil was of 1.24% obtained from the reaction by the addition of 0,25 pho of Na2CO3 and 0,50 pho of ZnO. This dose was defined as the optimal dose because it gived the ash content that meets the requirements of commercial vulcanized oil (max 1.5%).Keywords: Rubber compound, elastomer, Jatropha curcas oil ABSTRAK       Perkembangan teknik formulasi dalam penyusunan kompon karet harus dapat diikuti oleh rubber compounder terutama dalam memodifikasi formula tersebut. Kompon karet tersusun atas karet sebagai elastomer dan bahan kimianya. Setiap bahan kimia karet memiliki fungsi dan pengaruh yang spesifik terhadap sifat barang jadi karet. Pada penelitian ini dipelajari formulasi bahan dalam pembuatan minyak tervulkanisasi agar diperoleh mutu terbaik ditinjau dari segi kadar abu. Percobaan diawali dengan karakterisasi minyak jarak pagar dan pengujian kadar abu setiap komponen dalam formulasi minyak jarak pagar tervulkanisasi. Hasilnya digunakan sebagai dasar penyusunan formulasi komponen minyak jarak pagar tervulkanisasi. Minyak jarak pagar tervulkanisasi dibuat pada skala laboratorium (100 g minyak/batch) pada suhu 140oC, kecepatan pengadukan 100 rpm, dan variasi dosis Na2CO3 serta ZnO (0,25; 0,50; dan 0,75 bsm). Minyak jarak pagar yang diperoleh dianalisis visualisasi fisik dan sifat kimianya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar abu minyak jarak pagar tervulaknisasi terendah sebesar 1,24% diperoleh dari reaksi dengan penambahan 0,25 bsm Na2CO3 dan 0,50 bsm ZnO. Dosis ini ditetapkan sebagai dosis optimal karena memberikan kadar abu yang memenuhi persyaratan minyak nabati tervulkanisasi komersial (maks 1,5%).Kata kunci: Kompon karet, elastomer, minyak jarak paga
PEMBUATAN MINYAK KELAPA MENGGUNAKAN KULIT NANAS
The Making of Coconut Oil Using a Pineapple Skin       The aim of this research was to find the right formula and making more quantity of coconut oil with fermentation method. In this research coconut milk that used was cream. The cream was mixed withs pineapple skin juice. Research was done the pre test to choose the optimum concentration, temperature and incubation time. The optimum condition produced was used to process of making coconut oil. The optimum concentration oil produced was 1: 1 at 65oC in 24 hours of incubation. Results of making coconut oils got the volume of 276 mL oil besides, thats oil was produced from cream without pineapple skin as the blank, that was produced 100mL oil. Coconut oil with pineapple skin had been analysed and having: Water content 0.5873%, waste 1.24%, free fat acid 2.31, iod number 8.51, saponification number 258.02, peroxidase number 0.591, negative pelican oil, negative heavy metal, normal organoleptic test.Based on this research could be concluded that coconut oil with pineapple skin entered to standard SNI 012902-1992.key words: coconut milk, cream, fermentation, pineapple skin ABSTRAK       Penelitian ini bertujuanuntuk  memperoleh formula yang tepat dalam pembuatan minyak kelapa secara fermentasi sehingga diperoleh minyak kelapa dalam jumlah banyak. Pada penelitian ini santan yang dimanfaatkan adalah krim. Krim santan yang digunakan dicampur dengan jus kulit nanas. Dilakukan uji pendahuluan pemilihan konsentrasi, suhu dan waktu inkubasi, Kondisi optimum yang didapat selanjutnya dipakai untuk proses pembuatan minyak kelapa. Dari uji pendahuluan yang telah dilakukan maka didapatkan konsentrasi optimum untuk pembuatan minyak kelapa adalah 1:1 pada suhu 650C dengan waktu inkubasi 24 jam. Hasil penelitian pembuatan minyak kelapa menunjukkan bahwa  volume minyak yang diperoleh 276 mL, selain itu juga dilakukan pembuatan minyak dengan menggunakan krim tanpa jus kulit nanas yang disebut dengan blanko, pada blanko minyak yang didapat adalah 100 mL. Minyak kelapa dengan kulit nanas yang didapat dilakukan analisis kimia minyak kelapa yaitu: kadar air 0.5873%, kadar kotoran 1.24%, asam lemak bebas 2.31, bilangan iod 8.51, bilangan penyabunan 258.02, bilangan peroksida 0.591, minyak pelikan negatif, logam berbahaya negatif, dan uji organoleptik normal. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa minyak kelapa yang dihasilkan dengan menggunakan kulit nanas masuk standar SNI 012902-1992.Kata Kunci: Santan kelapa, krim, fermentasi, dan kulit nana
ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.)
Antibacterial Extract of Mangosteen (Garcinia mangostana L.)Fruit Shell          The skin of the mangosteen fruit is extracted with n-hexane and ethyl acetate to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Pseudomonas aeruginosa ATCC 27 853. Results showed that n-hexane extract gave inhibition zone larger than the ethyl acetate extract on all concentrations . Extract n-hexane has a value of MIC against S. aureus ATCC bacterial test 25923 62.5 mg / ml while the ethyl acetate extract of 125 mg / ml . N- hexane extracts had MIC values of the test bacteria P.aeuroginosa ATCC 27 853 was 125 mg / ml , and while the ethyl acetate extract had a MIC value of 500 mg / ml . Treatment of solvent, concentration and interaction between the solvent and concentration significantly affected the test bacteria ATCC 25923 S. aureus at the level of 5 %, the highest interaction N-Hexane solvent with a concentration of 15,625 mg / ml and was not significantly different interactions with the concentration of 31.25 mg/ml and 125 mg/ml. Treatment solvent and concentration significantly while the interaction between the solvent and the concentration has no effect on the test bacteria P.aeuroginosa ATCC 27 853 at 5% level .Keywords: Garcinia mangostana L., Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa ABSTRAK          Kulit buah manggis diekstrak dengan n-heksan dan etil asetat  untuk mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHTM) terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana  memberikan zona hambatan lebih besar dibandingkan dengan ekstrak etil asetat pada semua konsentrasi. Ekstrak n-heksana memiliki nilai kadar hambat minimal (KHM) terhadap bakteri uji S. aureus ATCC 25923 62,5 mg/ml sedangkan ekstrak etil asetat 125 mg/ml.  Ekstrak n-heksana memiliki nilai KHM  terhadap bakteri uji P.aeuroginosa ATCC 27853 adalah 125 mg/ml dan sedangkan ekstrak etil asetat memiliki nilai KHM 500 mg/ml. Perlakuan pelarut, konsentrasi dan interaksi antara pelarut dan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap bakteri uji S. aureus ATCC 25923 pada taraf 5%, interaksi tertinggi yaitu pelarut N-Heksan dengan konsentrasi 15,625mg/ml dan interaksi ini tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 31,25 mg/ml dan 125 mg/ml. Perlakuan pelarut dan konsentrasi berpengaruh nyata sedangkan interaksi antara pelarut dan konsentrasi tidak berpengaruh terhadap bakteri uji P.aeuroginosa ATCC 27853 pada taraf 5%. Kata kunci:  Garcinia mangostana L., Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginos
PENGARUH BAHAN DAN KADAR PENGISI DALAM PEREKAT EKSTERIOR TERHADAP KETEGUHAN REKAT KAYU LAPIS
Effect of Materials and Filler Content in Exterior Adhesion for the Bonding Strength of Plywood         Constraints that faced by the plywood industry today is the high cost of manufacture of plywood which are mainly due to the high cost of the adhesive, to lower the cost of the adhesive can be done by adding fillers (filler) into the glue mixture. The material is expected to assist in the process of adhesion, especially to reduce the excessive penetration of the adhesive into venir. The purpose of this study was to determine the effect of the material and content of filler in the bonding strength of the adhesive of plywood. Venir used in this study was peeled veneer measuring 40 cm x 40 cm with a thickness of 1.5 mm. Plywood was made of three layers with a thickness of 4.5 mm. Type of adhesive used was liquid Phenol Formaldehyde (FF) with labor heavy of 170 g/m2 for each surface (one line labor), venir formed felted cool for 10 minutes with a pressure of 10 kg/cm2 followed by heat press at temperatures 140ⰠC , in the pressure of 10 kg/cm2 for 5 minutes. Testing the bonding strength of plywood with the Indonesian National Standard. This research was conducted using the nested experimental design 3 x 5 with four replications. Factor A (filler) the level of three kinds, namely three kinds of flour. Factor B (filler content) were level five kinds, namely 0%, 10%, 20%, 30% and 40%. The results showed that the factor A (filler) was not significantly different, while factor B (grade fillers) was very significant effect on the bonding strength of plywood.Key words: material, content, fillers, exterior, bonding strength ABSTRAK         Kendala yang dihadapi oleh industri kayu lapis dewasa ini adalah tingginya biaya pembuatan kayu lapis yang pada umumnya disebabkan oleh tingginya biaya perekat, untuk menurunkan biaya perekat tersebut dapat dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengisi (filler) ke dalam campuran perekat. Bahan tersebut diharapkan dapat membantu dalam proses perekatan, terutama untuk mengurangi penetrasi yang berlebihan dari perekat ke dalam venir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan dan kadar pengisi dalam perekat eksterior terhadap keteguhan rekat kayu lapis. Venir yang digunakan dalam penelitian ini adalah venir kupas berukuran 40 cm x 40 cm dengan ketebalan 1,5 mm. Kayu lapis yang dibuat yaitu tiga lapis dengan ketebalan 4,5 mm. Jenis perekat yang digunakan adalah Fenol Formaldehida (FF) cair dengan berat labor 170 g/m2 untuk setiap permukaan (satu garis labor), venir yang dibentuk dikempa dingin selama 10 menit dengan tekanan 10 kg/cm2 kemudian dilanjutkan dengan kempa panas pada suhu 140ⰠC, tekanan kempa sebesar 10 kg/cm2 selama 5 menit. Pengujian keteguhan rekat kayu lapis dengan Standar Nasional Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan tersarang (nested) 3 x 5 dengan empat kali ulangan. Faktor A (pengisi) yang bertaraf tiga macam yaitu tiga macam tepung. Faktor B (kadar pengisi) yang bertaraf lima macam, yaitu 0%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor A (bahan pengisi) tidak berbeda nyata, sedangkan faktor B (kadar bahan pengisi) berpengaruh sangat nyata terhadap keteguhan rekat kayu lapis.Kata kunci: bahan, kadar, pengisi, eksterior, keteguhan reka